KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen: Etalase Kerajinan Tradisional Malang dan Potensi Ekonomi Kreatif Lokal

SEKILAS MALANG – Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menjadi ruang belajar hidup bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Selasa, 3 Februari 2026, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 melaksanakan kegiatan Sinau Budaya dengan fokus pada pengenalan ragam kerajinan tradisional khas Malang sebagai warisan budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif berbasis lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual mahasiswa untuk memahami budaya tidak hanya sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai identitas yang terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan zaman. Mengenal Kerajinan Tradisional Malang dari Aspek Budaya dan Ekonomi Materi bertajuk “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd, pelaku seni dan penggiat budaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional Malang, mulai dari batik Malangan, topeng Malangan, keramik Dinoyo, gerabah Betek, payung kertas, wayang, kendang, hingga anyaman bambu dan rotan. Menurutnya, setiap kerajinan lahir dari keterampilan tangan pengrajin yang diwariskan lintas generasi dan sarat nilai filosofis. Namun di sisi lain, kerajinan tradisional juga memiliki nilai jual dan daya saing jika dikemas dengan pendekatan kreatif dan strategi pemasaran yang tepat. “Kerajinan tradisional bukan hanya benda estetik, tapi cermin cara pandang hidup masyarakat. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada bentuk, tetapi juga pada nilai dan ruhnya,” ujar Ibu Sulaihah. Ia juga membagikan pengalaman perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan kerajinan lokal ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal Malang mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan identitas aslinya. Belajar Budaya Langsung dari Pelaku Lokal Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen. Ia menekankan pentingnya proses belajar budaya secara langsung bersama masyarakat. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga berdialog tentang tantangan regenerasi pengrajin, pemasaran produk budaya, hingga peran media digital dalam pelestarian budaya. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, menanyakan strategi penentuan target pasar untuk kerajinan tradisional di tengah persaingan produk modern. “Materi disampaikan dengan menyenangkan dan mudah dipahami. Kami jadi sadar bahwa kerajinan tradisional bukan hanya soal seni, tetapi juga peluang ekonomi dan identitas daerah,” ungkapnya. Produksi Konten Budaya dan Kuliner Tradisional Malang Selain kegiatan Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga aktif memproduksi konten budaya berbasis digital. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan, sebagai bagian dari edukasi budaya menjelang Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, dan aneka jajanan pasar turut diangkat sebagai upaya mengenalkan kembali kuliner tradisional Malang yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan menjadi arsip digital budaya sekaligus media promosi kreatif. Belajar Kearifan Lokal Lewat Praktik Bangunan Tradisional Rangkaian kegiatan ditutup dengan praktik langsung pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan kaya nilai kearifan lokal. Mahasiswa diajak memahami bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan alam secara berkelanjutan. Budaya sebagai Identitas dan Investasi Masa Depan Melalui KKN Tematik ini, mahasiswa UMM tidak hanya belajar tentang budaya Malang, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, sumber pengetahuan, dan potensi ekonomi masa depan. Dengan pendekatan edukatif dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat berkontribusi dalam menjaga agar budaya lokal Malang tetap hidup, adaptif, dan dikenal luas oleh generasi selanjutnya. (fbr) Navigasi pos
KKN Tematik UMM Setting Kampung Budaya Polowijen Jadi Etalase Ragam Kerajinan Tradisonal Malang

Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai teknik pembuatan, bahan yang digunakan (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | KOTA MALANG-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Sentra utama kerajinan ini tersebar, seperti grabah Betek, Keramik Dinoyo, batik Malangan, topeng Malangan Polowijen, dan kerajinan bambu/rotan di Kabupaten Malang, yang populer sebagai souvenir. Ibu Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. (HO/KLIKTIMES.COM) Ibu Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. “Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya. Selain menyampaikan materi, Ibu Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. Selain menyampaikan materi, Ibu Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar bersaing di tingkat global (HO/KLIKTIMES.COM) Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya. Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. (HO/KLIKTIMES.COM) Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya.
Mahasiswa UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint, Solusi Efisien Produksi Kain Alami

Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Teknik Industri UMM mengembangkan alat produksi “Steam Press Ecoprint” (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Inovasi canggih tak melulu dihasilkan dari ruang labotarium semata. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), seorang mahasiswa Teknik Industri mengembangkan sebuah alat canggih mumpuni dalam membantu proses ecoprint bernama Steam Press Ecoprint. Ecoprint sendiri merupakan sebuah teknik ramah lingkungan dengan menggunakan pigmen warna alami dari daun, bunga, hungga batang tanaman yang diaplikasikan ke permukaan kain. Inovasi yang dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono bersama timnya tersebut hadir sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Mereka menghadirkan alat ecoprint tersebut sebagai solusi dari kendala yang kerap terjadi di masyarakat, yakni terbatasnya hasil dan durasi produksi yang dihasilkan. Dilansir dari laman resmi UMM, metode konvensional yang masih digunakan oleh para pelaku usaha dinilai tidak optimal dalam menghasilkan ketajaman, kualitas, dan detail warna. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” jelasnya. Berbeda dengan metode konvensional yang mengunakan air, alat canggih tersebut justru bekerja dengan menggabungkan panas, uap, serta tekanan yang dihasilkan oleh pelat logam yang ada di mesin press Hasilnya, warna dan motif kain yang dihasilkan mesin terlihat lebih jelas dan detail. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tuturnya. Sementara itu, salah satu pelaku UMKM, Kenikir Natural Ecoprint, menilai warna yang dihasilkan oleh Steam Press Ecoprint terlihat lebih konsisten. Hadirnya inovasi itu juga tidak bisa dilepaskan dari campur tangan sang dosen pembimbing. Menurut Iqbal, dukungan dari dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Melalui inovasi tersebut, pihak kampus juga akan turut berkomitmen dalam mendukung segala kebutuhan mahasiswa agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Mahasiswa Akuakultur UMM Terapkan Ecobrick: Solusi Pengurangan Sampah Plastik di Dadaprejo Batu

MALANG POST – Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tumpukan plastik yang sulit terurai terus menekan kualitas ekosistem daratan dan perairan, terutama di kawasan permukiman. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo. Program tersebut merupakan implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan yang secara langsung mendorong peran mahasiswa dalam mendukung agenda pembangunan global berbasis lingkungan. Sebanyak 16 mahasiswa Akuakultur UMM angkatan 2025 terjun ke lapangan dan berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat untuk menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menegaskan bahwa aksi ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa terhadap pencapaian SDGs. “Fokus kegiatan kami selaras dengan SDGs poin 15 tentang perlindungan ekosistem daratan. Pengelolaan sampah plastik yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Karena itu, kami mendorong solusi sederhana namun berkelanjutan melalui ecobrick,” jelasnya. Metode ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik kering yang telah dipilah ke dalam botol plastik bekas hingga membentuk material yang kuat menyerupai bata atau balok. Inovasi ini tidak hanya mencegah plastik tercecer ke lingkungan, tetapi juga memberikan nilai guna baru. Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, maupun fasilitas pendukung di area TPST, sekaligus menekan volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menilai kehadiran mahasiswa di TPST memiliki dampak strategis, terutama dalam aspek edukasi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada tataran akademik. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membantu meringankan beban kerja rutin petugas TPST,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan kunci dalam mewujudkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari. Melalui aksi tersebut, mahasiswa Akuakultur UMM menegaskan bahwa kontribusi terhadap SDGs harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan ekosistem daratan menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas ekosistem perairan, sejalan dengan fokus keilmuan akuakultur yang mereka tekuni.(*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Kuliah Perdana PPG UMM Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif dan Berkeadaban

Kuliah Perdana PPG UMM Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif dan Berkeadaban MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema “Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya.” Kegiatan yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu (31/1/2026) tersebut menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap realitas keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana ini menghadirkan Budi H. Setiamarga, Ph.D., Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi mengulas tantangan pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari aspek budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menegaskan bahwa kelas merupakan ruang perjumpaan yang dinamis, tempat peserta didik belajar mengenali, memahami, dan menyikapi perbedaan secara sadar serta konstruktif. Menurutnya, pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti mengurangi kedalaman materi. Justru, proses belajar perlu dirancang sebagai ruang yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yaitu pembelajaran yang mengembangkan kemampuan kognitif (head), menumbuhkan kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman dapat tumbuh secara alami,” jelasnya. Budi menambahkan, literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut harus dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya memahami adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menyampaikan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menegaskan komitmen PPG UMM dalam mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks tersebut, peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan semata soal penyampaian materi, melainkan bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas budaya merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan. (*)
Maraknya Industri Hiburan, Pakar UMM Ungkap Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Pelatihan Pemanfaatan Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris

Pengabdian masyarakat FKIP UMM di MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Pelatihan Pemanfaatan Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris bersama guru-guru Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 1 Kota Malang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, (13/12/2025) bertempat di ruang sidang MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. Pelatihan ini mengusung tema “Memperkuat Skill Guru dalam Mencerdaskan Siswa melalui Pemanfaatan Media Sosial”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan media sosial secara efektif dan inovatif sebagai media pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan dosen dan mahasiswa FKIP UMM yang berkolaborasi langsung dengan para guru MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. Dalam pelaksanaannya, FKIP UMM menghadirkan tiga dosen sebagai narasumber utama. Dr. Sudiran, M.Hum. menyampaikan materi bertajuk “Video Blogging (Vlogs) sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah”. Materi ini menekankan pemanfaatan konten video kreatif sebagai sarana pembelajaran yang dekat dengan dunia siswa. Pemanfaatan Media Sosial Narasumber kedua, Erlyna Abidasari, S.Pd., M.PEd., memaparkan materi tentang Pemanfaatan YouTube dalam Pembelajaran: Karakteristik, Peluang, Strategi, dan Tantangan”. Melalui materi ini, peserta diajak memahami potensi YouTube sebagai media pembelajaran sekaligus tantangan yang perlu diantisipasi dalam penggunaannya. Sementara itu, Rahmawati K. Maro, S.Pd., M.PEd. menyampaikan materi “Implementasi Pemanfaatan Instagram dalam Pembelajaran Deep Learning”, yang menyoroti pemanfaatan media sosial berbasis visual untuk mendorong pembelajaran yang lebih mendalam. Melalui kegiatan ini, FKIP UMM menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran guru sebagai pendidik. Pemanfaatan media sosial dipandang sebagai salah satu upaya strategis dalam mencerdaskan siswa melalui media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi. Kompetensi Pedagogik Kegiatan ini menegaskan bahwa FKIP UMM terus berupaya memperkuat peran guru MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang melalui pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran. Selain peningkatan kompetensi pedagogik, kegiatan pengabdian ini juga mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan keislaman, seperti kejujuran, komunikasi, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta nilai Assidiq, Amanah, Fatonah, dan Tabligh. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diinternalisasikan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Pelatihan ini diikuti oleh 10 orang guru dari berbagai bidang studi, antara lain bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan sejarah. Selama kegiatan berlangsung, suasana pelatihan berjalan lancar, menggembirakan, dan penuh antusiasme. Para peserta memberikan respon positif terhadap kegiatan ini, yang terlihat dari aktifnya sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. (*) *) Penulis : Addinda *) Editor : Amanat Solikah
Mahasiswa KKN UMM Dalami Teknik Penulisan Berita Budaya Bersama Abdul Malik

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan Sinau Budaya pada Senin, 2 Februari 2026, yang berlangsung di Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Abdul Malik, penulis seni budaya sekaligus pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2025–2030 (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | KOTA MALANG-Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan Sinau Budaya pada Senin, 2 Februari 2026, yang berlangsung di Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Abdul Malik, penulis seni budaya sekaligus pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2025–2030, sebagai narasumber utama. Dalam kegiatan Sinau Budaya kali ini, mahasiswa mendapatkan pembekalan dengan tema “Teknik Menulis Berita Budaya”. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya memahami karakter pembaca, menentukan sudut pandang penulisan, serta mengemas isu budaya agar tetap relevan dan menarik bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari mahasiswa. Fahmi Amansyah mengangkat pentingnya segmentasi dalam penulisan, dengan menyampaikan bahwa, “kalau kita mau menulis sesuatu baiknya disegmentasikan dulu, supaya kita bisa tahu dari topik yang kita tulis itu bisa dibagi dari segi segmentasi.” Dalam Sinau Budaya kali ini, mahasiswa mendapatkan pembekalan dengan tema “Teknik Menulis Berita Budaya”. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya memahami karakter pembaca, menentukan sudut pandang penulisan, serta mengemas isu budaya agar tetap relevan dan menarik bagi masyarakat luas (HO/KLIKTIMES.COM) Sementara itu, Desfian Achmad menanyakan strategi penulisan yang efektif untuk menarik minat generasi muda dengan bertanya, “bagaimana strategi yang bagus untuk menarik perhatian Gen Z sekarang terutama di penulisan budaya.” Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih dalam terkait tantangan dan peluang dalam jurnalisme budaya di era digital. Selain sesi diskusi dan pemaparan materi, mahasiswa KKN UMM juga mengikuti kegiatan praktik budaya dengan belajar membuat ketupat bersama para pelaku seni Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat tradisi sekaligus memperkuat kedekatan mahasiswa dengan masyarakat dan pelaku budaya setempat. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari mahasiswa. (HO/KLIKTIMES.COM) Tidak hanya itu, mahasiswa juga memanfaatkan momen tersebut untuk membuat konten eksplorasi dengan berkeliling Kampung Budaya Polowijen. Konten ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi budaya lokal kepada masyarakat luas melalui media digital. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM berharap dapat meningkatkan kemampuan dalam menulis dan memproduksi berita budaya yang informatif, menarik, serta mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan minat generasi masa kini.
Kuliah Tamu Internasional, Prodi Kesos UMM Gandeng NGO Malaysia

Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM mengikuti kuliah tamu internasional bersama NGO Adab Youth Garage (Malaysia) sebagai bagian penguatan kompetensi dan wawasan praktik kerja sosial berbasis komunitas. (Abdus Salam/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG) dari Malaysia, Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan internasionalisasi pembelajaran serta peningkatan pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial. Bertempat di ruang rapat My Dormy UMM, kuliah tamu tersebut menghadirkan perwakilan Adab Youth Garage, sebuah organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di lingkungan urban di Malaysia. AYG dikenal sebagai platform komunitas yang menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program berbasis komunitas. Kuliah tamu internasional ini merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional, seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan lembaga-lembaga sosial mitra lainnya. Dalam kerja sama tersebut, AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino menyampaikan bahwa kuliah tamu internasional ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan meningkatkan kompetensi sosial. Kegiatan tersebut juga memotivasi sivitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan program internasionalisasi yang dijalankan prodi sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik profesional dalam layanan masyarakat, khususnya pada pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah terakreditasi oleh lembaga internasional FIBAA yang bermarkas di Jerman,” ujarnya. Lebih lanjut, Hutri menjelaskan bahwa kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dan Adab Youth Garage telah terjalin selama tiga tahun. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari sharing session tematik, kolaborasi dalam program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa praktikum. “Materi yang disampaikan AYG sangat relevan karena memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan. Internasionalisasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, dan daya saing lulusan di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik internasional secara berkelanjutan, seperti kuliah tamu internasional, webinar internasional, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Kegiatan-kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi perkuliahan berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM terus berupaya menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. (Abdus Salam/AS)
Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Otomatis Tenaga Surya

Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Otomatis Tenaga Surya MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Kepekaan dalam membaca persoalan di lingkungan sekitar menjadi fondasi lahirnya inovasi mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mereka merancang Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah sistem irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pertanian skala kecil secara berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus mencerminkan komitmen akademik UMM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Inovasi tersebut digagas oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menemukan bahwa masih banyak petani yang bergantung pada metode penyiraman manual. Selain memerlukan waktu dan tenaga besar, cara tersebut juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari permasalahan inilah lahir gagasan pengembangan sistem irigasi tetes otomatis yang cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber daya utama. Energi matahari yang ditangkap kemudian disimpan dalam baterai untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah berperan penting dalam menentukan waktu penyiraman, sehingga air hanya dialirkan ketika tanah benar-benar membutuhkan. “Dengan sensor kelembapan tanah, sistem mampu menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” ungkap Isti kepada Tim Humas UMM, 30 Januari lalu. Sebagai prototipe pembelajaran, penerapan sistem ini masih dilakukan dalam skala terbatas. Meski demikian, desainnya bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Pemanfaatan energi surya menjadi keunggulan tersendiri karena mampu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Dari aspek keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi. Ke depan, sistem irigasi tersebut berpeluang dikembangkan lebih lanjut dengan integrasi penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih presisi dan terintegrasi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang berharga. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja secara kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Melalui proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” tuturnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan contoh nyata pembelajaran berbasis proyek yang mendorong integrasi teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya mengasah kemampuan pemecahan masalah, perancangan sistem, serta pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” jelasnya. Capaian dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi aplikatif dan berdampak. Lebih dari sekadar tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan. (*)