Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya

Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya.(Ist) Malangpariwara.com – Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual. Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani. Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya. Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak. Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(Djoko W)

PPG UMM Bekali Calon Guru dengan Wawasan Pendidikan Inklusif

KLIKMU.CO – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya. Kegiatan yang digelar secara daring pada Sabtu (31/1/2026) ini menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana tersebut menghadirkan Budi H. Setiamarga PhD, Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari sisi budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menegaskan bahwa kelas perlu dipahami sebagai ruang perjumpaan yang hidup, tempat peserta didik belajar mengenali dan memahami perbedaan secara sadar dan konstruktif. Menurut Budi, pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti menghilangkan kedalaman materi. Sebaliknya, pembelajaran perlu dirancang sebagai proses yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yakni pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif (head), membangun kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman tumbuh secara alami,” ujarnya. Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. “Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM Prof Dr Trisakti Handayani MM menegaskan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menyampaikan bahwa PPG UMM berkomitmen mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks ini, guru berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya. Dia menambahkan, kolaborasi lintas budaya merupakan salah satu kompetensi kunci yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan. (Faqih/AS)

UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Pelatihan digital marketing menjadi pintu masuk penguatan UMKM ’Aisyiyah Paciran melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Tagar.co – Hujan deras yang sejak pagi mengguyur Desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (27/1/2026), tak menyurutkan semangat para ibu Aisyiyah untuk belajar dan berdaya. Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, mereka tetap melangkah menghadiri kegiatan Program Pengabdian Masyarakat Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang yang digelar di SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Sendangagung. Sejak pagi, hujan membasahi halaman dan jalan menuju lokasi kegiatan. Namun satu per satu peserta tetap berdatangan. Sebagian mengenakan mantel hujan, sebagian lain berteduh di balik payung seadanya. Raut lelah akibat perjalanan basah itu segera berganti antusiasme ketika kegiatan dimulai. Inilah potret semangat belajar yang menjadi ruh utama pengabdian masyarakat UMM. Peserta kegiatan berasal dari 18 Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-Cabang Paciran. Mereka merupakan anggota Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Aisyiyah yang selama ini aktif mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan masing-masing. Di depan ruang verifikasi tempat acara berlangsung, suasana tampak semarak. Sejumlah pelaku UMKM membuka lapak yang difasilitasi oleh PRA Sendangagung selaku tuan rumah. Aneka produk tersaji rapi di atas meja: kue Lebaran, keripik, hingga kerupuk khas pantura dengan kemasan menarik. Kehadiran PCA Paciran beserta jajaran, termasuk tim pengabdian masyarakat UMM, membuat stan-stan UMKM itu kian ramai. Tak sedikit produk yang akhirnya diborong sebagai bentuk dukungan nyata. Koordinator Bidang Perekonomian PCA Paciran, Mar’atus Sholehah, S.Ag., mengucapkan terima kasih atas apresiasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa produk UMKM ’Aisyiyah Paciran sangat beragam dan berkualitas, sehingga layak dijadikan oleh-oleh khas daerah. PCA Paciran dan tim Pengabdian Masyarakat UMM, berada di deretan paling depan, berpose bersama dengan para undangan dalam acara pelatihan Digital Marketing di ruang verifikasi Spemudas Sendangagung Paciran Lamongan, Selasa(27/1/2026) (Tagar. co/Istimewa) Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMM, Dr. Nurul Asfiyah, M.M., menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan di Paciran. “Kapan pun kegiatan pengabdian masyarakat UMM untuk ibu-ibu ’\Aisyiyah di PCA Paciran ini akan terus saya kawal,” ujarnya. Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, ia memastikan setiap program benar-benar tepat sasaran sesuai kebutuhan peserta. Materi utama disampaikan oleh Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., yang membawakan tema pemasaran digital. Ia mengulas secara aplikatif mulai dari pengenalan digital marketing, pemanfaatan media sosial, hingga strategi sederhana agar produk UMKM mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Hj. Erly Juli Yani, S.E., M.M. Suasana kelas berlangsung hidup. Para peserta aktif bertanya, berbagi pengalaman usaha, sekaligus mengemukakan tantangan yang mereka hadapi dalam memasarkan produk di era digital. Di luar, hujan masih turun tanpa jeda. Namun di dalam ruang belajar, kehangatan justru terasa. Ada semangat, ada harapan, dan ada keyakinan untuk terus tumbuh bersama. Ketua PCA Paciran, Dra. Umu Hanik, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi perempuan. Ia berharap jalinan silaturahim dan kerja sama ini terus terawat secara harmonis dan berkelanjutan. Bagi ibu-ibu ’Aisyiyah, kegiatan pengabdian masyarakat ini bukan sekadar pelatihan. Ia menjadi bekal penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat. Di tengah derasnya hujan, tumbuh keyakinan baru: belajar, berdaya, dan bertumbuh tak pernah mengenal cuaca. (#) Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni

Bahasa Guru Bukan Sekadar Instruksi: Penelitian UMM Ungkap Peran Strategis Tindak Tutur dalam Pendidikan Karakter dan Literasi Kritis Siswa SD

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Bahasa guru di ruang kelas ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai materi pelajaran. Lebih dari itu, bahasa menjadi instrumen strategis yang membentuk karakter, nilai moral, serta kemampuan berpikir kritis siswa sejak usia dini. Temuan tersebut mengemuka dalam penelitian berjudul “Kajian Pragmatik pada Bahasa Guru dalam Pendidikan Karakter dan Literasi Kritis Pembelajaran Siswa SD” yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian ini diketuai oleh Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, dengan anggota Dr. Erna Yayuk, M.Pd. (dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM), serta melibatkan dua mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, Devi Putri Susilo dan Fatin Safunatunnaja. Kajian ini secara khusus menyoroti bagaimana tindak tutur guru, yang meliputi ujaran, instruksi, pertanyaan, hingga respons verbal. Kajian tersebut berperan dalam menanamkan pendidikan karakter dan mendorong literasi kritis siswa sekolah dasar. Tri Ningsih, Guru di SDN Sukamaju 04 sedang menjelaskan materi IPAS Kelas IV (bagian-bagian tumbuhan) dengan menghadirkan contoh tumbuhan secara langsung di kelas, sehingga pembelajaran berlangsung kontekstual, interaktif, dan membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman nyata. Penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap sembilan pembelajaran uji kinerja mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu SD tahun 2024. Guru-guru tersebut berasal dari berbagai sekolah dasar di Indonesia, sehingga merepresentasikan keragaman konteks, latar sosial, serta gaya komunikasi guru dalam pembelajaran. Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lensa pragmatik, cabang linguistik yang mengkaji makna bahasa dalam konteks penggunaannya. “Bahasa guru tidak berdiri sendiri sebagai teks, tetapi selalu hadir dalam situasi sosial, relasi kuasa, tujuan pembelajaran, dan kondisi psikologis siswa. Di situlah makna pragmatik bekerja,” ujarnya. Melalui analisis transkrip tuturan guru, tim peneliti mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur, fungsi pragmatik, serta implikasinya terhadap pembentukan karakter dan literasi kritis. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang dan mendalam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan pendidikan, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta pelatihan komunikasi pedagogis guru di Indonesia. Ke depan, tim peneliti menargetkan publikasi hasil kajian ini pada jurnal nasional terakreditasi dan media massa sebagai bagian dari kontribusi akademik UMM bagi peningkatan mutu pendidikan dasar. “Jika kita ingin membangun pendidikan karakter dan literasi kritis, maka salah satu kuncinya ada pada bahasa guru di kelas,” tandas Daroe Iswatiningsih. Di tempat sama, dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM, Dr. Erna Yayuk, M.Pd, yang juga anggota tim peneliti, mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan berbagai bentuk tindak tutur yang berorientasi pada penguatan pendidikan karakter. Tindak tutur direktif, asertif, dan ekspresif muncul dominan dalam interaksi pembelajaran. Contohnya, guru menggunakan tuturan yang mendorong siswa untuk menghargai perbedaan pendapat, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta berani menyampaikan pandangan. Ujaran sederhana seperti meminta siswa mendengarkan pendapat teman, memberi apresiasi atas keberanian menjawab, atau menegaskan pentingnya disiplin dalam mengerjakan tugas, terbukti mengandung nilai karakter yang kuat. “Bahasa guru adalah model nyata yang ditiru siswa. Ketika guru menggunakan bahasa yang santun, menghargai, dan empatik, siswa belajar karakter bukan dari ceramah, tetapi dari praktik langsung,” terang Erna Yayuk. Selain pendidikan karakter, tambah Erna Yayuk,  penelitian ini juga mengungkap peran signifikan bahasa guru dalam mengembangkan literasi kritis siswa SD. Literasi kritis tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menganalisis, mempertanyakan, dan mengevaluasi informasi. Guru yang mengajukan pertanyaan terbuka seperti “Mengapa kamu berpikir demikian?”, “Apakah ada pendapat lain?”, atau “Apakah semua informasi itu selalu benar?” terbukti mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam dan reflektif. Tuturan semacam ini mengajak siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi menimbang alasan, membandingkan perspektif, dan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Devi Putri Susilo, salah satu anggota peneliti menambahkan, kajian tim peneliti praktik ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan Higher Order Thinking Skills (HOTS). “Literasi kritis tidak tumbuh secara instan. Akan tetapi, dibangun melalui kebiasaan dialogis yang difasilitasi oleh bahasa guru,” jelas Devi Putri Susilo. Murid sedang mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas, Guru sebagai fasilitator pembelajaran memberikan umpan balik atas presentasi murid. Hal menarik diungkapkan Devi Putri Susilo bahwa penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai fungsi pragmatik tuturan guru, antara lain sebagai sarana memotivasi, mengarahkan, menegur secara konstruktif, memuji, hingga membangun suasana belajar yang aman dan inklusif. Fungsi-fungsi ini bekerja secara simultan dalam membentuk iklim pembelajaran yang kondusif bagi perkembangan karakter dan daya kritis siswa. Tuturan guru yang bersifat persuasif dan dialogis terbukti lebih efektif dibandingkan bahasa instruksional satu arah. Guru tidak lagi sekadar pusat informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator yang membuka ruang partisipasi aktif siswa. Temuan penelitian ini memiliki implikasi kuat terhadap pengembangan strategi komunikasi guru yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa serta penguatan Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis, dan berakhlak mulia. Bahasa guru yang dialogis, reflektif, dan menghargai keberagaman pandangan dinilai mampu menjadi jembatan antara tujuan kurikulum dan praktik nyata di kelas. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang tidak hanya fokus pada metode dan media pembelajaran, tetapi juga pada kesadaran berbahasa secara pragmatis. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa bahasa guru adalah kekuatan pedagogis yang sering kali luput disadari. Melalui kajian pragmatik, bahasa tidak lagi dipandang sebagai aspek teknis semata, melainkan sebagai sarana strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berpikir kritis. (tim peneliti dosen umm/don)

Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan Malam di Kota Malang

Sketsamalang.com — Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan berada di persimpangan serius seiring pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial. Perkembangan tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap dampak sosial dan akademik di lingkungan kampus. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai perubahan wajah kota tidak hanya berdampak pada lanskap fisik, tetapi juga memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di sekitarnya. “Sejak dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Banyaknya mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis,” ujar Wahyudi. Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kota tidak hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan rekreatif untuk memperoleh rasa senang, nyaman, dan bahagia. Namun, apabila ruang rekreasi sepenuhnya dikuasai oleh industri berbasis pasar dan berada di luar kontrol sosial kampus, kondisi tersebut berpotensi memicu pergeseran nilai. Dalam perspektif sosiologis, Wahyudi menilai fenomena ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreasi mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang situasi tersebut dapat menumbuhkan budaya hedonisme dan melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. “Ketika kontrol sosial melemah, ukuran baik dan buruk menjadi sangat subjektif. Mahasiswa berisiko kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, lanjut Wahyudi, terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab akademik, serta tidak mampu memanfaatkan kampus secara optimal sebagai pusat pengembangan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan pendidikan dan nilai moral masyarakat. “Jika tidak ada penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” ujarnya. Selain itu, Wahyudi menilai minimnya ruang ekspresi rekreatif di dalam kampus turut mendorong mahasiswa mencari alternatif hiburan di luar lingkungan akademik. Aktivitas kampus yang cenderung formal dan akademis membuat ruang nonformal untuk berekspresi semakin terbatas. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan dan pengawasan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral,” katanya. Ia menegaskan, penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas Malang sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, identitas tersebut dikhawatirkan akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi.

Lawan Polusi Plastik, Universitas Muhammadiyah Malang Ubah Sampah Jadi Ecobrick

03/02/2026 KREATIF: Para mahasiswa Prodi Akuakultur UMM mempraktikkan pemanfaatan limbah plastik dengan inovasi ecobrik MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sampah plastik bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan. Bergerak dari keprihatinan tersebut, 16 mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 melakukan aksi nyata di hilir masalah. Yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri Kota Batu, pekan lalu. ​Melalui program bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik”, para mahasiswa ini mencoba menjawab tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui langkah sederhana namun berdampak besar. ​Di lokasi, para mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi terjun langsung berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Mereka memilah sampah plastik rumah tangga yang kering, lalu memadatkannya ke dalam botol plastik bekas hingga sekeras bata. Inovasi yang dikenal sebagai ecobrick ini menjadi solusi agar plastik tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau tercecer ke ekosistem. ​Ketua Pelaksana kegiatan Daffa Rayhan Zaky menjelaskan bahwa fokus aksi ini adalah perlindungan ekosistem daratan yang menjadi poin ke-15 dalam SDGs. “Pengelolaan sampah yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Melalui ecobrick, kami ingin memberikan nilai guna baru pada plastik. Material ini nantinya bisa digunakan sebagai bahan bangunan sederhana atau elemen dekorasi di area TPST,” papar Daffa. ​Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan. Pembina kegiatan Rindya Fery Indrawan, M.P., menekankan pentingnya mahasiswa untuk tidak hanya berkutat pada teori di dalam kelas. “Kami ingin mahasiswa belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya. Kehadiran mereka di sini juga membantu meringankan beban rutin petugas TPST,” ujar Rindya. ​Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah kunci jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat dan lestari. Meskipun berfokus pada ekosistem darat, aksi ini sangat relevan dengan disiplin ilmu akuakultur. Sampah plastik yang tidak terkelola di daratan pada akhirnya akan hanyut dan mencemari perairan, merusak kualitas air yang menjadi media utama budidaya perikanan. Dengan menjaga daratan tetap bersih, para mahasiswa ini secara tidak langsung sedang memproteksi masa depan ekosistem perairan Indonesia. (imm/lim)

Pakar Sosiologi UMM Soroti Menjamurnya Hiburan Malam Dekat Kampus, Begini Analisanya

Malang (beritajatim.com) – Citra Kota Malang sebagai Kota Pendidikan kini berada di ujung tanduk. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial yang merambah hingga ke area institusi pendidikan mulai menggeser identitas kota dan memicu kekhawatiran terkait degradasi moral mahasiswa. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, pergeseran wajah kota ini bukan sekadar masalah tata ruang, melainkan ancaman nyata bagi iklim akademik dan karakter generasi muda. Secara sosiologis, Prof. Wahyudi menilai adanya tarik-menarik kepentingan yang tidak seimbang antara pertumbuhan ekonomi perkotaan dengan peran institusi pendidikan. Malang yang dulu dikenal dengan jargon Ribina Cita (Kota Industri, Pendidikan, dan Pariwisata), kini perlahan bertransformasi menjadi ruang sosial yang terlalu didominasi oleh logika pasar. “Mahasiswa memang membutuhkan ruang rekreatif untuk melepas penat. Namun, ketika ruang tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh industri hiburan tanpa kontrol sosial, nilai-nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama,” ujar Prof. Wahyudi pada Senin (30/1/2026). Ia memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang ketat, mahasiswa rentan terjebak dalam budaya hedonisme. Standar perilaku yang seharusnya berlandaskan etika intelektual, berisiko bergeser menjadi ukuran individual yang subjektif. Dampak dari masifnya industri hiburan di sekitar kampus mulai terlihat pada menurunnya kualitas akademik. Prof. Wahyudi menegaskan bahwa kemudahan akses terhadap kesenangan instan membuat mahasiswa rentan kehilangan fokus. Beberapa dampak negatif yang disoroti diantaranya, kehilangan orientasi akademik, mahasiswa lebih mengutamakan gaya hidup dibandingkan proses intelektual yang membutuhkan kedisiplinan. Selain itu, ketika batas antara area pendidikan dan hiburan kabur, fungsi kampus sebagai pusat pembentukan kompetensi menjadi tidak optimal. Hubungan antar-individu di Malang berisiko hanya diukur berdasarkan nilai konsumsi semata. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi jangan sampai mengorbankan pendidikan dan moral. Jika dibiarkan tanpa penataan, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, Malang hanya akan menjadi kota konsumsi,” tegasnya. Selain menyoroti regulasi pemerintah daerah yang dinilai masih lemah, Prof. Wahyudi juga memberikan kritik membangun bagi institusi perguruan tinggi. Ia berpendapat bahwa salah satu alasan mahasiswa mencari pelarian ke luar adalah karena menyempitnya ruang ekspresi di dalam kampus. Menurutnya, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat kaku untuk berpikir ilmiah. Kampus harus menyediakan ruang nonformal yang sehat bagi mahasiswa untuk berpuisi, bernyanyi, dan berdiskusi santai. “Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi,” tambahnya. Sebagai solusi, pakar sosiologi UMM ini menekankan tiga poin utama yang harus segera dilakukan oleh pemangku kebijakan. Pertama, pemerintah daerah harus mengatur jarak dan izin operasional industri hiburan di kawasan pendidikan. Kedua, kampus harus menyediakan fasilitas rekreasi internal yang edukatif. “Ketiga, perlu ada dialog berkelanjutan antara pemerintah, pihak kampus, dan masyarakat untuk menjaga marwah Kota Malang,” ujar Prof Wahyudi Winarjo. Prof Wahyudi Winarjo menegaskan bahwa tanpa langkah konkret, identitas Malang sebagai mercusuar pendidikan di Jawa Timur terancam hilang, terkikis oleh gemerlap industri hiburan yang semakin tak terkendali. [dan/aje]

Industri Hiburan Ancam Marwah Kota Malang, sebagai Kota Pendidikan

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi Kota Malang, Bhirawa Identitas Kota Malang sebagai barometer pendidikan nasional kini berada di titik nadir. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam dan komersialisasi ruang rekreasi dinilai mulai menggerus iklim akademik serta karakter mahasiswa. Jika tidak segera dikendalikan melalui regulasi yang ketat, Malang berisiko kehilangan jati diri dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena pergeseran lanskap kota ini. Menurutnya, dominasi industri hiburan yang merambah kawasan institusi pendidikan menciptakan benturan nilai antara kepentingan ekonomi dan misi intelektual. “Malang sejak lama menyandang predikat kota pendidikan, industri, dan pariwisata. Namun, saat ini terjadi tarik-menarik yang tidak seimbang. Mahasiswa sebagai subjek sosial membutuhkan ruang rekreatif, namun ketika ruang tersebut sepenuhnya dikendalikan logika pasar tanpa filter moral, maka budaya hedonisme akan menguat,” ujar Prof. Wahyudi, Senin (2/2) kemarin. Prof. Wahyudi menyoroti bahwa kehadiran tempat hiburan yang menjamur di sekitar kampus memicu melemahnya kontrol sosial. Hal ini berdampak langsung pada orientasi mahasiswa yang cenderung terjebak pada pencarian kesenangan instan (hedonisme) daripada ketekunan intelektual. “Jika kontrol sosial hilang, standar baik dan buruk menjadi subjektif. Mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih mengejar kesenangan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan,” tegasnya. Dampak jangka panjangnya, lanjut Wahyudi, adalah terjadinya pendangkalan intelektual. Kampus yang seharusnya menjadi pusat kompetensi justru terdistraksi oleh gaya hidup konsumtif yang membuat mahasiswa mengabaikan tanggung jawab akademiknya. Lebih jauh, pihaknya mengkritik kebijakan Pemerintah Daerah yang dianggap terlalu longgar dalam memberikan izin industri hiburan demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan dampak sosiologis. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, serta masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Sebagai solusi, ia mendorong perguruan tinggi untuk menyediakan ruang ekspresi non-formal yang lebih humanis. Menurutnya, mahasiswa keluar mencari hiburan karena kampus cenderung terlalu kaku dan formal. “Kampus harus menjadi ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, dan berpuisi. Ruang-ruang ini perlu dikelola agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi. Kolaborasi lintas institusi dan ketegasan regulasi adalah kunci agar identitas Malang sebagai Kota Pendidikan tidak terus terkikis,” pungkasnya. [mut.wwn]

Malang di Persimpangan Identitas: Antara Kota Pendidikan dan Budaya Hiburan

Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota. Tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dari perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, serta melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang telah lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita—mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis.” “Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik. Melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya pada 30 Januari 2026 kepada Tim Humas UMM yang diteruskan ke Malang Post. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal. Sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)