Ecobrick Jadi Senjata UMM Tekan Sampah Plastik di Kota Batu

MAKLUMAT — Masalah sampah plastik kian mendesak dan tak bisa lagi dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Ancaman kerusakan lingkungan hingga terhambatnya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) kini menjadi perhatian serius. Sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memilih turun tangan dengan menciptakan ecobrick. Sebah metode pemadatan sampah plastik kering ke dalam botol bekas hingga membentuk material padat menyerupai bata. Aksi tersebut dikemas dalam Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik, 16 mahasiswa prodi Akuakultur terjun ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini menjadi bukti peran kampus dalam menjawab persoalan lingkungan dari level paling dasar. Jalan Tengah Pemanfaatan Sampah Implementasi yang dilakukan mahasiswa angkatan 2025 berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Kegiatan yang dilakukan menangani timbulan sampah plastik rumah tangga yang terus meningkat, dengan metode ecobrick. “Ecobrick merupakan solusi praktis untuk mengurangi sampah plastik sekaligus mendukung SDGs, khususnya perlindungan ekosistem daratan,” ujarnya, Ketua pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky. Menurut Daffa, plastik yang tidak terkelola berpotensi mencemari tanah dan air. Karena itu, ecobrick menjadi jalan tengah agar sampah tidak berakhir di lingkungan atau menumpuk di tempat pembuangan akhir. Tak hanya menekan volume sampah, ecobrick juga memiliki nilai guna. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, hingga fasilitas pendukung di area TPST. Langkah ini dinilai efektif dalam memperpanjang siklus hidup plastik. Baca Juga Kampus Berdampak, Jejak UMM di Timor Tengah Selatan Melawan Stunting Peran sebagai Agen Perubahan Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa UMM bukan sekadar praktik lapangan. “Kami ingin mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah adalah kunci pengelolaan lingkungan berkelanjutan,” katanya. Ia menambahkan, kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan pengelola TPST menjadi fondasi penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Bagi UMM, ecobrick bukan sekadar proyek mahasiswa, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Gandeng AYG dari Malaysia, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Perkuat Internasionalisasi Pembelajaran

MAKLUMAT — Prodi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menegaskan komitmen dalam upaya penguatan internasionalisasi pembelajaran sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial, dengan menyelenggarakan kuliah tamu internasional. Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Rapat My Dormy UMM, pada Kamis (29/1/2026) lalu itu, bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG), yaitu organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak dalam pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di kawasan urban Malaysia. Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa kuliah tamu internasional tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosial, sekaligus memotivasi sivitas akademika untuk terus membangun jejaring global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan tersebut juga dinilai sejalan dalam rangka mendukung program internasionalisasi yang dijalankan prodi, serta memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik profesional di layanan masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah terakreditasi oleh lembaga internasional FIBAA yang bermarkas di Jerman,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id, Senin (2/2/2026). Selain itu, ia juga menyebut bahwa kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan AYG telah terjalin selama tiga tahun terakhir dan melahirkan berbagai kegiatan. Baca Juga Awas! Krisis Beras Jelang Akhir Tahun 2025: Bagaimana Strategi Menjaga Stok dan Harga Pangan? “Mulai dari sharing sessions tematik, kolaborasi dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa praktikum,” ungkap Hutri. Menurut Hutri, materi yang disampaikan AYG relevan karena mampu menguatkan keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial. Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional tersebut, ia menegaskan bahwa Prodi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan. “Internasionalisasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, serta daya saing lulusan di tingkat global,” tandas Hutri. Komitmen tersebut, lanjutnya, diwujudkan melalui pengembangan jejaring akademik dan praktik profesional lintas negara, penyelenggaraan kegiatan akademik internasional secara berkelanjutan seperti kuliah tamu internasional, international webinar, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Berbagai kegiatan tersebut, menurutnya memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas serta organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. “Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan yang aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” kata Hutri. Baca Juga Soroti Batalion Teritorial Pembangunan, Pakar Hukum: Kita Punya Pengalaman Buruk Orba Sementara itu, sambung Hutri, dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. “Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmen menjadikan internasionalisasi sebagai proses jangka panjang yang produktif, bermakna, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu serta praktik kesejahteraan sosial,” sebutnya. Sebagai informasi, AYG sendiri dikenal sebagai platform komunitas yang menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program berbasis komunitas. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional, termasuk Universiti Kebangsaan Malaysia, serta sejumlah lembaga sosial mitra lainnya. AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik kerja sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global.
TPJ 2026 Lahirkan Kolaborasi HPI dan UMM, Dorong Penguatan Ekosistem Penerjemah

KETIK, JAKARTA – Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah Jawa Timur sukses menggelar acara Temu Penerjemah Jawa Timur (TPJ) 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Menata Ulang Karier Penerjemah: Bertahan, Beradaptasi, dan Bertumbuh”. Tema tersebut merefleksikan tantangan dan peluang profesi penerjemah di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Acara itu juga dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, profesi penerjemahan, serta pelaku usaha jasa bahasa. Ketua Umum HPI Pusat, Dr. Indra Listyo menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada HPI Komda Jawa Timur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan dengan baik. Ia mengaku bangga melihat peran aktif pengurus daerah dalam menghadirkan forum yang mempertemukan unsur pendidikan, organisasi profesi, praktisi penerjemahan, serta pelaku usaha jasa bahasa dan industri terkait. “Sinergi lintas sektor tersebut menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan profesi penerjemah,” ungkap Dr. Indra dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026. “Perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan, menuntut penerjemah untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat etika profesi, serta memahami dinamika industri,” sambungnya. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dinilai sangat strategis. Baca Juga: Afif Musthofa Terpilih Jadi Ketua HPI Jatim, Jawab Tantangan Penerjemah di Tengah Perkembangan AI Kelas Interpreting yang digelar HPI Komda Jatim di sela-sela kegiatan TPJ 2026 (Foto: HPI Komda Jatim) Sementara Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi menyatakan bahwa kegiatan TPJ sangat strategis karena profesi penerjemah juga dituntut untuk memiliki kompetensi linguistik sekaligus kemampuan adaptasi. “Sehingga hasil terjemahan yang dihasilkan memiliki makna yang bisa dipahami dan diresapi, tidak hanya sekadar mengalihbahasakan teks,” jelasnya. Penandatanganan MoU antara HPI dan UMM menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. MoU ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya lulusan yang lebih siap memasuki dunia kerja dan memahami standar profesi penerjemahan. Pihak Universitas Muhammadiyah Malang menyambut baik kerja sama tersebut dan menilai bahwa keterlibatan organisasi profesi seperti HPI sangat penting dalam menjembatani kebutuhan akademik dan realitas industri. Acara ini juga dihadiri Dekan Fakultas Agama Islam, Imamul Hakim, Kepala CoE (Center of Excellence), Achmad Fauzan Hery Soegiharto dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UMM, Mochammad Firdaus. Selain agenda seremonial, TPJ 2026 juga diisi dengan gelar wicara yang menghadirkan narasumber lintas bidang. Tasfan Sadikin, Interpreter Senior sekaligus Mindfulness Mentor, membagikan perspektif tentang pentingnya kesehatan mental dan kesadaran diri bagi penerjemah dan interpreter yang bekerja di bawah tekanan tinggi. Baca Juga: Diuji Praktisi Media, 4 Portal Berita Karya Mahasiswa Ikom UMM Dinilai Layak Industri Ia menekankan bahwa keberlanjutan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental. Para penerjemah berfoto bersama dalam kegiatan TPJ 2026 (Foto: Dok. HPI Komda Jatim) Sementara itu, Sony Novian, Ketua Umum Ikatan Agensi Jasa Bahasa (IKASA) sekaligus Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) Jakarta Barat, menyoroti pentingnya jejaring profesi dan sertifikasi dalam memperkuat posisi penerjemah di pasar kerja. Ia mendorong para penerjemah, khususnya pemula, untuk aktif membangun reputasi profesional dan terlibat dalam organisasi profesi. Dari sisi industri, Andri Manik, Bendahara HIPPI Jakarta Barat dan Pengurus KADIN DKI Jakarta, memaparkan sudut pandang dunia usaha terhadap jasa bahasa. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan industri terhadap layanan penerjemahan yang berkualitas masih sangat besar, namun menuntut standar profesionalisme, kecepatan, dan pemahaman konteks bisnis. Ketua HPI Komda Jawa Timur, Muhammad Afif Musthofa menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pengurus yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa TPJ tidak hanya dimaksudkan sebagai agenda rutin, tetapi sebagai upaya membangun ekosistem penerjemahan yang saling terhubung dan berkelanjutan. Acara ini terselenggara berkat dukungan perusahaan jasa bahasa ternama di Indonesia, seperti MainKata Translation Studio, Licolize Communications, Katagonia Language Solution, Translation Transfer, talabahasa, CMM Translation, dan Solusi Penerjemah.(*)
Rektor UMM Apresiasi Layanan RSI Muhammadiyah Sumberrejo
Mentari.or.id- Bojonegoro I Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Sumberrejo menerima kunjungan kehormatan dari Prof. Dr. Nazarudin, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada Ahad, 1 Februari 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda silaturahmi sekaligus penguatan sinergi antar-Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang kesehatan dan pendidikan. Prof. Nazarudin disambut langsung oleh Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, bersama Ketua PCM Sumberrejo, Ustaz H. Adib Susilo, serta jajaran pimpinan rumah sakit dan unsur Persyarikatan Muhammadiyah setempat. Dalam suasana penuh keakraban, Rektor UMM berkesempatan meninjau sejumlah fasilitas pelayanan RSI Muhammadiyah Sumberrejo. Ia juga berdialog dengan pimpinan rumah sakit mengenai pengembangan mutu layanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berkemajuan, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Pada kesempatan tersebut, Prof. Nazarudin menyampaikan apresiasi atas komitmen RSI Muhammadiyah Sumberrejo dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurutnya, rumah sakit Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai bagian dari dakwah Persyarikatan, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara rumah sakit dan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pengembangan riset, serta penguatan program pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh jajaran rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu layanan dan memperkuat peran RSI Muhammadiyah Sumberrejo sebagai rumah sakit Islam yang unggul dan berkemajuan. Kunjungan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen untuk terus mempererat sinergi antar-AUM Muhammadiyah demi kemajuan umat. Kontributor: Hermin Puji Astutik
Dari Pawon ke Buku Sejarah: Kampung Budaya Polowijen dan KKN Tematik UMM Merawat Tradisi di Era Digital

KLIKTIMES.XOM | KOTA MALANG–Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku Transformasi Budaya: dari Tradisi, Modernitas, hingga Dunia Digital. Kegiatan diawali dengan beres-beres pawon dan galeri Kampung Budaya Polowijen. Pawon dan galeri tidak hanya dirawat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya, dokumentasi, dan pembelajaran. Dari ruang inilah berbagai praktik budaya—mulai dari kuliner tradisional, selametan, hingga diskusi kebudayaan—terus hidup dan diwariskan. Pada siang hingga sore hari, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. Diskusi membahas cara menulis sejarah dan budaya secara sistematis dan kritis, sekaligus menjadi bekal awal bagi mahasiswa yang terlibat dalam proses pendokumentasian budaya Kampung Budaya Polowijen. Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. (HO/KLIKTIMES.COM) Materi Sinau Budaya ini sejalan dengan substansi buku yang tengah disusun, yang merangkum transformasi budaya Malangan meliputi busana dan atribut tradisional, ritual dan tradisi, seni pertunjukan rakyat, musik dan bunyi tradisional, kerajinan dan peralatan, senjata tradisional, kuliner dan selametan, serta permainan dan tembang rakyat. Seluruhnya dibaca dalam konteks perubahan zaman, modernitas, dan ruang digital. Salah satu mahasiswa KKN UMM, Shela, menanyakan teknik penulisan sejarah untuk kebutuhan skripsi. Pertanyaan tersebut dijawab secara komprehensif oleh pemateri, memberi gambaran praktis tentang pengolahan sumber, penyusunan narasi, dan tanggung jawab akademik dalam penulisan sejarah budaya. Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. (HO/KLIKTIMES.COM) Rangkaian kegiatan ditutup dengan kembali membersihkan pawon sebagai simbol konsistensi merawat ruang tradisi. Kolaborasi antara Kampung Budaya Polowijen dan Mahasiswa KKN Tematik UMM ini menegaskan bahwa pawon bukan sekadar ruang memasak, tetapi juga ruang lahirnya pengetahuan, sejarah, dan upaya pelestarian budaya di tengah dunia yang terus berubah.
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas Kerjasama UMM dan LINKSOS
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan LINKSOS (Lingkar Sosial Indonesia). Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan keluarga serta kader penggerak Posyandu Disabilitas dalam aspek psikologi keluarga, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang, kesehatan mental, dan kesejahteraan penyandang disabilitas. Melalui pendekatan psikologi keluarga yang aplikatif dan kontekstual, peserta akan dibekali pengetahuan tentang dinamika keluarga, pola komunikasi yang sehat, pengasuhan inklusif, serta strategi menghadapi tantangan psikososial yang sering dialami keluarga penyandang disabilitas. Materi disampaikan oleh akademisi dan praktisi berpengalaman dari UMM dan LINKSOS dengan metode interaktif, diskusi kasus, dan praktik sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan keluarga dan kader Posyandu Disabilitas yang tangguh, empatik, dan berdaya, sehingga Posyandu Disabilitas tidak hanya menjadi ruang layanan kesehatan dasar, tetapi juga pusat dukungan psikososial dan penguatan keluarga yang inklusif dan berkelanjutan.
Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Selenggarakan Kuliah Tamu Internasional bersama Adab Youth Garage

Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG) dari Malaysia. Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat My Dormy UMM sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pembelajaran dan pengalaman mahasiswa dalam bidang pekerjaan sosial pada Kamis (29/1/2026). Dalam acara tersebut menghadirkan perwakilan dari Adab Youth Garage, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di lingkungan urban di Malaysia. AYG merupakan platform komunitas yang memberikan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program kegiatan komunitas. Kegiatan kuliah tamu tersebut merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan lembaga-lembaga sosial mitra lainnya. Dalam kerja sama tersebut, AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial di konteks global. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino menyampaikan, bahwa kuliah tamu internasional ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosialnya, sekaligus memotivasi civitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial. Menurutnya, kegiatan ini juga mendukung program internasionalisasi yang dijalankan prodi sekaligus menguatkan sinergi antara akademik dan praktik profesional di layanan masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Apalagi kata dia sejak tahun lalu, prodi Kesejahteraan Sosial UMM sudah terakreditasi oleh lembaga internasional (FIBAA) yang bermarkas di Jerman,” jelas dia. Lebih lanjut, Hutri menyampaikan bahwa jalinan kerjasama antara prodi dengan AYG sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu dan telah dilaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari sharing sessions tematik, kerjasama dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat sampai pada penempatan mahasiswa praktikum. Adapun materi yang disampaikan Adab Youth Garage juga dinilai sangat relevan bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM karena memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial “Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menunjukkan komitmen kuat dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan melalui pengembangan jejaring akademik dan praktik profesional lintas negara,” ungkap dia. Internasionalisasi dipandang tidak hanya sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, dan daya saing lulusan di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan akademik internasional yang berkelanjutan, seperti kuliah tamu internasional, international webinar, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman terhadap isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan yang bersifat aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi perkuliahan berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Hal ini bertujuan menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya untuk menjadikan internasionalisasi sebagai proses jangka panjang yang produktif, bermakna, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan praktik kesejahteraan sosial.
Pakar UMM: Malang Terancam Kehilangan Identitas Kota Pendidikan Gegara Hiburan Malam

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi. (Foto: laman resmi UMM) SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan disebut sedang menghadapi tantangan besar. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, hingga ruang rekreasi komersial dinilai mulai menggeser wajah Malang yang selama ini lekat dengan atmosfer akademik. Fenomena tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan kampus dan fasilitas pendidikan. Dampaknya bukan hanya mengubah lanskap kota, tetapi juga memunculkan konsekuensi sosial yang ikut memengaruhi kehidupan mahasiswa. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi, menilai Malang sejak lama memang dikenal sebagai kota dengan identitas yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM, Senin (2/2/2026). Namun, Wahyudi mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, maraknya ruang hiburan yang sepenuhnya dikelola logika pasar dapat memicu budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Menurutnya, ketika ruang rekreasi mahasiswa lebih banyak berada di luar kampus dan tanpa pengawasan sosial yang memadai, standar perilaku pun menjadi semakin subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Wahyudi menyebut pergeseran ini dapat berujung pada penurunan kualitas akademik. Mahasiswa yang terlalu larut dalam budaya hiburan dikhawatirkan kehilangan fokus belajar, lupa waktu, hingga mengabaikan tanggung jawab kampus. Akibatnya, kampus tidak lagi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Selain faktor eksternal, Wahyudi menilai kampus juga memiliki peran besar. Ia menyoroti semakin terbatasnya ruang ekspresi nonformal bagi mahasiswa di lingkungan kampus. Aktivitas mahasiswa dinilai terlalu terpusat pada hal-hal akademik dan formal, sementara ruang santai untuk berekspresi semakin menyempit. Hal itu membuat mahasiswa mencari alternatif di luar kampus, yang justru disediakan industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Di akhir, Wahyudi menegaskan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang lebih tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi untuk menjaga Malang tetap sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, ia khawatir identitas Malang akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi semata.
Bahasa Arab Masuk Era Digital, PBA UMM Gelar Festival Berskala Nasional

KLIKMU.CO – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab di Indonesia melalui Al Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 2026. Ajang berskala nasional yang digelar pada 30–31 Januari 2026 ini menghadirkan lima cabang lomba bahasa Arab yang kompetitif, yakni Kitabah, Ghina Arabi, Qiraatul Kutub, Olimpiade Bahasa Arab untuk siswa SMA/MA sederajat, serta debat bahasa Arab untuk kategori mahasiswa. Kegiatan ini sekaligus menegaskan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Ketua Pelaksana ALEPO 2026 Rizki Saputra menjelaskan bahwa nama “ALEPO” memiliki filosofi khusus. Nama tersebut diambil dari salah satu kota di Suriah yang dikenal sebagai pionir pengembangan peradaban dan teknologi dunia. Filosofi ini diterjemahkan ke dalam konsep kegiatan yang menggabungkan kekuatan tradisi bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran modern. “Kami ingin menghadirkan branding bahasa Arab yang tidak kaku, tetapi progresif dan dekat dengan dunia digital. Filosofi ALEPO kami bawa ke konsep kegiatan, mulai dari jenis lomba, sistem penilaian, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya,” jelas Rizki. Dia menambahkan, ALEPO 2026 dirancang bukan sekadar sebagai ajang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi dan eksplorasi bagi generasi muda untuk melihat bahasa Arab dari perspektif lebih luas. Menurutnya, bahasa Arab tidak lagi cukup dipahami sebatas bahasa kitab atau kelas formal, tetapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan komunikasi global. “Melalui ALEPO, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa bahasa Arab relevan, hidup, dan menjadi bekal masa depan. Apalagi di era digital, peluang pengembangan bahasa Arab justru semakin terbuka,” ujarnya. Rizki juga menekankan keterlibatan mahasiswa sebagai penggerak utama kegiatan ini sebagai bukti bahwa mahasiswa PBA UMM mampu merespons tantangan zaman secara kreatif. Ia berharap ALEPO dapat terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. “Kami berharap ALEPO tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan praktisi bahasa Arab di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PBA UMM Mochammad Firdaus MEd memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan berskala nasional tersebut. Menurutnya, ALEPO bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi dan apresiasi bagi pelajar menengah untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Arab. “Kegiatan ini sangat positif dan strategis. ALEPO mampu menghadirkan wajah pembelajaran bahasa Arab yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Firdaus. Dia menambahkan, pengangkatan tema digitalisasi pada ALEPO 2026 tepat sebagai respons terhadap pergeseran ekosistem pembelajaran bahasa Arab ke ranah digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. “Mahasiswa mampu membaca tantangan zaman. Digitalisasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Arab juga bisa mengikuti perkembangan teknologi,” imbuhnya. Melalui ALEPO 2026, Program Studi PBA UMM semakin mengukuhkan diri sebagai program studi progresif yang peduli terhadap pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. (Faqih/AS)
Kessos UMM Gelar Kuliah Tamu Internasional bersama AYG Malaysia

pwmu.co –Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menegaskan komitmennya dalam membangun pembelajaran berwawasan global.Hal tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO asal Malaysia, Adab Youth Garage (AYG), pada Kamis (29/1/2026) di ruang rapat My Dormy UMM. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis prodi dalam memperkuat internasionalisasi pembelajaran sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial berbasis komunitas lintas negara. Dalam kuliah tamu tersebut, perwakilan Adab Youth Garage hadir untuk berbagi pengalaman praktik sosial di Malaysia, khususnya dalam pengembangan komunitas urban. AYG dikenal sebagai organisasi non-pemerintah yang fokus pada pemberdayaan anak dan remaja serta pembangunan kapasitas pemuda. Melalui berbagai program komunitas, AYG menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik. Pendekatan yang mereka lakukan berbasis komunitas, dengan menekankan partisipasi aktif masyarakat dan penguatan kapasitas generasi muda. Bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM, paparan tersebut menjadi referensi penting untuk memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global, sekaligus membandingkan praktik kerja sosial di Indonesia dan Malaysia. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa kuliah tamu ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dan Adab Youth Garage telah terjalin selama tiga tahun terakhir. “Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosialnya. Ini juga menjadi motivasi bagi civitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial,” ujarnya. Mahasiswa UMM memberi paparan dalam kuliah tamu internasional. Foto: Istimewa Selama tiga tahun tersebut, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari sharing session tematik, kolaborasi dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa dalam program praktikum. Selain dengan AYG, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM juga menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra internasional lainnya, termasuk Universiti Kebangsaan Malaysia dan berbagai lembaga sosial di kawasan Asia Tenggara. Hutri menambahkan, materi yang disampaikan AYG sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Selain memperluas wawasan internasional, kuliah tamu ini juga memperkuat keterkaitan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di lapangan. “Apalagi, sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah meraih akreditasi internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) yang berbasis di Jerman,” ungkapnya. Pencapaian tersebu, timpal dia,, semakin mendorong prodi untuk menghadirkan pembelajaran yang berstandar global. “Internasionalisasi bukan sekadar pemenuhan indikator kinerja, tetapi bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan dan daya saing lulusan,” tegas Hutri. Ditambahkan Hatri, Komitmen internasionalisasi Prodi Kesejahteraan Sosial UMM diwujudkan melalui pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan akademik internasional rutin diselenggarakan, seperti kuliah tamu internasional, international webinar, hingga joint academic activities dengan mitra luar negeri. “Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman terhadap isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial dalam berbagai konteks budaya dan kebijakan,” jelasnya. Dalam aspek kurikulum, katanya, internasionalisasi juga diintegrasikan melalui pengayaan materi berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Tujuannya untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. “Selain itu, kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional diarahkan pada kegiatan yang aplikatif dan berdampak nyata, seperti kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, pertukaran pengetahuan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” tutup Hutri. (*) *) Penulis : Abdus Salam *) Editor : Agus Wahyudi