UMM Pertahankan Gelar Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

  pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025.Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Sukses Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem di NTT, UMM Raih Penghargaan Kemendukbangga

Malang (beritajatim.com) – Dedikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat kembali mendapat pengakuan nasional. Kali ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memberikan penghargaan kategori Gold untuk Perguruan Tinggi kepada UMM. Penghargaan tersebut diserahkan dalam forum Genting Collaboration Summit Tahun 2025 yang mengusung tema “Sinergi untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting” pada 10 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti sahih komitmen UMM sebagai “Kampus Berdampak” yang tidak hanya berkutat pada teori, namun terjun langsung memberikan solusi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., mengungkapkan bahwa penghargaan ini merupakan buah dari konsistensi UMM dalam menghilirisasi riset akademik menjadi pengabdian masyarakat. Salah satu aksi nyata yang menjadi sorotan adalah intervensi UMM di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Salis, riset perguruan tinggi tidak boleh hanya berakhir di atas kertas atau tumpukan laporan konseptual. Riset harus bertransformasi menjadi solusi konkret yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat. “Beberapa waktu lalu, kami mengirimkan lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Di sana, kami memetakan dan menangani berbagai persoalan krusial, mulai dari stunting, kemiskinan ekstrem, hingga masalah di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” jelas Salis, Kamis (11/12/2025). Selama berada di NTT, tim dosen UMM tidak sekadar melakukan observasi. Mereka membawa serangkaian program inovatif yang menyasar akar masalah ekonomi dan kesehatan. Salah satu terobosan unggulan adalah Pelatihan Pengolahan Nutricorn. Program ini memanfaatkan bahan baku lokal NTT untuk diolah menjadi produk bernilai gizi tinggi guna menekan angka stunting. Selain itu, UMM juga melakukan pendampingan intensif pada komoditas hortikultura, padi, dan jagung, serta perbaikan manajemen pakan ternak dan kesehatan hewan. Keberhasilan ini tidak lepas dari program strategis Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Program ini menerjunkan para guru besar dan tenaga ahli UMM untuk mendampingi pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga. “Semua program di lapangan berawal dari hasil riset para akademisi UMM. Melalui P3M, kami berharap inovasi kampus mampu memberikan dampak positif langsung, meningkatkan pendapatan warga, dan mengentaskan kemiskinan,” tambah Salis. Penghargaan dari Kemendukbangga ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika Kampus Putih untuk terus berinovasi. Salis menegaskan bahwa UMM akan terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam memajukan bangsa. “Tentu kami ucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga atas apresiasi ini. Kami berkomitmen penuh untuk terus mengabdi, meningkatkan kualitas hidup, dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat,” pungkasnya. (dan/kun)  

Dedikasi Tangani Stunting, UMM Sabet Penghargaan Gold Diajang Genting Collaboration Summit Nasional 2025

MALANGRAYA.CO- Dari penanganan stunting hingga penguatan sektor pertanian di daerah terpencil, kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat pengakuan nasional. Kampus Putih -julukan UMM- meraih penghargaan Gold Kategori Perguruan Tinggi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) pada ajang “Genting Collaboration Summit 2025” bertema “Sinergi untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting” yang digelar Kamis (10/12/2025). Penghargaan ini menegaskan posisi UMM sebagai Kampus Berdampak yang konsisten menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui riset terapan dan program pengabdian. Kolaborasi kampus dengan pemerintah dan masyarakat menjadi bukti bahwa hasil riset akademik dapat diterjemahkan menjadi aksi konkret yang dirasakan langsung oleh publik. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen UMM dalam menjalankan pengabdian masyarakat secara berkelanjutan. Salah satu contohnya adalah program pendampingan intensif di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melibatkan puluhan dosen lintas bidang. “Belum lama ini kami mengirim lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Di sana ada banyak persoalan masyarakat, mulai dari stunting dan kemiskinan ekstrem hingga tantangan di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” jelasnya. Selama berada di NTT, para dosen UMM menjalankan berbagai program berbasis riset, seperti pelatihan pengolahan Nutricorn dengan memanfaatkan bahan baku lokal, pendampingan pengembangan hortikultura, padi, dan jagung, penguatan pakan ternak dan kesehatan hewan, hingga penataan praktik budidaya perikanan. Seluruh kegiatan ini, tambahnya, merupakan implementasi dari hasil riset yang telah dikembangkan akademisi UMM. “Program-program itu adalah turunan dari riset dosen UMM. Kami memiliki Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat yang dirancang agar memberikan dampak langsung bagi warga,” tambah Salis.

Trauma Hantui Nakes Daerah Bencana: Tim Psikolog UB-UMM Terapi Pernapasan dan Grounding

MALANG POST – Hari pertama layanan bagi pengungsi pasca galodo/banjir bandang, klaster psikososial relawan respon bencana Sumatera Barat melaksanakan asesmen kesehatan mental. Tujuannya adalah memastikan kondisi kesehatan mental tenaga kesehatan dan tenaga medis di Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Rabu (10/12/2025). Tindakan ini penting, agar para dokter dan perawat bisa tetap prima dalam merawat para pengungsi. Tim psikososial di lokasi terdiri dari dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ (K), Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS dari Universitas Brawijaya dan Bella Virgianitia Afifa dari Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kuesioner PHQ-4 dan SHQ-12 terhadap 28 tenaga kesehatan dan tenaga medis yang hadir aktif Ini sesuai permintaan Kepala Puskesmas Koto Alam yang khawatir dengan kondisi mental stafnya. “Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan merasa kewalahan. Karena mereka tidak hanya bekerja sebagai tenaga kesehatan. Tetapi juga menghadapi dampak sebagai pengungsi. Mereka termasuk kelompok yang rentan,” ujar Ulya. Ulya menambahkan bahwa umpan balik dari pemeriksaan cukup positif. “Bahkan kepala puskesmas berharap program pendampingan psikososial bisa berjalan secara rutin meskipun timnya nanti berbeda,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa sebagian besar nakes tidak selalu menunjukkan gejala trauma yang terlihat di permukaan. “Terlihat baik-baik saja. Tapi begitu mereka berada di ruangan yang gelap atau sendirian, bayangan kejadian banjir tetap sering muncul. Atau ada suara-suara yang terdengar dalam memori mereka,” kata dosen Fakultas Kedokteran itu. Untuk membantu mengurangi gejala trauma, tim kami mengajarkan teknik pernapasan dan grounding. “Setelah hari ini, kami berniat kembali dua hari lagi untuk mengevaluasi sejauh mana dua teknik ini mampu menguatkan jiwa para nakes dan menentukan kebutuhan mereka selanjutnya,” tambahnya. Selain pada tenaga kesehatan, pendampingan psikososial juga diberikan kepada siswa-siswi SD 05 Koto Alam, dengan fokus pada kelompok remaja karena pendekatan yang lebih mudah diterapkan di usia itu. Dari evaluasi ini, Ulya berharap akan ada pendampingan kesehatan mental yang berkelanjutan dari tim berikutnya agar para pengungsi dan komunitasnya bisa pulih lebih cepat. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Pertahankan Predikat Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan dari Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi capaian serupa pada 2023 dan 2024, menjadikan UMM satu-satunya kampus yang mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM lahir dari kerja sama antara UMM dan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, fasilitas ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, serta pelatihan literasi data bagi mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga dapat belajar langsung tentang proses menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM Hendra Kusuma SE MSE menjelaskan, keberhasilan mempertahankan predikat terbaik selama tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM, yang dinilai terbanyak secara nasional. Selain itu, program joint research dengan BPS tiap tahun serta publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa turut menjadi faktor penting. “Yang membuat Pojok Statistik UMM bisa mendapatkan tiga tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dalam berbagai kegiatan bersama BPS. Mulai publikasi di jurnal SINTA melalui international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa, hingga joint research,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi nilai tambah yang diapresiasi BPS Pusat. Penilaian penghargaan berlangsung selama satu tahun kerja, mulai Agustus hingga Juli. Menurut Hendra, indikator penilaian mencakup fasilitas, produk, serta edukasi. “Penilaiannya meliputi fasilitas yang kita sediakan, produk yang dihasilkan seperti inovasi tadi—termasuk infografis dan videografis—serta program edukasi,” jelasnya. Raihan prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. Ke depan, UMM menargetkan Pojok Statistik menjadi pusat rujukan literasi data yang lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kami sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. (Faqih/AS)

Dosen Psikologi UMM Jelaskan Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem Akibat Tekanan Akademik

  pwmu.co – Peristiwa memilukan baru—baru ini yang menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali memunculkan urgensi penguatan kesehatan mental di dunia akademik.Kejadian tersebut menyoroti dampak serius tekanan akademik termasuk penyusunan skripsi terhadap kesehatan psikologis mahasiswa dan menjadi peringatan bagi kampus, khususnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk memperkuat edukasi serta jaring pengaman psikologis. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun. Uun menyebut tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut, yakni faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegasnya. Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Menanggapi anggapan bahwa dosen pembimbing menjadi pihak yang patut disalahkan, Uun menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Ia mengakui bahwa dosen pembimbing idealnya menjadi support system yang aman, namun dukungan juga harus datang dari keluarga, teman, dan terutama kekuatan mental dari dalam diri mahasiswa sendiri. Untuk mengelola stres, Uun mendorong mahasiswa menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah. Langkah-langkahnya meliputi membuat skala prioritas, mengatur self-management, dan membangun time management yang jelas. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Sementara itu, bagi mahasiswa yang cenderung menggunakan Emotional Focused Coping, Uun menyarankan untuk bercerita kepada orang tepercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta membangun dukungan sosial agar tidak terjebak dalam isolasi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, perubahan mood ekstrem, atau penurunan fungsi sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Jawab Tantangan Era Modern, Prodi Kesos UMM Dorong Transformasi Pelayanan Sosial

KLIKMU.CO – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial, Rabu (10/12/2025) di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan yang dihadiri sekitar 300 peserta—dosen, mahasiswa, dan mitra Prodi Kesejahteraan Sosial—menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara dibuka oleh Wakil Rektor I UMM, dilanjutkan sambutan Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino PhD menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan pelayanan sosial. Ia menekankan bahwa dinamika sosial yang cepat menuntut hadirnya pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Forum ini, ujarnya, diharapkan menguatkan kolaborasi lintas sektor, terutama dalam layanan multiprofesi di rumah sakit. “Pendekatan holistik, kolaboratif, dan integratif menjadi keniscayaan. Kolaborasi multiprofesi membuka jalan bagi penguatan lembaga kesejahteraan sosial agar dapat memberikan layanan terbaik,” ungkapnya. Melalui penyelenggaraan ini, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial serta mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. Kolaborasi Multiprofesi di Rumah Sakit Sesi pertama disampaikan dr Yuniar SpKJ MMRS, Direktur Utama RS dr Radjiman Wediodiningrat, yang memaparkan materi bertajuk Based Practice Pelayanan Multiprofesi di Rumah Sakit. Ia menjelaskan implementasi model pelayanan multidisiplin untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya, koordinasi dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat menentukan kualitas layanan. Kolaborasi yang terstruktur, papar Yuniar, mampu mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, dan meningkatkan kepuasan pasien serta keluarga. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multiprofesi menjadi kunci keberhasilan layanan berorientasi pasien,” tegasnya. Peluang dan Tantangan Pekerja Sosial Medis Sesi kedua menghadirkan Dr Rinikso Kartono MSi, akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang membahas Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Ia menekankan meningkatnya kebutuhan pekerja sosial medis seiring bertambahnya kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat. Rinikso menjelaskan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran strategis dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien—mulai dari manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, terdapat tantangan besar seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial, keterbatasan SDM terlatih, serta minimnya pemahaman lintas profesi di fasilitas layanan kesehatan. Karenanya, ia mendorong penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan kolaborasi antarprofesi

Forum Prodi Kesos UMM, Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis Jadi Sorotan

malangraya.co, “Pekerja sosial medis berfungsi sebagai penghubung antara kebutuhan medis dan sosial pasien melalui manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga penyusunan rencana layanan berkelanjutan,” jelas Rinikso. Namun, ia mengakui masih banyak hambatan yang dihadapi, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mendukung hingga minimnya tenaga terlatih dan pemahaman antarprofesi mengenai kontribusi pekerja sosial medis. Melihat kondisi tersebut, Rinikso mendorong penguatan kompetensi dan kebijakan agar peran pekerja sosial medis semakin diakui dalam sistem kesehatan. “Peningkatan kapasitas, advokasi regulasi, dan kolaborasi lintas profesi merupakan fondasi penting untuk mewujudkan layanan yang lebih komprehensif,” tegasnya. Kuliah tamu ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas kepada mahasiswa mengenai praktik pelayanan sosial serta membuka wawasan tentang peluang peran pekerja sosial di sektor medis dan layanan publik. Kolaborasi antarprofesi dinilai sebagai elemen kunci dalam menghadirkan layanan sosial yang berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.***

Penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa 2025: Inovasi Mengakhiri Laga, Solidaritas Menguatkan Bangsa

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup giat Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 dalam sebuah acara akbar yang digelar meriah di Hall Dome UMM pada Sabtu (6/12/2025). Gelaran yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung ini bukan hanya menjadi penanda berakhirnya kompetisi inovasi maritim dan pengabdian masyarakat, tetapi juga momen refleksi dan solidaritas kebangsaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memuji kompetensi yang dimiliki para peserta KKI dan Abdidaya Ormawa, menyebut mereka sebagai kelompok terpilih dari jutaan mahasiswa Indonesia. “Saudara adalah representasi dari jutaan mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri, jadikan kompetisi ini sebagai latihan mental dan intelektual. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli,” ungkapnya Ia juga menegaskan bahwa penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa ini bukanlah titik akhir, melainkan pemantik perjalanan kehidupan selanjutnya. Fauzan berpesan agar para pemenang tidak cepat puas, dan bagi yang belum meraih kemenangan untuk tetap menjaga determinasi. “Ini adalah modal untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik,” tuturnya. Menariknya dari acara penutupan ini juga terdapat momen kemanusiaan, di mana seluruh hadirin diajak menggalang dana dan berdoa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Fauzan sapaan akrabnya mengajak seluruh hadirin untuk mengheningkan cipta sejenak dan mendoakan para korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Ia juga menekankan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari pengabdian Di sisi lain, Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., menyampaikan motivasi yang membangkitkan semangat para mahasiswa agar terus berjuang dan tidak cepat merasa puas. “Jangan segera puas, dan yang menang juga tidak boleh jumawa (angkuh),” tegasnya. Ia turut mengobarkan semangat pantang menyerah, meyakinkan para peserta bahwa keyakinan dan keteguhan merupakan bekal penting untuk meraih keberhasilan, mencontohkan kegigihan Presiden RI dalam berbagai perjuangan nasional. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045. Ia juga berharap penyelenggaraan terpadu ini dapat menumbuhkan inspirasi bagi sivitas akademika UMM mengenai pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi. “Semoga ini semua menjadi energi baru dan semangat baru kita untuk terus mengabdi kepada bangsa,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM Soroti Peran Pekerja Sosial Medis yang Terabaikan

Kota Malang, tagarjatim.id — Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti peran strategis pekerja sosial medis yang dinilai masih belum sepenuhnya terlihat dalam sistem kesehatan Indonesia. Isu ini mengemuka dalam Kuliah Tamu Nasional bertema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial” yang digelar di Aula BAU Kampus III UMM, Rabu (10/12/2025). Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat, dr. Yuniar, menjelaskan bahwa pekerja sosial memiliki peran penting dalam mendampingi pasien dengan kebutuhan kompleks, termasuk pasien gangguan jiwa yang sering mengalami stigma dan penolakan dari lingkungan. Pada kondisi tersebut, pekerja sosial menjadi garda terdepan dalam asesmen, pendampingan, hingga layanan advokasi. “Kontribusi pekerja sosial di rumah sakit sering kali tidak terlihat oleh masyarakat, padahal perannya sangat vital. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi adalah kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” ujarnya. Yuniar memaparkan bahwa RS Radjiman telah menerapkan model pelayanan multidisiplin untuk memastikan proses penanganan berjalan terintegrasi. Ia menambahkan bahwa pekerja sosial tidak hanya terlibat dalam asesmen dan pendampingan, tetapi juga edukasi masyarakat dan penghubung antara kebutuhan medis serta sosial pasien. Sejak 2022, rumah sakit tersebut memperkuat peran pekerja sosial melalui berbagai kerja sama, termasuk dengan platform kita bisa untuk membantu pasien dengan kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampak kalian. Apapun pilihanmu, cintai bidang itu,” pesannya kepada mahasiswa. Sementara itu, pakar kesejahteraan sosial Dr. Rinekso Kartono, menilai kebutuhan tenaga pekerja sosial medis di Indonesia meningkat seiring kompleksitas persoalan kesehatan publik. Menurutnya, pekerja sosial medis berperan menghubungkan aspek medis dan sosial melalui manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan layanan lanjutan. “Masih banyak kendala yang muncul, seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, minimnya tenaga terlatih, serta pemahaman antar profesi yang belum merata mengenai kontribusinya,” jelasnya. Rinekso mendorong adanya penguatan kebijakan dan peningkatan kompetensi agar profesi pekerja sosial medis semakin diakui dalam sistem layanan kesehatan. Kolaborasi lintas profesi, kata dia, menjadi komponen penting untuk menghadirkan layanan yang komprehensif dan responsif terhadap kebutuhan pasien. Melalui kuliah tamu ini, Prodi Kesos UMM berharap mahasiswa mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang peluang peran pekerja sosial di sektor medis dan layanan publik. Penguatan kolaborasi antar sektor dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)