Pojok Statistik UMM Terbaik Tiga Tahun Beruntun

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat. Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. ANS

Forum Prodi Kesos UMM, Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis Jadi Sorotan

MALANGRAYA.CO– Tantangan pekerja sosial dalam menangani pasien dengan kebutuhan kompleks menjadi sorotan utama dalam Kuliah Tamu Nasional yang digelar Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan bertema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial” itu berlangsung di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu (10/12/2025) dan diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, hingga mitra lembaga praktik. Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat, dr. Yuniar, Sp.KJ, MMRS, mengungkapkan bahwa peran pekerja sosial di rumah sakit sering kali tidak terlihat meski memiliki fungsi vital, terutama dalam penanganan pasien dengan gangguan jiwa yang kerap menghadapi stigma hingga penolakan keluarga. “Dalam kondisi seperti ini, pekerja sosial menjadi garda terdepan untuk memastikan pasien mendapat perlindungan dan layanan yang tepat,” tegasnya. Yuniar menjelaskan, rumah sakitnya telah menerapkan model pelayanan multidisiplin untuk menjawab kebutuhan pasien secara menyeluruh. “Pelayanan kesehatan saat ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi menjadi kunci agar layanan benar-benar berpihak pada pasien,” paparnya. Lebih lanjut, ia menyoroti peran strategis pekerja sosial dalam edukasi masyarakat, asesmen kebutuhan, hingga advokasi akses layanan kesehatan. Sejak 2022, penguatan peran tersebut dilakukan melalui berbagai kemitraan, termasuk kerja sama dengan platform Kitabisa untuk membantu pasien yang menghadapi kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampaknya. Apa pun bidang yang kalian pilih, cintai profesinya,” pesan Yuniar kepada peserta. Sementara itu, pakar kesejahteraan sosial Dr. Rinikso Kartono, M.Si., memaparkan peluang dan tantangan pekerja sosial medis di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan profesi ini terus meningkat seiring kompleksitas masalah kesehatan masyarakat.

Pemerintah Agam Sambut Relawan Kampus, Perkuat Sinergi Penanganan Pascabencana

Agam, InfoPublik — Pemerintah Kabupaten Agam menyambut kedatangan tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Alam Kabupaten Agam, yang berlokasi di Balairong Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (10/12/2025). Kedatangan para relawan disambut langsung oleh Staf Ahli Bupati Agam, Dandi Pribadi. Dalam kesempatan tersebut, Dandi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada tim relawan atas kepedulian mereka terhadap masyarakat yang terdampak bencana. “Kabupaten Agam saat ini sangat membutuhkan dukungan tenaga relawan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana. Kehadiran adik-adik relawan menjadi semangat baru bagi kami dan masyarakat,” ujar Dandi. Dandi juga memaparkan kondisi terkini pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Agam. Ia menjelaskan dampak yang ditimbulkan serta langkah-langkah penanganan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait. Sementara itu, Ketua Tim Relawan, Indra Feri, menjelaskan bahwa sebanyak 48 relawan diterjunkan ke Kabupaten Agam. Mereka terdiri atas mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang. “Relawan yang kami turunkan akan fokus pada tiga bidang utama, yaitu tenaga medis, tenaga psikososial, dan layanan WASH,” jelas Indra Feri. Ia menambahkan, layanan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) merupakan upaya penyediaan dan penyaringan air bersih guna membantu masyarakat terdampak bencana. Untuk mendukung kegiatan tersebut, tim membawa 10 unit alat penyaringan air yang akan ditempatkan di sejumlah titik strategis agar mudah diakses warga. “Sepuluh unit alat penyaringan ini akan dipasang di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat terdampak agar mereka tetap memperoleh air bersih yang layak,” tambahnya. Kehadiran tim relawan dari dua perguruan tinggi besar ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan darurat serta memperkuat upaya pemulihan kondisi masyarakat pascabencana di Kabupaten Agam. (MC Agam/Harry)

Respon Bencana, Maharesigana UMM-UB Kirim Relawan di Sumbar

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Maharesigana (Mahasiswa Relawan Siaga Bencana) Unit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi memberangkatkan lebih dari 18 orang relawan untuk memberikan respon dan layanan kebencanaan akibat bencana yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. Pemberangkatan ini dilakukan melalui kolaborasi bersama tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) sebagai bentuk sinergi antarperguruan tinggi dalam upaya kemanusiaan. Mereka para relawan akan terlibat langsung dalam berbagai layanan kebencanaan, meliputi layanan psikososial, dapur umum, medis, WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), serta logistik, sesuai dengan kebutuhan mendesak di lokasi terdampak. Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan, S.PI., MP., akrab dipanggil Mas Indra menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa relawan merupakan wujud nyata kepedulian dan tanggung jawab sosial sivitas akademika. “Pemberangkatan relawan ini merupakan bentuk komitmen Maharesigana UMM dalam merespon cepat bencana dan menghadirkan layanan yang dibutuhkan masyarakat terdampak. Kolaborasi dengan Universitas Brawijaya memperkuat kapasitas tim di lapangan agar bantuan dapat tersalurkan secara efektif dan berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Indra menegaskan bahwa setiap relawan telah dibekali pelatihan dasar kebencanaan dan pembagian tugas yang jelas sesuai klaster layanan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan relawan sekaligus optimalisasi dampak bantuan bagi masyarakat Padang. Maharesigana UMM berharap kehadiran tim gabungan ini dapat membantu proses pemulihan awal, meringankan beban korban bencana, serta memperkuat solidaritas kemanusiaan lintas kampus. Organisasi juga terus membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak guna mendukung keberlanjutan respon kebencanaan di wilayah terdampak. (rilis andi maharesigana)

Dosen UMM Tegaskan Peran Strategis Perempuan sebagai Kekuatan di Medan Bencana

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peran perempuan kembali menjadi sorotan penting dalam upaya penanganan bencana nasional. Hal itu ditegaskan oleh Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang terjun langsung sebagai relawan pada respons bencana banjir bandang di Sumatera akhir November lalu. Bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka sosial mendalam bagi para penyintas. Di tengah situasi yang berubah cepat dan kabar kehilangan yang datang silih berganti, kontribusi perempuan tampil sebagai kekuatan emosional dan operasional yang signifikan. Iis, sapaan akrabnya, mengaku naluri keibuannya mendorong dirinya untuk tidak tinggal diam. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun saat melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat ditemui tim Humas UMM pada 11 Desember 2025. Menurutnya, dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keikutsertaan Iis merupakan bagian dari kolaborasi resmi antara UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam misi tanggap darurat yang diberangkatkan pada 8 Desember lalu. Tim relawan difokuskan di wilayah Kabupaten Agam, terutama Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, terdapat 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Dalam misi kemanusiaan ini, Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum—posisi yang menuntut ketelitian, kemampuan manajemen logistik, serta kepekaan sosial yang tinggi. Di dapur umum, para relawan perempuan bergerak sigap menyiapkan makanan sekaligus menjaga alur distribusi tetap tertib. Kehadiran mereka juga memberi rasa aman dan perhatian lebih kepada para penyintas, bahkan lewat sapaan singkat saat pembagian makanan. “Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami,” ujar Iis. Ia menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi komponen vital dalam kerja kemanusiaan. Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, dan mudah membangun kedekatan emosional—sifat yang sangat berpengaruh terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan juga memperkuat proses pemulihan sosial, terutama bagi korban yang mengalami trauma. “Sering kali masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan. Hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial jauh lebih optimal,” jelasnya. Dosen teknik UMM tersebut juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan bencana. Ia menilai masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat respons dini setiap kali muncul tanda bahaya. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” tegasnya. Di akhir keterangannya, Iis menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia terus diperbaiki dan diperkuat. Menurutnya, teknologi deteksi dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapatkan informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” tutupnya. (ANS)

Mahasiswa CoE FH UMM Terapkan Teori dalam Praktik Melalui Keterlibatan di Dunia Advokasi

Program CoE membuka ruang pembelajaran komprehensif bagi mahasiswa untuk memahami dunia advokasi secara langsung. MALANG, NETRALNEWS.COM – Upaya menghadirkan pendidikan hukum yang relevan dengan kebutuhan profesi kembali ditunjukkan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Asisten Advokat. Tiga mahasiswanya Prafirsta Intan Banuartha, Zica Maulana Putra, dan M. Filza Fadillah mendapat kesempatan memperdalam keterampilan hukum dengan terlibat langsung dalam penanganan berbagai perkara di Kantor Advokat Didik Lestariyono & Associates. Selama menjalankan tugas di kantor hukum tersebut, para mahasiswa tidak hanya mempelajari mekanisme kerja advokat secara teoritis, tetapi terjun langsung ke berbagai proses hukum yang menjadi inti profesi. Pengalaman ini menjadi sarana pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari tim yang aktif berkontribusi dalam penyelesaian permasalahan hukum. Mahasiswa Ikut Serta dalam Penyusunan Dokumen Hukum yang Menjadi Fondasi Penanganan Perkara Dalam proses pembelajaran, mahasiswa terlibat dalam penyusunan berbagai dokumen penting, mulai dari draf gugatan dan jawaban, legal opinion, hingga analisis yuridis untuk mendukung strategi perkara. Penyusunan dokumen tersebut mengajarkan mereka bagaimana argumentasi dibangun, bagaimana fakta hukum dirumuskan, serta bagaimana ketentuan perundang-undangan diterapkan dalam konteks kasus yang nyata. Tugas yang mereka jalankan memperlihatkan bagaimana teori hukum yang dipelajari di kampus diterjemahkan ke dalam format dokumen hukum yang harus jelas, sistematis, dan meyakinkan. Keterlibatan Langsung dalam Pendampingan Klien Selain bekerja di balik meja, mahasiswa ikut mendampingi advokat dalam sesi konsultasi klien. Mereka belajar mengidentifikasi akar persoalan, mengajukan pertanyaan klarifikasi, dan menganalisis opsi penyelesaian yang dapat ditempuh oleh klien. Dari aktivitas ini, mahasiswa memahami bahwa profesi advokat bukan hanya menyusun argumentasi hukum, tetapi juga mengelola komunikasi, menjaga kepercayaan klien, dan mengenali kebutuhan hukum setiap individu secara tepat. Mengikuti Agenda Sidang dan Mengamati Strategi Litigasi Mahasiswa juga memperoleh akses untuk mengikuti sejumlah agenda persidangan. Kehadiran mereka di gedung pengadilan membuka pemahaman mengenai bagaimana advokat berstrategi di lapangan mulai dari persiapan berkas, komunikasi dengan panitera, hingga dinamika ruang sidang yang sering kali tidak dapat diprediksi. Pengalaman ini memberi gambaran realistis tentang bagaimana hukum bekerja dalam praktik, bagaimana majelis hakim menanggapi argumentasi, serta bagaimana bukti dan prosedur memainkan peran penting dalam proses litigasi. Peran Mahasiswa dalam Edukasi Hukum Digital Kantor Advokat Didik Lestariyono & Associates juga menugaskan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam layanan konsultasi hukum berbasis media sosial. Melalui platform tersebut, mahasiswa membantu merespons pertanyaan publik, merangkum isu hukum populer, dan menyusun konten edukatif yang lebih mudah dipahami masyarakat. Kegiatan ini mencerminkan pergeseran peran advokat di era digital sebagai penyedia informasi hukum yang kredibel dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Penguatan Kompetensi Profesional Melalui Pembelajaran Berbasis Praktik Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai aspek penanganan perkara membuktikan bahwa pembelajaran hukum berbasis praktik mampu membentuk kompetensi yang lebih komprehensif. Mereka tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga memahami bagaimana konsep tersebut bekerja dalam situasi nyata. Program CoE FH UMM melalui kerja sama dengan Kantor Advokat Didik Lestariyono & Associates berhasil membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan teknis, ketelitian dokumenter, etika profesi, hingga kemampuan analitis keterampilan yang menjadi prasyarat utama bagi seorang asisten advokat profesional. Melalui pengalaman langsung di kantor advokat, Prafirsta Intan Banuartha, Zica Maulana Putra, dan M. Filza Fadillah berhasil memperkuat pemahaman atas praktik hukum dan menyelaraskan teori perkuliahan dengan realitas profesi. Program CoE kembali membuktikan kontribusinya dalam membentuk lulusan hukum yang lebih siap menghadapi dunia kerja dan memahami secara mendalam tanggung jawab profesi advokat.  

Kolaborasi Multi Profesi Jadi Fokus Kuliah Tamu Nasional UMM

pwmu.co – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan ruang diskusi akademik strategis melalui Kuliah Tamu Nasional bertema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial”.Kegiatan yang digelar Rabu (10/12/2025), di Aula BAU Kampus III UMM ini diikuti lebih dari 300 peserta, terdiri dari dosen, mahasiswa, dan mitra Prodi Kesejahteraan Sosial dari berbagai lembaga serta institusi praktik. Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UMM, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Program Studi serta Dekan FISIP. Dalam sambutannya, Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, Ph.D, menegaskan bahwa inovasi adalah kunci utama untuk menghadirkan pelayanan sosial yang relevan dengan perkembangan zaman. “Perubahan sosial yang cepat menuntut kita menghadirkan pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti,” ujar Hutri. “Melalui forum ini, kami berharap kolaborasi lintas sektor semakin kuat sehingga transformasi pelayanan sosial bisa berlangsung lebih efektif, termasuk dalam layanan multi profesi di rumah sakit.” Dia juga menekankan bahwa keberadaan pekerja sosial medis bukan sekadar opsi, melainkan sebuah keniscayaan dalam ekosistem pelayanan kesehatan modern. Dengan pendekatan holistik dan integratif, menurutnya, lembaga kesejahteraan sosial dapat memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. Selaras dengan itu, Hutri menegaskan komitmen prodi dalam menyiapkan lulusan yang kompeten dan berkarakter. “Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial dan mencetak profesional yang siap menghadapi tantangan global di bidang kesejahteraan sosial,” tambahnya. Sesi pertama menghadirkan pemaparan dari dr. Yuniar, Sp.KJ, MMRS, Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, yang membawakan materi “Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit.” Dr. Yuniar menjelaskan bagaimana model pelayanan multidisiplin telah diterapkan di rumah sakit yang dipimpinnya, terutama untuk menangani pasien dengan kebutuhan kompleks. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multi profesi menjadi kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” tegasnya. Dia mencontohkan bagaimana koordinasi terstruktur antara dokter, psikolog, perawat, pekerja sosial medis, dan tenaga kesehatan lainnya mampu mempercepat proses diagnosa, mengurangi kesalahan komunikasi, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Sesi kedua diisi oleh akademisi sekaligus pakar kesejahteraan sosial, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., yang mengulas tema “Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia.” Dalam paparannya, Rinikso menyampaikan bahwa pekerja sosial medis semakin dibutuhkan karena kompleksitas masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat. “Pekerja sosial medis memiliki peran kunci menjembatani aspek medis dan sosial pasien. Mereka terlibat dalam manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan,” jelasnya. Meski demikian, ia menyebut masih banyak tantangan yang perlu dibenahi. “Regulasi profesi belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis. Selain itu, SDM terlatih masih terbatas dan pemahaman lintas profesi mengenai kontribusi pekerja sosial juga belum merata,” katanya. Karena itu, Rinikso mendorong langkah strategis untuk memperkuat kompetensi pekerja sosial medis sekaligus advokasi kebijakan agar peran mereka lebih diakui. “Penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan kolaborasi antarprofesi adalah syarat agar pelayanan kesehatan dapat menjadi lebih komprehensif,” ujarnya menegaskan. Kegiatan Kuliah Tamu Nasional ini menjadi ruang penting bagi akademisi dan praktisi untuk merumuskan strategi baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan sosial. UMM berharap diskusi-diskusi ini menjadi pijakan untuk menghadirkan sistem pelayanan yang lebih inovatif, manusiawi, dan berkelanjutan di masa depan. (*)

UMM Borong Penghargaan Bergengsi di KKI: Bukti Keunggulan Inovasi Mahasiswa

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya. (diko)

UMM Gelar Kuliah Tamu Bahas Transformasi Pelayanan Sosial

Malang-harianjatim.com. Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian kegiatan Kuliah Tamu Nasional. Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial, menjadi tema dalam kegiatan yang diselenggarakan Rabu, 10 Desember 2025 di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara ini dihadiri oleh 300 orang peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa serta mitra Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dalam berbagai program pengabdian dan praktik lapangan, dan dibuka oleh Wakil Rektor I UMM. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino., Ph.D menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan dalam pelayanan sosial. “Perubahan sosial yang cepat menuntut kita untuk menghadirkan pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti,” katanya. Dia berharap forum itu dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor agar transformasi pelayanan sosial dapat berjalan secara lebih efektif, termasuk dalam layanan multi profesi di rumah sakit. “Sehingga, profesi Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan dalam praktik multi profesi tersebut. Karena dengan pendekatan holistik, kolaboratif dan integratif—diharapkan lembaga kesejahteraan sosial dapat memberikan layanan sosial terbaik,” jelas dia. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan sosial, sekaligus mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan kuliah tamu nasional ini menghadirkan sesi pemaparan dan diskusi yang berfokus pada perspektif strategis mengenai praktik pekerja sosial medis dan kolaborasi multi profesi di rumah sakit. Sesi pertama disampaikan oleh dr. Yuniar., Sp.KJ. MMRS selaku Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, yang menyampaikan materi tentang “Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit.” Ia menjelaskan bagaimana model pelayanan multidisiplin telah diterapkan di RS dr. Radjiman Wediodiningrat untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat berpengaruh terhadap hasil pelayanan. Ia mencontohkan bagaimana koordinasi terstruktur dalam tim layanan dapat mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Kolaborasi multi profesi menjadi kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” terang dia. Sesi kedua disampaikan oleh Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang mengulas tentang “Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia.” Dalam paparannya, Dr. Rinikso menekankan bahwa kebutuhan akan pekerja sosial medis semakin meningkat seiring kompleksitas permasalahan kesehatan masyarakat. Ia memaparkan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran kunci dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien, terutama dalam manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan signifikan, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, keterbatasan jumlah SDM terlatih, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi mengenai kontribusi pekerja sosial dalam sistem kesehatan. Sehingga dibutuhkan penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antarprofesi agar pelayanan kesehatan lebih komprehensif.

Dosen UMM-MGMP Matematika Kabupaten Gresik FGD Media Pembelajaran Berbasis Lingkungan, Menggunakan FAVA Methods

TABLOIDMATAHATI.COM, GRESIK– Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd, hadir sebagai nara sumber utama dalam  Focus Group Discussion (FGD) Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk Pembuatan Media Pembelajaran Berbahan Plastik Ramah Lingkungan Menggunakan FAVA Methods untuk Pendidikan Berkelanjutan, (8/12) 2025 bersama (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP Matematika Kabupaten Gresik. Saat menjadi narasumber tersebut, Dyah – begitu Dyah Worowirastri Ekowati disapa- menjelaskan konsep integrasi berbasis isu lingkungan ke dalam pembelajaran matematika. Topik ini menjadi diskusi strategis para guru matematika SMA untuk memahami urgensi pemanfaatan sampah plastik sebagai media pembelajaran. Ketika opening diskusi Dyah bertanya kepada peserta MGMP  matematika tentang media pembelajaran berbasis lingkungan yang ternyata belum pernah digunakan oleh para guru matematika dalam mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi media ramah lingkungan dalam pembelajaran matematika masih minim. Persepsi umum tentang matematika SMA itu sudah dipandang abstrak jadi tidak perlu media. Dyah lantas menjelaskan dalam teori perkembangan kognitif Piaget, meskipun siswa SMA berada pada tahap berpikir abstrak, bukan berarti seluruh materi dapat diajarkan tanpa visualisasi. Ada beberapa konsep matematika yang jika tidak kuat diawal, terutama pada fase konkret maupun semi-konkret, anak-anak membutuhkan visualisasi untuk menjembatani menuju semi-abstrak hingga abstrak. Itu sebabnya diperlukan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat bermakna bagi siswa karena untuk membuat konsep matematika lebih konkret dan mudah dipahami. Sehingga media yang digunakan tidak hanya sebatas materi peluang, trigonometri tapi belum mengangkat isu lingkungan. Nah, dari FGD ini dilanjutkan Dr Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd, mulai memaparkan bagaimana memanfaatkan sampah plastik sebagai media pembelajaran Reduce yang edukatif, murah, relevan, dan berorientasi lingkungan. Konsep matematika dapat divisualisasikan dengan media dari limbah plastik seperti botol, tutup botol, gelas plastik, kemasan transparan, dan potongan plastik mika. Kalau menggunakan bahan ramah lingkungan seperti plastik. Contohnya seperti statistik yang bisa divisualisasikan melalui sampah plastik sebagai data konkret. Pembahasan berkembang ketika Dyah dan Agung mengajak peserta FGD menerapkan media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan. Peserta menyampaikan bahwa guru perlu menyiapkan materi, kondisi siswa, alokasi waktu, alat, bahan, langkah pembelajaran, hingga latar belakang siswa. Persiapan matang menjadi kunci media pembelajaran bisa dimanfaatkan sesuai tujuan pembelajaran, bukan sekadar proyek kreatif semata. Selain itu, Dyah menegaskan pentingnya penentuan strategi pembelajaran dan penyusunan tahapan kegiatan sebelum media digunakan. Pendekatan FAVA Methods (Find, Analyze, Visualize, Apply) menjadi metode efektif yang membantu guru menelusuri potensi sampah plastik, menganalisis kesesuaiannya dengan materi matematika, memvisualisasikannya dalam bentuk media konkret, kemudian menerapkannya dalam pembelajaran nyata di kelas. “Kami mengajak guru matematika memahami bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi dapat menjadi sarana edukatif bernilai tinggi. Media berbahan plastik bekas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti model bangun ruang dari botol plastik, spinner peluang dari tutup botol, papan trigonometri dari plastik mika, hingga alat peraga operasi bilangan. Dengan demikian, sampah plastik bukan hanya diolah kembali, tetapi diberi makna baru sebagai alat pembelajaran Reduce,” ujar Dyah dosen Prodi PGSD UMM ini. Dari tindaklanjut diskusi ini, Dyah mengumumkan lomba media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan tingkat SMA se-Kabupaten Gresik. Lomba ini akan diikuti 20 sekolah negeri maupun swasta, dengan tiga kategori penghargaan yaitu media terkreatif, terinovatif, dan terfavorit. Program ini diharapkan mendorong siswa sekaligus guru untuk terus bereksperimen dengan media berbasis sampah plastik. Sebagai closingnya Dyah berharap FGD ini dapat memperkaya wawasan guru mengenai konsep pembelajaran berkelanjutan, sekaligus menjadikan matematika dapat diajarkan dengan cara yang lebih konkret, aplikatif, dan memiliki nilai ekologis. Salah satu peserta FGD, Fitri Andriyani, M.Pd, dari SMA Muhammadiyah 10 Gresik, menjelaskan bahwa meskipun terdapat banyak materi abstrak, beberapa konsep tetap membutuhkan media konkret sebagai jembatan dari tahap konkret menuju abstrak. (rilis humas/don)