UMM Siap Sambut Ribuan Peserta Abdidaya Ormawa dan Kontes Kapal Indonesia 2025

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapatkan kepercayaan nasional dengan menjadi tuan rumah dua agenda besar sekaligus pada 4–6 Desember 2025 mendatang, yakni Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 dan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Kedua kegiatan yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut diperkirakan akan menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Pada penyelenggaraan tahun ke-5 Anugerah Abdidaya Ormawa, UMM menyiapkan rangkaian acara mulai dari pembukaan, Abdidaya Ormawa Expo, semiloka nasional, hingga malam penganugerahan. Expo menjadi kegiatan utama yang menampilkan pameran poster, luaran wajib, dan produk tambahan dari tim pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) berbagai perguruan tinggi. Semiloka nasional turut digelar dengan melibatkan pimpinan bidang kemahasiswaan, pengurus Ormawa, dosen pendamping, serta mitra desa dan mitra eksternal untuk membahas strategi peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa. Puncaknya, panitia akan mengumumkan peraih Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 di Dome UMM. Penghargaan diberikan kepada tim pelaksana, organisasi kemahasiswaan, dosen pendamping, perguruan tinggi, serta mitra berkelanjutan yang dinilai berhasil menjalankan program pemberdayaan melalui PPK Ormawa. Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa melalui proyek pemberdayaan masyarakat, mencakup isu pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan Desa Wirausaha, Smart Farming, Kampung Iklim, serta Desa/Kelurahan Cerdas dan Wisata. Pada waktu bersamaan, UMM juga menjadi tuan rumah Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 yang menghadirkan tantangan baru bagi peserta. Ketua Panitia Lokal, Amrul Faruq MEng PhD, menjelaskan bahwa tahun ini panitia menerapkan perubahan total pada lintasan lomba serta peningkatan standar teknis yang lebih ketat. “Fasilitas unggulan UMM, seperti tiga danau uji berstandar nasional, menjadi arena utama pengujian navigasi, manuverabilitas, hingga stabilitas prototipe kapal,” tuturnya. Dia menambahkan, Belmawa telah melakukan dua kali visitasi untuk memastikan lokasi memenuhi standar kompetisi nasional. “Panitia juga mengikuti bimbingan teknis bersama juri nasional pada 28 November untuk finalisasi aturan keselamatan, inspeksi prototipe, dan operasional arena lomba,” katanya. Antusiasme peserta meningkat tajam dengan hadirnya 110 tim dari 51 perguruan tinggi. Total pergerakan peserta, juri, dan pendamping diprediksi melampaui 1.500 orang selama kegiatan berlangsung. KKI 2025 mempertandingkan tiga kategori utama: Autonomous Surface Vessel (ASV), Electric Remote Control (ERC), dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Meski tanpa penambahan kategori, peningkatan standar teknis diperkirakan membuat kompetisi jauh lebih ketat. Untuk mendukung kelancaran acara, lebih dari 200 mahasiswa UMM terlibat sebagai panitia dan liaison officer (LO). Mereka bertugas mengoordinasikan peserta, membantu aspek teknis, serta memastikan setiap rangkaian lomba berjalan lancar. Selain menjadi sarana praktik manajemen acara, para mahasiswa juga akan memperoleh sertifikat dari UMM dan Belmawa. Melalui penyelenggaraan dua agenda nasional ini, UMM kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi dengan kapasitas manajerial acara berskala besar, sekaligus pusat kolaborasi akademik dan inovasi mahasiswa dari seluruh Indonesia. (Faqih/AS)

Fakultas Teknik Unismuh Perkuat Kerja Sama dan Studi Tiru CoE ke UMM

KUMPARAN – KABAR UNISMUH, MALANG — Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan studi tiru dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar pada Selasa, 2 Desember 2025. Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda hari kedua yang bertujuan memperkuat pengembangan kurikulum, penelitian, serta pengembangan pusat studi keunggulan (Center of Excellence/CoE) di lingkungan Fakultas Teknik Unismuh Makassar. Rombongan diterima di Ruang Rapat Fakultas Teknik UMM oleh Dekan, Dr. Ir. Sulianto, MT, didampingi Wakil Dekan I Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., serta Wakil Dekan II Ir. Shanty Kusuma Dewi, M.T., yang baru dilantik untuk periode 2025–2029. Pertemuan turut dihadiri ketua dan sekretaris program studi Informatika, Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknik Elektro, serta perwakilan PIC CoE Fakultas Teknik UMM. Dari Unismuh Makassar hadir Wakil Dekan I Fakultas Teknik, Dr. Ir. Ar. Hj. Irnawaty Idrus, ST., MT., IPM., IAI, bersama Sekretaris Prodi Informatika Titin Wahyuni, S.Pd., MT.; Sekretaris Prodi Elektro A. Halik Lateko, ST., MT., Ph.D; serta Sekretaris Prodi Teknik Pengairan Sumardi, ST., MT. Penguatan Kerja Sama Akademik Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi membahas ruang lingkup kerja sama yang akan dituangkan dalam Memorandum of Agreement (MoA). Menurut Irnawaty Idrus, kerja sama mencakup empat bidang utama: pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan CoE. Pada bidang pendidikan, rencana kerja sama meliputi pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pertukaran dosen tamu, serta penguatan program magang, praktik industri, Kuliah Kerja Nyata tematik, dan student mobility. Pada bidang penelitian, kedua fakultas membuka peluang kolaborasi berupa joint research, publikasi bersama di jurnal maupun prosiding, serta pertukaran luaran publikasi mahasiswa. Pada aspek pengabdian masyarakat, model community development berbasis kebutuhan lokal menjadi salah satu pendekatan yang dinilai dapat direplikasi di masing-masing wilayah. Studi Tiru CoE Fakultas Teknik UMM Kunjungan ini juga memfokuskan studi tiru pada pengembangan CoE di Fakultas Teknik UMM, terutama pada tiga prodi: Teknik Elektro, Informatika, dan Teknik Sipil. Ketiga prodi tersebut menjadi rujukan Unismuh Makassar dalam penyusunan roadmap CoE, mekanisme pendanaan, manajemen kelembagaan, serta pengembangan produk unggulan. Para PIC CoE UMM memaparkan praktik baik pengembangan CoE yang selama ini menjadi keunggulan institusi. Hampir seluruh program studi di Fakultas Teknik UMM telah meraih akreditasi Unggul, dan beberapa di antaranya telah memperoleh akreditasi internasional dari IABEE. Langkah Penguatan Unismuh Makassar Wakil Dekan I Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Irnawaty Idrus, menyampaikan bahwa UMM merupakan mitra strategis dalam pengembangan fakultas. “Kami memandang Fakultas Teknik UM Malang sebagai salah satu role model yang insya Allah dapat kami jadikan rujukan dalam memperkuat pengembangan Fakultas Teknik di UM Makassar,” ujarnya. Menurut Irnawaty, forum tersebut memberikan banyak masukan untuk pengembangan kurikulum, penelitian bersama, publikasi, serta peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa penguatan CoE menjadi prioritas strategis Fakultas Teknik Unismuh Makassar. Kedua institusi sepakat melanjutkan dialog teknis terkait penyusunan kelembagaan CoE dan pengembangan program kerja sama strategis lainnya.

UMM Kukuhkan Dua Guru Besar Penggerak Inovasi Ketahanan Pangan

  KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025), sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini sekaligus menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur serta teknik produksi tanaman hortikultura, yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Langkah tersebut selaras dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof Dr Ir Joko Triwanto MP IPU dan Prof Dr Ir Syarif Husen MP. Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Produktivitas yang hanya sekitar 17,67 ton/ha, menurutnya, dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar benih unggul. Kondisi ini terjadi karena banyak petani masih menggunakan benih generasi lanjut dan minim akses terhadap benih berkualitas. Untuk menjawab persoalan tersebut, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) guna menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi ini perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya di lapangan,” ujarnya. Syarif menambahkan, UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi tersebut tidak berhenti di laboratorium. Program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai kolaborasi ini sebagai kunci memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberi peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dinilai relevan untuk menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola dengan bijak. Melalui agroforestri, kita dapat menghasilkan pangan beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut,” kata Joko. Ia menjelaskan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan perlu terus didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan peran strategis guru besar dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban atas tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Wildan/AS)

Dosen Sastra Indonesia Fida Dapat Beasiswa S3 ke Austria Berkat Riset Bahasa dan AI

      Head Topics – Dosen Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini tengah menempuh studi S3 di Austria.   Ia kuliah sebagai penerima Indonesia -Austria Scholarship Programme yang diselenggarakan oleh Ditjen Diktiristek Kemendikti saintek, bekerja sama dengan OeAD-GmbH atas nama Kementerian Pendidikan, Sains, dan Riset Austria. Sembari ia mengumpulkan pengalaman akademik mulai dari Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik saya sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,”ujarnya, dikutip dari situs UMM, Minggu . Fida menjalani proses seleksi mulai dari berkas administrasi hingga wawancara luring dengan empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia yang langsung membahas inti penelitiannya. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung fokus ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” ungkapnya.-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang fokus menilai bagaimana generative-AI bisa meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar. “Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” kata Fida. Menurut Fida Pangesti, S.Pd., M.A. , materi tata bahasa adalah salah satu yang paling sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pelajar.Risetnya memang belum berjalan, tetapi penyusunan desain intervensi menjadi tantangan tersendiri bagi Fida karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik. “Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna, bahkan disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya. Penelitiannya menunjukkan bahwa AI bukan hanya tren, tetapi alat strategis dalam pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih mudah, menarik, dan siap bersaing di ranah global. Kehidupan di Austria juga membawa banyak kejutan menyenangkan. Mulai dari budaya Ruhetag yang membuat semua toko tutup pada hari Minggu, mengutamakan pejalan kaki.Perpustakaan menjadi tempat favorit Fida. Di tengah suasana tenang, ia sering melihat lansia yang tetap giat belajar, sebuah pemandangan yang menurutnya sangat menginspirasi.

Syarif Husen Dikukuhkan Sebagai Profesor Kentang

Tugujatim.id – Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. dikukuhkan sebagai Profesor Kentang. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 29 November 2025. Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. “Permasalah terbesar dari pengembangan tanaman kentang adalah penyediaan benih, petani tidak bisa mencetak sendiri dan pemerintah baru bisa menyediakan kurang dari 10 persen dari kebutuhan benih,” kata Syarif Husen dalam orasi ilmiahnya di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (29/11/2025). Guna menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. UMM mengukuhkan dua guru besar yakni Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP dan Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. Pengukuhan tersebut sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus dan menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Sementara Prof Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya.

Mahasiswa Magang COE FH UMM Soroti Maraknya Developer Bodong di Malang

Malang || RADAR JATIM.CO~ Maraknya kasus perumahan bodong di Malang Raya menarik perhatian Mahasiswa Magang COE FH UMM yang tengah mengkaji meningkatnya praktik penipuan properti. Fenomena ini terjadi akibat tingginya permintaan rumah murah, sementara pengawasan terhadap perizinan dan legalitas pembangunan masih lemah. Berbagai kasus seperti Valley Residence Joyogrand, Grand Mutiara Kedungrejo, The Aswindra Hill, dan PT Hadara Propertindo Jaya menunjukkan pola serupa. Developer menawarkan harga murah dan janji bebas biaya notaris, namun tanpa izin dan legalitas tanah yang valid. Mahasiswa Magang COE FH UMM mencatat korban tertipu karena minimnya transparansi. Kasus Grand Mutiara Kedungrejo mencatat 96 user membayar hingga Rp165 juta per orang, tetapi rumah tak kunjung dibangun. Di Kota Batu, pembeli The Aswindra Hill menyetor hingga Rp779 juta meski pengembang belum mengurus izin pembangunan. Temuan ini memperkuat kajian Mahasiswa Magang COE FH UMM terkait lemahnya verifikasi izin. Di Karangploso, PT Hadara Propertindo Jaya menjual 28 kavling tanpa hak, memakai dana user tanpa melunasi tanah pemilik sebelumnya. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai kasus ini sebagai contoh penipuan terstruktur yang menyasar masyarakat dengan harapan memperoleh rumah murah. Peran notaris turut menjadi sorotan setelah ditemukan praktik pengesahan dokumen tanpa verifikasi sertifikat, penahanan berkas tanpa dasar hukum, hingga legitimasi proyek ilegal. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai bahwa notaris seharusnya menjadi benteng awal dalam mencegah transaksi perumahan bermasalah. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro menjadi pendamping hukum bagi para korban, termasuk Ibu Umbar sebagai pemilik lahan dan Ibu Sindy sebagai user. Kedua pihak mengalami kerugian besar akibat legalitas lahan yang tidak dipenuhi dan unit rumah yang tidak pernah dibangun oleh pengembang. Ibu Umbar hanya menerima sekitar Rp110 juta dari total harga Rp310 juta, meski perjanjian mewajibkan pelunasan satu tahun. Sementara Ibu Sindy telah melunasi pembayaran tetapi tidak memperoleh unit rumah. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai kondisi ini memperlihatkan urgensi pendampingan hukum bagi masyarakat. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro telah melaporkan direktur PT Hadara Propertindo Jaya serta oknum notaris yang diduga terlibat. Upaya pemulihan hak terus berjalan dan sebagian korban telah memperoleh ganti rugi, meski pelaku utama masih belum memenuhi seluruh kewajibannya kepada para korban. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai perlunya edukasi hukum kepada masyarakat agar dapat memeriksa izin, legalitas lahan, dan reputasi notaris sebelum membeli rumah. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro turut aktif memberikan penyuluhan melalui media sosial dan layanan konsultasi hukum gratis. Mahasiswa Magang COE FH UMM dan Firma Padepokan Hukum Lesanpuro mendorong pemerintah memperkuat pengawasan, memperbarui regulasi, dan menerbitkan daftar hitam developer serta notaris bermasalah. Langkah ini penting untuk melindungi masyarakat Malang Raya dari penipuan perumahan bodong dan memastikan hak atas perumahan yang layak.

Guru Sebagai Kurator Pembelajaran di Tengah Gempuran AI

Malang, Tugumalang.id – Peran guru di tengah kemajuan teknologi sejak kemunculan Artificial Intelligence (AI) tetap dinilai krusial. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran, mengingat teknologi ini tidak memiliki fungsi pendampingan dan sentuhan edukatif secara langsung. Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi bukan sekadar hadirnya alat baru di ruang kelas, tetapi transformasi mendasar dalam cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan membuat guru dan dosen menghadapi transformasi besar dalam perannya. Tidak sedikit yang menilai kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi pendidik dalam proses belajar mengajar. Namun, di balik kemudahan tersebut, peran pendidik justru semakin strategis. Guru tidak lagi cukup hanya sebagai penyampai materi, melainkan berperan sebagai kurator yang memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid, relevan, serta layak dijadikan rujukan. Dalam konteks ini, pendidik dituntut memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatan teknologi. Beti menjelaskan bahwa guru perlu menjadi learning experience designer dengan merancang pembelajaran yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach yang mengasah daya pikir peserta didik. “Jadi bukan hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Hal ini tentu akan melatih keterampilan analitis dan argumentasi,” kata dia. Di tengah kekhawatiran akan menurunnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat adanya peluang. Menurutnya, pendidik bisa mendorong peserta didik tetap menghasilkan karya otentik meski memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu. “Paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ungkap Beti. Ia menambahkan, AI seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar potensi diri, bukan menggantikan kapasitas manusia. Pendidikan, menurutnya, perlu membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya secara kritis dan bertanggung jawab. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitu pun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tandasnya. Reporter : M Ulul Azmy redaktur: jatmiko

UMM-UiTM Malaysia Angkat Permainan Tradisional Jawa ke Kancah Global

Kota Malang, Bhirawa – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat langkah internasionalnya dengan menggandeng Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia melalui program kolaborasi bertajuk “Multimedia Cultural Chronicles Unveiling the Joy of Javanese Traditional Games.” Program selama satu minggu, yang dimulai sejak 23 November 2025, ini melibatkan puluhan mahasiswa dari kedua negara untuk mempelajari, mendokumentasikan, dan mempromosikan permainan tradisional Jawa ke audiens global melalui proyek utama berupa pembuatan coffee table book dan video dokumentasi. Kegiatan pertukaran mahasiswa ini berfokus pada pengembangan wawasan budaya dan penguatan jejaring internasional. Para mahasiswa internasional dari UiTM secara langsung berkolaborasi dengan mahasiswa UMM untuk melakukan pengamatan, wawancara, hingga proses kreatif. Output utama dari kolaborasi ini adalah coffee table book dan serangkaian video yang menjelaskan cara memainkan berbagai permainan tradisional Indonesia, menjadikannya langkah konkret UMM dalam mempromosikan budaya lokal ke tingkat global dengan pendekatan multimedia. Saat pembukaan, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., menyambut baik kehadiran mahasiswa UiTM, ia menekankan pentingnya momen ini sebagai penguatan kerja sama kedua institusi. “UMM sangat senang dan bangga menerima mahasiswa dari luar negeri. Saya berharap adik-adik memperkuat kolaborasi dan komunikasi karena itu adalah social capital,” ujar Dr. Fauzik. Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjaga perilaku, norma, serta mengembangkan kompetensi selama program berlangsung. Kegiatan eksplorasi permainan tradisional ini akan berlangsung di beberapa lokasi di Malang dan Batu, termasuk, Museum Panji, Desa Wisata Ngawonggo, Taman Dolan. Di lokasi-lokasi tersebut, para peserta diajak melihat dan merasakan pengalaman bermain secara langsung, sebelum akhirnya menyusun materi dokumentasi (video dan coffee table book). Salah satu mahasiswa Malaysia, Tengku Syamimi Afiqah, mengungkapkan antusiasmenya. Menurutnya, program ini memberikan pengalaman akademik dan budaya yang sangat berharga. Ia menambahkan bahwa lingkungan di UMM sangat ramah dan menginspirasi, memungkinkan mereka mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya Indonesia, khususnya permainan tradisional yang didokumentasikan. [mut.wwn]

UMM Tambah Dua Guru Besar yang Berkiprah di Ketahanan Pangan

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025) sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur. Juga pada bidang teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Teknologi Produktivitas Kentang Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha. Nantinya dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB). Hal ini dianggap sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar,” katanya. “Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Kolaborasi Lintas Sektor Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Juga strategi dalam meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Ia menganggap hal ini sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani.” katanya. “Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Integrasi Tanaman Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal. Tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Djoko W)

Dosen PGSD UMM Jelaskan Peran Guru di Era Gempuran AI

Malangpariwara.com – Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, para guru dan dosen justru sedang menghadapi transformasi yang cukup besar dalam perannya. Banyak yang menilai bahwa kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) yang ada mulai mengambil alih peran pendidik dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi ini juga mengubah dinamika pendidikan lebih cepat dari sebelumnya. Menurut Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. selaku dosen prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengemukakan pandangannya. Perkembangan Teknologi dalam Kelas Ia mengungkap perubahan ini bukan sekadar soal alat baru di kelas, tetapi perubahan cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Namun, dibalik kemudahan itu peran pendidik tidak bisa lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi lebih krusialnya menjadi kurator. Dalam hal ini, pendidik bukan hanya memberi informasi tetapi juga memilah mana sumber yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa nya. Dalam ekosistem pendidikan, pendidik perlu memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatannya. Menurut Beti, pendidik dituntut untuk bisa menjadi learning experience designer atau mendesain pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi critical thinking coach. Bukan hanya sekedar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari “apa” menjadi “bagaimana” dan “mengapa.” Hal ini tentu akan melatih jiwa keterampilan analitis dan argumentasi. Di balik kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Baginya, AI boleh membantu, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai tetap menjadi orisinalitas manusia. “Yang paling penting Itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti berpesan bahwa penggunaan AI cukup sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti diri. Baginya, pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan menusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (Djoko W)