Mahasiswa Fakultas Hukum UMM Sosialisasi SPP-IRT Pengusaha Kripik Pisang Coklat Lumer

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) baru-baru ini melaksanakan sosialisasi kepada pelaku usaha pangan di wilayah Perumahan Istana Kepuh Regency Kepuharjo, Karangploso, Kabupaten Malang. Sosialisasi tersebut dilakukan dua orang mahasiswa FH UMM atas nama M. Dearmada dan Murni Maryani. Keduanya sosialisasi terkait pentingnya legalitas SPP-IRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga). Menurut Mada begitu M.Dearmada disapa, sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelaku usaha mikro, khususnya produsen kripik pisang coklat lumer, tentang pentingnya SPP-IRT. Perlu diketahui kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari perkuliahan pendidikan dan latihan kemahiran hukum dalam mendukung pengembangan usaha mikro yang aman dan terpercaya. Mada menjelaskan sosialisasi SPP-IRT ini menjadi sarana pembelajaran lapangan, di mana mahasiswa terlibat langsung dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha mikro. SPP-IRT merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat sebagai bukti bahwa produk pangan yang dihasilkan oleh industri rumah tangga sudah memenuhi standar keamanan pangan. Legalitas SPP-IRT sangat vital karena selain menjamin keamanan produk bagi konsumen, sertifikat ini juga membuka peluang para pelaku usaha untuk memperluas pasar, baik di tingkat lokal maupun nasional. Saat sosialisasi, kata Mada, mahasiswa FH UMM bermitra dengan salah satu sentra produksi kripik pisang coklat lumer di Malang, materinya pemaparan mengenai proses pengurusan SPP-IRT serta dampak positif yang dapat diperoleh oleh pelaku usaha. Mereka menjelaskan bahwa legalitas tersebut bukan hanya sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bentuk tanggung jawab produsen dalam menjaga kualitas produk dan kesehatan konsumen. Menariknya, Mada mengungkapkan selama proses sosialisasi ibu Sonti -pemilik usaha pisang coklat lumer- antusias mengikuti rangkaian materi, mulai dari prosedur pengajuan, persyaratan yang harus dipenuhi, hingga tata cara menjaga higienitas produksi agar sertifikat SPP-IRT dapat diperoleh dan dipertahankan. Selain itu, tim mahasiswa FH UMM juga membagikan contoh dokumen dan tips praktis sehingga para produsen kripik pisang coklat lumer dapat lebih mudah memahami dan menjalankan kewajiban mereka. Sementara itu, anggota mahasiswa FH UMM yang lain, Murni Maryani, menambahkan melalui sosialisasi tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing produk kripik pisang coklat lumer yang selama ini banyak diminati masyarakat. Dengan legalitas SPP-IRT, produk bukan hanya aman dikonsumsi, tapi juga memiliki nilai tambah di mata konsumen dan pasar yang semakin peduli pada standar keamanan pangan. Sosialisasi ini mahasiswa UMM turut berperan dalam membangun ekosistem usaha mikro rumah tangga yang lebih profesional dan berkelanjutan, sekaligus membantu masyarakat mengimplementasikan standar hukum dan kesehatan pangan dalam produksi sehari-hari. (rilis: mada/murni/don)
Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM Dorong Kemajuan Kampus dan Indonesia

MALANG POST – Pengukuhan tiga profesor baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung meriah, Sabtu 22 November 2025. Seremonial diiringi puluhan moge (motor gede) dari rektorat UMM menuju Dome UMM, menandai momen penting dalam perkembangan akademik kampus tersebut. Ketiga profesor baru itu adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM.; Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Para guru besar ini memiliki bidang kepakaran yang beragam, mulai dari pengembangan kurikulum, microbiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Kehadiran mereka memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan lonjakan kualitas akademik yang signifikan; saat ini UMM telah memiliki lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan sekadar pencapaian institusional, melainkan sumber energi baru bagi kemajuan bangsa. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin untuk mengakselerasi transformasi peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Nazaruddin menyoroti dampak peningkatan jumlah guru besar terhadap minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta potensi kerjasama dengan dunia industri, sektor usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, serta tata kelola keuangan yang lebih baik dinilai akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat boleh saja, tetapi jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih tersebut. Ia menegaskan guru besar merupakan salah satu ukuran kualitas sebuah kampus. Kehadiran mereka menjadi inspirasi bagi orang tua untuk menilai kemajuan institusi pendidikan. Menurut Muhadjir, ketiga profesor baru ini memiliki visi bersama untuk menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan. “Saya berharap UMM menjadi pelopor dalam perwujudan Indonesia yang semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak boleh merusak, melainkan memastikan masa depan yang lebih baik bagi semua,” katanya. Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, Teknologi, dan Teknologi Informasi (DTI) melalui wakilnya, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan peran krusial perguruan tinggi dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Fauzan juga menyoroti pentingnya konsep credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa saja dari berbagai latar belakang meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas. Momen ini diharapkan semakin mempererat posisi UMM sebagai kampus unggul yang konsisten dalam pengembangan akademik serta memperluas peluang kolaborasi dengan industri dan komunitas luas demi kemajuan nasional. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Nyentrik! Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor

MALANG, Tugujatim.id – Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor, Sabtu (22/11/2025). Tiga guru besar baru yang dikukuhkan diantar puluhan motor motor gede dari rektorat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegas Nazaruddin Malik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/11/2025). Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Ia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas.
Nyentrik! Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor

MALANG, Tugujatim.id – Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor, Sabtu (22/11/2025). Tiga guru besar baru yang dikukuhkan diantar puluhan motor motor gede dari rektorat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegas Nazaruddin Malik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/11/2025). Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Ia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas.
Pengukuhan Tiga Profesor UMM, Paparkan Gagasan Ilmiah untuk Masa Depan Indonesia

Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyan Malang (UMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali menambah guru besar bergelar professor pada Sabtu (22/11/2025). Pada acara pengukuhan guru besar yang diadakan di Basement Dom UMM, kampus secara resmi menganugerahkan jabatan akademik tertinggi kepada tiga dosennya. Mereka adalah Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd (Bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika), Prof. Dr. Lud Waluyo, M.Kes (Bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan), serta Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M (Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum). Metode OIDDE Dalam orasinya, Prof. Atok Miftachul Hudha memaparkan model pembelajaran inovatif OIDDE yang ia kembangkan. Ia menegaskan bahwa model tersebut berpotensi kuat mendukung tujuan pendidikan nasional secara utuh. “Model pembelajaran OIDDE dirancang agar peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa model pembelajaran tersebut dirancang untuk mendukung tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh. Mulai dari pembentukan karakter hingga peningkatan literasi sains. Menurutnya, berbagai riset mahasiswa UMM maupun kampus lain menunjukkan bahwa rendahnya literasi konseptual dan tingginya miskonsepsi. Serta keterbatasan pedagogi dan teknologi masih menjadi masalah utama dalam pembelajaran biologi. “Riset menunjukkan masih rendahnya literasi sains dan banyaknya miskonsepsi. OIDDE hadir untuk menjawab problematika pembelajaran biologi di abad global,” tambahnya. Ia berharap bahwa OIDDE dapat menjadi solusi dalam problematika pembelajaran biologi pada saat ini. “OIDDE diharapkan menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan konteks sosial dan etika dalam setiap proses pembelajaran,” ujarnya. Teknologi Biofitoremediator Sementara itu, Prof. Lud Waluyo mengangkat isu pencemaran lingkungan akibat senyawa xenobiotik yang semakin meningkat. “Senyawa-senyawa ini tidak dikenali mikroba, sehingga bersifat resisten dan tidak terdegradasi,” jelasnya. Ia mencontohkan keberadaan logam berat, detergen, plastik, hingga polimer yang semakin mencemari alam. “Saat ini hujan di Kota Malang saja sudah mengandung mikroplastik hal ini dikarenakan zat zat tersebut yang mencemari lingkungan,” ungkapnya. Untuk menjawab persoalan tersebut, ia menawarkan teknologi bernama biofitoremediator. Penelitiannya sejak 1999 telah menghasilkan teknologi “simba” berbasis simbiosis mikroba serta produk mikroorganisme generasi baru. “Ketika pencemaran meningkat, teknologi harus berkembang. Itu sebabnya kami menghibritkan bakteri hidrotropik dengan tumbuhan air remediator,” tuturnya. Kurikulum Indonesia Satu Dalam orasi terakhir, Prof. Moh. Mahfud Effendi memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) yang menempatkan integrasi pengetahuan dan karakter sebagai fondasi utama. Ia mengajak agar pembelajaran lebih kontekstual dan menyatu dengan berbagai hal. “Bisa dibayangkan jika fisika dikaitkan dengan seni membatik atau biologi dengan kearifan pertanian lokal,” imbuhnya. Menurutnya, teknologi seperti AI dan big data merupakan hanya alat bantu manusia menuju jembatan pemerataan, namun tetap yang menentukan arah atau jalannya adalah manusia. “Teknologi hanyalah alat, arah tetap ditentukan manusianya,” tegasnya. Ia menyebutkan bahwa pengajar perlu memiliki keberanian dalam merancang kurikulum yang mumpuni, hingga KIS menjadi peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. “Kita memerlukan keberanian intelektual untuk merancang kurikulum yang mumpuni, yang memenuhi keberagaman, sekaligus menegaskan persatuan, yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, tengah derasnya arus teknologi. Inilah Kurikulum Indonesia Satu, Kurikulum yang memanusiakan manusia, menyatukan bangsa, dan menuntun Indonesia menuju emas,” tutupnya.
Diarak Moge, Prosesi Pengukuhan Guru Besar UMM Berubah Jadi Perayaan Akademik yang Meriah

pwmu.co – Suara deru mesin motor gede membelah udara pagi di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (22/11). Bukan untuk ajang otomotif, melainkan mengiringi perjalanan tiga guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menuju prosesi pengukuhan di Dome UMM. Iring-iringan klub motor yang membawa para profesor ini sontak mencuri perhatian, menghadirkan pemandangan tak biasa dalam tradisi akademik yang umumnya berlangsung formal dan tenang. Puluhan moge berbaris rapi, mengawal tiga tokoh akademik UMM yang resmi menyandang gelar tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi: Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM, Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs, M.Kes, dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Ketiganya datang dengan wajah sumringah, menyapa civitas akademika yang berjejer sepanjang jalan, menanti momen istimewa ini. Ketiga profesor baru tersebut membawa keahlian yang beragam. Prof Mahfud dikenal dengan kepakarannya dalam pengembangan kurikulum, Prof Lud Waluyo memiliki fokus pada mikrobiologi lingkungan, sementara Prof Atok mengokohkan UMM melalui keahliannya di bidang Pendidikan Bioetika. Meski berbeda disiplin ilmu, ketiganya memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang berkomitmen pada perkembangan akademik. Dengan bertambahnya tiga guru besar ini, jumlah profesor UMM kini melampaui 79 orang, sebuah capaian signifikan yang terus menanjak dari tahun ke tahun. Dalam suasana penuh kebanggaan, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar tidak sekadar menambah daftar prestasi kampus, tetapi juga menjadi sumber energi baru bagi kemajuan bangsa. “Sinergi lintas disiplin adalah kunci pengembangan peradaban,” ujarnya. Nazar menekankan bahwa penguatan sains, teknologi, sosial, hingga humaniora harus berlangsung seiring agar UMM dapat memberi manfaat lebih luas. Dia juga yakin peningkatan jumlah profesor akan menarik minat calon mahasiswa, membuka pintu kolaborasi dengan industri, dan mempercepat transformasi akademik kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa memperbaiki mutu proses dan dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya. Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, MAP, yang turut hadir, memberi apresiasi tinggi atas pencapaian kampus putih ini. “Banyak orang tua menilai bagus tidaknya kampus dari jumlah profesor dan reputasinya. Guru besar adalah indikator penting,” ujarnya. Lebih dari itu, Muhadjir menilai ketiga profesor baru UMM memiliki “benang merah” pada komitmen menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. Dia berharap UMM semakin tampil sebagai pelopor kampus hijau dan berperan dalam pembangunan yang tidak merusak lingkungan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., dalam sambutannya menyoroti peran strategis perguruan tinggi menuju Visi Indonesia 2045. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak bertumpu pada sumber daya alam semata, tetapi pada kualitas manusia. Dia juga menekankan pentingnya credential micro—model pembelajaran fleksibel lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun meningkatkan kompetensi, relevan dengan kebutuhan era digital dan masa depan Indonesia Emas. Di balik iring-iringan moge yang mencuri perhatian, pengukuhan tiga profesor ini menjadi simbol perjalanan panjang akademik yang disambut dengan kreativitas dan kehangatan khas UMM. Prosesi yang meriah ini bukan hanya perayaan pencapaian individu, tetapi juga momen yang menegaskan tekad UMM untuk terus melaju sebagai kampus unggul, adaptif, dan berpengaruh bagi masa depan Indonesia. (*)
Gaul, 3 Guru Besar Baru UMM Diarak Pakai Moge saat Pengukuhan

Malang, VIVA Jatim – Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge. 3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin. Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus.
Banjir Malang Raya Meningkat, Dosen Teknik Sipil UMM Sodorkan Solusi

MAKLUMAT – Hilangnya resapan air dan drainase yang tertutup pemukiman warga menyebabkan frekuensi banjir di Malang Raya meningkat. Persoalan ini menjadi sorotan Amalia Nur Adibah, dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan infrastruktur maupun fondasi bangunan. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, yang menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak fondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Banjir yang terjadi secara berulang-ulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terempas air, fondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Implementasi SDGs sebagai Solusi Bukan berarti rumah yang bediri di kawasan rawan banjir tidak ada solusi. Amalia menyarankan pemilik rumah meninggikan bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang planologi atau tata kota, pembangunan dan pembesaran saluran drainase sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan menyulitkan air masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” ia menjelaskan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mitigasi risiko sebelum memilih lokasi hunian. Menyediakan 30 persen lahan terbuka sebagai resapan air merupakan opsi resapan air, sekaligus keseimbangan alam di tengah pembangunan.
Banjir Meningkat di Malang Raya, Dosen Teknik Sipil UMM Jelaskan Risiko Kerusakan Bangunan

Malangpariwara.com – Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, S.T., M.PWK., memberikan pendapatnya atas kondisi tersebut. Ia menyebut kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Dari sisi teknik sipil, banjir berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Upaya Mengatasi Banjir Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” jelasnya. Lebih lanjut, Amalia menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota. Ia memberikan contoh seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. (Djoko W)
Ajak Usaha Rumahan Lebih Aman, Mahasiswa FH UMM Sosialisasikan SPP-IRT Kepada Pengolah Pangsit Abon di Pakisaji

JurnalPost.com – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui laboratorium Hukum mengadakan sosialisasi pengurusan sertifikat produksi pangan dan Industri Rumah Tangga Pangan (SPP-IRT) di wilayah Pakisaji, tepatnya pada Rumah Produksi pangsit kering abon Milik ibu Marsiti. Lima Mahasiswa yang melaksanakan sosialisasi yaitu Ahmad Nur Hafiz, Nurul Safira Hehanussa, Ken Mita Medisa, Mustika Khoiriyah, Mutiara Rengganis. Merupakan bagian dari terjun lapangan terkait materi pelatihan Kemahiran Hukum I yang diselenggarakan oleh Laboratorium FH UMM. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) memberikan edukasi kepada pelaku usaha mengenai manfaat, prosedur, serta kewajiban hukum terkait pengurusan SPP-IRT sebagai upaya perlindungan hukum bagi produsen maupun konsumen. SPP-IRT merupakan izin edar resmi yang menunjukkan bahwa produk pangan telah diproduksi sesuai standar keamanan dan layak dikonsumsi. Bagi usaha pangsit kering isi abon, memiliki SPP-IRT berarti produk lebih dipercaya konsumen, terlindungi dari potensi sanksi hukum, dan dapat dipasarkan lebih luas, termasuk ke minimarket, toko oleh-oleh, hingga marketplace yang mensyaratkan izin edar. Selain itu, SPP- IRT juga menjadi langkah awal untuk pengembangan usaha jika suatu saat pelaku usaha ingin naik kelas dan mengurus sertifikasi BPOM. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa FH UMM berharap pelaku usaha pangsit kering isi abon di Pakisaji semakin memahami pentingnya legalitas usaha, konsisten menjaga kualitas produksi, serta siap memperluas pemasaran produk dengan dukungan perizinan yang sah. PIRT bukan hanya kewajiban, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlangsungan dan perkembangan usaha pangan lokal. Selain memberikan pemahaman teoritis, mahasiswa melakukan pendampingan seperti pengecekan fasilitas produksi, kebersihan lingkungan, hingga memberikan contoh kelengkapan administrasi yang dibutuhkan dalam pengajuan SPP-IRT. Pendekatan ini diharapkan membuat pelaku usaha memahami proses serta mempraktikkan standar produksi pangan yang aman dan higienis secara berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga menjadi dorongan guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk pangan rumahan di wilayah Pakisaji.