Roky Leksana, Mahasiswa Vokasi UMM Raih Juara 3 di Kejurprov Wushu 2025

MALANG POST – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini datang dari Roky Leksana, mahasiswa Program Studi D4 Agribisnis Unggas yang sukses meraih juara 3 dalam ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Wushu Jawa Timur 2025 di Surabaya. Capaian yang diraih pada Oktober 2025 ini menambah deretan prestasi mahasiswa UMM di tingkat regional maupun nasional, sekaligus menunjukkan komitmen kampus dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa di berbagai bidang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, Roky tampil percaya diri. Ia menunjukkan teknik yang matang, ketahanan fisik kuat, serta fokus yang terjaga sepanjang pertandingan. Berkat kombinasi tersebut, Roky berhasil mengamankan posisi ketiga dan berhak atas medali perunggu. “Alhamdulillah, ini pengalaman yang sangat berharga. Saya akan terus berlatih dan memperbaiki diri agar bisa meraih prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang,” ujarnya penuh antusias. Adapun Kejurprov Wushu Jatim 2025 merupakan salah satu kompetisi bergengsi yang menjadi barometer kualitas atlet wushu di tingkat provinsi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M. Dalam sambutannya, Aries menegaskan pentingnya kejuaraan ini sebagai wadah pembinaan karakter, penguatan sportivitas, serta pencarian bibit atlet terbaik untuk masa depan wushu Jawa Timur. Ratusan atlet dari berbagai kabupaten dan kota turut ambil bagian, mempertandingkan dua nomor utama, yakni Taolu (seni jurus) dan Sanda (tarung bebas). Sementara itu UMM juga turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Roky. Pencapaian ini membuktikan mahasiswa D4 Agribisnis Unggas tidak hanya cakap dalam ranah akademik, tetapi juga mampu bersinar di bidang olahraga. Prestasi Roky diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri. Dengan raihan ini, Roky Leksana diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu atlet andalan Jawa Timur yang mampu melangkah hingga ke level nasional. Prestasi ini sekaligus mengukuhkan komitmen UMM dalam mencetak generasi unggul yang berprestasi di berbagai bidang. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pengukuhan Tiga Guru Besar UMM, Tawarkan Terobosan Pendidikan, Lingkungan, dan Kurikulum Masa Depan

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), kembali menambah daftar guru besar pada Sabtu (22/11/2025). Dalam acara pengukuhan yang berlangsung di Basement Dome UMM, kampus resmi memberikan gelar profesor kepada tiga dosen terbaiknya. Mereka adalah Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd (Pembelajaran Bioetika), Prof. Dr. Lud Waluyo, M.Kes (Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M (Pengembangan Kurikulum). Gagasan Guru Besar Pada pidato ilmiahnya, Prof. Atok Miftachul Hudha memaparkan model pembelajaran inovatif yang ia ciptakan, yaitu OIDDE. Menurutnya, model ini dirancang untuk membantu mencapai tujuan pendidikan nasional secara utuh. “Model pembelajaran OIDDE dirancang agar peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab,” jelasnya. Ia menekankan bahwa pembelajaran biologi saat ini masih menghadapi berbagai kendala. Layaknya seperti rendahnya literasi sains, miskonsepsi, hingga terbatasnya metode dan teknologi pengajaran. “Riset menunjukkan masih rendahnya literasi sains dan banyaknya miskonsepsi. OIDDE hadir untuk menjawab problematika pembelajaran biologi di abad global,” tambahnya. Prof. Atok berharap model OIDDE dapat menjadi solusi berkelanjutan yang tidak hanya menekankan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai etika dalam proses belajar. Sementara itu, Prof. Lud Waluyo mengangkat isu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh senyawa xenobiotik, bahan kimia yang sulit diurai oleh mikroorganisme. “Senyawa-senyawa ini tidak dikenali mikroba, sehingga bersifat resisten dan tidak terdegradasi,” jelasnya. Ia menyebut contoh bahan pencemar seperti logam berat, deterjen, plastik, hingga berbagai jenis polimer yang kini semakin merusak alam. Bahkan, ia menyoroti bahwa hujan di Kota Malang telah mengandung mikroplastik akibat pencemaran tersebut. Untuk mengatasi masalah itu, ia memperkenalkan teknologi biofitoremediator. Ia menjelaskan bahwa penelitiannya sejak 1999 telah melahirkan teknologi “simba” berbasis simbiosis mikroba dan turut menghasilkan generasi baru mikroorganisme yang lebih efektif. “Ketika pencemar meningkat, teknologi harus berkembang. Itu sebabnya kami menghibritkan bakteri hidrotropik dengan tumbuhan air remediator,” ujarnya. Kurikulum Baru Pada orasi terakhir, Prof. Moh. Mahfud Effendi menyampaikan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS), yaitu kurikulum yang menekankan integrasi antara pengetahuan dan pembentukan karakter. Ia mengajak agar pembelajaran dibuat lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari dan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan budaya maupun kearifan lokal. “Bisa dibayangkan jika fisika dikaitkan dengan seni membatik atau biologi dengan kearifan pertanian lokal,” katanya. Ia mengingatkan bahwa teknologi seperti AI dan big data hanyalah alat bantu, sementara penentuan arah perkembangan tetap berada di tangan manusia. “Teknologi hanyalah alat, arah tetap ditentukan manusianya,” tegasnya. Menurut Prof. Mahfud, para pendidik harus berani merancang kurikulum yang kuat, inklusif, dan mampu mempersatukan bangsa. Ia menegaskan bahwa KIS dapat menjadi peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. “Kita memerlukan keberanian intelektual untuk merancang kurikulum yang memenuhi keberagaman sekaligus menegaskan persatuan. Inilah Kurikulum Indonesia Satu, kurikulum yang memanusiakan manusia, menyatukan bangsa, dan menuntun Indonesia menuju emas,” tutupnya. (Djoko W)
FKIP UMM Kembali Menambah Guru Besar: Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah dan mengukuhkan guru besarnya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru (22/11/2025).Penelitian dan kepakaran bidang yang dimiliki juga menarik, ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Adapun ketiganya adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Pertama, ada Mahfud yang memberikan orasi ilmiah menarik. Ia menegaskan bahwa gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS menurutnya wajib memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan untuk melangkah ke arah global. Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban.“Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan bahwa KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Ia menekankan perlunya kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal serta realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, dalam orasinya, Lud menjelaskan persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Ia menegaskan bahwa pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau yang memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Lebih lanjut, ia mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid yang menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan, termasuk logam berat hingga 100 ppm. Ia menegaskan bahwa keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, dan tapioka menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis. Di sisi lain, Atok menilai bahwa pendidikan sains di Indonesia masih lemah karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Menurutnya, pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah. Ia menjelaskan bahwa lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya, dan kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, ia mengembangkan model pembelajaran Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour (ODDIE). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen, serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Limbah Cair hingga Kurikulum ‘Anti-Seragam’: 3 Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Masa Depan

Malang (beritajatim.com) – Tantangan masa depan tidak bisa lagi dijawab dengan cara lama. Mulai dari krisis limbah yang makin bandel, pendidikan yang terjebak keseragaman, hingga dilema etika dalam sains. Menjawab hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga Guru Besar baru dengan kepakaran yang relevan bagi tantangan zaman, pada Sabtu (22/11/2025). Ketiga pakar tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM. (Bidang Pengembangan Kurikulum), Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes. (Bidang Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Bidang Pendidikan Bioetika). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud menyoroti isu pendidikan nasional yang kerap terjebak pada jebakan seragam. Menurutnya, memaksakan standar yang sama bagi anak-anak Indonesia yang memiliki ribuan budaya berbeda adalah langkah mundur. Ia memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Konsep ini dirancang bukan untuk menyeragamkan, melainkan sebagai pemersatu yang tetap memberi panggung bagi identitas lokal. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Jika kita mengajar anak-anak dengan cara kemarin, kita sama saja merampas masa depan mereka,” tegas Mahfud. Bagi Gen Z yang peduli pada kesehatan mental dan self-development, gagasan Mahfud sangat relevan. Ia menekankan bahwa teknologi (termasuk AI) harus menjadi alat yang memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. KIS hadir agar siswa tidak belajar demi ujian semata, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya sendiri melalui pendekatan yang humanis dan inklusif. Di sisi lain, isu kerusakan lingkungan akibat limbah cair menjadi fokus Prof. Lud Waluyo. Pertumbuhan industri dan pola konsumsi modern melahirkan limbah dengan senyawa berbahaya (seperti xenobiotik) yang sulit diurai secara alami. Lud menegaskan, penggunaan bahan kimia untuk mengurai limbah justru berisiko menciptakan residu baru. Solusinya? Kembali ke alam dengan teknologi biofitoremediator. Berdasarkan riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025, Lud berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri tangguh yang mampu mematikan patogen dan mengurai deterjen. Bakteri-bakteri ini kemudian digabungkan dengan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Hydrilla untuk membersihkan polutan. “Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tanggung jawab moral kita untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” ujar Lud. Teknologi hibrid ini terbukti ampuh diterapkan pada limbah domestik, perhotelan, hingga industri tapioka, menjadikannya solusi green tech yang mendesak untuk diterapkan saat ini. Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menyoroti sisi gelap dari kemajuan bioteknologi yang pesat. Pendidikan sains di Indonesia dinilai masih lemah dalam literasi etis. Akibatnya, banyak eksperimen laboratorium dilakukan secara mekanis tanpa memikirkan dampak moral terhadap makhluk hidup. Atok menawarkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behavior). Model ini melatih mahasiswa dan ilmuwan muda untuk tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan. “Lemahnya literasi etis berpotensi melahirkan praktik berisiko yang mengabaikan keselamatan organisme. Ilmuwan masa depan harus mampu mengambil keputusan yang etis, bukan hanya benar secara teori,” ujarnya menutup. (dan/ian)
FKIP UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Ada yang Gagas Kurikulum Indonesia Satu

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah dan mengukuhkan guru besarnya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) bakal mengukuhkan tiga guru besar baru pada 22 November 2025. Bidang kajiannya pun beragam, mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Ketiganya adalah Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Mahfud dalam orasi ilmiahnya menegaskan bahwa gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS menurutnya wajib memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan untuk melangkah ke arah global. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Mahfud menambahkan bahwa KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata agar pembelajaran lebih bermakna. Ia menekankan pentingnya kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya. Menurutnya, kurikulum humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan merupakan syarat mutlak menuju generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Lud dalam orasi ilmiahnya menjelaskan persoalan limbah cair yang semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami membuat pendekatan kimia tidak lagi memadai. Menurutnya, solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak karena lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” terangnya. Lebih jauh, ia mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid yang menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, memperluas jangkauan remediasi, serta meningkatkan ketahanan mikroba terhadap toksikan, termasuk logam berat hingga 100 ppm. Ia menegaskan bahwa keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, dan tapioka menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ekologis. Di sisi lain, Atok menilai pendidikan sains di Indonesia masih lemah karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, tetapi harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah. Ia menjelaskan bahwa lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan tersebut, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model OIDDE mampu meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen, serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” pungkasnya. (Wildan/AS)
Mahasiswa Kelas Internasional Psikologi UMM Sabet Penghargaan di Taiwan

pwmu.co – Mahasiswa kelas internasional Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di level global. Tim yang tengah menjalani studi di Asia University, Taiwan, tersebut berhasil membawa pulang dua penghargaan sekaligus: outstanding performance dan juara favorit dalam ajang Mandarin Singing Competition yang digelar pada November 2025. Salah satu perwakilan tim, Khanum Mayyada Tetteng, menuturkan bahwa partisipasi mereka berawal dari keputusan spontan. “Kami mendaftar tanpa ekspektasi apa pun. Intinya ingin mencoba sesuatu yang baru, tampil percaya diri, dan menikmati prosesnya,” ungkapnya. Dalam kompetisi itu, Khanum bersama dua rekannya membawakan lagu Mandarin berjudul No Reason. Tantangan terbesar muncul pada bagian rap yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, terlebih mereka baru memulai pembelajaran Bahasa Mandarin ketika tiba di Asia University. Mereka sempat mengira lomba tersebut berskala internal. Namun, sesampainya di lokasi, mereka mendapati panggung megah di aula kampus dengan peserta dari berbagai negara seperti Italia, Vietnam, Filipina, India, Mongolia, Mesir, dan beberapa negara lainnya. Suasana kompetisi yang jauh lebih besar dari dugaan sempat membuat mereka gugup, namun tidak menghalangi semangat untuk tampil maksimal. Sorakan penonton—khususnya mahasiswa internasional—memecah ketegangan saat Khanum melantunkan bagian rap lagu tersebut. Dukungan itu mengantarkan tim UMM meraih dua penghargaan sekaligus dan menjadi pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti program internasional. Prestasi ini kian memperkaya perjalanan akademik mahasiswa Kelas Internasional Psikologi UMM yang kini menjalani skema double degree di Asia University. Program tersebut mewajibkan dua tahun studi di UMM dan dua tahun di Taiwan, sehingga mahasiswa memperoleh dua gelar: Sarjana Psikologi (S.Psi) dari UMM serta Bachelor of Science (BSc) dari Asia University. Kedua ijazah tersebut telah terverifikasi legalitasnya di Indonesia. Khanum menjelaskan bahwa pembelajaran di UMM memberikan landasan kuat melalui kurikulum praktikum bertingkat yang dimulai sejak semester awal. Pendekatan ini berbeda dengan Asia University yang menekankan penguatan teori. Menurutnya, paduan kedua sistem pendidikan ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja di masa depan. Selain Taiwan, Kelas Internasional Psikologi UMM juga membuka kesempatan transfer kredit selama satu semester ke Turki. Asia University sendiri memberikan banyak fasilitas untuk mahasiswa internasional, seperti program kunjungan budaya yang dibiayai pemerintah setempat serta kelas-kelas pengantar yang sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris. Khanum menambahkan bahwa kesiapan menghadapi lingkungan global tidak hanya datang dari kemampuan akademik, tetapi juga kemauan untuk beradaptasi. “Setiap kesempatan, baik dalam kegiatan kuliah maupun pengalaman budaya, sangat berharga untuk membentuk cara pandang dan pengembangan diri,” ujarnya. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam bidang teori dan praktik, tetapi juga mampu menunjukkan keberanian dan kreativitas di panggung internasional.(*)
Bawaslu–UMM Perluas Akses Data Akademik

KBRN, Malang: Bawaslu RI memperluas sinergi dengan dunia akademik melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kerja sama ini berfokus pada literasi pengawasan dan pemanfaatan data hasil pengawasan bagi kebutuhan sivitas akademika. Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu RI, Dr. Puadi, mengatakan kerja sama itu dirancang agar tidak berhenti pada satu kegiatan. “Kami memandang data hasil pengawasan harus tersampaikan ke dunia akademik, terutama mahasiswa,” ujarnya, Jumat (21/11/2025). Bawaslu memastikan akses data akan dibuka untuk penelitian mahasiswa, mulai skripsi, tesis, hingga disertasi. Akses teknis data nantinya dikelola oleh Pusat Data dan Informasi Bawaslu. “Secara teknis nanti diatur datin, apa yang bisa dilakukan untuk kebutuhan sivitas akademik UMM,” kata Puadi. Ia menegaskan Bawaslu sebagai lembaga publik memiliki kewajiban transparan dalam setiap tahapan pengawasan. Data pengawasan, laporan masyarakat, serta temuan lapangan disiapkan bukan sekadar arsip, tetapi sumber pengetahuan yang dapat digunakan publik.
Banjir di Kota Malang Dampak Alih Fungsi Lahan dan Saluran Drainase Tertutup

Malang, Tugumalang.id – Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menyebut banjir dengan intensitas tinggi yang kerap melanda Malang Raya dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di berbagai kawasan permukiman. Ia menjelaskan, frekuensi banjir di Malang Raya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami genangan dengan ketinggian mencapai perut orang dewasa. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat berkurangnya daya resap air serta banyaknya saluran drainase yang tertutup bangunan warga, sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Amalia menilai, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal dan langsung mengalir ke badan jalan. Situasi tersebut memicu genangan, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya. “Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya, Jumat (21/11/2025). Dari sisi teknik sipil, ia menuturkan banjir memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan bangunan. Lapisan aspal sering kali terkelupas usai terendam air, yang kemudian mempercepat munculnya jalan berlubang dan menurunkan kualitas permukaan jalan. Sementara itu, pada bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif berpotensi merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Jika banjir terjadi berulang, risiko kerusakan struktural semakin besar, terutama pada bangunan yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air tinggi. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berdiri di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain: Melakukan peninggian bangunan agar terhindar dari genangan. Menambah titik sumur resapan atau biopori di sekitar rumah. Memasang papan penahan air di pintu saat hujan deras untuk mencegah air masuk. Dari perspektif penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga menyulitkan air untuk masuk ke saluran. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” terangnya. Lebih lanjut, Amalia menekankan pentingnya perencanaan lokasi sebelum pembangunan rumah serta penerapan aturan tata kota secara konsisten. Salah satunya dengan menyediakan minimal 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar fungsi resapan tetap terjaga. Ia berharap pemerintah dapat lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran infrastruktur, sehingga upaya mitigasi banjir di Malang Raya bisa berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.
FKIP UMM Mengukuhkan Tiga Guru Besar Baru

radarmalang, MALANG KOTA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendi dikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru hari ini (22/11). Sosok yang menda pat gelar itu Prof Dr Moh. Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Ketiganya mempunyai penelitian dan kepakaran yang beragam. Ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Prof Mahfud menegaskan, gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan ke beragaman. Menurutnya, pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman. Padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi. ”Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesen jangan. Jika kita mengajar kan anak-anak seperti ke marin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud men jelaskan bahwa KIS mesti memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata. Sehingga pembelajaran lebih bermakna. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Prof Lud Waluyo menjelaskan, persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan pen duduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Dia menegaskan, pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan men desak. ”Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah ter baik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumus kan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan ke mampuan tinggi menurun kan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Di sisi lain, Prof Atok Mif tachul menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah. Penyebabnya, peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik labora torium yang dilakukan. Perkembangan biotekno logi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional. ” Model pembelajaran OIDDE (Orientation, Iden tify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour) menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains,” katanya. Karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil kepu tusan ilmiah yang bijak dan etis. (gp)
Banjir di Kota Malang Dampak Alih Fungsi Lahan dan Saluran Drainase Tertutup

Malang, Tugumalang.id – Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menyebut banjir dengan intensitas tinggi yang kerap melanda Malang Raya dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di berbagai kawasan permukiman. Ia menjelaskan, frekuensi banjir di Malang Raya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami genangan dengan ketinggian mencapai perut orang dewasa. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat berkurangnya daya resap air serta banyaknya saluran drainase yang tertutup bangunan warga, sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Amalia menilai, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal dan langsung mengalir ke badan jalan. Situasi tersebut memicu genangan, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya. “Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya, Jumat (21/11/2025). Dari sisi teknik sipil, ia menuturkan banjir memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan bangunan. Lapisan aspal sering kali terkelupas usai terendam air, yang kemudian mempercepat munculnya jalan berlubang dan menurunkan kualitas permukaan jalan. Sementara itu, pada bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif berpotensi merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Jika banjir terjadi berulang, risiko kerusakan struktural semakin besar, terutama pada bangunan yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air tinggi. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berdiri di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain: Melakukan peninggian bangunan agar terhindar dari genangan. Menambah titik sumur resapan atau biopori di sekitar rumah. Memasang papan penahan air di pintu saat hujan deras untuk mencegah air masuk. Dari perspektif penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga menyulitkan air untuk masuk ke saluran. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” terangnya. Lebih lanjut, Amalia menekankan pentingnya perencanaan lokasi sebelum pembangunan rumah serta penerapan aturan tata kota secara konsisten. Salah satunya dengan menyediakan minimal 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar fungsi resapan tetap terjaga. Ia berharap pemerintah dapat lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran infrastruktur, sehingga upaya mitigasi banjir di Malang Raya bisa berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.