Beri Edukasi Warga, Mahasiswa UMM Sulap Limbah Sereh Jadi Karbol

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dorong mahasiswanya untuk memberi manfaat ke masyarakat. Salah satunya tim mahasiswa UMM yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Mereka melakukan pemberdayaan masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pujon Hill, Pujon Kabupaten Malang. Tim ini mengajari masyarakat cara mengolah ekstrak sereh untuk dijadikan produk ekonomis yakni karbol sereh, Oktober-November ini. Ketua tim, Dara Ayu Suryani mengatakan mereka melibatkan warga Bendosari untuk diajari cara melakukan penyaringan dan penyulingan minyak atsiri. Selain itu juga menggelar pelatihan tentang pembuatan karbol sereh. Pelatihan tersebut dikemas sedemikian rupa lalu dipasarkan secara offline di toko-toko, pameran, pasar, maupun acara masyarakat setempat. Bahkan mereka juga mendorong agar bisa dipasarkan melalui media sosial maupun platform online. Dara menjelaskan, kegiatan itu meliputi sosialisasi, pemanenan sereh, pelatihan teknik penyulingan minyak atsiri. Dilanjut dengan pembuatan karbol berbahan dasar sereh, hingga proses pengemasan dan pemasaran sederhana. Program ini membuktikan bahwa tanaman sereh, terutama sereh tua yang sebelumnya tidak termanfaatkan, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. “Melalui kolaborasi antara mahasiswa, petani, dan masyarakat sekitar, kegiatan ini berjalan efektif serta mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam pengolahan hasil pertanian,” katanya. “Masyarakat menjadi lebih memahami manfaat tanaman sereh, cara ekstraksi minyak, serta potensi ekonomi dari produk turunan seperti karbol sereh,” tambahnya. Dengan demikian, program ini tidak hanya membantu pengurangan limbah sereh, tetapi juga memberikan nilai tambah dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dara tidak sendiri dalam menjalan program ini, ia ditemani oleh Amelia Syafarani, Amelia Syafarani, serta Dhara Atika Maharani. (Djoko W)
Mahasiswa Hukum UMM Sosialisasikan SPP IRT pada UMKM Bolang Bolen di Kota Malang

Malang, Arunala.com – Belum lama ini, mahasiswa program studi Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah (UMM) Malang edukasi pada pelaku industri pangan rumahan. Edukasi itu berupa sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) yang diberikan pada pelaku usaha “Bolang Bolen”, salah satu UMKM populer yang tengah berkembang pesat. Perwakilan mahasiswa Ilmu Hukum UMM dan juga koordinator kegiatan, Ararya Farrel Filbert Muhammad M, mengatakan, sosialisasi ini dalam rangka pendukung perkembangan industri pangan rumahan. “Sosialisasi ini tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman mengenai aspek legalitas, tapi juga membantu UMKM meningkatkan kredibilitas dan daya saing produknya di pasar,” Farrel. Ia menambahkan, selain sosialisasi mereka juga pendampingan pengurusan SPP-IRT kepada UMKM Bolang Bolen adalah contoh nyata sinergi positif antara akademisi dan pelaku usaha lokal. Dia menyebut, kegiatan sosialisasi yang berlangsung di tempat produksi Bolang Bolen ini mengusung tema “Pengurusan Sertifikasi Produk Industri Rumah Tangga”. Materi yang disampaikan difokuskan pada proses dan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari kelengkapan dokumen, pemenuhan standar keamanan pangan, hingga alur pengajuan ke instansi terkait. Farrel juga menyatakan, pendampingan hukum ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. “Kami berharap ilmu yang kami dapat di bangku kuliah, terutama terkait regulasi perizinan usaha dan keamanan pangan, dapat langsung diaplikasikan dan memberikan dampak positif bagi UMKM seperti Bolang Bolen,” ujarnya. Legalitas seperti SPP-IRT ini, tukasnya, bukan sekadar syarat, tapi investasi untuk perluasan pasar dan kepercayaan konsumen. Kegiatan yang kami lakukan ini bentuk dari komitmen dan peran aktif mahasiswa dalam menciptakan lingkungan bisnis yang lebih terstandar dan terlindungi secara hukum,” imbuhnya. Penjelasan Farrel, dalam proses sosialisasi, mahasiswa UMM mendapatkan sambutan yang hangat dan penuh antusias dari Ibu Hardini
2 Halte Transjatim Terdekat dengan UMM, Khusus Mahasiswa Dapat Potongan Harga

AboutMalang.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini punya pilihan mobilitas yang lebih gampang. Setelah jaringan Transjatim hadir di Malang Raya, akses ke kampus dan kawasan sekitar jadi jauh lebih ringkas tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi. Pola layanannya memang dirancang menyentuh area pendidikan. Titik-titik halte ditempatkan di koridor yang dekat sekolah dan kampus, sehingga mahasiswa cukup berjalan kaki dari gerbang untuk menuju shelter terdekat. Pengelola menurunkan 15 armada untuk menjaga ketepatan headway: tujuh bus dari arah Kota Malang, tujuh dari arah Batu, dan satu unit cadangan. Dengan komposisi ini, arus pergi–pulang kuliah pada jam sibuk lebih tertata dan pastinya akan lebih hemat. Soal tarif juga ramah kantong. Pelajar/mahasiswa/santri cukup membayar Rp2.500 per perjalanan, sedangkan penumpang umum Rp5.000 sekali naik. Di koridor sekitar UMM, ada dua titik yang paling praktis dijangkau pejalan kaki yaitu Halte Rambu Raya Tlogomas 1 (paling dekat ke akses utama UMM). Kemudian ada juga Halte Terminal Landungsari, lokasinya memang sedikit lebih jauh dari gerbang utama UMM tetapi tetap strategis untuk koneksi antar-koridor. Dengan dua pilihan ini, mahasiswa bisa memilih titik naik–turun sesuai posisi kos, fakultas, atau tujuan akhir. Kombinasi jalan kaki singkat + tarif pelajar bikin perjalanan harian makin efisien. Sebelum menggunakan layanan, penumpang diminta melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi resmi Transjatim agar proses naik bus lebih cepat dan tertib.
Bawaslu Buka Lebar Data Pengawasan Pemilu Untuk Diteliti Mahasiswa dan Dosen

TIMES MALANG, MALANG – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) membuka seluruh data pengawasan pemilu yang telah dilakukan, untuk diteliti oleh para mahasiswa dan dosen. Hal itu diungkapkan saat gelaran Literasi Data Pengawasan Pemilu yang digelar Bawaslu RI di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bawaslu RI dan UMM untuk memperkuat kolaborasi dalam diseminasi data dan penguatan literasi kepemiluan di lingkungan akademik. Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu RI, Dr. Puadi, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi menjadi langkah penting untuk memastikan data hasil pengawasan pemilu dapat dimanfaatkan secara luas, tidak hanya oleh publik tetapi juga dunia pendidikan. “Kami memandang bahwa informasi-informasi berkaitan tentang data hasil-hasil pengawasan di Bawaslu ini harus tersampaikan kepada dunia akademik, terutama para mahasiswa,” ujarnya. Menurut Puadi, kerja sama ini dirancang agar tidak berhenti pada satu agenda, melainkan berlanjut secara berkelanjutan. Bawaslu membuka akses data pengawasan untuk kebutuhan riset, tugas akhir, maupun kajian akademik lain melalui mekanisme yang akan diatur lebih teknis oleh Pusat Data dan Informasi (Datin). “Bawaslu sebagai lembaga publik harus transparan. Data hasil pengawasan tidak sekadar disimpan, tetapi harus menjadi sumber pengetahuan yang mencerdaskan masyarakat,” tambahnya. Dia berharap, dengan menganalisa data-data yang ada di Bawaslu, mahasiswa dapat lebih memahami dinamika pengawasan pemilu dan kontribusinya dalam menjaga integritas demokrasi. Dalam forum ini, Puadi menekankan bahwa data pengawasan yang dikumpulkan Bawaslu mencakup seluruh tahapan kepemiluan, termasuk temuan, laporan masyarakat, hingga penyelesaian sengketa. Data tersebut dapat dimanfaatkan sivitas akademika untuk mengembangkan penelitian, analisis kebijakan, serta inovasi pemilu ke depan. Dia juga menjelaskan bahwa program literasi data telah dilakukan di berbagai kampus. “Proses ini sudah ada di 10 titik, dari UNJ, UI, UGM, hingga kampus lainnya. Setelah Malang, kami akan ke Surabaya, Udayana, dan Andalas,” katanya. Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan bedah buku karya Puadi yang berjudul “Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan”. Buku ini mengungkap bagaimana Bawaslu bekerja di tengah tarik-menarik kepentingan antaraktor politik. “Bawaslu berada di persimpangan itu, menjadi wasit, pengawas, dan mediator, ” jelasnya. Menurutnya, pengawasan pemilu bukan hanya soal menemukan pelanggaran dan menyelesaikan sengketa, tetapi juga memastikan kompetisi politik berlangsung adil dan berintegritas. Dia mencontohkan dinamika pengawasan data pemilih, yang sering terbentur akses data dari KPU dan pemerintah. Dalam penindakan politik uang, Bawaslu menghadapi keterbatasan alat bukti serta minimnya dukungan penegak hukum. Sementara dalam pengawasan netralitas ASN, resistensi birokrasi menjadi tantangan tersendiri. “Kerja pengawasan adalah kerja di tengah interaksi kepentingan, bukan sekadar penerapan pasal-pasal hukum,” tegasnya. (*)
Sosialisasi SPP-IRT oleh Mahasiswa UMM Mendorong UMKM Kripik Talas Bu Sri Lebih Berdaya Saing

Suara Time, Malang – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku UMKM pada 06 November 2025. Kegiatan ini menyasar usaha Kripik Talas Bu Sri yang berlokasi di Jl. Sidomakmur No.76, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sosialisasi dilakukan karena produk tersebut belum terdaftar dalam SPP-IRT meskipun telah diproduksi dan dipasarkan secara rutin. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan kesadaran pelaku UMKM mengenai pentingnya legalitas pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa dalam mendukung penguatan UMKM lokal. Dalam sosialisasi ini, pemilik usaha, Bu Sri, menyampaikan bahwa produk kripik talas buatannya memiliki komposisi sederhana, yakni talas, garam, bawang putih, dan penyedap rasa. Produk ini diproduksi secara rumahan dan telah memiliki pelanggan tetap di sekitar wilayah Sengkaling. Namun, minimnya pengetahuan mengenai perizinan membuat usaha tersebut belum memiliki SPP-IRT. Melalui diskusi yang berlangsung aktif, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai manfaat sertifikasi pangan bagi pelaku usaha. Pemilik usaha pun menyambut baik pendampingan yang diberikan mahasiswa. Para mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain M. Izzu’ Wildan Firdaus, Aditya Pratama, Rama Dwi Pangestu, Gusti Ardian Rivandi Prananda, dan Alvito Yogha Pamungkas. Mereka memaparkan materi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh pelaku usaha. Mahasiswa menjelaskan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari persyaratan administrasi hingga proses verifikasi oleh dinas terkait. Selain itu, mereka memberikan contoh label pangan yang sesuai ketentuan. Pendekatan edukatif ini dilakukan agar pelaku usaha benar-benar memahami pentingnya perizinan produk. SPP-IRT adalah sertifikat resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku usaha pangan skala kecil atau rumahan sebagai bukti bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keamanan pangan. Sertifikat ini memastikan bahwa proses produksi, peralatan, serta bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Melalui SPP-IRT, produk memiliki legalitas yang memungkinkan perluasan pemasaran ke toko, pusat oleh-oleh, maupun platform daring. Tanpa sertifikat ini, pelaku usaha sering terkendala dalam kerja sama dengan pihak lain karena tidak memiliki bukti keamanan produk. Oleh sebab itu, SPP-IRT menjadi elemen penting dalam keberlanjutan usaha pangan rumahan. Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa juga menekankan bahwa SPP-IRT memberikan perlindungan hukum bagi pelaku usaha. Sertifikasi ini melindungi usaha dari potensi sanksi ketika terjadi pemeriksaan dari instansi terkait. Mahasiswa turut memberikan pendampingan dalam pengisian formulir dan pengumpulan dokumen persyaratan. Mereka juga membantu pemilik usaha memahami cara menjaga higienitas ruang produksi. Pendampingan semacam ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa UMM berharap Kripik Talas Bu Sri dapat segera mengajukan permohonan SPP-IRT agar usahanya semakin berkembang. Legalitas produk akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Bu Sri menyatakan komitmennya untuk melengkapi seluruh persyaratan yang telah dijelaskan. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi positif antara mahasiswa dan UMKM. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, usaha rumahan seperti kripik talas dapat lebih siap bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM: Menyatukan Kurikulum, Menyembuhkan Lingkungan, Menguatkan Etika Sains

FKIP UMM menegaskan perannya sebagai pusat inovasi pendidikan dengan mengukuhkan tiga guru besar baru yang menawarkan gagasan besar—dari kurikulum pemersatu, teknologi mikrobiologi ramah lingkungan, hingga model pendidikan sains beretika. Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian akademik penting. Pada 22 November 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) akan mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiganya membawa kepakaran yang beragam: pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga ilmu pendidikan bioetika. Mereka adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM.; Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes.; dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Kurikulum Indonesia Satu: Pemersatu tanpa Menghilangkan Keberagaman Mahfud Effendi akan menyampaikan gagasan, bahwa Kurikulum Indonesia Satu (KIS) harus menjadi pemersatu bangsa tanpa menyingkirkan keragaman budaya. Selama ini, pendidikan nasional, menurutnya, terlalu sering terjebak pada pola penyeragaman, padahal Indonesia berdiri di atas ribuan identitas budaya. Karena itu, Mahfud menempatkan KIS sebagai kurikulum yang memberi ruang luas bagi kearifan lokal, menjadikannya akar pembelajaran sekaligus dasar bagi peserta didik memasuki dunia global. Ia menilai, kurikulum yang baik bukan sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menuntun arah peradaban menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (20/11/25). Mahfud menambahkan bahwa KIS harus integratif, menghubungkan pengetahuan dengan nilai, budaya, dan realitas sosial, agar pembelajaran lebih bermakna. Kurikulum yang humanis, inklusif, dan berbasis teknologi berkeadilan, menurutnya, menjadi prasyarat lahirnya generasi Indonesia Emas 2045. Teknologi Hijau Mikrobiologi: Jawaban atas Krisis Limbah Modern Lud Waluyo akan mengupas persoalan limbah cair yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Kehadiran senyawa rekalsitran dan xenobiotik yang sulit terurai membuat pendekatan kimia tak lagi memadai. Ia menegaskan bahwa solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Lud mengulas riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025. Ia berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik toleran deterjen dan LAS serta efektif membasmi patogen. Riset itu kemudian dirumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil yang mampu menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen. Baca Juga: Kaji Ulang UUD 1945 Menggema dari Forum Rektor Muhammadiyah di Malang “Solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri,” katanya, menegaskan temuan kuncinya. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, sistem hibrid yang mengombinasikan bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Teknologi ini terbukti mempercepat penurunan polutan, memperluas jangkauan remediasi, dan memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan hingga 100 ppm. Inovasi tersebut telah diterapkan pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, hingga tapioka, sekaligus menjadi bukti bahwa bioremediasi merupakan bentuk nyata tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ekologis. Bioetika: Pilar Moral yang Hilang dalam Pendidikan Sains Di sisi lain, Atok akan menyoroti lemahnya pendidikan sains karena peserta didik tidak dibiasakan mempertimbangkan dimensi moral dalam eksperimen laboratorium. Perkembangan bioteknologi yang sangat cepat memunculkan dilema etis baru yang sering tak terwadahi dalam kurikulum konvensional. Akibatnya, keputusan ilmiah menjadi rentan dilihat hanya dari sisi teknis, bukan etis. Menurut Atok, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa menjalankan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berisiko menimbulkan praktik yang tidak aman dan mengabaikan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab masalah itu, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Penelitiannya menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral dalam menghadapi dilema eksperimen, dan memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” ujanya. (*)
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Sosialisasi Terkait SPP-IRT kepada UMKM Tahun 2025

Malang|| RADAR JATIM.CO ~ Senin, 10 November 2025 di rumah produksi Krupuk Puli Tjap Jempoel milik Bapak Fery di kota batu mahasiswi dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang terdiri dari Dita Farah Hamidah, Dewi Arumi Janah, Emelia Agustina, Sandya Cahya Abadi, dan Lusi Puji Astuti di bawah dampingan Instruktur Labroatorium Hukum yaitu Cindy Monique S.H.,M.H melakukan sosialisasi tentang SPP-IRT kepada bapak Fery selaku pelaku usaha yang memproduksi Krupuk Puli Tjap Jempoel di Kota Batu, tidak hanya di pasarkan di Kota Batu saja produk Bapak Fery juga di pasarkan di luar Kota Batu, khususnya wilayah Malang Raya. Mendengar perjalanan beliau memulai usaha nya ini kami sangat kagum melihat kegigihan beliau membuat inovasi agar Krupuk Puli nya mempunyai ciri khas sendiri dan beda dengan yang lain, Bapak Fery sudah menekuni usaha ini selama kurang lebih hampir 20 Tahun, hal itu tentu waktu yang tidak singkat untuk mempertahankan produk yang beliau punya. Maka dari itu selain produk nya yang berpotensi lebih besar lagi untuk mendapatkan jaringan pemasaran, semakin meningkatnya kepercayaan konsumen, dan juga meningkatkan daya saing . Dalam sosialisasi kepada beliau kami menjelaskan SPP-IRT ialah Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga Bukti penyampaian komitmen pelaku usaha yang menjamin keamanan, mutu, gizi, dan label pangan olahan yang diproduksi untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran yang tersebar di wilayah Indonesia, selain hal itu pada kesempatan ini kami juga memberi tau cara mendaftar SPP-IRT dan menggunakan Web OSS ORBA via online lalu kami juga mensosialisasikan tentang dokumen-dokumen apa saja yang harus di siapkan untuk keperluan pendaftaran. Selain sosialisasi kami dan Bapak Fery juga sharing perihal kebijakan – kebijakan pemerintah dari kacamata pelaku usaha atau UMKM setempat , tidak banyak kami juga menanyakan respon para UMKM terkait kebijakan- kebijakan pemerintah yang semakin hari semakin banyak. Terkadang tujuan pemerintah itu baik tetapi menurut para pelaku usaha di lapangan justru dengan banyaknya kebijakan yang semakin hari semakin banyak itu membuat tumpang tindih antara kebijakan satu dengan kebijakan lainnya, akan tetapi setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pasti tujuannya baik hanya saja kami para masyarakat terutama pelaku usaha yang terdampak langsung dengan kebijakan tersebut berhak mengkritisi jika ada kebijakan yang dirasa tidak terlalu menguntungkan.
2 Halte Transjatim Terdekat dengan UMM, Khusus Mahasiswa Dapat Potongan Harga

AboutMalang.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini punya pilihan mobilitas yang lebih gampang. Setelah jaringan Transjatim hadir di Malang Raya, akses ke kampus dan kawasan sekitar jadi jauh lebih ringkas tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi. Pola layanannya memang dirancang menyentuh area pendidikan. Titik-titik halte ditempatkan di koridor yang dekat sekolah dan kampus, sehingga mahasiswa cukup berjalan kaki dari gerbang untuk menuju shelter terdekat. Pengelola menurunkan 15 armada untuk menjaga ketepatan headway: tujuh bus dari arah Kota Malang, tujuh dari arah Batu, dan satu unit cadangan. Dengan komposisi ini, arus pergi–pulang kuliah pada jam sibuk lebih tertata dan pastinya akan lebih hemat. Soal tarif juga ramah kantong. Pelajar/mahasiswa/santri cukup membayar Rp2.500 per perjalanan, sedangkan penumpang umum Rp5.000 sekali naik. Di koridor sekitar UMM, ada dua titik yang paling praktis dijangkau pejalan kaki yaitu Halte Rambu Raya Tlogomas 1 (paling dekat ke akses utama UMM). Kemudian ada juga Halte Terminal Landungsari, lokasinya memang sedikit lebih jauh dari gerbang utama UMM tetapi tetap strategis untuk koneksi antar-koridor. Dengan dua pilihan ini, mahasiswa bisa memilih titik naik–turun sesuai posisi kos, fakultas, atau tujuan akhir. Kombinasi jalan kaki singkat + tarif pelajar bikin perjalanan harian makin efisien. Sebelum menggunakan layanan, penumpang diminta melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi resmi Transjatim agar proses naik bus lebih cepat dan tertib.
Limbah Cair hingga Kurikulum ‘Anti-Seragam’: 3 Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Masa Depan

Malang (beritajatim.com) – Tantangan masa depan tidak bisa lagi dijawab dengan cara lama. Mulai dari krisis limbah yang makin bandel, pendidikan yang terjebak keseragaman, hingga dilema etika dalam sains. Menjawab hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga Guru Besar baru dengan kepakaran yang relevan bagi tantangan zaman, pada Sabtu (22/11/2025). Ketiga pakar tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM. (Bidang Pengembangan Kurikulum), Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes. (Bidang Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Bidang Pendidikan Bioetika). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud menyoroti isu pendidikan nasional yang kerap terjebak pada jebakan seragam. Menurutnya, memaksakan standar yang sama bagi anak-anak Indonesia yang memiliki ribuan budaya berbeda adalah langkah mundur. Ia memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Konsep ini dirancang bukan untuk menyeragamkan, melainkan sebagai pemersatu yang tetap memberi panggung bagi identitas lokal. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Jika kita mengajar anak-anak dengan cara kemarin, kita sama saja merampas masa depan mereka,” tegas Mahfud. Bagi Gen Z yang peduli pada kesehatan mental dan self-development, gagasan Mahfud sangat relevan. Ia menekankan bahwa teknologi (termasuk AI) harus menjadi alat yang memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. KIS hadir agar siswa tidak belajar demi ujian semata, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya sendiri melalui pendekatan yang humanis dan inklusif. Di sisi lain, isu kerusakan lingkungan akibat limbah cair menjadi fokus Prof. Lud Waluyo. Pertumbuhan industri dan pola konsumsi modern melahirkan limbah dengan senyawa berbahaya (seperti xenobiotik) yang sulit diurai secara alami. Lud menegaskan, penggunaan bahan kimia untuk mengurai limbah justru berisiko menciptakan residu baru. Solusinya? Kembali ke alam dengan teknologi biofitoremediator. Berdasarkan riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025, Lud berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri tangguh yang mampu mematikan patogen dan mengurai deterjen. Bakteri-bakteri ini kemudian digabungkan dengan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Hydrilla untuk membersihkan polutan. “Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tanggung jawab moral kita untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” ujar Lud. Teknologi hibrid ini terbukti ampuh diterapkan pada limbah domestik, perhotelan, hingga industri tapioka, menjadikannya solusi green tech yang mendesak untuk diterapkan saat ini. Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menyoroti sisi gelap dari kemajuan bioteknologi yang pesat. Pendidikan sains di Indonesia dinilai masih lemah dalam literasi etis. Akibatnya, banyak eksperimen laboratorium dilakukan secara mekanis tanpa memikirkan dampak moral terhadap makhluk hidup. Atok menawarkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behavior). Model ini melatih mahasiswa dan ilmuwan muda untuk tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan. “Lemahnya literasi etis berpotensi melahirkan praktik berisiko yang mengabaikan keselamatan organisme. Ilmuwan masa depan harus mampu mengambil keputusan yang etis, bukan hanya benar secara teori,” ujarnya menutup. (dan/ian)
Mahasiswa Hukum UMM Gelar Sosialisasi SPP-IRT untuk Pelaku Usaha Rumahan di Merjosari

detikzone.id – Malang, 20 November — Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Suci Rohmatun Zunairoh, Intan Dwi Saputri, dan Fidelia Meishira, mengadakan kegiatan sosialisasi terkait Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) bagi pelaku usaha pangan rumahan. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Laboratorium Hukum UMM dan berlangsung di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Para pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan produsen olahan makanan seperti keripik usus, kerupuk seblak, dan basreng kering—usaha yang telah mereka jalankan selama kurang lebih tiga tahun namun belum memiliki SPP-IRT. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa UMM untuk memberikan pemahaman mendalam terkait prosedur hukum, regulasi, serta pentingnya legalitas usaha demi menjamin keamanan pangan bagi konsumen. Selain penyuluhan hukum, kegiatan ini juga diisi dengan pendampingan teknis pendaftaran SPP-IRT. Mahasiswa membantu para pelaku usaha memahami jenis produk yang bisa dan tidak bisa didaftarkan, alur administratif, pengisian OSS-RBA, persyaratan dokumen, hingga tata cara pengajuan sertifikat sesuai regulasi Dinas Kesehatan. Melalui pendampingan langsung, pelaku usaha dapat mempraktikkan tahapan pendaftaran SPP-IRT sambil mendapatkan penjelasan detail dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM. Kegiatan berlangsung interaktif; para pelaku usaha aktif berdiskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi kendala dalam proses legalisasi usaha. Ketiga mahasiswa pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa program ini diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. “Kami ingin membantu pelaku usaha kecil memahami bahwa aspek hukum bukanlah penghalang, tetapi jaminan agar produk mereka lebih dipercaya dan berpeluang menembus pasar lebih luas,” ujar salah satu mahasiswa. Dengan terlaksananya sosialisasi dan pendampingan ini, ketiga mahasiswa Fakultas Hukum UMM berharap dapat menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan pelaku usaha mikro, sekaligus turut mendukung peningkatan kualitas produk lokal yang aman, halal, dan berdaya saing tinggi.