Viral Gus Cium Anak, Dosen Psikologi UMM Tekankan Bahaya Trauma

pwmu.co –Jagat media sosial kembali diramaikan sebuah video yang memperlihatkan seorang gus mencium anak kecil di atas panggung sebuah acara publik. Aksi itu menuai kritik karena dinilai tidak etis dan dianggap berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, terutama dalam konteks perlindungan anak. Respons warganet menunjukkan makin tingginya kesadaran masyarakat tentang batasan tubuh dan keselamatan anak di ruang publik. Merespons fenomena ini, Dr. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menegaskan pentingnya peran orang tua dan lingkungan dalam memberikan edukasi sejak dini mengenai batasan sentuhan. “Langkah awal adalah mengenalkan good touch dan bad touch, serta bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Sebutkan nama tubuh dengan benar,” jelasnya. Wakil Dekan Fakultas Psikologi UMM itu juga mengingatkan agar orang tua tidak menggunakan analogi atau istilah kiasan. Anak usia dini belum mampu memahami perumpamaan, sehingga informasi harus disampaikan secara langsung dan konkret. Area tubuh yang tertutup, terutama alat vital, perlu dikenalkan sebagai bagian yang tidak boleh disentuh siapapun selain orang tua dalam konteks perawatan. Zainul menyebut, edukasi ini bisa mulai dilakukan sejak anak mampu berkomunikasi interaktif, sekitar usia 3–4 tahun. Caranya pun harus sesuai dunia anak: disampaikan ketika mandi, berganti baju, atau sambil bermain, bukan dengan gaya mengajar orang dewasa. Ia juga menyoroti dampak jangka panjang dari perlakuan tidak etis terhadap anak. Trauma dapat terbawa hingga dewasa, dan di era digital, risikonya semakin besar. “Sekarang apa-apa direkam, lalu tersebar. Ketika besar, anak bisa menemukan kembali video itu dan muncul traumanya,” tegasnya. Karena itu, ia meminta orang tua dan pendidik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar anak—termasuk terhadap orang-orang yang dikenal dekat. “Jangan mudah percaya. Zaman sekarang memang harus lebih hati-hati,” pesannya. Menurutnya, anak biasanya waspada terhadap orang asing, tetapi lebih rentan terhadap orang yang mereka kenal karena interaksi terbangun secara natural. Selain pengawasan tatap muka, Zainul mengingatkan bahaya paparan digital. Orang tua perlu membatasi penggunaan gawai pada anak karena mereka mudah meniru konten yang dilihat. “Tidak semua konten di medsos itu baik. Ada yang buruk, dan anak itu sifatnya meniru,” tutupnya. (*)
Dukung UMKM Naik Kelas, Mahasiswa FH UMM Dorong Legalitas Produk Keripik Singkong Lewat Sosialisasi SPPIRT

Kota Batu || RADAR JATIM.CO — Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi hukum bagi pelaku UMKM melalui kegiatan Sosialisasi PLKH. Program ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan memecahkan persoalan hukum nyata di masyarakat. Kegiatan sosialisasi dilakukan oleh kelompok 2 PLKH di bawah pendampingan instruktur Laboratorium Hukum FH UMM, Aprilia Bhirini Slamet, S.H., M.H. Tim ini beranggotakan dua mahasiswa, yaitu Dimas Ragil Wicaksana dan Mohamad Arsy Nurrokhman. Sosialisasi dilaksanakan di lokasi usaha keripik singkong milik Ibu Ana, warga Kecamatan Batu, Kota Batu. Para mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pentingnya legalitas produk sebagai langkah strategis agar UMKM dapat naik kelas dan memperluas pasar. Baca Juga : HMM UMG Gelar Fair 2023, Dihibur dengan Penyanyi Dangdut Top Jatim Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendorong pelaku usaha untuk segera mengurus Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPPIRT). Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk pangan memenuhi standar keamanan dan mutu sesuai ketentuan pemerintah. SPPIRT sendiri merupakan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan IRTP yang menjamin keamanan, mutu, gizi, serta kelayakan label produk. Legalitas ini menjadi syarat penting untuk pemasaran produk secara lebih luas di Indonesia. Baca Juga : Menggapai Impian sebagai Guru Ahli IT: Profil Abdul Haris, Mahasiswa STKIP Al Hikmah Melalui pendekatan langsung ke lokasi produksi, mahasiswa menjelaskan fungsi SPPIRT sebagai jaminan bahwa produk pangan telah mengikuti standar keamanan. Sertifikat ini juga menjadi kunci untuk masuk ke jaringan pemasaran modern seperti supermarket. Dalam sesi pendampingan, mahasiswa turut memaparkan prosedur pengajuan SPPIRT. Mulai dari persyaratan administrasi, pelatihan keamanan pangan, hingga tahapan pemeriksaan sarana produksi yang harus dipenuhi pelaku usaha sebelum sertifikat diterbitkan. Ibu Ana mengaku sangat terbantu dengan sosialisasi ini. Ia menyatakan baru memahami manfaat besar SPPIRT setelah dijelaskan oleh mahasiswa UMM. Pengetahuan tersebut membuatnya berminat untuk segera mendaftarkan usahanya. Baca Juga : Perjalanan Inspiratif Uria Van Den Berg: Mengejar Impian di Tanah Jerman Pelaku usaha juga menyadari bahwa SPPIRT dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Legalitas yang jelas memberi nilai tambah pada produk, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas dan profesional. Melalui kegiatan PLKH ini, mahasiswa FH UMM berharap semakin banyak UMKM yang memahami pentingnya legalitas dan keamanan pangan. Pendampingan langsung diharapkan mampu mendorong pelaku usaha agar siap bersaing di pasar yang lebih besar dengan produk terstandarisasi. (Red)
UMM Raih CRM Award Berkat Pengabdian hingga Akar Rumput

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang lekat dengan kerja-kerja kemasyarakatan. Terbaru, Kampus Putih meraih CRM Award dari Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 16 November lalu. Penghargaan ini menjadi legacy atas konsistensi UMM dalam mendampingi cabang, ranting, hingga masjid Muhammadiyah di berbagai daerah. Selama ini, UMM cukup aktif menjalin kerja sama dengan jaringan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Tidak hanya di Malang, dukungan kampus juga menjangkau berbagai kota di dalam maupun luar Jawa. Bentuk pendampingannya pun beragam, mulai dari kegiatan pengabdian masyarakat, pengajian, hingga program pengembangan sosial dan pemberdayaan warga. “UMM adalah amal usaha Muhammadiyah. Tidak heran jika kami terus mendorong cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah untuk berkembang, baik secara keagamaan, sosial, maupun pengabdian,” ujar Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi pelecut untuk memperluas manfaat kampus bagi masyarakat. Kontribusi dan Dedikasi Kampus Putih Kontribusi UMM terlihat dari peran aktif para dosen dan sivitas akademika yang tersebar di berbagai cabang dan ranting. Mereka hadir sebagai penggerak kegiatan, narasumber dalam acara keagamaan, hingga menjadi imam dan khotib di sejumlah masjid Muhammadiyah. Selain itu, berbagai program kolaboratif seperti bazar, festival, kegiatan zakat, infak, dan kurban juga rutin digelar untuk memperkuat basis komunitas Muhammadiyah. Baca Juga Pro-Kontra Etanol sebagai Bahan Bakar Alternatif, Dosen UMM Beri Penjelasan Ilmiah Di sisi lain, LPCR PP Muhammadiyah yang memberikan penghargaan tersebut memang memiliki mandat untuk menghidupkan kembali cabang dan ranting yang pasif. Begitu juga dengan pendataan, serta mapping berbagai tantangan organisasi di tingkat akar rumput. Upaya pembinaan masjid juga menjadi bagian penting dari kerja lembaga tersebut. Dengan raihan CRM Award ini, UMM kian menegaskan posisinya sebagai kampus yang tidak hanya menonjol dalam pendidikan, tetapi juga kuat dalam kontribusi sosial. Penghargaan ini sekaligus menjadi penanda bahwa pengabdian Kampus Putih telah memberi dampak bagi jaringan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
UMM Raih CRM Award Berkat Penguatan Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah

MONITOR, Jakarta – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah di tingkat cabang, ranting, hingga masjid. Atas kontribusi tersebut, UMM meraih CRM Award dari Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 16 November 2025. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas peran aktif Kampus Putih dalam berbagai kegiatan kolaboratif. Selama ini, UMM rutin menjalin kerja sama dengan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah untuk menyelenggarakan program pengabdian, pengajian, serta pemberdayaan masyarakat. Jangkauan kerja sama tersebut mencakup wilayah Malang dan berbagai daerah lain, baik di dalam maupun luar Jawa. Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyatakan bahwa UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk terus mendukung perkembangan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. “Kami terus berupaya mendorong agar cabang, ranting, dan masjid dapat berkembang, tidak hanya dalam aspek keagamaan tetapi juga sosial dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/11/2025). Ia menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi penyemangat baru bagi UMM untuk terus menebar manfaat. Menurutnya, banyak dosen dan sivitas akademika yang selama ini aktif menjadi penggerak di berbagai cabang dan ranting. Mereka kerap diundang menjadi narasumber dalam kegiatan kajian, bertugas sebagai imam atau khatib di masjid Muhammadiyah, hingga terlibat dalam program-program sosial. Beragam kegiatan seperti bazar, festival, serta penyaluran zakat, infak, dan kurban juga terus diupayakan melalui kolaborasi tersebut. Sementara itu, LPCR PP Muhammadiyah terus berkomitmen memberdayakan struktur organisasi di tingkat akar rumput. Upaya ini mencakup pengaktifan kembali kepengurusan yang tidak berjalan, pendataan cabang dan ranting, pemetaan kondisi serta permasalahan, peningkatan kapasitas organisasi, hingga pembinaan masjid.
Dorong Legalitas UMKM, Mahasiswa FH UMM Gelar Sosialisasi SPP-IRT di Karangploso

Malang || RADAR JATIM.CO – Lima mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan sosialisasi mengenai Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku usaha pangan rumahan di wilayah Karangploso. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 18 November 2025, di lingkungan Pondok Modern Babussalam Al-Firdaus, Bocek Krajan, Kecamatan Karangploso, ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa. Meski berawal dari tugas akademik, para mahasiswa menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar memenuhi kewajiban kampus, tetapi diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dalam memahami pentingnya legalitas usaha dan keamanan pangan. Sosialisasi difokuskan kepada usaha rumahan “Roti Bafir” milik Dra. Hj. Nufi Faridah. Usaha yang telah memproduksi roti untuk kebutuhan internal pesantren maupun masyarakat sekitar itu diketahui belum memiliki SPP-IRT. Melihat potensi usaha tersebut, mahasiswa UMM berinisiatif memberikan pendampingan agar pemilik usaha memahami secara utuh prosedur, manfaat, dan kewajiban hukum dalam pengurusan perizinan pangan. Lima mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Muhammad Rizky Maulana Firdaus, Muhammad Irfan Afandi, Devrizana Beto Leda, Riki Eka Saputra, dan Angga Putra Pratama. Selama kegiatan, mereka memberikan penjelasan mengenai fungsi SPP-IRT, persyaratan administrasi dan teknis yang harus dipenuhi, serta pentingnya menjaga standar higiene dalam proses produksi pangan. Selain itu, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai penggunaan aplikasi OSS-RBA, yang saat ini menjadi pintu utama dalam proses perizinan usaha. Mereka mempraktikkan langsung bagaimana pelaku usaha dapat membuat akun, mengisi data usaha, hingga tahap awal pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan SPP-IRT secara daring. Kegiatan berlangsung secara interaktif, dengan pemilik usaha mengajukan sejumlah pertanyaan terkait kendala yang dihadapi selama ini, termasuk pengaturan tempat produksi, kelayakan peralatan, dan pembuatan label pangan yang sesuai ketentuan. Penjelasan yang diberikan mahasiswa disesuaikan dengan kondisi nyata usaha Roti Bafir, sehingga pelaku usaha mudah memahami langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum mengajukan sertifikasi. Pemilik Roti Bafir menyambut positif kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa selama ini proses pengajuan SPP-IRT dianggap rumit karena kurangnya pemahaman mengenai sistem OSS-RBA dan persyaratan administrasi lainnya. Setelah mengikuti sosialisasi, ia merasa lebih terbantu dan mendapatkan panduan menyeluruh mengenai prosedur perizinan yang benar. Menurutnya, legalitas usaha sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas pemasaran, dan memastikan produk yang dihasilkan aman dikonsumsi. Bagi lingkungan pesantren, kegiatan sosialisasi ini dinilai membawa dampak positif karena membuka wawasan baru mengenai tata kelola usaha kecil yang sesuai aturan. Mahasiswa UMM menilai bahwa UMKM berbasis pesantren memiliki potensi besar untuk berkembang jika didukung pemahaman regulatif yang memadai. Dengan adanya legalitas melalui SPP-IRT, peluang pemasaran produk akan semakin terbuka, baik di toko modern, koperasi sekolah, maupun platform penjualan digital. Para mahasiswa berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi pendampingan berkelanjutan terhadap UMKM di wilayah Karangploso. Mereka menegaskan bahwa edukasi hukum seharusnya tidak hanya diberikan dalam ruang perkuliahan, melainkan perlu diturunkan langsung kepada masyarakat sebagai kontribusi nyata dalam menciptakan ekosistem usaha yang legal, aman, dan berdaya saing. Melalui sosialisasi yang mencakup pemahaman SPP-IRT, penggunaan OSS-RBA, serta tata cara pengajuan perizinan digital, mahasiswa berharap UMKM lokal semakin siap berkembang sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (Red)
Latih Warga, Mahasiswa UMM Sulap Limbah Sereh Jadi Karbol

pwmu.co –Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat. Melalui Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), satu tim mahasiswa melakukan pemberdayaan warga di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pujon Hill, Kabupaten Malang, Oktober–November 2025. Mereka mengajak warga Dusun Bendosari memanfaatkan limbah sereh—khususnya sereh tua yang selama ini terbuang—untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu karbol sereh. Kegiatan dirancang mulai dari sosialisasi, pelatihan penyaringan dan penyulingan minyak atsiri, hingga pembuatan karbol, pengemasan, dan pemasaran sederhana. Ketua tim, Dara Ayu Suryani, menjelaskan bahwa warga dilatih teknik dasar ekstraksi minyak atsiri sekaligus diberikan pendampingan pemasaran. “Produk yang dihasilkan tidak hanya dijual di toko-toko, pameran, atau pasar, tetapi kami dorong juga agar dipasarkan lewat media sosial dan platform online,” ujarnya. Menurut Dara, pelatihan ini membuka wawasan masyarakat bahwa tanaman sereh punya potensi besar jika diolah dengan benar. “Kolaborasi mahasiswa, petani, dan warga membuat kegiatan berjalan efektif. Warga kini lebih memahami manfaat sereh, cara ekstraksi minyak, serta peluang ekonomi dari produk turunan seperti karbol sereh,” tambahnya. Program ini tidak hanya mengurangi limbah sereh, tetapi juga memberi nilai tambah bagi perekonomian warga sekitar. Dalam menjalankan kegiatan, Dara didampingi oleh Amelia Syafarani dan Dhara Atika Maharani. (*)
Kemenko Pemberdayaan Masyarakat Dorong Peran Serta Perguruan Tinggi Dalam Perkuat Program SMK Go Global

JAWA TIMUR, CAKRAWALA.CO– Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Abdul Haris mengapresiasi inisiatif Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam penyelenggaraan pusat pelatihan dan pendidikan untuk persiapan kerja ke luar negeri. “Banyak sekali praktek-praktek baik yang sudah dilakukan di UMM ini, terutama dalam memberdayakan lulusan-lulusan SMK dan perguruan tinggi untuk dapat bersaing di pasar global,” ujar Deputi Haris di UMM, Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/11/2025). Hadir dalam Kegiatan ini Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan, Wakil Rektor IV UMM Salis Yuniardi, Dekan Vokasi UMM, serta Guru Besar Bidang Psikologi Industri dan Organisasi UMM. Wakil Menteri Diktisaintek, Fauzan mengatakan program Career Boost untuk meningkatkan kompetensi dan peluang global ini telah dimulai sejak Tahun 2019. ” Program Career Boost ini telah dimulai sejak tahun 2019,” ujar Fauzan. Peserta pelatihan tenaga kerja luar negeri UMM yang telah diberangkatkan ke Jepang sebanyak 519 orang. Sementara, peserta yang siap diberangkat ada sebanyak 261 orang dan peserta yang masih dalam tahap pelatihan online sebesar 279 orang. ” Program yang ditawarkan oleh UMM ini berupa pelatihan kembali bagi para siswa lulusan SMK sederajat dan perguruan tinggi. Peserta yang dapat diterima dalam program ini dimungkinkan hingga usia 28 tahun,” tandasnya. Ada 15 skema pekerjaan yang ditawarkan oleh program pelatihan pekerja luar negeri UMM ini. Beberapa di antaranya yaitu teknik konstruksi, hospitality, pemrosesan makanan, caregiver, dan perawat. Skema penempatan tenaga kerja yang dilakukan oleh UMM terbagi dalam beberapa tahap. Peserta akan mendapatkan pelatihan secara online, dan selanjutnya dilakukan pelatihan berbasis asrama di gedung yang disediakan oleh Fakultas Vokasi UMM. Terdapat dua sertifikat yang dibekali pada peserta pelatihan, yaitu sertifikat Bahasa Jepang dan Sertifikat Ketrampilan sesuai kebutuhan pasar kerja di Jepang. ” Saat ini, pusat pelatihan kerja luar negeri UMM berfokus pada penempatan kerja ke Jepang. Dengan kerja sama dengan Brexa Academy, UMM telah memperluas lokasi penempatan pada seluruh prefektur di Jepang. Ke depannya, UMM berencana akan memperluas jangkauan pada sekitar 38 negara penempatan. Hal ini tentunya dapat didukung dengan kolaborasi lintas pemangku kepentingan,” terangnya. Deputi Haris menambahkan pemerintah berencana memulai pelaksanaan SMK Go Global pada akhir 2025 dan akan memperluas target penerima manfaatnya sebanyak 500.000 orang pada 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. ” Penyelenggaraan program pelatihan tenaga kerja luar negeri UMM akan disinergikan dengan program SMK Go Global yang diinisiasi oleh Kemenko Pemberdayaan Masyarakat,” pungkas Haris. ( Sts )
220 Siswa di Kabupaten Malang Hidupkan Lagi Permainan Tradisional
220 Siswa di Kabupaten Malang Hidupkan Lagi Permainan Tradisional220 Siswa di Kabupaten Malang Hidupkan Lagi Permainan Tradisional RADAR MALANG – Permainan tradisional sudah jarang dimainkan. Kini anak-anak lebih tertarik bermain menggunakan perangkat elektronik. Untuk menjaga eksistensi permainan tradisional, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XI Jawa Timur Kementerian Kebudayaan menggelar lomba permainan tradisional di dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kemarin (16/11). Permainan yang dilombakan meliputi bakiak dan eggrang. Pesertanya 220 pelajar putra maupun putri dari SD se-Kabupaten Malang. ”Namun untuk sekolahnya yang jaraknya dekat dengan UMM. Radius sekolahnya 10-20 kilometer,” ujar Staf BPK wilayah XI Jawa Timur Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Firdaus Ardyansyah. Menurut Firdaus, sesi lomba permainan tradisional termasuk dalam rangkaian kegiatan Wilwatikta Acarita tahun kedua. Sesi lomba itu bertujuan untuk mengenalkan permainan tradisional yang sekarang sudah jarang dimainkan anak-anak. ”Ini kami lombakan juga dengan mempertimbangkan kecepatan, kekompakan, dan regunya,” jelas dia. Selain lomba, dia melanjutkan, ada rangkaian kegiatan lain yang digelar. Seperti seminar nasional, pameran yang diikuti 20 stan se-Jawa Timur, hingga panggung kebudayaan. Seluruh kegiatan sudah berlangsung di Malang pada 13-16 November 2025. Pihaknya berharap kegiatan yang diadakan bisa membangun kekompakan para pelajar. Sementara itu, salah seorang guru, Anang Agung Wibisono mengungkapkan, lomba permainan tradisional cukup positif. Sebab permainan tradisional mulai terlupakan. ”Kami membawa 10 pelajar. Yang ikut lomba eggrang ada 4 pelajar, sementara 6 pelajar lainnya ikut lomba bakiak,” terang lelaki yang merupakan guru olahraga di SD Negeri Kalisongo 1 itu. Meski sempat nervous, siswanya berhasil meraih juara 3 untuk eggrang dan juara 1 untuk bakiak. Anang menambahkan, di luar kegiatan pihak sekolah juga rutin mengenalkan permainan tradisional, seperti bentengan, kasti, dan gobak sodor. (mel/dan)
Wilwatikta Acarita 2025 Malang Gaet Anak Muda Cinta Budaya Nusantara

DETIK JATIM – Panggung Kebudayaan Wilwatikta Acarita Tahun 2025 digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Gelaran ini sebagai langkah menjaga ketahanan budaya bangsa. Kepala BPK Wilayah XI Endah Budi Heryani mengatakan, menjaga ketahanan budaya merupakan kewajiban seluruh masyarakat, termasuk generasi muda. Wilwatikta Acarita digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan Universitas Brawijaya, dihelat mulai 15 November sampai dengan 16 November 2025 dikemas memadukan seni budaya dan hiburan modern. Panggung kebudayaan ini tidak hanya sekedar menjadi sebuah gerakan untuk merayakan seni dan tradisi semata. Akan tetapi, akan menjadi momentum penting untuk menyalakan kembali api semangat peradaban besar yang pernah menyinari nusantara yaitu Majapahit. Harapannya, kegiatan ini dapat menarik simpati kalangan anak muda, untuk turut peduli dengan kekayaan budaya bangsa. “Ini adalah kegiatan Wilwatikta Acarita yang artinya bercerita tentang Majapahit. Jadi memang kegiatan ini dikemas semenarik mungkin karena memang sasarannya adalah anak-anak muda,” ujar Endah Budi Heryani kepada wartawan, Minggu (16/11/2025). “Sehingga kita kaitkan dengan berbagai macam seniman-seniman yang disukai oleh anak-anak muda,” sambungnya. Pada pelaksanaan Wilwatikta Acarita, BPK wilayah XI juga menyelenggarakan perlombaan cerita Raden Panji yang diikuti sekitar 10 grup kesenian. Berdasarkan keterangan dari laman Museum Nasional Indonesia cerita panji berkembang pada sekitar abad ke-12 dan tidak hanya dikenal di wilayah tanah air, tetapi berkembang di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Selain cerita panji, pada acara itu juga dibacakan Negarakertagama karya Empu Prapanca. Melalui penyelenggaraan Wilwatikta Acarita pihaknya juga berupaya membentuk pemahaman generasi muda. Terkait pentingnya memiliki pemahaman tentang kebudayaan Nusantara sehingga mampu membantu upaya pelestarian, di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Endah tak mempermasalahkan apabila anak muda menggemari budaya dari luar, asalkan mereka tetap menomorsatukan pengetahuan tentang budaya yang dimiliki oleh Indonesia. “Jangan sampai anak muda lebih fokus ke budaya luar terus dan kearifan lokalnya tidak memiliki. Kami juga berupaya membangun budaya literasi,” ucapnya. Sementara itu, Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib menyatakan dukungannya terhadap kegiatan Wilwatikta Acarita ini, karena menyuguhkan kebudayaan dari masa lampau yang dimiliki oleh Indonesia. Bahkan, Wabup Lathifah menyebut kegiatan ini sukses menarik animo dari para anak-anak muda. “Kita tidak boleh meninggalkan akar kehidupan budaya yang kita miliki,” tegasnya. Kabupaten Malang memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebesaran Majapahit, dengan banyak situs bersejarah dan peninggalan yang menjadi saksi hidup peradaban.
Setyaning Rahayu, Mahasiswi Magister Hukum Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang Raih Penghargaan Internasional di Malaysia dan Singapura

KETIK, JOMBANG – Setyaning Rahayu, mahasiswi Magister Hukum Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus anggota tim Kantor Hukum Wis & Partners Jombang mengharumkan nama Indonesia di ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) #16 Chapter Malaysia–Singapore. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 11–14 November 2025 itu, Setyaning meraih dua gelar sekaligus yakni Juara 2 Project Innovation dan Juara 2 Video Project Innovation. Prestasi itu dia raih setelah berhasil mempresentasikan gagasan inovasi yang dinilai relevan, solutif, dan berkelanjutan. Selama berada di Malaysia dan Singapura, Setyaning mengikuti rangkaian kegiatan internasional yang padat dan berbobot, antara lain: International SDGs Presentation, yaitu forum presentasi dan diskusi mengenai isu global dan solusi inovatif berbasis SDGs. University Visit & Orientation ke beberapa kampus di Malaysia dan Singapura untuk berdiskusi tentang inovasi, digital leadership, dan pengembangan riset. Forum Panel Discussion bersama mahasiswa internasional yang membahas peran pemuda dalam inovasi hukum, sosial, dan teknologi. Di hari terakhir digelar Awarding Day untuk penganugerahan bagi delegasi dengan performa terbaik. Setyaning menyebut kegiatan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga membuka wawasan global, memperluas jejaring, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan di forum internasional. Dalam ajang ini, terdapat 40 delegasi perwakilan dari Indonesia yang lolos seleksi nasional dan mewakili berbagai kampus serta lembaga. Setyaning terpilih setelah mengikuti proses seleksi ketat dari Global Youthpreneur Nusantara, lembaga penyelenggara IYIS. Seleksi meliputi: Administrasi dan kelayakan akademik Esai dan gagasan inovasi Penilaian motivasi serta komitmen pengembangan diri Dari ratusan pendaftar, hanya sebagian kecil yang diterima sebagai delegasi resmi. Program ini diselenggarakan oleh Global Youthpreneur Nusantara, bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Malaysia serta beberapa universitas di Malaysia dan Singapura. Program ini bertujuan mendorong pemuda ASEAN untuk berinovasi dalam bidang digital, sosial, dan kepemimpinan. Setyaning mengaku penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan inovasi di bidang hukum, khususnya terkait isu-isu regulasi digital, perlindungan data, dan penguatan literasi hukum untuk masyarakat. “Pengalaman ini sangat membuka wawasan saya sebagai mahasiswa hukum dan praktisi di kantor hukum. Saya belajar bagaimana inovasi bisa diterapkan dalam dunia hukum dan kebijakan publik,” ujarnya. Tindak Lanjut dan Rencana Kolaborasi Setyaning juga membawa manfaat bagi Kantor Hukum Wis & Partners Jombang tempat ia berkiprah saat ini. Ke depan, beberapa tindak lanjut yang dia rencanakan antara lain: Pengembangan program edukasi hukum berbasis digital yang terinspirasi dari proyek inovasi yang dipresentasikan di IYIS. Menjalin kerja sama internasional dengan beberapa kampus dan komunitas pemuda yang ditemui selama program. Membentuk ruang diskusi dan inovasi di lingkungan kantor hukum agar pengacara muda bisa ikut terlibat dalam pengembangan teknologi dan regulasi terkini. “Harapannya, pengalaman ini dapat saya bawa pulang untuk memperkuat lembaga hukum tempat saya bekerja dan menghadirkan inovasi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)