PGSD UMM Gandeng Sekolah Indonesia Jeddah dalam Pengembangan Internasionalisasi

pwmu.co – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengembangkan dan menebar manfaat. Salah satunya melalui pengembangan program internasionalisasi ke berbagai lokasi dan negara, termasuk dengan Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) di Arab Saudi, November ini. Keduanya resmi bekerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada langsung di Jeddah. Terkait kerjasama ini, koordinator program, Innany Muhklishina, M.Pd. menjelaskan bahwa kedua belah pihak menjalankan kolaborasi yang menggabungkan penelitian pendidikan dan penandatanganan kontrak kerja sama strategis antar lembaga. Menurutnya, penelitian ini merupakan bentuk kolaborasi akademik yang bertujuan mengevaluasi efektivitas pendekatan pembelajaran berbasis media cerita bergambar dalam meningkatkan pemahaman konsep sains dan penguatan karakter siswa. Lebih lanjut, Innany juga menuturkan, metode yang digunakan menitikberatkan pada integrasi antara materi sains dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Misalnya terkait gotong royong, bernalar kritis, mandiri, dan beriman. Berdasarkan hasil awal dari pengamatan dan asesmen formatif, terlihat adanya peningkatan antusiasme, pemahaman konsep, serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. “Pendekatan visual dan naratif dari cerita bergambar terbukti mampu menjembatani pemahaman materi sains secara lebih kontekstual dan menyenangkan,” katanya. Di sisi lain, salah satu dosen UMM, Arinta Rezty Wijayaningputri, M.Pd. menilai, kegiatan ini menjadi momentum penting penandatanganan kontrak kerja sama. Mencakup program penelitian pengabdian bersama dan kegiatan akademik lainnya sebagai bentuk penguatan sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah luar negeri. Melalui kolaborasi ini, kedua institusi berharap dapat mendorong inovasi pendidikan yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan SIJ tetapi juga sebagai model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah Indonesia lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, M.Pd. menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat karakter kebangsaan siswa Indonesia di luar negeri. “Harapannya, kolaborasi ini dapat memberikan dampak yang baik. Terutama untuk pendidikan anak-anak Indonesia, termasuk anak-anak yang ada di luar negeri,” katanya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Dosen UMM Tanggapi Pro Kontra Penggunaan Etanol Campuran Bahan Bakar

Malangpariwara.com – Di tengah gencarnya transisi energi menuju zero carbon emission, bahan bakar alternatif mulai ramai diperbincangkan mulai dari pro hingga kontra. Salah satunya adalah Etanol (C2H5OH) senyawa kimia yang kini digadang-gadang mampu menjadi pengganti bensin di masa depan. Menariknya, belakangan banyak pro kontra yang lahir dari masyarakat mengenai penggunaan campuran etanol. Terkait hal ini, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D turut memberikan pandangannya. Berfokus pada penggunaan etanol dalam bahan bakar kendaraan di Indonesia. Iis sapaan akrabnya, mengatakan, etanol merupakan bentuk biofuel yang menjanjikan. Sebab etanol memiliki sifat pembakaran yang lebih bersih dibandingkan bensin murni. Secara teoritis, emisi karbonnya bisa ditekan secara signifikan jika digunakan dalam proporsi yang tepat. “Etanol itu energi alternatif yang dikembangkan bio yaitu tanaman yang diproses. Etanol bagus untuk meningkatkan angka oktan. Jadi, jika digunakan dalam jangka yang relatif pendek, akan baik,” ujarnya. “Namun jika digunakan dalam jangka lama akan merusak komponen dari combustion chamber seperti karet dan korosi pada logam yang tidak tahan air serta lainnya,” tambahnya. Tantangan Penggunaan Etanol Lebih lanjut, di balik keunggulannya, etanol juga menyimpan sejumlah tantangan teknis dan ekonomis. Secara ilmiah, etanol mempunyai densitas energi lebih rendah (26.8 MJ/kg) dibanding bensin (46 MJ/kg). Sehingga, menambahkan etanol ke pertalite akan menurunkan nilai energi untuk per liter campuran dibandingkan dengan pertalite murni. Adapun kelebihan penggunaan etanol yakni merupakan sumber energi terbaharukan, tingkat komersialisasi tinggi. Serta di Indonesia dapat diproduksi secara massal dari tanaman tebu yang sudah banyak dibudidayakan. Meski begitu, etanol memiliki octane number tinggi (100+) dibanding Pertalite (92), membuatnya lebih tahan terhadap knocking dan cocok untuk mesin modern berkompresi tinggi. Namun, campuran etanol dan pertalite tidak disarankan bagi mesin lama dengan karburator karena memerlukan penyetelan ulang dan berisiko menyebabkan overheating dalam jangka panjang. Harga Jual Tinggi Tantangan lain muncul dari sifat etanol yang higroskopis, yaitu mudah menyerap air. Proses pemurnian agar etanol benar-benar bebas air memerlukan teknologi mahal, yang berdampak pada harga jualnya. Harga etanol tipe anhidrat saat ini memang masih sedikit di atas Pertalite atau Pertamax, sehingga perlu insentif agar tetap kompetitif. Dari sisi mesin, etanol sebenarnya tidak menimbulkan kerusakan serius. Pada mesin modern yang sudah dilengkapi Electronic Control Unit (ECU), sistem dapat menyesuaikan pembakaran secara otomatis. Untuk mesin lawas, pengguna perlu memperhatikan potensi overheat. “Meskipun ada kekhawatiran tersebut, tetapi berdasarkan penelitian, sampai campuran 10% etanol tidaklah terlalu mempengaruhi mesin lama meskipun memakai karburator. Sehingga, modifikasi terhadap engine hanya diperlukan jika memakai 100% etanol,” ungkapnya. Ke depan, Iis optimistis bahwa masa depan etanol di Indonesia cukup cerah. Sumber energi lain seperti biobutanol yang diproduksi dari tanaman belum sampai semasif industri etanol. “Harapan terhadap penggunaan etanol ke depan adalah kita bisa lebih mempunyai kemandirian energi dengan syarat etanol yang digunakan berasal dari sumber-sumber yang ada di dalam negeri,” katanya. “Penggunaan bahan bakar yang sangat besar akan memerlukan pasokan etanol yang besar juga sehingga industri di Indonesia. Di mana selama ini memasok etanol untuk bidang lain (kesehatan) bisa memperbesar kapasitas produksinya,” tutupnya. (Djoko W)

Etanol Jadi Sorotan Publik, Pakar UMM Beberkan Plus-Minusnya untuk Mesin Kendaraan

JATIMTIMES – Dorongan menuju energi bersih bikin banyak mata melirik bahan bakar alternatif. Di antara nama yang paling sering jadi perbincangan belakangan adalah Etanol. Entanol merupakan senyawa C₂H₅OH dari hasil olahan biomassa, jadi kandidat kuat pengganti bensin. Tapi, seperti biasa, setiap inovasi baru selalu memantik debat. Ada yang optimistis, ada pula yang ragu. Di tengah riuh itu, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D, ikut turun gelanggang memberi penjelasan yang lebih jernih. Menurut Iis, Etanol bukan sekadar wacana manis dalam dunia biofuel. Pembakarannya lebih bersih, emisinya lebih rendah, dan angka oktannya tinggi. Artinya, mesin bisa bekerja lebih stabil. Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu bukan tanpa catatan. “Etanol memang energi alternatif dari tanaman. Untuk jangka pendek bagus, tapi penggunaan jangka panjang bisa memicu masalah pada ruang bakar, karet lebih cepat getas, logam tertentu bisa korosi karena sifatnya yang mudah menarik air,” jelasnya, Jumat, (14/11/2025). Kandungan energi etanol jauh lebih rendah ketimbang bensin. Jika bensin punya 46 MJ/kg, etanol hanya sekitar 26,8 MJ/kg. Akibatnya, mencampurkan etanol ke pertalite otomatis mengurangi energi tiap liter bahan bakar. Meski begitu, dari sisi ketersediaan, Indonesia sebenarnya cukup siap. Tanaman tebu sebagai bahan baku Etanol sudah dibudidayakan luas dan industrinya relatif matang. Satu nilai tambah lain, yang tentunya cukup menggembirakan, adalah angka oktannya yang tembus 100 lebih. Ini membuat Etanol tahan knocking dan ramah untuk mesin berkompresi tinggi. Tetapi, untuk motor keluaran lama, tidak disarankan teburu-buru mengisi tangki dengan bahan bakar tersebut. Mesin lama berbasis karburator cenderung rewel jika dipaksa memakai campuran etanol tinggi. Tanpa penyetelan ulang, risiko overheat bisa muncul. Di sisi lain, etanol punya satu sifat yang sering bikin teknisi menghela napas: higroskopis. Ia mudah menyedot air. Agar dapat dipakai sebagai bahan bakar layak jalan, Etanol harus diproses hingga benar-benar bebas air, proses mahal yang berpengaruh pada harga akhir. Saat ini, tipe anhidrat masih sedikit lebih mahal dibanding Pertalite maupun Pertamax, sehingga butuh kebijakan khusus agar kompetitif. Lebih lanjut, Iis memastikan bahwa etanol bukan musuh mesin. Teknologi kendaraan modern sudah dilengkapi Electronic Control Unit (ECU) yang bisa mengatur pembakaran secara otomatis. “Untuk mesin lama, risiko overheat memang ada. Tapi riset menunjukkan campuran sampai 10 persen masih aman, bahkan untuk karburator. Modifikasi baru dibutuhkan kalau bahan bakarnya 100 persen etanol,” terangnya. Melihat perkembangan industri biofuel global, Iis menyebut masa depan etanol di Indonesia cukup cerah. Energi alternatif lain seperti biobutanol masih jauh dari skala produksi masif. Karena itu, peluang etanol untuk jadi pemain utama cukup besar. “Yang penting, sumber etanolnya benar-benar berasal dari dalam negeri. Kebutuhan bahan bakar kita besar, sehingga industri etanol harus memperluas kapasitas jika ingin menopang kemandirian energi nasional,” tutupnya.

Etanol Campur Bensin, Hemat Emisi Tapi Bikin Mesin Rusak? Pakar UMM Beberkan Faktanya

Malang (beritajatim.com) – Rencana penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin terus menjadi perbincangan hangat. Di satu sisi, langkah ini dinilai penting untuk transisi energi dan menekan emisi karbon. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran di masyarakat terkait dampaknya pada mesin kendaraan. Menanggapi pro dan kontra ini, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., memberikan penjelasan ilmiah mengenai plus minus penggunaan etanol (C2H5OH) sebagai pengganti bensin. Iis, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa etanol merupakan bentuk biofuel yang sangat menjanjikan. Keunggulan utamanya adalah memiliki sifat pembakaran yang lebih bersih dibandingkan bensin murni, sehingga secara teoritis dapat menekan emisi karbon secara signifikan. “Etanol itu energi alternatif yang dikembangkan dari bio, yaitu tanaman yang diproses. Etanol bagus untuk meningkatkan angka oktan,” jelas Iis. Sebagai energi terbarukan, etanol memiliki sejumlah kelebihan. Diantaranya, etanol memiliki octane number tinggi (100+), jauh di atas Pertalite (92). Ini membuatnya lebih tahan terhadap knocking (ngelitik) dan ideal untuk mesin modern berkompresi tinggi. “Di Indonesia, etanol dapat diproduksi secara massal dari tanaman tebu yang sudah banyak dibudidayakan. Etanol memiliki tingkat komersialisasi yang sudah tinggi,” ujar Dosen UMM tersebut. Di balik keunggulannya, Iis memaparkan sejumlah tantangan teknis dan ekonomis. Tantangan terbesar adalah sifat etanol yang higroskopis, atau mudah menyerap air. “Jika digunakan dalam jangka lama akan merusak komponen dari combustion chamber (ruang bakar) seperti karet dan korosi pada logam yang tidak tahan air,” tegasnya. Selain itu, ada beberapa catatan penting lainny.. Etanol memiliki densitas energi lebih rendah (26.8 MJ/kg) dibanding bensin (46 MJ/kg). Artinya, menambahkan etanol ke Pertalite akan menurunkan nilai energi per liter campuran. Proses pemurnian agar etanol benar-benar bebas air (tipe anhidrat) memerlukan teknologi mahal. Hal ini membuat harga jualnya saat ini masih sedikit di atas Pertalite atau Pertamax, sehingga memerlukan insentif agar kompetitif. Kekhawatiran terbesar masyarakat adalah dampak etanol pada mesin, terutama kendaraan lawas yang masih menggunakan karburator. Iis menjelaskan, campuran etanol dan Pertalite memang tidak disarankan bagi mesin lama karena berisiko memerlukan penyetelan ulang dan dapat menyebabkan overheating (panas berlebih) dalam jangka panjang. Namun, ia memberikan catatan penting. “Meskipun ada kekhawatiran tersebut, tetapi berdasarkan penelitian, sampai campuran 10% etanol (E10) tidaklah terlalu mempengaruhi mesin lama meskipun memakai karburator,” ungkapnya. Berbeda dengan mesin lawas, mesin modern yang sudah dilengkapi Electronic Control Unit (ECU) dapat menyesuaikan sistem pembakaran secara otomatis. “Sehingga, modifikasi terhadap engine hanya diperlukan jika memakai 100% etanol,” tambah Iis. Ke depan, Iis Siti Aisyah optimistis bahwa masa depan etanol di Indonesia cukup cerah, terutama dibandingkan sumber energi lain seperti biobutanol yang industrinya belum semasif etanol. Namun, ia menekankan satu syarat utama untuk mencapai kemandirian energi: pasokan etanol harus berasal dari dalam negeri. “Penggunaan bahan bakar yang sangat besar akan memerlukan pasokan etanol yang besar juga. Harapan ke depan adalah kita bisa lebih mempunyai kemandirian energi dengan syarat etanol yang digunakan berasal dari sumber-sumber yang ada di dalam negeri,” tutupnya. (dan/ian)

UMM Raih Dua Penghargaan Kampus Terbaik dari Belmawa Dikti

pwmu.co – Keberhasilan institusi pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa berprestasi, tetapi dari bagaimana kampus menyiapkan sistem yang menopang prestasi itu lahir secara konsisten. Prinsip ini tampak jelas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pada tahun 2025 berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). November ini. UMM dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi dengan Pembinaan Terbaik sekaligus Perguruan Tinggi Terproduktif yang diberikan oleh Belmawa Dikti, menandai kekuatan budaya riset yang tidak dibangun secara instan. Kepala Biro Kemahasiswaan dan alumni (BKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., menilai bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif yang panjang, bukan capaian sesaat. Ia menegaskan bahwa UMM telah membangun ekosistem riset mahasiswa yang kuat sejak beberapa tahun terakhir, dengan sistem pembinaan yang terintegrasi antara dosen dan mahasiswa. Menurutnya, capaian tahun ini menjadi refleksi dari keberhasilan UMM dalam menjaga keseimbangan antara kuantitas proposal dan kualitas gagasan yang dilahirkan. “Sejak lama, UMM menempatkan PKM bukan hanya sebagai ajang lomba, tapi ruang pembentukan karakter ilmiah. Kita ingin mahasiswa terbiasa meneliti dan berpikir kritis. Dua penghargaan ini menegaskan bahwa sistem pembinaan kita sudah bekerja,” ujar Tatag. UMM berhasil meloloskan 114 judul PKM pada pendanaan 2025, menempatkannya di posisi dua besar Jawa Timur dan sepuluh besar nasional. Angka tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan riset di tingkat mahasiswa tidak hanya masif secara jumlah, tetapi juga matang dalam kualitas. Setiap proposal yang diajukan harus melalui proses seleksi dan penyuntingan berlapis, memastikan penelitian mahasiswa memiliki relevansi terhadap isu sosial, ekonomi, maupun teknologi yang aktual. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa keberhasilan UMM tidak lepas dari peran aktif para dosen pembimbing yang berkomitmen mendampingi mahasiswa secara intensif. Kampus menerapkan pola Training of Trainer (TOT) agar dosen mampu menjadi fasilitator riset yang efektif. Menurutnya, pembimbing yang memiliki pemahaman mendalam terhadap karakter mahasiswa dapat menciptakan suasana riset yang produktif dan menumbuhkan semangat ilmiah tanpa tekanan berlebihan. “Generasi mahasiswa sekarang cepat jenuh. Karena itu, pembimbing harus tahu cara menjaga ritme semangat mereka. Kami tidak hanya menuntut hasil, tapi juga membangun kesadaran riset sebagai bagian dari proses akademik yang membentuk karakter,” ujarnya. Tema-tema penelitian mahasiswa UMM tahun ini banyak menyentuh isu strategis seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan teknologi terapan berbasis sosial. Beberapa inovasi bahkan telah diinkubasi untuk pengembangan industri kreatif mahasiswa, memperlihatkan bahwa riset di UMM tidak berhenti di meja laboratorium, tetapi diarahkan pada solusi nyata yang berdaya guna. Capaian ini sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM membaca persoalan bangsa dan menjawabnya dengan pendekatan ilmiah yang konkret. Meski demikian, Tatag menekankan bahwa penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanan, melainkan tantangan baru bagi UMM untuk terus memperkuat kualitas riset mahasiswa. Menurutnya, masih ada ruang besar untuk perbaikan, terutama dalam meningkatkan kemampuan publikasi ilmiah dan kolaborasi lintas bidang. Ia berharap, sistem pembinaan riset di UMM dapat berkembang menjadi model nasional bagi perguruan tinggi lain yang ingin menyeimbangkan antara kreativitas, kompetisi, dan keberlanjutan akademik. “Kita ingin riset mahasiswa UMM tidak hanya berhenti di tingkat pendanaan, tapi bisa berlanjut ke publikasi, paten, bahkan implementasi sosial. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan kualitas itu dalam jangka panjang,” ujarnya. Melalui dua penghargaan ini, UMM menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai kampus produktif, tetapi juga kampus yang berhasil menanamkan kultur ilmiah di kalangan mahasiswa. Di tengah derasnya arus pragmatisme pendidikan, UMM memilih jalan yang lebih berat dengan menumbuhkan intelektualitas yang kritis dan berorientasi pada kemanfaatan sosial. Memiliki strategi pembinaan yang terukur dan visi akademik yang jelas, kampus ini sekali lagi menunjukkan bahwa inovasi sejati lahir dari konsistensi dan kesadaran akan tanggung jawab keilmuan.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Cinema Talk Film Riba Dibeber di UMM, Bongkar Cerita Kisah Nyata Horor Riba

Malangpariwara.com – Verona Films bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan acara Cinema Talk dengan tema “Psikologi dalam Film, Cuan di Dunia Digital, dan Film bagi Anak Muda.” Kegiatan ini digelar di Aula Lantai 4 GKB 4 Fakultas Psikologi UMM pada Jumat (14/11/2025), dan menghadirkan para pemain serta kru film horor terbaru berjudul ‘Riba.’ Film ‘Riba’ diangkat dari thread X populer berjudul “Getih Anak.” Ceritanya mengikuti sebuah keluarga yang terlilit hutang riba hingga mengalami tekanan psikologis hebat. Dalam kondisi terdesak untuk segera melunasi hutang, mereka mencari berbagai jalan keluar, namun justru tersesat pada pilihan yang salah. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata sehingga unsur psikologi dan pesan moral terasa kuat. Tantangan Besar Produser ‘Riba,’ Titin Suryani, membagikan cerita proses panjang yang mereka lalui sebelum film akhirnya dibuat. Ia mengatakan bahwa naskah mengalami hingga 11 kali revisi sebelum dinyatakan siap. Tantangan lain yang cukup besar adalah mencari pemeran yang tepat, proses yang memakan waktu sekitar enam bulan. “Saya melakukan revisi berulang kali, dari revisi pertama sampai revisi kesebelas baru bisa disetujui. Tantangan lain ada pada pemilihan cast karena kami harus menemukan pemain yang benar-benar cocok dengan karakter masing-masing tokoh,” jelasnya. Para pemain juga harus bekerja keras mendalami peran mereka. Mereka mempelajari ekspresi, gestur, hingga detail kecil yang menggambarkan tekanan mental yang dialami karakter. Salah satu pemeran utama, Fanny Ghassani, menjelaskan bahwa horor dalam ‘Riba’ bukan sekadar menampilkan sosok menakutkan. “Jenis horornya lebih ke psikologis, jadi rasa takutnya banyak terjadi dalam pikiran karakter utama. Ini bisa jadi bahan kajian menarik untuk mahasiswa psikologi,” tuturnya. Pesan Mendalam Eksekutif Produser, Bedy Kunaedy, menambahkan bahwa ‘Riba’ membawa pesan yang cukup dalam. “Film ini menyoroti masalah sosial seperti hutang, tekanan dalam keluarga, dan nilai moral soal berhati-hati dalam mengambil keputusan. Itulah yang membuat ‘Riba’ berbeda dari film horor pada umumnya,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa UMM menjadi lokasi yang tepat untuk roadshow karena temanya sejalan dengan dunia psikologi. Secara musikal, film ini diperkuat dengan musik orkestra dan lagu berjudul “Penyesalan” yang dibuat khusus untuk memperdalam emosi penonton. ‘Riba’ dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025. Tim produksi juga menargetkan film ini bisa masuk ke platform OTT seperti Netflix serta menembus pasar Malaysia. Melalui film ini, para pembuat berharap masyarakat lebih berhati-hati saat berada dalam tekanan. Keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang bisa membawa masalah baru meski awalnya terlihat sebagai jalan keluar. (Djoko W)

Fanny Ghassani Cs Datangi Universitas Muhammadiyah Malang, Gelar Diskusi Film RIBA

SURYAMALANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kedatangan artis dari Ibu Kota. Fanny Ghassani bersama kru film RIBA mendatangi para mahasiswa untuk diskusi film dan psikologi, Jumat (14/11/2025) sore. Mengusung tema Psikologi Dalam Film, dan Strategi Menciptakan Film Komersil dalam film horor berjudul ‘RIBA’, membuat para mahasiswa antusias. Film yang diadaptasi dari utas viral Getih Anak tersebut saat ini ramai diperbincangkan di media sosial. Fanny Ghassani yang berperan sebagai Rohma dalam film tersebut, menjadi ikon pada diskusi hangat itu bersama Kevin Danu, Emilat Morsehdi, dan Pritt Timothy serta Tokoh utama yakni Sugi, diperankan Ibrahim Risyad. Tidak hanya itu, Produser Titin Suryani dan Eksekutif Produser Bedy Kunady juga turut memberikan insight mengenai proses kreatif film yang mengangkat tema tekanan ekonomi, jeratan utang, hingga konsekuensi psikologis dari tindakan nekat. Film yang produksi Verona Films itu ditulis oleh Titien Wattimena dan disutradarai oleh Adhe Dharmastriya. Kisah dalam film tersebut memotret sisi gelap manusia ketika terdesak kebutuhan hidup. Selain itu juga menunjukkan bagaimana keputusasaan dapat membawa seseorang pada pilihan ekstrem dan berbahaya. Dalam cerita itu, juga diceritakan sosok yang hidupnya berantakan akibat lilitan utang. Dari cerita awal itu alur film berkembang menuju rangkaian teror yang tidak hanya bersifat supranatural, tetapi juga menggambarkan ‘hantu’ dari rasa bersalah, tekanan psikologis, dan moralitas manusia. Fany yang berperan sebagai Rohma iti menceritakan, bahwa meskipun film ini bertujuan entertain juga banyak makna. Ia menambahkan, bahwa manusia kerap mengambil keputusan secara tergesa-gesa, yang kerap membawa dampak negatif. “Jadi film ini juga memesankan agar sebagai manusia yang kerap mengambil keputusan secara tergesa-gesa, harus berhati-hati,” terang wanita 34 tahun itu. “Selain itu komunikasi suami-istri yang tidak berjalan dengan baik, juga menjadi pesan yang dapat diterima oleh para penonton,” tambahnya.

Embik Farm, Bisnis Susu Kambing Mahasiswa UMM yang Tembus KMI Expo

KLIKMU.CO – Bayangkan jika susu kambing yang kerap dihindari karena baunya justru disulap menjadi produk bernilai tinggi, bahkan sukses menarik perhatian pasar internasional. Inilah kisah inspiratif dari Luqman Hakim Arifin, mahasiswa Agribisnis angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bersama timnya, Luqman berhasil mengubah peternakan tradisional menjadi bisnis terintegrasi berkelas nasional. Mereka tidak hanya beternak, tetapi juga merangkai ekosistem wirausaha yang menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus berdampak sosial. Keberhasilan tersebut teruji sejak mendapat pendanaan P2MW pada tahun 2024 dan berlanjut di P2MW 2025. Luqman dan timnya yang beranggotakan lima orang kini terpilih sebagai delegasi UMM dan siap berkompetisi di ajang bergengsi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI 2025 yang akan diselenggarakan di Universitas Tidar, Magelang, pada 19–21 November 2025. Unit usaha yang mereka kembangkan bernama Embik Eco Green Farm, an Integrated Disability Friendly Business with Impactful Product Innovation. Bisnis ini berawal dari latar belakang keluarga Luqman sebagai peternak kambing pedaging. Namun, Luqman jeli melihat celah pasar. “Latar belakangnya itu dari peternak kambing biasa, yang fokusnya di pedaging saja, jualnya per ekor. Hal ini pula yang mengarahkan fokus kami pada kambing perah jenis Savera dan Etawa,” ujar Luqman. Luqman dan tim mengembangkan tiga lini produk unggulan yang berorientasi pada kesehatan dan lingkungan. Produk utamanya adalah Susu Kambing Tinggi Omega 3. Inovasi ini merupakan hasil riset pakan khusus untuk kambing perah Savera, yang memberikan nilai fungsional sebagai produk kesehatan premium. “Kandungan dari susu kambing itu empat kali lipat dari susu sapi,” tegas Luqman. Kandungan premium ini membuat susu mereka direkomendasikan dokter untuk terapi penyakit organ dalam, seperti paru-paru dan jantung. Mereka juga berhasil menghilangkan bau prengus melalui proses khusus, bahkan mengembangkannya menjadi es krim susu. Produk kedua Embik Eco Green Farm adalah kambing unggul jenis Senduro, Kaligesing, Jawa, dan Boer, hasil pembibitan berkualitas dengan genetik terbaik. Keempat ras ini dikenal memiliki postur besar, produktivitas tinggi, dan daya tahan kuat, menjadikannya pilihan ideal untuk pengembangan peternakan dalam bidang penggemukan dan peranakan. Sementara produk ketiga adalah pupuk organik padat dan cair yang memanfaatkan kotoran kambing, diolah dan diperkaya kalium dari serabut kelapa, efektif untuk urban farming. Secara bisnis, Embik Farm menunjukkan pertumbuhan signifikan. Omzet kotor dari tiga lini produk mereka kini mencapai hampir dua digit per bulan, didukung enam titik reseller di Kabupaten Malang. Sejalan dengan namanya, aspek sosial menjadi prioritas utama. Mereka menjalankan program Disability Friendly secara konsisten, mengalokasikan kelebihan produksi susu untuk lansia dan keluarga disabilitas di desa, serta memberdayakan warga setempat—termasuk yang memiliki keterbatasan mental—untuk membantu operasional kandang. Lebih jauh, tim ini telah memulai langkah awal memperluas jangkauan hingga pasar internasional melalui pengembangan website bisnis mereka. Menurut Luqman, dosen pembimbing Dr Akhis Soleh Ismail SPt memiliki peran penting dalam memberikan mentoring bulanan. UMM juga terus menyediakan fasilitas terbaik agar mahasiswanya bisa mengembangkan potensi. Luqman menilai Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) menjadi katalis bagi mahasiswa untuk berani berbisnis. “P2MW ini sangat-sangat berpeluang. Kita didanai, diberi hadiah uang jutaan, belasan juta, bahkan puluhan juta untuk meningkatkan bisnis individu mahasiswa tanpa risiko. Jadi jangan pernah takut mencoba,” ujarnya. (Wildan/AS)

Dari Kampus Putih ke Meja Hijau, Kisah Asep Jadi Hakim di Kepulauan Riau

KLIKMU.CO – Dunia peradilan kerap menjadi muara akhir bagi lulusan hukum. Namun, siapa sangka profesi mulia sebagai hakim justru bukan cita-cita utama Mohamad Asep, alumnus Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016. Kini, setelah sekitar lima bulan bertugas di Pengadilan Agama Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, ia justru menemukan keseruan tersendiri dalam menangani beragam perkara, mulai harta bersama, waris, hingga kasus perceraian yang unik terkait pencabutan hak asuh anak. Lulusan Kampus Putih tahun 2020 ini bercerita bahwa niat menjadi hakim baru muncul menjelang wisuda. Sebelumnya, ia lebih tertarik pada dunia akademik dan kepenulisan. Tak heran, ia sempat magang di Jurnal Ulumuddin program studinya. Namun, kesempatan mencoba jalur peradilan datang di saat akhir. “Muncul pikiran untuk menjadi hakim itu ya mungkin di akhir-akhir masa wisuda. Karena ada informasi penerimaan hakim, kayaknya perlu dicoba. Seperti apa sih dunia peradilan itu, khususnya jadi seorang hakim?” kenang Asep. Perjalanannya menuju kursi hakim terbilang panjang. Setelah lulus pada 2020 — di tengah pandemi Covid-19 sehingga ujian skripsinya dilakukan secara daring — Asep sempat magang selama tiga bulan di Jurnal Ulumuddin. Setelah itu, ia fokus mempersiapkan tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sambil mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Ia mengikuti seleksi CPNS dua kali di Jakarta, meliputi Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang mencakup wawancara kompetensi dan wawancara bahasa Inggris. Lolos sebagai CPNS dengan formasi Analis Perkara Peradilan (APP), Asep ditempatkan di Pengadilan Agama Natuna selama satu tahun sepuluh bulan. Formasi APP angkatan 2021 memang diproyeksikan menjadi calon hakim. Setelah berstatus PNS, ia kembali mengikuti seleksi calon hakim, termasuk tes kompetensi bidang Pengadilan Agama dan psikotes. Lulus dari tahap tersebut, Asep menjalani magang di Pengadilan Agama Kota Malang selama satu tahun tiga bulan, sebelum akhirnya ditugaskan sebagai hakim di Pengadilan Agama Tanjung Balai Karimun. Wilayah Kepulauan Riau yang padat penduduk ini menghadirkan variasi perkara yang menantang. “Setiap hari kami belajar hal baru dari dinamika masyarakat yang beragam,” ujarnya. Menutup kisahnya, Asep berpesan kepada mahasiswa UMM untuk terus meningkatkan kualitas diri. “Fokuslah pada peningkatan kualitas diri agar kita benar-benar layak menjalani profesi saat ini maupun di masa depan. Asah terus critical thinking dan gunakan dalam berbagai aspek kehidupan,” pesannya. (Wildan/AS)

Susu Kambing Bebas Prengus dari Mahasiswa UMM Tembus KMI Expo 2025

Kota Malang, Bhirawa Susu kambing yang dulu identik dengan bau prengus kini justru menjadi produk premium bernilai tinggi dan diminati pasar internasional. Inovasi ini datang dari tangan kreatif Luqman Hakim Arifin, mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023. Melalui unit usaha bernama Embik Eco Green Farm,Luqman bersama timnya berhasil mengubah peternakan tradisional menjadi bisnis terintegrasi yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga berdampak sosial dan ramah lingkungan. Berawal dari latar belakang keluarga peternak kambing pedaging, Luqman melihat peluang besar di sektor susu kambing. Ia mulai mengembangkan kambing perah jenis Savera dan Etawa, serta menciptakan pakan khusus yang meningkatkan kandungan Omega 3 pada susu. Hasilnya, lahirlah produk unggulan Susu Kambing Tinggi Omega 3, yang diklaim memiliki kandungan empat kali lipat lebih tinggi dibanding susu sapi. Tidak hanya bergizi, susu ini juga melalui proses pengolahan khusus sehingga bebas bau prengus dan bahkan diolah menjadi es krim susu kambing yang mulai digemari pasar. “Susu ini sudah direkomendasikan dokter untuk terapi paru-paru dan jantung. Kami ingin masyarakat melihat susu kambing bukan sebagai alternatif, tapi sebagai produk kesehatan premium,” jelas Luqman. Selain susu kambing premium, Embik Farm juga memiliki dua lini bisnis lainnya,yakni Pembibitan Kambing Unggul – mencakup ras Senduro, Kaligesing, Jawa, dan Boer, yang memiliki postur besar dan daya tahan tinggi. Ada juga produk pupuk organik padat dan cair diolah dari kotoran kambing dan serabut kelapa, cocok untuk kebutuhan urban farming dan pertanian berkelanjutan. Dengan tiga lini produk ini, Embik Farm berhasil mencatat omzet mendekati dua digit per bulan dan memiliki enam titik reseller aktif di Kabupaten Malang. Sesuai namanya, Embik Farm juga menekankan konsep Disability Friendly Business. Tim Luqman rutin mengalokasikan hasil produksi susu untuk lansia dan keluarga disabilitas, serta memberdayakan warga sekitar-termasuk penyandang disabilitas mental-untuk terlibat dalam operasional kandang. Kini, mereka juga tengah mengembangkan website bisnis untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional. Kiprah Embik Farm semakin diakui setelah sukses meraih pendanaan P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) pada 2024 dan 2025. Prestasi tersebut mengantarkan tim ini sebagai delegasi UMM di ajang KMI Expo XVI 2025 yang akan digelar di Universitas Tidar, Magelang, pada 19-21 November mendatang. Luqman mengaku pencapaian ini tak lepas dari dukungan dosen pembimbing, Dr. Akhis Soleh Ismail, S.Pt., serta fasilitas kewirausahaan yang disediakan kampus. Ia pun mendorong mahasiswa lain agar berani memulai bisnis. “P2MW itu peluang besar. Kita didanai tanpa risiko, bahkan bisa dapat belasan hingga puluhan juta untuk mengembangkan usaha. Jadi jangan pernah takut mencoba,” pesan Luqman. [mut.wwn]