Bahasa Indonesia Mendunia: Pengakuan UNESCO dan Peran UMM dalam Diplomasi Kebahasaan

Medan-Mediadelegasi: Pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, menggunakan Bahasa Indonesia di forum UNESCO menjadi bukti nyata pengakuan resmi bahasa nasional Indonesia di panggung dunia. Momen bersejarah ini menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO ini merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. “Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia,” ujarnya, Kamis (6/11/2025). Pengakuan UNESCO ini merupakan bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Menurut Isnaini, hal ini adalah langkah yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Langkah UNESCO ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pasal 44 undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Implementasi konkret dari kebijakan ini diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya.

Mahasiswa UMM Olah Daun Mangga Jadi Lapisan Pelindung Telur agar Lebih Awet

  kumparan.com – Telur menjadi salah satu bahan pangan yang sering distok di rumah, tetapi umur simpannya kerap tidak terlalu lama. Untuk mengatasi masalah ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi kreatif berupa lapisan pelindung telur dari daun mangga agar lebih awet. Dilansir laman UMM, inovasi tersebut dibuat oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) UMM, yang diketuai Wirayuda Ahmad Yoga Bimantara dari Fakultas Pertanian Peternakan, dengan dosen pembimbing Apriliana Devi Anggraini. Kualitas telur biasanya mulai menurun setelah dua minggu karena rentan terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella. Untuk mengatasinya, tim mahasiswa membuat lapisan antimikroba dari ekstrak daun mangga golek tua yang kaya flavonoid, dicampur dengan kitosan untuk menghasilkan cairan pelapis. Proses pembuatannya cukup sederhana. Daun mangga diekstrak terlebih dahulu, lalu kandungan flavonoidnya dicek melalui Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan diperkuat dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).   Inovasi lapisan pelindung berbahan alami ini juga memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya adalah tidak meninggalkan residu kimia berbahaya sehingga lebih aman dikonsumsi dan ramah lingkungan dibanding metode pengawetan lain, seperti natrium silikat atau kapur. Tim peneliti juga mengemukakan bahwa biaya untuk membuat lapisan pelindung telur ini juga relatif terjangkau sehingga bisa diterapkan secara luas. Keunggulan lainnya adalah lapisan pelindung dari daun mangga tersebut tidak akan mengubah rasa dan aroma asli telur. Dengan begitu, masyarakat bisa menikmati telur segar lebih lama tanpa khawatir menurunnya kualitas maupun rasa. Lewat hasil inovasi ini, tim mahasiswa UMM berharap penelitian ini tidak hanya menjadi temuan akademis, tetapi juga memberi solusi nyata bagi masalah penyimpanan telur di rumah maupun industri. “Kami berharap penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri. Mengingat telur rentan terhadap kontaminasi mikroba, produk bio-coating kami menawarkan solusi yang aman dan sejalan dengan isu ramah lingkungan yang kini banyak diminati perusahaan,” pungkas Wira, dikutip dari laman UMM.

Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan Gelar Silaturahmi dan Audiensi Bersama Ikatan Muhammadiyah Malang

Kominfotik.bimakota – Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH, menggelar silaturahmi dan audiensi bersama Ikatan Muhammadiyah Malang (IMM) yang diwakili oleh Kepala Biro Bidang Riset Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan tersebut berlangsung di ruang kerja Wakil Wali Kota Bima pada hari (6/11/2025). Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka silaturahmi serta penjajakan kerja sama strategis antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Pemerintah Kota Bima, serta Konsorsium Perguruan Tinggi yang terdiri dari UMM, Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima). Kerja sama ini berfokus pada upaya mendukung implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kota Bima. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, SH menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inisiatif kolaborasi tersebut. “Pemerintah Kota Bima sangat terbuka untuk menjalin sinergi dengan perguruan tinggi. Kolaborasi seperti ini sangat penting dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia, meningkatkan kapasitas penelitian, serta menghadirkan inovasi bagi kemajuan daerah,” ujar Feri Sofiyan. Sementara itu, perwakilan dari UMM melalui Kepala Biro Bidang Riset menyampaikan bahwa pihaknya siap berkontribusi melalui berbagai program akademik dan riset terapan yang dapat mendukung pengembangan potensi Kota Bima. “Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi langkah dalam memperluas jangkauan implementasi Perguruan Tinggi dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya. Audiensi tersebut ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen untuk menindaklanjuti hasil pembahasan ke tahap kerja sama konkret antara Pemerintah Kota Bima dan Konsorsium Perguruan Tinggi.

Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Malangpariwara.com – Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (Djoko W)

Mahasiswa UMM, Abi Mufid Raih Prestasi di Pilmapres Nasional 2025

Kota Malang, Bhirawa Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Abi Mufid, mahasiswa Teknik Mesin UMM, yang sukses menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Berkat inovasinya yang berdampak langsung bagi masyarakat, Abi diganjar penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada ajang bergengsi tersebut yang digelar Oktober lalu. Abi dikenal aktif melakukan pengabdian berbasis riset di berbagai daerah. Ia mengembangkan turbin angin untuk sistem irigasi di wilayah terpencil, dengan desain sederhana namun efisien. Inovasi ini merupakan hasil penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2, membuktikan kualitas riset yang ia kembangkan di bangku kuliah. Abi juga berinovasi membantu para lansia di panti jompo Kota Malang melalui alat deteksi penyakit rheumatoid arthritis yang bekerja melalui analisis kuku. Teknologi ini dinilai mampu memangkas biaya dan waktu pemeriksaan medis, serta menjadi solusi tepat guna di masyarakat. Dalam ajang Pilmapres Nasional, peserta dinilai berdasarkan beberapa aspek utama, di antaranya gagasan kreatif, capaian unggulan, kecakapan, dan sikap pribadi. “Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab antar finalis. Selain itu, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki disiplin, kejujuran, kemampuan berpikir kritis, dan problem solving,” terang Abi. Mahasiswa multitalenta ini juga memiliki deretan prestasi lain di tingkat nasional dan internasional. Beberapa di antaranya yaitu Juara 2 Pilmapres LLDIKTI Wilayah VII (Jawa Timur), Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, serta memperoleh pendanaan PKM-KC 2024. Ia juga aktif menulis dan menjadi First Author buku ber-ISBN, dua jurnal internasional Scopus Q3, serta memegang hak cipta karya ilmiah. Abi mengaku, semua capaian tersebut tidak diraih secara instan. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, niat, dan bakti kepada orang tua sebagai dasar meraih prestasi. “Menjadi mahasiswa berprestasi nasional tidak bisa disiapkan dalam satu atau dua tahun. Harus ada niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Seperti beras yang kita masak hari ini, tentu tidak ditanam kemarin sore,” ujarnya penuh makna. Mengakhiri pesannya, Abi berharap semangat ini dapat menular kepada generasi muda Indonesia agar terus berproses, berinovasi, dan memiliki mentalitas tangguh. “Saya berharap ajang Pilmapres terus melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat. Mahasiswa harus menjadi pelopor solusi, bukan hanya penonton perubahan,” pungkasnya. [mut.wwn]

Lakukan Pengabdian Berbasis Riset, Mahasiswa UMM Raih Penghargaan Pilmapres Nasional

pwmu.co – Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abi Mufid, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Lewat riset yang berpijak pada pengabdian masyarakat, Abi meraih penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada ajang bergengsi yang digelar Oktober lalu. Abi dikenal sebagai sosok yang tak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial. Ia mengembangkan inovasi turbin angin untuk sistem irigasi di daerah terpencil serta alat deteksi rheumatoid arthritis melalui kuku bagi penghuni panti jompo. Menariknya, kedua program ini bukan sekadar gagasan sosial, melainkan hasil penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2. Dalam ajang Pilmapres Nasional, peserta dinilai melalui beberapa aspek ketat. Mulai dari gagasan kreatif yang memuat solusi atas masalah sosial, capaian unggulan seperti prestasi akademik, karya, kewirausahaan, hingga kecakapan komunikasi dan sikap personal. “Mahasiswa diminta mempresentasikan gagasannya, berdiskusi, dan menunjukkan kemampuan berpikir kritis serta problem solving. Sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab juga menjadi poin penting,” terang Abi. Dua inovasi unggulannya lahir dari semangat untuk menghadirkan riset yang berdampak nyata. Turbin angin rancangan Abi dirancang sederhana agar bisa diterapkan di wilayah yang sulit listrik. Sedangkan alat deteksi rheumatoid yang ia kembangkan membantu lansia mengenali gejala dini tanpa perlu pemeriksaan mahal di rumah sakit. “Tujuannya agar masyarakat di lapisan bawah juga bisa mendapatkan akses teknologi yang sederhana namun bermanfaat,” ujarnya. Selain dua inovasi tersebut, mahasiswa multitalenta ini juga mencatat deretan prestasi lainnya. Ia pernah meraih Juara 2 Pilmapres LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, serta menjadi penerima pendanaan PKM-KC 2024. “Menjadi Mawapres itu proses panjang. Harus dimulai sejak awal kuliah, bahkan sejak punya kesadaran untuk menjadi agent of change. Beras yang kita masak hari ini tidak ditanam kemarin sore,” tegasnya. Abi berharap, capaian yang ia raih bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. “Anak muda harus sadar bahwa masa depan ada di tangan mereka. Saya berharap Pilmapres menjadi ruang untuk melahirkan lebih banyak inovasi yang solutif dan berdampak luas,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

Lakukan Pengabdian Berbasis Riset, Mahasiswa UMM Sabet Penghargaan di Pilmapres Nasional

KLIKMU.CO – Prestasi gemilang berhasil ditorehkan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Bermula dari inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, Abi Mufid berhasil meraih penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pilmapres Oktober lalu. Abi dikenal aktif berkontribusi melalui inovasi turbin angin untuk daerah terpencil dan program deteksi rheumatoid arthritis di panti jompo. Semua kegiatan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2. Dalam kompetisi bergengsi ini, penilaian dilakukan secara ketat. Aspek pertama adalah gagasan kreatif, mencakup bagaimana ide seorang mawapres menyelesaikan permasalahan. Kedua, capaian unggulan meliputi 10 prestasi terbaik mahasiswa dari berbagai bidang, seperti kompetisi, penghargaan, hasil karya, kewirausahaan, dan pengabdian. Aspek berikutnya adalah kecakapan, di mana mahasiswa diminta melakukan presentasi dan sesi tanya jawab. Terakhir, aspek sikap menekankan kedisiplinan, kejujuran, kemampuan problem solving, dan critical thinking. Dua inovasi utama Abi menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah masyarakat. Pertama, ia menciptakan turbin angin untuk sistem irigasi dengan desain sederhana, ditempatkan di daerah terpencil, dan tervalidasi melalui penelitian risetnya. Kedua, ia melakukan pemberdayaan di salah satu rumah jompo di Kota Malang dengan inovasi deteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku, sehingga mengurangi biaya dan waktu jika harus ke rumah sakit. Abi juga memiliki segudang prestasi, antara lain Juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat LLDIKTI 7 (Jawa Timur), Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, pendanaan PKM KC 2024, partisipasi di Conference IRIC dan I-Contine, First Author buku ISBN, First Author Scopus Q3 (2 jurnal), pemegang hak cipta, dan berbagai penghargaan lainnya. Keseluruhan pencapaian ini bermula dari kedisiplinan dan bakti kepada kedua orang tua. Menjadi mahasiswa berprestasi nasional, menurut Abi, tidak bisa dipersiapkan dalam satu atau dua tahun saja. “Banyak hal yang harus disiapkan, salah satunya niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Anak muda harus mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari, sebab beras yang kita masak hari ini tidak ditanam kemarin sore,” tegasnya. Abi berharap semangat ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Ia menekankan pentingnya proses, mentalitas luar biasa, dan kesadaran bahwa masa depan ada di tangan generasi muda. “Selain itu, dengan adanya Pilmapres, saya berharap banyak inovasi berdampak luas bagi masyarakat, menciptakan solusi nyata melalui inovasi,” tuturnya. (Wildan/AS)

Rafanda Pavita, Menemukan Passion Lewat Dunia Radio

rri.co.ic – KBRN, Malang: Menjadi mahasiswa Fakultas Hukum tidak menghentikan langkah Rafanda Pavita, mahasiswa semester 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk terus mengembangkan diri di dunia penyiaran. Mahasiswi jurusan Ilmu Hukum ini aktif sebagai penyiar di UMM FM, radio kampus yang menjadi wadah kreativitas dan komunikasi mahasiswa UMM. Rafanda mengaku awalnya terjun ke dunia radio hanya karena rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba hal baru. “Awalnya tuh cuma coba-coba aja karena FOMO sama teman yang mau join UMM FM, dan waktu itu pas open recruitment crewnya heboh banget, jadi aku pilih UMM FM buat nambah ilmu baru,” ungkapnya saat di wawancarai oleh Irene Nathasya Penyiar RRI Pro 2 Malang, Kamis (6/11/2025). Meski begitu, perjalanan menjadi penyiar tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dirasakan Rafanda adalah mengatur waktu antara kuliah dan siaran. “Kuliah hukum tuh butuh fokus dan banyak baca, sementara jadi penyiar juga harus siap mental, riset topik, dan latihan siaran. Tantangannya di manajemen waktu supaya dua-duanya tetap maksimal,” jelasnya. Rafanda menambahkan bahwa sistem siaran di UMM FM cukup fleksibel. Para penyiar dapat mengisi jadwal siaran sesuai waktu kosong yang mereka miliki. “Kita isi dulu waktu kosong kita kapan, baru program director yang menentukan jadwal siarannya,” ujarnya. Dalam siarannya, Rafanda lebih menyukai topik-topik yang menarik dan relevan dengan minatnya. “Aku suka bahas yang nggak bikin ngantuk, misalnya tentang makeup atau musisi yang aku suka, biar pendengar juga ikut antusias,” katanya. Meski sedang menempuh studi hukum, Rafanda tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan karier di dunia media. “Sekarang aku lebih interest ke media dan kepenyiaran, tapi aku tetap nggak mau ninggalin tujuan utamaku di hukum. Mungkin nanti siaran bisa jadi side job,” tuturnya. Bagi Rafanda, kemampuan komunikasi publik adalah hal yang sangat penting, terutama bagi mahasiswa hukum. “Komunikasi publik itu penting banget, karena kemampuan menyampaikan argumen dengan jelas dan meyakinkan adalah kunci. Bukan cuma tahu hukum, tapi juga bisa menjelaskannya dengan cara yang mudah dipahami,” tambahnya. Menutup perbincangan, Rafanda memberi pesan kepada mahasiswa lain yang ingin mencoba dunia radio. “Jangan takut nggak bisa ngomong, karena radio itu tempat kita berkembang dan belajar jadi lebih baik lagi,” pungkasnya.

Wakil Wali Kota Bima Menerima Kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Malang terkait Penjajakan Kerja Sama Strategis untuk Percepatan Pembangunan Kota Bima

Prokopim Kota Bima, 6 November 2025— Pemerintah Kota Bima melalui Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH menerima audiensi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  yang diwakili oleh Kepala Biro Bidang Riset dan Kerja Sama di ruang kerja Wakil Wali Kota, pada Kamis pagi (6/11). Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka silaturahmi kelembagaan serta penjajakan kerjasama strategis antara UMM dengan Pemerintah Kota Bima, serta Konsorsium Perguruan Tinggi yang terdiri dari UMM, Universitas Brawijaya, dan UM Bima terkait implementasi Tridharma Perguruan Tinggi di Kota Bima. Kepala Biro Riset dan Kerjasama UMM menyampaikan harapan dan komitmen UMM untuk berkontribusi nyata dalam mendukung pembangunan daerah sesuai dengan visi dan misi yang tertuang pada RPJMD 2025 – 2030, khususnya pada pengembangan riset dan pemberdayaan masyarakat yang dapat menjadikan Kota Bima yang Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH menyambut baik kunjungan dan inisiatif dari UMM untuk menjalin sinergi bersama pemerintah daerah. Beliau menyampaikan bahwa pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif perguruan tinggi dalam menghadirkan riset dan inovasi yang dapat diterapkan di tingkat daerah. “Kami sangat terbuka untuk menjalin kemitraan dengan lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Malang. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian visi dan misi pembangunan Kota Bima, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat, penuntasan kemiskinan ekstrem, dan pelestarian lingkungan,” ujar Wakil Wali Kota Bima. Pertemuan ini menjadi langkah awal menuju penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kota Bima dan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai dasar penguatan kolaborasi di berbagai bidang yang relevan dengan kebutuhan daerah. Dengan adanya sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah, diharapkan dapat terwujud pembangunan Kota Bima yang lebih inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sejalan dengan arah visi misi Kota Bima sebagai “Kota Bima yang Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan”.

Lukman Hakim Arifin, Mahasiswa UMM yang Ubah Kandang Kambing Jadi Ladang Inovasi

Dua Kali Dapat Pendanaan dari Pemerintah Pusat radarmalang – AROMA jerami basah bercampur udara pagi menyelimuti Embik Farm Integrated Farming yang terletak di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Dari kejauhan terdengar suara kambing mengembik bersahutan seolah memanggil sang tuan muda yang tengah menakar pakan di tangannya. Di tempat sederhana yang berdiri di antara ladang dan perbukitan itu, Lukman Hakim Arifin menata langkah baru dalam hidupnya. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kini menjadi satu-satunya penerus usaha peternakan yang diwariskan mendiang ayahnya. Dulu, aroma kambing saja membuatnya berpaling. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika sang ayah wafat pada 2023, tanggung jawab besar itu jatuh ke pundaknya yang baru berusia 20 tahun. ”Awalnya saya nggak suka sama sekali,” tutur Lukman. Awalnya, Embik Farm hanya memiliki beberapa kambing pedaging yang dikelola secara konvensional. Kini, lebih dari 33 ekor kambing menempati kandang berukuran sedang di lahan miliknya. Dari jumlah itu, tiga di antaranya adalah kambing perah yang setiap hari menghasilkan susu segar. Jenis kambing yang ia pilih bukan sembarangan. Sapera, hasil persilangan antara Saanen asal Swiss dan Etawa dari Indonesia. Jenis ini terkenal dengan produktivitas susu yang stabil, meski tak sebanyak sapi perah. Dalam sehari, seekor Sapera mampu menghasilkan 2–3 liter susu. Tak besar, tapi cukup menjanjikan. Bagi Lukman, langkah itu menjadi awal perjalanan baru. Ia banyak belajar dari video YouTube, diskusi dengan peternak senior, dan mengikuti berbagai pelatihan agribisnis. Ia sadar menjual daging kambing saja tak cukup untuk membuat usaha bertahan. ”Saya mulai berpikir bagaimana supaya kambing ini bisa menghasilkan produk setiap hari. Dari situ saya fokus ke susu kambing,” ujarnya. Susu kambing, lanjutnya, punya kandungan gizi yang tak kalah dibandingkan susu sapi. Struktur lemaknya lebih kecil sehingga mudah dicerna, dan kadar laktosanya rendah, cocok untuk mereka yang intoleran terhadap laktosa. Kandungannya kaya protein, kalsium, magnesium, dan vitamin yang baik bagi tubuh. Tak heran, banyak dokter yang menyarankan susu kambing sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan penyakit kronis. Lukman bercerita tentang salah satu pelanggannya seorang bapak yang rutin membeli susu kambing untuk anaknya yang sakit paru-paru. ”Setelah beberapa waktu, katanya anaknya membaik. Saya ikut senang dengarnya,” ucapnya dengan mata berbinar. Tantangan besar datang dari stigma masyarakat yang menganggap susu kambing amis dan berbau tajam. Padahal, Lukman menemukan cara sederhana untuk mengatasinya dengan menambahkan daun pandan saat proses pengolahan. Aroma khas kambing pun tersamarkan. Menghasilkan rasa lembut dan harum alami. Inovasi itu bahkan mengantarkannya meraih Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024 dengan ide ”Susu Kambing Tinggi Omega 3”. Ia mendapatkan pendanaan sebesar Rp 20 juta untuk mengembangkan usahanya.