Universitas Muhammadiyah Malang Raih Penghargaan di Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI VII 2025

SEVIMA.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi gemilang di tingkat regional dengan meraih berbagai penghargaan dalam acara Anugerah Kampus Unggulan (AKU) LLDIKTI Wilayah VII Tahun 2025. Penghargaan ini diserahkan pada agenda Rapat Kerja Kepala LLDIKTI Se-Indonesia dan Pimpinan Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VII, yang diselenggarakan di Hotel Grand Mercure Mirama Malang pada hari Jum’at, 31 Oktober 2025. Berbagai penghargaan prestisius yang diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) antara lain; Kualitas Pelaporan Terbaik Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan (Akreditasi Institusi A/UNGGUL) Implementasi SPMI Terbaik Pengembangan Kreativitas Mahasiswa Kinerja Penelitian dan Abdimas Perguruan Tinggi Akademik. Pencapaian ini menjadi bukti nyata konsistensi UMM dalam menjaga mutu, meningkatkan daya saing, serta memperkuat kontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Acara bergengsi tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting nasional dan regional, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Fauzan, M.Pd., Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Prof. Ir. Togar Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU, Gubernur Jawa Timur Dr. (H.C.) Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si, serta Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. Seluruh rangkaian acara dapat disaksikan secara daring melalui kanal YouTube LLDIKTI7. Kegiatan Rapat Kerja dan Anugerah Kampus Unggulan 2025 ini juga menjadi momentum pemberian apresiasi kepada perguruan tinggi berprestasi di bawah LLDIKTI Wilayah VII. Acara ini terlaksana berkat kolaborasi antara LLDIKTI Wilayah VII dengan berbagai perguruan tinggi mitra di Jawa Timur. Melalui kegiatan ini, LLDIKTI Wilayah VII menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola pendidikan tinggi, mendorong inovasi dan kolaborasi berkelanjutan, serta memberikan penghargaan kepada kampus yang berkontribusi nyata dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan sinergi dan semangat berinovasi, LLDIKTI Wilayah VII optimis mampu menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Sumber: Instagram (ummcampus)

Kemendiktisaintek gandeng UMPB dan UMM terapkan energi terbarukan di Manokwari

antaranews – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terapkan energi terbarukan untuk pengembangan masyarakat di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Ketua Tim UMPB Teguh Santoso di Manokwari, Jumat, mengatakan kegiatan bertajuk Transformasi Energi Kampung: Teknologi Solar Panel untuk Meningkatkan Ekonomi dan Industri Kreatif Masyarakat Asli Papua ini dilaksanakan di Kampung Duwin, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari pada 15 September hingga 15 November 2025. “Program ini merupakan bentuk sinergi antar-perguruan tinggi dalam menghadirkan teknologi tepat guna dan energi terbarukan bagi wilayah 3T, yakni terdepan, terluar, dan tertinggal,” ujar Teguh. Ia menjelaskan kegiatan tersebut berfokus pada penerapan panel surya (solar cell) untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga sekaligus mendukung aktivitas ekonomi kreatif masyarakat kampung. Dengan listrik mandiri dari tenaga surya, masyarakat dapat berproduksi, berjualan, dan memperluas pasar tanpa bergantung pada jaringan listrik kota Sebanyak lima paket solar panel telah dipasang di Kampung Duwin, untuk mencukupi kebutuhan listrik pada dua rumah warga, balai kampung, booth kontainer usaha, dan pompa air. “Teknologi hadir bukan sekadar alat, tetapi menjadi jalan perubahan. Energi tersebut digunakan untuk penerangan, kegiatan usaha kecil, serta mendukung penerangan sehingga warga bias memproduksi kerajinan lokal dan suvenir khas Papua,” ujarnya. Selain instalasi perangkat, tim juga memberikan pelatihan pengelolaan energi surya, pelatihan promosi digital melalui media sosial, serta strategi branding dan pemasaran daring bagi pelaku usaha lokal. Sebagai bentuk dukungan lanjutan, tim menyerahkan satu unit booth kontainer jualan bertenaga surya yang dapat digunakan masyarakat untuk berdagang secara mandiri. Menurut Teguh, program hibah Kosabangsa yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek ini menjadi bentuk nyata kolaborasi kampus dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dan inovasi ekonomi kreatif. “Melalui program ini, kami berharap masyarakat Kampung Duwin dapat mandiri secara energi sekaligus mampu mengembangkan potensi ekonomi lokal yang berkelanjutan,” tambahnya.

Dosen UMPB dan UMM Transformasikan Energi Solar Panel di Kampung Duwin Papua

wartaptm – Suara genset yang dulu menjadi satu-satunya penanda kehidupan malam di Kampung Duwin, kini mulai tergantikan oleh cahaya lampu yang bersumber dari tenaga surya. Perubahan ini lahir dari tangan para dosen Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Hibah Kosabangsa 2025 yang digagas Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program bertajuk “Transformasi Energi Kampung melalui Teknologi Solar Panel untuk Meningkatkan Ekonomi dan Industri Kreatif Masyarakat Asli Papua” ini juga menjadi upaya sinergitas antar perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi bagi wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Energi Surya, Cahaya Baru untuk Kampung Duwin Sejak pertengahan September hingga November 2025, Teguh Santoso, dosen UMPB, bersama tim pendamping dari UMM yang dipimpin oleh Machmud Effendy, melakukan serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari. Salah satu fokus utama mereka adalah menghadirkan listrik mandiri berbasis solar panel. “Teknologi harus menjadi jalan perubahan, bukan sekadar alat,” ujar Teguh Santoso. “Dengan tenaga surya, masyarakat kini bisa berproduksi, berdagang, bahkan memperluas pasar tanpa tergantung pada jaringan listrik kota.” Pemasangan solar panel tak hanya memberi penerangan rumah tangga, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya ekonomi kreatif. Warga kini bisa memproduksi berbagai kerajinan khas Papua—mulai dari tas noken, hiasan kepala, hingga souvenir tradisional—dengan dukungan energi terbarukan. Tim juga mengadakan pelatihan pembuatan kerajinan dan pengelolaan energi agar masyarakat mampu mengelola teknologi secara mandiri dan berkelanjutan. Menyadari pentingnya pemasaran digital di era modern, tim UMPB dan UMM turut membekali masyarakat dengan kemampuan promosi daring. Pelatihan mencakup cara memasarkan produk lewat media sosial, hingga strategi branding agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Sebagai bentuk dukungan konkret, tim menyerahkan satu booth kontainer jualan lengkap dengan panel surya. Fasilitas ini memungkinkan pelaku usaha lokal berdagang di lokasi strategis dengan sumber listrik mandiri, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis energi hijau di Kampung Duwin. Pompa Surya untuk Pertanian dan Bibit Unggul Tak berhenti pada sektor kerajinan, program ini juga menyalakan semangat baru di lahan pertanian. Masyarakat yang sebelumnya harus berjalan jauh untuk mengambil air kini terbantu dengan mesin pompa air bertenaga surya. Air yang dulu menjadi tantangan kini menjadi harapan. Para petani juga mendapatkan pendampingan dalam teknik budidaya jagung, cabai, dan sayuran, serta bantuan bibit unggul untuk meningkatkan hasil panen. Tim bahkan menyerahkan mesin penggiling jagung agar hasil pertanian memiliki daya simpan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi. Pelatihan pemasaran digital turut diberikan, agar hasil bumi Papua bisa lebih dikenal di luar kampung. Dalam penutupan kegiatan, Teguh Santoso menyampaikan apresiasi kepada DRTPM dan Kemendiktisaintek atas kepercayaan melalui Hibah Kosabangsa 2025. Ia juga mengapresiasi peran UMM sebagai mitra pendamping yang memastikan kegiatan berjalan efektif dan berdampak luas. “Berkat dukungan ini, masyarakat Kampung Duwin kini memiliki akses energi, peluang usaha, dan semangat baru untuk mandiri,” tuturnya. Pemerintah Distrik Warmare serta tokoh masyarakat setempat pun menyambut baik inisiatif ini. Mereka menilai program tersebut memberi perubahan nyata bagi kehidupan warga—dari rumah yang kini terang, lahan yang lebih produktif, hingga semangat ekonomi yang mulai tumbuh. Melalui kolaborasi antara UMPB dan UMM, Muhammadiyah kembali menunjukkan perannya sebagai pelopor pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Program ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah terpencil lainnya di Indonesia.

Belajar Bahasa dan Budaya Jepang Kini Bisa di Japan Corner UMM

Tugusatu.com, MALANG—Belajar bahasa dan budaya Jepang kini bisa di Malang, yakni di Japan Corner yang hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, Rabu (5/11/2025). Dengan penandatanganan MoU itu, maka Kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara.  dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Adapun keberadaan Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, memberi selamat atas kerja sama yang terjalin. Dia menegaskan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Kaori menyampaikan, pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Dia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini juga menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, mengungkapkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerjasama pertama dengan universitas berbasis Islam. Dia menuturkan bahwa SCU yang telah berdiri selama lebih dari tujuh dekade memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Karena itu, kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global universitasnya untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia. Dia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi. Melalui kerja sama ini, SCU ingin berfokus pada pengembangan manusia yang berdaya saing sekaligus menjunjung tinggi keberagaman. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. MoU ini tidak hanya membuka jalan bagi kegiatan akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang baru untuk dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Menurutnya, kerja sama dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui penguatan riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Dia juga mengapresiasi dukungan penuh dari Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner yang akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang di kampus UMM. “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.

Dosen teknik mesin UMM Wujudkan TPST Mulyoagung sebagai Pilot Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

MALANG POST – Sebuah langkah nyata menuju kota dan lingkungan yang lebih bersih kini digalakkan Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim dosen dan mahasiswa Teknik Mesin FT UMM meluncurkan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Bumi Bersih, Masa Depan Hijau: Inisiatif Sentuhan Teknologi pada Pengelolaan Sampah di TPST Mulyoagung”, didanai Kemendiktisaintek melalui Program Hibah PKM Pengabdian Kemitraan Masyarakat 2025. Inisiatif yang dilaksanakan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Mulyoagung, Kabupaten Malang ini bertujuan memperkuat pengelolaan sampah berbasis teknologi tepat guna. Tim pengabdi yang dipimpin Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, bersama Dr. Moch Syamsul Ma’arif, MT, dan Dr. Erna Retna Rahadjeng, ME., plus 6 Mahasiswa Teknik Mesin UMM menghadirkan serangkaian inovasi alat dan sistem yang mendorong daur ulang, efisiensi operasional, serta peningkatan kapasitas komunitas dan pengelola TPST. “Kegiatan ini mengintegrasikan riset dan rekayasa teknologi ramah lingkungan yang kami kembangkan berfokus desain mesin pengolahan sampah,” ujar Ketua Tim Pelaksana Iis Siti Aisyah. “Kami ingin solusi nyata dan aplikatif bagi pengelolaan sampah di tingkat komunitas. Teknologi bukan sekadar alat, tetapi jembatan perubahan perilaku menuju kebersihan dan lingkungan yang lebih baik,” tambahnya. Beberapa inovasi yang diterapkan antara lain: Mesin pemilah sampah otomatis berdesain khusus untuk efisiensi operasional. Pelatihan operasional dan perawatan mesin bagi pengelola TPST. Pelatihan digital marketing untuk memperluas diversifikasi produk TPST, termasuk budidaya maggot sebagai alternatif produk unggulan selain kompos. Semua teknologi dirancang dengan fokus pada efisiensi energi, kemudahan perawatan, serta kecocokan dengan kondisi lokal TPST Mulyoagung. Selain itu, program ini juga menekankan pendampingan masyarakat melalui sosialisasi memilah sampah dari rumah tangga dan edukasi ekonomi sirkular—mengolah sisa rumah tangga menjadi Eco Enzime untuk warga RT 1 RW 2 sekitar TPST serta pengurus lingkungan. Disatu sisi dukungan dari TPST Mulyoagung sangat diapresiasi. Nugraha Wijayanto, SE, MM, Ketua TPST Mulyoagung, menyatakan bahwa kolaborasi dengan UMM membawa dorongan besar untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pengelolaan sampah. “Inovasi dan pemeliharaan alat dari tim UMM sangat berarti. Kami berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut,” ujarnya. Melalui inisiatif “Bumi Bersih, Masa Depan Hijau”, UMM berambisi memperkuat sinergi kampus dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan bersih sekaligus mendukung SDGs 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Program ini juga menjadi bagian nyata implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah melalui pengabdian masyarakat berbasis riset dan inovasi. Dengan kolaborasi lintas sektor dan teknologi tepat guna, TPST Mulyoagung diharapkan menjadi model pengelolaan sampah terpadu berkelanjutan yang bisa direplikasi di wilayah lain. (M. Abd. Rachman. Rozzi)

UMM Resmikan Japan Corner, Babak Baru Kolaborasi Akademik Indonesia–Jepang

pwmu.co – Semangat inovasi dan ketekunan khas Negeri Sakura kini hadir di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. Penandatanganan kerja sama ini berlangsung di UMM, Rabu (5/11/2025), disertai peresmian Japan Academic and Cultural Center (Japan Corner) sebagai simbol nyata sinergi akademik dan kebudayaan antara UMM dan SCU. Kerja Sama Perdana Shimonoseki dengan Indonesia Menariknya, kolaborasi ini menjadi kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmen kedua institusi dalam memperkuat pertukaran ilmu, riset, dan kebudayaan lintas negara. Melalui MoU ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kerja sama dalam bidang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pengelolaan Japan Corner di kampus UMM. Kehadiran Japan Corner diharapkan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, serta wadah bagi riset dan inovasi bersama. Fasilitas ini juga disiapkan untuk membekali mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Dukungan Pemerintah Jepang Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin. Ia menegaskan, hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting untuk membangun masa depan kedua bangsa. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda dalam membentuk masyarakat berkelanjutan,” ujarnya. Kaori juga menyebut, kemitraan UMM dan SCU menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemahaman lintas budaya. “Kolaborasi ini bukan sekadar pertukaran ilmu, tapi juga pembelajaran nilai—bagaimana generasi muda menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas budayanya,” imbuhnya. Kebanggaan Shimonoseki City University Presiden SCU, Prof. Chang Wan Han, menuturkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama universitasnya dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara, sekaligus universitas berbasis Islam. “SCU sudah berdiri lebih dari tujuh dekade dan memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global kami untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia,” ungkapnya. Ia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Di tengah kemajuan teknologi, kami ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan—menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” tegasnya. Langkah Internasionalisasi Kampus Putih Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan, kerja sama ini menjadi bagian penting dari agenda internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. “MoU ini tidak hanya membuka peluang akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Kerja sama ini sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya. Nazaruddin juga mengapresiasi dukungan Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner. “Kami berharap Japan Corner menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan berkolaborasi. Dari sini akan lahir ide-ide besar yang memperkuat hubungan antarbangsa,” tambahnya. Simbol Harmonisasi Dua Budaya Acara peresmian Japan Corner ditutup dengan penampilan memukau dari UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian Senbonzakura—kolaborasi unik antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Penampilan itu menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini semakin erat terjalin melalui kerja sama akademik dan kebudayaan antara UMM dan Shimonoseki City University. Dengan langkah ini, UMM kembali menunjukkan perannya sebagai kampus Muhammadiyah yang terus memperluas jejaring global, membawa semangat dari Malang untuk dunia. *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

Turbin Angin dan Deteksi Rheumatoid Antarkan Mahasiswa UMM Raih Anugerah Pilmapres 2025

MALANG POST – Prestasi gemilang berhasil ditorehkan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Bermula dari inovasi hebat agar dapat berdampak pada masyarakat. Ternyata kiat sukses ini berhasil mengantarkannya meraih penghargaan anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pilmapres 2025, Oktober lalu. Dia adalah Abi Mufid yang telah lama berkontribusi lebih pada masyarakat. Melalui inovasi turbin angin di daerah terpencil dan mengatasi rheumatoid di panti jompo. Bahkan kegiatan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiahnya yang sudah terpublikasi di jurnal Scopus Q2. Dalam kompetisi bergengsi ini, terdapat beberapa aspek yang dinilai secara ketat. Pertama adalah gagasan kreatif yang mencakup bagaimana ide seorang mawapres untuk menyelesaikan permasalahan. Kedua adalah capaian unggulan yaitu 10 prestasi terbaik mahasiswa dari berbagai bidang seperti kompetisi, pengakuan, penghargaan, hasil karya, kewirausahaan dan pengabdian. Kemudian ada juga aspek kecakapan. “Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab antara satu sama lain. Terakhir yakni sikap. Seorang mawapres harus bersikap baik, disiplin, jujur. Serta tentunya mempunyai problem solving, critical thinking,” ungkapnya. Dua inovasi utama dari Abi, menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap masalah masyarakat. Dia membuat inovasi turbin angin untuk sistem irigasi dengan desain sederhana dan ditempatkan di daerah terpencil. Desain ini sudah tervalidasi pada penelitian turbin angin hasil risetnya yang telah dipublikasi. Tak hanya itu, dia juga membuat inovasi dan melakukan pemberdayaan pada salah satu rumah jompo di Kota Malang. Tujuannya untuk mendeteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku. Ini sangat membantu karena apabila melakukan pengecekkan di rumah sakit, akan memakan banyak biaya dan waktu. Kemudian, mahasiswa multitalenta ini telah mengumpulkan segudang prestasi, termasuk Juara 2 pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat LLDIKTI 7 (Jawa Timur), Juara 1 program kreativitas mahasiswa Muhammadiyah, juara 2 PIMTANAS, juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, pendanaan PKM KC 2024, Conference IRIC dan I-Contine, First Author buku ISBN, First Author Scopus Q3 (2 jurnal), pemegang hak cipta, dan lainnya. Semua pencapain dan prestasinya ini dimulai dari kedisiplinan dan berbakti kepada kedua orang tua. Proses menjadi mahasiswa berprestasi nasional dimulai sedari mahasiswa baru. Menurutnya, menjadi seorang mawapres nasional tidak bisa disiapkan dalam setahun atau dua tahun. “Banyak hal yang harus disiapkan salah satunya adalah niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Jadi anak muda haurs mempersiapkan diri dari jauh jauh hari, sebab beras yang kita masak hari ini tidak di tanam kemarin sore,” tegasnya. Mengakhiri kalimatnya, Abi berharap semangat ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Mahasiswa dan anak muda di Indonesia terus berproses dan memiliki mentalitas yang luar biasa, menjadi generasi penerus bangsa yang selalu sadar bahwa masa depan di tangannya. “Selain itu dengan adanya pilmapres saya berharap banyak inovasi-inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat, menciptakan sebuah inovasi solutif,” tutupnya. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Malangpariwara.com – Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (Djoko W)

UMM Raih Penghargaan Implementasi SPMI Terbaik 2025 dari LLDIKTI Wilayah VII

SEVIMA.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Dalam ajang Anugerah Kampus Unggulan 2025 yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII, UMM berhasil meraih peringkat pertama kategori Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) terbaik untuk perguruan tinggi berakreditasi institusi A/Unggul. Capaian ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam menjaga dan mengembangkan budaya mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan di seluruh lini universitas — mulai dari tingkat fakultas hingga program studi. Kepala Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM, Prof. Jabal Tarik Ibrahim, menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan atas penghargaan tersebut. “Alhamdulillah, SPMI kita masih menjadi yang terbaik di antara kampus-kampus unggul di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII,” ujarnya. Menurut Prof. Jabal, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan cerminan bahwa budaya mutu telah mengakar kuat dalam seluruh aktivitas akademik dan nonakademik UMM. “SPMI bukan sekadar dokumen atau laporan, tetapi sistem yang hidup — yang menggerakkan seluruh komponen kampus agar terus melakukan perbaikan berkelanjutan,” jelasnya. Ia menegaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur universitas, termasuk dukungan penuh pimpinan. “Rektor dan para Wakil Rektor selalu memberikan arahan dan motivasi, bahkan ikut terlibat langsung dalam evaluasi mutu. Komitmen pimpinan inilah yang menjaga konsistensi sistem kita,” tambahnya. Prof. Jabal juga memberikan apresiasi kepada para pelaksana mutu di tingkat Unit Pengelola Program Studi (UPPS) dan Program Studi (PS) yang menjadi ujung tombak penerapan standar mutu akademik dan layanan. Tak lupa, ia memuji kinerja Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI) serta para auditor yang konsisten melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan. “Tim GPMI dan auditor adalah mata dan telinga BPMI di lapangan. Mereka berperan penting menjaga objektivitas dan kontinuitas sistem mutu kita,” katanya. Lebih lanjut, Prof. Jabal menegaskan bahwa penghargaan ini tidak boleh membuat UMM berpuas diri. Ia mengingatkan, mempertahankan mutu jauh lebih sulit daripada meraihnya. “Prestasi ini bukan akhir, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Tantangan mutu ke depan semakin kompleks, sehingga UMM harus terus adaptif dan inovatif,” tegasnya. Sementara itu, Sekretaris BPMI UMM, Samin, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika atas komitmen menjaga mutu. “Penghargaan ini hasil kerja kolektif keluarga besar UMM. Kita patut bersyukur, namun tidak boleh berhenti berbenah. Mutu adalah napas universitas unggul,” ujarnya.

HALLO MALANG – Kebijakan pelarangan impor pakaian bekas atau yang populer disebut thrifting kembali menjadi sorotan publik. Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mendukung larangan total impor pakaian bekas menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Pemerintah beralasan langkah ini diperlukan untuk menyelamatkan industri tekstil dalam negeri yang tengah lesu. Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai berpotensi mematikan sektor usaha kecil dan menengah yang bergantung pada perdagangan barang bekas. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyudi, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara hati-hati. Pria yang akrab disapa Yudi itu sepakat bahwa perlindungan terhadap industri lokal penting dilakukan. Namun, menurutnya, pelarangan total tanpa solusi yang matang justru bisa memicu gejolak ekonomi baru. “Industri domestik harus dikuatkan dulu sebelum langsung melarang total,” tegas Yudi, yang juga menjabat sebagai Dekan FEB UMM, Rabu 5 November 2025. Menurut Yudi, tujuan utama dari kebijakan ini seharusnya bukan hanya menekan defisit perdagangan, tetapi mendorong daya saing industri tekstil nasional. Ia menilai kekhawatiran pemerintah terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tekstil memang beralasan, mengingat industri ini menyerap banyak tenaga kerja. Namun, sekadar melarang tanpa memperkuat kapasitas produksi dan inovasi justru tidak menyentuh akar persoalan. Konsumen, lanjut Yudi, memilih produk thrift impor bukan semata karena murah, tetapi juga karena kualitas dan desainnya yang lebih menarik. “Konsumen mencari barang bekas karena kualitasnya bagus, harganya terjangkau, dan lebih fashionable. Jadi industri lokal harus bisa memenuhi faktor-faktor itu juga,” ujar Yudi. Ia menambahkan, permasalahan industri tekstil lokal bukan hanya soal thrifting, tetapi juga persaingan dengan produk baru murah asal luar negeri, terutama dari Tiongkok.