Deteksi Anemia tanpa Jarum, Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Berbasis AI

Tampilan aplikasi “Eye-Nemia+” yang dikembangkan oleh dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aplikasi ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi potensi anemia melalui analisis citra konjungtiva mata hanya dengan menggunakan kamera smartphone. Pemeriksaan anemia kini tak lagi menakutkan. Melalui inovasi berbasis AI, Dosen Vokasi UMM menghadirkan aplikasi yang mampu mengestimasi kadar hemoglobin hanya dari foto mata menggunakan kamera smartphone. Tagar.co – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, pemeriksaan kesehatan kini semakin praktis dan mudah diakses. Menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap prosedur pengambilan darah yang sering dianggap tidak nyaman, Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., berhasil mengembangkan sebuah aplikasi deteksi anemia mandiri berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diberi nama Eye-Nemia. Inovasi ini memungkinkan pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan hanya dengan memanfaatkan kamera smartphone, sehingga dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja dari rumah. Pengembangan teknologi medis ini tidak dilakukan secara individual. Lailis berkolaborasi dengan tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin dari Vokasi UMM, di antaranya La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T. dan Zulfatman, Ph.D. Kolaborasi tersebut bertujuan menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, serta mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” tegas Lailis, dikuyop dari siaran pers Humas UMM, Selasa (14/4/26). Sebagai Dekan Vokasi UMM, Lailis menjelaskan bahwa aplikasi tersebut bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva—selaput lendir pada mata—sebagai indikator visual anemia. Foto mata yang diambil menggunakan kamera ponsel akan diproses oleh sistem AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Teknologi ini mampu membaca pola kecerahan serta karakteristik warna yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), kemudian mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini menjadi terobosan penting karena mampu menggeser praktik uji laboratorium menjadi pemeriksaan sederhana melalui perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika dipakai oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” jelasnya. Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., Dosen sekaligus Dekan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), penggagas aplikasi deteksi anemia berbasis kecerdasan buatan “Eye-Nemia+”. Gagasan inovatif ini bukanlah hasil kerja instan. Penelitian tersebut berawal dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang menitikberatkan pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Dalam proses pengembangannya, sistem berbasis machine learning ini terus “belajar” menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga saat ini, tingkat akurasi aplikasi telah mencapai sekitar 80 persen, sebuah capaian yang menjanjikan untuk teknologi yang masih berada dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisanya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” ungkapnya. Ke depan, Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri yang dapat digunakan secara rutin oleh masyarakat luas. Pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang memerlukan pemantauan kadar hemoglobin secara berkala tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tutup Lailis optimis. Dengan inovasi ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Aplikasi deteksi anemia berbasis AI ini diharapkan menjadi langkah awal menuju layanan kesehatan yang lebih inklusif, cepat, dan mudah diakses oleh semua kalangan. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni
Mahasiswa UMM Taklukkan Lab Rahasia di Taiwan

Adrian Mutu Hidayat MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Industri semikonduktor dunia adalah medan perang teknologi yang menuntut presisi mutlak. Di sektor di mana kesalahan mikroskopis bisa berarti kerugian jutaan dolar, seorang mahasiswa asal Malang, Jawa Timur, justru dipercaya untuk meracik algoritma masa depan. Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kini tengah menjadi sorotan. Melalui skema Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, Adrian tidak sekadar duduk di bangku kuliah. Ia terjun langsung ke jantung riset strategis: Lean Management Laboratory, sebuah pusat keunggulan yang fokus pada efisiensi manufaktur berbasis data. Sejak Februari 2026, Adrian memikul tanggung jawab besar dalam proyek defect prediction (prediksi cacat produksi). Fokusnya bukan main-main, yakni mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang bernilai sangat tinggi. Mengingat industri ini merupakan pilar ekonomi global yang sangat sensitif, proyek Adrian terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan raksasa dunia dengan tingkat kerahasiaan tinggi. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu global seperti perang atau kebijakan ekonomi internasional dibahas dalam konteks industri,” ungkap Adrian (10/4). Melalui sentuhan Machine Learning, Adrian mengembangkan sistem cerdas yang mampu mendeteksi kegagalan produksi sebelum terjadi. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing dalam ekosistem riset yang paling kompetitif sekalipun. Perjalanan Adrian tidaklah instan. Ia harus berhadapan dengan “kejutan budaya” akademik di Taiwan yang sangat terintegrasi dengan kebutuhan industri nyata. Kedisiplinan tinggi dan pola pikir ilmiah yang tajam menjadi syarat mutlak untuk bertahan. “Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan fokus riset yang lebih spesifik. Integrasi internasional di sini sangat terasa; semua topik diarahkan ke level global,” tambahnya. Prestasi gemilang Adrian di Taiwan membuahkan hasil manis. Ia kini mendapatkan jalur fast track untuk melanjutkan studi Magister (S2) di NFU dengan durasi yang lebih singkat. Langkah berani ini didukung penuh oleh UMM melalui fleksibilitas konversi SKS dan bantuan administrasi yang memadai. (imm/udi) WhatsAppFacebookXPrintSambung
UMM Apresiasi Aktivis Kampus dengan Beasiswa dan Pengakuan Prestasi

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) KORANMANADO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan memberikan apresiasi kepada aktivis kampus melalui skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi, yang diumumkan pada Sabtu, 4 April 2026. Langkah ini bertujuan untuk mengubah pandangan terhadap kegiatan organisasi mahasiswa (Ormawa) di lingkungan kampus. Rencana ini muncul dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner. Keputusan ini mencerminkan komitmen UMM untuk mendukung mahasiswa yang aktif dalam kegiatan BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menegaskan bahwa kontribusi mahasiswa dalam organisasi kampus adalah aset berharga bagi universitas. Laman UMM melaporkan bahwa universitas sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis, yang diharapkan dapat mendukung mereka secara finansial dan akademis. Keaktifan mahasiswa dalam organisasi akan dikategorikan sebagai prestasi. Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyambut baik kebijakan ini. Ia melihatnya sebagai solusi untuk mengatasi dilema mahasiswa dalam membagi waktu dan sumber daya antara kuliah, akademik, dan tanggung jawab organisasi. Wahyuddin yakin bahwa minat mahasiswa dalam berorganisasi akan meningkat dengan adanya dukungan beasiswa, karena berorganisasi mengembangkan soft skill yang tidak didapatkan di kelas. Perwakilan UKM, Siti Aminah, merasa lega dengan kebijakan ini karena peran aktivis yang selama ini kurang diapresiasi akhirnya mendapatkan pengakuan yang setara. Siti merasakan bahwa selama ini peran aktivis sering dianggap ‘pejuang di balik layar’. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, mereka merasa dihargai, membuktikan bahwa UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya dari nilai akademik. Dengan dukungan beasiswa dan pengakuan resmi, para aktivis UMM diharapkan akan tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian dan integritas tinggi. Kebijakan ini merupakan upaya UMM untuk memberikan penghargaan lebih kepada para aktivis kampus, yang dilansir dari Edukasi.
Kenaikan Harga Plastik Membebani Pelaku UMKM di Tengah Gejolak Global

Abdul Mustafa, pedagang plastik di Pasar Baru, Kota Balikpapan, mengaku harga plastik terus mengalami kenaikan setiap tiga hari sekali.(KOMPAS.COM/Erik Alfian) ASATUNEWS – Kenaikan harga plastik kemasan telah membebani pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sejak akhir Maret 2026. Kenaikan harga mencapai 30 hingga 40 persen di Jakarta, dengan lonjakan tertinggi terjadi di Jakarta Barat, menurut laporan yang dilansir dari Kompas.com pada Sabtu, 11 April 2026. Kenaikan harga ini dirasakan pada berbagai jenis plastik, termasuk kantong kresek dan kemasan makanan dan minuman. Harga kantong kresek meningkat sekitar 40 persen menjadi Rp 17.000 per pak dari sebelumnya Rp 11.000. Sementara itu, plastik kemasan makanan atau minuman berbahan PET juga mengalami kenaikan sekitar 35 persen menjadi Rp 22.000 per pak dari sebelumnya Rp 15.771, dilansir dari Kompas.com. Slamet, seorang pedagang angkringan di Sleman, Yogyakarta, mengatakan kenaikan harga plastik menjadi tambahan pengeluaran tak terduga. Ia menjelaskan bahwa harga plastik bening yang biasa digunakan telah naik dari Rp 36.000 menjadi Rp 42.000 per pak sebelum Lebaran. Pedagang lain, Tari, pengusaha laundry di Sleman, juga merasakan dampak serupa ketika membeli plastik dalam jumlah besar. Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, mengatakan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh terganggunya pasokan bahan baku global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi petrokimia dunia. Akibatnya, rantai pasokan bahan baku plastik global terganggu. Atik Purmiyati, Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 hingga 80 persen hingga April 2026. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada impor bahan baku plastik sebesar 60 persen. M Sri Wahyudi Suliswanto, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global. Pelaku UMKM dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual produk atau mengurangi keuntungan. Kondisi ini menciptakan dilema bagi pelaku usaha. Mereka harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnisnya. Teguh, seorang penjual pempek gerobakan di Jakarta Selatan, mengakui bahwa kenaikan harga plastik memaksanya berganti merek dengan kualitas di bawah standar untuk menekan biaya. Ia juga tidak lagi membeli stok plastik dalam jumlah besar. “Saya pakai yang lain, harganya masih Rp 6.000, tapi isinya memang lebih sedikit,” ujar Teguh.
Kenaikan Harga Plastik Bebani UMKM: Pedagang Hadapi Dilema

Abdul Mustafa, pedagang plastik di Pasar Baru, Kota Balikpapan, mengaku harga plastik terus mengalami kenaikan setiap tiga hari sekali.(KOMPAS.COM/Erik Alfian) READERS.ID – Kenaikan harga plastik kemasan yang signifikan telah dirasakan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sejak April 2026. Kenaikan harga ini, yang mencapai 30 hingga 80 persen, menempatkan pedagang pada situasi sulit. Kenaikan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku global serta konflik geopolitik yang mempengaruhi harga minyak dunia. Kenaikan harga plastik kemasan, menurut laporan yang dilansir dari Kompas.com, telah mencapai 30-40 persen di beberapa wilayah pada akhir Maret 2026. Sementara itu, pedagang di Sleman, Yogyakarta, merasakan kenaikan harga plastik bening dari Rp 36.000 menjadi Rp 42.000 per pak. Dampak kenaikan harga plastik sangat dirasakan oleh pedagang, seperti Slamet, pedagang angkringan di Sleman. Ia menyebutkan biaya pengeluaran untuk plastik menjadi tambahan yang tidak terduga. Di sisi lain, Tari, pengusaha laundry di Sleman, juga menghadapi kenaikan harga yang signifikan untuk plastik pembungkus pakaian. Peningkatan harga bahan baku pembuatan plastik, yang sebagian besar diimpor, menjadikan kenaikan harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan pasokan global, seperti yang dijelaskan oleh Atik Purmiyati, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga (UNAIR). Ketergantungan terhadap impor mencapai 60 persen, yang membuat harga plastik di Indonesia sangat sensitif. Pedagang, seperti Teguh, seorang penjual pempek di Jakarta Selatan, harus mencari alternatif plastik dengan kualitas yang lebih rendah untuk menekan biaya. Hal ini mencerminkan dilema yang dihadapi oleh UMKM, yaitu memilih antara menaikkan harga jual produk atau mengurangi margin keuntungan. M. Sri Wahyudi Suliswanto, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global memicu lonjakan harga plastik hingga 100 persen. Hal ini memaksa UMKM untuk harus menghadapi dua pilihan sulit. “Ini plastik (bening) ini sebelum Lebaran harganya Rp 36.000, kemarin beli sudah Rp 42.000,” kata Slamet, pedagang angkringan, dilansir dari Kompas.com. Kenaikan harga plastik terus menjadi tantangan bagi para pedagang kecil.
Lewat Kemitraan UMM dengan UNESCO, Inovasi Air dan Energi Terbarukan Digenjot

Sistem irigasi di Subak, Bali mampu menghsilkan produk pertanian. Foto: dok.UMM MAKLUMAT – Kemitraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan UNESCO memasuki babak baru. Pada 2026, UMM resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem. Status prestisius ini menempatkan UMM sebagai salah satu dari sedikit kampus di Indonesia yang dipercaya menjadi mitra global UNESCO. Penetapan tersebut bukan capaian instan. Di baliknya ada rekam jejak panjang riset dan pengabdian masyarakat yang konsisten. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa visi kampus untuk berkontribusi di level internasional menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan UMM dengan UNESCO. Sebagai mitra resmi, UMM langsung tancap gas dengan menjalankan tiga program strategis. Pertama, intervensi di kawasan Subak, Tabanan, Bali, yang selama ini menghadapi ancaman degradasi lahan akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kesuburan tanah hingga memicu alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan vila. Melalui inovasi green farming dan smart farming, UMM menghadirkan solusi untuk memulihkan kualitas tanah sekaligus menjaga daerah resapan air. Upaya ini bahkan telah berbuah pengakuan dari UNESCO pada 2024 lalu atas kontribusi konservasi yang dilakukan. Baca Juga Mengajarkan Hospitality Sejak Bangku Kuliah: Etos Layanan dalam Dunia Pendidikan Langkah kedua, kemitraan UMM dengan UNESCO diperluas ke wilayah Indonesia Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru, memperkuat ketahanan pangan, hingga menekan angka stunting. Tidak berhenti di situ, UMM juga tengah menyiapkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya guna memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Program ketiga menyasar sektor energi terbarukan. UMM mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran Sungai Brantas. Fasilitas ini telah beroperasi di lingkungan kampus dan kawasan wisata Sengkaling, sekaligus menjadi model pengembangan energi bersih berbasis air. Ekspansi program juga dilakukan ke berbagai daerah, termasuk pengembangan ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Model ini mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Meski telah mengantongi pengakuan dunia, UMM menegaskan tidak akan berpuas diri. Kemitraan UMM dengan UNESCO justru menjadi pemicu untuk terus memperluas dampak. Komitmen tersebut sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, yakni menjaga keberlanjutan untuk generasi mendatang. “Kami tidak hanya berpikir hari ini, tetapi hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Ketersediaan air dan lingkungan yang lestari adalah kunci bagi masa depan,” pungkas Salis.
Cetak Guru Berdampak, UMM Rancang Modul Ajar Berbasis Deep Learning

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali menghadirkan inovasi pembelajaran untuk mencetak guru berdampak di era pendidikan abad ke-21. Kegiatan yang berlangsung di Teater Dome UMM pada Sabtu (11/4) ini diikuti ratusan mahasiswa dan dibuka oleh Ketua Tim Kerja PPG UMM, Sugiarti. Dalam sesi utama, Nurwidodo memaparkan pentingnya integrasi pendekatan PM-STEM-PjBL dalam modul ajar sebagai solusi pembelajaran masa depan. Menurutnya, pendekatan ini menggabungkan tiga elemen utama: Pendekatan Makna (PM): meaningful, mindful, enjoyful STEM: sains, teknologi, engineering, dan matematika Project Based Learning (PjBL) “Tujuannya adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperkuat keterampilan, dan membentuk sikap positif peserta didik,” jelasnya. Pendekatan ini menggunakan model nested (tersarang), di mana materi pembelajaran saling terhubung untuk mendorong deep learning. Implementasi model ini dilakukan melalui enam tahapan utama: Merumuskan pertanyaan mendasar Merencanakan proyek Menyusun jadwal Memonitor pelaksanaan Menilai hasil Refleksi Nurwidodo menekankan bahwa dua tahap awal merupakan fondasi paling krusial. “Jika perumusan masalah dan perencanaan proyek tepat, maka seluruh proses pembelajaran akan berjalan di jalur yang benar,” tegasnya. Ia mengibaratkan pertanyaan mendasar sebagai kunci utama eksplorasi pembelajaran. Pertanyaan yang baik tidak menghasilkan jawaban instan, tetapi mendorong investigasi berbasis data dan bukti ilmiah. Dalam merumuskan pertanyaan tersebut, ia menyarankan penggunaan pendekatan berpikir sistematis ala Aristoteles, melalui pemetaan konsep dan analisis masalah secara menyeluruh. Model pembelajaran ini juga mendukung pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan dua tujuan utama: Mendeskripsikan proses implementasi pembelajaran Menganalisis peningkatan kemampuan peserta didik Melalui modul ajar yang terstruktur, pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan zaman. UMM menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar perubahan metode, tetapi langkah strategis dalam mencetak generasi guru yang mampu menghadirkan pembelajaran bermakna dan berdampak. “Esensi dari integrasi ini adalah menjadikan peserta didik lebih baik,” pungkasnya.
UNESCO Tunjuk UMM untuk Kawal Kelestarian Ekosistem Air Dunia

Rektor UMM saat meresmikan program air bersih berbasis masyarakat di Desa Tliu, NTT Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditetapkan sebagai mitra strategis UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem pada 2026. Penunjukan ini menjadikan Kampus Putih sebagai satu dari hanya tiga universitas di Indonesia yang dipercaya mengemban misi global dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Pencapaian prestisius ini merupakan pengakuan dunia atas dedikasi panjang UMM dalam melakukan riset serta pengabdian masyarakat yang berdampak langsung pada kelestarian lingkungan. Penetapan ini sekaligus mempertegas visi UMM sebagai Kampus Berdampak yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi solusi atas problematika global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., mengungkapkan bahwa keberhasilan menembus kemitraan UNESCO adalah hasil dari inovasi yang berkelanjutan. Menurutnya, UMM terus mendorong kontribusi di level internasional guna memastikan ekosistem air tetap terjaga bagi generasi mendatang. “Visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO,” ujar Salis saat memberikan keterangan resmi pada Senin (13/4/2026). Sebagai pemegang mandat UNESCO, UMM kini memotori tiga program strategis yang berfokus pada penyelamatan ekosistem air, mulai dari kawasan warisan budaya di Bali hingga wilayah pelosok di Indonesia Timur. Langkah pertama yang menjadi sorotan dunia adalah intervensi UMM di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kawasan warisan dunia ini sebelumnya terancam oleh alih fungsi lahan masif akibat degradasi kualitas tanah. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan selama bertahun-tahun telah membuat tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburan, sehingga banyak petani memilih menjual lahan mereka untuk pembangunan vila. Kondisi tersebut berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. Merespons krisis ini, UMM menerapkan inovasi green farming dan smart farming. Inovasi ini terbukti mampu mengembalikan kesehatan tanah dan meningkatkan efisiensi panen tanpa merusak lingkungan. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Misi kedua UMM menyasar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 52 akademisi diterjunkan untuk melakukan pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Proyek ambisius yang tengah disiapkan saat ini adalah implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat di wilayah kering. Misi kedua UMM menyasar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 52 akademisi diterjunkan untuk melakukan pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Proyek ambisius yang tengah disiapkan saat ini adalah implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat di wilayah kering. Di sektor energi, UMM juga telah membuktikan kemandiriannya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Memanfaatkan aliran Sungai Brantas, PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus serta Taman Rekreasi Sengkaling kini menjadi sumber energi ramah lingkungan. Keahlian ini juga diekspansi ke berbagai daerah, seperti pengembangan ekowisata berbasis air di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan dari UNESCO dipandang sebagai amanah besar untuk terus berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Salis menegaskan bahwa semangat pelestarian ini sejalan dengan prinsip Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkas Salis. (dan/but)
Dosen UMM Sholahuddin Raih Prestasi Akademik Dunia

Sholahuddin Al Fatih, Dosen FH UMM masuk daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE(dok. UMM) KORAN MANADO – Pada Jumat, 10 April 2026, Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil mencatatkan namanya dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Pencapaian ini menempatkannya dalam jajaran peneliti dari universitas ternama dunia, seperti Oxford University dan Deakin University. Pemeringkatan ini, sebagaimana dilaporkan dari sumber Edukasi, menggunakan tiga indikator utama untuk menilai para akademisi. Indikator tersebut mencakup Research Gravitas untuk mengukur kedalaman intelektual, Olympic Mean untuk konsistensi mutu karya, dan Interaction Credit sebagai apresiasi kolaborasi. Fatih, yang memperoleh peringkat ke-91, mengatakan bahwa pengakuan ini memvalidasi upaya penelitiannya yang berfokus pada wawasan mendalam dan berdampak. Sejak kariernya dimulai, ia telah menghasilkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, ditambah 5 artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Riset-riset Fatih banyak berfokus pada isu-isu sosial yang relevan, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah perubahan zaman. Kontribusinya terasa di dua sisi, yaitu memperkaya diskursus akademik dan memberikan sudut pandang solutif dalam praktik lapangan. Dukungan dari UMM turut berperan penting dalam keberhasilannya, dengan menyediakan ekosistem riset yang mumpuni. Ekosistem termasuk akses jurnal, fasilitas internet, dan insentif publikasi. Fatih berharap capaiannya dapat memotivasi rekan sejawat dan mahasiswa untuk terus berkarya. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” kata Fatih, dilansir dari Edukasi. Untuk mencapai kesuksesan ini, Fatih menekankan pentingnya konsistensi ide dengan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap hari. Ia juga mendorong semangat menulis dan melakukan riset yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Dari Demam K-Pop Hingga Investasi IKN: HI UMM Bedah Era Baru Kemitraan Strategis Indonesia-Korea Selatan

MALANG, Berifakta.com – Gelombang budaya Korea atau Hallyu yang direpresentasikan oleh grup idola seperti BTS, popularitas K-drama, hingga tren kuliner rupanya telah menjelma menjadi fondasi soft power yang kuat bagi kerja sama ekonomi makro antara Indonesia dan Korea Selatan. Transformasi kemitraan yang semakin erat ini dibedah secara mendalam oleh pemateri Havidz Ageng Prakoso, M.A dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 8 April 2026 lalu. Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Mengangkat tema “Indonesia – Republic of Korea in Economic Cooperations: The Economic Sustainable Interdependence”, pemaparan ini menyoroti lonjakan kerja sama strategis pasca resmi diimplementasikannya perjanjian Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada tahun 2023 lalu. Dalam paparannya, Havidz mengajak mahasiswa kilas balik melihat sejarah kerja sama otomotif kedua negara yang dimulai sejak proyek mobil nasional Timor yang menggandeng pabrikan KIA pada tahun 1996. Saat ini, dinamika tersebut telah bertransformasi ke arah transfer teknologi yang lebih masif dengan berdirinya pabrik raksasa Hyundai di Indonesia. “Penjualan Hyundai di Indonesia saat ini bahkan didominasi oleh produk yang dirakit di dalam negeri, seperti model Creta hingga mobil listrik canggih Ioniq 5. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar penjualan, melainkan telah menjadi basis produksi dan joint venture yang strategis,” urainya. Kepercayaan investor Negeri Ginseng terhadap iklim investasi nasional juga terbukti dengan bertenggernya Korea Selatan sebagai negara investor terbesar ke-7 di Indonesia. Investasi ini tidak hanya menyasar sektor hiburan atau ritel ritel seperti jaringan bioskop CGV dan Lotte, tetapi juga menyentuh pembangunan infrastruktur krusial. Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyatakan dukungannya terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk menjadi kota cerdas dengan teknologi canggih. Komitmen ini diwujudkan salah satunya melalui pemberian hibah untuk pembangunan fasilitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Bendungan Sepaku-Semoi, IKN. Hubungan bilateral ini digambarkan sebagai ketergantungan berkelanjutan yang saling melengkapi kelebihan masing-masing (complementary strengths). Korea Selatan, dengan keunggulan modal dan inovasi teknologinya, nyatanya sangat bergantung pada Indonesia untuk menjaga stabilitas rantai pasok keamanan energi mereka, seperti menjadi importir utama batu bara termal dan jutaan ton Liquefied Natural Gas (LNG) dari Indonesia. Selain sumber daya alam, kekuatan demografi Indonesia juga menopang jalannya industri di Korea. Sejak tahun 2016, Indonesia konsisten berada di posisi 8 besar sebagai negara pemasok pekerja migran untuk menggerakkan roda ekonomi di Korea Selatan. (*)