Aktif Ikuti Program Internasional, Wisudawan Terbaik UMM ini Raih Summa Cum Laude

Berbekal kemampuan bahasa inggris dan debat yang ia miliki sejak bangku sekolah, membuat Muhammad Rizky Firdaus aktif dalam berbagai kegiatan nasional maupun internasional saat mengenyam studi sarjana hukumnya. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode IV tahun 2020 ini memang sudah menyukai dunia internasional sejak lama. Tak heran jika dia memiliki mimpi setinggi langit untuk bisa merasakan sensasi belajar di luar negeri dan mengabdi bagi masyarakat saat kembali. Deretan kegiatan internasional yang Rizky ikuti seakan tidak ada habisnya. Semua berawal dari keikutsertaannya dalam agenda penutupan Darmasiswa 2017, program unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kala itu, ia diminta untuk Liaison Officer (LO) bagi segelintir mahasiswa asing. Sejak saat itu pula, ia terus bergelut dengan kegiatan internasional lainnya, seperti Annual International Conference on Islam and Civilization, seminar hukum internasional dan agenda lainnya. Baca juga: Bos Maspion Dorong Wisudawan UMM Berbisnis Sejak Dini Ia juga sempat mengikuti Learning Express (Lex), program kerjasama antara Singapore Polytechnic (SP) dan UMM. Tergabung dalam grup bersama mahasiswa Singapura, ia berhasil membuat prototipe yang memberikan kemudahan bagi masyarakat. “Sangat menyenangkan bisa berinteraksi dan bekerjasama dengan teman-teman dari Singapura saat itu. Lebih-lebih proyek inovatif yang kami kerjakan memberikan dampak positif bagi warga sekitar,” ungkapnya saat diwawancara. Selain itu, lulusan terbaik UMM yang sangat menyukai hukum internasional ini juga bercerita tentang keikutsertaannya dalam agenda National Universities Network Indonesia (NUNI) setahun yang lalu. Ia bersama perwakilan 21 universitas lainnya saling bekerjasama untuk memberikan solusi bagi permasalahan yang ada di tengah masyarakat. “Setelah melakukan diskusi dan kegiatan, kami juga diminta memberikan presentasi di hadapan 18 rektor perguruan tinggi se-Indonesia. Sungguh pengalaman yang luar biasa,” kenang wisudawan asal Madura tersebut. Baca juga: Undang Okky Madasari, LK UMM Bangun Komitmen Budaya Menulis Meski sibuk dengan kegiatan internasional dan pengabdian, tidak membuat Rizky abai dengan tanggung jawabnya untuk belajar. Terbukti dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Rizki yang menyentuh angka 3,92. Di samping itu, ia juga pernah merasakan menjalani magang di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. “Saya bersyukur berada di UMM. Banyak kegiatan nasional maupun internasional yang disediakan oleh pihak kampus. Jadi saya bisa mengembangkan kemampuan diri dengan leluasa,” tutur lulusan yang juga pernah menjadi bagian dari international Relation Office (IRO) UMM itu. Perjalanan studi Rizky tidak bisa dibilang mudah. Ia sempat merasa terpukul dan terpuruk saat ayahnya meninggal di tengah kesibukannya mengerjakan tugas akhir. Hal itu membuatnya harus meninggalkan naskah skripsinya untuk beberapa bulan. Namun, ia akhirnya kembali menyelesaikannya demi membahagiakan keluarga. “Saya akhirnya sadar bahwa menyelesaikan studi sarjana ini adalah tanggung jawab saya. Predikat lulusan terbaik UMM ini juga saya persembahkan untuk mendiang papa. Saya yakin dia pasti bahagia melihat anak sulungnya berhasil menjadi seorang sarjana,” pungkas Rizky di akhir sesi wawancara. (*)
UMM Jadi Tuan Rumah Rapat BAPOMI 2020

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk menjadi tuan rumah rapat kerja VI Pengurus Provinsi Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur tahun 2020. Rapat kerja tahun ini diselenggarakan dalam dua format sekaligus yakni secara daring dan luring pada Jumat, (04/12) di Aula GKB 4 Lt. 9 UMM. Pelaksanaan luring dihadiri oleh 17 perwakilan, sementara format daring dihadiri oleh 32 perwakilan perguruan tinggi se-Jawa Timur. Lebih lanjut, rapat kerja ini membahas mengenai program-program kerja yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Selain itu juga melakukan evaluasi yang akan menjadi pedoman untuk menyusun program-program baru selama satu tahun ke depan. “Pelaksanaan rapat kerja BAPOMI tahun ini tidak hanya berusaha untuk memperbaiki program saja, tapi juga meningkatkan kualitas pengurus BAPOMI yang berasal dari seluruh perguruan tinggi Jawa Timur,” terang Dr. Supriyadi, M.Kes, salah satu perwakilan BAPOMI Jawa Timur. Ia juga berharap adanya agenda ini bisa meningkatan koordinasi dan juga pengembangan kegiatan olahraga mahasiswa di tiap perguruan tinggi, khususnya di wilayah Jawa Timur. “Semakin baik koordinasi dan pengembangan yang dilakukan, maka semakin baik pula kualitas program yang dicanangkan,” jelasnya dalam sambutan yang disampaikan. Di samping membahas program, BAPOMI juga melakukan sosialisasi untuk cabang olahraga baru di Indonesia, yaitu roundnet. Olahraga roundnet sendiri merupakan cabang olahraga yang baru saja berdiri pada awal tahun 2020 di Bandung. “Olahraga ini memang masih baru ada di Indonesia. Meski begitu, Indonesia sudah aktif mengikuti beberapa kompetisi. Salah satunya berpartisipasi dalam kejuaraan dunia yang diselenggarakan pada September 2020 lalu. Sayangnya masih belum bisa menjadi juara, tapi paling tidak kita sudah berhasil menapakkan langkah pertama dalam dunia olahraga roundnet,” ungkap Abdul Rahman, perwakilan roundnet Indonesia. Terakhir, ia juga ingin agar sosialisasi yang sudah dilakukan dapat menjadi tahap awal untuk menarik perhatian masyarakat Indonesia secara luas. Kemudian cabang roundnet ini bisa berkembang dan menjadi salah satu olahraga favorit disamping sepakbola dan olahraga lainnya. (syi/wil)
Dosen UMM Latih Guru Sekolah Muhammadiyah Terbitkan Buku

Melihat dampak pandemi Covid-19 terhadap Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah, tiga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpanggil untuk memberikan pelatihan menulis buku bagi guru sekolah Muhammadiyah di Malang Raya pada 5 Desember 2020. Tiga dosen tersebut adalah Widiya Yutanti, Nurudin, dan Muhammad Kamil. Agenda ini merupakan kerjasama UMM dengan Majelis Pustaka dan informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang. Pelaksanaannya dilakukan secara daring mengingat kurva penularan Covid-19 yang masih tinggi. Pelatihan ini mengajak para guru Muhammadiyah se-Malang Raya untuk menulis terkait pengalaman mengajar di situasi pandemi. Setelah rampung, rencananya akan dikumpulkan dan dijadikan buku sebagai karya. Ada 31 guru dari 9 sekolah yang turut andil dan tergabung dalam program ini. Selain tiga dosen UMM, agenda ini juga menghadirkan Fajar Junaedi sebagai pembicara. Pria yang juga menjadi dosen di Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY) ini dikenal sebagai dosen yang berpengalaman dalam mengawal dan memotivasi guru sekolah dalam hal menulis buku. Dalam kesempatan pelatihan daring tersebut, Fajar menekankan bahwa menulis menjadi aspek penting yang bisa dilakukan oleh guru, terutama di kondisi pandemi ini. Waktu senggang yang didapat berkat sekolah daring seharusnya bisa membuat guru menjadi lebih kreatif. “Kita tidak perlu terlalu serius dalam menulis. Menulis pengalaman saat mengajar daring saja bisa menarik. Bahkan mungkin tulisan itu bisa menjadi hal berguna bagi orang lain,” jelas dosen penyuka sepak bola tersebut Fajar juga memaparkan kiat-kiat menulis agar tulisan bisa diterbitkan. Ia bahkan memberikan modul khusus terkait bagaimana tahap-tahap yang perlu dicapai. Menurutnya, guru adalah teladan dalam hal ilmu dan tulisan. Tulisan inilah yang bisa menjadi warisan berharga di masa mendatang. “Sekolah sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) selayaknya memberikan contoh konkret. Tidak hanya dalam hal verbal tapi juga tulisan. Tradisi menulis tentunya harus dilestarikan secara terus menerus,” pungkasnya di akhir materi. Widiya, salah satu dosen yang mengadakan agenda tersebut menambahkan bahwa sudah banyak kegiatan pengabdian yang cenderung memberikan bantuan dana. Maka dari itu ia menggagas pelatihan ini agar bisa memberikan keterampilan terutama dalam hal menulis. Menurutnya, hasil tulisan yang dibukukan tidak hanya membanggakan bagi guru tapi juga nama sekolah di mana ia mengajar. “Semua peserta tentu akan mendapatkan kebanggaan. Selain itu mereka juga memperoleh sertifikat dan buku gratis. Di samping itu, semua tulisan dalam pelatihan ini juga layak untuk diterbitkan,” terang dosen yang juga menjadi koordinator pengabdian dan sekretaris Prodi Imu Komunikasi UMM tersebut. (*/wil)
Menko PMK di Wisuda UMM: Pentingnya Teknologi bagi Angkatan Kerja

Bertempat di Hall Dome, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggaraan wisuda ke-98 periode IV pada tanggal 7 Desember 2020. Gelaran wisuda kali ini menghadirkan Prof. Dr. Muhadjir Effendy MAP selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia sebagai tamu undangan. Turut hadir pula Drs. H. Wakidi selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM dan Dr. Saad Ibrahim, selaku wakil ketua PWM Jawa Timur. Dalam orasinya, Muhadjir menyampaikan mengenai pentingnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibarengi dengan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dua hal tersebut menjadi modal utama bagi wisudawan dan wisudawati dalam menghadapi perubahan yang semakin hari semakin dinamis. Apalagi di tengah pandemi yang menuntut angkatan kerja untuk memahami TIK lebih dalam. Ia juga mengajak para wisudawan dan wisudawati untuk tetap optimis meski pandemi Covid-19 belum mereda. Menurutnya, optimisme tinggi yang dimiliki mampu membuat kita lebih siap untuk melewati tantangan yang ada. Selain itu juga dapat menumbuhkan kemampuan beradaptasi serta berinovasi dengan cepat dan tepat. Lebih-lebih di kondisi pandemi yang tak kunjung berhenti. Muhadjir juga menyinggung terkait dengan jumlah pengangguran di Indonesia yang berpotensi naik hingga sekitar 15 juta orang. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh roda ekonomi yang masih seret berputar karena pandemi yang terjadi. Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Indonesia, Ir. H. Joko Widodo selalu mewanti-wanti untuk memperhatikan dengan seksama perputaran ekonomi yang terjadi di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah berusaha menekan angka penduduk miskin dengan berbagai program. Muhadjir kembali berharap agar Bantuan Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) tetap dapat menghidupan ekonomi masyarakat. Indonesia sendiri telah memilki lebih dari 65 juta UMKM yang tersebar di seluruh daerah. “Jika setiap UMKM menyerap dua tenaga kerja saja, maka ada 130 juta orang yang bekerja di sektor UMKM ini,” jelasnya lebih lanjut. Pemerintah juga sudah menyiapkan program kartu prakerja. Program yang bertujuan untuk menambah bekal serta kompetensi bagi angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Begitupun dengan mereka yang terdampak PHK akibat Covid-19 ini. Muhadjir berharap program ini mendorong angkatan kerja untuk membuka lapangan pekerjaan, mendapat pekerjaan atau juga bekerja secara mandiri. Ketika seseorang sudah bekerja dan memiliki penghasilan, maka roda ekonomi akan lebih mudah berputar. Muhadjir mendorong wisudawan dan wisudawati agar dapat memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada meskipun sempit. Ia percaya bahwa mereka mampu berinovasi dan mengatasi berbagai masalah dengan bekal yang sudah diperoleh selama berkuliah di UMM. “Setiap kesulitan yang dihadapi pasti selalu ada kemudahan di baliknya. Tetap bekerja keras dan optimis menghadapi segala kesulitan adalah kunci utama,” timpalnya. Terakhir, ia berpesan agar wisudawan, wisudawati serta tamu undangan terus berupaya mengampanyekan disiplin protokol kesehatan. Hal itu tidak lepas dari jumlah kematian di Indonesia yang masih tergolong tinggi. Tercatat, ada 557.877 kasus Covid-19 hingga 4 November 2020, 462.533 di antaranya sudah sembuh dan sayangnya 17.355 meninggal. Pesan tersebut sejalan dengan sambutan rektor UMM, Dr. H. Fauzan M.Pd yang menekankan tentang protokol kesehatan saat prosesi wisuda. Di samping itu Fauzan juga berterimakasih kepada wali wisudawan yang menyempatkan hadir meski ada banyak keterbatasan dalam gelaran wisuda. “Berakhirnya studi wisudawan dan wisudawati menandai kembalinya mereka ke orang tua dan lingkungannya masing masing. Semoga mereka bisa sukses dan berbakti bagi agama, nusa dan bangsa,” pungkasnya dalam sambutan. Sementara itu, Drs. H. Wakidi, Sekretaris Badan Pembina Harian UMM dalam sambutannya berharap agar para wisudawan dapat mewarisi sifat-sifat yang sudah diperoleh selama studi di UMM. Beberapa di antaranya berjuang untuk kesejahteraan umum, menjalin ukhuwah islamiyah, dan mengindahkan hukum yang berlaku di Indonesia. Selain itu juga harus bersikap adil dan korektif baik ke dalam maupun ke luar. “Semoga dengan bekal yang sudah UMM berikan, wisudawan dan wisudawan dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan yang sering kita hadapi,” jelas Wakidi di akhir sambutan. (wil)
Mahasiswa Pascasarjana UMM Menangi Ajang Film Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah berhenti menghasilkan mahasiswa berprestasi. Tidak hanya pada tingkat sarjana, tapi juga dari mahasiswa pascasarjana. Salah satu di antaranya adalah Arfan Adhi Pradana, mahasiswa pascasarjana yang tergabung dalam tim bersama Nashirul Setiawan. Mereka berhasil menyabet juara pertama pada gelaran Europe on Screen 2020 Short Film Pitching Project (30/11). Arfan, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa sebelum diumumkan sebagai pemenang, ia dan tim telah melakukan pitching di hadapan juri tiga hari sebelumnya. Adapun kedua tahapan ini dilakukan secara daring. “Kebetulan saat proses pitching dan pengumuman, kami sedang berada di kegiatan launching Fasilitasi Ide Sinema Kreatif (FESTIF). Jadi kami harus menyempatkan waktu agar bisa memberikan hasil yang maksimal,” terangnya. Adapun cerita film yang diusung oleh Arfan muncul dari ide Nashiru Setiawan mahasiswa IKom UMM angkatan 2016 yang sedang berusaha keras untuk menyelesaikan Tugas Akhir jalur prestasi. Selain itu juga dari ide Ario Nanda Suria, alumni IKom UMM angkatan 2010. Ia kini bergelut di bidang audio, khususnya tata suara dan studi di Jogja Audio School. Cerita yang dibangun juga akan mengarah pada seorang pemutar film yang resah dan mencari cara agar pemutaran filmnya kembali ramai dikunjungi. Di sisi lain ia jugaharus berhadapan dengan berita hoaksdan sekumpulan Organisasi Masyarakat (Ormas)yang akan mengancam pertunjukan filmnya.“Ide ini lahir dari pengalaman saya saat melakukan serangkaian pemutaran film, seperti di Roadshow Queer Film Festivaltahun 2011 lalu. Beberapa kali saya harus menghadapi dan diinterogasi oleh Intel Kodim dan Kepolisian,” tutur mahasiswa Prodi Magister Sosiologi UMM tersebut. Rencananya, ia bersama tim akan melakukan syuting perdana pada Maret 2021 yang dilakukan selama dua hari. Ia juga hanya akan memilih satu lokasi saja. “Sesuai kontrak yang kami terima dan sepakati bersama dengan pihak Europe on Screen, editing film harus sudah selesai paling lambat 30 April 2021,” ungkapnya saat diwawancara. Lebih lanjut, Arfan dan tim akan menerapkan protokol kesehatan selama proses syuting nanti. Tidak hanya dalam hal penggunaan masker dan handsanitizer tapi juga makanan yang sehat. Ia ingin agar hasil film yang dibuat bisa maksimal meski masih berada di situasi pandemi. Arfan dan tim berharap agar film ini bisa memliki nafas yang panjang mengingat film satu ini akan ditayangkan perdana di Europe on Screen 2021 dengan status world premier. Selain itu ia juga bersyukur bisa membawa nama Malang, Batu dan juga UMM dalam pentas pemutaran film internasional. “Kamijugaakan menggunakan dialog Malanganyang nantinya bisa merepresentasikan karakter asli Arek Malang,” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (syi/wil)
Mahasiswa UMM Raih Juara Pertama Lomba Fotografi Peksiminas

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran Muhammad Mada Dwi Pradana, mahasiswa Ilmu Komunikasi, yang mampu menyabet juara pertama dalam lomba fotografi di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XV yang dilaksanakan pada 15 November 2020. Berbeda dengan sebelumnya, tahun ini lomba yang diselenggarakan oleh Kemdikbud tersebut dilakukan secara daring. Mada, sapaan akrabnya, sudah mempersiapkan segala hal dari jauh-jauh hari. Ia harus kembali mengasah kemampuan dan dan kepekaan memotretnya demi mengharumkan nama kampus dalam lomba fotografi tersebut. Selain itu ia juga berusaha memahami detail peraturan yang sudah ditentukan oleh panitia. “Saya benar-benar harus membaca aturan perlombaan dengan teliti. Salah satu aturannya adalah harus melakukan hunting di daerah masing-masing. Saya juga harus memotret sesuai tema yang diberikan, yakni Normal Baru dan Pandemi di Sekitar Kita,” ungkap mahasiswa asal Nganjuk tersebut. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan tahapan-tahapan perlombaan baik saat hunting maupun kurasi foto. Ada dua sesi hunting yang sudah dijadwalkan, yakni pada pukul enam hingga sembilan pagi untuk sesi pertama. Sementara sesi kedua dilangsungkan pada pukul tiga hingga enam sore hari. Berbekal pengalaman dan prestasi memotret sejak bangku SMA, saat itu ia berencana untuk melakukan perjalanan ke Bromo untuk sesi hunting pertama. Ia berharap mendapatkan lokasi hunting yang tepat agar bisa menghasilkan foto yang menarik untuk dilombakan dalam Peksiminas 2020. “Saya berangkat dari Malang jam 03.00 dan baru sampai di lokasi Bromo pukul 06.00. Sedari awal, saya memang ingin mengambil sisi kenormalan baru yang ada di Gunung ini. Apalagi sudah hampir setahun Wisata Bromo ditutup akibat pandemi,” tutur mahasiswa yang juga memenangkan lomba Fotografi Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PSM PTM) se–Indonesia 2019 tersebut. Meski sudah mendapatkan beberapa pilihan foto, Mada masih merasa belum puas. Berkat arahan dari dosen pembimbing, akhirnya ia kembali melakukan hunting di sesi kedua. Saat itu ia memilih berangkat ke proyek revitalisasi yang berlokasi di daerah Kayutangan, Malang. “Ada beberapa hal yang membuat saya tidak puas dengan hasil foto di sesi pertama. Jadi saya mengambil kesempatan memotret di sesi kedua sembari berharap bisa mendapatkan objek foto yang unik,” terangnya. Usai memilah dan memilih foto, ia kembali melakukan kurasi dan bimbingan terakhir dengan dosen agar hasil yang dicapai bisa maksimal. Benar saja, ia akhirnya meraih juara pertama mengalahkan perguruan tinggi lain seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan perguruan lainnya. “Hasil ini tidak lepas dari usaha keras saya, bimbingan para dosen dan dukungan dari kampus. Tidak lupa juga doa orangtua yang juga melancarkan segala tahapan lomba ini. Semoga saya bisa menorehkan pretasi lain dan membanggakan nama UMM,” harapnya di akhir sesi wawancara. (wil)
UMM Kembali Juara Kontes Mobil Hemat Energi

Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih dua penghargaan sekaligus pada Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2020. Ajang ini digelar pada tanggal 8 Oktober hingga 30 November 2020, bertempat di Univesitas Indonesia (UI). Dalam kompetisi tersebut, tim Mekatronik dan Srikandi berhasil mengharumkan nama UMM dengan meraih juara 3 dalam kategori urban concept (city car) listrik dan urban concept (city car) gasoline. KMHE sendiri merupakan kompetisi tahunan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Kompetisi ini bertujuan untuk mengadu kreasi mobil mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Annisa Widya Nurmalitasari, salah satu anggota tim Srikandi menuturkan bahwa mereka sudah merancang desain mobil sejak jauh-jauh hari. Hal itu dilakukan agar desain yang disusun bisa maksimal dan mendapatkan hasil yang terbaik. Meski begitu, masih ada beberapa kendala yang muncul, baik dari segi praktik maupun teori. “Meski sudah dipersiapkan sejak tiga bulan lalu, kami sempat kesulitan utuk merancang desain ideal untuk kompetisi ini. Apalagi tahun ini kami hanya bisa membayangkan tanpa menyentuh dan menyusun prototipe. Selain itu kami juga membutuhkan lebih banyak teori untuk menjelaskan desain mobil yang dibuat,” ungkapnya. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini UMM hanya bisa mendelegasikan dua tim untuk mengikuti KMHE, yakni Tim Mekatronik dan Tim Srikandi dari tenik mesin. Padahal, sebelumnya UMM bisa mengirimkan empat tim sekaligus. Hal itu dikarenakan adanya peraturan baru yang membatasi jumlah delegasi dari tiap universitas. Panitia hanya memperbolehkan tiap perguruan tinggi mengirimkan maksimal dua tim. Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik, Drs. Mohammad Jufri, S.T., MT. menuturkan pelaksanaan perlombaan KMHE juga berubah mengingat pandemi masih belum mereda. Tahun ini hanya sampai pada tahap rancangan desain tanpa membuat prototipe mobil. Meski ada batasan jumlah delegasi dan perubahan teknis pelaksanaan lomba, kedua tim UMM masih mampu memberikan yang terbaik dan akhirnya menjuarai perlombaan tersebut. “Format perlombaan KMHE banyak yang berubah karena pandemi. Proses pendaftaran, perlombaan, hingga pengumuman pemenang dilakukan secara daring. Di samping itu, tahapan lomba juga berubah. Tahun ini hanya sampai tahap rancangan desain mobil, bukan prototipe yang diujikan di sirkuit seperti tahun lalu,” pungkas salah satu dosen UMM tersebut. (syi/wil)
Siwalan Tool Harvester, Alat Pemanen Siwalan Ciptaan Mahasiswa

Berangkat dari kepekaan pada kondisi petani buah siwalan, Ilham Dani, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (FT-UMM), menciptakan inovasi untuk mempermudah pekerjaan para petani siwalan saat memanen. “Ide ini muncul saat saya melihat petani siwalan kesusahan dalam memanen. Apalagi saat musim hujan seperti ini. Pohon siwalan menjadi basah dan licin sehingga sukar untuk dipanjat,” terangnya. Melihat hal tersebut, mahasiswa asal Sumatera Utara ini akhirnya membuat alat yang ia sebut sebagai Siwalan Tool Harvester. Alat ini berfungsi sebagai pemanen buah siwalan tanpa memanjat pohonnya. Selain itu ia juga percaya bahwa Siwalan Tool Harvester lebih efisien dan ramah lingkungan karena tidak menggunakan tenaga mesin. “Petani tidak perlu khawatir dengan biaya tambahan bahan bakar karena alat ini tidak menggunakan mesin. Pekerjaan jadi lebih aman tanpa menambah pengeluaran,” tandasnya. Ilham juga mengungkapkan bahwa cara kerja alat ini cukup sederhana. Alat pemanen buah siwalan ini mengubah energi potensial pada sebuah pegas untuk nantinya diubah menjadi energi mekanik. Energi yang dihasilkan inilah yang akan memanen buah dengan mudah. Di samping itu, ia juga menerangkan alat ini dilengkapi dengan pisau dan jaring sehingga petani tidak perlu repot dan khawatir buah akan jatuh. “Selain tidak memperlukan mesin, alat ini memanfaatkan sebuah pegas yang diubah menjadi energi mekanik. Alat ini juga dilengkapi dengan pisau dan jaring,” ungkapnya. Energi pegas yang ada di bagian pisau berguna untuk memotong buah siwalan. Sementara frame pada jaring berguna untuk menampung buah yang sudah terpotong. Lebih lanjut, alat yang berhasil masuk lima besar karya terbaik pada ajang Kompetisi Mahasiswa Muhammadiyah Nasional ini juga mampu memanen buah siwalan yang sudah dipotong dengan aman. Hal itu tidak lepas dari kunci pengikat yang sudah disematkan demi keselamatan petani dan efisiensi proses panen. Meski begitu ia tidak menampik bahwa ada beberapa hal yang bisa dikembangkan dan diperbaiki. Salah satunya adalah pemilihan bahan material. Beberapa bagian harvester masih susah ditemukan. Ukuran diameter pohon juga mempengaruhi fungsi Siwalan Tool Harvester. “Alat ini sebenarnya sudah pernah dibuat beberapa waktu yang lalu, tapi masih dalam jumlah yang terbatas karena ada part yang susah untuk didapatkan di pasaran” jelasnya. Terakhir, Ilham Dani berharap alat ini bisa menjadi salat satu terobosan baru bagi dunia pertanian. Terlebih lagi bagi para petani siwalan yang kesulitan dalam memanen buah karena pohonnya yang menjulang tinggi. “Bersama alat ini, saya juga berharap tingkat kecelakaan petani saat memanjat dan memanen siwalan bisa menurun. Di samping itu juga mampu meningkatkan hasil dan keuntungan mereka seiring dengan kemudahan yang didapat dari Siwalan Tool Harvester,” pungkas mahasiswa angkatan 2016 tersebut. (nis/wil)
Hasil Survey FISIP UMM Jelang Pilkada Kabupaten Malang 2020

MENJELANG pemilihan kepala daerah 2020 mendatang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM)yang telah terdaftar sebagai salah satu lembaga survey di KPU Kabupaten Malang telah menurunkan 60surveyor selama lima hari mulai tanggal 17-22 November 2020. “Survei FISIP UMM ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dan sekaligus tanggung jawab moral akademik untuk turut mengawal proses demokrasi yang transparan dan akuntabel menjelang hajat politik di Kabupaten Malang,” ungkap Dr. Rinikso Kartono, dekan FISIP UMM. Menurut Ruli Inayah Ramadhon, M.Si, ketua tim survey mengatakan bahwa survey opini publik itu memiliki aspek penting,baik bagi kandidat pasangan calon maupun masyarakat secara luas.Data empirik dan terukur dilapangan setidaknya mampu mengukur aspek popularitas (popularity), aspek di sukai (likeability), dan peluang keterpilihan (electability). Baca juga: Kemendikbud Gelar Sosialisasi Kedai Reka di UMM Survey Opini Publik Pra Pilkadaini dalam penarikan sampelnya menggunakan metode Multistage Systematic Random Sampling dengan margin of error (MoE) kurang lebih 4 %, dengan tingkat kepercayaan 95 %. Survey ini dilakukan dengan sistem wawancara langsung tatap muka dengan responden masyarakat kabupaten Malang.Survei dilakukan terhadap 600 orang responden yang tersebar secara proporsional di seluruh kabupaten Malang. Ada sejumlah temuan menarik yang didapatkan dari hasil pra survey ini. Penilaian publik terhadap kinerja Bupati Malang menunjukkan trend positif, yakni sebesar 77.5%. Hal ini tentu menjadi keunggulan dan kekuatan politik bagi paslon incumbent Sanusi-Didik. “Temuan survey ini memperlihatkan bahwa kinerja bupati dalam membangun kerukunan umat beragama, peningkatan layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas layanan publik diakui keberhasilannya dan diapresiasi oleh publik. Namun di sisi lain, ada PR sekaligus catatan evaluasi untuk pemerintah Kabupaten Malang dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat, menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, juga dalam hal penyediaan bantuan modal dan kredit usaha rakyat,” ungkap Zen Amirudin, M.Med.Kom., pakar Komunikasi Politik UMM. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pasangan calon dalam Pilkada. Faktor tersebut diantaranya adalah tingkat popularitas, kapabiltas, akseptabilitas dan elektabilitas. Survey menyebutkan dari keempat faktor tersebut, pasangan calon no 1 Sanusi-Didik Gatot memiliki keunggulan yang cukup signifikan dibandingkan dua pasangan calon lainnya. Data riset menyebut tingkat popularitas paling tinggi diraih oleh pasangan calon nomer 1 (84,5%), bersaing tipis di paslon nomor 2 (72,2%) dan paslon independen di posisi terakhir dengan perolehan data sebanyak 40%. Tingkat penerimaan publik juga didominasi oleh paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 2. Sementara itu dari tingkat elektabilitas calon pasangan bupati-wakil bupatipilihan publik berdasarkan pertanyaan terbuka(top of mind), ada dua nama yang muncul dengan urutan teratas, yakni paslon Sanusi-Didik Gatotsebanyak 46,00% dan Latifah Shohib-Didik Budisebanyak 29,67%. Sementara, pasangan independen Heri Cahyono-Gunadi Handoko hanya 6,33%. Sisanya, adalah nama-nama lainnya. Dalam butir pertanyaan pilihan terkait pasangan bupati dan wakil bupati pilihan publik juga menunjukkan bahwa paslon Sanusi-Didik Gatot menempati posisi tertinggi dengan prosentase 52,43%, disusul oleh paslon Latifah-Didik Budi sebesar 33,67%. Paslon independen masih menempati posisi di bawah 10%.Sisanya 5,53% menjawab tidak tahu. Namun, perlu juga dilihat posibilitas publik merubah pilihannya (swing voter). Potensi swing voter masih sangat besar pada Pilkada Kabupaten Malang. Utamanya dari masyarakat rentang usia 26-35 dan 36-45 tahun. Swing voter dari usia 26-35 tahun yang kemungkinan merubah pilihannya sebesar 53,5 %. Disusul kemudian di rentang usia 36-45 tahun sebesar 53,6 %. Sementara itu, menariknya untuk rentang usia 17-25 tahun justru yang masih mungkin merubah pilihannya yakni sebesar 39 % (notabene kecil) dan yang sudah menetapkan pilihan yakni sebesar 50 %. “Sehingga, barangkali perlu adanya pengemasan pesan politik dari para paslon yang lebih efektif,” ungkap Zen Amirudin. Lebih jauh lagi,data survey juga menunjukkan tingkat partisipasi politik masyarakat di Kabupaten Malang terbilang tinggi. Hasil inijuga menjadi angin segar bagi perkembangan dunia politik lokal di Kabupaten Malang. Dalam survei tersebut, sebanyak 92 % dari total responden memastikan akan memberikan suaranya pada hari pemilihan. Sebanyak 80,9% responden juga telah mengetahui akan ada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa tingkat politic literacy di masyarakat Kabupaten Malang cukup baik. “Hasil survei yang menyatakan tingginya partisipasi politik di Kabupaten Malang ini sekaligus merupakan tantangan bagi pihak penyelenggara dan semua paslon untuk membuktikannya,” pungkas Zen. (*/can)
Lulusan Terbaik UMM ini Buktikan Bisnis dan Studi Bisa Sejalan

Memiliki bisnis yang sukses dengan jaringan luas adalah mimpi Novita Mardiana sejak duduk di bangku SMA. Mimpi itu juga yang pada akhirnya meyakinkan perempuan kelahiran Timor Timur itu mantap mengambil ekonomi dan bisnis sebagai fokus studinya. Tidak tanggung-tanggung, ia juga memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Anak pertama dari tiga bersaudara ini tidak berhenti di tahap bermimpi, tapi juga sudah mencoba peruntungan bisnis di berbagai bidang. Hingga pada akhirnya ia bisa mengatasi dan menemukan solusi dari jalan buntu yang biasa ia temui. “Saya sudah hobi dan suka berbisnis sejak lama. Pengalaman saya juga bertambah seiring banyaknya hambatan yang dilalui. Alhamdulillah, toko barang-barang impor yang saya kelola saat ini bisa berkembang dengan baik,” ungkapnya saat diwawancara. Lulusan terbaik program pendidikan magister UMM ini kembali menjelaskan, alasan utama mengapa ia melanjutkan studi adalah untuk memperluas jaringan bisnisnya. Hal itu tidak lepas dari perkembangan usahanya yang semakin hari semakin bagus. Di samping itu, ia juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat banyak permintaan kerjasama reseller menghampiri. “Selama menjalani studi magister manajemen, banyak hal baru yang saya temukan. Hal inilah yang akan menjadi bekal saya untuk memperluas jaringan bisnis,” tuturnya. Selain melalui toko fisik, Novita juga menjalankan bisnisnya di berbagai platform marketplace. Ia merasa bahwa usahanya tidak akan bisa maju dengan pesat jika hanya dipasarkan dengan cara lama. Ia percaya, arus informasi dan teknologi yang semakin modern bisa membuat jaringan bisnisnya meluas dua tiga kali lebih cepat. Apalagi belakangan, sebagian masyarakat lebih memilih berbelanja secara daring ketimbang datang langsung ke toko. “Kita tentu harus mengikuti arus zaman dan permintaan pasar. Sayang kalau kesempatan ini tidak saya gunakan dengan baik,” terang Novita. Anak sulung dari Langgeng Mardianto ini juga berharap agar usaha yang ia jalankan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Menyediakan lapangan pekerjaan dan berbagi profit adalah beberapa di antaranya. Menurutnya, ada hak orang lain di sebagian rejeki yang ia peroleh selama ini. Terlebih lagi melihat banyaknya karyawan di luar sana yang diputus kontrak akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berhenti. Meski sudah memiliki usaha yang cukup mapan, Novita mengaku masih memiliki ambisi lain yang ingin dipenuhi pasca lulus dari studi magister, yakni menjadi seorang dosen. Novita tak ingin keilmuannya itu dikonsumsi sendirian. Ia berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk membagikannya kepada masyarakat luas di masa depan. Novita berhasil lulus dengan predikat summa cum laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92. Dalam tesisnya, Novita melakukan analisis terkait Financial Distress sebagai Intervening Hubungan Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, and Capital (RGEC) dan Earning Per Share (EPS) terhadap Perubahan Harga Saham Bank Umum Indonesia. Lebih khusus, dalam tesisnya, Novita juga menyarankan kepada calon investor yang akan berinvestasi untuk melakukan penilaian terhadap kesehatan dan laba per lembar saham perbankan agar risiko investasi dapat diminimalisir. (wil)