Banjir di Kota Malang Dampak Alih Fungsi Lahan dan Saluran Drainase Tertutup

Malang, Tugumalang.id – Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menyebut banjir dengan intensitas tinggi yang kerap melanda Malang Raya dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di berbagai kawasan permukiman. Ia menjelaskan, frekuensi banjir di Malang Raya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami genangan dengan ketinggian mencapai perut orang dewasa. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat berkurangnya daya resap air serta banyaknya saluran drainase yang tertutup bangunan warga, sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Amalia menilai, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal dan langsung mengalir ke badan jalan. Situasi tersebut memicu genangan, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya. “Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya, Jumat (21/11/2025). Dari sisi teknik sipil, ia menuturkan banjir memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan bangunan. Lapisan aspal sering kali terkelupas usai terendam air, yang kemudian mempercepat munculnya jalan berlubang dan menurunkan kualitas permukaan jalan. Sementara itu, pada bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif berpotensi merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Jika banjir terjadi berulang, risiko kerusakan struktural semakin besar, terutama pada bangunan yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air tinggi. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berdiri di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain: Melakukan peninggian bangunan agar terhindar dari genangan. Menambah titik sumur resapan atau biopori di sekitar rumah. Memasang papan penahan air di pintu saat hujan deras untuk mencegah air masuk. Dari perspektif penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga menyulitkan air untuk masuk ke saluran. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” terangnya. Lebih lanjut, Amalia menekankan pentingnya perencanaan lokasi sebelum pembangunan rumah serta penerapan aturan tata kota secara konsisten. Salah satunya dengan menyediakan minimal 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar fungsi resapan tetap terjaga. Ia berharap pemerintah dapat lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran infrastruktur, sehingga upaya mitigasi banjir di Malang Raya bisa berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.

FKIP UMM Mengukuhkan Tiga Guru Besar Baru

radarmalang, MALANG KOTA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendi dikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru hari ini (22/11). Sosok yang menda pat gelar itu Prof Dr Moh. Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Ketiganya mempunyai penelitian dan kepakaran yang beragam. Ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Prof Mahfud menegaskan, gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan ke beragaman. Menurutnya, pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman. Padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi. ”Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesen jangan. Jika kita mengajar kan anak-anak seperti ke marin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud men jelaskan bahwa KIS mesti memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata. Sehingga pembelajaran lebih bermakna. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Prof Lud Waluyo menjelaskan, persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan pen duduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Dia menegaskan, pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan men desak. ”Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah ter baik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumus kan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan ke mampuan tinggi menurun kan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Di sisi lain, Prof Atok Mif tachul menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah. Penyebabnya, peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik labora torium yang dilakukan. Perkembangan biotekno logi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional. ” Model pembelajaran OIDDE (Orientation, Iden tify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour) menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains,” katanya. Karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil kepu tusan ilmiah yang bijak dan etis. (gp)

Banjir di Kota Malang Dampak Alih Fungsi Lahan dan Saluran Drainase Tertutup

Malang, Tugumalang.id – Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menyebut banjir dengan intensitas tinggi yang kerap melanda Malang Raya dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di berbagai kawasan permukiman. Ia menjelaskan, frekuensi banjir di Malang Raya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami genangan dengan ketinggian mencapai perut orang dewasa. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat berkurangnya daya resap air serta banyaknya saluran drainase yang tertutup bangunan warga, sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Amalia menilai, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal dan langsung mengalir ke badan jalan. Situasi tersebut memicu genangan, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya. “Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya, Jumat (21/11/2025). Dari sisi teknik sipil, ia menuturkan banjir memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan bangunan. Lapisan aspal sering kali terkelupas usai terendam air, yang kemudian mempercepat munculnya jalan berlubang dan menurunkan kualitas permukaan jalan. Sementara itu, pada bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif berpotensi merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Jika banjir terjadi berulang, risiko kerusakan struktural semakin besar, terutama pada bangunan yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air tinggi. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berdiri di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain: Melakukan peninggian bangunan agar terhindar dari genangan. Menambah titik sumur resapan atau biopori di sekitar rumah. Memasang papan penahan air di pintu saat hujan deras untuk mencegah air masuk. Dari perspektif penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga menyulitkan air untuk masuk ke saluran. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” terangnya. Lebih lanjut, Amalia menekankan pentingnya perencanaan lokasi sebelum pembangunan rumah serta penerapan aturan tata kota secara konsisten. Salah satunya dengan menyediakan minimal 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar fungsi resapan tetap terjaga. Ia berharap pemerintah dapat lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran infrastruktur, sehingga upaya mitigasi banjir di Malang Raya bisa berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.

Dosen UMM-SIKL Malaysia Pelatihan Pembuatan Big Book Interaktif, Perkuat Pembelajaran Membaca Permulaan

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengabdian masyarakat dengan mitra Sanggar Bimbingan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) Malaysia. Pengabdian masyarakat tersebut dijelaskan salah satu tim dosen UMM sekaligus pemateri Arinta Rezty Wijayningputri, S.Pd, M.Pd, dalam bentuk  Pelatihan Pembuatan Media Big Book Interaktif di sekolah dasar mitra. “Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pembelajaran membaca permulaan bagi siswa, sekaligus meningkatkan kompetensi guru dalam pengembangan media literasi yang kreatif dan menarik,” ujar Arinta. Kata Arinta, melalui  Pelatihan Pembuatan Media Big Book Interaktif sebagai upaya memperkuat pembelajaran membaca permulaan bagi anak-anak Indonesia di Malaysia. Kegiatan ini diikuti oleh para guru, relawan, serta pendamping belajar yang selama ini terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak komunitas pekerja migran. Para peserta dibimbing dalam menyusun cerita, menentukan alur narasi, memilih ilustrasi, hingga merancang elemen interaktif yang dapat memudahkan anak dalam mengenali huruf, kata, dan struktur kalimat dasar. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih komunikatif dan menyenangkan. Ketika sesi pelatihan Arinta Rezty Wijayningputri, menyampaikan materi bahwa Big Book tidak hanya berfungsi sebagai media membaca, tetapi juga sebagai sarana stimulasi kognitif dan bahasa. “Desain visual yang tepat dapat membantu anak lebih cepat mengenali kosakata, memahami alur cerita, dan membangun keterampilan literasi dasar. Karena itu, penyusunan Big Book perlu memperhatikan kejelasan gambar, proporsi huruf, serta interaksi guru–siswa di setiap halaman,” jelas dosen PGSD UMM ini. Pemateri lainnya, Innany Mukhlishina, M.Pd menyampaikan Big Book interaktif merupakan media yang efektif untuk menguatkan fondasi literasi anak. Sebab Media Big Book bukan hanya alat bantu membaca, tetapi juga jembatan bagi anak untuk memahami alur cerita, memperkaya kosakata, dan membangun keterampilan berbahasa sejak dini. Harapannya pelatihan ini dapat menginspirasi para pendidik untuk terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Sementara itu, Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Frinny Napasti, S.Pd, M.Pd memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Sanggar Bimbingan SIKL merupakan ruang belajar yang sangat penting bagi anak-anak Indonesia di Malaysia. Pelatihan ini menjadi komitmen dalam menghadirkan pendidikan berkualitas meskipun berada jauh dari tanah air. “Kami berharap keterampilan yang diperoleh hari ini dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di lapangan,” terangnya. Sekedar diketahui, dari hasil pelatihan ini para peserta mengaku mendapatkan manfaat besar dari kegiatan ini. Salah satu peserta, menyampaikan testimoni positif. Bahwa selama ini sering menggunakan buku cerita biasa. Dengan pelatihan ini bisa memahami bagaimana membuat Big Book yang lebih menarik, berwarna, dan sesuai kebutuhan anak-anak. Penjelasan pemateri sangat mudah diikuti, dan merasa lebih percaya diri untuk membuat media sendiri. Melalui kegiatan ini, diharapkan proses pembelajaran membaca permulaan semakin inovatif, menyenangkan, dan mampu meningkatkan kemampuan literasi dasar anak-anak Indonesia di perantauan. (murtyas galuh danwati/don)

Mahasiswa Fakultas Hukum UMM Sosialisasi SPP-IRT Pengusaha Kripik Pisang Coklat Lumer

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) baru-baru ini melaksanakan sosialisasi kepada pelaku usaha pangan di wilayah Perumahan Istana Kepuh Regency Kepuharjo, Karangploso, Kabupaten Malang.  Sosialisasi tersebut dilakukan dua orang mahasiswa FH UMM atas nama M. Dearmada dan Murni Maryani. Keduanya sosialisasi terkait pentingnya legalitas SPP-IRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga). Menurut Mada begitu M.Dearmada disapa, sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelaku usaha mikro, khususnya produsen kripik pisang coklat lumer, tentang pentingnya SPP-IRT. Perlu diketahui  kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari perkuliahan pendidikan dan latihan kemahiran hukum dalam mendukung pengembangan usaha mikro yang aman dan terpercaya. Mada menjelaskan sosialisasi SPP-IRT ini menjadi sarana pembelajaran lapangan, di mana mahasiswa terlibat langsung dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha mikro. SPP-IRT merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat sebagai bukti bahwa produk pangan yang dihasilkan oleh industri rumah tangga sudah memenuhi standar keamanan pangan. Legalitas SPP-IRT sangat vital karena selain menjamin keamanan produk bagi konsumen, sertifikat ini juga membuka peluang para pelaku usaha untuk memperluas pasar, baik di tingkat lokal maupun nasional. Saat sosialisasi, kata Mada, mahasiswa FH UMM bermitra dengan salah satu sentra produksi kripik pisang coklat lumer di Malang, materinya pemaparan mengenai proses pengurusan SPP-IRT serta dampak positif yang dapat diperoleh oleh pelaku usaha. Mereka menjelaskan bahwa legalitas tersebut bukan hanya sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bentuk tanggung jawab produsen dalam menjaga kualitas produk dan kesehatan konsumen. Menariknya, Mada mengungkapkan selama proses sosialisasi ibu Sonti -pemilik usaha pisang coklat lumer- antusias mengikuti rangkaian materi, mulai dari prosedur pengajuan, persyaratan yang harus dipenuhi, hingga tata cara menjaga higienitas produksi agar sertifikat SPP-IRT dapat diperoleh dan dipertahankan. Selain itu, tim mahasiswa FH UMM juga membagikan contoh dokumen dan tips praktis sehingga para produsen kripik pisang coklat lumer dapat lebih mudah memahami dan menjalankan kewajiban mereka. Sementara itu, anggota mahasiswa FH UMM yang lain, Murni Maryani, menambahkan melalui sosialisasi tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing produk kripik pisang coklat lumer yang selama ini banyak diminati masyarakat. Dengan legalitas SPP-IRT, produk bukan hanya aman dikonsumsi, tapi juga memiliki nilai tambah di mata konsumen dan pasar yang semakin peduli pada standar keamanan pangan. Sosialisasi ini mahasiswa UMM turut berperan dalam membangun ekosistem usaha mikro rumah tangga yang lebih profesional dan berkelanjutan, sekaligus membantu masyarakat mengimplementasikan standar hukum dan kesehatan pangan dalam produksi sehari-hari. (rilis: mada/murni/don)

Mahasiswa Psikologi UMM Raih Dua Penghargaan di Mandarin Singing Competition Taiwan

Berawal dari niat iseng untuk mencoba, tiga mahasiswa Kelas Internasional Psikologi UMM justru tampil memukau di Mandarin Singing Competition dan berhasil meraih dua penghargaan bergengsi. Tagar.co – Perjalanan studi di luar negeri kerap menghadirkan pengalaman tak terduga. Seperti dialami tiga mahasiswa Kelas Internasional Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berniat hanya mencoba peruntungan, mereka justru tampil percaya diri dalam Mandarin Singing Competition di Asia University Taiwan dan pulang membawa dua penghargaan bergengsi: outstanding performance dan juara favorit. Tiga mahasiswa UMM ini tampil mencuri perhatian pada ajang yang diikuti peserta dari berbagai negara. Dan kisah keberhasilan itu berawal dari langkah sederhana. Salah satu anggota tim, Khanum Mayyada Tetteng, menuturkan bahwa mereka ikut serta karena dorongan ingin mencoba hal baru. “Kami awalnya mendaftar tanpa banyak pertimbangan. Niatnya cuma berani mencoba, menang atau tidak menang, yang penting tampil,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM, Jumat (21/11/25). Meski hanya berbekal keberanian, Khanum dan dua rekannya memilih lagu Mandarin berjudul No Reason—lagu yang menuntut kemampuan vokal dan rap dalam tingkat kesulitan tinggi. Tantangan tersebut terasa semakin berat karena mereka baru memulai kelas Bahasa Mandarin saat tiba di Asia University. Situasi kian berubah saat mereka mengetahui bahwa kompetisi itu bukan ajang internal. “Kami sempat mengira lomba ini hanya digelar secara lokal. Namun, saat tiba di lokasi, ternyata kami tampil di panggung aula yang sangat besar, dengan kontestan dari berbagai negara seperti Filipina, Vietnam, Italia, Mongolia, India, Mesir, dan negara lainnya,” katanya. Rasa gugup tak terhindarkan, namun mereka sepakat untuk memberikan yang terbaik. Puncak pengalaman terjadi ketika Khanum membawakan bagian rap dalam Bahasa Mandarin. Penonton yang semula hening berubah riuh memberikan dukungan, terutama dari mahasiswa internasional lain. Dukungan itu menjadi energi pendorong yang akhirnya mengantar mereka pada dua gelar bergengsi. Prestasi tersebut menjadi satu dari sekian pengalaman berharga bagi mahasiswa Program Kelas Internasional Psikologi UMM yang tengah menempuh studi melalui skema double degree bersama Asia University, Taiwan. Skema ini mengharuskan mahasiswa menjalani dua tahun studi di UMM dan dua tahun di Taiwan. Lulusannya akan menerima dua gelar sekaligus: Sarjana Psikologi (S.Psi) dari UMM dan Bachelor of Science (BSc) dari Asia University, yang keduanya telah diakui dan diverifikasi legalitasnya di Indonesia. Khanum menjelaskan bahwa salah satu kekuatan UMM terletak pada penekanan praktikum bertingkat sejak semester awal. Berbeda dengan Asia University yang lebih fokus pada teori, pola pembelajaran UMM memberikan pengalaman praktik yang kaya dan aplikatif—bekal penting ketika memasuki dunia kerja. Selain program double degree ke Taiwan, Kelas Internasional Psikologi UMM juga membuka peluang pengalaman global melalui program Credit Transfer selama satu semester ke Turki. Asia University sendiri aktif mendukung mahasiswa internasional dengan menyediakan kelas pengantar berbahasa Inggris dan memfasilitasi berbagai trip budaya maupun wisata yang dibiayai pemerintah setempat. Menurut Khanum, pengalaman belajar di Kelas Internasional UMM sangat menentukan kesiapan mahasiswa saat berangkat ke luar negeri. Praktikum yang tersusun bertingkat serta dosen yang kompeten di bidangnya membuat mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran global. Baca Juga:  Afirmasi Pendidikan Berkeadilan: Ujian Baru Sekolah Swasta di Era Prabowo “Kesiapan beradaptasi dengan perbedaan budaya dan sistem pendidikan adalah kunci. Manfaatkan setiap kesempatan, baik akademik maupun non-akademik, karena pengalaman ini sangat berharga untuk membuka wawasan dan pengembangan diri,” tegasnya. Prestasi mereka di Taiwan menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga memiliki keberanian untuk tampil di panggung global dan membuktikan diri. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni

Diarak Klub Motor, Begini Prosesi Pengukuhan Guru Besar Baru FKIP UMM

Iring-iringan klub motor menjadi daya tarik tersendiri sesaat sebelum pengukuhan tiga buru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 22 November ini. Para guru besar baru ini diantar puluhan motor moge dari rektorat UMM menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru besar itu ialah Adapun ketiganya adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Dalam suasana penuh kebanggaan, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Dia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas. (*nam/wil)

Mahasiswa FH UMM Dukung UMKM Naik Kelas melalui Edukasi SPP-IRT untuk Perkuat Legalitas dan Akses Pasar

Malang || RADARJATIM.CO — Lima mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) kembali melaksanakan tugas Praktikum Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum I yang diselenggarakan oleh Laboratorium Hukum FH UMM melalui kegiatan sosialisasi kepada pelaku Usaha mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).. Kamis (20/11/2025) Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di wilayah Malang dengan menyasar pelaku Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) yang belum mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang terdiri dari Revianur Aini, Siti Nuril Fitriani, Andita Purnama Putri, Cintya Mei Puspitasari, dan Ahsan Mabruri. Kelompok ini memberikan pendampingan kepada Lilik Khoiriyah, pemilik usaha Pecel Ceker, yang memproduksi aneka peyek seperti peyek kacang tanah, kacang hijau, udang rebon, dan bayam. Mendorong Kesadaran Pentingnya Sertifikasi Pangan. Dalam pemaparan materi, mahasiswa menjelaskan bahwa SPP-IRT merupakan izin edar yang wajib dimiliki pelaku IRTP agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas dan memenuhi standar keamanan pangan. Mereka menegaskan bahwa kewajiban Ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, dan Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2024 tentang Pedoman Penerbitan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga. “SPP-IRT bukan sekadar formalitas, melainkan penanda bahwa produk telah memenuhi standar higienitas dan keamanan pangan. Tanpa sertifikat ini, ruang pemasaran pelaku usaha menjadi sangat terbatas,” jelas Cintya dalam sosialisasi tersebut. Pelaku Usaha Antusias, Namun Terkendala Pengetahuan Teknis dari hasil asesmen selama kegiatan, diketahui bahwa usaha Pecel Ceker telah berjalan sejak awal 2025 dan mampu memproduksi hingga 70 kemasan per hari dengan harga jual Rp10.000–Rp15.000. Produk tersebut telah beredar di wilayah Malang Raya, namun belum dapat dipasarkan lebih luas karena belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) maupun SPP-IRT. “Saya sebenarnya ingin mengurus PIRT sejak lama, tetapi bingung harus mulai dari mana dan dokumen apa saja yang disiapkan,” ujar Lilik Khoiriyah dalam sesi diskusi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa UMM memberikan pendampingan mulai dari penjelasan dasar hukum, daftar dokumen penting yang harus disiapkan, hingga panduan teknis penggunaan OSS ORBA dan aplikasi SPP IRT. Anggota kelompok lainnya, Nuril, menjelaskan bahwa pendaftaran SPP-IRT kiniblebih mudah karena dilakukan secara digital. “Pelaku usaha cukup membuat NIB terlebih dahulu di OSS, mengunggah dokumen yang diminta, mengikuti penyuluhan keamanan pangan, dan menunggu verifikasi dari Dinas Kesehatan. Jika semua persyaratan terpenuhi, sertifikat akan diterbitkan secara elektronik,” jelasnya. Baca Juga :  Wali Murid MAN 2 Situbondo Segera Laporkan Oknum Gurunya karena Telah Cemarkan Nama Baik dan Perbuatan tidak Menyenangkan Dorongan bagi UMKM untuk maju dan legal melalui sosialisasi ini, mahasiswa berharap semakin banyak pelaku usaha rumahan yang menyadari urgensi sertifikasi pangan, karena legalitas tidak hanya menjadi syarat administratif, tetapi juga bentuk perlindungan bagi konsumen serta jaminan mutu bagi pelaku usaha. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen mahasiswa FH UMM untuk berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kepatuhan hukum dan keamanan pangan bagi UMKM.

Banjir Malang Raya Meningkat, Dosen Teknik Sipil UMM Sodorkan Solusi

MAKLUMAT – Hilangnya resapan air dan drainase yang tertutup pemukiman warga menyebabkan frekuensi banjir di Malang Raya meningkat. Persoalan ini menjadi sorotan Amalia Nur Adibah, dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan infrastruktur maupun fondasi bangunan. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, yang menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak fondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Banjir yang terjadi secara berulang-ulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terempas air, fondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Implementasi SDGs sebagai Solusi Bukan berarti rumah yang bediri di kawasan rawan banjir tidak ada solusi. Amalia menyarankan pemilik rumah meninggikan bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang planologi atau tata kota, pembangunan dan pembesaran saluran drainase sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan menyulitkan air masuk. Baca Juga  PMM UMM Gelar Sosialisasi di SMA Muhammadiyah 1 Blitar, Seluruh Siswa Ikut Deklarasi Anti-Bullying “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” ia menjelaskan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mitigasi risiko sebelum memilih lokasi hunian. Menyediakan 30 persen lahan terbuka sebagai resapan air merupakan opsi resapan air, sekaligus keseimbangan alam di tengah pembangunan.

Tiga Guru Besar FKIP UMM Dikukuhkan, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah tiga jumlah Guru Besar baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pengukuhan Guru Besar ini digelar di Basement Dome UMM, Sabtu (22/11/2025). Meski berasal dari Fakultas yang sama, namun penelitian dan kepakaran bidang dari ketiga guru besar ini berbeda. Ada yang fokus pada ilmu pembelajaran bioetika, mikrobiologi lingkungan, hingga pengembangan kurikulum. Ketiga guru besar baru FKIP UMM tersebut, yakni: – Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika. – Prof Dr Lud Waluyo MKes, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan. – Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum. Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika, sekaligus gubes ke-69 di UMM. Prof Atok mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Integrasi Model Pembelajaran OIDDE dalam Pendidikan Bioetika di Abad Global: Membangun Pengetahuan, Keputusan Etis dan Sikap Etis Peserta Didik.” Prof Atok menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah, karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. “Pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah,” ujar Prof Atok. Menurutnya, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, Prof Atok mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan, model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen. Serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains, karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan. Tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” tandasnya. Prof Dr Lud Waluyo MKes Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan, sekaligus gubes ke-73 di UMM. Prof Lud mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Biofitoremediator: Salah Satu Solusi Penanganan Polusi Limbah Cair. Prof Lud menjelaskan, persoalan limbah cair semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu, hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Prof Lud menegaskan, pendekatan kimia tak lagi memadai, karena berpotensi menciptakan residu baru berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS efektif mematikan patogen. Kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS dan residu deterjen,” terang Prof Lud. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. “Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan. Termasuk logam berat hingga 100 ppm,” ujarnya Ia menandaskan, keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan dan tapioka. Menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis. “Tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” tandasnya. Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum, sekaligus gubes ke-72 di UMM. Prof Mahfud menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kurikulum Indonesia Satu (KIS)”, dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai, pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan melangkah ke arah global. “Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan humanis dan berkeadaban,” ucapnya Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” tegasnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan, KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Pentingnya kurikulum menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi memahami dunia dan dirinya. “Kurikulum berjiwa humanis, inklusif dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045,” tandasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ucapnya. Lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” pungkasnya.