UMM Pertahankan Gelar Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

  pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025.Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Sukses Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem di NTT, UMM Raih Penghargaan Kemendukbangga

Malang (beritajatim.com) – Dedikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat kembali mendapat pengakuan nasional. Kali ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memberikan penghargaan kategori Gold untuk Perguruan Tinggi kepada UMM. Penghargaan tersebut diserahkan dalam forum Genting Collaboration Summit Tahun 2025 yang mengusung tema “Sinergi untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting” pada 10 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti sahih komitmen UMM sebagai “Kampus Berdampak” yang tidak hanya berkutat pada teori, namun terjun langsung memberikan solusi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., mengungkapkan bahwa penghargaan ini merupakan buah dari konsistensi UMM dalam menghilirisasi riset akademik menjadi pengabdian masyarakat. Salah satu aksi nyata yang menjadi sorotan adalah intervensi UMM di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Salis, riset perguruan tinggi tidak boleh hanya berakhir di atas kertas atau tumpukan laporan konseptual. Riset harus bertransformasi menjadi solusi konkret yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat. “Beberapa waktu lalu, kami mengirimkan lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Di sana, kami memetakan dan menangani berbagai persoalan krusial, mulai dari stunting, kemiskinan ekstrem, hingga masalah di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” jelas Salis, Kamis (11/12/2025). Selama berada di NTT, tim dosen UMM tidak sekadar melakukan observasi. Mereka membawa serangkaian program inovatif yang menyasar akar masalah ekonomi dan kesehatan. Salah satu terobosan unggulan adalah Pelatihan Pengolahan Nutricorn. Program ini memanfaatkan bahan baku lokal NTT untuk diolah menjadi produk bernilai gizi tinggi guna menekan angka stunting. Selain itu, UMM juga melakukan pendampingan intensif pada komoditas hortikultura, padi, dan jagung, serta perbaikan manajemen pakan ternak dan kesehatan hewan. Keberhasilan ini tidak lepas dari program strategis Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Program ini menerjunkan para guru besar dan tenaga ahli UMM untuk mendampingi pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga. “Semua program di lapangan berawal dari hasil riset para akademisi UMM. Melalui P3M, kami berharap inovasi kampus mampu memberikan dampak positif langsung, meningkatkan pendapatan warga, dan mengentaskan kemiskinan,” tambah Salis. Penghargaan dari Kemendukbangga ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika Kampus Putih untuk terus berinovasi. Salis menegaskan bahwa UMM akan terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam memajukan bangsa. “Tentu kami ucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga atas apresiasi ini. Kami berkomitmen penuh untuk terus mengabdi, meningkatkan kualitas hidup, dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat,” pungkasnya. (dan/kun)  

Dedikasi Tangani Stunting, UMM Sabet Penghargaan Gold Diajang Genting Collaboration Summit Nasional 2025

MALANGRAYA.CO- Dari penanganan stunting hingga penguatan sektor pertanian di daerah terpencil, kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat pengakuan nasional. Kampus Putih -julukan UMM- meraih penghargaan Gold Kategori Perguruan Tinggi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) pada ajang “Genting Collaboration Summit 2025” bertema “Sinergi untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting” yang digelar Kamis (10/12/2025). Penghargaan ini menegaskan posisi UMM sebagai Kampus Berdampak yang konsisten menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui riset terapan dan program pengabdian. Kolaborasi kampus dengan pemerintah dan masyarakat menjadi bukti bahwa hasil riset akademik dapat diterjemahkan menjadi aksi konkret yang dirasakan langsung oleh publik. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen UMM dalam menjalankan pengabdian masyarakat secara berkelanjutan. Salah satu contohnya adalah program pendampingan intensif di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melibatkan puluhan dosen lintas bidang. “Belum lama ini kami mengirim lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Di sana ada banyak persoalan masyarakat, mulai dari stunting dan kemiskinan ekstrem hingga tantangan di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” jelasnya. Selama berada di NTT, para dosen UMM menjalankan berbagai program berbasis riset, seperti pelatihan pengolahan Nutricorn dengan memanfaatkan bahan baku lokal, pendampingan pengembangan hortikultura, padi, dan jagung, penguatan pakan ternak dan kesehatan hewan, hingga penataan praktik budidaya perikanan. Seluruh kegiatan ini, tambahnya, merupakan implementasi dari hasil riset yang telah dikembangkan akademisi UMM. “Program-program itu adalah turunan dari riset dosen UMM. Kami memiliki Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat yang dirancang agar memberikan dampak langsung bagi warga,” tambah Salis.

Trauma Hantui Nakes Daerah Bencana: Tim Psikolog UB-UMM Terapi Pernapasan dan Grounding

MALANG POST – Hari pertama layanan bagi pengungsi pasca galodo/banjir bandang, klaster psikososial relawan respon bencana Sumatera Barat melaksanakan asesmen kesehatan mental. Tujuannya adalah memastikan kondisi kesehatan mental tenaga kesehatan dan tenaga medis di Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Rabu (10/12/2025). Tindakan ini penting, agar para dokter dan perawat bisa tetap prima dalam merawat para pengungsi. Tim psikososial di lokasi terdiri dari dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ (K), Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS dari Universitas Brawijaya dan Bella Virgianitia Afifa dari Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kuesioner PHQ-4 dan SHQ-12 terhadap 28 tenaga kesehatan dan tenaga medis yang hadir aktif Ini sesuai permintaan Kepala Puskesmas Koto Alam yang khawatir dengan kondisi mental stafnya. “Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan merasa kewalahan. Karena mereka tidak hanya bekerja sebagai tenaga kesehatan. Tetapi juga menghadapi dampak sebagai pengungsi. Mereka termasuk kelompok yang rentan,” ujar Ulya. Ulya menambahkan bahwa umpan balik dari pemeriksaan cukup positif. “Bahkan kepala puskesmas berharap program pendampingan psikososial bisa berjalan secara rutin meskipun timnya nanti berbeda,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa sebagian besar nakes tidak selalu menunjukkan gejala trauma yang terlihat di permukaan. “Terlihat baik-baik saja. Tapi begitu mereka berada di ruangan yang gelap atau sendirian, bayangan kejadian banjir tetap sering muncul. Atau ada suara-suara yang terdengar dalam memori mereka,” kata dosen Fakultas Kedokteran itu. Untuk membantu mengurangi gejala trauma, tim kami mengajarkan teknik pernapasan dan grounding. “Setelah hari ini, kami berniat kembali dua hari lagi untuk mengevaluasi sejauh mana dua teknik ini mampu menguatkan jiwa para nakes dan menentukan kebutuhan mereka selanjutnya,” tambahnya. Selain pada tenaga kesehatan, pendampingan psikososial juga diberikan kepada siswa-siswi SD 05 Koto Alam, dengan fokus pada kelompok remaja karena pendekatan yang lebih mudah diterapkan di usia itu. Dari evaluasi ini, Ulya berharap akan ada pendampingan kesehatan mental yang berkelanjutan dari tim berikutnya agar para pengungsi dan komunitasnya bisa pulih lebih cepat. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Borong Penghargaan Bergengsi di KKI: Bukti Keunggulan Inovasi Mahasiswa

  pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu.Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember,” jelasnya. Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil,” pesannya.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM Pertahankan Predikat Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan dari Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi capaian serupa pada 2023 dan 2024, menjadikan UMM satu-satunya kampus yang mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM lahir dari kerja sama antara UMM dan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, fasilitas ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, serta pelatihan literasi data bagi mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga dapat belajar langsung tentang proses menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM Hendra Kusuma SE MSE menjelaskan, keberhasilan mempertahankan predikat terbaik selama tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM, yang dinilai terbanyak secara nasional. Selain itu, program joint research dengan BPS tiap tahun serta publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa turut menjadi faktor penting. “Yang membuat Pojok Statistik UMM bisa mendapatkan tiga tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dalam berbagai kegiatan bersama BPS. Mulai publikasi di jurnal SINTA melalui international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa, hingga joint research,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi nilai tambah yang diapresiasi BPS Pusat. Penilaian penghargaan berlangsung selama satu tahun kerja, mulai Agustus hingga Juli. Menurut Hendra, indikator penilaian mencakup fasilitas, produk, serta edukasi. “Penilaiannya meliputi fasilitas yang kita sediakan, produk yang dihasilkan seperti inovasi tadi—termasuk infografis dan videografis—serta program edukasi,” jelasnya. Raihan prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. Ke depan, UMM menargetkan Pojok Statistik menjadi pusat rujukan literasi data yang lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kami sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. (Faqih/AS)

CoE Kehutanan UMM Buka Jalan Global, Tiga Mahasiswa Lolos Internship Jepang

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tiga mahasiswa yang berhasil lolos pada program International Internship melalui Center of Excellence (CoE) Forest Industry dan akan menjalani magang profesional di perusahaan Kyushu Bark, Jepang. Mereka adalah Adib Minanur Rohman, Ahmad Hafidh Ramadhan, dan Muhammad Hafidz Alfanani, yang semuanya merupakan mahasiswa angkatan 2022. Internship ini menjadi bagian dari kerja sama Forest Industry CoE dengan NOSUTA Jepang yang memfasilitasi mahasiswa kehutanan Indonesia untuk belajar langsung mengenai industri hutan di Jepang. Salah satu peserta, Adib Minanur Rohman, menceritakan proses hingga dirinya dinyatakan lolos. Ia mengatakan bahwa dirinya mengikuti seleksi pada batch kedua, dengan tahapan penilaian yang cukup ketat. “Kami melewati beberapa tahap seleksi, termasuk mensetsu atau wawancara langsung oleh pihak perusahaan menggunakan bahasa Jepang, dibantu penerjemah bahasa Inggris. Untuk batch dua ini juga diutamakan menyertakan tes fisik,” jelasnya saat diwawancara tim Humas UMM pada 10 Desember lalu Kyushu Bark merupakan salah satu perusahaan yang berfokus pada bidang kehutanan, khususnya dalam proses pemanenan kayu. Adib mengatakan bahwa selama magang mereka akan terlibat langsung pada aktivitas lapangan. “Contoh kegiatannya seperti pemanenan menggunakan alat senso, teknik grass cutting atau pembersihan lahan sebelum panen kayu, hingga memahami sistem kehutanan di Jepang”. Selama mengikuti program CoE, para peserta mendapatkan berbagai pembekalan awal sebagai persiapan sebelum terjun ke industri Jepang. Pembelajaran yang diterima tidak hanya seputar teknis kehutanan, tetapi juga kemampuan bahasa dan budaya kerja Jepang. “Kami belajar bahasa Jepang, materi kehutanan yang tidak diajarkan di kelas biasa, serta praktik penggunaan alat senso,” terang Adib. Selain magang internasional, CoE Forest Industry juga menargetkan peserta untuk memperoleh SSW (Specified Skilled Worker), yaitu sertifikasi keterampilan kerja spesifik bidang kehutanan yang akan membuka peluang karier lebih luas di Jepang. “Setiap peserta diharapkan nantinya bisa mendapatkan sertifikasi SSW. Kalau sudah mempunyai sertifikat itu, kesempatan bekerja di Jepang makin besar,” tambah Adib. Program internship ini rencananya akan mulai diberangkatkan pada pertengahan Februari 2026 mendatang. Saat ini para peserta tengah menyiapkan berbagai dokumen administrasi seperti visa, paspor, hingga tes JFT sebagai syarat untuk keberangkatan. Mereka akan menjalani internship selama enam bulan, yaitu Februari hingga Agustus 2026. Melalui CoE ini, harapannya semakin banyak mahasiswa yang mampu menembus industri global dalam pengelolaan sumber daya kehutanan yang berkelanjutan. Program internship ini tidak hanya menjadi wadah belajar saja bagi peserta, tetapi juga membuka jalan karier mahasiswa dalam persaingan dunia profesional internasional di dunia kerja.(*abm/faq) Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen Psikologi UMM Jelaskan Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem Akibat Tekanan Akademik

  pwmu.co – Peristiwa memilukan baru—baru ini yang menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali memunculkan urgensi penguatan kesehatan mental di dunia akademik.Kejadian tersebut menyoroti dampak serius tekanan akademik termasuk penyusunan skripsi terhadap kesehatan psikologis mahasiswa dan menjadi peringatan bagi kampus, khususnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk memperkuat edukasi serta jaring pengaman psikologis. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun. Uun menyebut tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut, yakni faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegasnya. Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Menanggapi anggapan bahwa dosen pembimbing menjadi pihak yang patut disalahkan, Uun menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Ia mengakui bahwa dosen pembimbing idealnya menjadi support system yang aman, namun dukungan juga harus datang dari keluarga, teman, dan terutama kekuatan mental dari dalam diri mahasiswa sendiri. Untuk mengelola stres, Uun mendorong mahasiswa menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah. Langkah-langkahnya meliputi membuat skala prioritas, mengatur self-management, dan membangun time management yang jelas. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Sementara itu, bagi mahasiswa yang cenderung menggunakan Emotional Focused Coping, Uun menyarankan untuk bercerita kepada orang tepercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta membangun dukungan sosial agar tidak terjebak dalam isolasi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, perubahan mood ekstrem, atau penurunan fungsi sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Jawab Tantangan Era Modern, Prodi Kesos UMM Dorong Transformasi Pelayanan Sosial

KLIKMU.CO – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial, Rabu (10/12/2025) di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan yang dihadiri sekitar 300 peserta—dosen, mahasiswa, dan mitra Prodi Kesejahteraan Sosial—menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara dibuka oleh Wakil Rektor I UMM, dilanjutkan sambutan Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino PhD menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan pelayanan sosial. Ia menekankan bahwa dinamika sosial yang cepat menuntut hadirnya pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Forum ini, ujarnya, diharapkan menguatkan kolaborasi lintas sektor, terutama dalam layanan multiprofesi di rumah sakit. “Pendekatan holistik, kolaboratif, dan integratif menjadi keniscayaan. Kolaborasi multiprofesi membuka jalan bagi penguatan lembaga kesejahteraan sosial agar dapat memberikan layanan terbaik,” ungkapnya. Melalui penyelenggaraan ini, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial serta mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. Kolaborasi Multiprofesi di Rumah Sakit Sesi pertama disampaikan dr Yuniar SpKJ MMRS, Direktur Utama RS dr Radjiman Wediodiningrat, yang memaparkan materi bertajuk Based Practice Pelayanan Multiprofesi di Rumah Sakit. Ia menjelaskan implementasi model pelayanan multidisiplin untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya, koordinasi dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat menentukan kualitas layanan. Kolaborasi yang terstruktur, papar Yuniar, mampu mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, dan meningkatkan kepuasan pasien serta keluarga. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multiprofesi menjadi kunci keberhasilan layanan berorientasi pasien,” tegasnya. Peluang dan Tantangan Pekerja Sosial Medis Sesi kedua menghadirkan Dr Rinikso Kartono MSi, akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang membahas Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Ia menekankan meningkatnya kebutuhan pekerja sosial medis seiring bertambahnya kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat. Rinikso menjelaskan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran strategis dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien—mulai dari manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, terdapat tantangan besar seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial, keterbatasan SDM terlatih, serta minimnya pemahaman lintas profesi di fasilitas layanan kesehatan. Karenanya, ia mendorong penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan kolaborasi antarprofesi

Forum Prodi Kesos UMM, Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis Jadi Sorotan

malangraya.co, “Pekerja sosial medis berfungsi sebagai penghubung antara kebutuhan medis dan sosial pasien melalui manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga penyusunan rencana layanan berkelanjutan,” jelas Rinikso. Namun, ia mengakui masih banyak hambatan yang dihadapi, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mendukung hingga minimnya tenaga terlatih dan pemahaman antarprofesi mengenai kontribusi pekerja sosial medis. Melihat kondisi tersebut, Rinikso mendorong penguatan kompetensi dan kebijakan agar peran pekerja sosial medis semakin diakui dalam sistem kesehatan. “Peningkatan kapasitas, advokasi regulasi, dan kolaborasi lintas profesi merupakan fondasi penting untuk mewujudkan layanan yang lebih komprehensif,” tegasnya. Kuliah tamu ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas kepada mahasiswa mengenai praktik pelayanan sosial serta membuka wawasan tentang peluang peran pekerja sosial di sektor medis dan layanan publik. Kolaborasi antarprofesi dinilai sebagai elemen kunci dalam menghadirkan layanan sosial yang berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.***