Penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa 2025: Inovasi Mengakhiri Laga, Solidaritas Menguatkan Bangsa

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup giat Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 dalam sebuah acara akbar yang digelar meriah di Hall Dome UMM pada Sabtu (6/12/2025). Gelaran yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung ini bukan hanya menjadi penanda berakhirnya kompetisi inovasi maritim dan pengabdian masyarakat, tetapi juga momen refleksi dan solidaritas kebangsaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memuji kompetensi yang dimiliki para peserta KKI dan Abdidaya Ormawa, menyebut mereka sebagai kelompok terpilih dari jutaan mahasiswa Indonesia. “Saudara adalah representasi dari jutaan mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri, jadikan kompetisi ini sebagai latihan mental dan intelektual. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli,” ungkapnya Ia juga menegaskan bahwa penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa ini bukanlah titik akhir, melainkan pemantik perjalanan kehidupan selanjutnya. Fauzan berpesan agar para pemenang tidak cepat puas, dan bagi yang belum meraih kemenangan untuk tetap menjaga determinasi. “Ini adalah modal untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik,” tuturnya. Menariknya dari acara penutupan ini juga terdapat momen kemanusiaan, di mana seluruh hadirin diajak menggalang dana dan berdoa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Fauzan sapaan akrabnya mengajak seluruh hadirin untuk mengheningkan cipta sejenak dan mendoakan para korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Ia juga menekankan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari pengabdian Di sisi lain, Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., menyampaikan motivasi yang membangkitkan semangat para mahasiswa agar terus berjuang dan tidak cepat merasa puas. “Jangan segera puas, dan yang menang juga tidak boleh jumawa (angkuh),” tegasnya. Ia turut mengobarkan semangat pantang menyerah, meyakinkan para peserta bahwa keyakinan dan keteguhan merupakan bekal penting untuk meraih keberhasilan, mencontohkan kegigihan Presiden RI dalam berbagai perjuangan nasional. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045. Ia juga berharap penyelenggaraan terpadu ini dapat menumbuhkan inspirasi bagi sivitas akademika UMM mengenai pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi. “Semoga ini semua menjadi energi baru dan semangat baru kita untuk terus mengabdi kepada bangsa,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
UMM Soroti Peran Pekerja Sosial Medis yang Terabaikan

Kota Malang, tagarjatim.id — Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti peran strategis pekerja sosial medis yang dinilai masih belum sepenuhnya terlihat dalam sistem kesehatan Indonesia. Isu ini mengemuka dalam Kuliah Tamu Nasional bertema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial” yang digelar di Aula BAU Kampus III UMM, Rabu (10/12/2025). Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat, dr. Yuniar, menjelaskan bahwa pekerja sosial memiliki peran penting dalam mendampingi pasien dengan kebutuhan kompleks, termasuk pasien gangguan jiwa yang sering mengalami stigma dan penolakan dari lingkungan. Pada kondisi tersebut, pekerja sosial menjadi garda terdepan dalam asesmen, pendampingan, hingga layanan advokasi. “Kontribusi pekerja sosial di rumah sakit sering kali tidak terlihat oleh masyarakat, padahal perannya sangat vital. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi adalah kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” ujarnya. Yuniar memaparkan bahwa RS Radjiman telah menerapkan model pelayanan multidisiplin untuk memastikan proses penanganan berjalan terintegrasi. Ia menambahkan bahwa pekerja sosial tidak hanya terlibat dalam asesmen dan pendampingan, tetapi juga edukasi masyarakat dan penghubung antara kebutuhan medis serta sosial pasien. Sejak 2022, rumah sakit tersebut memperkuat peran pekerja sosial melalui berbagai kerja sama, termasuk dengan platform kita bisa untuk membantu pasien dengan kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampak kalian. Apapun pilihanmu, cintai bidang itu,” pesannya kepada mahasiswa. Sementara itu, pakar kesejahteraan sosial Dr. Rinekso Kartono, menilai kebutuhan tenaga pekerja sosial medis di Indonesia meningkat seiring kompleksitas persoalan kesehatan publik. Menurutnya, pekerja sosial medis berperan menghubungkan aspek medis dan sosial melalui manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan layanan lanjutan. “Masih banyak kendala yang muncul, seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, minimnya tenaga terlatih, serta pemahaman antar profesi yang belum merata mengenai kontribusinya,” jelasnya. Rinekso mendorong adanya penguatan kebijakan dan peningkatan kompetensi agar profesi pekerja sosial medis semakin diakui dalam sistem layanan kesehatan. Kolaborasi lintas profesi, kata dia, menjadi komponen penting untuk menghadirkan layanan yang komprehensif dan responsif terhadap kebutuhan pasien. Melalui kuliah tamu ini, Prodi Kesos UMM berharap mahasiswa mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang peluang peran pekerja sosial di sektor medis dan layanan publik. Penguatan kolaborasi antar sektor dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)
Pojok Statistik UMM Terbaik Tiga Tahun Beruntun

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat. Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. ANS
Dosen UMM Tegaskan Peran Perempuan sebagai Kekuatan di Medan Bencana

Banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir November lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan secara fisik, tetapi juga luka sosial yang mendalam. Di tengah situasi yang terus berubah dan kabar kehilangan yang datang setiap jamnya, peran perempuan dalam respons bencana semakin terlihat menonjol. Salah satu di antaranya adalah Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terjun langsung sebagai relawan. Iis sapaan akrabnya mengaku naluri keibuannya membuatnya sulit berpaling dari kabar bencana. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun ketika melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat diwawancarai tim Humas UMM pada 11 Desember lalu,. Ia menegaskan bahwa dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keterlibatannya ini merupakan bagian dari kolaborasi resmi UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam tanggap darurat yang berangkat pada 8 Desember lalu. Tim relawan fokus membantu di Kabupaten Agam, terutama di Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, ada 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum, posisi yang membutuhkan ketelitian, manajemen logistik, serta kepekaan membaca kondisi sosial penyintas. Di dapur umum, relawan perempuan bergerak cepat menyiapkan makanan dan mengatur alur kerja agar semuanya tetap tertib. Kepekaan mereka membuat penyintas merasa lebih diperhatikan, bahkan hanya lewat sapaan singkat saat mengambil makanan. Kehadiran mereka membuat dapur umum terasa lebih teratur dan hangat.“Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Tapi kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami.” Ungkapnya. Iis menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi merupakan bagian vital dari kerja kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, serta kemampuan membangun bonding yang kuat serta semua sifat yang berpengaruh besar terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan, menurutnya, juga menjadi kekuatan yang dapat mempercepat proses pemulihan sosial, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi trauma. “Kadang masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan, dan hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial menjadi jauh lebih optimal.” katanya Dosen teknik itu juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di daerah rawan bencana. Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat sistem respons awal ketika tanda-tanda bencana muncul. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” ucapnya. Di akhir keterangannya, ia menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia dapat diperbaiki dan diperkuat. Baginya, teknologi peringatan dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapat informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Forum Prodi Kesos UMM, Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis Jadi Sorotan

MALANGRAYA.CO– Tantangan pekerja sosial dalam menangani pasien dengan kebutuhan kompleks menjadi sorotan utama dalam Kuliah Tamu Nasional yang digelar Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan bertema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial” itu berlangsung di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu (10/12/2025) dan diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, hingga mitra lembaga praktik. Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat, dr. Yuniar, Sp.KJ, MMRS, mengungkapkan bahwa peran pekerja sosial di rumah sakit sering kali tidak terlihat meski memiliki fungsi vital, terutama dalam penanganan pasien dengan gangguan jiwa yang kerap menghadapi stigma hingga penolakan keluarga. “Dalam kondisi seperti ini, pekerja sosial menjadi garda terdepan untuk memastikan pasien mendapat perlindungan dan layanan yang tepat,” tegasnya. Yuniar menjelaskan, rumah sakitnya telah menerapkan model pelayanan multidisiplin untuk menjawab kebutuhan pasien secara menyeluruh. “Pelayanan kesehatan saat ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi menjadi kunci agar layanan benar-benar berpihak pada pasien,” paparnya. Lebih lanjut, ia menyoroti peran strategis pekerja sosial dalam edukasi masyarakat, asesmen kebutuhan, hingga advokasi akses layanan kesehatan. Sejak 2022, penguatan peran tersebut dilakukan melalui berbagai kemitraan, termasuk kerja sama dengan platform Kitabisa untuk membantu pasien yang menghadapi kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampaknya. Apa pun bidang yang kalian pilih, cintai profesinya,” pesan Yuniar kepada peserta. Sementara itu, pakar kesejahteraan sosial Dr. Rinikso Kartono, M.Si., memaparkan peluang dan tantangan pekerja sosial medis di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan profesi ini terus meningkat seiring kompleksitas masalah kesehatan masyarakat.
Pemerintah Agam Sambut Relawan Kampus, Perkuat Sinergi Penanganan Pascabencana

Agam, InfoPublik — Pemerintah Kabupaten Agam menyambut kedatangan tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Alam Kabupaten Agam, yang berlokasi di Balairong Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (10/12/2025). Kedatangan para relawan disambut langsung oleh Staf Ahli Bupati Agam, Dandi Pribadi. Dalam kesempatan tersebut, Dandi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada tim relawan atas kepedulian mereka terhadap masyarakat yang terdampak bencana. “Kabupaten Agam saat ini sangat membutuhkan dukungan tenaga relawan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana. Kehadiran adik-adik relawan menjadi semangat baru bagi kami dan masyarakat,” ujar Dandi. Dandi juga memaparkan kondisi terkini pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Agam. Ia menjelaskan dampak yang ditimbulkan serta langkah-langkah penanganan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait. Sementara itu, Ketua Tim Relawan, Indra Feri, menjelaskan bahwa sebanyak 48 relawan diterjunkan ke Kabupaten Agam. Mereka terdiri atas mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang. “Relawan yang kami turunkan akan fokus pada tiga bidang utama, yaitu tenaga medis, tenaga psikososial, dan layanan WASH,” jelas Indra Feri. Ia menambahkan, layanan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) merupakan upaya penyediaan dan penyaringan air bersih guna membantu masyarakat terdampak bencana. Untuk mendukung kegiatan tersebut, tim membawa 10 unit alat penyaringan air yang akan ditempatkan di sejumlah titik strategis agar mudah diakses warga. “Sepuluh unit alat penyaringan ini akan dipasang di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat terdampak agar mereka tetap memperoleh air bersih yang layak,” tambahnya. Kehadiran tim relawan dari dua perguruan tinggi besar ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan darurat serta memperkuat upaya pemulihan kondisi masyarakat pascabencana di Kabupaten Agam. (MC Agam/Harry)
Respon Bencana, Maharesigana UMM-UB Kirim Relawan di Sumbar

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Maharesigana (Mahasiswa Relawan Siaga Bencana) Unit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi memberangkatkan lebih dari 18 orang relawan untuk memberikan respon dan layanan kebencanaan akibat bencana yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. Pemberangkatan ini dilakukan melalui kolaborasi bersama tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) sebagai bentuk sinergi antarperguruan tinggi dalam upaya kemanusiaan. Mereka para relawan akan terlibat langsung dalam berbagai layanan kebencanaan, meliputi layanan psikososial, dapur umum, medis, WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), serta logistik, sesuai dengan kebutuhan mendesak di lokasi terdampak. Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan, S.PI., MP., akrab dipanggil Mas Indra menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa relawan merupakan wujud nyata kepedulian dan tanggung jawab sosial sivitas akademika. “Pemberangkatan relawan ini merupakan bentuk komitmen Maharesigana UMM dalam merespon cepat bencana dan menghadirkan layanan yang dibutuhkan masyarakat terdampak. Kolaborasi dengan Universitas Brawijaya memperkuat kapasitas tim di lapangan agar bantuan dapat tersalurkan secara efektif dan berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Indra menegaskan bahwa setiap relawan telah dibekali pelatihan dasar kebencanaan dan pembagian tugas yang jelas sesuai klaster layanan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan relawan sekaligus optimalisasi dampak bantuan bagi masyarakat Padang. Maharesigana UMM berharap kehadiran tim gabungan ini dapat membantu proses pemulihan awal, meringankan beban korban bencana, serta memperkuat solidaritas kemanusiaan lintas kampus. Organisasi juga terus membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak guna mendukung keberlanjutan respon kebencanaan di wilayah terdampak. (rilis andi maharesigana)
Dosen UMM Tegaskan Peran Strategis Perempuan sebagai Kekuatan di Medan Bencana

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peran perempuan kembali menjadi sorotan penting dalam upaya penanganan bencana nasional. Hal itu ditegaskan oleh Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang terjun langsung sebagai relawan pada respons bencana banjir bandang di Sumatera akhir November lalu. Bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka sosial mendalam bagi para penyintas. Di tengah situasi yang berubah cepat dan kabar kehilangan yang datang silih berganti, kontribusi perempuan tampil sebagai kekuatan emosional dan operasional yang signifikan. Iis, sapaan akrabnya, mengaku naluri keibuannya mendorong dirinya untuk tidak tinggal diam. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun saat melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat ditemui tim Humas UMM pada 11 Desember 2025. Menurutnya, dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keikutsertaan Iis merupakan bagian dari kolaborasi resmi antara UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam misi tanggap darurat yang diberangkatkan pada 8 Desember lalu. Tim relawan difokuskan di wilayah Kabupaten Agam, terutama Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, terdapat 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Dalam misi kemanusiaan ini, Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum—posisi yang menuntut ketelitian, kemampuan manajemen logistik, serta kepekaan sosial yang tinggi. Di dapur umum, para relawan perempuan bergerak sigap menyiapkan makanan sekaligus menjaga alur distribusi tetap tertib. Kehadiran mereka juga memberi rasa aman dan perhatian lebih kepada para penyintas, bahkan lewat sapaan singkat saat pembagian makanan. “Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami,” ujar Iis. Ia menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi komponen vital dalam kerja kemanusiaan. Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, dan mudah membangun kedekatan emosional—sifat yang sangat berpengaruh terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan juga memperkuat proses pemulihan sosial, terutama bagi korban yang mengalami trauma. “Sering kali masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan. Hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial jauh lebih optimal,” jelasnya. Dosen teknik UMM tersebut juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan bencana. Ia menilai masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat respons dini setiap kali muncul tanda bahaya. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” tegasnya. Di akhir keterangannya, Iis menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia terus diperbaiki dan diperkuat. Menurutnya, teknologi deteksi dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapatkan informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” tutupnya. (ANS)