Daftar Kampus dengan Jurusan S1 Akuntansi Terbaik di Indonesia 2026

KOMPAS.com – Berikut daftar universitas dengan jurusan/program studi (prodi) S1 Akuntansi terbaik di Indonesia. Informasi kampus S1 Akuntansi terbaik berikut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siswa yang ingin kuliah Akuntansi saat pendaftaran SNBP 2026. Predikat universitas dengan jurusan Akuntansi terbaik ini dipilih berdasarkan predikat “Unggul” akreditasi BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Lantas, mana saja perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan Akuntansi terbaik dengan akreditasi Unggul? Kampus S1 Akuntansi terbaik di Indonesia Dikutip dari laman resmi BAN-PT, berikut daftar Perguruan Tinggi dengan Prodi S1 Akuntansi terbaik di Indonesia yang terakreditasi Unggul BAN-PT 2026: Universitas Indonesia Universitas Brawijaya Universitas Gadjah Mada Universitas Negeri Semarang Universitas Malikussaleh Universitas Pelita Harapan Universitas Trisakti Universitas Muslim Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Bina Nusantara Universitas Sumatera Utara Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Padang Universitas Telkom Universitas Jenderal Soedirman Universitas Negeri Surabaya Universitas Padjadjaran Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Bakrie Universitas Bunda Mulia Universitas Muhammadiyah Purwokerto Universitas Kristen Krida Wacana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ekuitas Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Syiah Kuala Universitas Negeri Gorontalo Universitas Pendidikan Ganesha Universitas Jember Universitas Negeri Malang Universitas Pancasakti Tegal Universitas Pancasila Universitas Islam Indonesia Universitas Islam Malang Universitas Dian Nuswantoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Universitas Gajayana Universitas Merdeka Malang Universitas Kristen Satya Wacana Universitas Multimedia Nusantara Jakarta Universitas Katolik Parahyangan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa UIN Maulana Malik Ibrahim UPN Veteran Yogyakarta Universitas Diponegoro Universitas Jambi Universitas Airlangga UPN Veteran Jawa Timur Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Universitas Islam Bandung Universitas Widyatama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Sekolah Tinggi Manajemen PPM Universitas Muhammadiyah Semarang Universitas Muhammadiyah Palopo Universitas Jakarta Internasional Universitas Stikubank Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan Universitas Pasundan Institut Keuangan-Perbankan dan Informatika Asia Perbanas Universitas Ibn Khaldun Bogor Universitas Muhammadiyah Jakarta Universitas Bengkulu Universitas Trilogi Universitas Palangka Raya Universitas Medan Area Universitas Negeri Jakarta Universitas Mulawarman STIE Indonesia Surabaya Universitas Teknologi Yogyakarta Universitas Sriwijaya Universitas Hayam Wuruk Perbanas UIN Alauddin Makassar UPN Veteran Jakarta Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Udayana Universitas Ahmad Dahlan Universitas Yarsi Universitas Katolik Soegijapranata Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Universitas Muhammadiyah Ponorogo Universitas Ciputra Surabaya Universitas Lambung Mangkurat Universitas Muhammadiyah Tangerang Universitas Pendidikan Nasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Universitas Jenderal Achmad Yani Universitas Andalas Universitas Atma Jaya Yogyakarta Universitas Ekuitas Indonesia STIE Malangkucecwara Universitas Muhammadiyah Jember Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Mercu Buana Universitas Bung Hatta Universitas Gunadarma Universitas Islam Sultan Agung Universitas Bandar Lampung STIE Indonesia Banking School Universitas Lampung Universitas Lancang Kuning Universitas Surabaya Universitas Muhammadiyah Surakarta Universitas Tarumanagara. Data BAN-PT dikutip pada 16 Januari 2026 – tidak termasuk S1 Pendidikan Akuntansi Akreditasi BAN-PT adalah sistem jaminan mutu atau pengakuan formal terhadap kecakapan sebuah perguruan tinggi atau prodi, dengan predikat “Unggul” menjadi strata tertinggi.
Siasat Menepis Cemas: Ketika Rumah Menjadi Benteng Ekonomi di Tengah Badai Inflasi

Malang (beritajatim.com) – Pasangan suami istri asal Malang, Jawa Timur, Erha Authonul Muther dan Monika, mungkin bisa dibilang punya cara pandang menarik soal pemilikan rumah. Cara pandang itu bahkan bertolak belakang dengan kebanyakan anak muda yang masuk kategori Generasi Z (Gen Z). Dalam kacamata sejumlah pakar ekonomi, Gen Z, termasuk pula Generasi Milenial, memilih untuk menunda memiliki rumah. Beberapa alasannya seperti kondisi ekonomi yang tidak pasti, harga rumah yang semakin melambung, serta tingkat pendapatan yang relatif stagnan. Tetapi bagi Erha dan Monika, alasan di atas malah jadi landasan mereka memiliki rumah. Karena dengan adanya rumah, keduanya justru bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih baik. “Justru karena ekonomi tidak pasti, maka saya memutuskan untuk mengambil rumah,” ujar Erha saat berbincang dengan beritajatim.com di kediamannya, Rabu (14/1/2025). Erha dan Monika adalah pasangan yang bekerja di sektor swasta. Keduanya memiliki penghasilan bulanan yang nilainya masih di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Malang yang berlaku saat ini. Dengan kondisi tersebut, tentu sulit untuk bisa memiliki hunian, apalagi dengan fasilitas perbankan seperti KPR. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik per Februari 2025, rata-rata gaji masyarakat Indonesia berada di angka Rp3.094.818 per bulan. Angka yang secara matematis nyaris mustahil untuk mengejar harga properti di perkotaan yang terus melangit. Data inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Gen Z tak kunjung bisa punya rumah. Alhasil, banyak kaum muda yang akhirnya memilih untuk menghabiskan uangnya untuk kebutuhan lain. Sebut saja misalnya, membeli ponsel mewah, barang-barang bermerek, jajan di kafe mahal, dan banyak lagi. Alasannya pun cukup rasional. Kalaupun mereka memilih menabung, hasilnya juga belum tentu bisa beli rumah dalam waktu dekat. Alasan lain yang juga membuat Gen Milenial dan Z tak kunjung punya rumah adalah bayangan soal ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk dalam karir seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jika itu terjadi, maka mereka kehilangan kemampuan untuk membayar angsuran pembelian rumah. Akhirnya, aset hilang akibat disita bank, sementara kondisi ekonomi sedang berantakan. Demikian halnya dengan Erha dan Monika. Jika melihat dari sisi pendapatan, di mana Erha punya pemasukan bulanan sekitar Rp3 juta dan Monika hanya Rp2,5 juta. Dengan tingkat pendapatan tersebut, tentu mustahil bagi masing-masing untuk bisa memiliki hunian. Beruntung, ada solusi yang ditawarkan perbankan yaitu joint income (gabungan penghasilan). Akhirnya, Erha dan Monika bisa memiliki rumah di komplek perumahan sederhana di Wagir, Kabupaten dengan fasilitas pembiayaan pemilikan rumah dari BTN Syariah. “Kalau pakai gaji saya sendiri yang Rp3 juta, jelas tidak masuk (lolos bank). Tapi karena BTN membolehkan joint income dengan istri, total pendapatan kami jadi Rp5,5 juta. Itu yang membuat kami akhirnya bisa akad kredit,” kata Erha. Di mata Erha, rumah bukan sekadar aset mati. Hunian adalah benteng pertahanan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang makin tak pasti. Apalagi, inflasi selalu menghantui. Erha mengaku ketakutan terbesarnya bukanlah cicilan melainkan hilangnya nilai mata uang akibat gerusan inflasi. Data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia Triwulan I-2025 yang tumbuh 1,07 persen secara tahunan (yoy) mengonfirmasi kecemasannya: harga properti akan terus naik, sementara nilai uang di tabungan bisa tergerus. Inilah mengapa bagi Erha rumah adalah benteng pertahanan. Rumah adalah aset lindung nilai (hedging) yang paling masuk akal untuk menyelamatkan jerih payah keringatnya. “Rumah itu semacam pelindung mata uang kita dari inflasi. Makanya dia disebut aset. Ketakutan finansial pasti ada, apalagi gaji saya tidak pasti, hanya dari freelance dan bisnis kecil-kecilan. Tapi justru karena inflasi dan isu lay-off tidak bisa dipastikan, saya butuh kepastian di satu hal, tempat tinggal,” tegasnya dengan tatapan tajam. Pilihan Erha jatuh pada skema pembiayaan syariah. Alasannya pragmatis dan sangat teknis, jauh dari sekadar sentimen religius semata. Ia memilih unit rumah di posisi sudut. Dalam kalkulasi ekonominya, skema syariah menawarkan satu hal yang sangat mahal harganya di era fluktuasi suku bunga acuan: cicilan flat alias tetap dari awal hingga selesai. “Cicilannya flat. Tidak ada bunga tambahan atau kejutan kenaikan cicilan ketika sudah berjalan beberapa tahun. Bagi saya, ini pilihan paling masuk akal,” ungkapnya. Ada cerita menarik di balik perjalanannya menjadi debitur. Awalnya, ia mengajukan pembiayaan pemilikan rumah melalui jalur konvensional. Sayangnya, upaya tersebut terhalang kendala teknis administrasi. Bak takdir yang menemukan jalannya, setelah berkas dibenahi, data-datanya justru lolos verifikasi di BTN Syariah yang sekarang berubah menjadi BSN (Bank Syariah Nasional). “Mungkin itu takdir, tapi takdir yang teknis,” kekehnya. Bagi Erha, penting untuk memastikan nominal cicilan. Ia mengambil tenor paling lama, 20 tahun dengan cicilan sekitar Rp1,1 juta. “Mengapa paling lama? Agar risiko masa depan bisa diminimalisir. Jika lima tahun lagi saya kaya raya, uang sejuta itu akan terasa sangat ringan. Tapi jika kondisi memburuk, cicilan itu masih masuk akal untuk dibayar. Sama seperti biaya ngekos.” Erha menghitung dengan cermat. Jika ia memilih mengontrak rumah selama 5 tahun dengan biaya Rp20 juta per tahun, ia akan menghabiskan Rp100 juta tanpa sisa aset. Dengan mencicil rumah, uang yang keluar berubah menjadi aset yang nilainya terus merangkak naik. Rumah yang ia beli seharga Rp166 juta, diprediksi Erha bisa menyentuh angka Rp250 juta dalam lima tahun ke depan. Namun, di luar hitungan itu, ia menyentuh satu aspek fundamental yang sering luput dari perdebatan properti soal kesehatan mental. Dengan memilik rumah ia merasa kesehatan mentalnya menjadi aman. “Kita tidak khawatir ke mana harus pulang. Punya rumah itu menciptakan rasa kepemilikan. Kita tumbuh dan menua di situ. Itu membuat mental lebih nyaman, jadi kita bisa fokus cari duit. Di era kapitalisme ini, punya sesuatu yang benar-benar milik kita itu membuat kita enjoy karena hidup cuma sekali,” jelasnya dengan filosofis. Mencari Ketenangan di Kedungkandang Narasi serupa datang dari Titis Bayu Widagdo di Kedungkandang, Kota Malang. Ia menghindari bunga floating yang fluktuatif. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Triwulan I-2025 tumbuh 1,07 persen (yoy). Kenaikan ini menjadi ancaman nyata bagi pekerja muda. Titis merasa Rumah sebagai kunci ketenangan. Titis, seorang milenial pengguna BTN Syariah, melihat perbankan syariah bukan sekadar label agama, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri terhadap kejutan ekonomi. Menurutnya, Bank BTN Syariah itu menghadirkan ketenangan untuk masa depan. “Kondisi global naik turun, konflik di mana-mana. Itu memberikan kekhawatiran. BTN Syariah memberikan opsi dengan tidak adanya kejutan kenaikan bunga. Dalam merancang masa depan,
HUT ke-6 Rayz UMM Hotel Malang Diwarnai Penanaman Bibit Pohon Kopi dan Pisang Lewat Program Hutan Reborn

Malang, Sonora.ID – Komitmen dunia hospitaliti terhadap pelestarian lingkungan diwujudkan melalui aksi nyata penanaman pohon dalam program Hutan Reborn, hasil kolaborasi RAYZ Hotel, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), PT Retaka, dan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). Kegiatan ini digelar di kawasan Sumber Sekar, lahan milik UMM seluas 25 hektare, sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-6 Rayz UMM Hotel Malang. Melalui program ini, setiap tamu yang menginap di Rayz UMM Hotel Malang secara tidak langsung turut berkontribusi dalam upaya pemulihan lingkungan berkelanjutan. Acara diawali dengan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi simbolis penanaman pohon di area yang telah disiapkan oleh panitia. General Manager RAYZ UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas perjalanan enam tahun Rayz UMM Hotel Malang sekaligus respons atas kondisi lingkungan dan bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Ia menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memberi manfaat jangka panjang. Sebanyak 500 bibit kopi Robusta varietas 308 asal Sumawe (Sumbermanjing Wetan), serta tanaman pendukung seperti pisang Emas Kirana, ditanam dalam kegiatan ini. Proses penanaman dan perawatan selanjutnya akan dikawal oleh PT Retaka sebagai pengelola lahan, bekerja sama dengan JATAM selama minimal dua bulan ke depan. Wakil Rektor II UMM, Juanda, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Rayz UMM Hotel Malang yang dinilainya unik dan bernilai strategis. Ia menjelaskan bahwa lahan seluas 25 hektare tersebut merupakan aset universitas yang disiapkan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, ekowisata, pendidikan, dan olahraga berbasis alam. “Jadi isu besar nasional adalah menyelamatkan bumi. Untuk ketahanan pangan, untuk energi dan lingkungan. Jadi proses ini bukan untuk kita, kita berbuat dalam rangka untuk generasi berikutnya, Generasi yang akan ada, ” Tegas Juanda. Ia menambahkan, kopi Robusta 308 dipilih karena memiliki keunggulan adaptif dan produktif, bahkan mampu berbuah dalam waktu sekitar satu tahun. Tanaman ini juga berpotensi menjadi objek kajian akademik dan unggulan pertanian lokal yang bernilai ekonomi global. Sementara itu, perwakilan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) menjelaskan bahwa JATAM merupakan bagian dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah yang fokus pada penguatan sektor pertanian. Ke depan, kawasan ini direncanakan menjadi hutan pendidikan dengan berbagai varietas kopi, seperti Arabika, Excelsa, dan varietas unggulan lainnya. UMM berharap program Hutan Reborn tidak berhenti pada kegiatan simbolis semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak. Selain sebagai upaya pelestarian lingkungan, kawasan ini juga disiapkan untuk penguatan ketahanan pangan, wisata edukasi, serta ruang pembelajaran berbasis alam. Kegiatan ini menegaskan bahwa sinergi antara dunia pendidikan, sektor usaha, dan komunitas dapat menjadi solusi konkret dalam menjawab tantangan lingkungan dan keberlanjutan di masa depan (ahr/lnis).
Inspirasi Isra Mikraj: Salat sebagai Kompas Kesadaran

Di tengah tekanan akademik dan krisis arah hidup generasi kampus, Isra Mikraj menghadirkan pesan penting bahwa salat bukan sekadar ritual, melainkan sistem penuntun kesadaran dan ketahanan mental mahasiswa. Tagar.co – Peringatan Isra Mikraj tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Di balik peristiwa agung perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw., tersimpan pesan mendalam tentang bagaimana manusia, khususnya mahasiswa, menata arah hidup di tengah tekanan akademik dan kompleksitas zaman. Pesan itulah yang disampaikan I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat diwawancarai, Selasa (14/1/2026). Ia menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan dari bumi ke langit, melainkan peristiwa pembentukan kesadaran manusia ketika berada di titik terberat kehidupan. “Isra Mikraj terjadi saat Rasulullah berada pada fase paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkannya melalui pendekatan spiritual,” ujar I’ana. Menurutnya, situasi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan masa depan, tuntutan prestasi, dan kelelahan mental sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan akademik atau materiil. Di situlah spiritualitas menemukan perannya sebagai sumber ketenangan yang sering diabaikan. Dijemput Langsung Lebih lanjut, I’ana menyoroti keistimewaan Isra Mikraj yang melahirkan satu ibadah utama: salat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, salat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Mikraj. “Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa sentralnya posisi salat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu. Bagi I’ana, salat bukan sekadar ritual individual, melainkan sistem pengelolaan hidup yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa modern. Lima waktu salat membentuk pola hidup teratur berbasis nilai. “Salat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” tuturnya. Dalam kehidupan mahasiswa yang sering terjebak kesibukan tanpa henti, salat justru menjadi penyeimbang. Ia bukan penghambat produktivitas, melainkan penopang fokus, ketenangan, dan kejernihan berpikir. I’ana memetakan makna tiap waktu salat sebagai panduan hidup: Subuh mengajarkan perencanaan dan niat, Zuhur menjadi jeda evaluasi, Asar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan waktu, Magrib membuka ruang refleksi, dan Isya menjadi momentum penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membantu mahasiswa tetap terarah meskipun berada di tengah ritme kehidupan kampus yang padat. Lebih jauh, ia menekankan bahwa nilai Isra Mikraj dan salat memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter mahasiswa. Isra Mikraj memberi orientasi bahwa kuliah bukan semata mengejar IPK, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bermakna. Sementara salat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” tegasnya. Menutup pesannya, I’ana mengajak mahasiswa menjadikan salat sebagai kompas kesadaran hidup. Di tengah dunia kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, salat berfungsi sebagai pengingat arah, nilai, dan tujuan hidup. “Salat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap hidup dalam nilai yang penuh berkah,” ujarnya. (*)
Maknai Isra Mi’raj, Salat Sebagai Pengatur Ritme Kehidupan

RRI.CO.ID, Malang – Peringatan Isra Mi’raj tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi termasuk bagi mahasiswa untuk menata kembali arah hidup di tengah tekanan akademik. Salah satu pesan penting adalah peran salat sebagai pengatur ritme kehidupan manusia. Hal tersebut disampaikan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), I’anatut Thoifah, M.Pd.I. Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan spiritual yang menegaskan pentingnya penguatan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah SAW berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada pada kondisi paling lemah, Allah justru menguatkannya melalui pendekatan spiritual,” ujar I’anatut Thoifah, Jumat (16/1/2026). Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik atau materi. “Spiritualitas menjadi sumber ketenangan yang kerap terabaikan,” ucapnya. I’ana menjelaskan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada ditetapkannya ibadah salat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, salat justru diperintahkan secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa sentralnya salat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut. Menurutnya, salat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan waktu yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu salat membentuk pola hidup yang teratur dan sarat nilai. “Salat merupakan siklus manajemen waktu yang lengkap plan, do, check, reflect, dan reset,” ujarnya. Di tengah kesibukan akademik yang padat, salat justru menjadi penyeimbang yang membantu menjaga fokus dan ketenangan, bukan mengurangi produktivitas. Ia menguraikan bahwa setiap waktu salat memiliki makna tersendiri dalam membentuk kesadaran hidup. “Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup, Dzuhur menjadi jeda evaluasi, Ashar menyadarkan bahwa waktu terbatas, Maghrib sebagai ruang refleksi, dan Isya menjadi momen penyerahan diri sekaligus pemulihan batin,” paparnya. Bagi mahasiswa, nilai Isra Mi’raj dan salat dinilai memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter. Isra Mi’raj memberikan orientasi bahwa perkuliahan bukan sekadar mengejar indeks prestasi, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang bermakna. Sementara salat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. I’ana berpesan agar salat dijadikan kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, salat menjadi pengingat penting untuk tetap berjalan pada nilai yang benar. “Salat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap dan perilaku dalam nilai-nilai yang penuh keberkahan,” pungkasnya.
7 Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 Versi UniRank dan Akreditasi BAN-PT

NGAWI PIKIRAN RAKYAT – Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbaik terbanyak di Indonesia. Memasuki tahun 2026, pencarian tentang kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank dan akreditasi BAN-PT semakin meningkat, terutama bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi negeri maupun swasta unggulan. Artikel ini merangkum 7 kampus terbaik di Jawa Timur berdasarkan peringkat UniRank serta akreditasi resmi BAN-PT. 1. Universitas Airlangga (UNAIR) – Surabaya Universitas Airlangga menempati posisi teratas sebagai kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. UNAIR unggul di bidang kedokteran, kesehatan, hukum, dan ilmu sosial. Kampus ini juga telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT, menjadikannya salah satu universitas terbaik di Indonesia. 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) – Surabaya ITS dikenal sebagai kampus teknologi dan rekayasa terbaik di Jawa Timur. Reputasinya sangat kuat di bidang teknik, sains, dan inovasi. ITS juga berstatus akreditasi Unggul BAN-PT serta memiliki pengakuan internasional. 3. Universitas Brawijaya (UB) – Malang Universitas Brawijaya merupakan salah satu kampus favorit di Indonesia. UB unggul dalam bidang pertanian, ekonomi, hukum, dan teknik. Popularitas digital yang tinggi membuat UB konsisten berada di peringkat atas UniRank Jawa Timur. 4. Universitas Negeri Malang (UM) – Malang Universitas Negeri Malang dikenal sebagai kampus pendidikan terbaik di Jawa Timur. Selain unggul di bidang kependidikan, UM juga berkembang pesat di bidang sains dan humaniora serta telah meraih akreditasi Unggul BAN-PT. 5. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) – Surabaya UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi kampus Islam negeri terbaik di Jawa Timur. Kampus ini memadukan keilmuan modern dan keislaman serta memiliki reputasi akademik dan digital yang terus meningkat. 6. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) – Malang UMM merupakan perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. Kampus ini dikenal dengan julukan The White Campus dan memiliki fasilitas modern serta jaringan internasional yang luas.
Erasmus + Jadi Pintu Globalisasi Kampus, Mahasiswa Dan Dosen UMM Siap Berlaga Di Kancah Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office(IRO) menggelar kegiatan Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+ di GKB 4 Lantai 1 pada Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari persiapan mobilitas internasional. Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa UMM penerima student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility yang akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Program Erasmus+ (Erasmus Plus) merupakan program mobilitas internasional yang didanai penuh oleh Uni Eropa (UE) dan berfokus pada bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Melalui program ini, mahasiswa dan dosen memperoleh kesempatan memperluas wawasan akademik, membangun jejaring global, serta meningkatkan kapasitas diri dalam lingkungan internasional. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Erasmus+ dilaksanakan secara bertahap dan ketat. Ia menyampaikan bahwa tahapan dimulai dari kerja sama resmi dengan universitas mitra, pembukaan open call, seleksi administrasi dan wawancara, hingga persetujuan akhir dari institusi atau perusahaan tujuan. Menurutnya, setiap peserta juga wajib memperoleh rekomendasi resmi dari program studi sebagai bentuk penyaringan akademik awal. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural, sehingga mampu beradaptasi dengan baik dan membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Malang di kampus tujuan,” ujar Dr. Listiari. Lebih lanjut, Lilis apaan akrabnya menerangkan bahwa saat ini UMM memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound dan inbound, dengan pendanaan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Uni Eropa. Dibandingkan tahun sebelumnya, program Erasmus di UMM terus berkembang melalui penambahan mitra baru serta penegasan kriteria mahasiswa yang dapat mengikuti mobilitas, yakni minimal semester tiga dan maksimal semester lima. Kebijakan ini diterapkan agar mahasiswa masih memiliki ruang akademik untuk konversi mata kuliah setelah kembali ke UMM. Dalam hal dukungan institusi, UMM memberikan pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound, memfasilitasi proses konversi nilai, serta mengusulkan apresiasi tambahan melalui unit kemahasiswaan. Dukungan tersebut menjadi bentuk komitmen kampus dalam memastikan mahasiswa dapat fokus menjalani pengalaman akademik internasional tanpa terbebani secara administratif maupun finansial. Kampus putih juga terus mengembangkan strategi internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, mikro kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara, sebagai upaya memperluas akses mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang terbuka, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika pendidikan global. Sementara itu, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. dalam sambutannya menekankan bahwa mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi besar UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. Ia menilai bahwa mahasiswa dan dosen penerima Erasmus+ merupakan representasi sivitas akademika UMM yang diharapkan mampu menunjukkan integritas, etika, dan prestasi di tingkat internasional. “Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk belajar dan mengajar, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ungkapnya. Menutup rangkaian kegiatan, Wakil Rektor I UMM itu menyampaikan bahwa kampus putih akan terus mendorong dan memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan berwawasan global, berdaya saing tinggi, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.(*alg/faq) Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Rayz UMM Hotel Pilih Tanam Pohon Demi Selamatkan Bumi di Hari Anniversary ke-6 Tahun

SURYAMALANG.COM, MALANG – Rayz UMM Hotel memperingati hari jadinya yang ke-6 dengan cara berbeda, yakni menanam pohon sebagai simbol untuk menyelamatkan lingkungan. Mengusung tema Hutan Reborn, hotel yang berada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menggelar kegiatan penanaman pohon di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Kamis (15/1/2026). Ada sekitar 500 bibit kopi robusta 308 yang ditanam di lahan seluas 25 hektare milik UMM. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan PT Retaka UMM, petani dari Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang, serta Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). General Manager Rayz UMM Hotel, Yanuar Arifien, mengatakan peringatan ulang tahun kali ini sengaja diarahkan pada kegiatan yang memberi manfaat lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat. “Di ulang tahun ke-6 ini kami ingin berbagi manfaat, bukan hanya untuk kami sendiri, tapi juga untuk orang lain dan lingkungan,” “Terlebih, kemarin kita sama-sama melihat adanya bencana di Sumatera, sehingga kami tergerak untuk berkontribusi melalui penanaman pohon,” ujar Yanuar.
HUT ke-6 Rayz UMM Hotel Malang Diwarnai Penanaman Bibit Pohon Kopi dan Pisang Lewat Program Hutan Reborn

Malang, Sonora.ID – Komitmen dunia hospitaliti terhadap pelestarian lingkungan diwujudkan melalui aksi nyata penanaman pohon dalam program Hutan Reborn, hasil kolaborasi RAYZ Hotel, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), PT Retaka, dan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). Kegiatan ini digelar di kawasan Sumber Sekar, lahan milik UMM seluas 25 hektare, sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-6 Rayz UMM Hotel Malang. Melalui program ini, setiap tamu yang menginap di Rayz UMM Hotel Malang secara tidak langsung turut berkontribusi dalam upaya pemulihan lingkungan berkelanjutan. Acara diawali dengan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi simbolis penanaman pohon di area yang telah disiapkan oleh panitia. General Manager RAYZ UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas perjalanan enam tahun Rayz UMM Hotel Malang sekaligus respons atas kondisi lingkungan dan bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Ia menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memberi manfaat jangka panjang. Sebanyak 500 bibit kopi Robusta varietas 308 asal Sumawe (Sumbermanjing Wetan), serta tanaman pendukung seperti pisang Emas Kirana, ditanam dalam kegiatan ini. Proses penanaman dan perawatan selanjutnya akan dikawal oleh PT Retaka sebagai pengelola lahan, bekerja sama dengan JATAM selama minimal dua bulan ke depan. Wakil Rektor II UMM, Juanda, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Rayz UMM Hotel Malang yang dinilainya unik dan bernilai strategis. Ia menjelaskan bahwa lahan seluas 25 hektare tersebut merupakan aset universitas yang disiapkan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, ekowisata, pendidikan, dan olahraga berbasis alam. “Jadi isu besar nasional adalah menyelamatkan bumi. Untuk ketahanan pangan, untuk energi dan lingkungan. Jadi proses ini bukan untuk kita, kita berbuat dalam rangka untuk generasi berikutnya, Generasi yang akan ada, ” Tegas Juanda. Ia menambahkan, kopi Robusta 308 dipilih karena memiliki keunggulan adaptif dan produktif, bahkan mampu berbuah dalam waktu sekitar satu tahun. Tanaman ini juga berpotensi menjadi objek kajian akademik dan unggulan pertanian lokal yang bernilai ekonomi global. Sementara itu, perwakilan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) menjelaskan bahwa JATAM merupakan bagian dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah yang fokus pada penguatan sektor pertanian. Ke depan, kawasan ini direncanakan menjadi hutan pendidikan dengan berbagai varietas kopi, seperti Arabika, Excelsa, dan varietas unggulan lainnya. UMM berharap program Hutan Reborn tidak berhenti pada kegiatan simbolis semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak. Selain sebagai upaya pelestarian lingkungan, kawasan ini juga disiapkan untuk penguatan ketahanan pangan, wisata edukasi, serta ruang pembelajaran berbasis alam. Kegiatan ini menegaskan bahwa sinergi antara dunia pendidikan, sektor usaha, dan komunitas dapat menjadi solusi konkret dalam menjawab tantangan lingkungan dan keberlanjutan di masa depan (ahr/lnis).
Puluhan Pegiat Sejarah Gelar Peringatan 62 Tahun Kedatangan Cindy Adams di Ploso

Jombang – beritaplus.id | Puluhan pegiat dan pecinta sejarah menggelar rekonstruksi bersejarah untuk memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Ploso. Kegiatan yang berlangsung Jumat (16/1/2026) di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, ini bertepatan dengan 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964. Kunjungan Cindy Adams saat itu disebut merupakan mandat langsung dari Presiden Soekarno untuk mengumpulkan bahan penulisan biografi Penyambung Lidah Rakyat. Cindy melakukan riset mendalam dengan mewawancarai sejumlah sosok kunci masa kecil Sang Proklamator, di antaranya pengasuh Bung Karno Mbok Suwi dan Mbok Mirah, serta teman masa kecil beliau, Mbah Joyo Dipo. Dalam rekonstruksi dan napak tilas tersebut, suasana tahun 1964 dihidupkan kembali. Sosok Cindy Adams diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang tampak membersamai tokoh-tokoh yang mendampingi Cindy pada masa itu, seperti Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peresmian “tetenger situs kelahiran Ir. Soekarno.” Hadir dalam acara tersebut perwakilan keluarga Persada Soekarno Kediri, Raden Mas Kuswartono. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya meluruskan sejarah keluarga. “Persoalan tempat kelahiran Bung Karno memang sering diperdebatkan. Namun, berdasarkan keterangan internal keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk dalam wilayah Karesidenan Surabaya,” tegas Raden Mas Kuswartono. Senada, Masfiin selaku Kunci Titik Nol yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger menyampaikan bahwa keyakinan Bung Karno lahir di Ploso bukan sekadar klaim sepihak, melainkan memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung. Warga setempat, kata dia, sejak lama mengenal lokasi tersebut sebagai tempat lahirnya Raden Koesno Sosro Di Hardjo, nama kecil Bung Karno. Sementara itu, Inisiator Titik Nol, Binhad Nurrohmad, mengungkapkan dukungan data terhadap hal tersebut kian menguat. “Kami memiliki lebih dari 10 bukti dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di sini,” ujarnya. Pernyataan itu diperkuat oleh penelusur sejarah Jombang, Faisol, yang memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung. Bahkan, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang melalui Koordinator Wilayah Ploso, Cak Arif, menyatakan kajian teknis telah dilakukan dan memberikan rekomendasi kuat terkait validitas kelahiran Soekarno di Ploso. Melalui peringatan ini, para pegiat sejarah berharap upaya pelestarian dan pelurusan sejarah dapat terus berlanjut, sekaligus menjadi edukasi yang akurat bagi generasi muda mengenai jejak Sang Proklamator. (khoiri)