[Siaran Pers] CommuniAction Malang: Generasi Muda Siap Kawal Pelindungan Anak di Ruang Digital

infopublik – Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang antusias menghadiri kegiatan CommuniAction yang diselenggarakan Direktorat Informasi Publik, Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Dengan mengusung tema “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?”, para mahasiswa berkesempatan berdiskusi langsung dengan narasumber yang kompeten di bidang digital. Kegiatan itu menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya respons positif terhadap penyelenggaraan acara. Salah satu mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Farah, menilai kegiatan ini memberikan wawasan baru terkait pemanfaatan ruang digital secara bijak. “Sangat bermanfaat. Selain menambah wawasan mengenai ruang digital seperti pembuatan konten dan penggunaan Artificial Intelligence (AI), kami juga belajar tentang berbagai risiko yang dapat muncul jika teknologi digunakan tidak semestinya,” ujar Farah usai kegiatan kepada InfoPublik di Kota Malang, Jawa Timur pada Kamis (12/01/2026). Mahasiswi Jurusan Komunikasi tersebut menilai bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, pengawasan juga perlu diperkuat. Hal itu tidak hanya untuk mencegah tindakan kriminal, tetapi juga melindungi generasi muda dari penyalahgunaan teknologi digital. Selain Farah, mahasiswi UMM lainnya, Zizi, mengungkapkan bahwa langkah pemerintah melalui Kementerian Komdigi dalam menyusun regulasi pelindungan anak di ruang digital yakni Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) sudah tepat. Menurutnya, kebijakan tersebut penting di tengah berbagai persoalan yang muncul terkait anak dan internet. “Di media sosial, anak-anak sudah terpapar tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal itu berbahaya karena bisa memengaruhi kebiasaan, cara berbahasa, hingga lingkungan pertemanan,” ujar Zizi. CommuniAction seri Malang yang dihadiri sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, generasi muda, perwakilan KL hingga organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Malang itu, merupakan platform sinergi, kolaborasi, dan aksi nyata yang menyatukan tiga elemen komunikasi publik pemerintah: Media Monitoring (FoMo), Pemberdayaan Komunitas (IGID Goes to Campus), dan Penguatan Konten Kreatif (SOHIB Berkelas). Saat membuka acara, Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk memperkuat komunikasi publik terkait perlindungan anak berbasis data, responsif, dan berdampak di tengah dinamika isu digital yang terus berkembang. “Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat peran Kementerian Komdigi sebagai penghubung dan penggerak dalam memfasilitasi peningkatan kualitas komunikasi publik antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, komunitas, hingga generasi muda,” tegas Nursodik. CommuniAction, lanjutnya, bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat ekosistem komunikasi publik Indonesia, khususnya dalam isu perlindungan anak di ruang digital. “Inilah kontribusi kita bersama menuju Indonesia Emas 2045: sebuah Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga dewasa dalam berkomunikasi,” pungkas Nursodik Gunarjo. CommuniAction kali ini menghadirkan narasumber Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Dwi Santoso atau akrab dipanggil Bang Anto Motulz. Selain kreator lintas bidang, Motulz juga aktif mengeksplorasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan strategi komunikasi dan produksi konten digital. Kemudian Reza A. Maulana, Praktisi Public Relations yang memiliki pengalaman kuat dalam membangun strategi komunikasi berbasis riset dan monitoring isu publik. Selain itu ada Naning Puji Julianingsih, Child Protection Specialist UNICEF, seorang aktivis dalam program-program pelindungan anak di Indonesia. Ia aktif mengampanyekan perlindungan anak dari kekerasan, pengasuhan positif, serta pentingnya reunifikasi keluarga bagi anak. Hadir pula Hari Obbie, seorang Content Creator yang memiliki Certifed AI Trainer. Ia juga aktif sebagai Social Media Agency serta Pengajar Thematic Academy dan Digital Talent Scholarship (DTS) Kementerian Komdigi. Buatlah Konten yang Bertanggung Jawab Kemkomdigi mendorong generasi muda untuk memanfaatkan ruang digital secara positif, kreatif, dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelindungan anak di ruang digital. Dorongan Kemkomdigi itu sejalan dengan apa yang disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Malang, Tri Joko, yang hadir mewakili Wali Kota Malang. Tri Joko menyampaikan bahwa digitalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda. Ia menjelaskan berbagai kasus seperti perundungan (bullying), penyebaran konten negatif, hingga pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) kerap berawal dari aktivitas di media sosial yang tidak disaring dengan baik. Menurutnya, dalam Pasal 27 UU ITE telah diatur larangan mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya konten bermuatan negatif, termasuk konten asusila, perjudian, kekerasan, maupun perundungan. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berujung pada sanksi pidana. Tri mengingatkan agar mahasiswa berhati-hati dalam mengunggah, membagikan, atau meneruskan informasi. “Saring terlebih dahulu sebelum membagikan, karena banyak perkara yang ditangani kejaksaan berawal dari konten di media sosial,” kata Tri. Child Protection Specialist UNICEF, Naning Puji Julianingsih, narasumber pertama dalam paparannya menyoroti tingginya intensitas interaksi anak dengan internet. Rata-rata anak mengakses internet selama 5,4 jam per hari, dan 70 persen di antaranya memiliki lebih dari satu akun media sosial. Karena itu, pihaknya juga sangat mengapresiasi kegiatan CommuniAction yang digelar Kementerian Komdigi dengan fokus pada tema pelindungan anak. Apalagi lewat segmentasi perserta generasi muda, diharapkan turut menjadi agen pelindungan anak di dunia digital. “Kolaborasi semacam ini sangat diperlukan. Para mahasiswa atau generasi muda tentu saat ini mungkin punya adik-adik dan ke depan kan akan menjadi orang tua, nah literasi digital semacam ini penting agar konten yang dibuat tetap bertanggung jawab sesuai aturan,” kata Naning. Praktisi Public Relations (PR), Reza A. Maulana, mengingatkan partisipasi aktif masyarakat merupakan faktor krusial dalam mewujudkan pelindungan anak di ruang digital, seperti diamanatkan dalam PP Tunas. Menurut Reza Maulana, kehadiran negara melalui regulasi seperti PP Tunas menjadi fondasi yang penting, terlebih mengingat tingginya angka kasus pornografi anak yang mencapai 5,5 juta kasus di Indonesia. “Pendampingan terhadap anak serta tanggung jawab dari platform digital juga diperlukan supaya anak-anak benar-benar terlindungi di ruang digital,” ujarnya. Sementara Kreator Konten Hari Obbie mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perundungan siber (cyber bullying) serta tidak asal mengejar popularitas saat membuat konten di media digital, sehingga bisa terhindar dari konsekuensi hukum jika melanggar karena membuat konten yang tidak bertanggung jawab. “Masyarakat harus aware atau peduli dengan konten yang dibuat dan jangan asal mengejar viral. Itulah pentingnya produksi kontan yang bertanggung jawab,” kata Hari. Ia menegaskan, praktik perundungan di ruang digital berdampak serius terhadap kondisi kejiwaan korban. Oleh karena itu, pembuat konten diminta lebih berhati-hati dalam memproduksi dan menyebarluaskan materi digital. Tenaga Ahli Ditjen KPM Kemkomdigi, Dwi Santoso atau Anto Motulz, menegaskan pembuatan konten berbasis kecerdasan buatan (AI)
Workshop Branding Sekolah Muhammadiyah Bojonegoro Fokuskan Penguatan Promosi Digital

BOJONEGORO, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 128 pimpinan dan kepala sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Bojonegoro mengikuti Workshop Branding dan Marketing Sekolah Muhammadiyah yang digelar di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bojonegoro, Rabu (12/2/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat citra sekolah sekaligus menjawab tantangan promosi pendidikan di era digital. Workshop tersebut diikuti Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal (PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), serta para kepala SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK Muhammadiyah. Tujuannya membangun reputasi sekolah agar semakin dikenal, dipercaya, dan dipilih masyarakat. Acara ini terselenggara berkat kerjasama tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Makang (UMM) dengan PDM kabupaten Bojonegoro. Acara dibuka Wakil Bupati Bojonegoro periode 2025–2030, Nurul Azizah. Dalam sambutannya ia menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan pendidikan. “Bojonegoro sangat peduli dengan pendidikan, apalagi sekarang era digital. Digitalisasi itu penting dan wajib. Pemerintah siap memfasilitasi pelatihan-pelatihan pendukung. Di Bojonegoro tidak boleh ada anak usia sekolah yang putus sekolah,” ujarnya. Ketua PDM Kabupaten Bojonegoro, Drs. H. Suwito, M.Si., menambahkan bahwa perubahan zaman menuntut sekolah beradaptasi. Saat ini terdapat 63 sekolah Muhammadiyah di Bojonegoro yang perlu mulai serius menggarap branding digital. Menurutnya, mendidik anak harus selaras dengan perkembangan teknologi. Materi utama disampaikan Nurudin, dosen Universitas Muhammadiyah Malang, yang mengulas strategi branding dan positioning. Ia menekankan branding bukan sekadar kebutuhan jangka pendek. “Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus dikenal, dipercaya, dan dipilih. Sekolah mau dikenal sebagai apa. Apakah unggulan, berkarakter, atau akademis. Itu harus mulai diposisikan. Media sosial sekarang tidak bisa dianggap remeh,” tutur mantan Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM itu. Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, M. Himawan Sutanto, memaparkan pentingnya User Generated Content (UGC). Ia menjelaskan promosi modern harus memadukan pendekatan langsung (below the line) dan publikasi massal (above the line). “Promosi tidak bisa lagi cara kuno saja. Semua guru, karyawan, bahkan siswa bisa ikut membuat konten. Tulisan, foto, atau video. Semua untuk kepentingan sekolah,” jelasnya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi pelatihan dan pendampingan pembuatan UGC. Fakta menarik, promosi kini bukan hanya tugas tim media, tetapi tanggung jawab bersama sebagai bentuk promosi terintegrasi. PDM Bojonegoro pun berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan pelatihan lanjutan agar branding digital sekolah Muhammadiyah semakin kuat dan berkelanjutan.
Keikutsertaan Bersyarat, Jalan Tengah Indonesia di Board of Peace

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong diskursus akademik yang relevan dengan dinamika global melalui Roundtable Discussion bertajuk Menimbang Posisi Indonesia dalam Board of Peace. Kegiatan kolaborasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) dan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM ini digelar di Laboratorium HI Basement GKB IV UMM, Senin (9/2/2026) siang. Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Dion Maulana Prasetyo PhD, pakar politik luar negeri Indonesia sekaligus dosen HI UMM, serta Prof Gonda Yumitro PhD, pakar dunia Islam yang juga Kepala PSIB UMM. Acara dimoderatori Inda Annisya Rahmat, mahasiswa HI UMM, dan diikuti sekitar 70 peserta. Fokus utama diskusi adalah respons Indonesia terhadap inisiatif damai Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Januari 2026. Prof Gonda menegaskan bahwa Indonesia memiliki daya tawar unik sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, langkah diplomasi harus ditempuh secara hati-hati agar tidak memecah solidaritas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “Indonesia harus memosisikan diri sebagai jembatan, bukan sekadar pengikut. Dalam tataran BoP, kita tidak bisa menolak mentah-mentah, namun juga tidak bisa menerima begitu saja. Solusinya adalah keikutsertaan bersyarat,” ujarnya. Dia menambahkan, Indonesia harus memastikan BoP bersifat komplementer, bukan menggantikan mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa. Transparansi roadmap rekonstruksi Gaza serta jaminan eksplisit atas kedaulatan Palestina menjadi syarat utama dukungan Indonesia. Pandangan tersebut diperkuat Dion Maulana Prasetyo. Menurutnya, prinsip politik luar negeri “Bebas Aktif” bukan berarti tanpa sikap, melainkan aktif memperjuangkan keadilan. “Kehadiran Indonesia di BoP harus dimanfaatkan untuk menyuarakan kepentingan rakyat Palestina. Jika syarat-syarat prinsipil tidak dipenuhi, Indonesia harus berani menarik diri demi menjaga integritas moral,” tegasnya. Edukasi Mahasiswa dan Aktivis Kampus Sementara itu, Sekretaris PSIB UMM Diki Wahyudi MP menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa dan aktivis kampus mengenai dinamika politik luar negeri Indonesia, khususnya terkait isu Palestina. PSIB dan HI UMM mengundang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah serta berbagai lembaga intra kampus agar diskusi ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga menjadi pemantik kesadaran kritis generasi muda terhadap peran Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Kegiatan ini menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang aktif menghadirkan ruang dialog strategis atas isu-isu global yang berdampak luas, khususnya bagi dunia Islam dan kemanusiaan. (Fal/AS)
Inovasi Mahasiswa UMM: Teknologi Inklusif untuk Tunanetra

MALANG (SurabayaPost.id) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang inklusif semakin mendesak. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM, bersama timnya mengembangkan alat sensor getar yang dapat mendeteksi objek di sekitar pengguna dan menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek. “Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, dengan fokus pada konsep hands-free dan biaya produksi yang relatif terjangkau,” ujar Naufal, Kamis (12/2/2026). Alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi. Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas. Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain. Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas. “Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar,” ujarnya. Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. (lil).
Inovasi Jawab Inklusivitas, Mahasiswa UMM Ini Bikin Alat Sensor untuk Tunanetra

pwmu.co – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang inklusif semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra.Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong karya mahasiswa tak berhenti di ruang kelas, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat. Upaya menghadirkan teknologi yang lebih inklusif terus tumbuh dari ruang-ruang eksperimen mahasiswa. Salah satunya datang dari Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2023, yang bersama timnya mengembangkan alat sensor getar berbasis ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Inovasi ini berawal dari proyek perkuliahan yang kemudian diarahkan menjadi solusi aplikatif dengan nilai sosial yang kuat. Gagasan awalnya tidak secara khusus ditujukan bagi penyandang disabilitas. Ide tersebut muncul dari proses diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas mata kuliah. Dari berbagai gagasan yang berkembang, tim kemudian memperdalam riset pada teknologi yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Pilihan akhirnya jatuh pada pengembangan alat bantu tunanetra setelah melihat kebutuhan akan sistem pendeteksi jarak yang lebih praktis dan responsif. “Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, yakni saya sendiri, Dyandini Faradiba Putri, Mirza Zaky, Farrel Adrien, dan Chandra Adi. Setiap anggota berperan dalam merancang konsep, visualisasi produk, hingga menentukan komponen teknologi yang diperlukan. Kami juga memanfaatkan referensi dari internet serta berdiskusi dengan pihak yang lebih berpengalaman untuk memastikan sistem dapat berfungsi sesuai rencana,” ujar Naufal 10 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Secara teknis, alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi. Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas. Konsep hands-free menjadi keunggulan utama karena memungkinkan pengguna menerima informasi jarak secara cepat tanpa kontak langsung, dengan biaya produksi yang relatif terjangkau. “Tantangan terbesar dalam pembuatannya ada pada bagian pemrograman. Sistem sensor dan getaran harus dirancang sedemikian rupa agar bekerja presisi sesuai harapan,” tambahnya. Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 yang diselenggarakan Jurusan Teknik Industri UMM. Respons para juri menunjukkan produk ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain. Meski belum diuji langsung oleh penyandang tunanetra, alat ini telah melalui uji internal untuk menilai kenyamanan penggunaan, termasuk evaluasi ukuran komponen yang masih relatif besar. “Menurut saya, alat ini tidak untuk menggantikan tongkat konvensional, melainkan melengkapinya. Keunggulannya ada pada fitur hands-free dan peringatan dini, sehingga pengguna dapat mengetahui adanya halangan dari jarak tertentu sebelum terjadi benturan,” jelas Naufal. Ke depan, pengembangan difokuskan pada perancangan ulang bentuk fisik agar lebih ringkas, estetis, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Salah satu prioritas utama adalah memperkecil komponen utama yang masih berbentuk kotak besar agar perangkat dapat dikembangkan menjadi wearable device yang lebih praktis. Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. Sementara itu, Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, S.T., M.T., menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas. Menurutnya, produk serupa masih jarang ditemukan, terutama yang menyasar kebutuhan spesifik tunanetra dan lansia, sehingga perlu didorong agar tidak berhenti pada tahap prototipe. “Saya berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas dan pemerintah, terutama dalam hal pembiayaan dan pengembangan lanjutan. Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar. Jika respons masyarakat tinggi, saya optimistis produk ini bisa diproduksi secara massal,” ujarnya. Melalui inovasi seperti ini, UMM menegaskan komitmennya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong kolaborasi riset, kewirausahaan berbasis teknologi, serta kebermanfaatan sosial. Dari ruang kelas menuju solusi nyata, karya mahasiswa UMM terus bergerak menjawab tantangan zaman.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Riset Info Hoaks Soal Covid, Dosen UMM Raih Doktor di UPSI Malaysia

MALANG POST – Bayangkan jika informasi bohong (hoaks) bisa lebih mematikan daripada virus itu sendiri. Di era digital, “infodemik” ledakan informasi yang tidak akurat dan menyesatkan kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya arus disinformasi di media sosial, terutama terkait isu kesehatan, kebijakan publik dan teknologi. Situasi ini mengingatkan pada masa pandemi Covid-19, ketika banjir hoaks memicu resistensi publik terhadap program pemerintah. Fenomena tersebut menjadi fokus riset Nasrullah, M.Si., Ph.D. dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang mengantarkannya meraih gelar doktor di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Melalui disertasinya, Nasrullah sapaan akrabnya meneliti model komunikasi publik pemerintah melalui media sosial atau Government Social Media (GSM) dalam memitigasi infodemik. Penelitiannya menyoroti bagaimana hoaks seputar vaksinasi mampu membentuk persepsi keliru, memicu penolakan, serta melemahkan efektivitas program kesehatan nasional. “Riset saya berfokus pada resistensi publik terhadap program vaksinasi akibat hoaks di media sosial. Di era media sosial, infodemik sama bahayanya dengan pandemi itu sendiri,” kata Nasrullah kepada Tim Humas UMM, 9 Februari. Ia menegaskan bahwa pengendalian arus disinformasi tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus dipimpin oleh otoritas yang memiliki legitimasi komunikasi publik. Dalam temuannya, ia mengidentifikasi lebih dari 8.000 hoaks terkait vaksin yang beredar dengan pola dan sumber yang beragam. Narasi yang muncul tidak hanya berupa klaim medis palsu, tetapi juga teori konspirasi dan potongan informasi yang dipelintir sehingga tampak meyakinkan. “Hoaks vaksin diproduksi dengan berbagai pola. Ada yang memakai bahasa ilmiah semu, ada yang memanfaatkan emosi dan ketakutan publik,” ujarnya. Ia juga menemukan bahwa polarisasi politik mempercepat penyebaran disinformasi. Pada periode pandemi, perbedaan afiliasi membuat pesan kesehatan publik kerap ditafsirkan secara partisan dan memicu penolakan berbasis identitas kelompok. “Kala itu stigma ‘cebong’ dan ‘kampret’ masih sangat kuat. Kelompok pro dan kontra kebijakan membaca isu vaksin bukan lagi sebagai isu kesehatan, tapi isu politik,” ungkapnya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat komunikasi pemerintah sempat tidak optimal karena harus menghadapi banjir hoaks dan narasi tandingan yang masif. Selain faktor politik, Nasrullah menilai rendahnya tingkat literasi informasi masyarakat menjadi tantangan utama. Kemampuan memilah dan memverifikasi informasi yang belum merata membuat publik rentan terpapar konten menyesatkan, termasuk pada berbagai isu viral terkini di ruang digital. Sebagai rekomendasi, ia merumuskan standar mitigasi komunikasi krisis bagi pemerintah, baik secara preventif maupun reaktif. Pendekatan preventif dilakukan dengan membangun ekosistem informasi positif, sementara pendekatan reaktif dijalankan melalui respons cepat saat hoaks muncul. “Saya menyebutnya model kultivasi ekosistem positif dan strategi pemadam kebakaran (firefighter strategy). Pemerintah harus punya sistem deteksi dini dan respons cepat agar hoaks tidak terlanjur dipercaya publik,” jelasnya. Meski pandemi telah mereda, ia menilai kesiapan Government Social Media tetap mendesak karena gelombang disinformasi dapat muncul sewaktu-waktu, termasuk pada isu kebijakan baru, kesehatan, dan teknologi. “Infodemik tidak pernah benar-benar selesai. Bentuknya saja yang berubah. Karena itu, kesiapan komunikasi digital pemerintah harus berkelanjutan,” tegasnya. Nasrullah juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk dengan lembaga pemeriksa fakta seperti Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), untuk memperkuat literasi digital publik. Menurutnya, pengelolaan informasi harus ditempatkan setara pentingnya dengan penanganan medis dalam menghadapi krisis global. “Keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Tanpa komunikasi yang kuat, kebijakan terbaik pun bisa ditolak,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Ingin Kuliah Swasta tapi Takut Mahal? Ini Deretan Beasiswa di UMM Malang

RADAR MALANG – Banyaknya yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi akibat terkendala ekonomi, seringkali siswa memilih untuk langsung bekerja akibat biaya yang terbilang mahal, bukan hanya untuk biaya pendidikan tetapi juga biaya sehari-hari. Siswa lebih memilih langsung bekerja dibandingkan melanjutkan ke perguruan tinggi, bekerja yang dianggap menghasilkan uang dan melanjutkan ke perguruan tinggi yang harus mengeluarkan uang. Biaya yang mahal sering kali membuat calon mahasiswa ragu dan dengan adanya beban tanggungan yang mengakibatkan banyaknya siswa yang tidak memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Perkembangan yang terus ada terciptalah adanya beasiswa yang dapat mendukung siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa memikirkan biaya. Dengan memperoleh prestasi akademik maupun nonakademik dapat membantu siswa untuk memperoleh beasiswa. Salah satunya pada Universitas Muhammadiyah Malang yang juga menyediakan program beasiswa untuk calon mahasiswa yang terkendala biaya dan memiliki prestasi. Berikut 16 program beasiswa untuk mahasiswa baru yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang yang dilansir dari website resmi UMM melalui laman umm.ac.id. 1. Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP)Beasiswa Kartu Indonesia Pintar diperuntukkan kepada calon mahasiswa yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP). 2. Beasiswa Pendidikan Indonesia EmasBeasiswa ini dirancang untuk talenta terbaik di seluruh penjuru negeri, tanpa adanya pengecualian. 3. Beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT)Program beasiswa Universitas Muhammadiyah Malang untuk mencetak kader ulama tarjih yang memiliki integritas dan kompeten. 4. Beasiswa Jalur PrestasiBeasiswa jalur prestasi terdiri dari dua jalur prestasi, jalur prestasi tersebut meliputi prestasi akademik dan prestasi nonakademik. 5. Beasiswa Yatim Piatu Ganjil 2025/2026Program bantuan pendidikan khusus bagi siswa atau mahasiswa yatim atau piatu untuk tahun ajaran baru. 6. Beasiswa Kelas Takhassus Muballigh Muhammadiyah (KATAMM)Beasiswa ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang untuk mencetak kader ulama/mubaligh persyarikatan. 7. Beasiswa Alumni Sekolah MuhammadiyahProgram bantuan dari Universitas Muhammadiyah Malang kepada lulusan SMA/SMK/MA Muhammadiyah. 8. Beasiswa Anak Kandung Alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)Program ini diperuntukkan kepada putra-putri alumni dari Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bentuk penghargaan dan komitmen universitas dalam mendukung keberlanjutan pendidikan. 9. Beasiswa Saudara KandungProgram beasiswa yang diperuntukkan kepada calon mahasiswa baru yang memiliki kakak atau adik kandung yang masih aktif berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang.
UMM Resmikan Sarana Air Bersih Berbasis Masyarakat di Tliu NTT

TIMOR TENGAH, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nazaruddin Malik meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, 10 Februari ini. Program ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan akses air bersih berkelanjutan di wilayah yang selama ini dikenal memiliki tantangan serius dalam ketersediaan sumber air. Adapun program ini merupakan hasil kerja sama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, serta UMM dan Universitas Muhammadiyah Kupang. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan dasar masyarakat hanya dapat diselesaikan melalui sinergi lintas sektor. Peresmian berlangsung khidmat dan sarat nilai kearifan lokal. Rombongan disambut langsung oleh ketua adat Desa Tliu, diiringi tarian dan sambutan khas suku setempat sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat kepada para tamu. Suasana tersebut menggambarkan keterbukaan masyarakat desa terhadap program pembangunan yang berangkat dari kebutuhan riil warga. Nazaruddin yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang, UM Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Manado menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Air adalah sumber kehidupan. Di daerah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujarnya. Sarana air bersih yang diresmikan merupakan hasil kerja panjang dan kolaboratif, mulai dari proses penemuan titik mata air hingga pengembangannya menjadi sarana penunjang utama kebutuhan pengairan dan konsumsi masyarakat desa. Hal ini memiliki makna penting, mengingat wilayah NTT tidak mudah menemukan sumber air yang layak dan berkelanjutan. Desa Tliu sendiri merupakan wilayah yang tergolong terpencil dengan keterbatasan akses infrastruktur. Meski demikian, semangat pendidikan terus tumbuh. Di desa tersebut telah berdiri SD Muhammadiyah yang menjadi pusat pembelajaran bagi anak-anak setempat. Secara pribadi, Nazar juga memberikan bantuan dana pengembangan untuk SD Muhammadiyah Desa Tliu, beasiswa pendidikan sarjana kepada Kepala Desa setempat, serta dukungan sarana perpustakaan. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegasnya. Kepala Desa Tliu menyambut baik kehadiran program PASIMAS Fetomone dan dukungan yang diberikan. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, tetapi harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Desa Tliu,” ujarnya. Melalui pengembangan sarana air bersih berbasis masyarakat ini, UMM berharap PASIMAS Fetomone mampu menjadi model pemberdayaan desa yang berkelanjutan, memperkuat kualitas hidup masyarakat, serta mendorong pembangunan pendidikan dan sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur. (diko)
UMM Soroti Sikap Indonesia dalam Inisiatif Board of Peace

Kab Malang, iKoneksi.com — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali merespons dinamika geopolitik global. Melalui kolaborasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) dan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB), kampus ini menggelar diskusi strategis bertajuk “Menimbang Posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP)” pada Senin (9/2/2026). Bertempat di Laboratorium HI UMM, forum yang diikuti sekitar 70 peserta itu membedah langkah diplomasi Indonesia menyikapi inisiatif damai Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Januari 2026. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan Indonesia memiliki daya tawar unik sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak tergesa-gesa dalam menentukan sikap. “Indonesia harus memosisikan diri sebagai jembatan, bukan sekadar pengikut. Dalam konteks BoP, kita tidak bisa menolak mentah-mentah, tetapi juga tidak bisa menerima begitu saja. Solusinya adalah keikutsertaan bersyarat,” kata Gonda. Menurutnya, syarat utama yang harus diajukan Indonesia adalah memastikan BoP bersifat komplementer terhadap mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bukan menggantikannya. “Kita harus menuntut transparansi roadmap rekonstruksi Gaza. Dukungan penuh Indonesia hanya boleh diberikan jika kedaulatan Palestina dijamin secara eksplisit dalam dokumen kerangka kerja BoP,” tegasnya. Prof. Gonda menilai langkah diplomasi yang terburu-buru berpotensi memicu perpecahan di tubuh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Karena itu, Indonesia perlu menjaga solidaritas antarnegara muslim sekaligus mempertahankan konsistensi politik luar negeri. Pandangan tersebut diperkuat oleh pakar politik luar negeri Indonesia, Dion Maulana Prasetya, Ph.D. Ia menekankan bahwa prinsip “Bebas Aktif” yang menjadi fondasi diplomasi Indonesia tidak berarti netral tanpa sikap. “Bebas Aktif adalah keberanian untuk aktif memperjuangkan keadilan. Kehadiran Indonesia di BoP harus dimanfaatkan untuk menyuarakan kepentingan rakyat Palestina yang kerap absen dalam forum elite global,” jelas Dion. Ia menambahkan, apabila syarat-syarat prinsipil tidak diakomodasi, Indonesia perlu mempertimbangkan langkah tegas. “Jika klausul kedaulatan Palestina dan komitmen rekonstruksi yang adil tidak jelas, Indonesia harus berani menarik diri demi menjaga integritas moral,” ujarnya. Diskusi ini juga menegaskan bahwa kepemimpinan moral Indonesia di panggung global tidak diukur dari kedekatan dengan kekuatan besar, melainkan dari konsistensi membela bangsa tertindas. “Forum akademik tersebut merekomendasikan pendekatan conditional adherence atau keikutsertaan bersyarat sebagai harga mati diplomasi Indonesia. Artinya, dukungan terhadap BoP hanya diberikan jika selaras dengan prinsip konstitusi dan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina,” terang Dion. Melalui diskusi ini, Gonda membeberkan UMM menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang refleksi kritis atas kebijakan global. “Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks, suara akademik dinilai penting untuk memberi perspektif strategis sekaligus menjaga arah moral diplomasi Indonesia,” tutupnya.
Mahasiswa UMM Hadirkan Wearable Device Sensor untuk Tunanetra

Sketsamalang.com – Menjawab tantangan kebutuhan inovasi inklusif yang semakin mendesak, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Upaya menghadirkan teknologi yang lebih inklusif terus tumbuh dari ruang-ruang eksperimen mahasiswa. Salah satunya datang dari Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2023, yang bersama timnya mengembangkan alat sensor getar berbasis ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Inovasi ini berawal dari proyek perkuliahan yang kemudian diarahkan menjadi solusi aplikatif dengan nilai sosial yang kuat. Ide tersebut muncul dari proses diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas mata kuliah. Dari berbagai gagasan yang berkembang, tim kemudian memperdalam riset pada teknologi yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Pilihan akhirnya jatuh pada pengembangan alat bantu tunanetra setelah melihat kebutuhan akan sistem pendeteksi jarak yang lebih praktis dan responsif. “Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, yakni saya sendiri, Dyandini Faradiba Putri, Mirza Zaky, Farrel Adrien, dan Chandra Adi. Setiap anggota berperan dalam merancang konsep, visualisasi produk, hingga menentukan komponen teknologi yang diperlukan. Kami juga memanfaatkan referensi dari internet serta berdiskusi dengan pihak yang lebih berpengalaman untuk memastikan sistem dapat berfungsi sesuai rencana,” ujar Naufal. Secara teknis, alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi. Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas. Konsep hands-free menjadi keunggulan utama karena memungkinkan pengguna menerima informasi jarak secara cepat tanpa kontak langsung, dengan biaya produksi yang relatif terjangkau. “Tantangan terbesar dalam pembuatannya ada pada bagian pemrograman. Sistem sensor dan getaran harus dirancang sedemikian rupa agar bekerja presisi sesuai harapan,” tambahnya. Penggunaan Wearable Device Sensor Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 yang diselenggarakan Jurusan Teknik Industri UMM. Respons para juri menunjukkan produk ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain. Meski belum diuji langsung oleh penyandang tunanetra, alat ini telah melalui uji internal untuk menilai kenyamanan penggunaan, termasuk evaluasi ukuran komponen yang masih relatif besar. “Menurut saya, alat ini tidak untuk menggantikan tongkat konvensional, melainkan melengkapinya. Keunggulannya ada pada fitur hands-free dan peringatan dini, sehingga pengguna dapat mengetahui adanya halangan dari jarak tertentu sebelum terjadi benturan,” jelas Naufal. Ke depan, pengembangan difokuskan pada perancangan ulang bentuk fisik agar lebih ringkas, estetis, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Salah satu prioritas utama adalah memperkecil komponen utama yang masih berbentuk kotak besar agar perangkat dapat dikembangkan menjadi wearable device yang lebih praktis. Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. Sementara itu, Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, S.T., M.T., menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas. Menurutnya, produk serupa masih jarang ditemukan, terutama yang menyasar kebutuhan spesifik tunanetra dan lansia, sehingga perlu didorong agar tidak berhenti pada tahap prototipe. “Saya berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas dan pemerintah, terutama dalam hal pembiayaan dan pengembangan lanjutan. Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar. Jika respons masyarakat tinggi, saya optimistis produk ini bisa diproduksi secara massal,” ujarnya. Melalui inovasi seperti ini, UMM menegaskan komitmennya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong kolaborasi riset, kewirausahaan berbasis teknologi, serta kebermanfaatan sosial. Dari ruang kelas menuju solusi nyata, karya mahasiswa UMM terus bergerak menjawab tantangan zaman.(*)