Cegah Komplikasi Kehamilan Lewat AI, Mahasiswa UMM Raih Medali Perak di Malaysia

Malang (beritajatim.com) – Inovasi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencuri perhatian. Tim ini meraih Silver Medal kategori Health dalam ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang digelar di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, pada 14 – 15 Februari 2026. Tim yang dipimpin oleh Vera Miftakul Rahma Kamal dari Program Studi Kedokteran ini mengusung inovasi bernama NEOSENTIA. Proyek ini merupakan sistem deteksi risiko maternal real-time yang mengintegrasikan teknologi AI Guardian Driven System. Menurut Rahma, NEOSENTIA dirancang sebagai asisten pintar bagi ibu hamil yang terhubung langsung dengan tenaga medis. Sistem ini bekerja secara non-invasif dengan menggabungkan data dari perangkat wearable, laporan gejala mandiri, serta rekam medis elektronik. “Aplikasi ini mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan. Melalui sistem ini, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga intervensi medis bisa dilakukan tepat waktu,” ujar Rahma pada beritajatim.com, Selasa (24/2/2026). Salah satu keunggulan NEOSENTIA adalah fitur multibahasa yang memungkinkan aksesibilitas lebih luas bagi pengguna dari berbagai latar belakang. Selain itu, platform berbasis website ini memudahkan dokter atau bidan untuk memantau kondisi pasien secara real-time. Keberhasilan tim UMM tidak lepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu. Di bawah bimbingan dr. Desy Andari, M.Biomed., tim ini terdiri dari mahasiswa dengan keahlian yang saling melengkapi Vera Miftakul Rahma Kamal (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), dan Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Sinergi ini membuat inovasi NEOSENTIA tidak hanya kuat secara medis dan farmakologis, tetapi juga matang dari sisi komunikasi publik serta kemudahan bahasa bagi pengguna internasional. Kompetisi ISC 2026 yang diselenggarakan oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM ini diikuti oleh 100 tim finalis dari delapan negara. Selain Indonesia, negara-negara seperti Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand turut bersaing ketat. “Kompetisi ini sangat selektif, mulai dari seleksi abstrak, pengiriman full paper, hingga presentasi final di depan dewan juri internasional,” tambah Rahma. Dosen pembimbing, dr. Desy Andari, M.Biomed., memberikan apresiasi tinggi atas capaian anak didiknya. Ia menilai prestasi ini merupakan cerminan ekosistem akademik UMM yang mendukung riset aplikatif dan berdampak. “Kami berharap NEOSENTIA tidak berhenti di panggung kompetisi, tapi terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional,” kata dr. Desy menutup. (dan/but)
Inovasi Pertanian Desa, KKN UMM Perkenalkan Penabur Pupuk Modern

JurnalPost.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses memperkenalkan alat penabur pupuk inovatif kepada kelompok tani di Desa Karangsuko. Kegiatan yang berlangsung langsung di lahan pertanian desa ini disambut antusias oleh para petani setempat. Program ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa UMM dalam mengabdikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN UMM yang berfokus pada pemberdayaan sektor pertanian desa. Tim mahasiswa yang terdiri dari berbagai program studi ini secara aktif terjun langsung ke lapangan untuk mendampingi para petani. Tim KKN memperkenalkan cara kerja, manfaat, serta teknik pengoperasian alat penabur pupuk secara langsung agar mudah dipahami oleh seluruh anggota kelompok tani yang hadir. Bidang Program dan Pengabdian menjelaskan bahwa alat penabur pupuk yang diperkenalkan ini dirancang khusus untuk memudahkan petani dalam mendistribusikan pupuk secara merata dan efisien ke seluruh area lahan pertanian. “Dengan alat ini, petani tidak perlu lagi menaburkan pupuk secara manual yang selama ini memakan banyak waktu dan tenaga. Distribusi pupuk menjadi jauh lebih merata sehingga pertumbuhan tanaman pun bisa lebih optimal dan hasil panen diharapkan meningkat,” ujarnya dengan penuh semangat. Selama ini, proses pemupukan manual memang menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para petani di Desa Karangsuko, terutama bagi mereka yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Salah seorang petani yang hadir dalam kegiatan tersebut mengaku bahwa proses pemupukan secara tradisional membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu yang tidak sedikit. “Kalau lahan kami luas, bisa butuh waktu seharian lebih hanya untuk menaburkan pupuk. Belum lagi tenaga yang terkuras,” ungkapnya jujur. Hadirnya alat penabur pupuk dari mahasiswa KKN UMM ini pun disambut dengan harapan besar oleh para petani. Mereka berharap alat ini mampu mengurangi biaya operasional yang selama ini cukup membebani, sekaligus mempercepat proses pemupukan secara signifikan. Dengan waktu dan tenaga yang lebih hemat, petani dapat mengalokasikan sumber daya mereka untuk kegiatan pertanian lainnya yang juga penting. Dalam sesi demonstrasi yang berlangsung meriah di lahan pertanian Desa Karangsuko, mahasiswa dan petani bersama-sama mencoba mengoperasikan alat tersebut secara langsung. Suasana kegiatan berlangsung sangat antusias dan interaktif. Para petani aktif mengajukan pertanyaan seputar cara perawatan alat, daya tahan, hingga keunggulan alat dibandingkan metode pemupukan konvensional yang selama ini mereka gunakan. Tidak hanya itu, mahasiswa KKN UMM juga memberikan panduan tertulis yang mudah dipahami sebagai bahan referensi dan pegangan bagi kelompok tani dalam mengoperasikan alat secara mandiri ke depannya. Program pemberdayaan pertanian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan petani di Desa Karangsuko. Dengan penerapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi petani lokal, diharapkan para petani mampu meningkatkan hasil produksi pertanian mereka secara signifikan. Hal ini pada akhirnya juga akan turut berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan di tingkat lokal maupun regional. Kegiatan KKN UMM ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di bangku kuliah, tetapi juga mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Ke depannya, tim KKN UMM berencana untuk terus melakukan pendampingan rutin dan evaluasi berkala terhadap penggunaan alat penabur pupuk tersebut. Langkah ini dilakukan guna memastikan bahwa alat yang telah diperkenalkan benar-benar dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat yang maksimal bagi seluruh kelompok tani di Desa Karangsuko demi terwujudnya pertanian desa yang lebih maju dan sejahtera.
Dulu Aktivis UMM, Kini Mantan Menhan Timor-Leste Rampungkan Doktoral di Kampus Putih

MALANG, Suara Muhammadiyah – Perjalanan akademik Julio Tomas Pinto seolah kembali ke titik awal. Setelah lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan Timor-Leste, ia kembali ke bangku kampus tempat masa mudanya ditempa, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itulah ia akhirnya meraih gelar doktor melalui riset tentang transformasi militer negaranya. Bagi Julio, UMM bukan sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus di Kota Malang itu sebagai rumah kedua yang membentuk perjalanan intelektual dan kepemimpinannya. “Saya sudah tahu tradisi akademik di kampus ini, jadi tidak ada alasan untuk tidak memilih UMM,” ujarnya 14 Februari lalu saat gala dinner dengan pimpinan UMM. Julio pertama kali datang ke Malang pada 1993 sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Di masa itu, ia dikenal aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Aktivitas organisasi tersebut menjadi ruang belajar politik sekaligus kepemimpinan yang kelak membawanya masuk ke pemerintahan Timor-Leste. Setelah lulus pada 1998, Julio melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Minatnya pada isu pertahanan dan keamanan semakin kuat seiring perjalanan bangsanya menuju negara merdeka. Ia kemudian terlibat langsung dalam pemerintahan dan pernah dipercaya menjadi Menteri Muda Pertahanan. Kini ia juga menjabat penasihat Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta serta anggota Dewan Tinggi Pertahanan dan Keamanan. Meski aktif di dunia politik, Julio tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan menulis sejumlah buku mengenai keamanan nasional serta hubungan sipil–militer. Kerinduan untuk kembali belajar akhirnya membawanya pulang ke UMM. Ia memilih menempuh program doktoral dengan fokus pada sosiologi militer di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Julio ingin meneliti perjalanan militer negaranya sendiri, terutama transformasi pasukan gerilya FALINTIL menjadi angkatan bersenjata nasional Falintil–Forças de Defesa de Timor-Leste (F-FDTL). “Saya kembali ke UMM karena sudah mengenal kultur akademiknya. Selain itu, saya memang tertarik meneliti sosiologi militer dan ingin belajar langsung dari pak Muhadjir Effendy,” kata Julio. Dalam penelitiannya, ia menyoroti bagaimana profesionalisme militer dibangun dalam konteks negara kecil yang baru keluar dari konflik. Menurutnya, profesionalisme militer tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan praktik sosial yang dipengaruhi sejarah, budaya, serta relasi kekuasaan. “Tidak ada model transformasi profesionalisme militer yang tunggal. Negara kecil pascakonflik seperti Timor-Leste memiliki caranya sendiri dalam membangun tentara nasional,” jelasnya. Dari riset tersebut, Julio merumuskan konsep professionalismo militar híbrido, yakni model profesionalisme militer yang memadukan dimensi historis, politik, institusional, hingga relasi internasional. Selama penelitian, ia mengaku relatif mudah memperoleh data karena memiliki kedekatan dengan banyak tokoh penting di negaranya, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ujian doktornya di Malang pun terasa istimewa. Sejumlah pejabat tinggi Timor-Leste hadir menyaksikan sidang promosi tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kontribusi akademik yang diharapkan bermanfaat bagi negara tersebut. Bagi Julio, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan profesionalisme militer serta kebijakan keamanan di Timor-Leste. “Secara teoritik riset ini memperkaya kajian sosiologi militer, dan secara praktis bisa membantu reformasi sektor keamanan yang lebih sesuai dengan konteks sosial dan sejarah negara kami,” tutupnya. (diko)
Alumnus UMM Bangun Citra Indonesia Lewat Seni di Amerika Latin: Diplomasi Tak Selalu Politik

Alumnus UMM Bangun Citra Indonesia Lewat Seni di Amerika Latin: Diplomasi Tak Selalu Politik. (Sumber Humas UMM). MALANG, PENAJATIM.COM – Noegroho Darmo Samodra, alumnus Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2013, membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju karier global. Ia kini dipercaya mengemban tugas sebagai Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Quito, Ekuador. Noegroho memulai karier internasionalnya pada 2020 setelah mengikuti seleksi pegawai setempat di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Berbekal kemampuan bahasa Spanyol, ia berhasil ditempatkan di KBRI Santiago, Chile, dan kini di KBRI Quito, Ekuador. “Diplomasi tidak selalu berbicara soal politik. Lewat seni dan budaya, masyarakat bisa mengenal Indonesia lebih dekat. Dari situ hubungan antarnegara menjadi lebih hangat,” kata Noegroho dikutip dari rilis Humas UMM, Selasa (24/2/2026). Selama masa kuliah, Noegroho aktif mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Koordinator Olahraga, Seni, dan Budaya di BEM FISIP UMM dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di BEM Universitas. Pengalaman organisasi di kampus sangat membentuk cara Noegroho bekerja sekarang. “Saya belajar mengelola tim, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya. Noegroho berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba peluang. “Membangun karier memang tidak mudah. Tapi kalau ada kesempatan, jalani saja. Kita tidak pernah tahu jalan ke depan seperti apa. Yang penting ikhtiar dulu,” tutupnya. (Zai).
Tim UMM Raih Silver Medal di ISC 2026 dengan Inovasi Cegah Komplikasi Kehamilan

Tim UMM yang terdiri dari Vera Miftakul Rahma Kamal, Wildan Hidayatullah, Hawa Restu Dwinanta, dan Khoirul Umar, dibimbing oleh dr. Desy Andari, M.Biomed, meraih Silver Medal pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026. (Sumber Humas UMM). MALANG, PENAJATIM.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi internasional dengan inovasi “NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System”. Aplikasi ini merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. Tim UMM yang terdiri dari Vera Miftakul Rahma Kamal, Wildan Hidayatullah, Hawa Restu Dwinanta, dan Khoirul Umar, dibimbing oleh dr. Desy Andari, M.Biomed, meraih Silver Medal pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. “NEOSENTIA dapat mendeteksi potensi komplikasi kehamilan lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu,” kata Rahma, Selasa (24/2/2026). Aplikasi ini juga memiliki desain multibahasa dan sistem berbasis website yang memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Prestasi ini semakin memperkuat posisi UMM sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak yang konsisten mendorong kolaborasi lintas disiplin, riset aplikatif, serta keberanian mahasiswa untuk tampil dan memberi kontribusi nyata di level internasional. (Zai).
Suara Sahur Bertabuhan di Panawidjyan
Rektor UMM: Kemajuan Lahir dari Kesadaran Untuk Memperbaiki Diri
Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan