Unik! Bagi Takjil Ramadan, Agribisnis Bagikan Sayur Mayur ke Pengguna Jalan

Menjelang azan magrib berkumandang, ratusan paket sayur segar tersusun rapi di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan kolak, bukan es buah, dan bukan pula makanan siap santap seperti tradisi pembagian takjil pada umumnya. Ramadan kali ini, Program Studi Agribisnis UMM justru mengajak masyarakat berbuka puasa dengan cara berbeda dengan membagikan sayur kepada para pengguna jalan pada 24 Februari lalu. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika sebelumnya takjil identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi” melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Sebanyak sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.(*rik/faq)   Penulis: Roudhoutul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tarawih 36, 20 atau 11? Akademisi UMM: Konsekuensi Logis Perbedaan Metodologi

MALANG POST – Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah. Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan. Bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan. Melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas. Al-Qur’an memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih.” “Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan. Secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda. Sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.” “Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa. Lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa.” “Kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan.” “Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mahasiswa KKN Kelompok 10 UMM, Pasang Papan Edukasi “Waktu Urai Sampah”

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Upaya meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat terus digalakkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2026. Melalui langkah inovatif, tim mahasiswa memasang papan edukasi bertajuk “Waktu Urai Sampah” di Dusun Wiyu Desa Wiyurejo Kecamatan Pujon. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman visual kepada warga mengenai bahaya jangka panjang limbah terhadap lingkungan desa. Inisiatif ini dijalankan oleh Siti Nurhaliza (Ilmu Pemerintahan), Aswin Wiranata (Teknik Sipil), dan Aurelia Daneilla Feriska Putri (Pendidikan Bahasa Inggris). Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Amaliah Nur Adibah, M.P.W.K., program ini menitikberatkan pada penguatan literasi lingkungan. “Kami ingin masyarakat menyadari bahwa sampah yang dibuang hari ini akan berdampak hingga ratusan tahun ke depan,” ujar Amaliah menekankan pentingnya pemahaman konsekuensi ekologis jangka panjang. Papan edukatif tersebut berfungsi sebagai pengingat permanen dengan menampilkan data ilmiah mengenai durasi penguraian berbagai jenis limbah secara konkret. Informasi yang disajikan mencakup botol plastik yang membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai, kaleng minuman selama 200 tahun, hingga styrofoam yang dikategorikan tidak dapat terurai. Koordinator KKN Kevin Dwiky Kurniawan menjelaskan bahwa visualisasi ini diharapkan menjadi bahan perenungan warga untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Kehadiran papan di ruang terbuka memungkinkan pesan lingkungan terus terlihat, sehingga secara perlahan membentuk kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah,” tambahnya. ​Kepala Desa Wiyurejo Mufid Farid, S.H., turut mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai mampu memperkuat pemahaman masyarakat secara praktis. “Harapannya, masyarakat tidak hanya mengetahui, tetapi juga menerapkan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab,” ungkap Mufid. Melalui pemasangan papan ini, Desa Wiyurejo diharapkan bertransformasi menjadi desa sadar lingkungan yang lebih bijak. ​Mahasiswa juga mengajak warga mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah nyata pasca-edukasi. Seluruh dokumentasi kegiatan pengabdian ini dapat dipantau masyarakat luas melalui akun Instagram dan TikTok @kknberdampak.10wiyurejo sebagai bentuk transparansi publikasi digital. (imm/adv/lim)

Hadirkan Inovasi Berkelanjutan, KKN UMM Sasar Solusi Riil Masyarakat

Kota Malang, Bhirawa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi yang berdampak nyata. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026, ribuan mahasiswa diterjunkan bukan sekadar untuk menjalankan rutinitas, melainkan membawa solusi konkret atas persoalan di desa hingga ke level internasional. Puncak dari program ini ditampilkan dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN yang digelar Rabu (25/2) kemarin. Sebanyak 450 mahasiswa yang terbagi dalam 17 kelompok memamerkan hasil pendampingan masyarakat, termasuk capaian membanggakan dari kelompok pengabdian internasional di Penang, Malaysia. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa pascapandemi, UMM mengembalikan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat (live-in). Namun, standar yang ditetapkan kini jauh lebih tinggi dengan prinsip “KKN Berdampak”. “Program KKN harus memberikan kontribusi yang tidak mungkin ada jika mahasiswa tidak hadir di sana. Jadi bukan sekadar mengajar atau menjadi panitia lomba, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru, baik itu teknologi tepat guna maupun penguatan ekonomi lokal,” tegas Prof. Salis. Ia menambahkan, kampus kini mulai menyusun data dasar (baseline) pengembangan desa agar program tidak mangkrak setelah mahasiswa pulang. Targetnya, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, terjadi perubahan struktural di lokasi KKN. Mahasiswa periode berikutnya akan melanjutkan estafet solusi yang sudah dirintis, bukan memulai dari nol. Beberapa karya nyata yang dihasilkan antara lain optimalisasi sistem irigasi berbasis partisipasi warga untuk efisiensi distribusi air pertanian. Di sektor pariwisata, mahasiswa melakukan revitalisasi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan bahasa asing bagi warga demi menyambut wisatawan mancanegara. Tak hanya di dalam negeri, pengabdian lintas negara dilakukan di Malaysia dengan menyasar anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di sana, mahasiswa memberikan penguatan literasi dan motivasi pendidikan agar anak-anak migran tetap memiliki akses belajar yang layak. Inovasi mahasiswa ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Malang. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut pola KKN UMM sebagai model pengabdian ideal. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program, tapi memberi solusi atas problem desa. Kami berharap sinergi ini diperkuat agar inovasi mahasiswa benar-benar memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” ujar Ricky. [mut.wwn]

Cegah Komplikasi Kehamilan, Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi NEOSENTIA

Bisnis.com, MALANG —Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System yang dirancang sebagai pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence yang terhubung langsung dengan tenaga kesehatan serta menggunakan pendekatan data ilmiah, Ketua tim UMM, Vera Miftakul Rahma Kamal, mahasiswa Program Studi Kedokteran, menjelaskan NEOSENTIA merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. “Platform ini mengintegrasikan data perangkat wearable, laporan gejala dari pengguna, serta rekam medis elektronik sehingga mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan,” katanya, Selasa (24/2/2026). Melalui sistem tersebut, kata dia, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu. Desain multibahasa yang diusung juga memperluas akses penggunaan di berbagai wilayah dan latar belakang pengguna. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini, kata dia,  dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Bagi Rahma, pengalaman tampil di forum internasional memberikan pembelajaran penting tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Dosen pembimbing, Desy Andari, menilai capaian tersebut menjadi bukti kesiapan mahasiswa UMM bersaing secara global sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung lahirnya inovasi berdampak. Dia  berharap inovasi NEOSENTIA dapat terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Karya tersebut berhasil meraih medali perak kategori kesehatan pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ilmiah internasional yang digelar oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara berhasil melaju ke babak akhir, yakni Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand. “Kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. “International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujar Rahma. Tim UMM terdiri atas empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Kolaborasi multidisipliner tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan.

Soal Perbedaan Jumlah Rakaat Tarawih, Pakar UMM Beberkan Sejarahnya

Malang (beritajatim.com) – Memasuki bulan suci Ramadan, perbedaan jumlah rakaat salat tarawih seringkali menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Tak jarang, perbedaan angka ini memicu perdebatan mengenai sah atau tidaknya ibadah tersebut. Menanggapi fenomena ini, Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., memberikan penjelasan mendalam. Menurutnya, variasi jumlah rakaat tarawih bukanlah sebuah pertentangan, melainkan khazanah ijtihad yang kaya dalam tradisi fikih Islam. Tanzil menjelaskan bahwa perbedaan tersebut muncul akibat perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam, mulai dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, hingga Qiyas. “Al-Qur’an memang memerintahkan salat secara global, namun tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Di sinilah hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, perbedaan tersebut sah-sah saja,” ujar Tanzil pada Kamis (24/2). Secara historis, umat Islam merujuk pada imam mazhab yang memiliki metode istinbat (pengambilan hukum) yang berbeda. Hal inilah yang melahirkan variasi praktik di berbagai belahan dunia: Mazhab Hanafi: Menetapkan 20 rakaat berdasarkan konsensus (ijma’) para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki: Melaksanakan 36 rakaat, merujuk pada tradisi penduduk Madinah di masa lampau. Mazhab Syafi’i & Hanbali: Cenderung pada 20 rakaat dengan landasan hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafatnya Rasulullah. Muhammadiyah: Melalui Majelis Tarjih, menetapkan 11 rakaat berdasarkan hadis dari Aisyah RA mengenai kebiasaan salat malam Nabi Muhammad SAW. “Dalam hadis riwayat Aisyah (muttafaq ‘alaih), disebutkan Nabi tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadan. Formasinya adalah 4-4-3 dengan kualitas kekhusyukan yang luar biasa,” tambah Tanzil. Lebih lanjut, Tanzil menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail (salat malam). Oleh karena itu, tarawih dan witir tidak terpisahkan. Secara teknis, pelaksanaannya pun fleksibel. Ada yang menggunakan formasi 2-2-2-2-2-1 atau 4-4-3. Bahkan dalam beberapa riwayat, Nabi pernah melaksanakan witir sebanyak sembilan rakaat. Selama tidak menyelisihi prinsip dasar syariat, jumlah rakaat dipandang sebagai ruang fleksibilitas dalam ibadah sunnah. Tanzil menegaskan bahwa persoalan sebenarnya bukan terletak pada jumlah rakaat, melainkan pada keabsahan dalil. Umat Islam justru harus menghindari amalan yang didasarkan pada dalil lemah (dhaif) atau palsu (maudhu’). Ia mengajak masyarakat untuk melihat keragaman ini sebagai dinamika intelektual, bukan sumber perpecahan. “Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah adalah kekayaan dalam memahami dalil. Esensi tarawih adalah kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi (istiqamah). Semangat menghidupkan malam ini pun sebaiknya tidak berhenti saat Ramadan usai,” pungkasnya. (dan/but)

Festival Ramadan Meriahkan Desa Wiyurejo, Mahasiswa UMM Gelar Lomba Adzan dan Mengaji

MALANG POSCO MEDIA, MALANG — Suasana Ramadan di Desa Wiyurejo semakin semarak melalui penyelenggaraan Festival Ramadan yang digelar di Masjid Al Mustain. Kegiatan ini menghadirkan lomba adzan dan lomba mengaji bagi anak-anak usia 6 hingga 12 tahun sebagai sarana pembinaan karakter religius sekaligus pengembangan bakat keagamaan sejak dini. Puluhan peserta tampak antusias mengikuti perlombaan dengan didampingi orang tua dan masyarakat yang memadati area masjid. Para peserta tampil bergantian menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam melantunkan adzan maupun membaca ayat suci Alquran dengan penuh percaya diri. Festival Ramadan tersebut merupakan program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 10 angkatan 2025/2026. Mereka adalah Niken Katarina Liberti (PGSD), Bintang Satria Pratama (Hukum) dan Muhammad Irfan Affandi (Hukum). Koordinator KKN, Kevin Dwiky Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menghadirkan aktivitas positif bagi anak-anak selama bulan Ramadan sekaligus menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan edukatif dan keagamaan. “Kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar, berani tampil, dan semakin mencintai kegiatan keagamaan di lingkungan masjid,” ujarnya. Dalam lomba adzan, peserta dinilai berdasarkan ketepatan lafaz, kejernihan suara, dan penghayatan. Sementara lomba mengaji menitikberatkan pada penerapan tajwid, kelancaran membaca, serta adab dalam membaca Alquran. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari tokoh agama setempat sehingga kegiatan berlangsung objektif dan edukatif. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Amalia Nur Adibah, yang turut memberikan arahan agar program KKN mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan keagamaan berbasis anak menjadi langkah strategis dalam menanamkan nilai religius sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda. Antusiasme warga terlihat dari ramainya masjid selama kegiatan berlangsung. Selain menjadi ajang perlombaan, festival ini juga mempererat silaturahmi antar warga Desa Wiyurejo selama bulan suci Ramadan. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang, penyerahan hadiah, serta sesi foto bersama panitia, peserta, dan masyarakat. Warga berharap Festival Ramadhan dapat menjadi agenda rutin tahunan yang terus menghadirkan kegiatan positif bagi anak-anak di Desa Wiyurejo.(imm/adv/lim)

Panduan Lengkap Beasiswa Prestasi UMM 2026: Begini Syarat, Jalur, dan Cara Daftar

BICARANETWORK.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuka kesempatan emas bagi calon mahasiswa baru melalui program Beasiswa Prestasi UMM 2026. Program ini dirancang untuk mengapresiasi talenta muda yang memiliki keunggulan di bidang akademik maupun non-akademik agar dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Sebagai salah satu kampus swasta terbaik berakreditasi Unggul, UMM memberikan akses beasiswa ini untuk hampir seluruh fakultas, kecuali Fakultas Kedokteran dan Fakultas Farmasi. Jalur Beasiswa Prestasi UMM 2026 Beasiswa ini terbagi menjadi dua kategori utama yang bisa dipilih sesuai dengan potensi calon mahasiswa: 1. Jalur Prestasi Akademik Jalur ini diperuntukkan bagi siswa yang memiliki rekam jejak nilai rapor yang konsisten. Syarat Nilai: Rata-rata nilai rapor minimal 80 dari semester 1 hingga semester 5. Khusus Prodi Psikologi: Nilai rata-rata rapor minimal harus 85. 2. Jalur Prestasi Non-Akademik Bagi Anda yang aktif di luar kelas, jalur ini mencakup berbagai bidang bakat, antara lain: Olahraga dan Seni: Atlet atau seniman berprestasi. Karya Ilmiah: Pemenang lomba penelitian atau karya tulis. Keagamaan: Hafiz Al Quran atau prestasi religi lainnya. Organisasi: Pengurus inti organisasi sekolah (OSIS/IPM). Influencer: Individu yang memiliki pengaruh positif di media sosial. Syarat Pendaftaran Resmi Berdasarkan informasi dari laman PMB UMM, berikut adalah dokumen dan persyaratan yang harus disiapkan: Nilai rapor: Mengunggah foto nilai rapor semester 1–5 yang telah digabung menjadi satu file PDF (khusus jalur akademik). Sertifikat/Piagam: Melampirkan fotokopi piagam atau sertifikat prestasi minimal tingkat Kota atau Kabupaten yang telah dilegalisasi (khusus jalur non-akademik). Surat keterangan sehat: Wajib melampirkan surat keterangan tidak buta warna untuk prodi Biologi, Matematika, dan PGSD. Khusus D3 Keperawatan dan Fisioterapi: Tinggi badan minimal Laki-laki (155 cm) dan Perempuan (150 cm) serta tidak memiliki tuna fisik. Tes kesehatan: Melakukan tes kesehatan di Rumah Sakit UMM atau RS Daerah/RS Muhammadiyah setempat.

Inovasi Hilirisasi Mahasiswa KKN Kelompok 10 UMM, Tingkatkan Nilai Tambah Potensi Desa Wiyurejo

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Desa Wiyurejo yang terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, selama ini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, khususnya di sektor peternakan sapi perah dan pertanian wortel serta jeruk. Namun potensi besar tersebut selama ini masih menghadapi tantangan klasik, yakni ketergantungan peternak dan petani pada penjualan bahan mentah kepada pengepul. Kondisi harga yang fluktuatif serta rantai distribusi yang panjang seringkali membuat nilai ekonomi yang diterima masyarakat menjadi kurang maksimal. ​Merespons fenomena tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2026 melakukan langkah nyata melalui penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Amaliah Nur Adibah, M.P.W.K., para mahasiswa memperkenalkan konsep hilirisasi kepada warga setempat. Hilirisasi ini diwujudkan melalui pelatihan pengolahan bahan mentah menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya simpan yang lebih lama. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan pada, Sabtu 14 Februari 2026 pukul 10.00 WIB, bertempat di Taman Kanak-Kanak (TK) Al-Ishlah Desa Wiyurejo. Sebanyak 12 warga yang terdiri dari ibu-ibu penggerak PKK serta perwakilan perangkat desa hadir untuk menyerap ilmu baru mengenai inovasi produk pangan. Tim mahasiswa yang terdiri dari Annisa Khasanah dari jurusan Psikologi, Selvy Nabila Prastyo dari Farmasi, Anindya Sucita dari Manajemen, dan Adriansyah Pratama dari Informatika, berkolaborasi menggabungkan disiplin ilmu mereka untuk merancang produk yang tidak hanya laku dijual, tetapi juga sehat dan memiliki standar produksi yang baik. ​Dalam pelatihan tersebut, diperkenalkan tiga produk unggulan yang memanfaatkan komoditas utama desa. Produk pertama adalah Carro Milk, sebuah minuman inovatif yang menggabungkan nutrisi susu segar dengan manfaat wortel. Produk kedua adalah Carro Chicken Nugget, yang merupakan solusi bagi orang tua untuk menghadirkan asupan sayur dalam bentuk makanan olahan daging yang digemari anak-anak. Terakhir, terdapat Citrus Sinensis Peel Syrup, sebuah produk pemanfaatan kulit jeruk menjadi sirup aromatik yang memiliki nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya sering dianggap limbah. ​Sebelum memasuki sesi praktik, para mahasiswa terlebih dahulu memberikan pemaparan materi berbasis data ilmiah dari berbagai jurnal mengenai alasan pemilihan produk, manfaat kesehatan, hingga kandungan gizi di dalamnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat memiliki pemahaman mendalam mengenai kualitas produk yang mereka buat. “Antusiasme warga terlihat jelas saat sesi pembuatan berlangsung, di mana kehadiran perangkat desa menjadi simbol dukungan kuat bagi program pemberdayaan ini. Diharapkan, melalui inisiatif dari KKN Kelompok 10 UMM ini, masyarakat Desa Wiyurejo dapat mulai bertransformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi produsen produk olahan kreatif yang mandiri secara ekonomi,” ucap Annisa Khasanah.(imm/adv/lim)

UMM Kembangkan Aplikasi AI Pendamping Ibu Hamil NEOSENTIA

beritajejakfakta – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan aplikasi NEOSENTIA, sebuah sistem pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence (AI). Aplikasi ini terhubung langsung dengan tenaga kesehatan dan menggunakan data ilmiah untuk deteksi risiko maternal secara real-time. Vera Miftakul Rahma Kamal, ketua tim pengembang dari Program Studi Kedokteran UMM, menjelaskan bahwa NEOSENTIA dirancang sebagai sistem non-invasif untuk pemantauan mandiri kehamilan yang proaktif. Menurutnya, platform ini mengintegrasikan data dari perangkat wearable, laporan gejala pengguna, serta rekam medis elektronik untuk analisis risiko berkelanjutan. Hal ini disampaikannya pada Selasa (24/2/2026). Dengan sistem ini, potensi komplikasi kehamilan dapat dideteksi lebih awal, memungkinkan intervensi tepat waktu oleh tenaga kesehatan. Desain multibahasa pada aplikasi ini memperluas akses bagi pengguna dari berbagai wilayah dan latar belakang. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis untuk memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini dinilai relevan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Rahma menuturkan bahwa keikutsertaan dalam forum internasional memberikan pelajaran berharga tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Desy Andari, dosen pembimbing, menilai bahwa capaian ini membuktikan kesiapan mahasiswa UMM untuk bersaing secara global, sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung inovasi berdampak. Dia berharap NEOSENTIA dapat terus dikembangkan hingga implementasi nyata di layanan kesehatan dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Karya ini meraih medali perak dalam kategori kesehatan di ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diadakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand, berhasil mencapai babak akhir. “Kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujar Rahma. Tim UMM terdiri dari empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yaitu Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Kolaborasi multidisipliner ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan.