Islam Berkemajuan Jadi Panduan Hadapi Tantangan Peradaban Modern

Safari Ramadan di kampus UMM menekankan pentingnya Islam berkemajuan. Foto: dok.UMM MAKLUMAT – Konsep Islam Berkemajuan kembali ditegaskan sebagai pijakan menghadapi dinamika zaman modern. Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, yang mengajak civitas akademika memahami Islam Berkemajuan sebagai panduan dalam merespons perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan peradaban global. Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa kemajuan dalam perspektif Islam tidak semata diukur dari pesatnya perkembangan teknologi atau sains. Menurutnya, kemajuan juga harus diiringi dengan nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab kemanusiaan. Ilmu dan Nilai Spiritual “Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya. Ia menilai fenomena tersebut menjadi tantangan serius di era modern. Tanpa keseimbangan nilai, kemajuan ilmu pengetahuan justru dapat melahirkan berbagai persoalan sosial baru di tengah masyarakat. Saad menjelaskan bahwa sejak awal Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi landasan kuat bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu. Baca Juga  Pesan Sekda Sumbawa di Wisuda UMM: Jangan Berhenti Bermimpi dan Berkarya Namun, menurutnya, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata. Ilmu juga harus diiringi kesadaran moral agar dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia. Momentum Tumbuhkan Kesadaran “Ilmu yang tidak dibimbing nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter,” tegasnya. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mewujudkan nilai Islam Berkemajuan. Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai yang memastikan ilmu digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Saad juga menilai Ramadan sebagai momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Ibadah puasa, kata dia, tidak sekadar ritual spiritual, tetapi juga latihan empati terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Tanggung Jawab Persyarikatan “Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” jelasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, mengatakan kegiatan Safari Ramadan menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat nilai spiritual di tengah aktivitas akademik. Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial. Baca Juga  UMM Wakili LLDIKTI 7 di Ajang Mahasiswa Berprestasi “UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan,” ujarnya memungkasi.

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

ilusrtasi – Abdullah Dzikri pedagang keripik buah lulusan UMM. (Ega Fansuri/Mojok.co)   Mojok.Co – Abdullah Dzikri, lulus kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jurusan Agribisnis tahun 2017. Semasa kuliah, ia mengaku jarang ikut organisasi kampus. Otomatis dia tidak bisa digolongkan sebagai mahasiswa “kura-kura” atau kuliah rapat-kuliah rapat, melainkan mahasiswa “kuda-kuda” alias kuliah dagang-kuliah dagang. Sebelum atau sesudah mendengarkan teori dari dosennya, Dzikri akan menjajakan lumpia ke teman-teman mahasiswanya di kelas. Kadang-kadang, ia juga pergi ke fakultas sebelah untuk meraup untung lebih banyak. Bagi Dzikri saat itu, kuliah sambil berdagang jadi proses pembelajaran yang berharga. Alih-alih hanya belajar teori di kelas, Dzikri merasa perlu untuk langsung mempraktikkannya hingga mental kewirausahaannya terbentuk. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Lulus kuliah, Dzikri menekuni usahanya dengan membuat produk keripik buah bersama petani dan ibu-ibu di desa, hingga mampu mengekspor ke mancanegara. Mahasiswa Jurusan Agribisnis, kuliah sambil jualan di dalam kelas Menurut Dzikri, UMM memang mendorong mahasiswanya terutama Jurusan Agribisnis untuk menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” jelas Dzikri dilansir dari laman resmi UMM, Rabu (11/3/2026). Jurusan Agribisnis UMM juga memiliki program unggulan mencakup kelas profesional ekspor, kemitraan magang internasional, kebun percobaan, serta kurikulum yang mengintegrasikan ilmu bisnis, teknologi, dan kewirausahaan. Abdullah Dzikri pedagang keripik buah. (Sumber: UMM) Bahkan, akreditasinya sudah Unggul atau di atas A. Akreditasi ini diperoleh dari BAN-PT pada tahun 2021. Tak heran, jurusan ini menjadi salah satu program studi favorit di Fakultas Pertanian-Peternakan UMM. Kualitas jurusan tersebut juga dibuktikan Dzikri setelah lulus kuliah. Alumnus Agribisnis UMM tahun 2017 ini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying di desa. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. S1 Jurusan Agribisnis temukan solusi untuk warga desa Semasa kuliah di Jurusan Agribisnis UMM, Dzikri memanfaatkan lingkungan kampusnya yang terbuka untuk terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar guna melakukan analisis usaha. Salah satu perusahaan berskala nasional yang ia kunjungi adalah Indomie, sementara untuk usaha lokal ia belajar langsung dari petani desa. Salah satu keresahannya saat itu ialah fluktuasi harga hasil panen petani yang tidak menguntungkan. “Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Nah, agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi, saya pakai teknologi vacuum frying,” jelasnya. Vacuum frying merupakan metode penggorengan kedap udara dengan suhu rendah yang mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Namun, apalah arti teknologi canggih tanpa bahan baku yang berkualitas. Oleh karena itu, untuk memperoleh bahan baku yang bagus, Dzikri mulai bermitra dengan petani desa tanpa perantara sekaligus mengajak para ibu di desa untuk melakukan proses produksi. Dengan kata lain, model bisnisnya ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat di desa.

UMM Gelar Ngabuburit di Kayutangan, Padukan Literasi, Batik Ecoprint dan Live Cooking

UMM Gelar Ngabuburit di Kayutangan, Padukan Literasi, Batik Ecoprint dan Live Cooking pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda melalui kegiatan Ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang.Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga berbagai aktivitas edukatif mewarnai suasana di kawasan Kayutangan Heritage pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif sehingga masyarakat dapat menikmati waktu menjelang berbuka puasa dengan cara yang lebih edukatif dan menyenangkan. Batik Ecoprint Ramah Lingkungan Jadi Daya Tarik Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Mobil Perpustakaan Hadirkan Literasi di Ruang Publik Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburit juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Live Cooking dari Hotel Rayz UMM Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Ngabuburit Edukatif Dapat Apresiasi Pengunjung Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngabuburit menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

UMM Dipercaya TNI AD Rancang Sistem Pemusnahan Amunisi Ramah Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan dari Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat (Puspalad) untuk merancang dan mengembangkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih aman, modern, dan ramah lingkungan. Amanah ini melanjutkan kerja sama strategis yang telah resmi terjalin sejak 2024, setelah sebelumnya UMM dipercaya mengerjakan rancang bangun kendaraan khusus (ransus) yang dilengkapi pelepas runflat untuk panser Anoa. Kerja sama terbaru yang dijalankan sepanjang 2026 ini mencakup pengembangan sistem pemusnahan berbagai jenis munisi, mulai dari Munisi Kaliber Kecil (MKK), Munisi Kaliber Besar (MKB), hingga Munisi Khusus (Musus). Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan amunisi di lingkungan TNI yang lebih aman, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap memperhatikan dampak lingkungan. Ketua tim ahli proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Mesin UMM, menjelaskan bahwa fokus utama kerja sama ini adalah menghadirkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern dengan standar keamanan tinggi. “Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern, aman, dan juga memperhatikan dampak terhadap lingkungan,” ujarnya Menurutnya, salah satu komponen utama yang akan dikembangkan dalam proyek ini adalah insinerator untuk memusnahkan Munisi Kaliber Kecil (MKK) dengan ukuran diameter di bawah 20 milimeter. Sistem insinerator tersebut dirancang menggunakan metode pembakaran dalam dua ruang bakar atau chamber. Konsep dua ruang bakar ini memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna sehingga sisa-sisa bahan peledak dapat terurai dengan lebih efektif. “Proses pemusnahan dirancang menggunakan sistem pembakaran di dalam dua ruang bakar atau chamber. Sistem ini dilengkapi teknologi pengolahan air serta filtrasi gas buang beracun agar dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan,” jelasnya. Seiring dengan perkembangan proyek, cakupan kerja sama antara UMM dan Puspalad juga mengalami perluasan. Awalnya sistem yang dirancang hanya difokuskan untuk pemusnahan Munisi Kaliber Kecil (MKK). Namun dalam perkembangannya, hibah tersebut diperluas untuk menangani pemusnahan Munisi Kaliber Besar (MKB) serta Munisi Khusus (Musus). Perluasan cakupan ini tentu membutuhkan tambahan berbagai peralatan pendukung. Beberapa di antaranya meliputi mesin disassembly untuk membongkar komponen munisi kaliber besar, sistem conveyor untuk memindahkan material secara aman, alat press, alat ayakan untuk proses pemisahan material, hingga pembangunan sumur peledakan yang akan digunakan dalam proses penghancuran jenis munisi khusus detonator dan TNT yang tidak dapat dimusnahkan melalui pembakaran. Sementara itu, Kepala Bagian Penelitian Dan Pengembangan Senjata Optronik Dan Munisi Pusat TNI Angkatan Darat, Letkol Cpl Syaiful Bahri, S.T., menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan kampus putih. “Kami mengapresiasi kerja sama dengan UMM karena melibatkan keahlian akademisi dalam pengembangan teknologi pemusnahan amunisi yang lebih aman dan modern. Kolaborasi ini sangat penting untuk mendukung peningkatan sistem pengelolaan amunisi di lingkungan TNI,” ungkapnya. Ia juga berharap kerja sama yang sudah terjalin sejak 2024 lalu ini dapat terus berlanjut, lebih luas antara institusi militer dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi pertahanan nasional di masa depan.(*)

Safari Ramadan UMM Beberkan Islam Berkemajuan: Bukan Sebatas Teknologi, Tapi Cara Memuliakan Manusia

MALANG POST – Spirit Islam berkemajuan menjadi refleksi utama dalam kegiatan Safari Ramadhan pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome UMM, Selasa 10 Maret 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. M. Saad Ibrahim, M.A., sebagai pembicara utama yang mengajak civitas akademika memahami Islam berkemajuan sebagai panduan menghadapi tantangan peradaban modern. Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa kemajuan dalam Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai perkembangan teknologi dan sains. Ia menilai bahwa dunia modern menunjukkan fenomena di mana kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral dan kemanusiaan. Hal tersebut berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. “Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kemajuan justru bisa melahirkan masalah baru bagi kehidupan manusia,” ujarnya. Saad sapaan akranya menjelaskan bahwa Al-Qur’an sejak awal telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi dasar bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, menurutnya, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata, tetapi juga membentuk kesadaran moral dalam menggunakan ilmu tersebut. Ia menilai bahwa tantangan umat Islam saat ini bukan hanya persoalan ketertinggalan ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kemaslahatan manusia. Di era digital, kemajuan teknologi sering kali menghadirkan paradoks sosial, seperti meningkatnya individualisme, penyebaran informasi yang tidak sehat, hingga melemahnya empati sosial. “Ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Inilah yang harus dihindari oleh dunia pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab moral,” tegasnya. Karena itu, Saad menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan intelektual dan pembentukan karakter. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai yang memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Ia juga menekankan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Menurutnya, puasa merupakan latihan spiritual yang menumbuhkan empati terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. “Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang membentuk empati terhadap kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” terangnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Safari Ramadhan menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperkuat nilai spiritualitas di tengah dinamika aktivitas akademik. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial. “UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan di kampus ini,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Safari Ramadan UMM Bukti Islam Berkemajuan Bukan Sekadar Teknologi

Malangpariwara.com – Spirit Islam berkemajuan menjadi refleksi utama dalam kegiatan Safari Ramadan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome kampus setempat, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Saad mengajak civitas akademika memahami konsep Islam berkemajuan sebagai panduan menghadapi tantangan peradaban modern. Menurutnya, kemajuan dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semata. “Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kemajuan justru bisa melahirkan masalah baru bagi kehidupan manusia,” ujarnya. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an Saad menjelaskan, sejak awal Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, serta pengembangan ilmu pengetahuan. Namun demikian, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan ilmu saja. Ia menilai, pengetahuan juga harus diiringi dengan kesadaran moral agar ilmu dapat digunakan secara bijaksana. “Ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Inilah yang harus dihindari oleh dunia pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab moral,” tegasnya. Menurutnya, tantangan umat Islam saat ini tidak sekadar mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan, tetapi memastikan bahwa kemajuan tersebut membawa manfaat bagi kemanusiaan. Di era digital, kemajuan teknologi kerap menghadirkan paradoks sosial, mulai dari meningkatnya individualisme hingga melemahnya empati sosial. Karena itu, Saad menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan intelektual dan pembentukan karakter. Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial di tengah masyarakat. “Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang membentuk empati terhadap kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” terangnya. Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyampaikan bahwa Safari Ramadan menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperkuat nilai spiritual di tengah dinamika aktivitas akademik. “UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan di kampus ini,” pungkasnya. (Djoko W)