Pakar UMM Ungkap Kunci Kemandirian Energi Indonesia di Tengah Ancaman Krisis Energi

Pakar UMM, Priyo Iswanto mengungkap kunci kemandirian energi Indonesia di tengah ancaman krisis./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pakar UMM, Priyo Iswanto mengungkap kunci kemandirian energi Indonesia di tengah ancaman krisis energi. Menurut Priyo, kemandirian nasional dinilai menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis energi global yang dipicu memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran serta potensi penutupan Selat Hormuz. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Dr. (H.E) Priyo Iswanto, M.H., menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam dan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. “Kemandirian energi adalah kunci agar kita tidak terus-menerus terdampak gejolak global. Indonesia memiliki potensi besar, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut tidak akan cukup untuk menahan dampak krisis yang semakin kompleks,” bebernya kepada Tim Humas UMM, Jumat (3/4). Penguatan sektor industri, energi, dan ekonomi domestik ia tegaskan harus menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Pemerintah menurutnya juga perlu segera mempercepat strategi yang berorientasi pada ketahanan nasional agar Indonesia tidak bergantung pada dinamika pasar energi global. “Kita harus memperkuat fondasi domestik, mulai dari sektor industri hingga energi, agar tidak selalu rentan ketika terjadi gangguan pasokan global,” tuturnya. Memanasnya konflik geopolitik yang berujung pada ancaman penutupan Selat Hormuz tidak bisa dimungkiri telah meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global, sehingga gangguan pasokan berpotensi memicu tekanan besar terhadap banyak negara, termasuk Indonesia. Ini yang dinilai Priyo bukan sekadar persoalan politik luar negeri, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional. “Penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Dalam kondisi seperti ini, ruang gerak diplomasi menjadi terbatas karena persoalan utamanya adalah berkurangnya pasokan energi,” jelasnya. Kenaikan harga minyak menurutnya juga akan berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi subsidi energi. “Diplomasi saja tidak cukup ketika harga minyak melonjak tinggi. Pemerintah harus bersiap menghadapi tekanan besar terhadap APBN, terutama pada subsidi energi yang akan meningkat,” lanjutnya. Agar bisa meredam dampak tersebut, Priyo menilai pengendalian konsumsi bahan bakar minyak, khususnya pada sektor non-vital, perlu segera dilakukan. Kemudian, percepatan diversifikasi energi juga harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor minyak. “Pengurangan konsumsi BBM di sektor non-vital harus segera dilakukan dan melibatkan seluruh masyarakat. Di sisi lain, diversifikasi energi, terutama energi terbarukan, harus digencarkan secara masif dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dalam negeri,” sambungnya. Ketahanan energi juga ia tegaskan dapat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri dan perekonomian nasional. Sisi lain dari krisis ini menurutnya justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju energi alternatif yang lebih berkelanjutan. “Kita tidak bisa terus bergantung pada energi fosil karena selain terbatas, juga rentan terhadap gejolak global seperti saat ini. Ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri nasional,” tegasnya. Krisis ini juga dapat menguji kemampuan Indonesia dalam menjaga keseimbangan politik luar negeri. Ia mengingatkan bahwa prinsip bebas aktif harus tetap dijalankan tanpa terjebak dalam keberpihakan tertentu. “Tidak mudah bersikap netral dalam situasi seperti ini, tetapi diplomasi Indonesia harus mampu menjembatani kepentingan ekonomi dan politik tanpa menimbulkan konflik baru.” Dorongan juga diberikan kepada pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif, termasuk energi nuklir, sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “Maka dari itu, kita harus mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif, termasuk energi nuklir, sebagaimana telah dilakukan oleh banyak negara maju. Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari krisis, tetapi juga memperkuat fondasi menuju kemandirian energi untuk menopang industri di masa depan,” tandas pria kelahiran Kudus ini. Adapun mengenai situasi Selat Hormuz saat ini sedang dijaga oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Melalui rilis resminya di media sosial X (5/4), mereka mengaku sedang merampungkan persiapan untuk Selat Hormuz di tengah ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Persiapan tersebut akan diterapkan IRGC dalam ‘tatanan baru Teluk Persia’. Kondisi di Selat Hormuz juga ditegaskan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, khususnya untuk AS dan Israel. Pernyataan IRGC ini dilontarkan setelah Trump memberikan ancaman terbarunya yakni menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tidak segera membuka jalur air vital tersebut. Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Sebuah jalur vital terhadap 20 persen peredaran minyak dan gas dunia. Konflik antara AS dan Iran yang kemudian berimbas pada Selat Hormuz ini turut memberi pengaruh terhadap Indonesia. Inilah mengapa, Priyo Iswanto turut memberi tanggapannya terhadap situasi ini. *** Editor: YAN

PPG UMM Soroti Sisi Negatif AI di Dunia Pendidikan dan Tegaskan Pentingnya Keteladanan Guru

Prof. Chun-Yen Chang, dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM, Minggu (5/4/2026)./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Pendidikan Profesi Guru (Prodi PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti sisi negatif Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan. Sisi ini penting untuk diangkat ketika kehadiran AI makin dekat dengan masyarakat dewasa ini karena menawarkan kemudahan. Sama halnya teknologi lainnya yang mempunyai sisi positif dan negatif, maka kehadiran AI juga dapat menjadi ancaman nyata bagi kapasitas berpikir mendalam jika tidak disikapi bijak. Guna mengantisipasi disrupsi tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pakar pendidikan National Taiwan Normal University (NTNU), Prof. Chun-Yen Chang. Prof. Chun-Yen Chang hadir dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM pada Minggu (5/4). Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta secara luring maupun daring dan membahas secara mendalam terkait Kemampuan Adaptasi Guru terhadap Teknologi Pembelajaran di Era Digital dan Persaingan Global. Melalui pemaparannya, Prof. Chang secara gamblang menyoroti bahaya ketergantungan berlebih pada AI dan menegaskan kepada para calon pendidik untuk tidak tenggelam dalam kemewahan teknologi. “Ketika Anda mencoba untuk menyerahkan (outsource) otak Anda kepada AI seperti ChatGPT, Anda tidak lagi berpikir. Penggunaan teknologi jangka panjang tanpa diiringi pemikiran kritis pada akhirnya akan merusak kapasitas pemikiran mendalam Anda,” ungkap Prof. Chang. Menurut Chang, teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa mereplikasi interaksi emosional di ruang kelas. “Saya secara pribadi jauh lebih menyukai pembelajaran tatap muka karena ada sentuhan manusia (human touch) di dalamnya. Papan tulis dan kapur pun bisa menjadi alat pengajaran yang sangat efisien jika Anda adalah guru yang mampu merancang kelas dengan baik,” tuturnya. Di sela-sela paparannya tersebut, Prof. Chang juga memberikan apresiasi tinggi kepada ekosistem akademik Kampus Putih. Menurutnya, UMM memiliki kapasitas mumpuni untuk menjalin kolaborasi riset berskala global. “UMM akan menjadi mitra strategis yang sangat baik. Ke depan, tim kami di Taiwan sangat antusias untuk mengumpulkan data bersama peneliti UMM, guna membandingkan perspektif mahasiswa calon guru di Taiwan dan Indonesia,” ujarnya. Menyambung pentingnya ketahanan mental di tengah pusaran teknologi, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., memberikan pandangan tajam dari sisi psikologis. Mewakili Rektor UMM, Salis menegaskan filosofi pendidikan bahwa pendidik adalah penjaga nilai kemanusiaan, di mana teknologi murni hanyalah sekadar alat pendukung. Salis juga menganalogikan peran guru dengan seorang dokter. “Saat memilih dokter, pasien pasti mencari dokter yang enak diajak cerita, terlepas dari deretan gelar akademisnya. Sama halnya dengan guru di sekolah, siswa akan selalu mengingat dan menyerap pelajaran dari guru yang membuat mereka merasa nyaman,” bebernya. Menghadapi era ketidakpastian (uncertainty) yang bergerak sangat cepat, Salis merekomendasikan pendekatan going inside deeper atau penguatan karakter ke dalam diri. Ia menolak pesimisme yang menganggap era saat ini lebih berat bagi para guru. “Setiap era memiliki perjuangannya masing-masing. Untuk mendidik siswa agar mampu bertahan di era disrupsi, metode terbaiknya adalah keteladanan. Guru itu sendiri yang pertama kali harus memiliki openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman baru) dan growth mindset. Tidak mungkin anak didik bisa percaya diri kalau gurunya sendiri tidak mencontohkan hal tersebut,” tandas Salis. Pihak kampus menggarisbawahi sinergi gagasan dari kedua pakar internasional dan nasional ini dengan satu rumusan kuat. Yaitu, secanggih apa pun disrupsi teknologi di masa depan, daya kritis, keteladanan, dan empati seorang guru tetaplah detak jantung utama dari pendidikan. *** Editor: YAN

Bahaya AI dalam Pendidikan, PPG UMM Tekankan Peran Guru

pwmu.co –Kehadiran teknologi berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga potensi ancaman terhadap kemampuan berpikir mendalam jika tidak digunakan secara bijak. Menanggapi tantangan tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University, Chun-Yen Chang, dalam kuliah tamu internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM, Minggu (5/4/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan peserta, baik secara luring maupun daring, dengan fokus pada kemampuan adaptasi guru dalam menghadapi disrupsi teknologi di era digital. pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University, Chun-Yen Chang Dalam pemaparannya, Prof. Chang mengingatkan bahaya ketergantungan berlebihan pada teknologi AI. “Ketika Anda menyerahkan otak Anda kepada AI seperti ChatGPT, Anda tidak lagi berpikir. Penggunaan jangka panjang tanpa pemikiran kritis akan merusak kapasitas berpikir mendalam,” tegasnya. Ia menekankan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan peran manusia dalam proses pembelajaran, melainkan hanya sebagai alat bantu. Menurutnya, interaksi emosional di ruang kelas merupakan elemen penting yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. “Saya lebih menyukai pembelajaran tatap muka karena ada human touch. Bahkan papan tulis dan kapur bisa menjadi alat efektif jika guru mampu merancang pembelajaran dengan baik,” imbuhnya. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Chang juga memberikan apresiasi terhadap ekosistem akademik UMM. Ia menilai UMM memiliki potensi besar untuk menjalin kolaborasi riset internasional, khususnya dalam bidang pendidikan. “UMM akan menjadi mitra strategis. Kami ingin berkolaborasi untuk membandingkan perspektif calon guru di Taiwan dan Indonesia,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa peran guru tidak tergantikan oleh teknologi. “Pendidik adalah penjaga nilai kemanusiaan. Teknologi hanyalah alat pendukung,” ujarnya. Ia mengibaratkan guru seperti dokter yang tidak hanya dinilai dari keilmuan, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan emosional. “Siswa akan lebih mengingat guru yang membuat mereka nyaman,” jelasnya. Menghadapi era yang penuh ketidakpastian, Salis menekankan pentingnya penguatan karakter guru melalui pendekatan going inside deeper. Ia juga mengingatkan bahwa guru harus menjadi teladan dalam sikap terbuka terhadap perubahan (openness to experience) dan memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). “Tidak mungkin siswa percaya diri jika gurunya sendiri tidak mencontohkan hal tersebut,” pungkasnya. Kolaborasi pemikiran dari pakar internasional dan nasional ini menegaskan satu hal penting: Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, daya kritis, empati, dan keteladanan guru tetap menjadi jantung utama pendidikan. *) Editor : Satria

Informatika UMM Tembus Standar Dunia, Raih Akreditasi Internasional IABEE 2026

Ilustrasi prodi informatika UMM yang baru meraih akreditasi internasional (Foto: Istimewa) Malang (beritajatim.com) – Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan posisinya sebagai pencetak talenta teknologi kelas dunia. Pada tahun 2026, Informatika UMM berhasil meraih status Accredited dari lembaga akreditasi internasional ternama, The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE). Capaian prestisius ini diberikan khusus untuk disiplin Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Berdasarkan sertifikat yang ditetapkan di Jakarta pada 31 Maret 2026 tersebut, Informatika UMM dinilai telah memenuhi standar mutu pendidikan teknik dunia yang terukur, relevan, dengan sistem evaluasi yang berkelanjutan. Ketua Program Studi Informatika UMM, Agus Eko Minarno, menegaskan bahwa isu utama di balik peraihan akreditasi IABEE ini adalah kualitas lulusan di tengah persaingan global yang kian ketat. Menurutnya, akreditasi ini bukan sekadar urusan administratif formal, melainkan bukti nyata keseriusan institusi dalam membenahi sistem pembelajaran. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan institusi dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, penguatan kurikulum, proses akademik yang konsisten, serta budaya evaluasi yang berkesinambungan,” ujar Agus dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni. Dengan adanya pengakuan internasional ini, mahasiswa kini berada dalam ekosistem pendidikan yang memiliki standar mutu yang diakui secara global. Sejalan dengan isu daya saing bangsa, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menyampaikan bahwa raihan ini adalah manifestasi dari visi besar UMM untuk terus melebarkan sayap di level internasional. Ia menyebut akreditasi IABEE sebagai bukti autentik kapasitas Kampus Putih dalam bersaing di luar batas nasional. “Penghargaan di mana Teknik Informatika UMM mendapatkan akreditasi internasional IABEE ini, sekali lagi menjadi komitmen sekaligus bukti bahwa UMM siap bersaing di tingkat global,” tegas Salis. Namun, Salis mengingatkan bahwa esensi dari pencapaian ini adalah konsistensi jangka panjang. Menurutnya, tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga standar tersebut agar tetap relevan dengan kebutuhan industri teknologi yang dinamis. Ke depan, UMM menargetkan perluasan kemitraan strategis dengan berbagai negara untuk memastikan lulusan mereka tidak hanya jago di kandang sendiri. Inovasi program dan pengembangan atmosfer akademik menjadi prioritas utama pasca-penetapan akreditasi ini. “Kita harus berpikir keras, berinovasi, dan mengembangkan beragam program positif agar lulusan UMM memiliki daya saing di tingkat global, bukan sekadar di tingkat nasional apalagi lokal. Akreditasi ini mendorong kita untuk berkontribusi bukan hanya untuk Indonesia, namun juga untuk dunia,” kata Salis, menutup. (dan/kun)

Raih Akreditasi Internasional, Informatika UMM Siap Panaskan Persaingan Teknologi Global

Setelah meraih akreditasi internasional IABEE, Prodi Informatika UMM berkomitmen mencetak lulusan berdaya saing global dan menguasai teknologi terkini. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO Langkah progresif dalam memperkuat kualitas akademik kembali ditorehkan oleh Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada tahun 2026, Prodi Informatika UMM resmi meraih capaian membanggakan berupa status Accredited dari lembaga akreditasi internasional The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) untuk disiplin Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Sertifikat bergengsi ini ditetapkan di Jakarta pada 31 Maret 2026, menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan di UMM terus diarahkan pada standar mutu dunia yang terukur, relevan, dan berkelanjutan. Ketua Program Studi Informatika UMM Dr Ir Agus Eko Minarno SKom MKom IPM menyampaikan bahwa dalam dunia pendidikan tinggi yang kian kompetitif, akreditasi IABEE memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar penilaian formal atau pengesahan administratif. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan institusi dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, penguatan kurikulum, proses akademik yang konsisten, serta budaya evaluasi yang berkesinambungan,” jelas Agus. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini terwujud berkat kerja kolektif yang solid antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan dukungan penuh dari pimpinan universitas. Lewat capaian ini, mahasiswa dan calon mahasiswa diyakinkan bahwa proses pendidikan yang mereka jalani berada dalam ekosistem yang serius terhadap mutu. Pencapaian strategis ini sejalan dengan visi besar universitas untuk terus melebarkan sayap di kancah internasional. Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menegaskan bahwa raihan akreditasi ini merupakan wujud nyata dari kapasitas Kampus Putih. “Penghargaan di mana Teknik Informatika UMM mendapatkan akreditasi internasional IABEE ini, sekaligus menjadi bukti bahwa UMM siap bersaing di tingkat global,” tegas Salis. Lebih lanjut, Salis mengingatkan bahwa esensi akreditasi bukan semata tentang gelar yang berhasil diraih, melainkan komitmen panjang untuk menjaga standar tersebut. “Ke depannya, kita harus lebih semangat lagi membangun kemitraan strategis dengan berbagai negara. Kita harus berpikir keras, berinovasi, dan mengembangkan program-program positif agar lulusan UMM memiliki daya saing global, bukan hanya di tingkat nasional atau lokal. Akreditasi ini mendorong kita untuk berkontribusi bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga untuk dunia,” tambahnya. Momentum penetapan akreditasi IABEE bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan pijakan awal sekaligus energi baru bagi Prodi Sarjana Informatika UMM. Ke depannya, peningkatan atmosfer akademik, pengembangan inovasi teknologi, serta perluasan kolaborasi akan terus diupayakan. Bagi alumni dan mitra industri, capaian ini memperkuat kepercayaan bahwa Informatika UMM terus berbenah secara sistematis untuk melahirkan lulusan yang berintegritas, menguasai keilmuan dengan matang, dan siap menjawab tantangan di era digital yang bergerak cepat. (Faqih/AS)

Informatika UMM Raih Akreditasi IABEE, Siap Go Global

pwmu.co –Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Pada tahun 2026, Prodi ini resmi meraih status Accredited dari The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education untuk bidang Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Sertifikat bergengsi yang ditetapkan di Jakarta pada 31 Maret 2026 ini menegaskan bahwa sistem pendidikan di UMM telah memenuhi standar internasional yang terukur, relevan, dan berkelanjutan. Ketua Prodi Informatika UMM, Agus Eko Minarno, menegaskan bahwa akreditasi IABEE bukan hanya sekadar pengesahan administratif, melainkan refleksi komitmen institusi terhadap mutu pendidikan. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan dalam membangun sistem pembelajaran berbasis capaian lulusan, kurikulum yang kuat, serta evaluasi berkelanjutan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta dukungan pimpinan universitas. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa akreditasi ini menjadi bukti kesiapan UMM untuk bersaing di tingkat global. “Ini adalah komitmen bahwa UMM siap bersaing secara internasional,” tegasnya. Menurutnya, akreditasi bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan. Lebih lanjut, UMM akan terus memperluas kemitraan internasional serta mengembangkan program inovatif agar lulusan memiliki daya saing global. “Akreditasi ini mendorong kita untuk berkontribusi bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia,” tambah Salis. Capaian ini menjadi energi baru bagi Prodi Informatika UMM untuk terus meningkatkan atmosfer akademik, memperkuat inovasi teknologi, serta memperluas kolaborasi dengan industri dan institusi global. Bagi mahasiswa, alumni, dan mitra industri, akreditasi ini menjadi jaminan bahwa proses pendidikan di UMM berjalan dalam ekosistem yang berkualitas dan berstandar internasional. Dengan raihan akreditasi IABEE, Informatika UMM semakin mengukuhkan posisinya sebagai program studi yang siap mencetak talenta teknologi yang kompeten, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan global di era digital. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

PWMU – Oleh : NurudinDosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang “Maaf, Prof belum muncul ya?” “Pak Dokter lagi sibuk mungkin.” “Bu Dosen biasanya silent reader.” Percakapan seperti ini terasa biasa di grup WhatsApp keluarga, alumni, kantor, atau komunitas. Namun jika direnungkan, ada sesuatu yang janggal. Mengapa gelar dan profesi dibawa ke ruang obrolan yang seharusnya santai? Mengapa muncul jarak yang sebelumnya tidak ada? Fenomena ini semakin sering terjadi. Gelar bukan lagi sekadar identitas formal, melainkan seolah menjadi kewajiban panggilan di mana pun berada. Jika tidak disebut, sebagian orang merasa kurang dihargai—bahkan tersinggung. Padahal, ini hanya soal cara menyapa. Dalam konteks formal, penggunaan gelar memang penting. Di kampus, panggilan “Prof”, “Doktor”, atau “Bu Dosen” adalah bentuk penghormatan akademik. Di rumah sakit, “Dokter” adalah identitas profesional. Di sekolah, “Pak Guru” menunjukkan peran yang jelas. Masalah muncul ketika konteks ini dibawa ke ruang santai, seperti grup WhatsApp. Awalnya, grup dibuat untuk mempererat hubungan—bercanda, berbagi cerita, atau sekadar menyapa. Namun ketika gelar ikut masuk, suasana berubah. Sebagian anggota menjadi sungkan berbicara. Takut salah ucap, takut dianggap tidak sopan. Akibatnya, partisipasi menurun. Dalam banyak kasus, hanya beberapa orang yang aktif, sementara lainnya memilih diam atau sekadar menjadi silent reader. Fenomena ini perlahan menciptakan jarak. Orang yang tidak memiliki gelar merasa “kurang”, sementara yang memiliki gelar merasa “harus dijaga”. Tanpa disadari, ruang santai berubah menjadi ruang semi-formal. Contoh sederhana terlihat di grup alumni. Ketika satu atau dua orang selalu dipanggil dengan gelarnya, anggota lain akan ikut menyesuaikan. Lama-kelamaan, percakapan terasa seperti forum resmi, bukan ruang pertemanan. Padahal, banyak orang justru lebih nyaman di grup yang santai dan egaliter. Grup yang terlalu formal cenderung sepi, atau hanya diisi oleh segelintir orang yang aktif. Masalah utamanya bukan pada gelar, melainkan cara kita memaknainya. Gelar akademik dan profesi adalah pencapaian yang layak dihargai. Namun, itu tidak berarti harus selalu dibawa ke semua ruang sosial. Di luar konteks kerja, kita adalah individu yang setara. Sama-sama teman, sama-sama manusia yang ingin diterima tanpa label. Bayangkan seorang profesor masuk ke grup teman SMA. Jika ia tetap dipanggil dengan nama panggilan lama, suasana akan hangat dan cair. Namun jika semua orang memanggilnya “Prof”, percakapan cenderung menjadi kaku. Di masyarakat, kita juga mengenal panggilan seperti “Pak Lurah”, “Pak Camat”, “Bu Dokter”, atau “Pak Haji”. Awalnya sebagai bentuk penghormatan, tetapi lama-kelamaan menjadi standar sosial. Akibatnya, mereka yang tidak memiliki gelar tertentu merasa lebih rendah. Tanpa disadari, kita menciptakan hierarki di ruang yang seharusnya egaliter. Padahal, generasi muda saat ini cenderung mengedepankan komunikasi yang setara—lebih santai, personal, dan tidak kaku dengan status. Hal ini tidak mengurangi rasa hormat, justru membuat interaksi lebih hidup. Normalisasi panggilan gelar bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga relasi sosial. Ketika satu orang dipanggil dengan gelar, yang lain akan mengikuti. Ada tekanan sosial yang tidak terlihat. Dampaknya: Percakapan menjadi tidak natural Keakraban menurun Partisipasi berkurang Muncul rasa tidak setara Dalam jangka panjang, grup bisa terasa eksklusif—seolah hanya milik “orang-orang tertentu”, sementara yang lain menjadi penonton. Solusinya sederhana: pahami konteks. Gunakan gelar di ruang formal karena memang diperlukan. Namun di ruang santai, gunakan nama atau panggilan personal. Menghormati seseorang tidak harus melalui gelar. Rasa hormat bisa ditunjukkan melalui cara berbicara, cara mendengar, dan cara menghargai pendapat. Yang terpenting adalah menciptakan ruang yang nyaman dan inklusif bagi semua. Normalisasi panggilan gelar dan profesi di grup sosial mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya nyata. Ia menciptakan jarak, mengurangi keakraban, dan membangun hierarki yang tidak perlu. Ruang santai seharusnya menjadi tempat semua orang setara, bukan panggung status. Sudah saatnya kita berhenti membawa atribut formal ke ruang informal. Cukup menjadi manusia biasa yang saling menyapa dengan hangat. Karena pada akhirnya, yang membuat kita dekat bukan gelar di depan nama, tetapi rasa nyaman di antara sesama. *) Editor : Satria

Profesor Asal Taiwan Minta Guru Lebih Bijak Gunakan AI

Prof Chun-Yen Chang dari National Taiwan Normal University memberikan kuliah tamu di PPG UMM. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) bukan hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menghadirkan ancaman nyata bagi kapasitas berpikir mendalam jika tidak disikapi dengan bijak. Mengantisipasi disrupsi tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University (NTNU) Prof Chun-Yen Chang dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age di Rayz Hotel UMM, Minggu (5/4/2026). Acara yang dihadiri ratusan peserta secara luring maupun daring ini membahas secara mendalam kemampuan adaptasi guru terhadap teknologi pembelajaran di era digital serta persaingan global. Dalam pemaparannya, Prof Chang menyoroti bahaya ketergantungan berlebihan pada AI dan menegaskan kepada para calon pendidik untuk tidak tenggelam dalam kemewahan teknologi. “Ketika Anda mencoba untuk menyerahkan (outsource) otak Anda kepada AI seperti ChatGPT, Anda tidak lagi berpikir. Penggunaan teknologi jangka panjang tanpa disertai pemikiran kritis pada akhirnya akan merusak kapasitas pemikiran mendalam Anda,” tegas Prof Chang. Menurutnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi emosional di ruang kelas. “Saya pribadi lebih menyukai pembelajaran tatap muka karena ada sentuhan manusia (human touch) di dalamnya. Papan tulis dan kapur pun bisa menjadi alat pengajaran yang sangat efisien jika Anda adalah guru yang mampu merancang kelas dengan baik,” imbuhnya. Di sela-sela paparannya, Prof Chang juga memberikan apresiasi tinggi kepada ekosistem akademik Kampus Putih. Ia menilai UMM memiliki kapasitas mumpuni untuk menjalin kolaborasi riset berskala global. “UMM akan menjadi mitra strategis yang sangat baik. Ke depan, tim kami di Taiwan sangat antusias mengumpulkan data bersama peneliti UMM, guna membandingkan perspektif mahasiswa calon guru di Taiwan dan Indonesia,” ungkapnya. Menyambung pentingnya ketahanan mental di tengah pusaran teknologi, Wakil Rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi MPsi PhD memberikan pandangan dari sisi psikologis. Mewakili Rektor UMM, Salis menegaskan filosofi pendidikan bahwa pendidik adalah penjaga nilai kemanusiaan, di mana teknologi murni hanyalah alat pendukung. Salis menganalogikan peran guru dengan seorang dokter. “Saat memilih dokter, pasien pasti mencari dokter yang enak diajak bicara, terlepas dari deretan gelar akademisnya. Sama halnya dengan guru di sekolah, siswa akan selalu mengingat dan menyerap pelajaran dari guru yang membuat mereka merasa nyaman,” paparnya. Menghadapi era ketidakpastian (uncertainty) yang bergerak sangat cepat, Salis merekomendasikan pendekatan going inside deeper atau penguatan karakter dari dalam diri. Ia menolak pesimisme yang menganggap era saat ini lebih berat bagi para guru. “Setiap era memiliki perjuangannya masing-masing. Untuk mendidik siswa agar mampu bertahan di era disrupsi, metode terbaik adalah keteladanan. Guru itu sendiri yang pertama kali harus memiliki openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman baru) dan growth mindset. Tidak mungkin anak didik bisa percaya diri kalau gurunya sendiri tidak mencontohkan hal tersebut,” pungkas Salis. Sinergi gagasan dari kedua pakar, internasional dan nasional, menegaskan satu hal: Secanggih apa pun disrupsi teknologi di masa depan, daya kritis, keteladanan, dan empati seorang guru tetaplah detak jantung utama pendidikan. (Faqih/AS)

Akademisi Kesehatan UMM Peringatkan Bahaya Tersembunyi Cuaca Panas

Fenomena iklim “El Nino Godzilla” tengah mengubah jalanan dan area terbuka menjadi zona bahaya akibat paparan suhu panas yang sangat ekstrem. Di balik teriknya matahari, ancaman fatal bernama heat stroke (serangan panas) mengintai nyawa para pekerja yang tak punya pilihan selain beraktivitas di luar ruangan. Kelompok pekerja seperti pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan (satpam) kini berada di garis depan risiko mematikan tersebut. Merespons urgensi keselamatan ini, Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., membagikan panduan krusial agar para pahlawan lapangan ini mampu melindungi diri dan tetap aman. Nur menjelaskan bahwa heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu. Kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa. Suhu panas dari luar terus menumpuk di dalam tubuh. Akibatnya, produksi keringat terhenti total dan panas terperangkap. Faktor pemicu utamanya tentu saja adalah cuaca panas ekstrem dari fenomena El Nino. Risiko ini akan makin parah jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, serta memakai pakaian yang tidak menyerap keringat. “Kondisi paling parah itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ. Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa,” tegas Nur mengingatkan besarnya bahaya kondisi tersebut. Lebih lanjut, Nur menyoroti mengapa kelompok pekerja lapangan tersebut sangat rentan. Selain karena terus terpapar sinar matahari secara langsung selama berjam-jam, kewajiban mereka untuk memakai perlengkapan kerja seperti jaket tebal bagi ojol dan kurir, atau helm tertutup pada pekerja konstruksi membuat suhu panas makin mudah terperangkap dan memanggang tubuh dari dalam. Untuk menghindari bahaya mematikan ini, Nur memberikan sejumlah kiat pencegahan. Pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Sangat disarankan untuk rutin minum air putih dan jangan pernah menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga wajib menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh. Sebisa mungkin batasi aktivitas fisik berat pada jam rawan panas, yakni pukul 10.00 pagi hingga 13.00 siang. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka. Tujuannya agar panas tubuh bisa bertukar lebih mudah dengan udara luar,” jelasnya. Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga harus diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi. Pada akhir penjelasannya, Nur memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur. Terakhir, ia berharap edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan. Dengan pemahaman yang tepat, mereka tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa harus mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Jalur Cepat Bangun Karier, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit

Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(alg/faq)     Penulis: Mushtafa Almad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman