Sambut Calon Gen 26, UTBK UMM Padukan Pengamanan Berlapis dan Keseruan Fun Games

Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran (FK) dan Farmasi yang identik dengan ketegangan, terasa jauh berbeda di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menyambut lebih dari 1.000 calon mahasiswa baru yang memperebutkan kursi Gen 26 pada 21-23 Mei 2026, Kampus Putih menghadirkan kejutan seru lewat Mobil Kamis Membaca (KaCa). Kehadiran kendaraan edukasi multifungsi ini sukses menyulap wajah tegang para peserta menjadi tawa lepas melalui aneka fun games usai mereka berjibaku memeras otak di ruang ujian. Daya tarik prodi kesehatan di UMM ini terbukti sukses menjangkau seluruh nusantara. Hal ini terlihat dari asal pendaftar yang sangat beragam, dengan peserta terjauh tercatat datang langsung dari Papua demi mengejar mimpi menjadi tenaga medis profesional. Tensi tinggi setelah perjalanan jauh dan ujian yang ketat langsung luntur saat panitia mengajak para peserta bersantai di area Mobil KaCa. Mereka tidak hanya disuguhi ratusan bahan bacaan inspiratif, tetapi juga diajak melepas penat dengan aneka games berhadiah, hingga asyik membuat konten seru di platform TikTok. Meski menghadirkan atmosfer yang fun dan ramah di luar ruangan, UMM tetap tidak memberikan ruang sedikit pun bagi pelanggaran akademik. Merespons tingginya animo peserta dari berbagai pelosok negeri serta maraknya isu perjokian di prodi favorit, Kampus Putih secara konsisten menerapkan standar pengamanan tingkat tinggi dan berlapis. Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd., menjelaskan bahwa lonjakan pendaftar wajib diimbangi dengan proses seleksi yang bersih dan adil. Pihaknya menyiapkan prosedur keamanan ketat, mulai dari pengecekan fisik menggunakan metal detector, pelarangan membawa alat komunikasi jenis apa pun, hingga menggandeng aparat kepolisian setempat. “Pelaksanaan UTBK dengan pengawasan ketat ini sudah kami rutinkan sejak beberapa tahun lalu guna mengantisipasi pergerakan joki maupun bentuk kecurangan teknis lainnya. Di setiap ruangan, kami menyiagakan pengawas yang teliti serta teknisi yang sigap membantu peserta jika sewaktu-waktu terjadi kendala perangkat,” tegas Wahyu. Keseimbangan antara pelayanan yang menghibur dan tata kelola ujian yang profesional ini menuai apresiasi dari para wali peserta yang turut mendampingi. Novi Damayanti, salah satu orang tua peserta, secara khusus menyoroti kesiapan infrastruktur serta rekognisi internasional UMM. Ia sangat terkesan melihat langsung gedung baru yang megah dan berteknologi canggih khusus untuk praktik mahasiswa kedokteran dan farmasi. “Semoga anak saya bisa mendapatkan hasil maksimal, diterima di UMM, dan kelak menjadi generasi unggul di bidang kesehatan. Saya sangat yakin, dengan fasilitas semumpuni ini, UMM bisa mengantarkan anak saya menjadi tenaga medis profesional yang kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Novi. Pada akhirnya, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM bukan sekadar ajang adu kecerdasan akademis. Lebih dari itu, proses ini adalah wujud nyata komitmen Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas tinggi, namun tetap memiliki ruang untuk kreativitas. Ke depannya, Gen 26 yang berhasil lolos diharapkan mampu tumbuh menjadi pionir perubahan yang siap mengabdi untuk menyelesaikan persoalan kesehatan di tingkat nasional, dari Aceh hingga Papua, bahkan di kancah global.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Kembali Dipercaya Kemendikdasmen Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sains Nasional

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali resmi ditunjuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai tuan rumah Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA tahun 2026. Kepercayaan untuk kedua kalinya ini diberikan berkat rekam jejak Kampus Putih yang dinilai sukses menghadirkan fasilitas dan atmosfer akademik berstandar dunia pada penyelenggaraan sebelumnya. Keputusan Kemendikdasmen kembali menggandeng UMM telah melalui serangkaian proses evaluasi dan kurasi ketat. Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Dr Maria Veronica Irene Herdjiono SE MSi memaparkan bahwa pemerintah menyoroti kesiapan infrastruktur fisik, kelengkapan fasilitas laboratorium tingkat tinggi, serta profesionalitas kerja panitia lokal. Lebih dari itu, langkah strategis ini diambil untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik SMA dalam merasakan atmosfer pembelajaran di perguruan tinggi unggul. Kepuasan terhadap ekosistem belajar UMM tersebut bahkan diamini langsung para dewan juri yang sebagian besar merupakan guru besar dan penilai olimpiade kaliber internasional. “Review dari para juri yang ada, mereka mengatakan bahwa tahun lalu ini adalah OSN yang terbaik karena diadakan di tempat yang atmosfer akademiknya benar-benar terasa,” jelas Maria pada Rabu (20/5/2026). Berbicara mengenai skala kompetisi, OSN 2026 di UMM dipastikan berlangsung sangat kompetitif. Ajang prestisius ini akan mempertemukan sekitar 600 siswa berprestasi dari seluruh Indonesia yang berhasil menyisihkan lebih dari 946 ribu pendaftar pada tahapan seleksi daerah. Menyadari besarnya potensi para peserta, Puspresnas tahun ini juga merancang terobosan edukatif agar siswa tidak hanya fokus menghadapi ujian keilmuan. Di sela jadwal kompetisi, peserta akan dilibatkan dalam program baru bertajuk “Bina Talenta Indonesia Kolaboratif”. Program tersebut difokuskan pada penguatan jejaring, kolaborasi, dan kecerdasan emosional peserta. “Anak-anak lintas bidang ilmu, lintas daerah, dan sekolah akan kita buatkan suatu program kolaborasi untuk memperkuat kemampuan problem solving mereka melalui OSN ini yang nantinya diselenggarakan di UMM,” ungkapnya. Perhelatan OSN 2026 di lingkungan UMM diharapkan tidak sekadar menjadi ajang seremonial pemberian medali, melainkan menjadi kawah candradimuka bagi generasi emas Indonesia. Kolaborasi strategis antara Kemendikdasmen dan UMM ini membawa pesan bahwa institusi pendidikan harus terus berinovasi dalam menyiapkan pemimpin masa depan. Melalui kompetisi berstandar tinggi di UMM tersebut, nantinya akan diseleksi delegasi-delegasi terbaik yang siap mengharumkan nama Indonesia pada olimpiade sains tingkat dunia. “Harapannya adalah hasil anak-anak juara ini benar-benar layak dan kompetitif untuk bisa lanjut di ajang internasional dengan hasil yang terbaik,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Dosen UMM Masuk Daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia 2026, Ini Sosoknya

Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Indonesia setelah seorang dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menembus kancah internasional. Sholahuddin Al Fatih, dosen dari Fakultas Hukum UMM, resmi masuk dalam daftar 100 akademisi terbaik dunia di bidang Ilmu Sosial. Pemeringkatan yang dirilis oleh measuresHE ini menempatkan Fatih di posisi ke-91 secara global. Pencapaian ini membuatnya sejajar dengan para peneliti terkemuka dari kampus elit dunia, termasuk Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia. Sistem Penilaian Objektif dan Transparan Berbeda dengan pemeringkatan universitas pada umumnya, measuresHE menitikberatkan penilaian pada kualitas individu peneliti secara mandiri. Sistem ini bekerja secara objektif tanpa melibatkan skema langganan berbayar dalam menentukan hasil akhirnya. Fatih menjelaskan bahwa sistem kurasi ini sangat ketat karena memantau langsung rekam jejak akademik melalui basis data terverifikasi. Data tersebut dilacak secara murni dari profil profesional seperti Scopus dan Web of Science guna memastikan validitas karya. Ada tiga indikator utama yang digunakan dalam proses pemeringkatan ini: Research Gravitas: Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa dalam kualitas intelektual dari riset yang dihasilkan. Olympic Mean: Sebuah standar untuk menyaring dan memastikan konsistensi mutu dari setiap karya tulis yang dipublikasikan. Interaction Credit: Bentuk apresiasi terhadap kontribusi peneliti dalam kolaborasi akademik yang bersifat substantif. Ketiga metrik di atas dirancang untuk menjaring para pilar intelektual sejati yang memberikan dampak nyata bagi ilmu pengetahuan. Dengan metode tersebut, reputasi lembaga besar tidak lagi menjadi penentu utama dalam penilaian kualitas individu. Fatih menekankan bahwa pencapaian ini merupakan validasi atas kerja kerasnya dalam mengejar riset yang berbobot. Baginya, menjadi akademisi elit dunia bukan soal adu banyak jumlah publikasi, melainkan tentang seberapa besar dampak nyata karya tersebut. Ia menegaskan bahwa pengakuan ini membuktikan pentingnya riset yang menawarkan wawasan mendalam bagi masyarakat. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak,” ungkap Fatih sebagaimana dikutip dari laman resmi UMM.

Bangun Kesadaran Ekologi Sejak Dini, Riset Dosen UMM Latih Siswa SD Kelola Sampah

Ancaman krisis iklim dan darurat penumpukan sampah di Kabupaten Malang menuntut solusi berbasis riset yang komprehensif. Menjawab tantangan tersebut, Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd., memimpin riset edukasi ekologi yang menyasar siswa Sekolah Dasar (SD) ini bahkan sukses menyisihkan ribuan proposal dalam ajang pendanaan bergengsi tingkat nasional pada program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek ) yang diselenggarakan dan diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Penelitian ini bermula dari analisis tajam Beti terhadap kondisi kelestarian lingkungan dan minimnya literasi ekologi pada anak usia dini. Ia menyoroti bagaimana volume sampah yang terus melonjak setiap tahun di Kabupaten Malang ternyata berbanding terbalik dengan penerapan edukasi sistematis di bangku sekolah dasar, sehingga menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat. “Sekarang ini produksi sampah di Kabupaten Malang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara edukasi pengolahan sampah yang sistematis di sekolah dasar masih sangat minim. Karena itu, melalui riset ini, kami ingin memulai dari pendidikan dasar agar menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Dalam desain penelitiannya, Beti tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng tim lintas disiplin dari program studi Matematika, Teknik Mesin, hingga Biologi. Riset ini mengaplikasikan metode living lab, sebuah pendekatan saintifik yang tidak sekadar berfokus pada pemahaman teoretis, tetapi memfasilitasi siswa mempraktikkan langsung proses memilah, mendaur ulang, hingga mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Menurutnya, inovasi metode riset ini merupakan wujud nyata langkah mitigasi krisis ekologi di sektor pendidikan. “Harapan kami, penelitian ini bisa berdampak jangka panjang untuk mengarahkan dan juga memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi climate change yang memang menjadi fokus kita bersama,” paparnya. Penelitian berskala besar yang turut melibatkan mahasiswa ini akan dijalankan selama satu tahun melalui delapan tahapan komprehensif, mulai dari analisis awal, pembuatan purwarupa, hingga diseminasi hasil. Didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Majelis Dikdasmen Kabupaten Malang, riset ini menjadikan tiga SD Muhammadiyah di Kepanjen, Karangploso, dan Tumpang sebagai pilot project. Capaian lolos pendanaan yang diraih tim peneliti UMM ini menjadi bukti kualitas riset di tengah seleksi yang sangat kompetitif. “Persaingan dalam program pendanaan ini sangat ketat, dari total 8.951 akun pendaftar, hanya 122 program yang dinyatakan lolos. Kami berharap luaran riset ini mampu meningkatkan keterampilan pengolahan sampah siswa secara terukur dan secara efektif membantu sekolah menekan timbunan sampah ke TPA,” ungkapnya. Riset ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam kajian teoretis, tetapi juga adaptif merumuskan produk penelitian untuk merespons isu global. Ke depannya, model penelitian pendidikan lingkungan berbasis living lab ini diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai institusi lain, guna mencetak generasi masa depan yang tanggap secara ekologis dan terbiasa dengan gaya hidup berkelanjutan.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gen Z UMKM Accelerator, UMM Latih Pelaku Usaha Muda Kuasai Pemasaran Digital

MAKLUMAT — Mahasiswa Program Magister Universitas Muhammadiyah Malang menggelar pelatihan manajemen media sosial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) generasi Z di Kantor PWM Jawa Timur, Senin (18/5/2026). Kegiatan bertajuk “Gen Z UMKM Accelerator” tersebut menjadi upaya meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat kapasitas pemasaran usaha berbasis media sosial. Pelatihan diikuti puluhan pelaku UMKM muda dari berbagai bidang usaha. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan platform digital seperti Instagram, TikTok, hingga WhatsApp Business untuk mendukung promosi serta membangun citra usaha, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Sekar Triantis B, Aan Hariyanto, Thierno Abdoulaye, Jariuh Bah, serta Nadaa Fitria Salwa. Sekar Triantis B dalam paparannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital menuntut pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan pola pemasaran baru yang lebih dekat dengan generasi muda. Menurut dia, media sosial kini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana utama dalam memperluas pasar dan menjangkau konsumen secara lebih efektif. “Banyak UMKM memiliki produk yang bagus, tetapi belum mampu memaksimalkan promosi digital. Karena itu kami ingin memberikan pendampingan sederhana agar pelaku usaha, khususnya Gen Z, bisa lebih percaya diri memanfaatkan media sosial,” kata Sekar. Baca Juga  LPH-KHT Muhammadiyah Serahkan Sertifikat Halal kepada 130 UMKM di Tuban Senada, Aan Hariyanto mengajak para peserta untuk memahami pentingnya konsistensi dalam membuat konten, membangun interaksi dengan konsumen, hingga membaca tren digital yang berkembang di media sosial. “Muda-mudahan ini dapat membantu pelaku UMKM muda lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan daya saing usaha melalui strategi pemasaran digital yang kreatif dan inovatif,” harapnya. Selain penyampaian materi, peserta juga diajak melakukan praktik langsung membuat konsep konten promosi, teknik pengambilan gambar produk menggunakan telepon genggam, hingga strategi mengikuti tren digital guna meningkatkan daya tarik promosi. Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi dan simulasi pembuatan konten berlangsung. Salah seorang peserta, Muhammad Bimo, mengaku memperoleh banyak wawasan baru mengenai strategi pemasaran digital yang relevan bagi pelaku usaha muda. “Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami jadi memahami cara membuat konten yang menarik dan sesuai tren media sosial. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut agar UMKM muda semakin berkembang,” ucap Bimo.

Sekolah Terjebak Formalitas Administrasi, Prof. Nazar: Kualitas Pendidikan Tak Bisa Menguat

MALANG POST – Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, sebuah kritik tajam dan reflektif justru mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Panduan Kota & Daerah Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/2026). Dalam stadium generale tersebut, Nazar sapaan akrabnya menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa.   Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang.  Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sumber Daya Pendidikan Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Dobrak Batasan Linieritas: Alumni UMM Berkarier di Safety Officer

MALANG POST – Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis. Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan. Sains Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer. Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety). Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat. Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif. Panduan Kota & Daerah “Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya. Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data. Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko. Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data. “Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan,” ungkapnya. Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Sains Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam. “Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)