Kuliah Tamu Sosiologi UMM Soroti Hilangnya Tradisi Berpikir Kritis Mahasiswa di Tengah Dominasi Teknologi

Krisis intelektual yang melanda generasi muda hari ini bukanlah soal rendahnya kapasitas kecerdasan, melainkan pudarnya keberanian untuk berpikir kritis dan melawan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Realitas tersebut menjadi sorotan utama Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, S.H., dalam agenda Kuliah Tamu Nasional Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6). Mengusung tema besar “Kaum Cendekiawan dan Krisis Moral Perlawanan”, acara bergengsi ini memantik kesadaran para mahasiswa untuk merefleksikan kembali fungsi sejati kampus sebagai rahim lahirnya intelektual pemberani yang mengoreksi realitas sosial. Dalam pemaparannya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Lantai 6 UMM, Eko menguraikan bahwa krisis moral perlawanan tidak muncul dari ruang hampa, melainkan akibat perubahan struktural di dunia pendidikan. Orientasi pendidikan yang kian pragmatis, menjamurnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi secara perlahan menggeser marwah kampus. Lembaga pendidikan tinggi dinilai kini lebih menyerupai pabrik pencetak tenaga kerja dibandingkan ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran, sehingga mahasiswa semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik. “Kampus ini dunia yang dinamis, jangan hanya hidup monoton. Mahasiswa perlu memanfaatkan lingkungan akademik sebagai ruang berdiskusi, berorganisasi, dan menguji gagasan, bukan hanya mengejar nilai atau menyelesaikan perkuliahan. Keberanian mempertanyakan persoalan sosial merupakan fondasi utama bagi lahirnya kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” tegasnya. Lebih lanjut, Eko mengkritisi tajam fenomena komersialisasi pendidikan dan disrupsi informasi yang menggerus daya nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, ketika akses pendidikan semakin mahal dan eksklusif, ruang perjumpaan lintas kelas sosial otomatis menyempit, sehingga empati bermasyarakat terkikis habis. Di sisi lain, banjir informasi akibat gawai justru sering kali melahirkan pemahaman yang dangkal karena mahasiswa mengetahui banyak isu tetapi gagal memetakan akar masalah akibat abai terhadap budaya literasi, dialog komprehensif, dan ketajaman berpikir analitis. “Egoisme dan hasrat kekuasaan kini mengakar kuat karena terus dipelihara oleh berbagai lembaga dalam masyarakat. Kondisi ini berkontribusi terhadap melemahnya keberanian masyarakat untuk mengkritik ketidakadilan, di mana budaya kepatuhan dibuat lebih dominan daripada budaya berpikir independen. Dalam kondisi seperti itu, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” urai Eko dengan gamblang. Menutup jalannya kuliah tamu nasional tersebut, terdapat pesan penting yang harus direfleksikan bersama oleh seluruh civitas academica. Krisis moral perlawanan ini hanya bisa diakhiri jika mahasiswa berani menanggalkan sikap apatis dan mulai turun langsung membedah ragam persoalan rakyat. Esensi seorang intelektual sejati sejatinya tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik mentereng, melainkan dari seberapa besar nyali dan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata. Kampus harus kembali ditegakkan sebagai ruang subur bagi tumbuhnya gagasan kritis, independen, dan mutlak berpihak pada kepentingan masyarakat luas.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Diakui Nasional, RS UMM Raih Apresiasi Dirut BPJS Kesehatan atas Layanan Prima

pwmu.co –Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) kembali memperoleh pengakuan atas kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Kali ini, apresiasi datang langsung dari Direktur Utama BPJS Kesehatan, dr. Prihati Pujowaskito, yang melakukan kunjungan kerja ke RS UMM pada Kamis (11/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, Prihati memberikan penilaian positif terhadap standar pelayanan dan komitmen RS UMM dalam menjaga keselamatan pasien sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurutnya, RS UMM telah memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan dan menunjukkan kapasitas sebagai mitra strategis BPJS Kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. “Rumah Sakit UMM bagus, sudah standarisasi, dan sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jadi rumah sakit-rumah sakit yang sudah terstandarisasi ini melakukan pelayanan yang bermutu, menjaga keselamatan pasien. Dan ini penting sekali untuk melaksanakan dan mendukung program JKN BPJS,” ujarnya. Apresiasi tersebut sejalan dengan berbagai capaian yang telah diraih RS UMM. Rumah sakit yang berdiri di atas lahan seluas 90 ribu meter persegi itu telah memperoleh akreditasi Paripurna atau bintang lima dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI). Selain itu, RS UMM juga pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit rujukan tipe C terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19 pada 2021. Meski berstatus rumah sakit tipe C, fasilitas dan layanan yang dimiliki RS UMM disebut setara dengan rumah sakit tipe B. Hal tersebut didukung oleh 590 sumber daya manusia yang terdiri atas 96 tenaga medis, 212 tenaga perawat, serta 150 tenaga kesehatan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan layanan masyarakat, RS UMM menyediakan 28 klinik rawat jalan dan 150 tempat tidur rawat inap yang melayani berbagai kebutuhan medis secara terpadu. Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp.PD, KPTI, menyambut baik apresiasi yang diberikan oleh BPJS Kesehatan. Ia menegaskan bahwa RS UMM akan terus menjaga kualitas pelayanan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan BPJS Kesehatan demi memberikan akses layanan kesehatan yang lebih luas kepada masyarakat. “Kami terus berkomitmen dalam pelayanan. Kerja sama berkelanjutan dengan BPJS Kesehatan adalah bukti nyata dedikasi kami untuk hadir melayani masyarakat luas, memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik dengan aksesibilitas yang mudah,” ungkapnya. Menurut Djoni, kunjungan Direktur Utama BPJS Kesehatan menjadi motivasi bagi seluruh jajaran RS UMM untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dan mempertahankan standar keselamatan pasien yang telah diterapkan selama ini. Melalui sinergi antara institusi pelayanan kesehatan dan pemerintah, RS UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan sistem kesehatan nasional yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus, Siap Suplai Kebutuhan Medis RSMA

Times MALANG – Pimpinan pusat Muhammadiyah melakukan groundbreaking pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Pembangunan ini berada di kawasan lahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan luas sekitar tiga hektare. Peresmian proyek strategis ini diresmikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang didampingi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Prof. Haedar menjelaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem umat dan bangsa. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. Jajaran petinggi Muhammadiyah dalam kegiatan groundbreaking pembangunan pabrik infus. (FOTO: Humas UMM for TI) “Ini bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi bangsa. Bisnis yang kami bangun adalah untuk manfaat umat,” ujarnya. Pemkab Dorong Pabrik Infus Muhammadiyah di Kabupaten Malang Serap Tenaga Lokal Ia menambahkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah dalam tata kehidupan sosial. Maka dari itu, keterlibatan Muhammadiyah diniatkan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Pabrik ini ditargetkan akan beroperasi mulai tahun 2027. Prof. Haedar menambahkan, ini adalah salah satu bentuk dukungan dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Ia pun menegaskan bahwa potensi ekonomi Indonesia jangan sampai direbut oleh pihak lain. Advertisement “Muhammadiyah selalu di jalur seperti ini, oleh karenanya saya yakin akan selalu bertemu dengan spirit pemerintahan yang sekarang,” imbuhnya. Melansir dari web resmi muhammadiyah, Prof. Haedar menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini sebagai langkah Muhammadiyah untuk membangun sirkulasi ekonomi yang dapat menyuplai kebutuhan medis bagi 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA). “Melalui pabrik infus ini, kami dapat menyuplai infus bagi rumah sakit di bawah naungan Muhammadiyah,” pungkasnya.

Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Kesehatan, Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang

Malang (Suaraislam.id) – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melaksanakan peletakan batu pertama (groundbreaking) Pabrik Suryavena Farma Indonesia pada Kamis (11/06/2026). Fasilitas produksi ini dibangun di atas lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan seremonial tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama jajaran Ketua PP Muhammadiyah, yaitu Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dan Agus Taufiqurrahman. Turut hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Fauzan serta Ketua PWM Jatim Sukadiono. Haedar menjelaskan bahwa pembangunan pabrik skala industri besar ini merupakan ikhtiar nyata Muhammadiyah untuk naik kelas. Langkah strategis tersebut diambil dengan semangat tinggi untuk memperbaiki sekaligus memperkuat perekonomian umat dan bangsa. Kendati merambah industri besar, persyarikatan dipastikan tidak akan meninggalkan pendampingan terhadap kelompok ekonomi mikro, kecil, dan menengah. Upaya baru ini justru diharapkan mampu memperkuat pilar-pilar ekonomi di sektor lainnya. “Semangat Muhammadiyah adalah untuk membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” ungkapnya. Pembangunan pabrik ini menjadi bukti autentik dari kekuatan kapital sosial serta kemandirian ekonomi yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Melalui proyek ini, organisasi keagamaan membuktikan kapabilitasnya dalam mengelola sektor bisnis di level menengah ke atas. Ikhtiar ini juga memiliki keterkaitan erat dengan visi besar menyongsong Indonesia Emas pada tahun 2045 kelak. Kemandirian nasional di bidang ekonomi lantas ditekankan sebagai salah satu fondasi utama untuk mencapai target tersebut. Haedar mengingatkan agar seluruh kekuatan dan potensi ekonomi domestik tidak jatuh serta dikuasai oleh pihak asing. Semangat berdikari yang diusung Muhammadiyah ini dinilai sangat selaras dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. “Muhammadiyah berada di jalur itu, maka dengan cara seperti itu saya yakin akan bertemu dengan spirit pemerintah sekarang. Tapi juga dengan kepentingan bangsa yang lebih luas,” ungkapnya. Proyek PT Suryavena Farma Indonesia ini diinisiasi oleh Majelis Ekonomi Bisnis (MEB) bersama Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah. Pada tahap awal operasionalnya, pabrik modern tersebut difokuskan untuk memproduksi cairan infus. Langkah ini diambil sebagai strategi jitu membangun ekonomi sirkular di dalam internal organisasi. Pasokan infus dari pabrik ini nantinya diplot untuk memenuhi kebutuhan harian 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Haedar sangat berharap seluruh jaringan RSMA berkomitmen penuh menggunakan produk infus asli buatan PT Suryavena Farma Indonesia ini. Jika ekosistem internal ini berjalan optimal, kemandirian ekonomi organisasi niscaya akan terwujud lebih cepat. “Dengan pabrik infus ini kita memulai dengan sesuatu yang paling bisa kita lakukan di ekosistem bisnis di rumah sakit,” imbuhnya. Dalam rencana jangka panjang, PT Suryavena Farma Indonesia tidak hanya membatasi produksinya pada cairan infus saja. Perusahaan ini diproyeksikan segera memproduksi obat-obatan serta jarum suntik demi menyuplai kebutuhan medis RSMA di seluruh Indonesia.

Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Energi hingga Deteksi Anemia

Energika MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru UMM di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III pada Kamis, 11 Juni 2026. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin. Pengukuhan guru besar baru UMM ini sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan, metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan, inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien. Yang langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tutur Lailis. Sementara itu Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan, ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun. Juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati, sehingga memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan, ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit). Sehingga perlu seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kami yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Sementara Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan, penambahan guru besar baru UMM ini memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak peradaban. “Keempat orasi ilmiah guru besar ini mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Rektor Nazar. Pengukuhan guru besar baru UMM ini mengharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus. Kehadiran para guru besar baru UMM harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi.

GKB 5 UMM Resmi Beroperasi, Siapkan Pusat Pendidikan Medis Masa Depan

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengoperasikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 di kawasan Rumah Sakit UMM, Kamis (11/6/2026). Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai tersebut diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., sebagai pusat pendidikan medis modern bagi Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Peresmian GKB 5 menjadi langkah strategis UMM dalam memperkuat kualitas pendidikan kesehatan dan kedokteran di Indonesia. Gedung ini dibangun dengan konsep green building dan dilengkapi fasilitas penunjang pembelajaran berstandar internasional. Haedar Nashir mengapresiasi konsistensi UMM dalam menghadirkan inovasi di bidang pendidikan tinggi, khususnya sektor kesehatan. Menurutnya, Kampus Putih berhasil membangun ekosistem pendidikan medis yang berkembang pesat dan menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” ujar Haedar. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. meninjau sejumlah ruangan di GKB 5 UMM Ia menilai kehadiran GKB 5 menjadi simbol kemajuan Muhammadiyah dalam membangun pendidikan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, lulusan UMM tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan akhlak dalam melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa pembangunan GKB 5 dilakukan secara swadaya dan swakelola oleh tim internal kampus bersama sejumlah konsultan. Proyek tersebut mulai dirintis sejak 2023. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, mulai dari desain perencanaan hingga pelaksanaan oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang bersama beberapa konsultan,” jelas Nazaruddin. GKB 5 berdiri di atas lahan seluas dua hektare dengan struktur bangunan tahan gempa. Konsep ramah lingkungan diterapkan melalui optimalisasi pencahayaan alami, pengurangan polusi, dan sistem sirkulasi udara sehat. Fasilitas yang tersedia meliputi puluhan laboratorium modern, auditorium, sarana olahraga, hingga sistem pengolahan limbah terpisah untuk mendukung aktivitas pendidikan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Menurut Nazaruddin, pembangunan GKB 5 merupakan bagian dari visi jangka panjang UMM dalam mencetak tenaga medis yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kesehatan global. Ia berharap keberadaan gedung baru tersebut dapat memperkuat kontribusi UMM bagi bangsa, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. “Mudah-mudahan peresmian ini menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk terus maju memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Kehadiran GKB 5 sekaligus menandai babak baru pengembangan pendidikan medis di UMM. Integrasi fasilitas modern, teknologi pembelajaran, dan nilai keislaman diharapkan mampu melahirkan generasi tenaga kesehatan yang profesional dan berdaya saing global.

Perkuat Kompetensi Calon Sarjana Hukum, FH UMM Tutup Program Magang Bersama Maha Patih Law Office

MalangHits.com  – Program Magang Mandiri yang digagas oleh Laboratorium Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bareng berbagai instansi hukum mulai dari kantor advokat, kejaksaan, kepolisian, hingga pengadilan resmi berakhir pada Jumat, 12 Juni 2026. Penutupannya ditandai dengan momen penjemputan mahasiswa yang sudah menyelesaikan masa magang. Salah satu mitra setia yang terus mendukung program ini adalah Maha Patih Law Office. Hari itu, sebanyak lima mahasiswa Fakultas Hukum semester 6 dijemput langsung oleh dosen pembimbing mereka. Mereka adalah Ainur Rozi, Afril Putra Dewandan, Dimas Satrio Wicaksono, Zulfa Mareta Pancawati, dan Kifayah Insani Kamilia. Penjemputan dilakukan oleh Fadjar Ramadhani, S.H., M.H., dan disambut hangat oleh tim pengurus kantor hukum tersebut. Bagi Fadjar yang juga dosen di FH UMM, momen ini bukan sekadar seremonial biasa. “Ini jadi cara silaturahmi sekaligus evaluasi akhir. Kami pastikan semua target pembelajaran sudah tercapai.

GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

www.majelistabligh.id –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6/2026). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Peresmian beroperasinya GKB 5 UMM oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (dok) Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.

Musim Bediding Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan, Masyarakat Diminta Lebih Waspada

news.immigration.gov.tw-Sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami penurunan suhu udara yang cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena musiman yang dikenal sebagai bediding menghadirkan udara yang lebih dingin dan kering, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan masyarakat. Pakar keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Titik Agustiyaningsih, menjelaskan bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) maupun influenza umumnya meningkat ketika suhu udara menurun atau saat musim hujan berlangsung. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, keberadaan patogen, serta respons biologis tubuh manusia. Menurutnya, udara yang lebih dingin dan kering memungkinkan virus maupun bakteri bertahan lebih lama di lingkungan luar sehingga peluang penyebarannya melalui udara menjadi lebih besar. Fenomena bediding diperkirakan berlangsung hingga September dengan puncak suhu terendah terjadi pada Agustus. Ia menjelaskan bahwa saluran pernapasan manusia sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat menghirup udara dingin, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir. Pada saat yang sama, kinerja silia di rongga hidung yang berfungsi menyaring partikel asing dapat menurun. Penurunan suhu juga dapat memengaruhi sistem pertahanan lokal di hidung sehingga kemampuan tubuh dalam menangkap dan menahan virus menjadi berkurang. Kondisi tersebut membuat patogen lebih mudah berkembang di saluran pernapasan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rhinovirus, salah satu penyebab utama flu, dapat berkembang lebih efektif pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia. Karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga kondisi tubuh, menggunakan pakaian yang cukup hangat, serta menerapkan pola hidup sehat selama musim bediding berlangsung.

Muhadjir Effendy: Pabrik Infus Jadi Langkah Strategis Muhammadiyah Masuk Industri Kesehatan

TVMU.TV – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menargetkan pabrik infus yang dibangun melalui PT Suryavena Farma Indonesia mulai beroperasi dan memproduksi infus pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan sekaligus mengokohkan pilar ekonomi Persyarikatan. Komitmen itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat menghadiri acara groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Muhadjir menjelaskan, Muhammadiyah memilih memproduksi infus karena produk tersebut merupakan kebutuhan dasar yang digunakan secara luas oleh rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan. “Infus ini sangat generik, berbeda dengan obat. Karena obat ini sangat tergantung pada dokter, oleh karena itu kita belum berani masuk ke produksi obat,” ujar Muhadjir. Menurutnya, hampir seluruh rumah sakit membutuhkan infus tanpa bergantung pada preferensi atau resep dokter tertentu. Kondisi tersebut menjadikan industri infus memiliki pasar yang stabil sekaligus risiko bisnis yang lebih terukur dibandingkan industri farmasi berbasis obat. Karena itu, Muhammadiyah memandang investasi pada industri infus memiliki prospek yang menjanjikan, baik dari sisi kebutuhan pasar maupun keberlanjutan usaha. “Karena itu saya berharap dukungan dari perbankan untuk mempercepat pembangunan pabrik infus ini,” katanya. Muhadjir optimistis pembangunan pabrik dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga proses produksi dapat dimulai pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut juga diharapkan mendukung kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Lebih jauh, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus bukan semata-mata langkah bisnis, melainkan bagian dari strategi Muhammadiyah memperkuat pilar ekonomi setelah memiliki fondasi kuat di bidang pendidikan dan kesehatan. “Dengan penguatan pilar ekonomi, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai lembaga filantropi, tapi juga menjadi social corporate,” ungkapnya. Ia menjelaskan konsep social corporate yang dikembangkan Muhammadiyah berbeda dengan perusahaan konvensional. Keuntungan yang diperoleh tidak dinikmati individu atau pengurus, melainkan dikembalikan untuk kepentingan umat dan masyarakat melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. “Semua keuntungan Muhammadiyah akan diputar kembali, dilimpahkan kembali, bukan menjadi milik pribadi pengurus Muhammadiyah, tapi dikembalikan kepada kepentingan masyarakat,” tegasnya. Karena itu, Muhadjir mengingatkan jajaran direksi dan pengelola perusahaan agar menjadikan semangat pengabdian sebagai orientasi utama dalam menjalankan usaha. Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan ekonomi sebagai sarana mewujudkan kesejahteraan bersama. Melalui PT Suryavena Farma Indonesia, Muhammadiyah berharap dapat menjadi pelopor pengembangan model social corporate di Indonesia, yakni perusahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang luas bagi masyarakat. Muhadjir menilai semakin banyak perusahaan yang mengusung prinsip ekonomi berbasis kemaslahatan, semakin besar pula peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan dan penguatan ekonomi nasional yang berkeadilan. “Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dapat dikelola berdasarkan asas kekeluargaan dan ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.