Dua ProfesorShimonoseki City University Jepang, Diskusi-Interview Mahasiswa Teknologi dan Manajemen Perikanan UMM

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Kabar baik bagi mahasiswa jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM) yang ingin melanjutkan jenjang magister ke luar negeri. Melalui PIC Humas Prodi Akuakultur UMM, Rindya Fery Indrawan, S.PI, MP, bagi mahasiswa perikanan UMM bisa melanjutkan jenjang S2 ke Shimonoseki City University (SCU) Jepang. Tampak dosen-mahasiswa jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan UMM, Ketika diskusi Bersama guru besar Shimonosek City University Jepang. Peluang kuliah S2 tersebut setelah dua guru besar dari SCU, yaitu Prof. Shinji Okazaki dan Prof. Masashi Khisida melakukan paparan program sekaligus interview bagi mahasiswa jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan yang ingin menempuh pendidikan master di SCU Jepang. Menariknya, lanjut Rindya Fery Indrawan akrab disapa Indra, para guru besar ini juga melangsungkan wawancara dan diskusi eklusif ketika berada di jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan UMM. Kegiatan tersebut menjadi momentum berharga untuk bertukar wawasan, memperluas jaringan riset, serta meningkatkan kolaborasi akademik di bidang teknologi serta manajemen perikanan. Antusiasme mahasiswa Teknologi dan Manajemen Perikanan UMM mengikuti interview dari dua guru besar asal Shimonoseki City University Jepang. Melalui dukungan dari SE Assist, ada dua program internship dan beasiswa S2 di SCU Jepang. Hal ini langkah nyata menuju karir internasional di industri perikanan global semakin dekat di depan mata dengan memilih kuliah di jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan UMM. Sebab mahasiswa selain belajar di kelas sekaligus berpeluang luas menuju sukses internasional.
PSIB UMM Gelar FGD, Susun Peta Jalan Implementasi Risalah Islam Berkemajuan

MALANG, PIJARNEWS.ID – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Implementasi Risalah Islam Berkemajuan Berbasis Kampus: Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Malang”. Forum yang dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa ini dirancang untuk merumuskan model penerapan sekaligus peta jalan (roadmap) Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang lebih terukur dan kontekstual di lingkungan UMM, Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, menegaskan bahwa penguatan Islam Berkemajuan tidak cukup hanya melalui dokumen normatif, tetapi harus didukung oleh pemahaman yang kuat dari seluruh sivitas akademika. “FGD ini menjadi langkah strategis untuk memetakan sejauh mana pemahaman sivitas akademika terhadap Risalah Islam Berkemajuan. Temuan-temuan yang muncul akan menjadi dasar dalam menyusun model implementasi yang lebih sistematis, berkelanjutan, dan relevan dengan dinamika kampus,” ujarnya. Menurutnya, sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia, UMM memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai Islam Berkemajuan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga hadir dalam budaya akademik, tata kelola kelembagaan, hingga perilaku keseharian warga kampus. Senada dengan itu, peneliti PSIB UMM, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP, menyebut bahwa pengukuran tingkat pemahaman internal terhadap RIB merupakan langkah penting dalam memperkuat peran dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat. “Pemahaman yang kuat terhadap Risalah Islam Berkemajuan bukan hanya penting untuk kehidupan kampus, tetapi juga menjadi modal bagi sivitas akademika dalam menjalankan peran pengabdian dan dakwah yang mencerahkan di masyarakat,” katanya. Dalam jalannya diskusi, sejumlah peserta menyoroti sejumlah tantangan dalam implementasi RIB. Dr. Fathoni mengungkapkan bahwa banyak nilai Islam Berkemajuan sebenarnya telah dipraktikkan oleh warga kampus dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit yang belum menyadari bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari manifestasi Islam Berkemajuan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerentanan ketika individu menghadapi berbagai pengaruh eksternal karena tidak memiliki fondasi konseptual yang kuat. Oleh karena itu, ia merekomendasikan penyusunan panduan perilaku Islam Berkemajuan yang disertai indikator yang jelas bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. “Perlu ada sosialisasi yang lebih masif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Media seperti buku saku, e-book, maupun podcast bisa menjadi sarana efektif untuk menjangkau seluruh kalangan,” ujarnya. Hal senada juga diungkapkan Hairi, M.Ag., yang menekankan pentingnya kehadiran panduan implementasi yang dapat menjadi rujukan bersama agar nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diamalkan secara konsisten oleh seluruh warga kampus. Disisi lain, Munawir, menilai bahwa berbagai program Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di UMM sebenarnya telah berjalan cukup baik. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada aspek kesadaran dan partisipasi. Ia menyoroti masih adanya mahasiswa yang memandang kegiatan AIK sebatas pemenuhan kewajiban administratif. Tantangan lainnya adalah kurangnya pemahaman tenaga kependidikan yang berasal dari luar Muhammadiyah terhadap struktur organisasi persyarikatan di lingkungan tempat tinggal mereka. “Karena itu, akses informasi mengenai Muhammadiyah perlu diperluas dan sosialisasi harus menjangkau hingga level paling bawah. Yang tidak kalah penting adalah keteladanan, karena implementasi nilai tidak akan berhasil tanpa contoh nyata,” tegasnya. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, M. Sri Wahyudi, Ph.D, turut menyoroti pentingnya penguatan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan sosial mahasiswa. Menurutnya, dinamika pergaulan mahasiswa saat ini perlu mendapat perhatian agar tetap selaras dengan nilai-nilai yang dikembangkan Muhammadiyah. Sementara dari perspektif mahasiswa, Sufyan, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, menilai bahwa sebagian program penguatan nilai keislaman masih dianggap formalitas oleh mahasiswa. Ia mendorong adanya pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter generasi muda, terutama melalui pemanfaatan media sosial dan kolaborasi yang lebih erat antara organisasi kemahasiswaan dengan organisasi otonom Muhammadiyah (Ortom). “Penguatan nilai Islam Berkemajuan harus dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan mahasiswa. Selain itu, penguatan akhlak juga perlu menjadi tanggung jawab bersama, baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa,” ujarnya. Melalui FGD ini, PSIB UMM menargetkan lahirnya model implementasi Risalah Islam Berkemajuan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga operasional dan terukur. Hasil diskusi akan menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan, program, serta strategi penguatan budaya kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkokoh posisi UMM sebagai kampus unggul yang mampu mengintegrasikan kualitas akademik, inovasi, dan pengamalan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan perguruan tinggi.
Dosen Hukum UMM Soroti Relokasi PKL Jalan Veteran: Tak Boleh Padamkan Ekonomi Rakyat Kecil

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut menyoroti rencana penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan pendidikan Jalan Veteran, Kota Malang. Pemerintah Kota Malang dituntut untuk tidak melakukan penggusuran sepihak dengan dalih estetika kota, melainkan wajib menggunakan pendekatan hukum progresif yang mengedepankan solusi relokasi manusiawi tanpa mematikan urat nadi mata pencaharian para pedagang kecil. Keberadaan deretan lapak PKL di sepanjang Jalan Veteran selama ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi kerakyatan yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar. Inilah yang kemudian ditanggapi oleh Dosen Hukum UMM, Dr. Surya Anoraga, S.H., M.Hum. Ia menilai penerapan aturan tata ruang kota tidak boleh dilakukan secara kaku atau mengabaikan hak-hak ekonomi warga. Menurutnya, pendekatan hukum progresif mengamanatkan agar pemerintah daerah tetap menjamin kelangsungan hidup serta memberikan perlindungan nyata bagi pelaku usaha kecil. “Prinsip utamanya, usaha kecil di kawasan manapun harus mendapatkan perlindungan komprehensif dari negara. Keadilan bagi usaha kecil juga berarti memberikan kemudahan dan kepastian akses ruang bagi mereka untuk tetap bisa berdagang serta bertahan hidup di tengah dinamika pembangunan kota,” ujar Surya kepada Humas UMM, Rabu (17/6). Upaya penataan tata ruang kota yang bersih dan tertib tidak semestinya direduksi maknanya menjadi sekadar ajang pemberantasan eksistensi PKL dari ruang publik. Surya memaparkan bahwa apabila letak lapak pedagang terbukti mengganggu fungsi utama jalan raya atau kelancaran arus lalu lintas, pemerintah daerah berkewajiban penuh untuk menyediakan opsi tempat pengganti yang menjanjikan secara hitungan ekonomi. “Jika penertiban dan pemindahan mutlak harus dilakukan, maka jalan keluarnya harus dilakukan relokasi. Lokasi baru tersebut wajib merupakan titik strategis yang sama sekali tidak jauh dari jangkauan konsumen lama mereka, sehingga roda perekonomian harian pedagang tidak sampai terhenti,” jelasnya. Selain tentang pemindahan lokasi fisik dagangan, Surya juga menyoroti krusialnya proses penyusunan kebijakan ruang publik yang wajib dilandasi asas partisipatif dan musyawarah. Melibatkan tokoh masyarakat dan perwakilan pedagang sangat penting guna mencegah tindakan represif yang berpotensi memicu eskalasi konflik sosial di lapangan. “Tentu sangat perlu dilakukan musyawarah mufakat yang intensif, transparan, dan setara untuk menyelesaikan benturan kepentingan ini demi mencari solusi bersama. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dan keterbukaan ruang dialog sangat penting di sini, bukan sekadar pemberitahuan atau sosialisasi satu arah dari pihak penguasa,” bebernya. Surya juga memberikan peringatan keras bahwa memaksakan relokasi ke tempat yang terlampau jauh dari pusat aktivitas warga sama halnya dengan membunuh usaha para pedagang secara perlahan. Rencana penataan kawasan Jalan Veteran sudah sepatutnya dijadikan momentum bagi Pemerintah Kota Malang untuk melahirkan terobosan kebijakan tata kota yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial. Penertiban tata ruang yang ideal sejatinya bukan perihal memilih antara estetika kota atau kesejahteraan perut rakyat, melainkan pembuktian bagaimana pemerintah mampu merangkul keduanya agar bisa berjalan harmonis, beriringan, dan saling menghidupi.
Pendidikan Mahasiswa Magang UMM Saksikan MoU Kejari Kabupaten Blitar dan PLN UP3 Kediri, Belajar Langsung Peran Jaksa Pengacara Negara

BLITAR(blitarkawentar) – Penandatanganan MoU Kejari Kabupaten Blitar dan PLN UP3 Kediri menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa magang Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berkesempatan menyaksikan langsung kerja sama strategis antara kejaksaan dan badan usaha milik negara yang bertujuan memperkuat tata kelola hukum perusahaan. Momen penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelanggan (UP3) Kediri dengan Kejaksaan Negeri Kabupaten Blitar berlangsung di Kantor Kejari Kabupaten Blitar pada Selasa (19/5/2026). Proses kesepakatan bersama Kejari Kabupaten Blitar dan PLN UP3 Kediri.(DOK PRIBADI) Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum UMM yang sedang menjalani program magang di Kejari Kabupaten Blitar. Kehadiran mereka menjadi bagian dari pembelajaran langsung mengenai praktik hukum di lapangan yang tidak diperoleh hanya melalui perkuliahan. Program magang yang dijalani mahasiswa Fakultas Hukum UMM merupakan bagian dari program unggulan Laboratorium Hukum FH UMM. Program ini secara rutin menempatkan mahasiswa di berbagai instansi penegak hukum, lembaga pemerintahan, kantor hukum, hingga kantor notaris. Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan melihat secara langsung bagaimana hukum diterapkan dalam aktivitas kelembagaan. Salah satunya melalui penandatanganan MoU antara PLN UP3 Kediri dan Kejari Kabupaten Blitar. Kerja sama tersebut bermula dari inisiatif PLN yang mengajukan permohonan dukungan hukum kepada Kejari Kabupaten Blitar guna mendukung kelancaran operasional perusahaan. Perwakilan manajemen PLN UP3 Kediri menyampaikan apresiasi atas sambutan positif yang diberikan Kejari Kabupaten Blitar terhadap kerja sama tersebut. “Kami sangat mengapresiasi sambutan yang luar biasa dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Blitar. Kami berharap sinergi ini dapat memperkuat tata kelola perusahaan, khususnya dalam aspek hukum, sehingga setiap kebijakan dan langkah operasional PLN dapat berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Blitar menegaskan bahwa institusinya siap memberikan berbagai bentuk dukungan hukum kepada PLN sebagai bagian dari fungsi kejaksaan di bidang perdata dan tata usaha negara. Menurutnya, peran kejaksaan tidak hanya terbatas pada proses penuntutan perkara pidana, tetapi juga menjalankan fungsi sebagai Jaksa Pengacara Negara yang memberikan bantuan hukum kepada instansi pemerintah maupun BUMN.
UMM Tampil di ICCD Uzbekistan: Pamerkan Inovasi Berantas Stunting dan Kemiskinan

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan solusi konkret untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting melalui optimalisasi potensi lokal masyarakat. Gagasan ini dipresentasikan langsung oleh Kepala Direktorat Sains dan Teknologi UMM, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., dalam ajang International Conference of Community Development (ICCD) ke-12 yang diselenggarakan oleh AMCA di Uzbekistan pada 18–22 Mei 2026. Ia memaparkan gagasan tersebut berdasarkan implementasi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) UMM di Desa Bonleu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Desa Benpasi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Pendekatan program ini tidak sekadar mengejar kuantitas hasil panen. Melainkan berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat guna memutus rantai kemiskinan dan stunting secara komprehensif. “Di kedua desa itu, kita mendampingi bagaimana mereka memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan.” “Tujuannya bukan sekadar meningkatkan hasil produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga daya beli mereka meningkat dan pada akhirnya bisa menekan kemiskinan ekstrem serta stunting,” jelasnya. Pelaksanaan program di lapangan bertumpu pada penciptaan kemandirian para peternak dan petani setempat. Tim UMM mengajarkan warga memproduksi pakan silase untuk menjamin ketersediaan pakan sapi potong di musim kemarau. Sekian itu juga memproduksi pupuk organik dan pestisida nabati guna mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Bersama Universitas Timor (Unimor), UMM juga memberikan pendampingan pemasaran yang terbukti sukses menaikkan nilai jual produk sayuran lokal. “Ketika mereka menggunakan pupuk organik maupun pestisida nabati yang dibuat sendiri, produktivitas sayurnya meningkat dan kualitasnya lebih bagus. Itu membuat mereka bisa menjual hasil panennya dengan harga yang lebih baik,” tambahnya. Inovasi Biofarm yang dibawa UMM ini sejatinya telah menuai kesuksesan di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. Meski demikian, penerapannya di NTT menghadapi tantangan alam yang lebih berat serta kebiasaan budidaya petani yang masih bergantung pada musim. Oleh karena itu, pendampingan ditekankan pada transformasi pola pikir warga dalam memaksimalkan dan mengelola sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. “Harapan kami selama tiga tahun ke depan adalah terjadi perubahan yang signifikan, baik pada peningkatan pendapatan masyarakat maupun penurunan angka stunting. Karena stunting dan ekonomi itu saling berkaitan, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan secara terpadu,” tegasnya. Ke depan, upaya pembangunan desa dan pengentasan masalah sosial di pelosok negeri menuntut sinergi yang lebih luas. Keterlibatan lintas disiplin, mulai dari pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur. Ini membuktikan bahwa kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan pembangunan pedesaan yang berdampak dan berkelanjutan.
Ciptakan Panel Peredam Suara dari Limbah, Santri PPI AMF Raih Juara di Kancah Internasional

Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh santri tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tim unggulan dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang yang digawangi oleh Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir sukses meraih medali perak lewat inovasi panel peredam suara bernama “Ecouiet” pada Kompetisi Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) yang diikuti oleh berbagai delegasi pelajar dari Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, Kazakhstan, hingga Uzbekistan. Inovasi Ecouiet ini memanfaatkan limbah organik berupa ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas untuk menekan polusi suara di lingkungan belajar. Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, menjelaskan bahwa panel peredam ini memiliki ketebalan 2,5 sentimeter dengan tekstur akhir yang padat menyerupai semen, di mana strukturnya juga ditambahkan material khusus agar fungsinya optimal. “Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” jelas siswa kelas 8 yang akrab disapa Abi tersebut pada Senin (15/6). Guna membuktikan efektivitas kinerjanya, tim melakukan serangkaian uji coba menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya telah direkatkan panel Ecouiet. Mereka menyetel musik bervolume tinggi dari dalam kotak dan mengukur tingkat kebisingan yang berhasil diredam menggunakan alat ukur suara digital berbasis aplikasi telepon pintar. “Dan alat pendeteksi suara yang kita pakai saat uji coba itu decibel meter. Aplikasinya sangat praktis karena bisa diunduh langsung di Playstore,” imbuhnya. Dalam proses perakitannya, tim pelajar ini tidak lepas dari sejumlah kendala teknis selama empat pekan masa pengerjaan. Anggota tim lainnya, Muhammad Mahir dan Faizul Umam, memaparkan bahwa waktu yang relatif singkat cukup menyulitkan mereka dari tahap ideasi hingga perakitan, terlebih saat mereka harus menyesuaikan komposisi bahan agar adonan merekat sempurna. “Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu terbukti cukup sulit,” ungkap Mahir. Pencapaian luar biasa di tingkat internasional ini diharapkan mampu menjadi teladan dan pemacu semangat berkarya. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, merasa sangat bersyukur dan bangga atas dedikasi serta capaian inovatif yang berhasil ditunjukkan oleh anak didiknya. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” pungkas Nabila. Keberhasilan para santri PPI AMF ini menjadi bukti nyata bahwa usia belia bukanlah halangan untuk melahirkan produk ramah lingkungan yang berdaya guna tinggi. Ke depannya, inovasi Ecouiet diharapkan mendapat dukungan riset lanjutan agar dapat disempurnakan dan diproduksi secara massal, sehingga masalah kebisingan di ruang-ruang kelas maupun fasilitas umum dapat teratasi secara berkelanjutan dengan material hijau.(*)
Sering Ganti Pekerjaan Bukan Berarti Tak Loyal, Akademisi Manajemen UMM Beberkan Fakta Karier Gen Z

Fenomena kutu loncat atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan kerap dilekatkan pada Generasi Z (Gen Z), sehingga memunculkan stigma dari banyak perusahaan bahwa mereka kurang loyal dan mudah menyerah. Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kenny Roz S.Kom., M.M., menegaskan bahwa tingginya tingkat pengunduran diri pada Gen Z bukan semata-mata masalah krisis loyalitas, melainkan pergeseran mendasar terkait cara mereka memandang makna dan tujuan dari sebuah pekerjaan. Jika generasi sebelumnya menjadikan pekerjaan sebagai sumber stabilitas ekonomi jangka panjang, Gen Z justru melihat dunia kerja sebagai wadah untuk terus belajar, berkembang, dan mengaktualisasikan diri. Kenny saapn akrabnya menjelaskan bahwa tingginya perputaran karyawan muda ini sangat dipengaruhi oleh ekosistem digital yang serba cepat, di mana ketidakcocokan antara janji perusahaan dan kondisi asli di lapangan menjadi pemicu utama kepergian mereka. “Faktor utama yang membuat mereka lebih rentan resign adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja. Karena mereka terbiasa memperoleh informasi secara instan, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang atau visi misinya tidak sejalan, mereka tidak ragu mencari peluang lain yang dirasa lebih pas,” ujarnya 18 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih dari itu, kompensasi finansial atau gaji besar kini bukan lagi senjata pamungkas untuk mengikat loyalitas Gen Z. Talenta muda masa kini memiliki standar evaluasi yang lebih kompleks saat memilih tempat berkarier, yang mencakup fleksibilitas jam kerja, keseimbangan hidup (work-life balance), kesehatan mental yang terjaga, serta hubungan atasan-bawahan yang suportif. “Kini mereka tidak hanya bertanya soal besaran gaji, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan kesempatan berkembang, memiliki makna, dan membuat mereka merasa dihargai sebagai individu seutuhnya. Bahkan, banyak yang bersedia menerima gaji lebih rendah jika lingkungan kerjanya sehat dan tidak toksik,” jelasnya. Menyikapi dinamika angkatan kerja baru ini, perusahaan dituntut untuk segera merombak strategi retensi karyawan agar tidak terus-menerus kehilangan talenta potensial. Langkah strategis yang krusial adalah menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemimpin senior yang masih mendewakan hierarki dan senioritas, dengan Gen Z yang lebih menyukai transparansi, budaya kerja inklusif, dan kolaborasi aktif. “Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukanlah yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawannya secara proaktif. Perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman,” tegasnya. Pada akhirnya, fenomena Gen Z sebagai kutu loncat ini semestinya tidak lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan sinyal dan kritik konstruktif bagi dunia industri agar mau beradaptasi. Sinergi antara perusahaan yang responsif terhadap budaya kerja modern dan generasi muda yang terus mengasah kompetensinya akan bermuara pada terbentuknya ekosistem profesional yang jauh lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan di masa depan.(*)
Dosen Hukum UMM Minta Relokasi PKL Jalan Veteran Malang Tak Matikan Ekonomi Rakyat

Malang (beritajatim.com) – Pakar Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Surya Anoraga, S.H., M.Hum., memberi pendapat terkait rencana penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang kawasan pendidikan Jalan Veteran, Kota Malang. Ia meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak asal gusur atas nama estetika kota, tapi harus menggunakan pendekatan hukum progresif yang manusiawi. Menurut Surya, penerapan regulasi tata ruang wilayah tidak boleh kaku hingga mengabaikan hak-hak ekonomi masyarakat kecil. Hukum progresif mengamanatkan pemerintah daerah untuk menjamin kelangsungan hidup warga. ”Prinsip utamanya, usaha kecil di kawasan manapun harus mendapatkan perlindungan komprehensif dari negara. Keadilan bagi usaha kecil juga berarti memberikan kemudahan dan kepastian akses ruang bagi mereka untuk tetap bisa berdagang serta bertahan hidup di tengah dinamika pembangunan kota,” ujar Surya, Kamis (18/6/2026). Surya menilai, penataan kota yang bersih dan tertib bukan berarti menghapus eksistensi PKL dari ruang publik. Jika posisi lapak pedagang memang terbukti mengganggu fungsi jalan atau memicu kemacetan lalu lintas, Pemkot Malang wajib menyediakan tempat pengganti yang layak secara ekonomi. “Jika penertiban dan pemindahan mutlak harus dilakukan, maka jalan keluarnya harus dilakukan relokasi. Lokasi baru tersebut wajib merupakan titik strategis yang sama sekali tidak jauh dari jangkauan konsumen lama mereka, sehingga roda perekonomian harian pedagang tidak sampai terhenti,” terangnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya proses penyusunan kebijakan yang partisipatif dan mengedepankan musyawarah. Keterlibatan perwakilan pedagang dan tokoh masyarakat dinilai krusial guna menghindari tindakan represif aparat yang bisa memicu benturan sosial di lapangan. “Tentu sangat perlu dilakukan musyawarah mufakat yang intensif, transparan, dan setara untuk menyelesaikan benturan kepentingan ini demi mencari solusi bersama. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dan keterbukaan ruang dialog sangat penting di sini, bukan sekadar pemberitahuan atau sosialisasi satu arah dari pihak penguasa,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan bahwa memindahkan PKL ke lokasi yang sepi dan jauh dari pusat aktivitas sama saja dengan membunuh usaha mereka secara perlahan. Momentum penataan Jalan Veteran ini harusnya jadi ajang Pemkot Malang melahirkan kebijakan inklusif. “Penataan kota yang ideal bukan memilih antara keindahan kota atau urusan isi perut rakyat, melainkan bagaimana menyelaraskan keduanya agar berjalan beriringan,” Surya Anoraga menutup.
PSIB UMM Petakan Implementasi Islam Berkemajuan, Libatkan Mahasiswa hingga Pimpinan Fakultas

Malang.harianjatim.com. Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah strategis untuk memperkuat identitas kampus yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Implementasi Risalah Islam Berkemajuan Berbasis Kampus: Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Malang.” Forum yang melibatkan mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas, hingga tenaga kependidikan tersebut menjadi bagian dari upaya penyusunan model implementasi sekaligus peta jalan (roadmap) Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang lebih terukur dan kontekstual di lingkungan UMM. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa penguatan Islam Berkemajuan tidak cukup dilakukan melalui dokumen normatif semata, tetapi harus didukung oleh pemahaman yang kuat dari seluruh sivitas akademika. “FGD ini menjadi langkah strategis untuk memetakan sejauh mana pemahaman sivitas akademika terhadap Risalah Islam Berkemajuan. Temuan-temuan yang muncul akan menjadi dasar dalam menyusun model implementasi yang lebih sistematis, berkelanjutan, dan relevan dengan dinamika kampus,” ujarnya. Menurutnya, sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia, UMM memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai Islam Berkemajuan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga tercermin dalam budaya akademik, tata kelola kelembagaan, serta perilaku sehari-hari warga kampus. Senada dengan itu, peneliti PSIB UMM, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menyebut bahwa pengukuran tingkat pemahaman internal terhadap RIB merupakan langkah penting dalam memperkuat peran dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat. “Pemahaman yang kuat terhadap Risalah Islam Berkemajuan bukan hanya penting bagi kehidupan kampus, tetapi juga menjadi modal bagi sivitas akademika dalam menjalankan peran pengabdian dan dakwah yang mencerahkan di masyarakat,” katanya. Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta menyoroti berbagai tantangan implementasi RIB yang selama ini dihadapi. Dr. Fathoni mengungkapkan bahwa banyak nilai Islam Berkemajuan sebenarnya telah dipraktikkan oleh warga kampus dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit yang belum menyadari bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari manifestasi Islam Berkemajuan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerentanan ketika individu menghadapi berbagai pengaruh eksternal karena tidak memiliki fondasi konseptual yang kuat. Oleh karena itu, ia merekomendasikan penyusunan panduan perilaku Islam Berkemajuan yang disertai indikator yang jelas bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. “Perlu ada sosialisasi yang lebih masif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Media seperti buku saku, e-book, maupun podcast dapat menjadi sarana yang efektif untuk menjangkau seluruh kalangan,” ujarnya. Sementara itu, Hairi, M.Ag., menekankan pentingnya kehadiran panduan implementasi yang dapat menjadi rujukan bersama agar nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diamalkan secara konsisten oleh seluruh warga kampus. Masukan lainnya disampaikan Munawir yang menilai bahwa berbagai program Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di UMM sejauh ini telah berjalan cukup baik. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada aspek kesadaran dan partisipasi. Ia menyoroti masih adanya mahasiswa yang memandang kegiatan AIK sebatas pemenuhan kewajiban administratif. Selain itu, sebagian tenaga kependidikan, khususnya yang berasal dari luar lingkungan Muhammadiyah, juga belum memahami struktur organisasi Muhammadiyah di daerah tempat tinggal mereka. “Karena itu, akses informasi mengenai Muhammadiyah perlu diperluas dan sosialisasi harus menjangkau hingga lapisan paling bawah. Yang tidak kalah penting adalah keteladanan, karena implementasi nilai tidak akan berhasil tanpa contoh nyata,” tegasnya. Dari unsur pimpinan fakultas, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, M. Sri Wahyudi, Ph.D., menyoroti pentingnya penguatan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan sosial mahasiswa. Menurutnya, dinamika pergaulan mahasiswa saat ini perlu mendapat perhatian agar tetap selaras dengan nilai-nilai yang dikembangkan Muhammadiyah. Perspektif mahasiswa turut mewarnai jalannya diskusi. Sofian, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, menilai bahwa sebagian program penguatan nilai keislaman masih dianggap sebagai formalitas oleh mahasiswa. Ia mendorong adanya pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter generasi muda, terutama melalui pemanfaatan media sosial serta kolaborasi yang lebih erat antara organisasi kemahasiswaan dan organisasi otonom Muhammadiyah (Ortom). “Penguatan nilai Islam Berkemajuan harus dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan mahasiswa. Selain itu, penguatan akhlak juga perlu menjadi tanggung jawab bersama, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa,” ujarnya. Melalui FGD ini, PSIB UMM menargetkan lahirnya model implementasi Risalah Islam Berkemajuan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga operasional dan terukur. Hasil diskusi tersebut akan menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan, program, serta strategi penguatan budaya kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkokoh posisi UMM sebagai kampus unggul yang mampu mengintegrasikan kualitas akademik, inovasi, serta pengamalan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan perguruan tinggi.
Laboratorium Ke-SD-an UMM Gelar Pameran Media Digital TPACK untuk Dorong Inovasi Pembelajaran di Era Digital

Malang, JurnalPost.com – Laboratorium Ke-SD-an Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Pendidikan, Sains dan Humaniora, UMM menyelenggarakan kegiatan Pameran Media Digital dengan tema “Optimalisasi Artificial Intelligence, dan TPACK dalam Pendidikan”. Kegiatan ini berlangsung di Lantai 9 GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan berbagai karya inovatif berbasis teknologi pendidikan. Pameran ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran yang dikembangkan melalui Laboratorium Ke-SD-an UMM dalam rangka meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam merancang media pembelajaran digital yang kreatif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Selain menampilkan hasil karya mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara bijak dan bertanggung jawab dalam dunia pendidikan. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami pentingnya etika akademik dalam penggunaannya sehingga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat dan berintegritas. Kepala Laboratorium Ke-SD-an UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M, Pd. menyampaikan bahwa pameran ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa sekaligus ruang kolaborasi dalam mengembangkan media pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk terus berinovasi dalam menciptakan solusi pembelajaran yang menarik, efektif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. “Pameran Media Digital merupakan bentuk implementasi nyata pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten (TPACK). Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan sekaligus mempresentasikan karya inovatif yang dirancang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Kami berharap pengalaman ini tidak hanya meningkatkan kompetensi digital mahasiswa, tetapi juga membentuk calon guru sekolah dasar yang mampu menghadirkan pembelajaran kreatif, interaktif, dan berdampak positif bagi peserta didik.” Ungkap dosen pengampu matakuliah Inovasi Pembelajaran Digital. Dr. Kun Cahyono, M. Pd. Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya terbaik, pada akhir kegiatan juga diselenggarakan Awarding Session yang memberikan apresiasi kepada sejumlah karya unggulan melalui beberapa kategori nominasi, antara lain Best Innovation Award, Best Educational Impact, Best Creative Design, Best User Interface (UI) Design, Best Business Website, dan Best Market Potential yang ditentukan berdasarkan penilaian pengunjung pameran. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan ide-ide kreatif dan menghasilkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Salah satu perwakilan mahasiswa peserta pameran menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman berharga dalam mengaplikasikan teori yang telah dipelajari ke dalam karya nyata. Menurutnya, pameran tidak hanya menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga kesempatan untuk memperoleh masukan dan inspirasi dari dosen maupun sesama mahasiswa dalam mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif. Melalui penyelenggaraan Pameran Media Digital ini, Laboratorium Ke-SD-an UMM berharap dapat terus mendorong lahirnya generasi pendidik yang kreatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menjunjung tinggi etika dalam proses pembelajaran dan pengembangan inovasi pendidikan.