Hadirkan Pakar Dari Inggris, PSIB UMM Bekali Mahasiswa Agar Tidak Mudah Terbawa Narasi Provoakatif

Dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan terus menjadi ancaman serius bagi kemandirian akademisi di negara-negara berkembang. Menjawab krisis epistemik tersebut, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah taktis melalui Kajian Islam Multidisipliner. Menghadirkan Dr. Mohammad Ilyas, pakar dari University of Derby, Inggris, forum bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars ini digelar secara luring di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM pada Senin (22/06). Acara ini membedah tegas bagaimana semestinya cendekiawan muslim bersikap di tengah kepungan hegemoni Barat. Dalam forum tersebut, pria itu secara tajam membongkar realitas dominasi Global North (Barat) yang memicu suburnya fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan intelektual. Ia menjelaskan, hegemoni kultural dan akademik ini secara tidak sadar membuat cendekiawan lokal terbelenggu oleh teori-teori impor. Akibatnya, mereka kesulitan melahirkan inovasi dan memproduksi pengetahuan yang benar-benar relevan dengan realitas sosio-kultural bangsanya sendiri. Pembebasan dari jerat pemikiran ini dinilai sebagai syarat mutlak untuk membangun kemajuan. “Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” urainya. Di samping itu, pria yang akrab disapa Elias ini juga menyoroti fenomena ironis akademisi di negara berkembang. Banyak dari mereka berlomba-lomba mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional berbahasa Inggris demi pengakuan, namun secara perlahan mulai abai pada bahasa ibu. Menurutnya, peminggiran terhadap publikasi berbahasa lokal sangat berbahaya karena berpotensi memicu pemusnahan epistemik secara sistematis dan menghilangkan fungsi bahasa asli sebagai pengantar keilmuan. “Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” tegasnya. Lebih jauh, upaya dekonstruksi pemikiran rancu dari Barat juga ditekankan Elias saat memandang isu terorisme, yang selama ini selalu distereotipkan secara sepihak dengan ajaran Islam. Ia membantah keras narasi provokatif tersebut dan menegaskan bahwa fenomena kekerasan sejatinya berakar dari ketimpangan struktural, kemiskinan ekstrem, serta eskalasi konflik politik. Simbol agama, menurutnya, sering kali hanya dieksploitasi oleh segelintir oknum sebagai alat legitimasi demi menggalang simpati massa. “Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” paparnya di hadapan ratusan audiens yang hadir. Kolaborasi strategis lewat kajian keilmuan ini menjadi bukti nyata komitmen Kampus Putih UMM dalam membekali mahasiswa agar tangguh menghadapi arus hegemoni global. Melalui diskursus yang mencerahkan ini, sivitas akademika didorong untuk tidak sekadar duduk manis menjadi konsumen pasif dari teori-teori asing. Pesan utamanya jelas: ke depan, generasi muda UMM dituntut berani memegang estafet sebagai cendekiawan muslim yang proaktif memproduksi pengetahuan autentik, memecahkan persoalan ketimpangan di masyarakat, serta memberi kontribusi nyata bagi kebangkitan peradaban bangsa yang mandiri.(ali/faq)   Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Angkat Potensi Lokal di MV “Hatchu!!”, Prialangga Buktikan Kualitas Lulusan UMM di Indstri Kreatif

Sineas kebanggaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali menorehkan prestasi gemilang di industri kreatif nasional. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses membawa wajah Kota Malang memuncaki trending satu YouTube lewat karya terbarunya sebagai sutradara music video (MV) “Hatchu!!” milik penyanyi Salma Salsabil. Keberhasilan karya yang telah menembus lebih dari 1,7 juta penonton ini semakin mengukuhkan eksistensinya setelah sebelumnya menuai sukses besar lewat MV “Bahasa Kalbu” milik Raisa. Lebih dari sekadar pencapaian komersial, Prialangga menjadikan proyek kolosal ini sebagai panggung apresiasi bagi daerah asalnya. Ia menyulap berbagai sudut ikonik Kota Malang menjadi latar visual yang dinamis. Tak hanya itu, sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini turut menggandeng puluhan talenta lokal lintas generasi, mulai dari musisi seperti Sambadha (Coldiac) dan Onedink (SATCF), hingga kreator konten seperti Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, pelibatan talenta lokal ini merupakan wujud dedikasinya untuk mengenalkan potensi besar Malang ke audiens luas, sembari menyampaikan pesan mendalam tentang realita para pekerja keras. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya. Reputasi Prialangga sebagai sutradara andalan musisi papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48 tentu tidak dibangun dalam semalam. Mengawali karier dari skena musik independen Malang, ia menyadari bahwa ritme industri yang kompetitif menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengakui, kemampuan adaptasinya di dunia profesional yang dinamis ini sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran aplikatif selama menempuh pendidikan di Kampus Putih. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” ujarnya. Di luar keterampilan teknis, pria itu menyebut jejaring sebagai modal yang tak kalah berharga. Sejak menjadi mahasiswa, alih-alih pasif, ia proaktif memproduksi film pendek dan membangun relasi lintas kampus. Ia menekankan bahwa kualitas karya yang baik harus senantiasa diimbangi dengan ekosistem kepercayaan antar pekerja kreatif agar mampu bertahan di ketatnya persaingan ibu kota. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” paparnya. Kiprah panjang Prialangga menjadi bukti nyata bahwa putra daerah mampu mendobrak dan bersaing di level tertinggi industri kreatif nasional. Sebagai penutup, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk tidak pernah ragu memulai dan pantang berhenti berkarya. Berbekal konsistensi, kesabaran, dan kemauan keras untuk terus berproses, setiap dedikasi pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri menuju puncak kesuksesan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Faqih Ahmad Wafir Rahman

PLN Terapkan Manajemen Beban Listrik Terbatas di Sejumlah Wilayah

DOK. Humas PLN beritajejakfakta – PT PLN (Persero) menerapkan kebijakan manajemen beban listrik secara terbatas di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Solo Raya pada Juni 2026 akibat adanya kendala teknis operasional pada dua unit pembangkit besar. Langkah tersebut memicu terjadinya pemadaman listrik bergilir dengan estimasi durasi berkisar antara satu hingga tiga jam demi menjaga keandalan pasokan sistem kelistrikan Jawa. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini sebenarnya beroperasi dan terkendali dengan baik oleh perusahaan. “Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” kata Gregorius Adi Trianto di Jakarta, Jumat (19/6/2026). Pihak PLN terus mengoptimalkan percepatan pemulihan serta mengatur operasi sistem kelistrikan untuk meminimalkan dampak buruk yang dirasakan langsung oleh para pelanggan. “PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan,” katanya. Kebijakan pemadaman berkala ini memicu keluhan masyarakat di media sosial, terutama para pelaku UMKM di Solo Raya yang mengalami kerugian finansial akibat terganggunya aktivitas ekonomi. Menanggapi keluhan tersebut, PLN ULP Karanganyar menyediakan saluran WhatsApp resmi untuk membagikan informasi jadwal pemadaman, sementara pelanggan luas dapat menggunakan aplikasi PLN Mobile atau situs resmi www.pln.co.id guna memantau peta pemadaman melalui fitur Cek Padam Sekitar Saya. Selain memantau jaringan, Guru Besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang Machmud Effendy mengimbau warga untuk segera mencabut kabel peralatan elektronik dari stop kontak saat listrik padam mendadak. “Kalau listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Jadi berbahaya kalau tegangan masuk ke barang elektronik,” katanya saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (14/6/2026). Masyarakat juga disarankan untuk menunda mencolokkan kembali perangkat elektronik selama beberapa menit setelah aliran listrik kembali normal demi menghindari kerusakan mesin di dalam perangkat tersebut. “Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya,” tutupnya.

Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional

Magang di Mahkamah Agung RI, Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional (Foto: Dokumen Pribadi) RRI.CO.ID, Malang: Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Hendrico Noval Ramadhani, Satria Ananta Agung Nugraha, dan Arjuna Galih Taruna, berhasil memperoleh kesempatan untuk menjalani program magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI). Melalui penempatan di Biro Hukum dan Humas, Bagian Peraturan Perundang-Undangan (PUU), ketiganya mengikuti program magang selama kurang lebih lima bulan yang dimulai sejak 23 Februari 2026. Program magang ini merupakan bagian dari kegiatan Laboratorium Fakultas Hukum UMM yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dalam memahami proses kerja lembaga hukum negara secara langsung. Selama menjalani magang, para mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan regulasi dan pengelolaan informasi hukum di lingkungan Mahkamah Agung. Salah satu agenda yang diikuti adalah pembahasan rancangan kebijakan Mahkamah Agung. Melalui keterlibatan dalam proses tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung mekanisme penyusunan kebijakan yang melibatkan hakim dan pejabat di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Berbagai pembahasan yang berlangsung memberikan pemahaman mengenai bagaimana suatu kebijakan dirumuskan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kebutuhan praktik peradilan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pembentukan regulasi tidak hanya berfokus pada perumusan norma, tetapi juga pada bagaimana norma tersebut dapat diterapkan secara efektif dalam penyelenggaraan peradilan. Selain itu, para mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai proses penafsiran hukum yang dilakukan dalam pembahasan regulasi. Berbagai isu yang muncul dalam praktik peradilan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan ketentuan yang akan digunakan sebagai pedoman bagi badan peradilan. Tak hanya terlibat dalam pembahasan kebijakan, mahasiswa juga berpartisipasi dalam kegiatan validasi produk hukum Mahkamah Agung melalui sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Mahkamah Agung. Kegiatan ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian data sebelum dipublikasikan kepada masyarakat, meliputi pengecekan nomor, identitas, nama pengadilan negeri, serta kelengkapan dokumen dalam sistem. Keterlibatan dalam proses validasi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya akurasi data dalam mendukung keterbukaan informasi di lingkungan peradilan. Melalui sistem JDIH, Mahkamah Agung menyediakan akses terhadap berbagai produk hukum dan putusan pengadilan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, akademisi, maupun praktisi hukum. Hendrico Noval Ramadhani mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Fakultas Hukum UMM dan Mahkamah Agung RI. Menurutnya, pengalaman selama magang menjadi bekal berharga untuk masa depan. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya sangat bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang sangat baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang telah memberikan ilmu yang semoga berguna di masa yang akan datang,” ujarnya kepada RRI, Jumat (19/6/2026). Senada dengan Hendrico, Satria Ananta Agung Nugraha juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya merasa sangat beruntung dan bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia atas ilmu yang diberikan dan semoga dapat berguna di masa yang akan datang,” tuturnya. Sementara itu, Arjuna Galih Taruna menilai program magang ini menjadi pengalaman luar biasa yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar hukum secara praktik. “Bagi saya, kesempatan ini sangat luar biasa. Kami berkesempatan magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia guna menimba ilmu secara praktik. Semoga program magang yang dirancang oleh Laboratorium Fakultas Hukum UMM ini dapat terus berlanjut dan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjadi calon-calon sarjana hukum yang kompeten,” ungkapnya. Program magang di Mahkamah Agung RI ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis praktik yang dikembangkan oleh Fakultas Hukum UMM. Melalui pengalaman langsung di lembaga peradilan tertinggi di Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat pemahaman terhadap sistem hukum nasional serta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai praktik hukum di tingkat nasional.

Board Game Edukasi UMM Jadi Inovasi Pembelajaran Interaktif untuk Generasi Muda

Sejumlah mahasiswa prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengujicobakan board game edukasi bersama Lets Play dan RBC Institute. Foto: dok.UMM MALUMAT – Inovasi pendidikan terus lahir dari kampus. Kali ini, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 menghadirkan sembilan purwarupa board game edukasi. Game ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif sekaligus sarana memperkuat literasi dan ketangguhan mental generasi muda. Menariknya, board game edukasi UMM ini hasil kolaborasi dengan Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute. Seluruh karya itu resmi diujicobakan di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6/2026). Inovasi ini menjadi bagian dari upaya merawat warisan pemikiran dan semangat literasi almarhum Abdul Malik Fadjar, sebagai Guru Bangsa. Melalui pendekatan dengan generasi muda, nilai-nilai pendidikan dan literasi dikemas dalam bentuk permainan edukatif . Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan board game edukasi UMM dilakukan secara intensif selama tiga bulan. Menurutnya, media pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. “Kami berharap game-game inovatif ini tidak hanya digunakan di lingkungan PPI AMF, tetapi juga dapat didistribusikan secara nasional untuk meningkatkan kapasitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya. Baca Juga  Belajar Meracik Jahe dan Jamu: Cerita Ibu-Ibu Desa Wonoasri Bersama Mahasiswa UMM Tidak sekadar menjadi sarana bermain, sembilan board game edukasi tersebut juga memiliki landasan akademik yang kuat. Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi pembelajaran yang terintegrasi dengan delapan pertemuan kelas. Menurutnya, board game ini dirancang sebagai instrumen untuk mengukur ketangguhan psikologis atau psychological capital melalui metode pretest dan posttest. “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” jelas Ahmad. Dukungan juga datang dari industri permainan edukatif. CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, mengapresiasi kreativitas mahasiswa UMM yang berhasil menerjemahkan konsep akademik ke dalam bentuk permainan yang menarik. Dalam sesi uji coba, ia meminta para pengembang fokus menerima masukan terkait mekanisme permainan agar kualitas board game edukasi UMM semakin optimal. “Presentasikan karya kalian dan terbukalah terhadap evaluasi. Pengembangan berikutnya sebaiknya lebih difokuskan pada penguatan alur permainan atau gameplay tanpa perlu mengubah desain visual yang sudah sangat baik,” katanya. Uji coba yang melibatkan santri jenjang SMP dan SMA ini menjadi tahapan penting untuk melihat efektivitas permainan sebagai media pembelajaran. Berbagai masukan dari peserta akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum produk dikembangkan lebih lanjut. Baca Juga  Menenun Masa Depan Ekonomi Indonesia-Jepang Lewat Kampus Lahirnya sembilan board game edukasi UMM menunjukkan bahwa luaran akademik perguruan tinggi tidak harus berhenti sebagai laporan penelitian atau tugas perkuliahan. Inovasi tersebut dapat ditransformasikan menjadi instrumen pendidikan yang aplikatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Lebih jauh, board game edukasi ini diharapkan menjadi jembatan untuk meneruskan semangat literasi Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. Dengan pendekatan yang menyenangkan, nilai-nilai pendidikan, kecerdasan kognitif, serta ketangguhan mental dapat ditanamkan sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Tak Ada Pemberitahuan, Ini Cara Cek Wilayah yang Kena Padam Bergilir

 Lihat Foto Penulis: Sandra Desi Caesaria | Editor: Resa Eka Ayu Sartika KOMPA.com – Informasi mengenai pemadaman listrik sering dicari masyarakat nyaris setiap hari. PT PLN rajin memberikan informasi akan adanya jadwal pemadaman melalui akun Instagram resmi masing-masing daerah. Namun akhir-akhir ini, masyarakat banyak yang protes ketika tak ada info pemadaman. Banyak masyarakat yang mengatakan wilayah mereka tiba-tiba padam bergilir tanpa pemberitahuan sebelumnya di media sosial. Sehingga hal ini cukup merepotkan masyarakat yang masih beraktivitas pada siang hari. Masyarakat dapat mengecek lokasi pemadaman bergilir yang mendadak. Seperti pada Sabtu (20/6/2026) tercatat daerah Solo, Yogyakarta, Lamongan, Surabaya, dan beberapa lokasi lainnya. Bagaimana caranya? Cara mengecek wilayah yang padam bergilirJika tak ada pemberitahuan di media sosial PLN, masyarakat masih bisa mencari info mana saja daerah yang terdampak. PT PLN (Persero) menyediakan berbagai layanan digital melalui aplikasi PLN Mobile bagi pelanggan. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat apakah terjadi gangguan listrik di area tertentu, mengetahui wilayah yang terdampak, serta memantau kondisi jaringan listrik di sekitar lokasi pelanggan. Berikut langkah-langkah untuk mengecek pemadaman listrik secara online: Unduh dan buka aplikasi PLN Mobile. Masuk menggunakan nomor ponsel yang telah terdaftar. Pilih menu Pengaduan pada halaman utama. Klik fitur Cek Padam Sekitar Saya. Pilih ID Pelanggan atau nomor yang ingin diperiksa. Tunggu hingga sistem selesai memproses data. Aplikasi akan menampilkan peta dan informasi kondisi kelistrikan di sekitar lokasi pelanggan, termasuk area yang sedang mengalami gangguan atau pemadaman. Melalui fitur tersebut, pelanggan dapat memperoleh informasi terkait listrik padam di sekitar rumah tanpa harus terlebih dahulu menghubungi layanan pelanggan PLN. Jika tidak dapat mengakses PLN Mobile, pelanggan tetap dapat menyampaikan laporan melalui fitur Live Chat yang tersedia di aplikasi atau dengan menghubungi Call Center PLN 123.   Lihat Foto Apa yang harus dilakukan saat padam bergilir? Guru Besar Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Machmud Effendy, membagikan beberapa hal yang harus dilakukan saat padam bergilir dadakan. 1. Melepas kabel dari colokan Pria yang juga wakil dekan 1 FT UMM mengatakan, saat lampu mati mendadak segeralah mencopot colokan barang elektronik dulu. Mulai dari TV, kulkas, bahkan sampai laptop, dan mesin cuci. Mengapa harus mencopot kabel barang-barang elektronik dari stop kontak? Hal itu untuk mencegah alat cepat rusak saat listrik menyala lagi. “Kalau listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Jadi berbahaya kalau tegangan masuk ke barang elektronik,” katanya, saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (14/6/2026). Baca juga: Mengapa Listrik Padam Bergilir di Jawa? Ini Penjelasan PLN 2. Jangan langsung menyalakan alat elektronik Jika listrik sudah menyala, ia mengatakan jangan terburu-buru langsung mencolokkan barang elektronik. Sebaiknya ditunggu beberapa menit, baru dicolokkan. “Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya,” tutupnya..    

Sedang Sering Terjadi Mati Lampu Bergilir, Ini 4 Tips Pakar agar Elektronik Awet

 Lihat Foto  | Editor: Resa Eka Ayu Sartika KOMPAS.com – Pemadaman listrik bergilir belakangan ini nampaknya mulai mengkhawatirkan bagi masyarakat. Masalahnya bukan cuma soal aktivitas yang terganggu, tapi juga ancaman barang elektronik yang rawan rusak. Mulai dari TV, kulkas, hingga perangkat digital lainnya dikhawatirkan mulai mengalami kerusakan akibat mati-nyala arus yang mendadak. Pemerintah melalui PT PLN (Persero) akhirnya buka suara dan mengakui adanya gangguan listrik yang melanda beberapa wilayah di Pulau Jawa. Pihak manajemen menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh faktor teknis di lini hulu pasokan listrik. Pertama, karena kendala teknis operasional pembangkit yang mengganggu efisiensi produksi listrik harian. Kedua, gangguan fatal pada dua unit pembangkit besar yang mengakibatkan fasilitas tersebut terpaksa perlu perhatian dari PLN untuk sementara waktu. Lalu untuk masyarakat, apa yang harus dilakukan agar barang elektronik tak gampang rusak? Tips agar barang elektronik tidak mudah rusak saat lampu mati Guru Besar Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Machmud Effendy mengatakan ada perbedaan alat elektronik masa kini dan dulu yang membuatnya rentan rusak. Sehingga perawatan untuk elektronik pun perlu kehati-hatian. “Segala hal barang elektronik yang digital, memang rawan rusak. Karena komponennya untuk tegangan Direct Current atau DC (arus searah) sementara tegangan kita Alternating Current (arus bolak-balik),” kata Machmud, saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (20/6/2026). Ia mengatakan elektronik dengan regulator DC kalau masuk ke sumber AC biasanya akan ada perubahan konverter yang menyebabkan alat gampang rusak saat lampu mati. “Ketika lampu mati, tegangan itu langsung drop. Kaya kulkas itu langsung drop. Tegangan hilang. TV juga. Makanya itu yang bikin rusak,” kata dia. 1. Membeli Stabilizer Voltage Machmud mengatakan, kalau kondisi daerah tempat masyarakat tinggal gampang mati listrik, memang ada baiknya mempersiapkan alat tambahan. “Sebetulnya untuk merawat alat elektronik itu dalam kondisi listrik mudah padam bergilir, ya pakai Stabilizer Voltage,” tambahnya. Stabilizer Voltage atau sering disebut Automatic Voltage Regulator (AVR) adalah perangkat yang berfungsi untuk menjaga agar tegangan listrik yang masuk ke perangkat elektronik tetap stabil dan aman di angka normal. Biasanya mencapai 220 Volt di Indonesia. Machmud mengatakan, stabilizer ini ibarat benteng pertahanan pertama sebelum listrik masuk ke TV atau alat elektronik lain. Sehingga alat ini membantu tegangan alat elektronik lainnya tidak langsung hilang saat lampu mati. Namun tegangan akan hilang secara perlahan-lahan. 2. Mencopot kabel elektronik dari colokan Pria yang juga wakil dekan 1 FT UMM mengatakan, saat lampu mati mendadak bisa langsung mencopot colokan barang elektronik dulu. Sebab saat listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Kalau listrik sudah menyala, ia mengatakan jangan terburu-buru langsung mencolokkan barang elektronik. Sebaiknya ditunggu beberapa menit, baru dicolokkan. Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya. Baca juga: Pemadaman Listrik di Bogor Ganggu Usaha Pedagang: Enggak Bisa Apa-apa, Tinggal Pasrah Aja Menata Kabel Semrawut Jakarta, Misi yang Belum Selesai Artikel Kompas.id 3. Memilih alat elektronik hybrid Ia juga menyarankan untuk masyarakat yang berencana membeli barang, mulailah mencari yang hybrid. “Elektronik yang berbasis hybrid itu menguntungkan masyarakat. Hemat juga di kantong,” kata dia. Alat elektronik hybrid adalah perangkat elektronik yang bisa memanfaatkan dua sumber daya berbeda untuk beroperasi, biasanya demi menghemat biaya listrik. Biasanya alat elektronik hybrid menggabungkan sumber AC, DC, hingga bersumber dari tenaga solar panel sekaligus. Sehingga tidak terlalu rawan rusak saat ada pemadaman bergilir. Salah satu contohnya, Air Conditioner (AC) Inverter plus solar panel. AC jenis ini bisa menyala menggunakan listrik PLN (AC) sekaligus listrik dari panel surya (DC). Pada siang hari, AC akan memprioritaskan energi matahari yang gratis, dan jika mendung atau malam hari, ia otomatis beralih menggunakan listrik PLN. 4. Mulai menggunakan surge protector Selain itu, merawat alat elektronik bisa mempertimbangkan colokan berupa surge protector. Jika stabilizer bertugas meratakan ombak listrik yang naik-turun perlahan, maka surge protector bertugas sebagai tanggul darurat yang menahan lonjakan listrik mendadak. “Misal tegangan hilang, maksudnya listrik mati, alat ini bisa menyerap sebagian lonjakan tegangan, sehingga dia bisa lebih aman,” kata dia. Di toko online banyak dijual surge protector dengan harga ekonomis. Meski sekilas nampak seperti colokan kabel biasa, tetapi kompenen surge protector ini dilengkapi dengan komponen elektronik khusus bernama MOV (Metal Oxide Varistor). Komponen inilah yang bertindak sebagai sakelar darurat untuk menyerap dan membuang lonjakan listrik berbahaya ke jalur tanah (grounding atau arde). KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang.

Fenomena Clipper: Membantu Kreator atau Menumpang Popularitas ?

oleh: Ahmad Ridwan*) JATIMNET.COM – Media sosial telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan. Jika sebelumnya seseorang harus menonton acara televisi atau mendengarkan radio untuk mendapatkan informasi, kini berbagai konten dapat diakses hanya melalui telepon genggam. Perkembangan platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts juga mendorong lahirnya budaya baru dalam konsumsi media, yaitu kecenderungan menikmati konten dalam bentuk singkat, cepat, dan mudah dipahami. Di tengah perubahan tersebut, muncul fenomena yang semakin populer, yakni clipper. Istilah clipper merujuk pada individu atau akun yang mengambil bagian tertentu dari sebuah video, podcast, siaran langsung, atau wawancara, kemudian mengunggah ulang potongan tersebut ke platform media sosial. Saat ini, hampir setiap hari pengguna internet dapat menemukan potongan podcast, cuplikan siaran langsung, maupun kutipan video tokoh publik yang beredar luas di berbagai platform digital. Fenomena clipper berkembang pesat karena sesuai dengan kebiasaan audiens modern yang lebih menyukai konten singkat dibandingkan video berdurasi panjang. Sebuah podcast yang berdurasi dua jam sering kali sulit menarik perhatian pengguna media sosial yang memiliki rentang perhatian terbatas. Sebaliknya, potongan video berdurasi satu hingga tiga menit yang berisi pernyataan menarik atau momen lucu lebih mudah mendapatkan perhatian publik. Tidak mengherankan jika banyak akun clipper berhasil memperoleh jutaan penonton hanya dengan mengunggah potongan konten dari kreator lain. Namun, di balik popularitas tersebut muncul pertanyaan yang semakin sering diperdebatkan: apakah clipper membantu kreator memperluas jangkauan audiens, atau justru menumpang popularitas dan keuntungan dari karya orang lain? Perdebatan mengenai clipper juga pernah muncul dalam berbagai podcast populer di Indonesia. Beberapa kreator menganggap potongan video membantu memperluas jangkauan audiens, sementara yang lain merasa dirugikan ketika cuplikan mereka digunakan tanpa izin dan menghasilkan keuntungan bagi pihak lain. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa fenomena clipper masih berada di wilayah abu-abu antara promosi dan pelanggaran hak cipta. Di satu sisi, keberadaan clipper memang memberikan manfaat yang tidak dapat diabaikan. Banyak kreator mengakui bahwa potongan video yang beredar di media sosial mampu meningkatkan jumlah penonton pada konten asli mereka. Cuplikan menarik sering kali berfungsi sebagai “teaser” yang membuat audiens penasaran untuk menonton video lengkapnya. Dalam konteks ini, clipper dapat dipandang sebagai pihak yang membantu promosi secara tidak langsung. Fenomena tersebut dapat dilihat pada berbagai podcast populer di Indonesia. Tidak sedikit cuplikan percakapan yang menjadi viral di TikTok atau Instagram sebelum akhirnya mengarahkan audiens menuju kanal utama kreator. Potongan video yang menarik mampu menjangkau pengguna yang sebelumnya tidak mengenal podcast tersebut. Dengan kata lain, clipper berperan dalam memperluas distribusi informasi dan meningkatkan visibilitas suatu konten. Selain itu, beberapa clipper tidak sekadar mengunggah ulang video. Mereka melakukan penyuntingan, memberikan subtitle, menambahkan narasi, atau mengemas ulang konten agar lebih mudah dipahami oleh audiens. Aktivitas semacam ini menunjukkan adanya unsur kreativitas yang turut berkontribusi dalam penyebaran informasi. Oleh karena itu, tidak semua aktivitas clipping dapat disamakan dengan tindakan pencurian konten. Meski demikian, manfaat tersebut tidak menghapus berbagai persoalan yang muncul. Salah satu masalah utama adalah banyaknya akun yang memanfaatkan karya orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi. Beberapa akun clipper hanya memotong video tanpa memberikan nilai tambah yang berarti, kemudian mengunggahnya kembali untuk memperoleh jumlah tayangan tinggi, pengikut baru, hingga pendapatan dari monetisasi platform. Kondisi ini menimbulkan ketidakadilan bagi kreator asli. Sebuah podcast atau video tidak tercipta secara instan. Di balik konten yang ditonton jutaan orang terdapat proses panjang yang melibatkan riset, penyusunan konsep, produksi, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga promosi. Semua proses tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, ketika pihak lain memperoleh keuntungan dari konten tersebut tanpa berkontribusi dalam proses pembuatannya, muncul pertanyaan mengenai etika dan keadilan dalam ekosistem digital. Persoalan lain yang sering terjadi adalah hilangnya identitas kreator asli. Tidak sedikit akun clipper yang mengunggah potongan video tanpa mencantumkan sumber atau nama pemilik konten. Akibatnya, penonton tidak mengetahui asal-usul video yang mereka tonton. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi peluang kreator asli untuk mendapatkan pengakuan maupun manfaat ekonomi dari karya mereka sendiri. Dari perspektif hukum media massa, fenomena clipper juga berkaitan erat dengan hak cipta. Di Indonesia, perlindungan terhadap karya kreatif diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Melalui regulasi tersebut, pencipta memiliki hak moral dan hak ekonomi atas karya yang dihasilkannya. Hak moral berkaitan dengan pengakuan terhadap identitas pencipta, sedangkan hak ekonomi berkaitan dengan manfaat finansial yang diperoleh dari suatu karya. Dalam praktiknya, batas antara clipping dan pelanggaran hak cipta sering kali tidak jelas. Tidak semua potongan video dapat langsung dianggap melanggar hukum. Jika sebuah konten dipotong kemudian diberikan analisis, kritik, komentar, atau sudut pandang baru, maka terdapat unsur kreativitas yang membedakannya dari sekadar reupload biasa. Namun, apabila seseorang hanya mengunggah ulang bagian video tanpa izin dan tanpa memberikan nilai tambah yang berarti, maka tindakan tersebut berpotensi merugikan pemilik karya. Menurut saya, perdebatan mengenai clipper sebenarnya mencerminkan tantangan baru yang dihadapi dunia media digital. Teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat dalam memahami etika penggunaan konten. Banyak orang fokus pada jumlah tayangan dan keuntungan yang dapat diperoleh, tetapi melupakan pentingnya menghargai proses kreatif di balik sebuah karya. Karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Literasi digital juga perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa setiap karya memiliki pemilik yang berhak mendapatkan penghargaan. Pengguna media sosial perlu menyadari bahwa mencantumkan sumber, meminta izin, dan memberikan kredit kepada kreator merupakan bentuk penghormatan terhadap hak cipta. Selain itu, platform media sosial juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan sistem yang lebih adil. Fitur pelaporan pelanggaran hak cipta perlu diperkuat agar kreator dapat melindungi karya mereka dengan lebih mudah. Di sisi lain, platform juga dapat mendorong budaya kolaborasi yang memungkinkan hubungan yang saling menguntungkan antara kreator dan clipper. Pada akhirnya, fenomena clipper tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang. Keberadaan mereka memang dapat membantu memperluas jangkauan audiens dan meningkatkan popularitas suatu konten. Namun, ketika aktivitas tersebut berubah menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan dari hasil kerja orang lain tanpa izin atau penghargaan yang layak, maka muncul persoalan etika dan hukum yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai apakah clipper membantu kreator atau menumpang popularitas mungkin tidak memiliki jawaban yang mutlak. Jawabannya bergantung pada bagaimana aktivitas tersebut dilakukan. Jika clipping dilakukan

Mahasiswa UMM Akan Menggelar Fun Trail Bersama Motoestjava di Coban Jahe

Kelompok Praktikum 3 Mahasiswa Ilkom FISIP UMM Berkolaborasi Akan Menggelar Fun Trial Trax 2026 di Coban Jahe ( Foto: Artheera) SUARAMALANG.COM, Kota Malang— Kelompok Artheera yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyelenggarakan fun trail bertajuk TRAX 2026 (Trail Adventure X-perience) bekerja sama dengan Moto East Java, dalam rangka Brand Activation. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada akhir Juni 2026 ini, dirancang sebagai wadah bagi generasi muda untuk menikmati pengalaman adventure trail sekaligus mengenal wisata petualangan yang ada di Malang. Melalui kegiatan ini, peserta akan diajak merasakan pengalaman berkendara di jalur alam terbuka yang dikemas dalam suasana yang aman, edukatif, dan menyenangkan. Moto East Java merupakan operator adventure trail berbasis di Malang yang menyediakan berbagai layanan, mulai dari rental motor trail, adventure trail, jeep off-road, overland trip, hingga coaching trail. Kolaborasi Bagian Dari Pembelajaran  Kolaborasi ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa dalam mengelola program komunikasi dan aktivasi secara langsung bersama mitra industri. Ketua Pelaksana Kelompok Praktikum 3 Mahasiswa UMM Artheera, Mutiah Nursabrina mengatakan, bahwa TRAX 2026 tidak hanya menjadi sarana promosi bagi klien, tapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam proyek nyata. “Melalui kegiatan ini, kami belajar merancang strategi komunikasi, membangun kerja sama dengan berbagai pihak, serta mengelola sebuah event yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujarnya. Saat ini Artheera juga tengah menjalankan berbagai rangkaian pra-event untuk memperkenalkan TRAX 2026 kepada masyarakat di Kota Malang. Sinergi Akademik dan Industri Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat yang mengenal Moto East Java dan tertarik menjadi bagian dari pengalaman petualangan yang ditawarkan dalam TRAX 2026. Sebagai bagian dari praktikum Brand Activation, kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antara dunia akademik dan industri dalam menciptakan program komunikasi yang memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun mitra yang terlibat. Mahasiswa UMM Sebar Informasi TRAX 2026 Dalam sosialisasi kelompok Artheera dari mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menggelar rangkaian pra-event TRAX 2026 (Trail Adventure X-perience) dengan mendatangi sejumlah kampus di Kota Malang. Kegiatan ini dilakukan melalui pembagian flyer, distribusi stiker, serta pemasangan pamflet pada beberapa titik mading kampus yang telah memperoleh izin. Aktivasi tersebut menjadi bagian dari praktikum Brand Activation bersama Moto East Java sebagai klien. Melalui pendekatan langsung kepada mahasiswa, Artheera berupaya memperkenalkan TRAX 2026 sekaligus meningkatkan awareness terhadap Moto East Java sebagai operator adventure trail di Malang. “Kami ingin mahasiswa mengetahui bahwa ada pengalaman baru yang bisa dicoba selain rutinitas kuliah sehari-hari. Karena itu kami hadir langsung untuk mengenalkan konsep event ini,” ujar anggota Artheera lainnya. Selain menyampaikan informasi event, tim juga mengajak mahasiswa mengakses QR Code yang terhubung ke media sosial dan kanal pendaftaran. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan antusiasme mahasiswa sekaligus memperluas jangkauan informasi menjelang pelaksanaan TRAX 2026. Pewarta : *Artheera

Membebaskan Ruang Gagasan Peneliti Muda

malangposcomedia – Kita sering takjub melihat seorang anak yang bisa duduk berjam-jam, fokus total, membedah mainan atau menuntaskan gim di gawainya. Di sana ada rasa ingin tahu yang menyala tanpa perlu diperintah. Sayangnya, pemandangan magis itu mendadak sirna begitu mereka dihadapkan pada buku pelajaran. Ada tembok tebal yang telanjur memisahkan antara indahnya bermain dan pahitnya belajar. Ironi ini menempatkan dunia pendidikan kita di persimpangan jalan yang gawat. Generasi hari ini lahir dengan gawai di genggaman; mereka kebanjiran informasi, tetapi kelaparan konfirmasi. Data yang melimpah ruah itu sering kali hanya mampir di layar, tanpa sempat dicerna oleh nalar. Di sinilah literasi kritis menemukan urgensinya. Literasi bukan lagi urusan mengeja huruf atau merangkai kalimat, melainkan kemampuan transformatif untuk memisahkan fakta dan bualan (hoaks). Sayangnya, salah satu instrumen terbaik untuk mengasah nalar kritis ini yaitu Karya Tulis Ilmiah (KTI) sering kali lahir dengan wajah yang keliru. Mendengar istilahnya saja, banyak siswa sekolah menengah yang sudah “mati angin.” Di mata mereka, KTI adalah monster akademik yang menakutkan: kaku, penuh istilah rumit, dan membosankan. Stigma klasik inilah yang perlu didekonstruksi secara total. Pengalaman di SMP Muhammadiyah 6 Malang, misalnya, membuktikan bahwa wajah penelitian remaja bisa diubah dari tugas yang menyiksa menjadi petualangan yang memikat. Kuncinya sederhana: kembalikan otonomi mereka dan nyalakan gairahnya. Ketika riset berangkat dari kegelisahan dunia anak-anak itu sendiri, menulis ilmiah tak ubahnya seperti menyelesaikan sebuah level di dalam gim kesukaan mereka. Memberi Kebebasan: Penelitian Sesuai Kata Hati Kunci pertama dari transformasi ini adalah pemulihan otonomi siswa. Selama ini, dosa terbesar dalam tradisi riset sekolah adalah kecenderungan guru bertindak sebagai “penyedia tunggal” topik. Guru menentukan judul, merumuskan masalah, lalu siswa dipaksa mengeksekusinya. Hasilnya bisa ditebak: siswa merasa terasing. Mereka seperti dipaksa mengadopsi anak orang lain; meneliti sesuatu yang tidak mereka sukai hanya demi menggugurkan kewajiban angka di rapor. Di SMP Muhammadiyah 6 Malang, belenggu itu diputus. Tradisi Karya Tulis Ilmiah (KTI) justru dimulai dari meja bermain, di mana kemudi riset diserahkan sepenuhnya kepada siswa. Mereka diajak berdialog dengan diri sendiri melalui satu pertanyaan sederhana: “Apa yang membuat saya penasaran?” Jika seorang siswa kecanduan gim, mereka tidak lantas dihukum. Alih-alih dilarang, minat itu diarahkan menjadi riset metodologis: menguji korelasi antara durasi bermain gim dengan tingkat konsentrasi di kelas. Begitu pula bagi para pencinta lingkungan. Mereka ditantang membedah sengkarut sampah plastik di kantin sekolah, lalu berkolaborasi dengan akademisi seperti Atika Permatasari untuk merumuskan solusinya melalui program pengabdian masyarakat. Ketika topik riset berakar pada kedekatan emosional, pemicu (trigger) utama akan menyala secara alami tanpa perlu diengkol oleh guru. Meneliti bukan lagi menjelma beban kurikulum yang melelahkan, melainkan sebuah misi pribadi untuk memecahkan teka-teki di lingkungan sekitar mereka. Inilah esensi sejati dari otonomi belajar: membiarkan anak-anak menyelami samudra ilmu karena dorongan rasa ingin tahu yang tulus, bukan karena ketakutan pada paksaan sistem Merawat Gairah: Riset yang Kekinian dan Membumi Setelah siswa diberi kebebasan memilih jalan, tantangan berikutnya adalah merawat api semangat itu agar tidak lekas padam. Kuncinya terletak pada ekosistem penelitian yang menyenangkan. Meneliti tidak boleh lagi diidentikkan dengan kutukan mengurung diri di perpustakaan berdebu, menatap tumpukan buku tua, atau dilingkupi kesunyian yang mencekam. Di SMP Muhammadiyah 6 Malang, perburuan data dikemas dengan cara yang “kekinian” dan akrab dengan dunia remaja. Wawancara dengan narasumber tidak lagi kaku seperti interogasi, melainkan didesain menyerupai obrolan seru dalam sebuah rekaman podcast. Observasi lapangan dirancang laksana investigasi detektif yang penuh kejutan dan teka-teki. Pendekatan ini berhasil meruntuhkan dinding pembatas sains; anak-anak sadar bahwa ilmu pengetahuan bisa lahir di mana saja, mulai dari ruang tamu rumah hingga sudut-sudut kantin sekolah. Bahkan, format pelaporan pun disesuaikan dengan selera visual Generasi Z dan Alpha. Laporan penelitian tidak lagi melulu berupa tumpukan kertas jilid tebal yang membosankan, melainkan ditransformasikan ke dalam bentuk infografis yang estetik atau video pendek yang kreatif. Puncaknya, tidak ada lagi sidang ujian yang menegangkan atau menghakimi. Sekolah justru menggelar “Galeri Penelitian”—sebuah ruang selebrasi di mana setiap karya dipajang dan dipresentasikan dengan penuh kebanggaan di hadapan sejawat. Atmosfer apresiasi inilah yang pada akhirnya berhasil menyalakan gairah belajar yang sejati. Investasi Karakter: Merawat Integritas Ilmiah Pada akhirnya, aktivitas meneliti bukan sekadar urusan kognitif untuk mengejar ilmu duniawi. Meneliti adalah manifestasi nyata dari etos ijtihad—sebuah ikhtiar sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran berbasis bukti objektif (evidence-based). Melalui penelitian mandiri inilah, benih kejujuran intelektual sedang ditanamkan secara kokoh ke dalam jiwa setiap anak sejak dini. Dalam ruang riset, siswa dipaksa berhadapan dengan cermin kejujuran. Mereka belajar bahwa data adalah fakta sakral yang tidak boleh dimanipulasi demi memuaskan ekspektasi. Jika hasil penelitian di lapangan ternyata tidak sesuai dengan hipotesis awal, mereka diajarkan untuk tidak bersiasat atau berbohong. Di sinilah integritas sejati diuji. Anak-anak dilatih untuk bertanggung jawab atas setiap lembar argumen yang mereka bangun secara logis. Walhasil, strategi ini tidak sekadar ingin mencetak penulis atau ilmuwan hebat di masa depan, melainkan menyemai karakter manusia yang lurus dalam bertindak, tangguh menghadapi kenyataan, dan terampil mencari solusi (problem solver) atas problem di sekitarnya. Dengan mendekonstruksi wajah Karya Tulis Ilmiah (KTI) menjadi lebih ramah anak, kita sebenarnya sedang meletakkan batu pertama bagi fondasi peradaban yang mencerahkan. Peradaban yang tidak dibangun di atas mitos atau bualan, melainkan di atas tradisi riset yang menyenangkan dan mandiri. Masa depan pendidikan kita sejatinya bertumpu pada pundak setiap siswa yang hari ini berani bertanya “mengapa”, dan secara jujur bergerak mencari jawabannya. Inilah esensi transformasi pendidikan yang sejati: mengubah beban kurikulum menjadi kegembiraan, dan membalik rasa takut menjadi keberanian untuk berkarya.(*)