Singgah Berkarya, Epilog Creative UMM Ajak Gen Z Tuangkan Cerita Pribadi di Rumah Budaya Ratna

INDOZONE.ID – Rumah budaya tak lagi sekadar tempat membaca atau diskusi serius. Lewat kegiatan Singgah Berkarya, Rumah Budaya Ratna berubah menjadi ruang ekspresi yang hidup, penuh cerita, dan dekat dengan dunia anak muda. Kegiatan bertajuk “Singgah Berkarya: Zine Making Workshop” ini digagas oleh Epilog Creative Universitas Muhammadiyah Malang dan berkolaborasi dengan Mind Daze. Workshop ini mengajak peserta mayoritas generasi muda untuk menuangkan perasaan, pengalaman, dan sudut pandang personal mereka ke dalam bentuk zine. Sejak awal kegiatan, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar zine oleh fasilitator dari Mind Daze. Zine dijelaskan sebagai media ekspresi independen yang bebas, personal, dan tidak terikat aturan baku. Peserta diajak memahami bahwa zine bukan soal bagus atau tidaknya karya, melainkan soal kejujuran dan keberanian bercerita. Setelah sesi pengantar, peserta mulai masuk ke proses berkarya. Mereka menyusun konsep zine berdasarkan apa yang sedang dirasakan mulai dari keresahan, pengalaman personal, hingga hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suasana workshop terasa santai, penuh diskusi, dan kolaboratif, membuat peserta bebas berekspresi tanpa tekanan. Proses pembuatan zine ini menjadi inti dari pengalaman Singgah Berkarya. Buku, yang selama ini identik dengan sesuatu yang formal, dihadirkan dalam bentuk zine yang lebih cair dan dekat dengan dunia Gen Z. Setiap karya menjadi refleksi unik dari masing-masing peserta, menunjukkan bahwa literasi bisa hadir dalam banyak bentuk. Melalui Singgah Berkarya, Epilog Creative ingin menghadirkan pengalaman berkesenian yang relevan dengan generasi muda, sekaligus memperkenalkan Rumah Budaya Ratna sebagai ruang kreatif yang terbuka dan inklusif. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari praktik nyata mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam mata kuliah Public Relations 3 dengan tema brand activation. Workshop ditutup dengan sesi foto bersama, menandai berakhirnya proses berkarya sekaligus merayakan keberagaman ekspresi yang tercipta. Singgah Berkarya membuktikan bahwa ruang budaya masih sangat relevan selama mampu beradaptasi dan memberi ruang bagi suara anak muda.

Dinamika Sosial Sentra Industri di Wilayah Sukun, Kota Malang

memorandum – SENTRA industri sanitair di Kecamatan Sukun, Kota Malang, merupakan salah satu sektor industri kecil yang memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membentuk kehidupan sosial masyarakat. Salah satu pelaku usaha yang menjadi bagian dari perkembangan tersebut adalah UD Darmo Putro yang berlokasi di Kelurahan Karangbesuki. Didirikan pada 1961, UD Darmo Putro mampu bertahan lebih dari enam dekade berkat kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, serta persaingan pasar yang semakin kompetitif. Pada masa awal berdiri, proses produksi masih dilakukan secara sederhana dengan peralatan yang terbatas. Pemasaran pun hanya menjangkau wilayah Malang dan sekitarnya. Seiring perkembangan zaman, perusahaan terus melakukan pembaruan melalui peningkatan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi yang lebih efisien, serta strategi pemasaran yang semakin modern sehingga mampu memperluas jangkauan pasar. Upaya tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kualitas produk agar tetap mampu bersaing. Keberadaan UD Darmo Putro memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, terutama melalui penyediaan lapangan kerja bagi warga lokal. Kesempatan kerja tersebut membantu mengurangi angka pengangguran, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain memberikan dampak ekonomi, industri ini turut membangun hubungan sosial yang harmonis antara pemilik usaha, pekerja, dan masyarakat. Interaksi yang berlangsung setiap hari melahirkan kerja sama, solidaritas, rasa saling percaya, serta hubungan kekeluargaan yang memperkuat kohesi sosial di lingkungan sekitar. Meski telah berkembang selama puluhan tahun, UD Darmo Putro tetap menghadapi berbagai tantangan. Kenaikan harga bahan baku, meningkatnya biaya operasional, persaingan dengan produk impor maupun perusahaan berskala besar, serta perubahan kebutuhan konsumen menjadi hambatan yang harus dihadapi. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan digitalisasi pemasaran menuntut perusahaan untuk terus berinovasi agar tetap relevan di tengah dinamika industri yang semakin cepat. Oleh karena itu, pengelolaan usaha yang profesional, peningkatan kualitas produk, serta pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Dari perspektif sosiologi industri, UD Darmo Putro tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai institusi sosial yang membentuk hubungan kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitarnya. Keberadaan industri ini juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui meningkatnya permintaan terhadap jasa transportasi, pemasok bahan baku, hingga berbagai usaha pendukung lainnya. Kondisi tersebut memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Ke depan, UD Darmo Putro masih akan menghadapi tantangan berupa perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, persaingan pasar yang semakin luas, kebutuhan tenaga kerja yang lebih kompeten, serta pentingnya regenerasi dalam pengelolaan usaha. Namun demikian, pengalaman panjang, kualitas produk yang tetap terjaga, serta kepercayaan pelanggan menjadi modal utama bagi perusahaan untuk terus berkembang. UD Darmo Putro menunjukkan bahwa industri kecil mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat apabila mampu beradaptasi terhadap perubahan dan terus melakukan inovasi secara berkelanjutan.

Eksistensi Usaha Kuliner Favorit Masyarakat Kota Malang

memorandum – INDUSTRI kuliner di Kota Malang berkembang pesat seiring tingginya populasi mahasiswa, khususnya di kawasan Tlogomas. Di tengah persaingan yang semakin ketat, usaha kuliner tradisional tetap mampu bertahan dan diminati oleh masyarakat lintas generasi. Salah satu contohnya adalah Lalapan Cak Qodir yang berdiri sejak 2003 dan hingga kini masih menjadi salah satu destinasi kuliner favorit masyarakat. Eksistensi Lalapan Cak Qodir selama lebih dari dua dekade bukan merupakan hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari strategi adaptasi yang konsisten serta kemampuan membangun modal sosial yang kuat di tengah komunitas mahasiswa Tlogomas. Perjalanan usaha ini menunjukkan bahwa kepercayaan dan loyalitas pelanggan yang tumbuh secara organik melalui pengalaman konsumsi berulang menjadi fondasi yang jauh lebih kokoh dibandingkan sekadar mengandalkan promosi konvensional. Hubungan yang terbangun antara pemilik usaha dan pelanggan menciptakan ikatan sosial yang memperkuat keberlangsungan bisnis. Dalam perspektif sosiologi industri, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi sosial yang berkelanjutan dengan lingkungan sekitarnya. Modal sosial tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Lalapan Cak Qodir dalam mempertahankan eksistensinya. Menghadapi persaingan terbuka dengan sesama usaha kuliner, Lalapan Cak Qodir mengandalkan tiga keunggulan utama, yaitu kecepatan pelayanan melalui sistem penyajian yang efisien, harga yang terjangkau dengan porsi besar, serta loyalitas pelanggan lintas angkatan yang terus diperbarui melalui jaringan sosial mahasiswa dan media sosial. Di sisi lain, persaingan tertutup datang dari kafe-kafe modern yang menawarkan pengalaman konsumsi berbeda, seperti tempat yang nyaman, fasilitas WiFi, hingga konsep visual yang menarik untuk media sosial. Meski sebagian mahasiswa mulai beralih ke tempat-tempat tersebut, segmen utama Lalapan Cak Qodir tetap bertahan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi usaha yang memilih tetap berada pada identitasnya sendiri. Lalapan Cak Qodir tidak berupaya mengikuti seluruh tren kuliner kekinian, tetapi mempertahankan nilai utama yang selama ini menjadi daya tariknya, yakni harga terjangkau, porsi besar, pelayanan cepat, dan operasional selama 24 jam. Sementara itu, tantangan digitalisasi direspons secara pragmatis dengan memanfaatkan berbagai platform digital sebagai saluran distribusi tambahan tanpa mengubah fondasi bisnis yang telah terbukti mampu bertahan selama lebih dari dua puluh tahun. Fenomena ini memberikan pelajaran bahwa ketahanan usaha kuliner informal di kawasan perkotaan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal maupun skala produksi, melainkan juga oleh kedalaman relasi sosial yang berhasil dibangun bersama komunitas konsumennya. Ke depan, kajian mengenai usaha kuliner lokal seperti Lalapan Cak Qodir masih dapat dikembangkan dengan melibatkan perspektif karyawan maupun pelanggan secara langsung. Selain itu, penelitian komparatif dengan usaha kuliner serupa di kawasan mahasiswa lain di Indonesia juga penting dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai pola ketahanan usaha kuliner informal dalam menghadapi modernisasi dan digitalisasi. Pada akhirnya, pengalaman Lalapan Cak Qodir menunjukkan bahwa konsistensi menjaga kualitas, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta kedekatan dengan komunitas pelanggan merupakan modal utama dalam mempertahankan eksistensi usaha kuliner lokal di tengah persaingan yang semakin kompetitif.

Peternakan UMM Buktikan Kualitas Mahasiswa Lewat Inovasi Suplemen Ternak Pengganti Antibiotik di Gelaran Feed Innovation Expo 2026

Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar Feed Innovation Expo 2026 pada Rabu (1/7). Acara strategis berbasis pembelajaran proyek (project-based learning) ini memadukan pameran produk karya mahasiswa semester empat dengan kuliah pakar industri multinasional. Sinergi ini dirancang secara tajam untuk menjawab tantangan peningkatan kebutuhan pangan hewani serta ketatnya persaingan industri peternakan di tingkat global. Dalam pameran tersebut, produk Garlicprem Poultry Mix berhasil menjadi pusat perhatian karena menawarkan formula 2-in-1 yang menggabungkan nutrisi premiks lengkap dengan fitobiotik alami dari ekstrak bawang putih (alisin). Inovasi suplemen unggas 100 persen organik ini menjadi solusi strategis untuk menghapus ketergantungan peternak pada antibiotik kimia atau Antibiotic Growth Promoter (AGP). Tidak hanya efektif mendongkrak produktivitas dan daya tahan tubuh unggas, Garliprem juga terbukti mampu menekan bau amonia kandang secara signifikan sehingga menghasilkan daging yang bebas dari residu bahan kimia berbahaya. Tak kalah menarik, mahasiswa juga meluncurkan Galaktagoga Alami Kambing Susu dalam Bentuk Kepingan Lapang (GALAKSI TAB). Suplemen berbentuk kepingan praktis ini diformulasikan khusus dari 100 persen bahan alami demi meningkatkan kuantitas serta kualitas produksi susu kambing perah. Penggunaannya sangat efisien, peternak hanya perlu mencampurkan 2 hingga 3 keping per ekor setiap hari ke dalam pakan utama secara rutin untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi, menjaga kesehatan pencernaan, serta memastikan performa tubuh kambing tetap berada pada kondisi prima. Menanggapi karya nyata mahasiswa tersebut, Dosen Peternakan UMM, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., menyatakan bahwa ekspo yang telah konsisten berjalan selama satu dekade ini merupakan implementasi konkret dari visi Inovasi Mandiri dan Berdampak. Ia membeberkan bahwa mahasiswa peternakan wajib menggabungkan teori ruang kelas dengan proyek bisnis terpadu, mulai dari analisis SWOT hingga penyediaan bahan baku lokal. “Mahasiswa dituntut tidak hanya memahami teori, tetapi juga menciptakan produk komersial yang berangkat dari riset permasalahan di masyarakat hingga siap dipasarkan,” tegas Indah. Untuk menyelaraskan inovasi mahasiswa dengan standar mutu global, ekspo ini juga menghadirkan Quality Assurance PT Cargill Indonesia, Wisnu Mukti Setiawan, S.Pt. Dalam paparannya, Wisnu menjelaskan bahwa penguasaan konsep Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC) merupakan fondasi mutlak yang harus dimiliki mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional. Menurutnya, pemahaman standardisasi internasional akan membantu mahasiswa menguji kelayakan produk pakan yang mereka ciptakan agar mampu bersaing secara komersial. “Kalau QA, kita fokusnya di proses, sementara QC di produk. Jadi, QA ini adalah bagaimana kita menjaga selama proses produksi, dan QC sebagai inspeksi dan testing,” ujarnya. Seluruh produk inovasi pakan hasil pameran ini ditargetkan untuk bermuara pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) serta penciptaan wirausahawan muda melalui jalur kelulusan Skripsi Preneur. Melalui penguatan mental kewirausahaan dan pemahaman standar industri modern ini, lulusan Peternakan UMM diharapkan siap menjadi agen perubahan yang mendorong kemandirian serta kemajuan industri peternakan nasional.(rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM Bahas ExportPreneur Bersama DJBC Jawa Timur II-UMKM Ekspor

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mengikuti kuliah tamu bersama praktisi dengan tema From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter. Kuliah tamu dipandu moderator Muhammad Firmansyah, SE, ME, Selasa, 30 Juni 2026, di aula BAU UMM. Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan UMM bersama pemateri kuliah tamu, unsur pimpinan prodi, serta Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UMM, Muhammad Sri Wahyudi, SE, ME, PhD (empat dari kiri). Opening Firman kuliah tamu menghadirkan Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, dan UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna. Tujuan kuliah tamu tersebut mmbuka wawasan mahasiswa Prodi EP UMM tentang detail ekspor, serta motivasi menjadi eksportir handal. Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, Ketika menjelaskan bagaimana memulai proses ekspor bagi seorang pemula. Membuka sesi pertama adalah Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Timur II, Muhamad Lukman,  secara umum menjelaskan syarat ekspor, proses kepabeanan, komoditas ekspor, dokumen ekspor, transportasi, larangan-pembatasan dalam ekspor, aturan komoditas yang dikenakan biaya (PMK No39/PMK.001./2022. Selain itu juga dijelaskan tujuan bea keluar, dokumen PEB, pelayanan ekspor, hingga fasilitas ekspor. UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, ketika menjelaskan bagaimana cara sukses menjadi exportpreneur. Sementara itu,  sebagai UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, memaparkan bagaimana mengawali ekspor barang ke luar negeri yang sesuai dengan standart internasional atau negara yang dituju. Bagaimana membangun kemitraan dengan pemerintah,  serta menjalin jaringan dengan perguruan tinggi. (humas ep umm)

UMM Jadi Pilot Project Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat Pertama di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di Kota Malang.Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi UMM dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia Perwakilan Malang. Dalam asesmen lapangan yang dilaksanakan Selasa (30/6/2026), UMM berhasil memenuhi sekitar 95 persen persyaratan kelayakan Zona KHAS. Penilaian dilakukan di tiga lokasi, yakni Kantin RS UMM, Kantin Asri 1, dan Kantin Asri 2. Proses asesmen dipimpin asesor KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, S.TP., M.Kes. Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar tenant kuliner di lingkungan UMM telah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, mulai dari legalitas usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi penjamah makanan. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., menjelaskan bahwa pengembangan Zona KHAS merupakan langkah strategis kampus dalam menyambut penerapan kewajiban sertifikasi halal secara nasional pada Oktober 2026. Saat ini, sebanyak 25 tenant kuliner di lingkungan UMM telah mengantongi sertifikat halal. Selain itu, UMM juga dipercaya menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ekosistem halal, termasuk memimpin kolaborasi riset bersama sejumlah perguruan tinggi di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program Zona KHAS selaras dengan misi universitas dalam membangun lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Ia berharap konsep kawasan kuliner halal tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memberdayakan pelaku UMKM di desa-desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Pertama di Kota Malang, UMM Jadi Pionir Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi institusi pertama di Kota Malang yang ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). ​ Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah Malang. ​Kesiapan UMM terbukti matang setelah berhasil mendapat nilai 95 persen dalam asesmen lapangan yang digelar pada Selasa (30/6/2026). Proses audit ini menyasar tiga titik krusial, yakni Kantin Rumah Sakit (RS) UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2. ​Asesor Ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes., yang memimpin langsung jalannya audit, mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku usaha kuliner di dalam kampus telah mengantongi dokumen administratif wajib. Mulai dari izin usaha, penunjukan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi para penjamah makanan, semuanya dinilai memuaskan. ​“Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikasi Zona KHAS,” tutur Siti Nur Husnul. ​Menurutnya, pihak pengelola kampus kini tinggal menyempurnakan beberapa fasilitas penunjang teknis yang bersifat minor demi menyempurnakan standarisasi tersebut. Terpisah, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan langkah taktis universitas guna menyongsong regulasi wajib sertifikasi halal nasional yang bakal diberlakukan pada Oktober 2026 mendatang. ​Hingga saat ini, sebanyak 25 tenant makanan dan minuman di lingkungan UMM dipastikan telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini tak sekadar menjadikan UMM sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), melainkan juga dipercaya memimpin kolaborasi riset halal internasional bersama kampus-kampus di Thailand dan Tiongkok. ​”Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” jelas Elfi, pada Rabu (1/6/2026). Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program zona kuliner sehat ini sejalan dengan misi kelima kampus untuk membina sivitas akademika berdasarkan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. ​Salis memproyeksikan, sistem tata kelola ekosistem pangan halal yang matang di dalam kampus ini nantinya tidak berhenti sebagai pemenuhan internal saja. UMM berkomitmen menduplikasi skema ini untuk mendongkrak kelas UMKM kuliner yang tersebar di berbagai wilayah binaan kampus. ​”Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” tutup Salis. (dan/ted)

UMM Raih Anugerah Kampus Unggulan 2026 berkat Capaian Hibah Riset Terbanyak

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Penghargaan bergengsi tersebut diraih pada kategori Penerima Program Hibah Penelitian dengan Pendanaan dan Judul Terbanyak 2026 (Bentuk Universitas/Institut) yang diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) pada 22 Juni 2026. Capaian ini semakin mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai perguruan tinggi dengan ekosistem riset yang kuat dan adaptif terhadap berbagai tantangan global. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM Dr Salahudin SIP MSi MPA menjelaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sistem pendukung riset yang dibangun secara komprehensif oleh universitas. Dukungan tersebut meliputi pendanaan internal, pendampingan penyusunan proposal sejak tingkat fakultas hingga universitas, serta klinik proposal yang dikelola secara terpusat oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). “Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” ujarnya. Selain dukungan pendanaan, UMM juga membangun ekosistem riset yang kuat melalui berbagai unit pendukung, seperti LPPM, Bursa Intelektual, KPI, serta pusat-pusat studi. Keberadaan unit-unit tersebut memungkinkan dosen memperoleh pendampingan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. Salahudin menegaskan, penelitian dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM terus menghadirkan berbagai skema pendukung agar dosen dapat menjalankan kewajiban akademiknya secara optimal. “Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya. Menurutnya, peningkatan kuantitas riset harus berjalan seiring dengan kualitas dan manfaatnya bagi masyarakat. Untuk memastikan riset benar-benar berdampak, UMM membentuk klaster penelitian dan pengabdian unggulan serta memetakan wilayah sasaran berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan di lapangan. “Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelasnya. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam setiap program hibah di UMM. Salahudin mengatakan, universitas mewajibkan setiap kegiatan penelitian dan pengabdian melibatkan mahasiswa, mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi, poster ilmiah, maupun luaran akademik lainnya. Ke depan, UMM berkomitmen terus meningkatkan capaian riset dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Dosen muda maupun dosen senior akan terus didorong aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jumlah penelitian, tetapi juga kualitas serta dampaknya dalam memberikan perubahan bagi masyarakat. (Faqih/AS)