SAMAKARYA 2026, Ilmu Komunikasi UMM Pamerkan Ratusan Karya Praktikum Mahasiswa

pwmu.co – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar SAMAKARYA 2026 dengan memamerkan ratusan karya hasil praktikum mahasiswa di Dome Utara UMM pada 29–30 Juni 2026.Mengusung tema “Beragam Akar, Tumbuh Bersama”, pameran tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan portofolio profesional sebagai hasil implementasi pembelajaran berbasis praktik. Di tengah tuntutan industri kreatif yang semakin mengutamakan portofolio dibandingkan sekadar nilai akademik, SAMAKARYA menjadi bukti kesiapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dalam membangun kompetensi profesional sejak masih menempuh pendidikan. SAMAKARYA menghadirkan karya dari berbagai peminatan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, mulai dari Audio Visual, Public Relations, Jurnalistik, Fotografi, Komunikasi Grafis, hingga Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC). Tidak hanya menampilkan karya, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai agenda interaktif, seperti gelar wicara inspiratif, workshop podcast bersama Amazing Malang, kelas event organizer bersama Radar Malang, hingga Bioskop Keliling yang menayangkan film-film karya mahasiswa pada malam penutupan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan implementasi nyata kurikulum Outcome Based Education (OBE) yang diterapkan di lingkungan kampus. Menurutnya, setiap mata kuliah tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai capaian pembelajaran. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil perkuliahan maupun praktikum dalam rangka OBE. Karena kurikulum kami menuntut setiap mata kuliah menghasilkan karya, maka karya-karya itulah yang kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi sekaligus menjadi gambaran bagi calon mahasiswa mengenai proses pembelajaran di Ilmu Komunikasi UMM,” urai Novin. Ia menambahkan, SAMAKARYA akan terus dikembangkan agar menjangkau masyarakat yang lebih luas. “Ini bukan kegiatan tahunan, tetapi setiap semester. Untuk penyelenggaraan kali ini kami masih fokus di lingkungan kampus agar mahasiswa UMM lebih mengenalnya terlebih dahulu. Ke depan, kami ingin mengeksplorasi penyelenggaraan di ruang publik Kota Malang agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya. Antusiasme pengunjung terlihat sepanjang penyelenggaraan pameran. Salah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Fahra Anissa Putri Murtado, menilai SAMAKARYA tidak hanya menghadirkan karya kreatif, tetapi juga pengalaman belajar yang interaktif. “Kesannya seru, banyak tantangan, terus membuat otak semangat. Semoga ke depannya acaranya semakin ramai, semakin bagus, semakin meriah, dan makin banyak kegiatannya,” pungkasnya. Menurut Fahra, kehadiran berbagai stan interaktif menjadikan SAMAKARYA bukan sekadar ajang pameran karya, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan mahasiswa, calon mahasiswa, dan masyarakat untuk melihat secara langsung kualitas pembelajaran kreatif di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Mahasiswa UMM Luncurkan Empat Media Digital Baru

MALANG POST- Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan empat media digital baru dalam ajang Communication Journalism Exhibition and Talkshow (Komjest 2026). malangpost – Pameran karya dan peluncuran portal berita yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Jumat (26/6/2026) ini menjadi wujud nyata komitmen UMM sebagai Kampus Berdampak yang konsisten mencetak jurnalis profesional di era modern. Empat portal media digital yang diluncurkan memiliki fokus dan segmentasi yang spesifik. Keempatnya meliputi natera.id yang secara khusus menyoroti isu lingkungan, soravista.id yang berfokus pada ulasan dan rekomendasi destinasi wisata alam, zheltymedia.id dengan sajian edukasi kesehatan digital serta clickbites.id yang merangkum informasi menarik di ranah kuliner. Kehadiran portal-portal ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak sebatas belajar memproduksi teks berita, tetapi telah mampu membangun identitas media dengan target pembaca dan nilai editorial yang terarah. Selain peluncuran media, Komjest 2026 turut menyajikan forum bincang bersama para Pimpinan Redaksi (Pimred) dari setiap media garapan mahasiswa. Masing-masing Pimred membedah secara langsung karakter media mereka, mulai dari strategi segmentasi audiens, optimalisasi konten, hingga isu strategis redaksional. Wawasan mahasiswa juga makin diperkaya melalui sesi talkshow bertema “Transformasi Media & Jurnalisme: Dari Media Konvensional ke Media Modern”. Ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran pola konsumsi informasi dan strategi distribusi konten silang platform. Menanggapi pameran karya ini, Dosen Praktikum Jurnalisme Data dan Dokumenter (JR) 3 UMM, Dr. Nurudin, M.Si., menjelaskan bahwa dinamika perkembangan industri media digital menuntut mahasiswa memiliki kompetensi ganda yang melampaui kemampuan dasar menulis berita semata. “Praktikum JR 3 ini fokus pada optimasi media digital. Mahasiswa memanfaatkan Instagram, konten audio visual, hingga perangkat analitik seperti Google Analytic untuk melihat jangkauannya terhadap masyarakat, sehingga mereka tahu cara mengevaluasi efektivitas informasinya,” tegasnya. Apresiasi tinggi juga diberikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. Ia menyebut bahwa terselenggaranya pameran ini merupakan indikator keberhasilan dari capaian pembelajaran berbasis luaran (outcome-based education) yang diadopsi dalam kurikulum praktikum jurnalistik. “Saya bangga karena ini momentum penting mahasiswa mampu memamerkan karya dan menyelenggarakan acara ini dengan baik. Semoga kegiatan ini bisa diteruskan setiap semester hingga mampu melahirkan media baru yang dikelola secara profesional,” ungkapnya. Melalui rangkaian Komjest 2026, UMM membuktikan perannya sebagai institusi pendidikan yang proaktif memberikan dampak. Pengalaman mengelola media massa secara utuh dari pemetaan isu, peliputan, eksekusi redaksional, hingga analisis metrik menjadi modal berharga bagi lulusan. Pesan utamanya jelas: jurnalis masa depan bukan lagi sekadar pelapor fakta, melainkan kreator informasi yang adaptif, melek data, serta mampu membawa perubahan positif dan mengedukasi masyarakat luas melalui jurnalisme berkualitas. (*/ M. Abd. Rachman. Rozzi)

Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila: Seminar Nasional UMM Menjaga Identitas Bangsa

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Gema Pancasila bertajuk “Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila dalam Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Acara ini digagas oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Auditorium GKB V, Kamis (25/6/2026). Selain menjadi ruang dialektika akademik, agenda ini juga menjadi momen perayaan atas diraihnya akreditasi Unggul oleh Prodi PPKn UMM. Rangkaian acara turut diisi dengan peluncuran jurnal resmi Civic Hukum serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kelembagaan dan penelitian antara FPSH UMM dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Terkait penguatan nilai luhur bangsa, Dr. Mariatul Kiptiah, M.Pd selaku pemateri menegaskan bahwa keberagaman Indonesia yang mencakup sekitar 1.340 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah harus dipandang sebagai kekuatan dan modal sosial, bukan ancaman pemecah belah bangsa. “Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Namun, keragaman ini justru menjadi modal utama, bukan ancaman. Kita harus bangga dengan Pancasila dan tidak boleh menjadi pihak yang justru melemahkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” ujarnya. Lebih lanjut, Mariatul menjelaskan bahwa Pancasila harus dipraktikkan secara nyata melalui kearifan lokal, seperti gotong royong maupun musyawarah adat. Nilai-nilai yang aplikatif dan holistik ini adalah fondasi peradaban masa depan bangsa dalam menjawab krisis ekologi hingga kohesi sosial yang melanda dunia. “Kearifan lokal bukan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan fondasi masa depan yang harus dirawat. Ketika dunia mencari solusi atas krisis identitas, krisis ekologi, dan kohesi sosial, Indonesia sesungguhnya telah memiliki jawabannya melalui kearifan ribuan komunitas adat,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.M., menilai bahwa lestarinya kearifan lokal memiliki ikatan yang tidak terpisahkan dengan eksistensi Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, pendidikan tinggi melalui Prodi PPKn punya tanggung jawab besar untuk mewariskan keragaman tersebut kepada generasi muda di tengah perubahan zaman yang serba cepat. “Saya tidak ingin Indonesia kehilangan keindonesiaannya. Jika Bhinneka Tunggal Ika hilang, maka hilang pula Indonesia. Karena itu, kearifan lokal harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya. Pada akhirnya, melestarikan kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila bukanlah tugas yang bisa dilakukan sendirian atau sekadar menjadi teori di ruang kelas. Transformasi kurikulum pendidikan, digitalisasi kebudayaan, serta kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Langkah strategis ini menjadi pesan penting agar identitas keindonesiaan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan terus hidup dan relevan sebagai karakter generasi penerus di masa depan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Sekolah Libur, Harga Pangan Turun: Pelajaran Ekonomi dari MBG

kompas.com – LIBUR sekolah tahun ini menghadirkan fenomena ekonomi menarik. Bersamaan dengan berhentinya sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa liburan, masyarakat di berbagai daerah mulai menikmati turunnya harga sejumlah bahan pangan, terutama telur ayam, cabai, dan beberapa komoditas hortikultura. Sebagian masyarakat menyambut baik karena biaya belanja rumah tangga menjadi lebih ringan. Namun, di balik kabar menggembirakan tersebut, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah turunnya harga pangan merupakan kabar baik bagi perekonomian nasional? Program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah berdasarkan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN). Pemerintah memperkirakan penghentian sementara tersebut dapat menghemat anggaran sekitar Rp 3 triliun. Secara administratif, kebijakan tersebut masuk akal karena sasaran utama program, yaitu siswa sekolah, memang sedang tidak belajar. Namun, pasar ternyata memberikan respons menarik. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada akhir Juni 2026, menunjukkan harga cabai rawit merah turun sekitar 3,99 persen, cabai rawit hijau turun 3,62 persen, cabai merah besar turun 3,14 persen, cabai merah keriting turun 2,28 persen. Sedangkan telur ayam ras turun menjadi sekitar Rp 29.750 per kilogram, lebih rendah dibandingkan pertengahan Juni yang masih berada di kisaran Rp 30.200 per kilogram. Penurunan harga tersebut memang tidak seluruhnya disebabkan berhentinya MBG. Melemahnya permintaan selama libur sekolah diyakini ikut memberikan kontribusi terhadap perubahan harga di pasar. Fenomena tersebut sesungguhnya memberikan pelajaran penting mengenai konsep institutional demand, yaitu permintaan yang berasal dari lembaga besar seperti pemerintah, sekolah, rumah sakit, maupun industri. Berbeda dengan permintaan rumah tangga yang berubah setiap hari, permintaan institusional cenderung stabil, terencana, dan mampu menyerap produksi dalam jumlah besar. Dalam ilmu ekonomi pertanian, keberadaan pembeli institusional sering menjadi penyangga harga hasil pertanian. Ketika pembeli besar berhenti membeli, walaupun hanya sementara, pasar segera merasakan perubahan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Di sinilah MBG mulai memperlihatkan fungsi ekonominya. Selama ini, publik lebih banyak melihat MBG sebagai program bantuan gizi. Padahal, dari perspektif ekonomi, MBG mulai berkembang menjadi mesin penggerak permintaan pangan nasional. Jutaan porsi makanan yang diproduksi setiap hari membutuhkan telur, ayam, sayuran, buah, beras, susu, ikan, dan berbagai bahan pangan lainnya. Seluruh komoditas tersebut berasal dari petani, peternak, nelayan, maupun pelaku UMKM pangan. Misalnya, apabila kebutuhan MBG suatu saat mencapai sekitar 15 juta butir telur per hari, maka diperlukan hampir 940 ton telur setiap hari. Apabila program berhenti selama 20 hari masa liburan, maka pasar kehilangan permintaan sekitar 18.700 ton telur. Dengan asumsi harga telur turun sekitar Rp 450 per kilogram, maka hanya akibat penurunan harga tersebut potensi kehilangan nilai ekonomi di tingkat peternak dapat mencapai lebih dari Rp 8 miliar setiap hari. Angka tersebut belum memasukkan berkurangnya volume penjualan, biaya penyimpanan, maupun penurunan pendapatan pedagang dan distributor. Efek yang sama juga dapat terjadi pada cabai, ayam, sayuran, buah-buahan, bahkan beras. Ketika permintaan institusional melemah, harga cenderung turun. Sementara produksi pertanian tidak dapat dihentikan secara mendadak. Ayam tetap bertelur, cabai tetap dipanen, dan sayuran tetap harus dipetik. Akibatnya, kelebihan pasokan segera menekan harga pasar. Fenomena ini dikenal sebagai demand shock, yaitu guncangan permintaan yang mengubah keseimbangan pasar dalam waktu singkat. Ironisnya, masyarakat kota sering menganggap turunnya harga pangan selalu merupakan kabar baik. Padahal, bagi petani dan peternak, harga yang terlalu rendah justru berarti menurunnya pendapatan. Murahnya harga pangan tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan nasional. Dalam ekonomi pertanian terdapat prinsip bahwa harga yang baik bukanlah harga yang paling murah, melainkan harga yang adil. Harga harus cukup tinggi agar petani tetap memperoleh keuntungan dan bersedia terus berproduksi, tetapi juga cukup terjangkau bagi konsumen. Di sinilah pemerintah memiliki fungsi sebagai stabilisator pasar. Keberadaan MBG sebenarnya dapat menjadi salah satu instrumen stabilisasi tersebut apabila dikelola secara benar. Program MBG bukan sekadar membagikan makanan kepada siswa, tetapi juga dapat menjadi pasar permanen bagi petani dan peternak lokal. Permintaan yang stabil akan mendorong investasi, meningkatkan produksi, memperkuat UMKM pangan, serta menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan. Efek berantai (multiplier effect) tersebut jauh lebih besar dibandingkan nilai makanan yang diterima setiap siswa. Sayangnya, manfaat tersebut baru akan optimal apabila pengadaan bahan baku benar-benar berpihak kepada produsen lokal. Bila rantai distribusi terlalu panjang atau dikuasai oleh segelintir pemasok besar, maka manfaat ekonomi akan banyak dinikmati perantara, bukan petani. Pelajaran utama dari turunnya harga sembako selama libur sekolah bukanlah bahwa MBG gagal ataupun berhasil. Fenomena tersebut justru menunjukkan bahwa MBG mulai memiliki pengaruh terhadap dinamika permintaan pangan nasional. Penghentian sementara MBG berdampak mengurangi aktivitas ekonomi peternak, petani, pedagang, pengangkut, hingga pelaku UMKM yang selama ini memasok kebutuhan ribuan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). MBG berpotensi menjadi instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus instrumen stabilisasi pasar pangan nasional. Program ini mampu memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak, menjaga harga komoditas strategis tetap stabil, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, memperkuat ketahanan pangan, serta pada saat yang sama memperbaiki kualitas gizi generasi muda Indonesia. Libur sekolah telah memberikan pelajaran berharga. Pasar pangan Indonesia ternyata cukup sensitif terhadap perubahan permintaan institusional. Karena itu, MBG seharusnya dipandang bukan hanya sebagai program bantuan sosial, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia sekaligus pembangunan ekonomi. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan berpihak kepada produsen lokal, MBG tidak hanya memberi makan jutaan anak Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya sistem pangan yang lebih kuat, ekonomi pedesaan lebih hidup, dan ketahanan nasional yang lebih kokoh. Di sinilah nilai strategis MBG sesungguhnya: bukan sekadar mengenyangkan, melainkan juga menggerakkan roda perekonomian bangsa.

UMM Jadi Pilot Project Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat Pertama di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di Kota Malang.Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi UMM dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia Perwakilan Malang. Dalam asesmen lapangan yang dilaksanakan Selasa (30/6/2026), UMM berhasil memenuhi sekitar 95 persen persyaratan kelayakan Zona KHAS. Penilaian dilakukan di tiga lokasi, yakni Kantin RS UMM, Kantin Asri 1, dan Kantin Asri 2. Proses asesmen dipimpin asesor KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, S.TP., M.Kes. Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar tenant kuliner di lingkungan UMM telah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, mulai dari legalitas usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi penjamah makanan. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., menjelaskan bahwa pengembangan Zona KHAS merupakan langkah strategis kampus dalam menyambut penerapan kewajiban sertifikasi halal secara nasional pada Oktober 2026. Saat ini, sebanyak 25 tenant kuliner di lingkungan UMM telah mengantongi sertifikat halal. Selain itu, UMM juga dipercaya menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ekosistem halal, termasuk memimpin kolaborasi riset bersama sejumlah perguruan tinggi di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program Zona KHAS selaras dengan misi universitas dalam membangun lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Ia berharap konsep kawasan kuliner halal tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memberdayakan pelaku UMKM di desa-desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Jadi Pertama di Kota Malang: Siap Wujudkan Ekosistem Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di wilayah Kota Malang. Penunjukkan ini membuat UMM turut menggandeng Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang, untuk menunjukkan kesiapan maksimalnya. Keberhasilan ini dibuktikan dengan raihan 95 persen syarat kelayakan dalam tahap asesmen lapangan secara ketat yang menyasar tiga lokasi utama, yakni Kantin RS UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2 pada Selasa (30/6/2026). Proses audit kelayakan ini dipimpin langsung oleh asesor ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes. Berdasarkan evaluasi lapangan, ia menyatakan bahwa mayoritas tenant kuliner di lingkungan kampus telah memenuhi kelengkapan administrasi yang sangat krusial. Perizinan usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan penjamah makanan dinilai berstatus sangat memuaskan, sehingga pihak pengelola kampus hanya perlu menyempurnakan beberapa sarana pendukung teknis. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ungkap Husnul Yusmiati. Merespons pencapaian tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa inisiasi ini merupakan langkah taktis kampus dalam menyambut regulasi nasional kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Tercatat sebanyak 25 tenant kuliner di UMM telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini turut menjadikan Kampus Putih sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bahkan dipercaya memimpin kolaborasi riset pengembangan ekosistem halal bersama institusi pendidikan di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” ujar Elfi. Dukungan penuh turut disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai bahwa program kawasan kuliner halal dan sehat ini beririsan langsung dengan misi kelima universitas untuk menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Tidak berhenti di dalam area kampus, ia menargetkan agar tata kelola ekosistem Zona KHAS ini dapat diduplikasi secara riil untuk memberdayakan UMKM kuliner di berbagai wilayah desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” tegas Salis. Dokumentasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) dari UMM (dok.UMM):

Zona KHAS UMM Menjadi yang Pertama di Kota Malang

Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi ditunjuk sebagai proyek percontohan (pilot project) kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di Kota Malang. Menggandeng Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang, UMM berhasil menunjukkan kesiapan maksimalnya. Hal ini dibuktikan dengan raihan 95 persen syarat kelayakan dalam tahap asesmen lapangan secara ketat yang menyasar tiga lokasi utama, yakni Kantin RS UMM, Kantin Asri 1, dan Kantin Asri 2 pada Selasa (30/06/2026). Asesor ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, M.Kes. memimpim secara langsung proses audit kelayakan ini. tersebut. Berdasarkan evaluasi lapangan, ia menyatakan bahwa mayoritas mitra usaha (tenant) kuliner di lingkungan kampus telah memenuhi kelengkapan administrasi yang sangat krusial. Perizinan usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan penjamah makanan zona KHAS berstatus sangat memuaskan. Oleh karena itu, pihak pengelola kampus hanya perlu menyempurnakan beberapa sarana pendukung teknis. Baca Juga:  Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik. Dengan demikian, UMM siap untuk mendapat rekomendasi kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujar Nur Husnul Yusmiati. Rujukan Utama Zona KHAS Merespons pencapaian tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menyampaikan penjelasan. Menurutnya, inisiasi ini merupakan langkah taktis kampus dalam menyambut regulasi nasional kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Tim Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM bersama dengan Tim Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang (foto: Humas UMM) Tercatat sebanyak 25 mitra usaha kuliner di UMM telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini turut menjadikan Kampus Putih sebagai rujukan utama zona KHAS di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Tidak hanya itu, mereka juga mendapat kepercayaan memimpin kolaborasi riset pengembangan ekosistem halal bersama institusi pendidikan di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka. Maka dari itu jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Pemberdayaan UMKM Kuliner Terakhir, dukungan penuh turut disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai bahwa program kawasan kuliner halal dan sehat zona KHAS ini beririsan langsung dengan misi kelima universitas. Yakni untuk menyelenggarakan pembinaan civitas academica berlandaskan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Tidak berhenti di dalam area kampus, ia menargetkan agar tata kelola ekosistem Zona KHAS ini dapat terduplikasi secara riil. Tujuannya, untuk memberdayakan UMKM kuliner di berbagai wilayah desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata. Terutama ke daerah-daerah binaan universitas, seperti Kampung Warna-Warni,” pungkas Salis. (#) Jurnalis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Abizar Purnama

Berkat Ekosistem Energi Terbarukan, Kini Kemendikdasmen Kembali Percaya UMM Sebagai Mitra Bina Talenta Siswa

Implementasi nyata Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mengukuhkan posisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai pelopor ekosistem kampus hijau. Konsistensi dalam transisi energi inilah yang kembali menarik kepercayaan untuk tahun kedua secara berturut-turut dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) sebagai mitra penyelenggara Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Ajang pembinaan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini digelar pada 1-7 Juli 2026. Ini juga mampu memacu inovasi pelajar unggulan nasional berbekal praktik langsung pada ekosistem EBT kampus putih. Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menjelaskan bahwa penunjukan tahun kedua ini diraih usai menyisihkan proposal dari ratusan perguruan tinggi lainnya. UMM bahkan mendapatkan kuota istimewa dengan membina 40 peserta terpilih dari 1.000 peserta nasional, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan rata-rata kampus mitra. Selama masa karantina sepekan, seluruh peserta ditantang merampungkan sepuluh modul proyek. Ia menegaskan, keunggulan UMM juga terletak pada komitmen nyata untuk memberikan jaminan legalitas agar inovasi peserta memiliki perlindungan kekayaan intelektual yang jelas. “Karya inovatif buatan adik-adik tidak sekadar diapresiasi dengan selembar sertifikat layaknya di kampus lain, melainkan langsung kami fasilitasi agar segera memperoleh Hak Cipta resmi,” tegas Dyah. Langkah strategis ini sejalan dengan komitmen pimpinan universitas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menuturkan bahwa pembinaan bagi peserta yang mayoritas disiapkan untuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) ini tidak sekadar mengukur kemampuan kognitif, tetapi juga menanamkan karakter tangguh dan nilai keislaman. Sebagai wujud implementasi nyata, para siswa diajak meninjau langsung operasional teknologi ramah lingkungan di kampus, mencakup pemanfaatan PLTMH hingga instalasi panel surya di atas gedung-gedung perkuliahan. “Berbagai teori sains yang dipelajari di bangku sekolah kini bisa disaksikan langsung penerapannya melalui inovasi energi terbarukan milik Direktorat Saintek UMM,” urai In’am. Daya juang dan kreativitas siswa akan terus diuji hingga puncak BTI 2026 melalui ajang hackathon dan pameran inovasi teknologi pada 6 Juli mendatang. Pameran karya yang akan disaksikan langsung oleh guru dan pelajar se-Malang Raya ini menjadi panggung pembuktian kecerdasan talenta muda. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras peserta, In’am memastikan bahwa UMM telah menyiapkan penghargaan istimewa guna mempermudah akses mereka menuju pendidikan tinggi. “Kami secara khusus telah menyediakan tiket emas berupa jalur beasiswa prestasi bagi kalian yang berminat melanjutkan pendidikan di berbagai program studi unggulan Kampus Putih,” pungkasnya. Kepercayaan yang diberikan Puspresnas untuk kedua kalinya ini mengukuhkan peran vital UMM dalam menjembatani potensi saintis muda dengan ekosistem riset terapan. Kolaborasi apik antara fasilitas teknologi ramah lingkungan, apresiasi karya cipta, hingga jaminan beasiswa pendidikan diharapkan menjadi fondasi kuat. Ke depan, para talenta belia ini tidak hanya siap berkompetisi di kancah nasional, melainkan juga tumbuh menjadi inovator tangguh yang mampu memberikan solusi konkret bagi kemajuan bangsa.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman