Lulus Program BIPA UMM, Puluhan Mahasiswa Asing Siap Jadi Duta Bahasa Indonesia

Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Closing Ceremony yang digelar di Aula GKB IV Kampus Putih UMM pada Kamis (9/7) ini, menandai selesainya masa pembekalan bahasa dan budaya sebelum mereka terjun langsung memulai studi di program studi masing-masing. Selama satu tahun penuh, para mahasiswa asing ini tidak hanya digembleng terkait tata bahasa dan komunikasi, tetapi juga diajak menyelami kebiasaan serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia. Hasil dari inkubasi budaya tersebut tercermin kuat dalam acara penutupan yang berlangsung hangat. Para mahasiswa secara apik menampilkan pertunjukan alat musik tradisional angklung, pembacaan puisi, hingga penyampaian kesan pesan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih. Pengalaman belajar yang komprehensif ini dirancang sebagai bekal krusial bagi mereka untuk beradaptasi dengan ritme pergaulan sosial dan lingkungan akademik di UMM. Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa kelulusan dari Program BIPA ini bukanlah batas akhir dari proses belajar, melainkan fondasi utama untuk mengikuti perkuliahan reguler. Ia menjelaskan, penguasaan bahasa dan pemahaman budaya lokal yang telah dikuasai akan menjadi alat bantu adaptasi yang vital. Lebih jauh, bekal ini diharapkan terus melekat dan bermanfaat ketika mereka telah lulus dan kembali ke negara asalnya kelak. “Selama satu tahun ini Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir dari perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing. Ceritakan kepada masyarakat di negara Anda tentang Indonesia dan terus kembangkan kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh di UMM,” ujarnya. Dampak positif dan mendalam dari program ini dirasakan secara langsung oleh para peserta, salah satunya adalah Hamdan Cheloh, mahasiswa asal Thailand. Ia menuturkan bahwa BIPA memberikannya pengalaman belajar berharga yang melampaui sekadar penguasaan kosakata dan keterampilan menulis. Baginya, program ini telah membuka wawasan baru tentang pentingnya merawat nilai toleransi dan bagaimana berkolaborasi lintas budaya dengan individu dari berbagai negara. “Saya sangat bersyukur dan senang bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang. Terima kasih kepada seluruh pengajar BIPA yang selalu sabar membimbing. Saya juga bangga melihat teman-teman internasional yang kini dapat berbicara bahasa Indonesia karena kami menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hamdan. Keberhasilan penyelenggaraan Program BIPA ini menjadi bukti konkret komitmen UMM dalam memberikan pengalaman pendidikan inklusif bertaraf internasional. Kampus Putih membuktikan diri tidak sekadar sebagai tempat untuk menimba ilmu secara akademis, tetapi juga menjadi wadah yang membentuk kesiapan sosial dan budaya bagi setiap pelajarnya. Harapannya, para lulusan BIPA ini kelak tidak hanya sukses meraih gelar sarjana, melainkan juga bertransformasi menjadi jembatan diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan wajah ramah dan keberagaman Indonesia ke kancah global.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Hindari Sindrom Sarjana Kertas, J.S. Khairen Ajak Mahasiswa UMM Perkaya Keterampilan

Menjawab keresahan lulusan perguruan tinggi yang kerap minim keterampilan praktis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan penulis novel fenomenal “Kami (Bukan) Sarjana Kertas”, J.S. Khairen. Acara bincang santai bertajuk “Nyore Sastra” yang digelar secara outdoor di area Helipad UMM pada Kamis (9/7) ini, mengupas tuntas fenomena jebakan formalitas akademik sekaligus membagikan kiat sukses melahirkan karya tulis yang memikat para pembaca. Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Bang Khairen ini menyoroti keresahannya terhadap sistem pendidikan dan tingginya ekspektasi sosial saat ini. Ia menilai banyak mahasiswa tertekan oleh besarnya tuntutan orang tua maupun ekosistem kampus yang kaku. Hal ini berdampak buruk pada lahirnya generasi yang sekadar memegang ijazah kelulusan, namun kebingungan menentukan arah hidup saat harus terjun langsung ke tengah masyarakat. “Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” ungkapnya. Guna menghindari jebakan formalitas akademik tersebut, Khairen mengajak mahasiswa untuk terus membekali diri dengan ragam keterampilan di luar disiplin ilmu utama mereka, salah satunya adalah literasi. Ia secara khusus membagikan tips konkret dalam menulis buku bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman, hingga trik meramu penokohan. Ia menyarankan agar setiap elemen dalam cerita, termasuk nama karakter, dikonsep secara matang dan bermakna. “Pemberian nama tokoh harus sesuai dengan sifat, pesan, atau makna yang dibawa oleh karakter tersebut, sehingga pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat,” urainya memberikan contoh praktis penulisan. Khairen juga mewanti-wanti penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan tunggal (full-time writer). Menurutnya, seorang penulis wajib memiliki modal finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang memadai agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna. Antusiasme peserta pun semakin terlihat di akhir sesi bincang, di mana para mahasiswa secara serentak menuliskan harapan serta definisi “Bukan Sarjana Kertas” di selembar kertas dan menancapkannya pada papan styrofoam raksasa. Merespons fenomena sarjana kertas tersebut dari sudut pandang akademis, penanggung jawab kegiatan sekaligus pakar sosiolinguistik, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa esensi gelar kesarjanaan menuntut pembuktian kompetensi yang nyata. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM itu berharap, diskusi santai berkonsep “Nyore Sastra” ini mampu memantik kesadaran kolektif mahasiswa bahwa ijazah wajib dibarengi kualitas dan keterampilan diri di lapangan. “Sarjana itu tidak cukup, harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” pesannya. Melalui giat edukatif “Nyore Sastra” ini, mahasiswa diingatkan kembali bahwa esensi perkuliahan bukan sekadar ajang berburu nilai akademik dan selembar kertas ijazah kelulusan. Dibutuhkan kemauan keras untuk mengeksplorasi minat, memperluas jaringan sosial, dan mengasah keterampilan praktis di luar ruang kelas agar lulusan kelak mampu beradaptasi, berinovasi, dan terhindar dari jerat sindrom sarjana kertas di tengah ketatnya persaingan dunia kerja profesional.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pelajar BTI 2026 Kembangkan Prototipe PLTMH Berbasis IoT di UMM, Siap Dukung Listrik Daerah 3T

POJOKSATU.id – Inovasi di bidang energi terbarukan kembali lahir dari tangan generasi muda Indonesia. Kali ini datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Melalui ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dikembangkan UMM, para peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 berhasil merancang prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT). Purwarupa tersebut dikembangkan sebagai solusi untuk membantu pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Tidak hanya menghasilkan energi ramah lingkungan, teknologi ini juga dilengkapi sistem pemantauan digital yang mampu mendeteksi berbagai kondisi secara real-time. Pengalaman tersebut diperoleh para pelajar saat mengikuti pemusatan BTI 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang pada 1-7 Juli 2026. Program binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu mempertemukan peserta dengan dosen dan praktisi di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Belajar Langsung di Ekosistem Energi Terbarukan UMM Salah satu peserta, Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Melalui kunjungan ke PLTMH binaan UMM di Sumber Maron, ia dapat melihat secara langsung bagaimana pembangkit listrik tenaga mikrohidro bekerja memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi yang berkelanjutan. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka wawasan baru mengenai penerapan energi baru terbarukan yang selama ini hanya dipelajari melalui teori. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Para pakar dari UMM hadir selama workshop dan memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata. Kegiatan ini untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” kata Luthfi, Senin, 6 Juli 2026. Pengalaman lapangan itu kemudian menjadi inspirasi bagi dirinya bersama tim untuk menghadirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan energi masyarakat. Lahirkan Prototipe PLTMH Berbasis IoT Berbekal hasil observasi di lapangan, Luthfi dan tim merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!” Inovasi tersebut lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan energi dunia, sementara penggunaan bahan bakar fosil masih mendominasi sistem energi. Tim memilih memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi utama karena dinilai lebih ramah lingkungan serta mampu menghasilkan listrik tanpa emisi sebesar pembangkit berbahan bakar fosil. Tidak hanya mengembangkan sistem mekanik, mereka juga mengintegrasikan teknologi digital berbasis IoT agar pembangkit dapat beroperasi secara lebih efisien dan aman. Mampu Pantau Debit Air hingga Potensi Bencana Dalam prototipe tersebut, sensor berbasis Internet of Things dipasang untuk memantau berbagai parameter penting secara berkelanjutan. Sistem mampu memonitor stabilitas listrik, mengukur debit air, hingga mendeteksi potensi banjir bandang yang dapat mengganggu operasional pembangkit. Selain itu, teknologi tersebut juga dapat menganalisis kemungkinan gangguan pada instalasi sehingga kerusakan dapat diketahui lebih cepat. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh.  Jadi, inovasi ini memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, dan memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” ujar Luthfi. Dengan kemampuan tersebut, purwarupa PLTMH berbasis IoT diharapkan dapat menjadi salah satu solusi penyediaan energi listrik di wilayah 3T. UMM Dorong Pelajar Menghasilkan Solusi Nyata Bagi UMM, keberhasilan peserta menghasilkan purwarupa bukan sekadar pencapaian dalam sebuah program pembinaan. Ketua Pelaksana BTI UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengatakan kampus berkomitmen menyediakan ruang belajar yang mampu mempertemukan teori dengan praktik secara langsung. Menurutnya, pelajar membutuhkan ekosistem riset yang memungkinkan ide berkembang hingga menjadi inovasi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat. Karena itu, UMM membuka akses terhadap laboratorium, fasilitas energi terbarukan, serta pendampingan dosen selama proses pengembangan inovasi berlangsung. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar.  Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” tegas Dyah. Pengembangan prototipe PLTMH berbasis IoT menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari ruang laboratorium, tetapi juga berawal dari pengalaman langsung melihat persoalan di lapangan. Melalui ekosistem Energi Baru Terbarukan yang dibangun UMM, para pelajar memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan STEM dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam penyediaan energi yang berkelanjutan. Dari aliran sungai di Sumber Maron, para peserta BTI 2026 tidak hanya mempelajari cara kerja pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Peserta juga membawa pulang keyakinan bahwa teknologi sederhana yang dikembangkan dengan kreativitas dan kolaborasi mampu menjadi solusi bagi pemerataan energi nasional. Dengan terus disempurnakan, inovasi tersebut berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di daerah-daerah yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan akses listrik.

Kepala BPOM Ingatkan Wisudawan UMM: Jangan Sampai AI Mengendalikan Manusia

pwmu.co –Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) dan inovasi bioteknologi menuntut manusia tetap menjadi pengendali utama melalui kebijaksanaan dan empati. Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7/2026).Dalam orasi bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership”, Taruna Ikrar menegaskan bahwa AI merupakan hasil sintesis kecerdasan manusia, tetapi tidak memiliki kemampuan berempati. Menurut Taruna, kecanggihan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali terhadap perkembangan teknologi. “AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Oleh karena itu, AI harus dikontrol oleh manusia yang punya kapasitas emosional dan wisdom,” tegasnya. Ia menilai kecerdasan buatan bekerja berdasarkan algoritma, sehingga tetap membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Selain membahas AI, Taruna juga memaparkan perkembangan inovasi di bidang kefarmasian yang mulai mengarah pada living therapy, yakni terapi menggunakan sel hidup untuk mengatasi penyakit bawaan maupun kerusakan saraf akibat stroke. Untuk mempercepat pengembangan inovasi tersebut, BPOM menerapkan konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government). Melalui konsep itu, riset perguruan tinggi, dukungan industri, dan regulasi pemerintah dipadukan dalam satu ekosistem inovasi. “Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer technology dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” jelas pakar neurosains tersebut. Apresiasi terhadap perkembangan UMM juga disampaikan Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Menurutnya, UMM menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang berhasil memadukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan praktik bisnis tanpa meninggalkan kualitas akademik. “Saya salut dengan seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Ada banyak perguruan tinggi Muhammadiyah, tapi yang berkembang pesat memadukan tempat sains dan tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM ini tidak banyak,” ungkapnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengatakan kampus terus melakukan transformasi melalui program Center of Excellence (CoE) serta penguatan kompetensi digital mahasiswa. Ia menegaskan, kerja sama lintas sektor, termasuk dengan BPOM, akan semakin memperkuat ekosistem inovasi di lingkungan kampus. “Ke depan, UMM akan dilandasi tiga fondasi utama yang kami sebut Excellent Solution Center, yaitu pengembangan Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai Talent Incubator Pool,” terangnya. Menurut Nazaruddin, wisuda bukan sekadar seremoni akademik, tetapi menjadi awal pengabdian para lulusan untuk menghadirkan solusi di tengah berbagai tantangan zaman melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki.

BPOM Riset Vaksin mRNA Cegah Demam Berdarah

Malang, Beritasatu.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong industri besar farmasi melakukan transfer teknologi untuk kebutuhan riset vaksin mRNA (messenger RNA) pencegahan demam berdarah. BPOM menyebut jika riset vaksin ini terwujud, maka bangsa Indonesia akan memiliki vaksin mRNA pertama kali di dunia. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)  Taruna Ikrar mengatakan untuk mempercepat inovasi kesehatan tersebut, pihaknya menggandeng perguruan tinggi dan industri farmasi. “Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer teknologi dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” kata Taruna Ikrar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7/2026). Menurutnya untuk menjembatani percepatan inovasi kesehatan tersebut, BPOM secara strategis mengusung konsep kolaborasi ABG (academia, business, government). Apalagi saat ini, kata dia, realita inovasi kefarmasian mengarah pada living therapy, di mana penyakit bawaan hingga kerusakan saraf akibat stroke kelak dapat disembuhkan melalui terapi sel hidup. “Konsep ini dirancang untuk mengintegrasikan riset murni dari kampus, kelengkapan fasilitas industri, serta kepastian regulasi dari pemerintah,” tandasnya. Sementara itu Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menambahkan kolaborasi lintas sektoral dengan berbagai pihak, termasuk BPOM akan semakin memperkuat ekosistem solusi komprehensif di lingkungan kampus. UMM juga akan mengembangkan service excellence hub, industrial and business partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai talent incubator pool. “Ke depan UMM terus melakukan transformasi masif melalui program center of eExcellence (CoE) serta pembekalan digital dasar bagi mahasiswa serta menjadikan kampus ini sebagai talent incubator Pool,” pungkas Nazarudin.

Artificial Intelligence dan Kebijaksanaan Manusia Jadi Penentu Masa Depan

MAKLUMAT – Perkembangan Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia menjadi isu yang tak bisa lagi dipisahkan di tengah pesatnya kemajuan teknologi global. Kecerdasan buatan (AI) memang mampu mempercepat inovasi di berbagai bidang, tetapi tanpa kendali manusia yang memiliki empati dan kebijaksanaan, teknologi tersebut justru berpotensi menghadirkan ancaman baru. Pesan itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7). Dalam orasi bertajuk Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership, Taruna menegaskan bahwa Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi benar-benar memberi manfaat bagi peradaban. Menurutnya, AI merupakan hasil sintesis kemampuan otak manusia yang luar biasa. Namun, kecerdasan buatan hanya bekerja berdasarkan algoritma sehingga tidak memiliki kemampuan memahami nilai-nilai kemanusiaan. “AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi juga bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Karena itu AI harus dikontrol oleh manusia yang memiliki kapasitas emosional dan wisdom,” tegas Taruna. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh hanya mengejar kecepatan inovasi. Regulasi, etika, dan kepemimpinan manusia tetap menjadi faktor utama agar pemanfaatan AI tidak keluar dari tujuan kemanusiaan. Selain membahas AI, Taruna juga menyoroti lompatan inovasi di bidang bioteknologi dan farmasi. Menurutnya, dunia kesehatan kini memasuki era living therapy, yaitu terapi menggunakan sel hidup yang berpotensi mengobati berbagai penyakit genetik hingga kerusakan saraf akibat stroke. Untuk mempercepat lahirnya inovasi tersebut, BPOM mengembangkan model kolaborasi Academia, Business, Government (ABG). Skema ini menghubungkan hasil riset perguruan tinggi, kemampuan industri, dan dukungan regulasi pemerintah agar inovasi kesehatan dapat segera dimanfaatkan masyarakat. “Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50 ribu industri besar untuk melakukan transfer teknologi dan saling melengkapi. Salah satu hasilnya adalah riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” jelas pakar neurosains tersebut. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu berkembang menjadi produk inovatif yang memiliki dampak ekonomi maupun sosial. Pada kesempatan yang sama, Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, mengapresiasi langkah UMM yang dinilai berhasil memadukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan dunia usaha. Menurutnya, UMM menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu mengembangkan ekosistem akademik sekaligus praktik bisnis tanpa meninggalkan kualitas pendidikan. “Saya salut dengan seluruh civitas akademika UMM. Tidak banyak perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu berkembang pesat dengan memadukan tempat belajar sains sekaligus tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan kampus yang dipimpinnya terus melakukan transformasi untuk menjawab tantangan era digital melalui pengembangan Center of Excellence (CoE) dan penguatan kompetensi digital mahasiswa. Ke depan, UMM akan membangun tiga pilar utama, yakni Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta Talent Incubator Pool sebagai fondasi pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Menurut Nazaruddin, kolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk BPOM, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat. Momentum wisuda, lanjutnya, bukan sekadar seremoni akademik, melainkan awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan zaman. Pesan yang mengemuka dari forum tersebut pun jelas: kemajuan teknologi hanya akan membawa manfaat apabila Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia berjalan seimbang. Di tengah percepatan inovasi digital, empati, etika, dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi utama agar AI benar-benar menjadi alat untuk memajukan peradaban, bukan sebaliknya.

Pakar UMM: Pergantian Rezim Tak Cukup Berantas Korupsi Tanpa Reformasi Sistem Politik

MAKLUMAT — Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aan Sugiarto, menilai bahwa pergantian pemimpin nasional melalui mekanisme demokrasi belum tentu mampu menekan praktik korupsi apabila tidak diikuti pembenahan sistem politik dan tata kelola pemerintahan. Menurutnya, praktik korupsi bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi telah berkembang menjadi persoalan struktural yang dipengaruhi desain sistem politik, relasi kekuasaan, hingga mekanisme pembiayaan politik. Selama akar persoalan dalam sistem politik tidak dibenahi, kata Aan, pergantian rezim hanya akan mengganti aktor yang berkuasa tanpa mengubah pola korupsi yang terus berulang. “Korupsi bukan sekadar perilaku individu yang menyalahgunakan jabatan. Korupsi terjadi karena sistem memberikan ruang bahkan mendukung praktik tersebut. Selama sistemnya tetap sama, pergantian rezim tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pemberantasan korupsi,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id pada Kamis (9/7/2026). Supportive Corruption dan Politik Balas Budi Aan menjelaskan, fenomena korupsi di Indonesia dapat dipahami melalui konsep supportive corruption, yakni ketika struktur politik, birokrasi, dan relasi kekuasaan menciptakan lingkungan yang memungkinkan praktik korupsi terus berlangsung. Menurutnya, biaya politik yang tinggi dalam demokrasi elektoral mendorong lahirnya hubungan timbal balik antara pemimpin dan para pendukung politik setelah memenangkan kontestasi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan praktik politik balas budi. “Ketika seseorang memenangkan kontestasi politik dengan biaya yang sangat besar, muncul tekanan politik untuk mengembalikan jasa para pendukungnya. Di sinilah ruang korupsi mulai terbentuk. Jabatan menjadi alat transaksi politik, bukan lagi instrumen pelayanan publik,” sorot Aan. Ia menilai, praktik tersebut berdampak pada melemahnya prinsip meritokrasi dalam birokrasi. Penempatan pejabat yang tidak selalu didasarkan pada kompetensi, integritas, dan profesionalisme, melainkan dipengaruhi kedekatan politik. Demokrasi yang Masih Sebatas Prosedural Selain persoalan korupsi, Aan juga menyoroti kualitas demokrasi elektoral di Indonesia. Menurutnya, prinsip one man, one vote merupakan fondasi penting demokrasi, tetapi belum cukup menghasilkan pemerintahan yang bersih apabila tidak diimbangi pendidikan politik masyarakat, integritas elite politik, transparansi pendanaan politik, serta pengawasan kelembagaan yang kuat. Demokrasi Indonesia selama ini, menurut dia, masih sekadar berada pada tataran demokrasi prosedural, alias lebih berorientasi sebatas pada keberhasilan penyelenggaraan Pemilu daripada kualitas pemerintahan yang dihasilkan setelah proses elektoral selesai. Demokrasi Deliberatif dan Reformasi Sistem Aan juga menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga penyelenggara dan pengawas Pemilu. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap demokrasi sangat bergantung pada integritas institusi yang menyelenggarakan dan mengawasi proses pemilu. Sebagai alternatif untuk memperkuat kualitas demokrasi, Aan mengacu pada konsep demokrasi deliberatif yang dikemukakan Jürgen Habermas. Menurutnya, demokrasi tidak cukup diwujudkan melalui pemungutan suara, tetapi juga harus memberi ruang dialog yang rasional, kritis, inklusif, dan terbuka dalam penyusunan kebijakan publik. Ia menegaskan, reformasi sistem politik menjadi kebutuhan mendesak apabila Indonesia ingin keluar dari lingkaran korupsi. Reformasi tersebut, kata dia, mencakup pembenahan sistem pendanaan partai politik, penguatan meritokrasi birokrasi, peningkatan transparansi pengelolaan anggaran negara, penguatan independensi lembaga penegak hukum, serta pendidikan politik bagi masyarakat. Pemberantasan korupsi, kata dia, tidak dapat hanya mengandalkan operasi penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi harus disertai upaya memperbaiki struktur yang selama ini memungkinkan korupsi terus berkembang. “Selama yang diperbaiki hanya orangnya, sementara sistemnya tetap sama, maka korupsi akan terus berulang. Karena itu, reformasi sistem merupakan prasyarat utama untuk membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, demokratis, dan berpihak pada kepentingan publik,” pungkas Aan.

Buka Laboratorium Sensori Uji Kualitas Pangan Bertaraf Internasional

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka Sensory Laboratory berstandar internasional untuk Program Studi Teknologi Pangan pada, Rabu (8/7). Berlokasi di kawasan Edupark UMM, fasilitas hasil kolaborasi internasional dalam VLIR-UOS Team Project 2024 ini hadir sebagai solusi pengujian sensori objektif untuk meningkatkan daya saing produk pangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar global. Peresmian laboratorium ini turut dihadiri mitra internasional dari Belgia, Ekuador, Filipina, serta berbagai institusi riset rekanan Kampus Putih. Kehadiran fasilitas ini menjawab tantangan industri pangan saat ini, di mana banyak pelaku usaha mampu membuat produk bercita rasa baik, namun belum memiliki akses uji sensori ilmiah. Kini, ragam produk mulai dari makanan, minuman, hingga camilan dapat diuji di UMM untuk memastikan kualitasnya sejalan dengan preferensi konsumen sebelum dipasarkan. Penanggung jawab Laboratorium Sensorik UMM Dahlia Elianarni, S.TP., M.Sc., menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia akademik dan industri pangan. Mahasiswa dapat mempraktikkan metode pengujian berstandar global, sementara masyarakat dan pelaku usaha akhirnya mendapatkan kemudahan akses layanan pengujian ilmiah yang sebelumnya masih sangat terbatas guna mendongkrak kualitas produk lokal. “Sensory Laboratory ini digunakan untuk menguji berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, camilan, hingga produk pangan lainnya. Seluruh fasilitas dirancang mengikuti standar internasional sehingga mahasiswa Teknologi Pangan UMM dapat melakukan pengujian dengan prosedur yang setara dengan laboratorium di berbagai negara,’’ jelas Dahlia. ‘’Kami juga membuka layanan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan pengujian sensori agar produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen,” tambahnya. Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa laboratorium ini adalah tonggak penting dalam memperkuat inovasi dan kolaborasi riset internasional di bidang ilmu sensorik. Fasilitas tersebut secara khusus difokuskan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan Indonesia, guna mendongkrak kualitas dan nilai tambah produk di kancah internasional. “Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat dari tahun ke tahun. Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas cocoa bean, namun daya saingnya perlu terus ditingkatkan melalui penelitian dan inovasi. Sensory Laboratory menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung pengembangan cocoa bean serta berbagai produk pangan Indonesia agar memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tegas Salis. Ke depannya, Sensory Laboratory ini akan terus diintegrasikan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Edupark UMM, termasuk mendukung Center of Excellence (CoE) Kakao. Melalui sinergi erat antara pendidikan, penelitian, dan pelayanan, kehadiran laboratorium ini diharapkan terus melahirkan inovasi pangan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan industri lokal di Indonesia.(lim)

MALANG,UPEKS.co.id-– Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pasar bagi kecerdasan buatan, produk biologi, terapi gen, dan berbagai inovasi kesehatan dunia. Perguruan tinggi, industri, dan pemerintah harus membangun ekosistem bersama agar Indonesia mampu melahirkan riset, menghilirkan inovasi, sekaligus menjadi produsen teknologi kesehatan masa depan. Pesan itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall DOME UMM, Kampus III, Jalan Raya Tlogomas No. 246, Malang. Di hadapan ribuan orang, Taruna memaparkan konsep kolaborasi Academy, Business, and Government (ABG) yang dipadukan dengan pendekatan neuroscience leadership untuk menjawab percepatan AI, revolusi bioteknologi, perubahan industri farmasi, dan kompetisi global di bidang kesehatan. Dalam kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, Taruna Ikrar didampingi Sekretaris Utama Irjen Pol. Jayadi, Deputi II Mohamad Kashuri, Staf Khusus Pakar Ahli BPOM RI dr. Wachyudi Muchsin, serta sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama atau pejabat eselon II di lingkungan BPOM RI. Wisuda tersebut dihadiri Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., beserta jajaran Senat dan Guru Besar, sivitas akademika UMM, para wisudawan dan wisudawati, serta orang tua dan keluarga. Hall DOME UMM dipenuhi para lulusan dan keluarga dalam suasana khidmat dan semarak. Dalam orasi bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership”, Taruna menjelaskan bahwa neurosains berfokus pada upaya memahami kompleksitas otak manusia, mengembangkan terapi baru untuk gangguan neurologis, serta mengeksplorasi neuroteknologi untuk memperkuat fungsi otak dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam perspektif spiritual, kata dia, Allah Swt menganugerahkan otak sebagai pusat akal, ilmu, kesadaran, dan pengambilan keputusan sehingga manusia mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Taruna juga menyinggung aktivitas spiritual seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, shalat, dan berpuasa dalam perspektif neurosains. Menurut paparannya, aktivitas tersebut berkaitan dengan proses yang mendukung fokus, pengendalian diri, ketenangan emosi, pengelolaan stres, serta kemampuan adaptasi otak atau neuroplasticity. Dari titik inilah neuroscience leadership menjadi relevan karena pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mengelola emosi, memahami manusia, mengambil keputusan secara rasional, dan beradaptasi terhadap kompleksitas. “Pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Ia harus mampu mengelola emosi, memahami manusia, mengambil keputusan secara rasional, beradaptasi terhadap kompleksitas, dan tetap memiliki fondasi nilai,” tegas Taruna. Menurut Taruna, sinergi neurosains dan kecerdasan buatan membuka peluang besar dalam dunia kesehatan. AI dapat memperkuat kemampuan untuk memprediksi efektivitas obat, potensi efek samping, dan respons individual pasien sehingga mendorong sistem kesehatan menuju pendekatan yang lebih cerdas, presisi, personal, dan berbasis data. Pada saat yang sama, inovasi penyuntingan gen, biologi sintetis, pengobatan regeneratif, terapi terarah, dan sistem penghantaran obat inovatif membuka peluang menangani penyakit yang sebelumnya sulit diatasi. Besarnya perubahan industri kesehatan terlihat dari pertumbuhan produk biologi. Taruna memaparkan, jumlah paten produk biologi meningkat signifikan dalam periode 1987 hingga 2021, mencakup antibodi, protein fusi, terapi gen dan sel, serta vaksin. Nilai pasar biofarmasi, khususnya produk biologi, melonjak dari sekitar USD 291 miliar pada 2018 menjadi USD 559 miliar pada 2023, dengan Compound Annual Growth Rate sekitar 14 persen. “Indonesia harus mengambil posisi strategis dalam perubahan besar ini. Jangan hanya menjadi pasar inovasi global. Kita harus membangun kapasitas riset, memperkuat hilirisasi, menciptakan produk, dan memastikan inovasi anak bangsa memiliki jalan menuju industri dan pasar,” ujar Taruna. Di tengah percepatan inovasi, Taruna menekankan pentingnya kepemimpinan regulatori. Kemajuan sains harus diimbangi sistem yang kuat untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat, tetapi regulasi juga tidak boleh tertinggal dari teknologi. Sebagai respons terhadap perkembangan teknologi kesehatan, BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced. Penguatan sistem regulatori juga dilakukan melalui implementasi Good Regulatory Practice (GRP), pembangunan infrastruktur, kolaborasi regional dan global, pengakuan Indonesia sebagai WHO Listed Authority (WLA), serta penerapan smart regulation. Taruna menempatkan konsep ABG sebagai strategi untuk mempertemukan kekuatan akademik, industri, dan pemerintah. BPOM, menurut dia, telah memiliki naskah kerja sama dengan sedikitnya 186 perguruan tinggi di Indonesia. Sementara sektor usaha terkait obat dan makanan mencakup lebih dari 45 ribu industri dan 4,2 juta UMKM. BPOM mengawal ekosistem tersebut melalui dukungan regulatori, kemudahan investasi, pendampingan inovasi, dan percepatan timeline registrasi produk tanpa mengurangi standar keamanan, mutu, dan khasiat. “ABG bukan sekadar konsep kolaborasi. Ini adalah ekosistem. Akademisi melahirkan ilmu dan inovasi, bisnis melakukan hilirisasi dan menciptakan nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi memberi kepastian, perlindungan, sekaligus ruang bagi inovasi untuk tumbuh,” katanya. Di hadapan para wisudawan, Taruna mengingatkan bahwa gelar akademik bukan titik akhir. Generasi muda akan memasuki dunia yang berubah cepat akibat AI, revolusi bioteknologi, otomatisasi, kompetisi talenta global, dan transformasi industri kesehatan. Karena itu, mereka membutuhkan pola pikir bertumbuh, kemampuan beradaptasi, keberanian berinovasi, ketangguhan emosional, integritas, dan kemampuan bekerja lintas disiplin. “Dengan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di UMM, tulislah babak berikutnya dari kemajuan sains, pembangunan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah pencipta perubahan,” pesan Taruna. Melalui konsep ABG berbasis neuroscience leadership, Taruna mendorong pertemuan antara kekuatan otak manusia, kecerdasan buatan, inovasi farmasi, bioteknologi, dunia usaha, perguruan tinggi, dan regulasi negara agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, tetapi tumbuh sebagai salah satu pencipta masa depan kesehatan dunia. 

“UMM Dirikan Laboratorium Uji Kualitas Pangan Bekerja Sama dengan Tiga Negara”

Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka sensory laboratory berstandar internasional untuk Program Studi Teknologi Pangan  hasil kolaborasi internasional dalam VLIR-UOS Team Project 2024 bekerja sama dengan tiga negara, yakni Belgia, Ekuador, Filipina, sebagai solusi pengujian sensori objektif untuk meningkatkan daya saing produk pangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar global. Penanggung jawab Laboratorium Sensorik UMM, Dahlia Elianarni, menjelaskan kehadiran fasilitas ini menjawab tantangan industri pangan saat ini, di mana banyak pelaku usaha mampu membuat produk bercita rasa baik, namun belum memiliki akses uji sensori ilmiah. “Kini, ragam produk mulai dari makanan, minuman, hingga camilan dapat diuji di UMM untuk memastikan kualitasnya sejalan dengan preferensi konsumen sebelum dipasarkan,” ujarnya dikutip Kamis (9/7/2026). Menurutnya, fasilitas ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia akademik dan industri pangan. Mahasiswa dapat mempraktikkan metode pengujian berstandar global, sementara masyarakat dan pelaku usaha akhirnya mendapatkan kemudahan akses layanan pengujian ilmiah yang sebelumnya masih sangat terbatas guna mendongkrak kualitas produk lokal. Dia menegaskan, sensory laboratory ini digunakan untuk menguji berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, camilan, hingga produk pangan lainnya. Seluruh fasilitas dirancang mengikuti standar internasional sehingga mahasiswa Teknologi Pangan UMM dapat melakukan pengujian dengan prosedur yang setara dengan laboratorium di berbagai negara. “Kami juga membuka layanan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan pengujian sensori agar produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ujar Dahlia. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan laboratorium ini adalah tonggak penting dalam memperkuat inovasi dan kolaborasi riset internasional di bidang ilmu sensorik. Fasilitas tersebut secara khusus difokuskan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan Indonesia, guna mendongkrak kualitas dan nilai tambah produk di kancah internasional. “Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat dari tahun ke tahun. Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas cocoa bean, namun daya saingnya perlu terus ditingkatkan melalui penelitian dan inovasi. Sensory laboratory menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung pengembangan cocoa bean serta berbagai produk pangan Indonesia agar memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya. Ke depannya, kata dia, laboratorium ini akan terus diintegrasikan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Edupark UMM, termasuk mendukung Center of Excellence (CoE) Kakao. Melalui sinergi erat antara pendidikan, penelitian, dan pelayanan, kehadiran laboratorium ini diharapkan terus melahirkan inovasi pangan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan industri lokal di Indonesia.(K24)