Taruna Ikrar di Wisuda UMM: Neurosains dan AI Jadi Kunci Masa Depan Indonesia

menitindonesia, JAKARTA — Tepuk tangan panjang menggema di Hall DOME Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7/2026). Ribuan wisudawan, orang tua, sivitas akademika, dan tamu undangan berdiri menyambut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., yang sesaat sebelumnya dipasangkan jas almamater UMM oleh Rektor Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Prosesi sederhana itu menjadi simbol penghormatan sebelum Taruna melangkah ke podium utama menyampaikan Orasi Ilmiah pada Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana UMM. Mengenakan jas almamater merah kebanggaan kampus, ia tidak hanya datang sebagai Kepala BPOM, tetapi juga sebagai ilmuwan yang mengajak generasi muda melihat masa depan Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas: ilmu pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan. Selama hampir 20 menit, Hall DOME nyaris tanpa jeda. Ribuan pasang mata mengikuti setiap uraian Taruna mengenai neurosains, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), bioteknologi, hingga masa depan industri farmasi dunia. Beberapa kali tepuk tangan bergemuruh ketika ia menegaskan bahwa persaingan global tidak lagi hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas otak manusia yang mampu melahirkan inovasi. “Masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang takut pada perubahan, tetapi oleh mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kemaslahatan masyarakat,” kata Taruna Ikrar. Itulah benang merah yang terasa sepanjang orasi ilmiah bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership.” Bagi Taruna Ikrar, manusia memperoleh anugerah terbesar berupa otak yang menjadi pusat akal, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Karena itu, kemajuan neurosains bukan hanya melahirkan teknologi kesehatan yang semakin canggih, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu berpikir jernih, adaptif, dan berintegritas. Ia menjelaskan, neurosains bahkan menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, salat, dan berpuasa mampu memperkuat koneksi antarsaraf (neuroplasticity), meningkatkan fokus, pengendalian diri, ketenangan emosi, serta kemampuan menghadapi tekanan. Ilmu pengetahuan dan nilai spiritual, menurutnya, bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan fondasi yang saling menguatkan dalam membangun peradaban. Regulasi Bukan Penghambat, tetapi Penggerak Inovasi Taruna Ikrar kemudian membawa para wisudawan melihat bagaimana dunia kesehatan sedang memasuki babak baru. Artificial Intelligence kini mampu memprediksi efektivitas obat, membaca potensi efek samping lebih cepat, hingga membantu menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien. Bersamaan dengan itu, terapi gen, terapi sel, dan berbagai produk biologis membuka harapan baru bagi pengobatan penyakit yang selama puluhan tahun sulit ditangani. Namun, menurut Taruna, lompatan teknologi tidak akan memberi manfaat tanpa sistem regulasi yang mampu mengimbanginya. Karena itu, BPOM terus memperkuat Good Regulatory Practice, mempercepat transformasi digital, memperluas kolaborasi internasional, serta mendorong pengakuan Indonesia sebagai WHO Listed Authority, sehingga inovasi kesehatan nasional mampu bersaing di tingkat global. Ia juga menyoroti lahirnya Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced sebagai fondasi penting bagi pengembangan terapi gen dan terapi sel di Indonesia. Regulasi, katanya, harus hadir bukan sebagai tembok yang menghambat inovasi, melainkan jembatan yang memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset nasional. Dalam kesempatan itu, Taruna mengungkapkan BPOM telah menjalin kerja sama dengan sedikitnya 186 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kolaborasi tersebut diperkuat dengan pengawalan terhadap lebih dari 45 ribu industri serta sekitar 4,2 juta UMKM di sektor obat dan makanan untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Menutup orasinya, Taruna tidak hanya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan. Ia menitipkan sebuah pesan yang mengundang tepuk tangan panjang dari seluruh ruangan: jangan pernah berhenti bermimpi besar. Menurutnya, kecerdasan akan menemukan maknanya ketika dipadukan dengan karakter, integritas, ketekunan, dan keberanian menghadapi perubahan. Sebab, pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan.

pwmu.co –Pergantian pemimpin nasional melalui mekanisme demokrasi dinilai belum tentu mampu menekan praktik korupsi apabila tidak disertai pembenahan sistem politik dan tata kelola pemerintahan. Pandangan tersebut disampaikan Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aan Sugiarto, M.Sosio., dalam diskusi akademik mengenai korupsi, demokrasi, dan reformasi politik yang digelar di Kota Malang. Menurut Aan, korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan moral individu maupun lemahnya penegakan hukum. Korupsi telah berkembang menjadi persoalan struktural yang dipengaruhi desain sistem politik, relasi kekuasaan, hingga mekanisme pembiayaan politik dalam demokrasi elektoral. “Korupsi bukan sekadar perilaku individu yang menyalahgunakan jabatan. Korupsi terjadi karena sistem memberikan ruang bahkan mendukung praktik tersebut. Selama sistemnya tetap sama, pergantian rezim tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pemberantasan korupsi,” ujar Aan Sugiarto. Aan menjelaskan bahwa fenomena korupsi di Indonesia dapat dipahami melalui konsep supportive corruption, yakni kondisi ketika struktur politik, birokrasi, dan relasi kekuasaan secara tidak langsung menciptakan ruang bagi praktik korupsi untuk terus berlangsung. Ia menilai demokrasi elektoral saat ini membutuhkan biaya politik yang sangat besar. Seorang calon kepala daerah, anggota legislatif, maupun calon presiden memerlukan dukungan finansial, jaringan politik, partai, relawan, hingga kelompok kepentingan untuk memenangkan kontestasi politik. Akibatnya, setelah memperoleh kekuasaan muncul hubungan timbal balik antara pemimpin dengan para pendukungnya yang berpotensi melahirkan praktik politik balas budi. “Ketika seseorang memenangkan kontestasi politik dengan biaya yang sangat besar, muncul tekanan politik untuk mengembalikan jasa para pendukungnya. Di sinilah ruang korupsi mulai terbentuk. Jabatan menjadi alat transaksi politik, bukan lagi instrumen pelayanan publik,” jelasnya. Menurut Aan, praktik tersebut dapat berupa pembagian jabatan strategis, penempatan orang-orang dekat dalam birokrasi, pemberian akses proyek pemerintah, hingga lahirnya kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada kepentingan masyarakat luas. Kondisi itu juga dinilai melemahkan prinsip meritokrasi karena penempatan pejabat tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kompetensi, integritas, dan profesionalisme. Aan juga menyoroti pelaksanaan demokrasi elektoral di Indonesia yang menggunakan prinsip one man, one vote. Menurutnya, prinsip tersebut memang menjadi fondasi penting demokrasi modern karena menjamin kesetaraan hak politik warga negara. Namun, mekanisme itu belum cukup menghasilkan pemerintahan yang bersih apabila tidak didukung pendidikan politik masyarakat, integritas elite politik, transparansi pendanaan politik, serta pengawasan kelembagaan yang kuat. Ia menilai demokrasi prosedural selama ini masih lebih berorientasi pada keberhasilan penyelenggaraan pemilu dibanding kualitas pemerintahan yang dihasilkan setelah pemilu berlangsung. Akibatnya, akuntabilitas, transparansi, efektivitas pemerintahan, dan pemberantasan korupsi belum memperoleh perhatian yang optimal. Dalam kesempatan tersebut, Aan juga menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap demokrasi sangat bergantung pada integritas lembaga yang bertugas menyelenggarakan dan mengawasi proses pemilu. Karena itu, setiap dugaan pelanggaran harus diproses secara transparan sesuai mekanisme hukum agar legitimasi demokrasi tetap terjaga. Sebagai alternatif untuk memperkuat kualitas demokrasi, Aan mengangkat konsep demokrasi deliberatif yang dikembangkan filsuf Jürgen Habermas. Menurutnya, demokrasi tidak cukup diwujudkan melalui pemungutan suara semata, tetapi juga harus membuka ruang dialog publik yang rasional, kritis, inklusif, dan transparan dalam penyusunan kebijakan. Dengan demikian, keputusan politik tidak hanya memperoleh legitimasi karena suara mayoritas, tetapi juga lahir melalui proses diskusi yang mengedepankan kepentingan bersama. Menutup pemaparannya, Aan menegaskan bahwa reformasi sistem politik menjadi langkah mendesak apabila Indonesia ingin keluar dari lingkaran korupsi yang terus berulang. Menurutnya, reformasi tersebut mencakup pembenahan sistem pendanaan partai politik, penguatan meritokrasi birokrasi, peningkatan transparansi pengelolaan anggaran negara, penguatan independensi lembaga penegak hukum, hingga pendidikan politik bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan terhadap pelaku, tetapi juga harus menyasar akar persoalan dalam sistem. “Selama yang diperbaiki hanya orangnya, sementara sistemnya tetap sama, maka korupsi akan terus berulang. Karena itu, reformasi sistem merupakan prasyarat utama untuk membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, demokratis, dan berpihak pada kepentingan publik,” pungkas Aan Sugiarto.
FPP UMM Selaraskan Kurikulum dengan Dunia Industri

RRI.CO.ID, Malang – Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja melalui penyelenggaraan Workshop Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) bertajuk “Membangun Ekosistem Talenta Unggul melalui Kemitraan Strategis Perguruan Tinggi dan Industri” di Swan Ballroom Rayz Hotel UMM. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat rekognisi industri melalui penyelarasan kurikulum yang lebih adaptif, inovatif, dan berdampak. Sebanyak 28 mitra strategis dari perusahaan nasional, perusahaan multinasional, lembaga pemerintah, hingga mitra internasional hadir memberikan berbagai masukan terkait kompetensi lulusan yang dibutuhkan dunia kerja saat ini maupun di masa depan. Workshop dibuka oleh Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Malang, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., yang menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri merupakan salah satu pilar utama dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berkualitas. Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi dapat berjalan sendiri karena dunia industri merupakan mitra strategis dalam menjaga relevansi pendidikan terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, dan tantangan global. Ia juga menekankan bahwa implementasi kebijakan link and match harus diwujudkan melalui penyelarasan kurikulum, penguatan pembelajaran berbasis pengalaman industri, serta keterlibatan praktisi dalam proses pendidikan agar mampu melahirkan lulusan yang siap berkontribusi di masyarakat. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Pertanian-Peternakan UMM, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P., IPM., menjelaskan bahwa Workshop DUDI merupakan agenda strategis yang secara konsisten dilaksanakan sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap mutu pendidikan. Workshop ini melibatkan enam program studi, yaitu Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan, dan Akuakultur. Melalui diskusi yang berlangsung intensif, setiap program studi memperoleh rekomendasi mengenai kompetensi lulusan yang perlu diperkuat, mulai dari soft skills, kemampuan komunikasi profesional, kepemimpinan, integritas, kemampuan bahasa Inggris, literasi digital, penguasaan teknologi modern, analisis data, hingga kemampuan problem solving. Forum ini juga membahas penguatan pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) agar semakin terintegrasi dengan kebutuhan industri. Workshop DUDI tahun ini menghadirkan 28 mitra strategis, di antaranya PT Summa Benur, PT Central Proteina Prima, PT Hisenor Technology Indonesia, PT Jala Akuakultur Lestari Alamku, PT Haida Agriculture Indonesia, CV MEMINDO, PT Varastra Cahaya Indonesia, Cap Bunga Rose dari Malaysia, PT Beejay Seafood, CV Mitra Eksotik, PT Inovasi Pangan Lestari, PT Bumiaji Sejahtera, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk., Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, KAN Syariah Jabung, PT Rizthana Baraka Almadda, PT Pesta Pora Abadi (Mie Gacoan), PT Sariguna Primatirta Tbk. (Tanobel), Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Surabaya, Nosuta Co. Jepang, PT Layo Seng Fong, PT Syngenta Indonesia, PT BISI International Tbk., PT Rabana Agro Resources, CV Aura Seed Indonesia, CV Senvigrow Malang, serta PT Petrokimia Kayaku. Selain memberikan masukan terhadap kurikulum, para mitra juga menawarkan peluang kerja sama lanjutan berupa program magang industri, penelitian kolaboratif, kuliah praktisi, company visit, sertifikasi kompetensi, pengembangan Center of Excellence (CoE), hingga inkubasi bisnis mahasiswa. Advertisement Menutup rangkaian kegiatan, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra DUDI atas kontribusinya dalam mendukung pengembangan pendidikan tinggi di UMM. Ia berharap hasil Workshop DUDI 2026 dapat segera diimplementasikan dalam penyempurnaan kurikulum, penguatan pembelajaran berbasis industri, serta pengembangan berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun mitra industri. Melalui workshop ini, FPP UMM kembali menegaskan komitmennya untuk membangun pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak, sekaligus memperkuat rekognisi sebagai fakultas yang menghasilkan lulusan berdaya saing global dan menjadi mitra strategis industri dalam pengembangan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Mahasiswi UMM Lulus Kuliah tanpa Skripsi: Bagaimana Caranya?

RUANG.ID – Bagi sebagian besar mahasiswa, skripsi kerap dianggap sebagai satu-satunya gerbang perbatasan menuju gelar sarjana. Namun, Nisrina Nabila Nasywa membuktikan bahwa pengabdian nyata di tengah masyarakat jauh lebih bertenaga ketimbang tumpukan kertas laporan di rak perpustakaan. Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini sukses meraih kelulusan melalui jalur ekuivalensi—sebuah skema akademik yang mengonversi prestasi nasional dan dampak sosial menjadi pengganti tugas akhir. Langkah inovatif mahasiswi asal Makassar yang akrab disapa Riri ini bermula dari keprihatinannya terhadap isu kesehatan nasional. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), ia meramu beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah. Bukan sekadar eksperimen laboratorium, produk pangan kaya zat besi ini langsung diuji coba untuk mengintervensi ruang hidup masyarakat yang membutuhkan gizi seimbang. Di bawah bendera program Stunting Free Zone with Gen Z, Riri dan timnya bergerak melakukan pengentasan tengkes di Kelurahan Tlogomas. Hasilnya pun terbilang instan namun terukur. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat luas. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan,” ungkap Riri retoris. Dari Balita hingga Lansia: Keberlanjutan Proyek di Kota Batu Naluri sosial Riri tak berhenti pada urusan gizi anak. Dilansir dari rilis resmi Universitas Muhammadiyah Malang, sosiomedis dan ketahanan psikologis masyarakat kembali ia sasar pada tahun berikutnya lewat proyek bertajuk “Elder-Greens: Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity“. Program tersebut merancang ruang hijau berbasis hidroponik sebagai media katarsis dan terapi rekreatif bagi kaum lansia. Keberhasilan program itu melesat hingga ke tingkat nasional dan memikat Pemerintah Kota Batu untuk mengimplementasikannya secara semi-permanen di lingkungan pondok lansia setempat. Dampak multiplikasi itulah yang menjadi alasan kuat bagi pihak universitas membebaskannya dari skripsi. Keberlanjutan proyek Elder-Greens dinilai memenuhi standar ilmiah dan aplikasi praktis sosiologi-psikologi yang melampaui bobot sebuah tugas akhir konvensional. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya dengan nada haru. Menyeimbangkan Ragam Episentrum Aktivitas Melihat rekam jejaknya, performa akademik Riri berjalan selaras dengan kematangannya di organisasi. Di internal kampus, ia sudah menjadi reporter Humas UMM sejak semester dua, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA), serta berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di sela kesibukan itu, ia bahkan sempat menyabet gelar Juara 1 pada ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023. Eksplorasi Riri melebar ke dunia profesional saat ia menguji ilmu psikologinya lewat program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia diterjunkan langsung di divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Walaupun 4 bulan, tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” ceritanya mengenai pengalaman tersebut. Riri juga menjadi relawan pendidikan, mengajar anak-anak pemulung dan kaum duafa lewat metode interaktif seperti mendongeng. Melalui seluruh jalinan pengalaman itu, ia titipkan pesan penting bagi generasi muda yang masih ragu melangkah, bahwa “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang.”
Bangun Talenta Unggul, FPP UMM Gandeng 28 Mitra Industri Selaraskan Kurikulum Masa Depan

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Perubahan dinamika dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjawab tantangan nyata industri. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng 28 mitra strategis untuk menyelaraskan kurikulum melalui Workshop Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di Rayz Hotel UMM pada 4 Juli lalu. Agenda penting ini mengangkat tajuk “Membangun Ekosistem Talenta Unggul melalui Kemitraan Strategis Perguruan Tinggi dan Industri”. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menekankan bahwa implementasi kebijakan link and match tidak boleh berhenti pada kerja sama administratif semata, melainkan harus diwujudkan secara nyata dalam penyelarasan kurikulum, penguatan pengalaman industri, serta pelibatan aktif para praktisi di dalam kampus. “Perguruan tinggi tidak lagi dapat berjalan sendiri. Dunia usaha dan dunia industri merupakan mitra strategis dalam memastikan bahwa proses pendidikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, dan tantangan global,” tegas Muhamad Salis Yuniardi. Evaluasi Mutu Kurikulum di Enam Program Studi Dekan FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P., IPM., menambahkan bahwa workshop ini merupakan agenda konsisten dari pihak fakultas untuk mengevaluasi mutu pendidikan di enam program studi di bawah naungan FPP, yaitu Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan, dan Akuakultur. Menurutnya, kurikulum harus terus berkembang mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri saat ini. Oleh sebab itu, masukan dari para mitra menjadi referensi yang sangat penting dalam memastikan setiap program studi di FPP mampu menghasilkan lulusan yang unggul dan profesional. Rekomendasi Konkret hingga Peluang Kelas Profesional CoE Selama diskusi intensif berlangsung, 28 mitra dari perusahaan nasional, multinasional, hingga lembaga pemerintah memberikan rekomendasi konkret terkait kompetensi masa depan yang wajib dimiliki mahasiswa. Beberapa aspek krusial yang disoroti oleh pihak industri meliputi penguatan soft skills, kemampuan komunikasi profesional, peningkatan literasi digital, hingga penguasaan kemampuan analisis data yang kuat. Sejumlah mitra besar tampak hadir dalam forum ini, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT BISI International Tbk, BBPOM Surabaya, hingga mitra internasional seperti Nosuta Co. dari Jepang. Selain merumuskan kompetensi berbasis Outcome-Based Education (OBE), forum strategis ini juga membuka berbagai peluang tindak lanjut yang konkret, mulai dari program magang industri, penelitian kolaboratif, hingga pengembangan kelas profesional unggulan melalui inisiasi Center of Excellence (CoE) di tingkat fakultas. Pada sesi penutupan, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., memberikan apresiasi tertinggi kepada seluruh mitra atas sumbangsih gagasan dan peluang kolaborasi yang diberikan demi memajukan mutu pendidikan tinggi. Ia menjelaskan bahwa kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia industri merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan lulusan berkualitas. Pihaknya berharap hasil dari Workshop DUDI ini dapat segera diimplementasikan dalam penyempurnaan kurikulum dan penguatan pembelajaran berbasis industri. Sinergi strategis melalui Workshop DUDI ini menjadi langkah taktis FPP UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif. Melalui kurikulum yang selaras dengan perkembangan industri terkini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga siap menjadi talenta penggerak kemajuan bangsa dalam menyambut visi Indonesia Emas 2045.
UMM Malang Perkuat Sinergi dengan MGMP Lewat Seminar Nasional STEM Implementatif

Mediapribumi.id, Malang — Program Studi Magister Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertema “STEM dalam Aksi: Inovasi Pembelajaran Implementatif di Sekolah” pada kamis (9/7). Kegiatan yang digelar secara hybrid ini diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah, mulai dari guru IPA dan Biologi jenjang SMP/SMA, mahasiswa S1 hingga S3, sampai kalangan dosen. Yang menarik, seminar ini tidak sekadar menjadi ajang berbagi materi. Di awal acara, digelar penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Program Studi Magister Pendidikan Biologi Pascasarjana UMM, menandai babak baru kolaborasi kedua pihak. Direktur Program Pascasarjana UMM, Prof. Khozin, menyebut kerja sama antara kampus dan komunitas guru sebagai langkah strategis mendongkrak mutu pendidikan nasional. “Kolaborasi seperti ini menjadi ruang bersama untuk saling belajar dan bertumbuh. Kampus tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi sekolah melalui kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya. Hal senada disampaikan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Biologi UMM, Prof. Yuni Pantiwati. Menurutnya, seminar ini sengaja dirancang untuk menjawab kebutuhan guru akan pembelajaran STEM yang aplikatif dan mudah diterapkan di kelas. “Kami ingin menunjukkan bahwa STEM bukanlah pendekatan yang rumit. Dengan kreativitas guru dan pemanfaatan potensi lingkungan sekitar, pembelajaran STEM dapat diterapkan secara sederhana, menyenangkan, dan mampu meningkatkan keterampilan berpikir peserta didik,” tuturnya. Seminar yang dipandu moderator Dr. Husamah, M.Pd., dosen Pendidikan Biologi UMM, menghadirkan dua narasumber Murni Ramli, S.P., M.Si., Ed.D. dari Universitas Sebelas Maret, dan Dr. Nurwidodo, M.Kes., dosen Pendidikan Biologi UMM. Murni Ramli menegaskan bahwa kunci keberhasilan STEM bukan pada canggihnya teknologi yang dipakai, melainkan kemampuan guru mengaitkan materi ajar dengan persoalan nyata yang dihadapi siswa. “Esensi STEM bukan terletak pada penggunaan teknologi yang canggih, melainkan bagaimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik sehingga siswa terbiasa berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan memecahkan masalah,” jelasnya. Sementara itu, Dr. Nurwidodo menyoroti pentingnya memberi ruang eksplorasi bagi siswa lewat proyek-proyek sederhana yang dekat dengan keseharian mereka. “Implementasi STEM tidak harus mahal dan rumit. Yang terpenting adalah bagaimana siswa dilibatkan dalam proses menemukan, mencoba, menganalisis, hingga menghasilkan solusi atas persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar,” ungkapnya. Sepanjang acara, peserta aktif melontarkan pertanyaan seputar strategi merancang pembelajaran STEM, asesmen berbasis proyek, hingga pengalaman lapangan penerapannya di berbagai jenjang pendidikan. Dr. Husamah menilai tingginya partisipasi ini sebagai cerminan besarnya kebutuhan penguatan kompetensi guru dalam mengimplementasikan STEM. “Seminar ini bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan praktisi pendidikan untuk saling menginspirasi dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna di sekolah,” katanya. Ia berharap sinergi dengan MGMP ini tidak berhenti di seminar, melainkan berlanjut dalam bentuk pelatihan, penelitian, pendampingan, dan pengabdian kepada masyarakat. “Agar mempercepat lahirnya inovasi pembelajaran STEM di Indonesia,” pungkasnya.
Balik Dolanan: Wavvy Creative UMM dan Komunitas Bermain Malang Ajak Warga Nostalgia Permainan Tradisional

PORTALJTV.COM MALANG — Kelompok Praktikum 3 Wavvy Creative Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Komunitas Bermain Malang (KBM) menggelar kegiatan bermain bersama bertajuk “Balik Dolanan” di Taman Bunga Merjosari, Kota Malang, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 18.00 hingga 22.00 WIB ini diikuti oleh ratusan warga lintas usia dan merupakan bagian dari rangkaian pasca-event brand activation Taman Dolan Batu. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memainkan sejumlah permainan tradisional secara berkelompok, di antaranya lompat tali, bentengan, ular naga, Siapa Aku, dan egrang. Selain bermain bersama, panitia turut mengadakan kuis interaktif berhadiah barang-barang bernilai budaya seperti ketapel, wayang, terjun payung, dan seruling bambu. Mengangkat Kembali Permainan yang Mulai Ditinggalkan Mengusung konsep utama (big idea) “Balik Dolanan”, kegiatan ini digagas sebagai respons atas meningkatnya penggunaan gawai (gadget) sebagai sarana hiburan yang perlahan menggeser interaksi sosial langsung, terutama di kalangan anak muda. Permainan tradisional dipilih sebagai medium untuk membangun kembali kebersamaan yang mulai memudar. Setiap permainan yang dihadirkan pada malam itu membawa sejarah dan nilai edukatif tersendiri. Lompat tali, misalnya, dikenal dapat melatih koordinasi tubuh, keseimbangan, dan ketahanan fisik. Sementara itu, bentengan yang merupakan permainan strategi lintas generasi, mengajarkan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim karena menuntut setiap kelompok menyusun taktik untuk mempertahankan wilayah sekaligus merebut benteng lawan. Ada juga ular naga, permainan yang dimainkan dengan cara saling bergandengan tangan membentuk barisan panjang sebagai simbol kebersamaan sekaligus mengajarkan pentingnya saling percaya antarpemain. Adapun permainan ‘Siapa Aku’ dikemas secara interaktif untuk melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan keberanian menyampaikan pendapat. Permainan yang paling menyita perhatian malam itu adalah egrang, permainan berbahan bambu yang menuntut keseimbangan tubuh, keberanian, konsentrasi, serta rasa percaya diri. Pemilihan hadiah kuis berupa ketapel dan seruling bambu juga bukan tanpa alasan. Ketapel dahulu dikenal dapat melatih ketelitian dan keterampilan motorik anak-anak. Sedangkan seruling bambu menjadi simbol kesederhanaan masyarakat pedesaan yang mampu menciptakan hiburan dari alam sekitar sekaligus mengenalkan musik tradisional kepada generasi muda. Ruang Pertemuan Lintas Generasi Koordinator kegiatan dari Kelompok Praktikum 3 Wavvy Creative UMM menjelaskan bahwa “Balik Dolanan” merupakan bagian dari strategi komunikasi pasca-event brand activation Taman Dolan Batu. Tujuannya adalah memperluas jangkauan kampanye pelestarian budaya melalui kolaborasi bersama komunitas lokal. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas dipilih agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut merasakan langsung pengalaman bermain yang menjadi identitas Taman Dolan Batu. Antusiasme itu turut dirasakan oleh para peserta. Hekmatyar (22) mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut dan berharap acara serupa kembali digelar di kemudian hari. “Semoga acara seperti ini bisa diadakan lagi,” ujarnya penuh harap. Sementara itu, Zen (23), salah seorang peserta yang berhasil memenangkan hadiah permainan tradisional dalam sesi kuis menyampaikan apresiasinya kepada pihak penyelenggara. “Terima kasih sudah diberi kesempatan memenangkan hadiah ketapelnya,” kata Zen. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat tanpa sekat usia. Sejumlah mahasiswa mengaku baru pertama kali mencoba beberapa permainan yang dihadirkan, sementara peserta yang lebih dewasa mengaku bernostalgia dan teringat masa kecil mereka saat permainan-permainan tersebut masih menjadi bagian dari keseharian. Melalui “Balik Dolanan”, Kelompok Praktikum 3 Wavvy Creative UMM, Taman Dolan Batu, dan Komunitas Bermain Malang berupaya menegaskan bahwa permainan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga media efektif untuk membangun karakter, mempererat hubungan sosial, dan menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Pakar UMM: Ganti Rezim Tak Cukup Berantas Korupsi, Sistem Politik Harus Direformasi

Malang-harianjatim.com. Pergantian kekuasaan melalui mekanisme demokrasi tidak otomatis mampu memutus mata rantai korupsi. Tanpa perubahan mendasar terhadap sistem politik dan tata kelola pemerintahan, pergantian rezim dinilai hanya berpotensi mengganti aktor, sementara pola korupsi tetap berulang. Pandangan tersebut disampaikan Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Aan Sugiarto, dalam diskusi akademik mengenai korupsi, demokrasi, dan reformasi politik di Kota Malang. Menurut Aan, korupsi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan moral individu atau lemahnya penegakan hukum. Korupsi, kata dia, telah berkembang menjadi persoalan struktural yang dipengaruhi oleh desain sistem politik, relasi kekuasaan, serta mekanisme pembiayaan politik dalam demokrasi elektoral. “Korupsi bukan sekadar perilaku individu yang menyalahgunakan jabatan. Korupsi terjadi karena sistem memberikan ruang bahkan mendukung praktik tersebut. Selama sistemnya tetap sama, pergantian rezim tidak akan menghasilkan perubahan signifikan dalam pemberantasan korupsi,” ujar Aan. Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama dalam demokrasi elektoral Indonesia adalah tingginya biaya politik. Kandidat kepala daerah, anggota legislatif, maupun calon pemimpin nasional membutuhkan dukungan besar, baik dari sisi finansial, jaringan politik, maupun kelompok kepentingan. Kondisi tersebut, menurut Aan, dapat melahirkan hubungan timbal balik antara pemegang kekuasaan dengan pihak-pihak yang sebelumnya memberikan dukungan politik. “Ketika seseorang memenangkan kontestasi politik dengan biaya yang sangat besar, muncul tekanan untuk mengembalikan jasa para pendukungnya. Dari sinilah ruang korupsi struktural mulai terbentuk,” katanya. Ia menilai praktik politik balas budi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pembagian jabatan strategis, pengaruh terhadap birokrasi, pemberian akses proyek pemerintah, hingga kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok tertentu. Situasi tersebut, lanjut Aan, turut mengancam prinsip meritokrasi dalam birokrasi. Penempatan pejabat publik seharusnya berdasarkan kompetensi, integritas, dan profesionalisme, bukan karena kedekatan politik. Selain menyoroti persoalan korupsi, Aan juga mengkritisi kualitas demokrasi elektoral Indonesia yang menurutnya masih terlalu berfokus pada proses pemilu, sementara kualitas pemerintahan setelah pemilu belum menjadi perhatian utama. merupakan fondasi penting demokrasi modern. Namun, demokrasi tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan menyelenggarakan pemilihan umum. “Demokrasi harus mampu menghasilkan pemerintahan yang akuntabel, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Tidak berhenti hanya pada kemenangan elektoral,” ujarnya. Ia menambahkan, demokrasi yang berkualitas membutuhkan pendidikan politik masyarakat, transparansi pendanaan politik, integritas elite, serta pengawasan kelembagaan yang kuat. Dalam kesempatan tersebut, Aan juga menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu. Menurut dia, kepercayaan publik terhadap demokrasi sangat bergantung pada integritas institusi yang mengawal proses politik. Setiap dugaan pelanggaran, kata dia, harus diproses secara transparan berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku agar legitimasi demokrasi tetap terjaga. Sebagai upaya memperkuat demokrasi, Aan mengacu pada konsep demokrasi deliberatif yang dikembangkan filsuf Jürgen Habermas. Menurutnya, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan pemungutan suara, tetapi juga ruang dialog publik yang rasional, terbuka, dan inklusif dalam proses penyusunan kebijakan. Keputusan politik, kata Aan, seharusnya tidak hanya didasarkan pada suara mayoritas, tetapi juga melalui proses diskusi publik yang mempertimbangkan kepentingan bersama. Ia menegaskan, reformasi sistem politik menjadi kebutuhan mendesak apabila Indonesia ingin keluar dari lingkaran korupsi yang terus berulang. Reformasi tersebut, menurut Aan, harus mencakup pembenahan sistem pendanaan partai politik, penguatan meritokrasi birokrasi, transparansi pengelolaan anggaran negara, independensi lembaga penegak hukum, serta peningkatan pendidikan politik masyarakat. “Selama yang diperbaiki hanya orangnya, sementara sistemnya tetap sama, korupsi akan terus berulang. Reformasi sistem menjadi prasyarat utama untuk membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, demokratis, dan berpihak pada kepentingan publik,” pungkas Aan Sugiarto.
FPP UMM Perkuat Kolaborasi Industri untuk Siapkan Talenta Unggul

RRI.CO.ID, Malang – Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja melalui penyelenggaraan Workshop Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Mengusung tema “Membangun Ekosistem Talenta Unggul melalui Kemitraan Strategis Perguruan Tinggi dan Industri”, kegiatan ini menghadirkan 28 mitra industri nasional dan internasional untuk memperluas peluang mahasiswa memperoleh pengalaman profesional sejak masih menempuh pendidikan. Workshop tersebut menghasilkan berbagai komitmen kerja sama, mulai dari program internship atau magang industri, campus recruitment, company visit, kuliah praktisi, penelitian bersama, beasiswa, hingga skema ikatan kerja (employment bonding) yang memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa. Workshop dibuka oleh Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Malang, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., yang menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan dunia profesional. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kelas, tetapi juga harus memiliki kesempatan belajar langsung dari industri agar memahami budaya kerja, mengembangkan kompetensi profesional, serta mampu beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat di dunia kerja. Ia menilai kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi dan dunia usaha maupun dunia industri menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi pendidikan tinggi agar lebih aplikatif dan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Pertanian-Peternakan UMM, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P., IPM., menjelaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi saat ini tidak hanya diukur dari kualitas akademik, tetapi juga dari kemampuannya mengantarkan mahasiswa memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Karena itu, FPP UMM terus mendorong mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang utuh melalui program magang, kuliah praktisi, penelitian terapan, serta keterlibatan dalam berbagai proyek bersama mitra industri. Dalam sesi diskusi, para pelaku industri juga menekankan pentingnya penguasaan kemampuan teknis (hard skills) yang diimbangi dengan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, integritas, kerja sama tim, literasi digital, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar sebagai bekal menghadapi tantangan dunia kerja. Salah satu mitra strategis, PT Central Proteina Prima, menyampaikan bahwa kerja sama dengan FPP UMM selama ini telah berjalan dengan baik melalui berbagai program seperti campus recruitment dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa. Ke depan, perusahaan juga membuka peluang pengembangan kerja sama melalui skema employment bonding, yang memungkinkan mahasiswa memperoleh dukungan pembiayaan pendidikan sekaligus kesempatan bergabung dan mengembangkan karier setelah lulus. Selain PT Central Proteina Prima, sebanyak 28 mitra DUDI lainnya turut menyatakan kesiapan memperluas kolaborasi melalui program internship, praktisi mengajar, company visit, penelitian skripsi berbasis industri, hingga rekrutmen lulusan. Mitra tersebut berasal dari berbagai sektor industri nasional maupun internasional, sehingga semakin membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung di lingkungan kerja yang beragam. Menutup kegiatan, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus berkembang menjadi program-program nyata yang dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa, mulai dari magang, penelitian, kuliah praktisi, peluang rekrutmen, beasiswa, hingga ikatan kerja. Melalui Workshop DUDI 2026, Fakultas Pertanian-Peternakan UMM kembali menunjukkan bahwa kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri bukan sekadar kerja sama kelembagaan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun masa depan mahasiswa. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kompetensi, memperluas jejaring, dan membuka peluang karier sejak di bangku kuliah, sehingga FPP UMM dapat terus melahirkan talenta-talenta unggul yang adaptif, inovatif, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
UMTS Benchmarking ke OSTC UMM, Siapkan SDM ke Kancah Internasional

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) melakukan kegiatan benchmarking ke Outsourcing Training Center (OSTC) Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Jumat, 3 Juli 2026. Benchmarking yang dilakukan oleh UMTS menjadi langkah strategis untuk pembangunan dan pengembangan pusat karir (career center) yang tidak hanya berorientasi pada penempatan kerja alumni, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja internasional sejak berada di bangku kuliah. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A (Rektor UMTS), Mira Rahmayanti Sormin, M.A, Adek Kholijah Siregar, M.Pd dan Rosmaimuna Siregar, M.A selaku perwakilan UMTS. Kemudian Prof. Dr. Tulus Winarsono, M.Si bersama kolega perwakilan dari OSTC UMM. Pertemuan ini berlangsung di kantor OSTC UMM bersama mitra industri PT. Brexa Raya Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penghubung OSTC UMM melakukan penempatan tenaga kerja ke Jepang. Benchmarking antara UMTS dan UMM menjadi forum berbagi pengalaman mengenai strategi pengelolaan pusat karir berbasis industri global. OSTC UMM memaparkan berbagai program pelatihan, pembinaan kompetensi, penguatan bahasa asing, hingga pendampingan penempatan kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang. Model yang dilakukan oleh OSTC UMM dinilai relevan untuk didopsi dan dikembangkan oleh UMTS sebagai bagian dari peningkatan layanan kepada mahasiswa dan lulusan. Prof. Dr. Tulus Winarsono, M.Si., menjelaskan bahwa pusat karir di perguruan tinggi saat ini harus memiliki peran yang lebih luas dibandingkan sekadar membantu alumni memperoleh pekerjaan. Menurutnya, mahasiswa tingkat akhir juga perlu dipersiapkan sejak dini agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja internasional. Melalui program yang dijalankan OSTC, mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir dapat memperoleh pembekalan keterampilan, pelatihan budaya kerja dan kemampuan bahasa sehingga memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan global, termasuk di Jepang. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat transisi lulusan dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A., menyampaikan bahwa hasil benchmarking ini akan menjadi referensi penting bagi UMTS untuk mengembangkan pusat karir yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja. Bagi Darliana perguruan tinggi memiliki tanggung jawab, tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu bersaing di tingkat internasional. Selain membahas penguatan pusat karir, diskusi juga menyoroti pentingnya menghadirkan akses pendidikan yang inklusif bagi masyarakat. Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah membuka peluang bagi masyarakat yang terdampak bencana atau mengalami keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui skema tersebut, masyarakat dapat mengikuti pelatihan kerja dan memperoleh kesempatan bekerja, termasuk di Jepang, selama satu hingga dua tahun. Setelah memiliki pengalaman kerja dan kondisi ekonomi yang lebih baik, mereka dapat melanjutkan pendidikan tinggi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Vokasi, sehingga pengalaman kerja yang dimiliki dapat diakui sebagai bagian dari proses akademik menuju jenjang sarjana. Model ini diharapkan menjadi solusi yang mampu menghubungkan dunia pendidikan, dunia industri, dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Tidak hanya meningkatkan kesempatan kerja, tetapi juga membuka akses pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya terkendala oleh faktor ekonomi. Perkuat Pengembangan SDM Selain itu, UMTS bersama UMM kembali mempertegas komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA). Penandatanganan MoA ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah lebih dahulu disepakati oleh kedua perguruan tinggi sebagai landasan pengembangan kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. Kerja sama yang telah terjalin antara UMTS dan UMM selama ini menunjukkan hasil yang nyata, terutama dalam bidang pengembangan sumber daya manusia. Implementasi MoA difokuskan pada peningkatan kualitas dosen melalui studi lanjut jenjang doktor, penguatan jejaring akademik, serta peningkatan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satu indikator keberhasilan kerja sama tersebut adalah meningkatnya jumlah dosen UMTS yang melanjutkan pendidikan doktoral di UMM. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 25 dosen UMTS sedang menempuh pendidikan Program Doktor di berbagai bidang keilmuan di Universitas Muhammadiyah Malang. Kesempatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan memiliki kapasitas akademik yang semakin kuat dalam mendukung kemajuan UMTS sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang terus berkembang. Selain memberikan kesempatan studi lanjut bagi para dosen, hubungan akademik antara kedua perguruan tinggi juga semakin erat melalui berbagai bentuk kolaborasi. Salah satunya adalah kepercayaan yang diberikan kepada Rektor UMTS, Dr. Darliana Sormin, M.A., untuk menjadi penguji eksternal pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM. Amanah tersebut menjadi bukti bahwa kerja sama yang dibangun tidak hanya bersifat administratif, tetapi telah berkembang menjadi kemitraan akademik yang saling memperkuat dalam menjaga mutu pendidikan tinggi. Kerja sama ini juga mulai menunjukkan hasil yang membanggakan. Pada Juli 2026, tiga dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMTS dijadwalkan menyelesaikan studi doktoralnya tepat waktu. Ketiga dosen tersebut adalah Rosmaimuna Siregar, M.A., yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi PAI UMTS, Adek Kholijah Siregar, M.Pd.I., serta Mira Rahmayanti Sormin, M.A.. Keberhasilan ketiganya menyelesaikan pendidikan doktor tepat waktu menjadi capaian penting bagi UMTS dalam meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bertambahnya dosen berkualifikasi doktor di lingkungan UMTS diharapkan semakin memperkuat kapasitas institusi dalam menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi modal penting dalam mendukung pencapaian akreditasi program studi maupun institusi serta memperluas kontribusi UMTS terhadap pembangunan pendidikan, khususnya di wilayah Tapanuli Bagian Selatan dan Sumatera Utara.