Hindari Sindrom Sarjana Kertas, J.S. Khairen Ajak Mahasiswa UMM Perkaya Keterampilan

pwmu.co –Menjawab keresahan tentang lulusan perguruan tinggi yang minim keterampilan praktis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan penulis novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas, J.S. Khairen, dalam kegiatan bincang santai bertajuk Nyore Sastra. Kegiatan yang digelar secara outdoor di area Helipad UMM, Kamis (9/7/2026), tersebut mengupas fenomena “sarjana kertas” sekaligus membagikan kiat menulis buku yang menarik dan bermakna kepada mahasiswa. Dalam pemaparannya, J.S. Khairen menyoroti tekanan yang dialami mahasiswa akibat tingginya ekspektasi orang tua maupun lingkungan pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat melahirkan lulusan yang hanya memiliki ijazah, tetapi belum memiliki arah dan kesiapan menghadapi dunia nyata. “Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” ungkapnya. Untuk menghindari kondisi tersebut, ia mengajak mahasiswa terus mengembangkan berbagai keterampilan di luar bidang studi utama, salah satunya melalui peningkatan literasi. Khairen juga membagikan berbagai tips menulis bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman, hingga menyusun karakter dalam cerita secara matang. “Pemberian nama tokoh harus sesuai dengan sifat, pesan, atau makna yang dibawa oleh karakter tersebut, sehingga pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat,” urainya. Selain membahas teknik menulis, Khairen mengingatkan para penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan utama. Menurutnya, seorang penulis perlu memiliki kondisi finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang cukup agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna. Antusiasme mahasiswa terlihat pada akhir kegiatan. Para peserta diminta menuliskan harapan serta definisi mereka tentang “Bukan Sarjana Kertas” di selembar kertas yang kemudian ditempelkan pada papan styrofoam sebagai simbol komitmen membangun kualitas diri. Penanggung jawab kegiatan sekaligus pakar sosiolinguistik, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gelar sarjana harus diiringi kompetensi yang nyata. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM itu berharap kegiatan Nyore Sastra mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa bahwa ijazah harus dibarengi kualitas, pengalaman, dan keterampilan. “Sarjana itu tidak cukup, harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” pesannya. Melalui kegiatan edukatif tersebut, mahasiswa diingatkan bahwa perkuliahan bukan sekadar mengejar nilai akademik atau memperoleh ijazah. Mereka juga perlu mengembangkan minat, memperluas jejaring, dan mengasah keterampilan praktis agar mampu beradaptasi, berinovasi, serta siap menghadapi persaingan di dunia kerja.

Di Hadapan Wisudawan UMM, Kepala BPOM Wanti-wanti agar Tak Tunduk pada AI

KLIKMU.CO – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar mengingatkan pentingnya peran manusia dalam mengendalikan perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kecanggihan teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia yang memiliki kebijaksanaan dan empati. Pesan tersebut disampaikan Taruna saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7/2026). Dalam orasi bertajuk Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership, Taruna menjelaskan bahwa AI merupakan hasil pengembangan kecerdasan manusia. Meski memiliki kemampuan yang sangat canggih, AI bekerja berdasarkan algoritma sehingga tidak memiliki empati maupun pertimbangan moral. “AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Oleh karena itu, AI harus dikontrol oleh manusia yang punya kapasitas emosional dan wisdom,” tegasnya. Selain membahas perkembangan AI, Taruna juga menyoroti kemajuan bioteknologi di bidang kefarmasian. Menurutnya, inovasi kesehatan kini bergerak menuju living therapy, yakni terapi berbasis sel hidup yang berpotensi mengatasi penyakit bawaan maupun kerusakan saraf akibat stroke. Untuk mempercepat pengembangan inovasi tersebut, BPOM mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah melalui konsep Academia, Business, Government (ABG). “Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer technology dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincolin Arsyad mengapresiasi perkembangan UMM yang dinilai berhasil memadukan penguatan akademik dengan pengembangan usaha secara profesional. “Saya salut dengan seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Ada banyak perguruan tinggi Muhammadiyah, tapi yang berkembang pesat memadukan tempat sains dan tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM ini tidak banyak,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Nazaruddin Malik mengatakan bahwa UMM terus melakukan transformasi melalui penguatan program Center of Excellence (CoE) dan pembekalan kompetensi digital bagi mahasiswa. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk BPOM, akan memperkuat ekosistem kampus dalam menghasilkan solusi bagi masyarakat. “Ke depan, UMM akan dilandasi tiga fondasi utama yang kami sebut Excellent Solution Center, yaitu pengembangan Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai Talent Incubator Pool,” jelasnya. Melalui wisuda ke-122 ini, UMM berharap para lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Setahun Belajar Bahasa dan Budaya, Mahasiswa Internasional UMM Siap Kenalkan Indonesia ke Dunia

pwmu.co –Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuntaskan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Penyelesaian program tersebut ditandai melalui Closing Ceremony yang berlangsung di Aula GKB IV UMM, Kamis (9/7/2026), sebagai penutup masa pembelajaran bahasa dan budaya sebelum mereka memulai studi di program studi masing-masing. Selama satu tahun, para peserta tidak hanya mempelajari tata bahasa dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dikenalkan pada budaya, kebiasaan, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Pembelajaran tersebut menjadi bekal penting agar mahasiswa internasional mampu beradaptasi dengan kehidupan akademik maupun sosial selama menempuh pendidikan di UMM. Suasana penutupan berlangsung meriah sekaligus penuh kehangatan. Para mahasiswa menampilkan berbagai pertunjukan sebagai hasil pembelajaran selama mengikuti program, mulai dari memainkan alat musik tradisional angklung, membacakan puisi, hingga menyampaikan kesan dan pesan menggunakan bahasa Indonesia dengan percaya diri. Penampilan tersebut menunjukkan perkembangan kemampuan berbahasa sekaligus pemahaman mereka terhadap budaya Indonesia. BIPA: Modal Utama Mahasiswa Internasional Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D., mengatakan bahwa selesainya Program BIPA bukan berarti proses belajar telah usai. Menurutnya, kemampuan berbahasa Indonesia dan pemahaman budaya yang telah diperoleh justru menjadi modal utama bagi mahasiswa internasional untuk mengikuti perkuliahan reguler sekaligus membangun interaksi yang lebih baik di lingkungan kampus. “Selama satu tahun ini Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir dari perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing. Ceritakan kepada masyarakat di negara Anda tentang Indonesia dan terus kembangkan kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh di UMM,” ujarnya. Ia berharap pengalaman belajar tersebut terus melekat hingga para mahasiswa kembali ke negara asal. Dengan bekal bahasa dan pemahaman budaya yang dimiliki, mereka diharapkan mampu menjadi jembatan yang memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional. Pengalaman mengikuti Program BIPA juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Hamdan Cheloh, mahasiswa asal Thailand, mengaku memperoleh banyak pelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga tentang nilai toleransi, keberagaman, dan pentingnya bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya. “Saya sangat bersyukur dan senang bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang. Terima kasih kepada seluruh pengajar BIPA yang selalu sabar membimbing. Saya juga bangga melihat teman-teman internasional yang kini dapat berbicara bahasa Indonesia karena kami menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hamdan. Program BIPA menjadi salah satu bentuk komitmen UMM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan melalui pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga penguatan kompetensi sosial dan budaya. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa internasional diharapkan mampu menjalani perkuliahan dengan lebih baik sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia di tingkat global.

Lulus Program BIPA UMM, Mahasiswa Asing Siap Kenalkan Indonesia ke Dunia

Kota Malang, Tagarjatim.id – Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Kelulusan tersebut ditandai melalui Closing Ceremony yang digelar di Aula GKB IV Kampus Putih UMM, Kamis (9/7/2026). Program BIPA menjadi tahap pembekalan sebelum para mahasiswa memulai perkuliahan di program studi masing-masing. Selama satu tahun, mereka tidak hanya mempelajari tata bahasa dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dikenalkan pada budaya, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Suasana penutupan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan yang dibawakan para peserta. Mereka menampilkan permainan angklung, pembacaan puisi, hingga menyampaikan kesan dan pesan menggunakan bahasa Indonesia yang telah dipelajari selama mengikuti program. Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, mengatakan kelulusan dari Program BIPA bukan menjadi akhir proses belajar, melainkan awal bagi mahasiswa internasional untuk mengikuti perkuliahan reguler dengan bekal kemampuan bahasa dan pemahaman budaya Indonesia. “Selama satu tahun ini Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir dari perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing,” ujarnya, Jumat (10/7/2026). Ia berharap kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh selama belajar di UMM terus dikembangkan sehingga para mahasiswa dapat memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat di negara asal mereka. Salah satu peserta asal Thailand, Hamdan Cheloh, mengaku memperoleh pengalaman yang berharga selama mengikuti Program BIPA. Menurutnya, pembelajaran yang diterima tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga memperluas pemahamannya mengenai budaya, toleransi, dan kerja sama lintas negara. “Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang,” katanya. Hamdan juga menyampaikan apresiasi kepada para pengajar yang dinilai sabar mendampingi proses belajar mahasiswa internasional. Ia merasa bangga karena kini dirinya bersama teman-teman dari berbagai negara mampu menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Program BIPA merupakan salah satu bentuk komitmen UMM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan sekaligus memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa mancanegara. Melalui program tersebut, UMM tidak hanya membekali mahasiswa asing dengan kemampuan akademik, tetapi juga mempersiapkan mereka agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya selama menempuh pendidikan di Indonesia. Ke depan, para lulusan BIPA diharapkan tidak hanya sukses menyelesaikan studi di UMM, tetapi juga menjadi duta budaya yang memperkenalkan bahasa Indonesia, keberagaman, serta nilai-nilai persahabatan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Malang-harianjatim.com. Penguatan demokrasi tidak hanya bertumpu pada negara dan penyelenggara pemilu. Masyarakat sipil yang mampu membangun kolaborasi dan mengawal kebijakan publik juga menjadi pilar penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Perspektif itu mengemuka dalam perkuliahan Mata Kuliah Manajemen Jejaring Sosial Masyarakat Sipil yang diselenggarakan Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (10/7/2026). Perkuliahan menghadirkan praktisi dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Heroik Mutaqin Pratama, M.IP., untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan jejaring masyarakat sipil. Di hadapan mahasiswa, Heroik menjelaskan bahwa organisasi masyarakat sipil memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kepentingan publik dan pengambil kebijakan. Keberadaannya tidak hanya mengawal proses demokrasi, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan yang lebih partisipatif, inklusif, dan berpihak pada masyarakat. “Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada negara atau penyelenggara pemilu, tetapi juga membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, independen, serta mampu membangun jejaring kolaboratif dalam mengawal kepentingan publik,” kata Heroik. Menurut dia, jejaring sosial tidak dapat dipahami sebatas aktivitas di ruang digital. Jejaring merupakan hubungan yang dibangun antarkomunitas, organisasi, akademisi, media, hingga pemerintah melalui pertukaran informasi, pengetahuan, sumber daya, dan dukungan untuk mencapai tujuan bersama. Jejaring yang terbangun dengan baik, lanjut Heroik, akan memperkuat efektivitas advokasi, memperluas dukungan publik, sekaligus meningkatkan posisi tawar masyarakat sipil dalam proses penyusunan maupun pengawasan kebijakan. Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa juga mempelajari berbagai strategi membangun jejaring, mulai dari membangun kepercayaan (trust building), menyusun visi bersama, mengelola komunikasi, hingga menyatukan beragam kepentingan dalam sebuah koalisi. Perkembangan teknologi digital juga menjadi perhatian dalam diskusi. Heroik menilai media sosial telah membuka ruang partisipasi yang semakin luas bagi masyarakat untuk mengampanyekan berbagai isu publik. Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, polarisasi politik, ujaran kebencian, dan ancaman keamanan digital yang harus diantisipasi organisasi masyarakat sipil. Selain itu, mahasiswa diperkenalkan pada konsep social mapping atau pemetaan sosial sebagai instrumen untuk memahami karakteristik masyarakat. Melalui pemetaan tersebut, organisasi masyarakat sipil dapat mengidentifikasi aktor-aktor berpengaruh, jaringan komunikasi, hingga pola penyebaran informasi politik di tingkat komunitas sehingga strategi komunikasi publik dapat disusun secara lebih tepat sasaran. Dosen pengampu mata kuliah, Ahmad Mujahid Arrozy, M.Sos., mengatakan kolaborasi dengan praktisi menjadi bagian dari upaya menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas sosial. Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori yang diperoleh di ruang kuliah. Mereka juga perlu melihat secara langsung bagaimana konsep jejaring sosial diterapkan dalam praktik untuk membangun kolaborasi, memperkuat partisipasi warga, dan mengawal proses demokrasi. “Kehadiran Perludem memberikan pengalaman belajar yang sangat relevan dengan tantangan sosial-politik saat ini. Mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori sosiologi dengan praktik pemberdayaan masyarakat sehingga memiliki kemampuan membangun jejaring lintas sektor dan merancang kolaborasi yang berdampak,” ujarnya. Melalui kolaborasi ini, Program Studi Sosiologi UMM menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan isu-isu kontemporer. Pengalaman langsung dari praktisi diharapkan membekali mahasiswa tidak hanya dengan pemahaman akademik, tetapi juga kemampuan praktis dalam memperkuat masyarakat sipil dan mendorong kualitas demokrasi di Indonesia.

Kolaborasi Artheera dan Diarch Hadirkan MotoBooth, Mini Exhibition Moto East Java Ramaikan Kayutangan Heritage

Malangpariwara.com – Kreativitas mahasiswa kembali mewarnai kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. Melalui Mini Exhibition Moto East Java, kelompok Artheera dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pengalaman visual yang berbeda bagi masyarakat melalui MotoBooth, sebuah wahana foto bertema petualangan hasil kolaborasi dengan Diarch. Kehadiran MotoBooth menjadi salah satu daya tarik utama dalam pameran yang digelar pada 7 Juli 2026 tersebut. Tidak sekadar menyediakan bingkai foto bertema adventure trail, Artheera juga menghadirkan satu unit motor trail Moto East Java sehingga pengunjung dapat merasakan sensasi layaknya seorang rider saat mengabadikan momen. Konsep tersebut mendapat sambutan positif dari para pengunjung. Banyak yang sengaja berhenti untuk mencoba pengalaman berfoto dengan latar dan properti yang menghadirkan nuansa petualangan di alam bebas. “Awalnya saya hanya lewat, tetapi akhirnya tertarik mencoba karena konsepnya berbeda. Kehadiran motor trail membuat fotonya terlihat lebih hidup,” ujar salah seorang pengunjung yang merupakan mahasiswa IPB. Bagi Artheera, MotoBooth bukan sekadar spot foto, melainkan bagian dari strategi brand activation untuk memperkenalkan Moto East Java kepada masyarakat dengan cara yang lebih interaktif. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya melihat identitas komunitas adventure trail, tetapi juga dapat merasakan atmosfer yang menjadi ciri khas Moto East Java. Kolaborasi dengan Diarch juga menunjukkan bagaimana sinergi antara kreativitas mahasiswa dan mitra kreatif mampu menghasilkan konsep promosi yang menarik sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi publik. Mini Exhibition Moto East Java di Kayutangan Heritage pun menjadi bukti bahwa promosi sebuah komunitas atau merek tidak harus dilakukan secara konvensional. Dengan mengedepankan interaksi langsung dan pengalaman visual, kegiatan ini berhasil menarik perhatian masyarakat sekaligus memperkuat kedekatan Moto East Java dengan pengunjung dari berbagai kalangan.

Mau Kuliah di Malang? Ini Daftar 10 Universitas Terbaik Versi EduRank 2026

KETIK, MALANG – Malang menjadi salah satu kota tujuan ribuan pelajar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tak heran, Kota Pendidikan ini memiliki banyak kampus, mulai dari perguruan tinggi negeri hingga swasta, yang tersebar di berbagai wilayah. Mengetahui kualitas perguruan tinggi menjadi langkah penting dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat. Berikut adalah 10 kampus terbaik di Malang versi EduRank 2026: 1. Universitas Brawijaya (UB) Peringkat Nasional: 8 di Indonesia Baca Juga: Viral! Mawapres FH UB Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Ini Respon Dekan Peringkat Asia: 185 Universitas Brawijaya kokoh di posisi pertama sebagai kampus terbaik di Malang. Kampus ini memiliki 18 fakultas yang terdiri dari 197 jurusan. Saat ini, jumlah mahasiswa UB mencapai lebih dari 60.000 orang dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Diploma, Sarjana, Magister, Doktor, hingga Spesialis Dokter. 2. Universitas Negeri Malang (UM) Baca Juga: Peradi Profesional Gandeng 111 Perguruan Tinggi Bangun Ekosistem Keadilan Nasional Peringkat Nasional: 20 di Indonesia Peringkat Asia: 326 Kampus biru ini memiliki sekitar 40.000 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa lokal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan internasional. Hingga kini, perguruan tinggi tersebut mengelola 10 fakultas, 139 program studi, serta 1 sekolah pascasarjana. 3. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Peringkat Nasional: 43 di Indonesia Peringkat Asia: 628 Kampus Islam negeri ini memadukan integrasi sains dan ilmu agama. Saat ini, jumlah mahasiswa di UIN Malang sekitar 20.000 orang dengan 53 program studi yang tersebar dalam 7 fakultas dan program pascasarjana. 4. Universitas Merdeka Malang (UNMER) Peringkat Nasional: 71 di Indonesia Peringkat Asia: 1.585 Sekitar 12.104 mahasiswa menempuh pendidikan di universitas ini. UNMER memiliki 6 fakultas, 1 program pascasarjana, serta 38 program studi. 5. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat Nasional: 72 di Indonesia Peringkat Asia: 1.594 UMM memiliki 11 fakultas yang menaungi 67 program studi. Jumlah mahasiswa UMM saat ini sekitar 34.604 orang yang berasal dari dalam maupun luar negeri (mancanegara). 6. Universitas Widyagama Malang (UWG) Peringkat Nasional: 81 di Indonesia Peringkat Asia: 2.401 Kampus ini memiliki 15 program studi yang tersebar dalam 6 fakultas dan program pascasarjana. Sekitar 5.000 mahasiswa dari berbagai penjuru negeri menuntut ilmu di universitas ini. 7. Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Peringkat Nasional: 117 di Indonesia Peringkat Asia: 3.002 Mahasiswa aktif yang menempuh pendidikan di ITN berkisar di angka 4.500 orang. Kampus ini memiliki 17 program studi yang tersebar dalam 3 fakultas. 8. Universitas Islam Malang (UNISMA) Peringkat Nasional: 131 di Indonesia Peringkat Asia: 3.052 Kampus Islam ini memiliki 10 fakultas dengan total 20 program studi. Jumlah mahasiswanya mencapai lebih dari 10.000 orang, terdiri dari mahasiswa lokal dan mancanegara. 9. Universitas Gajayana Malang (UNIGA) Peringkat Nasional: 231 di Indonesia Peringkat Asia: 3.448 Universitas Gajayana Malang memiliki 3 fakultas dengan 10 program studi, serta program pascasarjana. 10. Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) Peringkat Nasional: 235 di Indonesia Peringkat Asia: 3.473 Kampus ini memiliki 4 fakultas dengan total 12 program studi, dan telah meluluskan sekitar 4.000 alumni. Itulah daftar 10 kampus terbaik di Malang versi EduRank 2026. Dengan beragam pilihan perguruan tinggi berkualitas, tidak heran jika Kota Pendidikan ini terus menjadi destinasi favorit para pelajar dari seluruh Indonesia untuk meraih masa depan.

Hadir di UMM, Penulis Novel J.S. Khairen Ajak Mahasiswa Keluar dari Jebakan ‘Sarjana Kertas’

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Menjawab keresahan lulusan perguruan tinggi yang kerap minim keterampilan praktis di dunia kerja, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan penulis novel fenomenal “Kami (Bukan) Sarjana Kertas”, J.S. Khairen. Acara bincang santai bertajuk “Nyore Sastra” yang digelar secara outdoor di area Helipad UMM pada Kamis (9/7/2026) ini, mengupas tuntas fenomena jebakan formalitas akademik sekaligus membagikan kiat sukses melahirkan karya tulis yang memikat pembaca. Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Bang Khairen ini menyoroti keresahannya terhadap sistem pendidikan dan tingginya ekspektasi sosial saat ini. Ia menilai banyak mahasiswa tertekan oleh besarnya tuntutan orang tua maupun ekosistem kampus yang kaku. Kondisi tersebut berdampak buruk pada lahirnya generasi yang sekadar memegang ijazah kelulusan, namun kebingungan menentukan arah hidup saat harus terjun langsung ke tengah masyarakat. “Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” ungkap J.S. Khairen. Tips Menulis dan Kiat Menghindari Jebakan Akademik Guna menghindari jebakan formalitas akademik tersebut, Khairen mengajak mahasiswa untuk terus membekali diri dengan ragam keterampilan di luar disiplin ilmu utama mereka, salah satunya adalah kemampuan literasi. Ia secara khusus membagikan tips konkret dalam menulis buku bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman, hingga trik meramu penokohan. Ia menyarankan agar setiap elemen dalam cerita, termasuk nama karakter, dikonsep secara matang dan bermakna agar pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat. Di samping itu, Khairen juga mewanti-wanti penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan tunggal (full-time writer). Menurutnya, seorang penulis wajib memiliki modal finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang memadai agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna. Antusiasme peserta pun semakin terlihat di akhir sesi bincang saat para mahasiswa secara serentak menuliskan harapan serta definisi “Bukan Sarjana Kertas” di selembar kertas dan menancapkannya pada papan sterofoam raksasa. Gelar Kesarjanaan Menuntut Pembuktian Kompetensi Merespons fenomena sarjana kertas tersebut dari sudut pandang akademis, penanggung jawab kegiatan sekaligus pakar sosiolinguistik, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa esensi gelar kesarjanaan menuntut pembuktian kompetensi yang nyata di lapangan. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM itu berharap, diskusi santai berkonsep “Nyore Sastra” ini mampu memantik kesadaran kolektif mahasiswa bahwa ijazah wajib dibarengi kualitas dan keterampilan diri. “Sarjana itu tidak cukup, harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” pesan Dr. M. Isnaini. Melalui giat edukatif ini, mahasiswa diingatkan kembali bahwa esensi perkuliahan bukan sekadar ajang berburu nilai akademik dan selembar kertas ijazah kelulusan semata. Dibutuhkan kemauan keras untuk mengeksplorasi minat, memperluas jaringan sosial, dan mengasah keterampilan praktis di luar ruang kelas agar lulusan kelak mampu beradaptasi, berinovasi, dan terhindar dari jerat sindrom sarjana kertas di tengah ketatnya persaingan dunia kerja profesional.

Bediding dan Embun Es Saat Kemarau, Apa Penyebab dan Dampaknya bagi Tubuh?

KOMPAS.ID-Kabar mengenai suhu dingin yang disebut-sebut mencapai di bawah nol derajat celsius di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Dalam foto dan video yang beredar, tampak kristal es menempel di rerumputan hingga mengubah hamparan yang semula hijau menjadi keputihan. Meski udara terasa sangat dingin, wisatawan justru menikmatinya. Dengan mengenakan jaket, penutup kepala, syal, dan sepatu, mereka bersuka ria di atas hamparan embun es. Mereka berjalan dari satu titik ke titik lain seolah tak terganggu oleh kondisi tersebut. Munculnya embun es di kawasan yang berada pada ketinggian 2.000-2.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tidak hanya terlihat di rerumputan, tetapi juga pada benda lain, seperti atap rumah dan kendaraan yang terparkir di halaman. ”Sebetulnya embun es bergantung pada kondisi cuaca. Waktunya tidak bisa diprediksi. Jika suhu dinginnya ekstrem, otomatis akan muncul embun es. Itu embun es, lho ya, bukan salju,” ujar Aji (43), warga Garung, Wonosobo, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Dieng, Jumat (10/7/2026). KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO Cuaca ekstrem kembali melanda Dataran Tinggi Dieng, di Banjarnegara, Jawa Tengah, 25 Juni 2019, pagi. Suhu merosot hingga minus 7 derajat celsius dan hamparan rumput memutih oleh embun yang membeku. Air dalam nampan pun tampak membeku bagaikan es batu di dalam lemari es. Bagi warga Wonosobo dan Banjarnegara pada umumnya, lanjut Aji saat dihubungi melalui sambungan telepon, embun es biasanya muncul ketika udara benar-benar ekstrem, bukan sekadar dingin biasa. Fenomena itu lazim terjadi pada Juli hingga Agustus. Di luar musim kemarau, embun es juga dapat muncul pada musim hujan, terutama sekitar Desember. Bahkan, durasinya bisa lebih lama karena matahari tidak segera menampakkan diri. ”Kalau saat kemarau, waktunya biasanya lebih singkat. Sekitar pukul 08.00-09.00 sudah hilang karena terkena sinar matahari,” ujarnya. Tak hanya di Wonosobo, penampakan embun es juga terjadi di kawasan Bromo Tengger Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, Jawa Timur. Masyarakat setempat menyebut fenomena tersebut sebagai embun upas. Baca JugaCuaca Dingin pada Awal Tahun Bukan Disebabkan Fenomena Aphelion Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyatakan, fenomena itu lazim muncul ketika suhu udara cukup dingin, berkisar 5-9 derajat celsius. Embun upas dapat dijumpai sebelum matahari terbit dan segera menghilang ketika matahari mulai meninggi. Dinginnya suhu udara dalam beberapa hari terakhir tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan dengan ketinggian sekitar 2.000 mdpl. Mereka yang berada di wilayah dengan elevasi lebih rendah juga merasakan hal serupa meski tidak menjumpai embun yang membeku seperti di Dieng dan Bromo. Di Jawa Timur, berdasarkan unggahan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Instagram untuk periode pengamatan 7 Juli pukul 07.01 WIB hingga 8 Juli pukul 07.00 WIB, terdapat lima daerah dengan suhu terendah. KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Fenomena frost atau embun upas yang menyelimuti lautan pasir di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, 30 Juni 2019. Fenomena embun upas terjadi saat suhu udara turun hingga 0 derajat celsius pada malam hari. Kelima daerah tersebut ialah Bromo dengan suhu 6 derajat celsius, Pasuruan 14,2 derajat celsius, Kota Batu 16,1 derajat celsius, Nganjuk 17 derajat celsius, dan Bondowoso 17,7 derajat celsius. Adapun temperatur di daerah lain lebih hangat. Suhu tertinggi tercatat di Pulau Bawean, Gresik, yakni 27 derajat celsius, disusul Ketapang, Banyuwangi, 26,7 derajat celsius, dan Sampang 25,8 derajat celsius. Prakirawan yang bertugas di BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, mengatakan, penurunan suhu udara merupakan kondisi normal saat puncak musim kemarau. Jika pada musim hujan langit dipenuhi awan, saat kemarau tutupan awan berkurang sehingga langit tampak cerah dan terik pada siang hari. Dokumentasi BMKG Jatim Infografik soal bediding ”Bediding merupakan fenomena normal pada musim kemarau, apalagi menjelang puncaknya. Hal itu wajar karena saat kemarau tutupan awan minim sehingga radiasi matahari tinggi pada siang hari. Pada malam hari, panas tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer,” ujarnya. Jika tidak ada awan yang menghalangi, radiasi panas akan terus dipancarkan ke atmosfer. Sebaliknya, jika terdapat awan, radiasi itu dipantulkan kembali ke permukaan bumi sehingga udara terasa lebih hangat. KOMPAS/DEFRI WERDIONO Wisatawan menikmati suasana sejuk dan dingin Kebun Teh Wonosari di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang berada di lereng Gunung Arjuno, awal Juli 2020. Iklan – Gulir ke Bawah untuk melajutkan Iklan ”Radiasi itu, kan, panas. Kalau panasnya cepat hilang, udara akan dingin. Kalau kondisi berawan, kita tidak akan terasa dingin, tetapi gerah karena radiasi panas dipantulkan lagi oleh awan ke bumi. Kalau tidak ada awan, panas akan terus dilepaskan ke atmosfer,” ucapnya. Selain itu, pada musim kemarau angin yang dominan bertiup ialah monsun Australia yang bersifat kering dan dingin. Di Malang, suhu terendah yang pernah tercatat mencapai 11 derajat celsius pada Agustus 1994. Adapun di daerah yang memiliki elevasi lebih tinggi suhunya dipastikan lebih rendah. Lalu, apa sebenarnya dampak suhu dingin terhadap tubuh manusia? Secara terpisah, dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, Zaqqi Ubaidillah, mengatakan, cuaca dingin dapat memengaruhi sistem pernapasan. Saat udara dingin, silia atau rambut halus pada saluran pernapasan bagian atas mengalami penurunan fungsi. Baca JugaMengenal ”Bediding”, Penurunan Suhu di Puncak Kemarau, Apa yang Harus Diwaspadai? Masalahnya, selain silia, mukus juga menjadi lebih kering. Kondisi itu meningkatkan kerentanan tubuh terhadap virus. ”Silia, kan, bisa mementalkan (benda) ke atas sehingga dapat mencegah virus terakumulasi. Termasuk mukus kita, di situ ada makrofag atau sistem imun. Saat mukus kering dan silianya kurang aktif, tubuh lebih mudah terkena paparan virus. Karena itu, saat bediding, banyak orang terkena flu,” ujarnya. Selain saluran pernapasan, udara yang sangat dingin juga menyebabkan pembuluh darah perifer menyempit sehingga kaki sering terasa ngilu. Bagi penderita asam urat, keluhan tersebut biasanya akan lebih terasa. Selain itu, udara dingin juga membuat kulit menjadi lebih kering. Oleh karena itu, selain mengenakan pakaian hangat, lanjut Zaqqi, seseorang juga perlu memperbanyak asupan cairan saat cuaca dingin. Pada kondisi tersebut, sistem saraf, terutama saraf simpatis, membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Hal itu kerap tidak disadari. Banyak orang menganggap bahwa saat udara dingin mereka tidak perlu banyak minum. Kompas/Bahana Patria Gupta Dengan berbalut sarung, warga Tengger melintasi lautan pasir di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, 4 Juni