Dari Kampus Putih, UMM Hadirkan Dua Guru Besar Baru untuk Menjawab Tantangan Pangan

Agroredaksi.com-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu, 29 November 2025, sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Adapun dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif,Prof Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Sflhms)
Dosen PGSD UMM Jelaskan Peran Guru di Era Gempuran AI

Malangpariwara.com – Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, para guru dan dosen justru sedang menghadapi transformasi yang cukup besar dalam perannya. Banyak yang menilai bahwa kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) yang ada mulai mengambil alih peran pendidik dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi ini juga mengubah dinamika pendidikan lebih cepat dari sebelumnya. Menurut Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. selaku dosen prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengemukakan pandangannya. Perkembangan Teknologi dalam Kelas Ia mengungkap perubahan ini bukan sekadar soal alat baru di kelas, tetapi perubahan cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Namun, dibalik kemudahan itu peran pendidik tidak bisa lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi lebih krusialnya menjadi kurator. Dalam hal ini, pendidik bukan hanya memberi informasi tetapi juga memilah mana sumber yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa nya. Dalam ekosistem pendidikan, pendidik perlu memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatannya. Menurut Beti, pendidik dituntut untuk bisa menjadi learning experience designer atau mendesain pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi critical thinking coach. Bukan hanya sekedar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari “apa” menjadi “bagaimana” dan “mengapa.” Hal ini tentu akan melatih jiwa keterampilan analitis dan argumentasi. Di balik kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Baginya, AI boleh membantu, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai tetap menjadi orisinalitas manusia. “Yang paling penting Itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti berpesan bahwa penggunaan AI cukup sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti diri. Baginya, pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan menusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (Djoko W)
UMM Tambah Dua Guru Besar yang Berkiprah di Ketahanan Pangan

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025) sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur. Juga pada bidang teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Teknologi Produktivitas Kentang Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha. Nantinya dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB). Hal ini dianggap sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar,” katanya. “Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Kolaborasi Lintas Sektor Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Juga strategi dalam meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Ia menganggap hal ini sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani.” katanya. “Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Integrasi Tanaman Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal. Tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Djoko W)
Guru Sebagai Kurator Pembelajaran di Tengah Gempuran AI

Malang, Tugumalang.id – Peran guru di tengah kemajuan teknologi sejak kemunculan Artificial Intelligence (AI) tetap dinilai krusial. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran, mengingat teknologi ini tidak memiliki fungsi pendampingan dan sentuhan edukatif secara langsung. Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi bukan sekadar hadirnya alat baru di ruang kelas, tetapi transformasi mendasar dalam cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan membuat guru dan dosen menghadapi transformasi besar dalam perannya. Tidak sedikit yang menilai kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi pendidik dalam proses belajar mengajar. Namun, di balik kemudahan tersebut, peran pendidik justru semakin strategis. Guru tidak lagi cukup hanya sebagai penyampai materi, melainkan berperan sebagai kurator yang memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid, relevan, serta layak dijadikan rujukan. Dalam konteks ini, pendidik dituntut memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatan teknologi. Beti menjelaskan bahwa guru perlu menjadi learning experience designer dengan merancang pembelajaran yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach yang mengasah daya pikir peserta didik. “Jadi bukan hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Hal ini tentu akan melatih keterampilan analitis dan argumentasi,” kata dia. Di tengah kekhawatiran akan menurunnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat adanya peluang. Menurutnya, pendidik bisa mendorong peserta didik tetap menghasilkan karya otentik meski memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu. “Paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ungkap Beti. Ia menambahkan, AI seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar potensi diri, bukan menggantikan kapasitas manusia. Pendidikan, menurutnya, perlu membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya secara kritis dan bertanggung jawab. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitu pun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tandasnya.
Kolaborasi Polresta Malang Kota dan UMM Tingkatkan Edukasi Anti-Bullying

KOTA MALANG – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas kekerasan terus diperkuat Polresta Malang Kota Polda Jatim. Bersinergi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Polresta Malang Kota Polda Jatim menggelar Sosialisasi Anti-Bullying dan Bahaya Narkoba bertajuk “Dari Kota Malang untuk Indonesia” di SMP Negeri 3 Kota Malang, Selasa (25/11/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari roadshow edukasi ke sekolah-sekolah dalam rangka membangun kesadaran sejak dini terkait ancaman perundungan yang memprihatinkan. Sosialisasi diikuti ratusan pelajar dan dikemas melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, hingga sesi tanya jawab terbuka untuk menggali pemahaman siswa mengenai dampak serius bullying maupun risiko penyalahgunaan narkoba. Kegiatan ini menekankan nilai preventif, kolaboratif, dan sinergi antarinstansi demi memperkuat ketahanan peserta didik terhadap kekerasan dan pengaruh negatif di lingkungan sosial. Data Unit PPA Satreskrim Polresta Malang Kota mencatat bahwa kasus perundungan di Kota Malang menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2024 terdapat enam laporan, dan bertambah menjadi delapan kasus pada 2025. Mayoritas korban merupakan pelajar jenjang SMP, dengan bentuk kekerasan fisik paling mendominasi. Kanit PPA Polresta Malang Kota Iptu Khusnul Khotimah, menjelaskan bahwa peningkatan tersebut menjadi alasan utama kepolisian menggencarkan roadshow sosialisasi ke sekolah-sekolah sebagai langkah preventif. “Banyak kasus bullying dilakukan oleh siswa-siswi SMP. Karena itu kami memilih jenjang SMP dan SMA sebagai sasaran utama agar angka perundungan bisa ditekan melalui edukasi sejak dini,” ujarnya. Menurutnya, dampak paling berat dari perundungan di Kota Malang adalah gangguan mental. Kondisi itu dialami korban yang mengalami kekerasan secara berulang dalam kurun waktu lama. Sejumlah kasus bahkan terjadi di luar lingkungan sekolah, seperti di area sepi ataupu lokasi tongkrongan sepulang sekolah. Motif pelaku pun bervariasi, mulai dari keinginan menunjukkan superioritas, salah paham antarkelompok, hingga masalah asmara remaja. Dalam sosialisasi ini, Polresta Malang Kota bersama UMM menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya, hingga konsekuensi hukum yang dapat menjerat pelaku. Penekanan diberikan pada pentingnya pelajar berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan. Sabrina Kirana, salah satu siswi kelas 7 SMPN 3, mengakui kegiatan ini membuka wawasan penting dan membuat para pelajar lebih siap menghadapi situasi perundungan. “Dengan adanya sosialisasi ini, kami jadi tahu apa yang harus dilakukan jika menjadi korban atau saat melihat tindakan bullying dan paham bahwa bullying serta narkoba tidak hanya melukai fisik tetapi juga sangat mengganggu mental dan masa depan,” ujarnya. Seperti yang sudah disampaikan awal sambutan, Kepala SMPN 3 Kota Malang Drs. Teguh Edy Purwanta menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran Polresta Malang Kota dan UMM dalam memberikan edukasi komprehensif kepada siswanya. “Narkoba dan bullying sangat berdampak pada kesehatan mental, prestasi, dan masa depan anak-anak kami. Karena itu, sosialisasi seperti ini sangat penting untuk membuka kesadaran dan keberanian siswa dalam menjaga diri dan lingkungan,” ujarnya. Roadshow edukasi anti-bullying Polresta Malang Kota bersama UMM menggambarkan komitmen kuat dalam menciptakan ruang belajar yang aman, kondusif dan berorientasi pada pembentukan karakter positif pelajar menuju Indonesia Emas 2045. (*)
Kepala Dinas PUPR Batu Beri Pesan Inspiratif untuk Wisudawan UMM

KLIKMU.CO – Suasana Wisuda Ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (27/11/2025) mencapai puncaknya ketika Ir Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas PUPR Kota Batu sekaligus alumnus UMM, menyampaikan kisah perjuangan dan pesan inspiratif bagi para lulusan. Pidato Alfi menjadi pembuka yang menggerakkan para wisudawan untuk menatap dunia baru dengan keberanian dan keteguhan hati. Dalam sambutannya, Alfi menyampaikan rasa syukur serta terima kasih atas kontribusi UMM dalam perjalanan hidup dan kariernya. Ia menegaskan pentingnya menjaga hubungan antarsesama alumni serta memberikan kontribusi terbaik bagi diri sendiri, kampus, dan masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa para wisudawan akan melangkah ke dunia nyata yang tidak selalu mudah, namun bekal keilmuan dari UMM akan menjadi modal penting untuk menghadapi setiap tantangan. “Saya yakin semua wisudawan dan wisudawati bisa melampaui semua ujian itu dan bisa sukses,” ujarnya. Alfi juga menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan orang tua dengan penuh penghargaan. Ia mengajak mereka menanamkan keyakinan bahwa perjalanan hidup tidak memiliki garis akhir karena setiap tahap senantiasa membuka peluang untuk belajar dan bertumbuh. Setiap capaian, lanjutnya, hanyalah jeda singkat sebelum langkah baru dimulai. Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof Dr Thohir Luth MA turut memberikan apresiasi mendalam kepada UMM. Menurutnya, kampus ini telah menunjukkan pergerakan jihad fisabilillah melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global. Ia juga menyampaikan rasa bangga kepada para orang tua yang telah mempercayakan putra-putrinya untuk ditempa menjadi generasi berilmu dan berakhlak. Prof Thohir mengingatkan bahwa para wisudawan kini memasuki fase baru yang ia sebut sebagai “kampus tanpa tembok”, tempat rintangan hadir tanpa pola dan tanpa batas. Ia berpesan agar para lulusan menjaga integritas, martabat diri, serta menjadi pribadi shaleh dan shalehah yang membanggakan keluarga, bangsa, dan negara. Di sisi lain, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi mengajak para wisudawan menjadikan momen wisuda sebagai waktu refleksi. Menurutnya, ukuran kehidupan bukanlah gelar semata, tetapi kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. Sekecil apa pun bentuknya, yang penting memberi manfaat. Ia menekankan pentingnya profesionalitas dan kemampuan membawa diri di tengah masyarakat. Prof Nazaruddin mengutip ucapan Andrew Grove, CEO Intel Corporation, “Only paranoid survive”, yang ia jelaskan sebagai sikap untuk terus mawas diri dan memperbaiki kekurangan demi menjaga amanah serta kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas ibadah adalah fondasi utama dalam menjaga integritas dan orientasi hidup. (Wildan/AS)
Kadis PUPR Batu Dorong Alumni UMM Terus Berkontribusi bagi Masyarakat

MAKLUMAT – Ada yang berbeda dari wisuda ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (27/11/2025). Pada momen sacral ini terdapat Kepala Dinas PUPR Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, yang tak lain adalah alumni Kampus Putih. Ia sengaja hadir dalam prosesi tutup buku mahasiswa UMM untuk mendorong sekaligus memberi motivasi kepda alumni. Tak ada kata lain, selain ajakan menjaga hubungan antaralumni sekaligus memberikan yang terbaik bagi kampus dan lingkungan. “Dunia nyata tidak selalu mudah. Namun bekal ilmu dari UMM cukup untuk menaklukkan setiap tantangan,” ujarnya. Tak lupa ia menitip pesan, bahwa perjalanan hidup akan terus berlanjut dan setiap pencapaian hanya menjadi awal langkah berikutnya. Pentingnya Kompetensi Alumni Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., juga memberi apresiasi kepada UMM yang telah konsisten mencetak intelektual berakhlak. Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak bisa diukur dari kompetensi, melainkan juga pengabdian nyata kepada bangsa. Thohir mengingatkan bahwa para wisudawan kini memasuki “kampus tanpa tembok”, yakni kehidupan yang penuh rintangan dan cobaan. “Jaga martabat dan integritas. Jadilah pribadi shaleh dan shalehah yang membawa manfaat bagi keluarga hingga negara,” pesannya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. meminta para lulusan menjadikan prosesi wisuda sebagai momentum refleksi diri. Ia menegaskan bahwa nilai seorang sarjana ditentukan oleh apa yang bisa ia berikan kepada masyarakat. Babak Baru usai Tutup Buku “Ukuran kehidupan bukan gelar, tapi kontribusi. Sekecil apa pun manfaat, itu yang utama,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa profesionalitas serta kemampuan bersikap di tengah masyarakat harus menjadi pegangan utama para alumni UMM. Dalam penutup sambutannya, Nazaruddin mengutip pesan Andrew Grove, CEO Intel Corporation, “Only paranoid survive”, sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri demi menjaga amanah publik. Peningkatan kualitas ibadah juga disebutnya sebagai fondasi dalam menjaga integritas. Wisuda ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang ini menjadi penanda babak baru para lulusan. Mereka diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Tawarkan Solusi atas Isu Lingkungan, Pendidikan, dan Stunting

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan diri sebagai Kampus Putih penggerak peradaban melalui pengukuhan tiga guru besar baru pada Rabu (26/11/2025). Ketiga akademisi ini menghadirkan gagasan solutif atas tiga isu besar bangsa: keberlanjutan lingkungan, fondasi pendidikan karakter, dan krisis kesehatan stunting. Tiga profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si. (Ilmu Pendidikan Islam), Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T. (Ekologi dan Keberlanjutan Industri), serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp.Kom. (Keperawatan Komunitas). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ahmad Mubin menyoroti tantangan industri modern yang tidak lagi bisa berorientasi pada keuntungan semata. Ia menegaskan pentingnya prinsip triple bottom line yang menuntut keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Menurutnya, circular economy dan efisiensi sumber daya adalah kunci menghadapi tuntutan global, namun semua upaya itu membutuhkan alat ukur yang valid. Mubin menyarankan penggunaan instrumen seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), hingga metode OMAX untuk memantau dampak keberlanjutan secara akurat. “Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antar industri (simbiosis industri) dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan,” tegas Mubin. Ia juga mendesak pemerintah memperkuat regulasi industri hijau dan menyediakan insentif bagi inovasi ramah lingkungan agar daya saing global dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Sementara itu, Prof. Khozin mengangkat persoalan rapuhnya budaya di sejumlah lembaga pendidikan Islam akibat tidak adanya kerangka nilai yang kokoh. Ia menawarkan penguatan tiga nilai fundamental—ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan—sebagai pondasi pembentukan budaya sekolah. Nilai-nilai ini diturunkan menjadi praktik budaya konkret, seperti budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), kedisiplinan, dan kolaborasi. Baginya, pendidikan Islam harus kembali pada misi utama: membentuk manusia merdeka, cerdas, dan berperadaban. “Kalau ingin ekosistem dan budaya sekolah lebih kuat dan kokoh, serta adaptif terhadap gempuran perubahan, maka ekosistem itu mestinya berdiri di atas pondasi nilai dasar dan nilai utama yang kuat,” jelas Khozin. Isu tak kalah genting disampaikan Prof. Yoyok Bekti Prasetyo. Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi krisis kemanusiaan yang ia sebut sebagai ‘kemiskinan biologis’. Kondisi ini, katanya, membatasi kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi masa depan. Yoyok menyoroti kondisi di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat prevalensi stunting ekstrem pada angka 42–50%. Sebagai wujud komitmen Impactful University, UMM terlibat langsung dalam program penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, hingga pembangunan sumur bor sedalam 71 meter di Desa Nusa. “Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” pungkasnya. [dan/beq]
Kata Pakar Soal Penyebab Banjir di Malang

detikjatim, Malang – Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Adanya sumur resapan dan biopori didorong menjadi solusi. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah menyebut alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujar Amalia kepada wartawan, Kamis (27/11/2025). Sementara dari kacamata teknik sipil, lanjut Amalia, banjir akan berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Sementara untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” katanya. Amalia juga menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota, seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. BMKG sendiri merilis adanya potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur termasuk Kota Malang periode 20 Nopember 2025 sampai dengan 29 Nopember 2025. Kondisi atmosfer lokal yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga atas turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lebat. Potensi itu disebabkan karena adanya pola pertemuan angin (konvergensi), serta melintasnya fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby mulai tanggal 23 November 2025 di wilayah Jawa Timur.
Perjalanan Fida Pangesti ke Austria, Gabungkan Tata Bahasa Indonesia dan AI dalam Riset Doktoral

POJOKSATU.id – Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan cerita yang panjang, penuh putaran, sekaligus inspiratif. Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu masih terkendala syarat tahun kelulusan yang belum terpenuhi. Nah, justru rangkaian pengalamannya—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024, membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Austria menjadi pilihannya bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studi yang aman, inklusif, dan ramah bagi peneliti internasional. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025). Seleksi Ketat dan Tantangan Supervisor Proses seleksi beasiswa berlangsung cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia. Wawancara pun langsung masuk ke inti riset yang ia ajukan, tanpa basa-basi. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya. Riset: AI untuk Tingkatkan Kesadaran Kebahasaan Penelitian doktoral Fida mengusung topik AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language. Fokusnya pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA. Menurutnya, tata bahasa sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar.