Turbin Angin dan Deteksi Rheumatoid Antarkan Mahasiswa UMM Raih Anugerah Pilmapres 2025

MALANG POST – Prestasi gemilang berhasil ditorehkan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Bermula dari inovasi hebat agar dapat berdampak pada masyarakat. Ternyata kiat sukses ini berhasil mengantarkannya meraih penghargaan anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pilmapres 2025, Oktober lalu. Dia adalah Abi Mufid yang telah lama berkontribusi lebih pada masyarakat. Melalui inovasi turbin angin di daerah terpencil dan mengatasi rheumatoid di panti jompo. Bahkan kegiatan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiahnya yang sudah terpublikasi di jurnal Scopus Q2. Dalam kompetisi bergengsi ini, terdapat beberapa aspek yang dinilai secara ketat. Pertama adalah gagasan kreatif yang mencakup bagaimana ide seorang mawapres untuk menyelesaikan permasalahan. Kedua adalah capaian unggulan yaitu 10 prestasi terbaik mahasiswa dari berbagai bidang seperti kompetisi, pengakuan, penghargaan, hasil karya, kewirausahaan dan pengabdian. Kemudian ada juga aspek kecakapan. “Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab antara satu sama lain. Terakhir yakni sikap. Seorang mawapres harus bersikap baik, disiplin, jujur. Serta tentunya mempunyai problem solving, critical thinking,” ungkapnya. Dua inovasi utama dari Abi, menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap masalah masyarakat. Dia membuat inovasi turbin angin untuk sistem irigasi dengan desain sederhana dan ditempatkan di daerah terpencil. Desain ini sudah tervalidasi pada penelitian turbin angin hasil risetnya yang telah dipublikasi. Tak hanya itu, dia juga membuat inovasi dan melakukan pemberdayaan pada salah satu rumah jompo di Kota Malang. Tujuannya untuk mendeteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku. Ini sangat membantu karena apabila melakukan pengecekkan di rumah sakit, akan memakan banyak biaya dan waktu. Kemudian, mahasiswa multitalenta ini telah mengumpulkan segudang prestasi, termasuk Juara 2 pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat LLDIKTI 7 (Jawa Timur), Juara 1 program kreativitas mahasiswa Muhammadiyah, juara 2 PIMTANAS, juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, pendanaan PKM KC 2024, Conference IRIC dan I-Contine, First Author buku ISBN, First Author Scopus Q3 (2 jurnal), pemegang hak cipta, dan lainnya. Semua pencapain dan prestasinya ini dimulai dari kedisiplinan dan berbakti kepada kedua orang tua. Proses menjadi mahasiswa berprestasi nasional dimulai sedari mahasiswa baru. Menurutnya, menjadi seorang mawapres nasional tidak bisa disiapkan dalam setahun atau dua tahun. “Banyak hal yang harus disiapkan salah satunya adalah niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Jadi anak muda haurs mempersiapkan diri dari jauh jauh hari, sebab beras yang kita masak hari ini tidak di tanam kemarin sore,” tegasnya. Mengakhiri kalimatnya, Abi berharap semangat ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Mahasiswa dan anak muda di Indonesia terus berproses dan memiliki mentalitas yang luar biasa, menjadi generasi penerus bangsa yang selalu sadar bahwa masa depan di tangannya. “Selain itu dengan adanya pilmapres saya berharap banyak inovasi-inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat, menciptakan sebuah inovasi solutif,” tutupnya. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Malangpariwara.com – Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (Djoko W)

UMM Raih Penghargaan Implementasi SPMI Terbaik 2025 dari LLDIKTI Wilayah VII

SEVIMA.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Dalam ajang Anugerah Kampus Unggulan 2025 yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII, UMM berhasil meraih peringkat pertama kategori Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) terbaik untuk perguruan tinggi berakreditasi institusi A/Unggul. Capaian ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam menjaga dan mengembangkan budaya mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan di seluruh lini universitas — mulai dari tingkat fakultas hingga program studi. Kepala Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM, Prof. Jabal Tarik Ibrahim, menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan atas penghargaan tersebut. “Alhamdulillah, SPMI kita masih menjadi yang terbaik di antara kampus-kampus unggul di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII,” ujarnya. Menurut Prof. Jabal, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan cerminan bahwa budaya mutu telah mengakar kuat dalam seluruh aktivitas akademik dan nonakademik UMM. “SPMI bukan sekadar dokumen atau laporan, tetapi sistem yang hidup — yang menggerakkan seluruh komponen kampus agar terus melakukan perbaikan berkelanjutan,” jelasnya. Ia menegaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur universitas, termasuk dukungan penuh pimpinan. “Rektor dan para Wakil Rektor selalu memberikan arahan dan motivasi, bahkan ikut terlibat langsung dalam evaluasi mutu. Komitmen pimpinan inilah yang menjaga konsistensi sistem kita,” tambahnya. Prof. Jabal juga memberikan apresiasi kepada para pelaksana mutu di tingkat Unit Pengelola Program Studi (UPPS) dan Program Studi (PS) yang menjadi ujung tombak penerapan standar mutu akademik dan layanan. Tak lupa, ia memuji kinerja Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI) serta para auditor yang konsisten melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan. “Tim GPMI dan auditor adalah mata dan telinga BPMI di lapangan. Mereka berperan penting menjaga objektivitas dan kontinuitas sistem mutu kita,” katanya. Lebih lanjut, Prof. Jabal menegaskan bahwa penghargaan ini tidak boleh membuat UMM berpuas diri. Ia mengingatkan, mempertahankan mutu jauh lebih sulit daripada meraihnya. “Prestasi ini bukan akhir, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Tantangan mutu ke depan semakin kompleks, sehingga UMM harus terus adaptif dan inovatif,” tegasnya. Sementara itu, Sekretaris BPMI UMM, Samin, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika atas komitmen menjaga mutu. “Penghargaan ini hasil kerja kolektif keluarga besar UMM. Kita patut bersyukur, namun tidak boleh berhenti berbenah. Mutu adalah napas universitas unggul,” ujarnya.

HALLO MALANG – Kebijakan pelarangan impor pakaian bekas atau yang populer disebut thrifting kembali menjadi sorotan publik. Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mendukung larangan total impor pakaian bekas menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Pemerintah beralasan langkah ini diperlukan untuk menyelamatkan industri tekstil dalam negeri yang tengah lesu. Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai berpotensi mematikan sektor usaha kecil dan menengah yang bergantung pada perdagangan barang bekas. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyudi, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara hati-hati. Pria yang akrab disapa Yudi itu sepakat bahwa perlindungan terhadap industri lokal penting dilakukan. Namun, menurutnya, pelarangan total tanpa solusi yang matang justru bisa memicu gejolak ekonomi baru. “Industri domestik harus dikuatkan dulu sebelum langsung melarang total,” tegas Yudi, yang juga menjabat sebagai Dekan FEB UMM, Rabu 5 November 2025. Menurut Yudi, tujuan utama dari kebijakan ini seharusnya bukan hanya menekan defisit perdagangan, tetapi mendorong daya saing industri tekstil nasional. Ia menilai kekhawatiran pemerintah terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tekstil memang beralasan, mengingat industri ini menyerap banyak tenaga kerja. Namun, sekadar melarang tanpa memperkuat kapasitas produksi dan inovasi justru tidak menyentuh akar persoalan. Konsumen, lanjut Yudi, memilih produk thrift impor bukan semata karena murah, tetapi juga karena kualitas dan desainnya yang lebih menarik. “Konsumen mencari barang bekas karena kualitasnya bagus, harganya terjangkau, dan lebih fashionable. Jadi industri lokal harus bisa memenuhi faktor-faktor itu juga,” ujar Yudi. Ia menambahkan, permasalahan industri tekstil lokal bukan hanya soal thrifting, tetapi juga persaingan dengan produk baru murah asal luar negeri, terutama dari Tiongkok.

Bahasa Indonesia Mendunia: Pengakuan UNESCO dan Peran UMM dalam Diplomasi Kebahasaan

Medan-Mediadelegasi: Pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, menggunakan Bahasa Indonesia di forum UNESCO menjadi bukti nyata pengakuan resmi bahasa nasional Indonesia di panggung dunia. Momen bersejarah ini menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO ini merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. “Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia,” ujarnya, Kamis (6/11/2025). Pengakuan UNESCO ini merupakan bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Menurut Isnaini, hal ini adalah langkah yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Langkah UNESCO ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pasal 44 undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Implementasi konkret dari kebijakan ini diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya.

Mahasiswa UMM Olah Daun Mangga Jadi Lapisan Pelindung Telur agar Lebih Awet

  kumparan.com – Telur menjadi salah satu bahan pangan yang sering distok di rumah, tetapi umur simpannya kerap tidak terlalu lama. Untuk mengatasi masalah ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi kreatif berupa lapisan pelindung telur dari daun mangga agar lebih awet. Dilansir laman UMM, inovasi tersebut dibuat oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) UMM, yang diketuai Wirayuda Ahmad Yoga Bimantara dari Fakultas Pertanian Peternakan, dengan dosen pembimbing Apriliana Devi Anggraini. Kualitas telur biasanya mulai menurun setelah dua minggu karena rentan terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella. Untuk mengatasinya, tim mahasiswa membuat lapisan antimikroba dari ekstrak daun mangga golek tua yang kaya flavonoid, dicampur dengan kitosan untuk menghasilkan cairan pelapis. Proses pembuatannya cukup sederhana. Daun mangga diekstrak terlebih dahulu, lalu kandungan flavonoidnya dicek melalui Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan diperkuat dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).   Inovasi lapisan pelindung berbahan alami ini juga memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya adalah tidak meninggalkan residu kimia berbahaya sehingga lebih aman dikonsumsi dan ramah lingkungan dibanding metode pengawetan lain, seperti natrium silikat atau kapur. Tim peneliti juga mengemukakan bahwa biaya untuk membuat lapisan pelindung telur ini juga relatif terjangkau sehingga bisa diterapkan secara luas. Keunggulan lainnya adalah lapisan pelindung dari daun mangga tersebut tidak akan mengubah rasa dan aroma asli telur. Dengan begitu, masyarakat bisa menikmati telur segar lebih lama tanpa khawatir menurunnya kualitas maupun rasa. Lewat hasil inovasi ini, tim mahasiswa UMM berharap penelitian ini tidak hanya menjadi temuan akademis, tetapi juga memberi solusi nyata bagi masalah penyimpanan telur di rumah maupun industri. “Kami berharap penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri. Mengingat telur rentan terhadap kontaminasi mikroba, produk bio-coating kami menawarkan solusi yang aman dan sejalan dengan isu ramah lingkungan yang kini banyak diminati perusahaan,” pungkas Wira, dikutip dari laman UMM.

Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan Gelar Silaturahmi dan Audiensi Bersama Ikatan Muhammadiyah Malang

Kominfotik.bimakota – Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH, menggelar silaturahmi dan audiensi bersama Ikatan Muhammadiyah Malang (IMM) yang diwakili oleh Kepala Biro Bidang Riset Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan tersebut berlangsung di ruang kerja Wakil Wali Kota Bima pada hari (6/11/2025). Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka silaturahmi serta penjajakan kerja sama strategis antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Pemerintah Kota Bima, serta Konsorsium Perguruan Tinggi yang terdiri dari UMM, Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima). Kerja sama ini berfokus pada upaya mendukung implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kota Bima. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, SH menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inisiatif kolaborasi tersebut. “Pemerintah Kota Bima sangat terbuka untuk menjalin sinergi dengan perguruan tinggi. Kolaborasi seperti ini sangat penting dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia, meningkatkan kapasitas penelitian, serta menghadirkan inovasi bagi kemajuan daerah,” ujar Feri Sofiyan. Sementara itu, perwakilan dari UMM melalui Kepala Biro Bidang Riset menyampaikan bahwa pihaknya siap berkontribusi melalui berbagai program akademik dan riset terapan yang dapat mendukung pengembangan potensi Kota Bima. “Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi langkah dalam memperluas jangkauan implementasi Perguruan Tinggi dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya. Audiensi tersebut ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen untuk menindaklanjuti hasil pembahasan ke tahap kerja sama konkret antara Pemerintah Kota Bima dan Konsorsium Perguruan Tinggi.

Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Malangpariwara.com – Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (Djoko W)

Mahasiswa UMM, Abi Mufid Raih Prestasi di Pilmapres Nasional 2025

Kota Malang, Bhirawa Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Abi Mufid, mahasiswa Teknik Mesin UMM, yang sukses menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Berkat inovasinya yang berdampak langsung bagi masyarakat, Abi diganjar penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada ajang bergengsi tersebut yang digelar Oktober lalu. Abi dikenal aktif melakukan pengabdian berbasis riset di berbagai daerah. Ia mengembangkan turbin angin untuk sistem irigasi di wilayah terpencil, dengan desain sederhana namun efisien. Inovasi ini merupakan hasil penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2, membuktikan kualitas riset yang ia kembangkan di bangku kuliah. Abi juga berinovasi membantu para lansia di panti jompo Kota Malang melalui alat deteksi penyakit rheumatoid arthritis yang bekerja melalui analisis kuku. Teknologi ini dinilai mampu memangkas biaya dan waktu pemeriksaan medis, serta menjadi solusi tepat guna di masyarakat. Dalam ajang Pilmapres Nasional, peserta dinilai berdasarkan beberapa aspek utama, di antaranya gagasan kreatif, capaian unggulan, kecakapan, dan sikap pribadi. “Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab antar finalis. Selain itu, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki disiplin, kejujuran, kemampuan berpikir kritis, dan problem solving,” terang Abi. Mahasiswa multitalenta ini juga memiliki deretan prestasi lain di tingkat nasional dan internasional. Beberapa di antaranya yaitu Juara 2 Pilmapres LLDIKTI Wilayah VII (Jawa Timur), Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, serta memperoleh pendanaan PKM-KC 2024. Ia juga aktif menulis dan menjadi First Author buku ber-ISBN, dua jurnal internasional Scopus Q3, serta memegang hak cipta karya ilmiah. Abi mengaku, semua capaian tersebut tidak diraih secara instan. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, niat, dan bakti kepada orang tua sebagai dasar meraih prestasi. “Menjadi mahasiswa berprestasi nasional tidak bisa disiapkan dalam satu atau dua tahun. Harus ada niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Seperti beras yang kita masak hari ini, tentu tidak ditanam kemarin sore,” ujarnya penuh makna. Mengakhiri pesannya, Abi berharap semangat ini dapat menular kepada generasi muda Indonesia agar terus berproses, berinovasi, dan memiliki mentalitas tangguh. “Saya berharap ajang Pilmapres terus melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat. Mahasiswa harus menjadi pelopor solusi, bukan hanya penonton perubahan,” pungkasnya. [mut.wwn]

Lakukan Pengabdian Berbasis Riset, Mahasiswa UMM Raih Penghargaan Pilmapres Nasional

pwmu.co – Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abi Mufid, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Lewat riset yang berpijak pada pengabdian masyarakat, Abi meraih penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada ajang bergengsi yang digelar Oktober lalu. Abi dikenal sebagai sosok yang tak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial. Ia mengembangkan inovasi turbin angin untuk sistem irigasi di daerah terpencil serta alat deteksi rheumatoid arthritis melalui kuku bagi penghuni panti jompo. Menariknya, kedua program ini bukan sekadar gagasan sosial, melainkan hasil penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2. Dalam ajang Pilmapres Nasional, peserta dinilai melalui beberapa aspek ketat. Mulai dari gagasan kreatif yang memuat solusi atas masalah sosial, capaian unggulan seperti prestasi akademik, karya, kewirausahaan, hingga kecakapan komunikasi dan sikap personal. “Mahasiswa diminta mempresentasikan gagasannya, berdiskusi, dan menunjukkan kemampuan berpikir kritis serta problem solving. Sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab juga menjadi poin penting,” terang Abi. Dua inovasi unggulannya lahir dari semangat untuk menghadirkan riset yang berdampak nyata. Turbin angin rancangan Abi dirancang sederhana agar bisa diterapkan di wilayah yang sulit listrik. Sedangkan alat deteksi rheumatoid yang ia kembangkan membantu lansia mengenali gejala dini tanpa perlu pemeriksaan mahal di rumah sakit. “Tujuannya agar masyarakat di lapisan bawah juga bisa mendapatkan akses teknologi yang sederhana namun bermanfaat,” ujarnya. Selain dua inovasi tersebut, mahasiswa multitalenta ini juga mencatat deretan prestasi lainnya. Ia pernah meraih Juara 2 Pilmapres LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, serta menjadi penerima pendanaan PKM-KC 2024. “Menjadi Mawapres itu proses panjang. Harus dimulai sejak awal kuliah, bahkan sejak punya kesadaran untuk menjadi agent of change. Beras yang kita masak hari ini tidak ditanam kemarin sore,” tegasnya. Abi berharap, capaian yang ia raih bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. “Anak muda harus sadar bahwa masa depan ada di tangan mereka. Saya berharap Pilmapres menjadi ruang untuk melahirkan lebih banyak inovasi yang solutif dan berdampak luas,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan