Lakukan Pengabdian Berbasis Riset, Mahasiswa UMM Sabet Penghargaan di Pilmapres Nasional

KLIKMU.CO – Prestasi gemilang berhasil ditorehkan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025. Bermula dari inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, Abi Mufid berhasil meraih penghargaan Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pilmapres Oktober lalu. Abi dikenal aktif berkontribusi melalui inovasi turbin angin untuk daerah terpencil dan program deteksi rheumatoid arthritis di panti jompo. Semua kegiatan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Scopus Q2. Dalam kompetisi bergengsi ini, penilaian dilakukan secara ketat. Aspek pertama adalah gagasan kreatif, mencakup bagaimana ide seorang mawapres menyelesaikan permasalahan. Kedua, capaian unggulan meliputi 10 prestasi terbaik mahasiswa dari berbagai bidang, seperti kompetisi, penghargaan, hasil karya, kewirausahaan, dan pengabdian. Aspek berikutnya adalah kecakapan, di mana mahasiswa diminta melakukan presentasi dan sesi tanya jawab. Terakhir, aspek sikap menekankan kedisiplinan, kejujuran, kemampuan problem solving, dan critical thinking. Dua inovasi utama Abi menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah masyarakat. Pertama, ia menciptakan turbin angin untuk sistem irigasi dengan desain sederhana, ditempatkan di daerah terpencil, dan tervalidasi melalui penelitian risetnya. Kedua, ia melakukan pemberdayaan di salah satu rumah jompo di Kota Malang dengan inovasi deteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku, sehingga mengurangi biaya dan waktu jika harus ke rumah sakit. Abi juga memiliki segudang prestasi, antara lain Juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat LLDIKTI 7 (Jawa Timur), Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 PIMTANAS, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, pendanaan PKM KC 2024, partisipasi di Conference IRIC dan I-Contine, First Author buku ISBN, First Author Scopus Q3 (2 jurnal), pemegang hak cipta, dan berbagai penghargaan lainnya. Keseluruhan pencapaian ini bermula dari kedisiplinan dan bakti kepada kedua orang tua. Menjadi mahasiswa berprestasi nasional, menurut Abi, tidak bisa dipersiapkan dalam satu atau dua tahun saja. “Banyak hal yang harus disiapkan, salah satunya niat dan kesadaran diri untuk menjadi agent of change. Anak muda harus mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari, sebab beras yang kita masak hari ini tidak ditanam kemarin sore,” tegasnya. Abi berharap semangat ini dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Ia menekankan pentingnya proses, mentalitas luar biasa, dan kesadaran bahwa masa depan ada di tangan generasi muda. “Selain itu, dengan adanya Pilmapres, saya berharap banyak inovasi berdampak luas bagi masyarakat, menciptakan solusi nyata melalui inovasi,” tuturnya. (Wildan/AS)
Rafanda Pavita, Menemukan Passion Lewat Dunia Radio

rri.co.ic – KBRN, Malang: Menjadi mahasiswa Fakultas Hukum tidak menghentikan langkah Rafanda Pavita, mahasiswa semester 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk terus mengembangkan diri di dunia penyiaran. Mahasiswi jurusan Ilmu Hukum ini aktif sebagai penyiar di UMM FM, radio kampus yang menjadi wadah kreativitas dan komunikasi mahasiswa UMM. Rafanda mengaku awalnya terjun ke dunia radio hanya karena rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba hal baru. “Awalnya tuh cuma coba-coba aja karena FOMO sama teman yang mau join UMM FM, dan waktu itu pas open recruitment crewnya heboh banget, jadi aku pilih UMM FM buat nambah ilmu baru,” ungkapnya saat di wawancarai oleh Irene Nathasya Penyiar RRI Pro 2 Malang, Kamis (6/11/2025). Meski begitu, perjalanan menjadi penyiar tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dirasakan Rafanda adalah mengatur waktu antara kuliah dan siaran. “Kuliah hukum tuh butuh fokus dan banyak baca, sementara jadi penyiar juga harus siap mental, riset topik, dan latihan siaran. Tantangannya di manajemen waktu supaya dua-duanya tetap maksimal,” jelasnya. Rafanda menambahkan bahwa sistem siaran di UMM FM cukup fleksibel. Para penyiar dapat mengisi jadwal siaran sesuai waktu kosong yang mereka miliki. “Kita isi dulu waktu kosong kita kapan, baru program director yang menentukan jadwal siarannya,” ujarnya. Dalam siarannya, Rafanda lebih menyukai topik-topik yang menarik dan relevan dengan minatnya. “Aku suka bahas yang nggak bikin ngantuk, misalnya tentang makeup atau musisi yang aku suka, biar pendengar juga ikut antusias,” katanya. Meski sedang menempuh studi hukum, Rafanda tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan karier di dunia media. “Sekarang aku lebih interest ke media dan kepenyiaran, tapi aku tetap nggak mau ninggalin tujuan utamaku di hukum. Mungkin nanti siaran bisa jadi side job,” tuturnya. Bagi Rafanda, kemampuan komunikasi publik adalah hal yang sangat penting, terutama bagi mahasiswa hukum. “Komunikasi publik itu penting banget, karena kemampuan menyampaikan argumen dengan jelas dan meyakinkan adalah kunci. Bukan cuma tahu hukum, tapi juga bisa menjelaskannya dengan cara yang mudah dipahami,” tambahnya. Menutup perbincangan, Rafanda memberi pesan kepada mahasiswa lain yang ingin mencoba dunia radio. “Jangan takut nggak bisa ngomong, karena radio itu tempat kita berkembang dan belajar jadi lebih baik lagi,” pungkasnya.
Wakil Wali Kota Bima Menerima Kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Malang terkait Penjajakan Kerja Sama Strategis untuk Percepatan Pembangunan Kota Bima

Prokopim Kota Bima, 6 November 2025— Pemerintah Kota Bima melalui Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH menerima audiensi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diwakili oleh Kepala Biro Bidang Riset dan Kerja Sama di ruang kerja Wakil Wali Kota, pada Kamis pagi (6/11). Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka silaturahmi kelembagaan serta penjajakan kerjasama strategis antara UMM dengan Pemerintah Kota Bima, serta Konsorsium Perguruan Tinggi yang terdiri dari UMM, Universitas Brawijaya, dan UM Bima terkait implementasi Tridharma Perguruan Tinggi di Kota Bima. Kepala Biro Riset dan Kerjasama UMM menyampaikan harapan dan komitmen UMM untuk berkontribusi nyata dalam mendukung pembangunan daerah sesuai dengan visi dan misi yang tertuang pada RPJMD 2025 – 2030, khususnya pada pengembangan riset dan pemberdayaan masyarakat yang dapat menjadikan Kota Bima yang Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH menyambut baik kunjungan dan inisiatif dari UMM untuk menjalin sinergi bersama pemerintah daerah. Beliau menyampaikan bahwa pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif perguruan tinggi dalam menghadirkan riset dan inovasi yang dapat diterapkan di tingkat daerah. “Kami sangat terbuka untuk menjalin kemitraan dengan lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Malang. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian visi dan misi pembangunan Kota Bima, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat, penuntasan kemiskinan ekstrem, dan pelestarian lingkungan,” ujar Wakil Wali Kota Bima. Pertemuan ini menjadi langkah awal menuju penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kota Bima dan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai dasar penguatan kolaborasi di berbagai bidang yang relevan dengan kebutuhan daerah. Dengan adanya sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah, diharapkan dapat terwujud pembangunan Kota Bima yang lebih inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sejalan dengan arah visi misi Kota Bima sebagai “Kota Bima yang Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan”.
Lukman Hakim Arifin, Mahasiswa UMM yang Ubah Kandang Kambing Jadi Ladang Inovasi

Dua Kali Dapat Pendanaan dari Pemerintah Pusat radarmalang – AROMA jerami basah bercampur udara pagi menyelimuti Embik Farm Integrated Farming yang terletak di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Dari kejauhan terdengar suara kambing mengembik bersahutan seolah memanggil sang tuan muda yang tengah menakar pakan di tangannya. Di tempat sederhana yang berdiri di antara ladang dan perbukitan itu, Lukman Hakim Arifin menata langkah baru dalam hidupnya. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kini menjadi satu-satunya penerus usaha peternakan yang diwariskan mendiang ayahnya. Dulu, aroma kambing saja membuatnya berpaling. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika sang ayah wafat pada 2023, tanggung jawab besar itu jatuh ke pundaknya yang baru berusia 20 tahun. ”Awalnya saya nggak suka sama sekali,” tutur Lukman. Awalnya, Embik Farm hanya memiliki beberapa kambing pedaging yang dikelola secara konvensional. Kini, lebih dari 33 ekor kambing menempati kandang berukuran sedang di lahan miliknya. Dari jumlah itu, tiga di antaranya adalah kambing perah yang setiap hari menghasilkan susu segar. Jenis kambing yang ia pilih bukan sembarangan. Sapera, hasil persilangan antara Saanen asal Swiss dan Etawa dari Indonesia. Jenis ini terkenal dengan produktivitas susu yang stabil, meski tak sebanyak sapi perah. Dalam sehari, seekor Sapera mampu menghasilkan 2–3 liter susu. Tak besar, tapi cukup menjanjikan. Bagi Lukman, langkah itu menjadi awal perjalanan baru. Ia banyak belajar dari video YouTube, diskusi dengan peternak senior, dan mengikuti berbagai pelatihan agribisnis. Ia sadar menjual daging kambing saja tak cukup untuk membuat usaha bertahan. ”Saya mulai berpikir bagaimana supaya kambing ini bisa menghasilkan produk setiap hari. Dari situ saya fokus ke susu kambing,” ujarnya. Susu kambing, lanjutnya, punya kandungan gizi yang tak kalah dibandingkan susu sapi. Struktur lemaknya lebih kecil sehingga mudah dicerna, dan kadar laktosanya rendah, cocok untuk mereka yang intoleran terhadap laktosa. Kandungannya kaya protein, kalsium, magnesium, dan vitamin yang baik bagi tubuh. Tak heran, banyak dokter yang menyarankan susu kambing sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan penyakit kronis. Lukman bercerita tentang salah satu pelanggannya seorang bapak yang rutin membeli susu kambing untuk anaknya yang sakit paru-paru. ”Setelah beberapa waktu, katanya anaknya membaik. Saya ikut senang dengarnya,” ucapnya dengan mata berbinar. Tantangan besar datang dari stigma masyarakat yang menganggap susu kambing amis dan berbau tajam. Padahal, Lukman menemukan cara sederhana untuk mengatasinya dengan menambahkan daun pandan saat proses pengolahan. Aroma khas kambing pun tersamarkan. Menghasilkan rasa lembut dan harum alami. Inovasi itu bahkan mengantarkannya meraih Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024 dengan ide ”Susu Kambing Tinggi Omega 3”. Ia mendapatkan pendanaan sebesar Rp 20 juta untuk mengembangkan usahanya.
Bahlil Tegaskan B50 dan S10 Bukan Hoaks, Tapi Jalan Menuju Kedaulatan Energi

SEWAKTU.id – Sorakan mahasiswa tak membuat Bahlil Lahadalia gentar. Di podium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia berdiri tegak, tersenyum, dan membuka dengan kalimat yang langsung menyita perhatian. “Om suka kalau kalian agak sedikit ‘gimana-gimana’ gitu,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu tahu betul, isu energi mudah disusupi hoaks. Karena itu, ia memilih menghadapi langsung — berdialog di hadapan mahasiswa, menjelaskan soal kebijakan etanol yang sempat ramai di media sosial. Bahlil menjelaskan dengan detail bahwa etanol bukan sekadar bahan kimia, tetapi bahan bakar masa depan. “Etanol itu didapatkan dari jagung, tebu, dan singkong. Campuran ini digunakan untuk menurunkan emisi dan membuat energi lebih bersih,” jelasnya. Ia menambahkan, Indonesia sedang bergerak menuju campuran bahan bakar baru — B50 untuk solar dan S10 untuk bensin.Artinya, 50% bahan bakar berasal dari Crude Palm Oil (CPO) dan 10% dari etanol nabati. Langkah ini, kata Bahlil, bukan hanya bagian dari kebijakan transisi energi global, tapi juga strategi untuk mengurangi impor BBM yang mencapai Rp520 triliun per tahun. Di forum itu, Bahlil memaparkan data perbandingan: Amerika Serikat: sudah menerapkan campuran E20 (etanol 20%) Brasil: bahkan mencapai E85 India & Thailand: berada di kisaran B10–B20 “Yang bilang ini hoaks itu mereka yang tidak ingin kuota impor dipangkas,” tegasnya,menyinggung pihak-pihak yang disebut “nyaman di zona impor.” Menurutnya, Indonesia sudah terlalu lama tergantung pada energi fosil impor. Ia ingin perubahan yang nyata — bukan sekadar wacana di atas kertas.
Disoraki Mahasiswa, Bahlil Tantang Debat Terbuka di Kampus UMM

SEWAKTU.id – Riuh tepuk tangan dan sorakan mahasiswa memenuhi hall Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat Bahlil Lahadalia naik ke podium. Sebagian bersorak, sebagian menyimak. Namun, bukan Bahlil namanya kalau mundur. Ia justru tersenyum dan menantang balik. “Kritik itu gizi bagi saya. Kalian boleh debat dari jam 9 pagi sampai jam 9 pagi lagi, asal pakai data!” ujarnya disambut tepuk tangan keras. Momen itu terjadi dalam kuliah umum bertajuk Energi untuk Indonesia Maju pada akhir Oktober 2025. Sorakan mahasiswa muncul saat Bahlil menjelaskan soal program energi berbasis etanol yang sempat disebut “hoaks” di media sosial. Di tengah suasana yang sedikit panas, Bahlil mencoba mencairkan dengan gaya khasnya — santai tapi tajam. “Om suka kalau kalian agak gimana-gimana gitu,” katanya dengan senyum lebar. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia paham bagaimana rasanya berdebat di forum publik. Ia pun menegaskan, demokrasi tak bisa dijalankan tanpa keberanian bertanya dan berpikir kritis. “Saya dulu juga sering protes ke menteri waktu masih mahasiswa. Tapi sekarang giliran saya yang berdiri di depan kalian,” ujarnya disambut tawa. Sorakan mahasiswa bermula dari penjelasan Bahlil tentang B50 dan S10, kebijakan bahan bakar campuran berbasis minyak sawit dan etanol. Sebagian mahasiswa menilai program itu belum jelas secara teknis. Namun, Bahlil langsung menegaskan: “Yang bilang ini hoaks adalah mereka yang tidak mau kuota impornya dipangkas. Ini soal kedaulatan energi bangsa.” Menurutnya, etanol adalah bahan baku bersih yang diambil dari tebu, jagung, dan singkong, dan saat ini sudah digunakan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan India. Ia pun menantang mahasiswa untuk membuka data dan berdiskusi, bukan sekadar meyakini apa yang viral di media sosial.
Inklusi Sejati di JSEF: Melawan Stigma dengan Ekonomi Kreatif

BHIRAWA – Jatim Socio-Economic Festival (JSEF) selalu menjadi etalase megah bagi potensi ekonomi Jawa Timur. Namun, tahun ini, ada satu sudut yang menarik perhatian dan membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar transaksi jual beli. Sudut itu adalah stan Dinas Sosial (Dinsos) Jatim, yang dengan berani membawa karya-karya dari kelompok yang sering dianggap marginal: para penyandang disabilitas dan Penerima Manfaat (PM) Balai Rehabilitasi Sosial. Kehadiran produk-produk ini di JSEF adalah sebuah deklarasi politik sosial. Ini bukan lagi era di mana penyandang disabilitas hanya ditempatkan sebagai objek belas kasihan atau penerima bantuan sosial pasif. Dinsos Jatim, melalui pameran ini, secara tegas mendudukkan mereka sebagai subjek ekonomi kreatif yang produktif dan kompetitif. Ini merupakan pergeseran paradigma yang fundamental dan patut diapresiasi secara luas. Kita harus mengapresiasi langkah ini. Di tengah hiruk pikuk pameran, di mana setiap brand berlomba menonjolkan keunggulan produk, karya-karya dari Balai PRS PMKS Sidoarjo, misalnya, berhasil mencuri perhatian. Pengunjung tidak hanya sekadar melirik, tetapi melakukan dialog, melihat kualitas, dan pada akhirnya, membeli. Produk yang dipamerkan bukanlah sekadar kerajinan tangan biasa. Mereka menunjukkan tingkat keterampilan yang diasah melalui pembinaan intensif. Bayangkan: tas-tas estetik yang dibuat dari bahan ramah lingkungan, kain batik dengan motif khas yang dirancang PM, hingga hasil sulam pita yang menuntut ketelitian tinggi, yang sering dijadikan hiasan halus pada aksesori. Variasi dan kualitas produk ini menegaskan keseriusan PM dalam menjalani proses rehabilitasi. Keberhasilan produk ini menembus pameran bergengsi seperti JSEF adalah indikator kuat dari dua hal: Pertama, kualitas pembinaan di Balai. Pendekatan rehabilitasi sosial telah berevolusi, kini berfokus pada skill-based dan kemandirian ekonomi. Balai berfungsi sebagai pusat pelatihan vokasi yang efektif. Kedua, adanya sinergi yang tepat, termasuk peran pendampingan kritis dari pihak luar-seperti yang dilakukan oleh mahasiswa magang CoE Sosiologi FISIP UMM-yang membawa perspektif baru dalam mendorong partisipasi PM. Mahasiswa membawa wawasan tentang tren pasar dan pengemasan produk, memastikan hasil karya PM tidak hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga relevan secara estetika dan pemasaran. Pameran ini adalah ruang verifikasi bagi kualitas produk PM. Ketika konsumen membeli tas atau batik buatan mereka, konsumen tidak sedang beramal. Mereka sedang membeli kualitas yang telah teruji, sekaligus melakukan investasi sosial. Ini adalah momen krusial yang mengubah persepsi publik secara radikal: dari ‘kasihan’ menjadi ‘berdaya’. Inilah langkah konkret menuju normalisasi peran ekonomi disabilitas. Konsep inklusi seringkali disempitkan hanya pada urusan aksesibilitas fisik, seperti ramp atau fasilitas umum. Tentu saja, akses fisik penting, namun inklusi sejati adalah ketika kelompok marjinal memiliki akses yang setara ke pasar dan kesempatan ekonomi. Tanpa akses pasar yang adil, semua keterampilan vokasi yang telah diasah di Balai akan sia-sia dan kembali terperangkap dalam lingkaran ketergantungan. Dinsos Jatim telah membuka pintu akses pasar yang selama ini tertutup oleh stigma. Dengan menempatkan produk PM di JSEF, Dinsos mengirim pesan jelas kepada seluruh pelaku usaha dan masyarakat: potensi ekonomi para penyandang disabilitas adalah nyata, dan produk mereka layak bersaing di level premium. Tantangannya ke depan adalah keberlanjutan. JSEF adalah ajang tahunan, namun siklus produksi PM berlangsung sepanjang tahun. Oleh karena itu, kita dituntut untuk berpikir lebih jauh. Jika produk mereka mampu bersaing di mal, mengapa akses pasar ini tidak diperluas secara permanen? Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa produk-produk dari Balai ini memiliki jalur pemasaran yang terstandardisasi. Ini bisa diwujudkan melalui kemitraan strategis dengan ritel modern, pengembangan platform e-commerce khusus (dengan dukungan logistik dan digital marketing), maupun melalui kewajiban alokasi produk dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Skema affirmative action dalam pengadaan barang pemerintah menjadi kunci agar produk PM mendapat pasar yang pasti. Artikel opini ini hendak mendudukkan persoalan: keberdayaan disabilitas bukanlah domain filantropi, melainkan domain pembangunan ekonomi dan hak asasi manusia. Kehadiran Dinsos Jatim di JSEF memberikan wawasan baru bahwa investasi sosial yang cerdas adalah investasi yang fokus pada skill dan akses pasar. Program rehabilitasi harus berorientasi pada hasil (produk) dan penjualan (pasar). Dampak psikologis dari keberhasilan penjualan ini jauh lebih besar daripada sekadar nilai rupiahnya. Seperti yang disampaikan oleh Aulia Fitria Sari, ASN Fungsional Pekerja Sosial Balai PRS PMKS Sidoarjo, “Mengubah stigma membutuhkan lebih dari kata-kata; ia membutuhkan bukti nyata berupa produk yang dihargai oleh pasar. Ketika produk mereka laku, nilai diri mereka ikut terangkat. Itulah inti dari rehabilitasi berbasis keberdayaan.” Kutipan ini merangkum seluruh filosofi pemberdayaan: pengakuan melalui transaksi komersial adalah validasi tertinggi atas kemampuan individu. Berita Terkait : Garap Bisnis Tambang, Owner Tamami Group Minta Polda dan Polres Tertibkan Tambang Liar di Situbondo Peran perguruan tinggi, seperti CoE Sosiologi UMM, juga menjadi krusial dalam memberikan pendampingan berbasis riset, memastikan program pembinaan di Balai tidak sekadar rutinitas, tetapi memiliki pendekatan kritis, humanis, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Sosiolog memiliki peran menganalisis dinamika kelompok PM, memastikan motivasi internal tetap tinggi, dan menjembatani PM dengan struktur pasar yang kompleks. Sinergi ini harus diperkuat, menjadikan Balai sebagai laboratorium sosial-ekonomi. Inklusi sejati terjadi ketika kita tidak lagi perlu menyebut ‘produk disabilitas’, tetapi cukup menyebut ‘produk berkualitas’ yang kebetulan dibuat oleh penyandang disabilitas. JSEF adalah langkah awal yang brilian ke arah itu. Kini tinggal bagaimana keberanian ini diterjemahkan menjadi kebijakan yang berkelanjutan dan terstruktur. Komitmen Pemprov Jatim untuk terus mengalokasikan ruang dan sumber daya bagi kelompok ini akan menentukan keberhasilan program inklusi Jawa Timur di masa depan
Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Dosen UMM: Diplomasi Bahasa yang Makin Kuat

pwmu.co – Momen menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menyampaikan pidato perdananya di forum internasional itu menggunakan Bahasa Indonesia.Peristiwa ini bukan sekadar simbol kebanggaan, tapi juga menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di dunia. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengatakan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28. Resolusi itu menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023 (6/10/2025). “Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia,” ujarnya. Isnaini, yang akrab disapa Krisna, menjelaskan bahwa UMM turut mengambil peran strategis melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Prodi ini berkomitmen menyiapkan lulusan yang kompeten di bidang pengajaran bahasa, termasuk sebagai tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). “Upaya ini sejalan dengan visi UMM yang ingin mengantarkan Bahasa Indonesia tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan,” jelasnya. Menurut Krisna, keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan, pengakuan itu bukan hanya prestasi simbolik, melainkan juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk ikut mendorong internasionalisasi bahasa nasional. “Diplomasi bahasa adalah instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” ungkapnya. Ia juga menyinggung dasar hukum yang memperkuat arah kebijakan ini, yakni Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, disebutkan bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap dan berkelanjutan. Implementasi nyata dari kebijakan ini, kata Krisna, salah satunya melalui pengembangan program BIPA di berbagai perguruan tinggi, termasuk UMM. Program tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bahasa, tapi juga media diplomasi budaya Indonesia. “Kami mempersiapkan mahasiswa agar punya kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri,” ujarnya. Krisna menambahkan, pengakuan UNESCO juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap Bahasa Indonesia. Banyak universitas luar negeri dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi Asia Tenggara. “Ini bukan hanya soal kebanggaan, tapi juga tanda bahwa Bahasa Indonesia semakin diterima di ranah akademik dan diplomatik,” katanya. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Diperlukan peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar berkualitas dan memperluas jejaring pengajaran BIPA. “Kami melihat peluang besar bagi lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor Bahasa Indonesia di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan BIPA, UMM siap menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” tegasnya. Dengan penuh optimisme, Krisna berharap kolaborasi antara pemerintah, lembaga bahasa, dan perguruan tinggi terus diperkuat. “Bahasa Indonesia harus terus mendapatkan ruang lebih luas di dunia internasional. Ini bukan hanya tentang bahasa, tapi tentang jati diri dan peran Indonesia di tengah masyarakat global,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
UMM dan Shimonoseki City University Bentuk Japan Corner

RRI.CO.ID – KBRN, Malang : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk Japan Corner sebagai pusat akademik dan kebudayaan Jepang yang akan menjadi wadah pembelajaran, riset, serta penguatan hubungan antarbangsa. Inisiatif ini merupakan hasil kerja sama antara UMM dan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, yang ditandai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Rabu (5/11/2025) di Kampus Putih. “Japan Corner menjadi simbol konkret kolaborasi lintas negara antara UMM dan SCU, sekaligus menjadi Japan Academic and Cultural Center pertama di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah,” kata Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik. Ia berharap, Japan Corner dapat memperkuat jembatan pendidikan, budaya, dan penelitian antara Indonesia dan Jepang. “Japan Corner akan menjadi ruang belajar dan dialog budaya yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Di sini, mereka dapat mempelajari bahasa, budaya, dan etos kerja Jepang sekaligus mengembangkan kolaborasi riset dan inovasi bersama,” jelas Prof. Nazaruddin. Ia menambahkan, pusat ini juga akan menjadi tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar, riset bersama, dan studi lanjut di Jepang. Kolaborasi dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, menyampaikan bahwa kemitraan dengan UMM menjadi kerja sama pertama SCU dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara sekaligus universitas Islam. “Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami ingin tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Prof. Chang juga menegaskan, melalui Japan Corner, SCU dan UMM akan memperkuat kerja sama di bidang penelitian agribisnis, pengembangan pascasarjana, pertukaran mahasiswa, serta riset sosial-humaniora yang relevan dengan tantangan global masa kini.
Mendikdasmen Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Dosen UMM: Bukti Diplomasi Budaya Berhasil

KLIKMU.CO – Hal menarik terjadi dalam Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Menanggapi hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr M Isnaini MPd, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. “Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia,” ujarnya, Kamis (6/11/2025). Menurut Isnaini, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten di bidang pendidikan bahasa serta siap menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Isnaini—yang akrab disapa Krisna—menilai bahwa keputusan UNESCO merupakan bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan sekadar bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. “Ini langkah yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia,” ujarnya. Krisna menambahkan, diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara, katanya, dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Implementasi konkret dari kebijakan ini, menurutnya, diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program tersebut, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” jelasnya. Lebih jauh, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Isnaini menegaskan bahwa internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ungkapnya. Dengan optimisme tinggi, ia berharap Bahasa Indonesia terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah, menurutnya, menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. “Harapannya, Bahasa Indonesia semakin mendapatkan ruang yang luas di dunia internasional,” pungkasnya. (Wildan/AS)