Dr Sholahuddin Al Fatih MH Siapa dan Akun IG Miliknya Apa? Inilah Profil Dosen UMM Malang yang Berhasil Masuk Daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia

JatimNetwork.com – Belakangan nama Dr Sholahuddin Al Fatih MH disorot banyak orang. Siapa sebenarnya Sholahuddin Al Fatih? Daripada penasaran, mari simak profil dari Sholahuddin Al Fatih dan termasuk alasan ia menjadi viral. 1. Viralnya Sosok Ini Ternyata ia adalah seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen ini meraih prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di dunia dan khususnya di kampusnya sendiri. Dilansir JatimNetwork.com dari laman umm.ac.id, diketahui bahwa Sholahuddin menempati daftar seratus akademisi terbaik di dunia dalam bidang ilmu sosial versi measuresHE. Namanya kini sejajar dengan sejumlah peneliti top dari perguruan tinggi di dunia. Kabarnya, ia menempati peringkat ke-91 dalam hal memvalidasi upaya pengejaran riset. Berdasarkan pengakuan dari Sholahuddin, prestasi ini tak lepas dari dukungan pihak kampus dalam menyediakan fasilitas riset, hingga akses untuk jurnal. Ia adalah dosen di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Sholahuddin aktif di Instagram (IG) dan punya akun bernama @sholahuddin.alfatih dengan sekitar 1,4 ribu pengikut. Dari informasi di bio Instagram @sholahuddin.alfatih, diketahui bahwa sang dosen merupakan alumni S2 dari Universitas Airlangga dengan beasiswa LPDP. Kemudian ia meraih gelar Magister Hukum dalam waktu satu tahun pendidikan. Usai menyelesaikan pendidikannya, Sholahuddin menjadi dosen di UMM. Di sana ia juga menjadi PIC Humas Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 2018 sampai saat ini. Kemudian ia juga sekretaris pusat kajian pancasila dan konstitusi di FH UMM. Tak hanya sebagai dosen saja, tapi sosok ini merupakan manajer Bakti Nusa Malang. Ini adalah program penumpuhan kepemimpinan aktivitas mahasiswa. Selain itu juga persiapan karir pasca kampus dan pendanaan leadership project.***

Wacana Prodi Keguruan Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

Tugumalang.id – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan perdebatan soal wacana penghapusan prodi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan itu dinilai berisiko karena dinilai menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menerangkan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual itu akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” paparnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. ”Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional,” ungkapnya. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antar wilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.

Daripada Tutup Prodi, UMM Pilih Tingkatkan Kurikulum dan Kompetensi Mahasiswa

KETIK, BATU – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pandangan tersendiri terhadap rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menutup program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan. Daripada menutup, UMM justru fokus meningkatkan kualitas kurikulum agar setiap jurusan mampu mencetak lulusan siap kerja dan mandiri. Wakil Rektor I UMM Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Teknologi Digital, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menilai kebijakan terkait penataan program studi seharusnya didasarkan pada kajian menyeluruh dan data yang akurat. Menurutnya, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan, yakni penyebab persoalan dan solusi yang akan diambil. “Ketika muncul pernyataan seperti itu, pertama yang harus dicari adalah penyebabnya. Kedua, bagaimana solusinya. Kebijakan tidak bisa dibuat begitu saja, tetapi harus berbasis data,” ujarnya saat diwawancarai Ketik.com, pada Kamis, 30 April 2026. Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika ini menjelaskan, dalam merumuskan sebuah kebijakan setidaknya harus melalui empat tahapan, yakni pemahaman, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat aspek tersebut dinilai penting agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak sekadar berdasarkan asumsi. “Kalau empat aspek itu dilakukan, maka kebijakan yang disampaikan akan akurat, bukan sekadar keinginan sesaat atau berdasarkan kasus tertentu,” katanya. Menurut dia, penutupan program studi bukan satu-satunya jalan keluar. Perguruan tinggi justru perlu melakukan pembaruan kurikulum agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja dan mampu menciptakan peluang kerja secara mandiri. Di lingkungan UMM, kata dia, langkah penyesuaian sudah dilakukan sejak lama melalui pembaruan kurikulum dan penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. UMM sudah mengembangkan konsep Center of Excellence (COE), yang kini akan dikembangkan menjadi Center Excellence Solution (CES). Melalui skema tersebut, setiap program studi didorong memiliki keunggulan spesifik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia industri. “Kami tidak hanya menyiapkan mahasiswa menjadi pegawai di tempat lain, tetapi juga bagaimana mereka mampu memberdayakan dirinya sendiri. Itu yang kami lakukan melalui COE yang ke depan dikembangkan menjadi CES,” jelasnya. Prof. Akhsanul menambahkan, setiap program studi pada dasarnya tetap memiliki peluang berkembang selama kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, UMM memilih meningkatkan relevansi program studi daripada menutupnya. “Prodi apa pun tidak menjadi masalah selama terus dikembangkan. Kurikulumnya diperbarui, mahasiswanya dibekali kompetensi, dan diarahkan agar bisa bekerja sesuai passion maupun mandiri,” tegasnya. Menurut Prof. Akhsanul, persoalan utama di sejumlah daerah justru terletak pada perencanaan pembukaan program studi yang kurang matang. Ia mencontohkan banyak perguruan tinggi membuka jurusan kesehatan maupun pendidikan secara masif, namun tidak diimbangi kebutuhan pasar dan kualitas pengelolaan. “Akibatnya, ada perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan mahasiswa, mutu pendidikan menurun, dan biaya pengembangan kurikulum juga menjadi persoalan,” ungkapnya. Selain pembaruan kurikulum, UMM juga menyiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan kerja masa depan melalui konsep Center for Future Work (CFW). Program ini dirancang agar lulusan memiliki kesiapan bekerja sesuai minat, bakat, dan perkembangan dunia kerja ke depan. “Kami sudah lama menyiapkan itu. Mahasiswa harus siap bekerja sesuai passion-nya, sekaligus memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri,” ujarnya. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco menyampaikan rencana penutupan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi masa depan. Pernyataan itu disampaikan dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis, 23 April 2026. (*)

Sarjana Pendidikan Terancam karena Industri, Akademisi UMM Angkat Suara

KLIKMU.CO – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk “tragedi kalkulator pendidikan”. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar “pabrik” pemasok tenaga kerja bagi industri. Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr M. Isnaini MPd menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujar Ketua Prodi BSI Modern itu, Rabu (29/4/2026). Dia menambahkan, pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodi tersebut, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. (Faqih/AS)

Sepuluh Mahasiswa UMM Magang di Kyushu Jepang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Industri otomotif Jepang adalah benteng kedisiplinan. Standarnya setinggi langit. Ketelitian adalah harga mati. Namun, tembok besar itu berhasil ditembus oleh sepuluh anak muda dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). ​Nicholas Saputra adalah salah satunya. Mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022 ini bukan sekadar datang untuk berkunjung. Ia adalah bagian dari program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang. Sejak 6 Agustus 2025, Nicholas dan sembilan rekannya resmi menjadi penggerak di balik layar raksasa otomotif dunia. Lolosnya Nicholas bukan sebuah kebetulan. Jalurnya resmi melalui kampus. Namun, seleksinya “berdarah-darah”. Mereka harus melewati tes fisik yang menguras tenaga, psikotes yang tajam, hingga evaluasi akademik yang ketat. Bahasa Jepang dasar pun wajib dikuasai. ​”Ini bukan sekadar kerja. Ini soal membuktikan bahwa mahasiswa kita punya mentalitas global,” ujar salah satu koordinator program magang UMM. ​Di Jepang, Nicholas terjun langsung ke divisi krusial. Ada yang di bagian welding (pengelasan) yang butuh presisi milimeter. Ada yang di divisi painting untuk memastikan bodi mobil anti-karat. Hingga divisi assembly, tempat ribuan komponen dirangkai menjadi unit utuh. ​Ritme kerjanya cepat. Sangat cepat. Nicholas mengaku sempat mengalami culture shock. ​“Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus tidak boleh sembarangan. Benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas dengan tegas. ​Jam kerja panjang adalah makanan sehari-hari. Lembur pun menjadi kewajiban rutin. Awalnya melelahkan, namun sistem kompensasi yang adil menjadi penawar letih. Upah lembur yang tinggi di Jepang memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa. ​Kendala bahasa tetap ada. Namun bagi Nicholas, hambatan komunikasi justru menjadi sekolah mental yang paling berharga. Ia tidak melihatnya sebagai beban, melainkan tantangan untuk naik kelas. ​“Kerja di luar negeri itu menarik. Buat mencari skill baru dan pengalaman baru. Saya ingin tahu rasanya bekerja langsung dengan standar orang Jepang,” tuturnya. ​Keberhasilan sepuluh mahasiswa ini menjadi bukti nyata kualitas Kampus Putih. UMM sukses menjembatani ruang kelas dengan realitas industri internasional. Kisah Nicholas adalah pesan kuat: mahasiswa daerah bisa menaklukkan panggung dunia asalkan punya keberanian dan persiapan yang matang. ​Kini, di bawah bising mesin pabrik Kyushu, Nicholas dan kawan-kawan sedang memahat masa depan. Mereka tidak hanya membawa pulang ilmu, tapi juga harga diri bangsa. (imm/udi)

Cegah Kekerasan di Daycare, Pemkot Malang Perketat Pengawasan hingga Tingkat RT

MALANG POST – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang, memperketat pengawasan terhadap seluruh Taman Pengasuhan Anak (TPA) atau daycare guna mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap anak. Langkah strategis ini dilakukan melalui pendataan masif di tingkat RT serta optimalisasi program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) di setiap kelurahan untuk menjamin keamanan buah hati bagi orang tua yang aktif bekerja. Penyuluh Ahli Madya Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Sri Utami, menjelaskan, hingga saat ini terdapat 20 daycare di Kota Malang yang telah masuk dalam pendataan resmi dan memenuhi persyaratan operasional. Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap keberadaan lembaga yang belum berizin. “Kami aktif mendata daycare yang belum memiliki izin operasional. Pengawasan dilakukan secara kolaboratif melibatkan kader di tingkat RT hingga kelurahan. Hal ini penting agar orang tua merasa tenang saat menitipkan anak mereka,” ujar Sri Utami, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk City Guide FM, Rabu (29/4/2026). Standar Pengasuhan Harus Pakai Hati Ketua PD HIMPAUDI Kota Malang sekaligus Pengelola Daycare PAUD Terpadu Siti Hajar, Maisaroh, mengungkapkan bahwa akar masalah kekerasan di lembaga pengasuhan sering kali dipicu oleh ketidaksiapan mental pengasuh. Menurutnya, mengasuh anak tidak cukup hanya dengan keahlian teknis, tetapi harus dilakukan sepenuh hati. “Lembaga harus memiliki standar minimal, terutama komitmen pengasuhan yang dituangkan dalam SOP. Orang tua juga memiliki hak mutlak untuk memantau aktivitas anaknya tanpa halangan,” tegas Maisaroh. Ia menyarankan agar setiap daycare menyediakan fasilitas CCTV yang bisa diakses atau dipantau secara transparan. Selain itu, komunikasi dua arah melalui grup WhatsApp antara pengasuh dan orang tua harus dioptimalkan untuk memantau perkembangan harian anak. Jika ditemukan kejanggalan, orang tua diminta segera melapor ke kepala lembaga untuk proses mediasi dan pemberian sanksi tegas bagi pelanggar. Kenali Sinyal “Tantrum” pada Anak Psikolog dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati, mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Penyesalan orang tua sering kali datang terlambat karena kurang jeli membaca tanda-tanda trauma pada anak yang belum bisa bicara. “Waspadai jika anak menunjukkan sikap yang tidak biasa setiap kali akan diantar ke daycare, seperti mengamuk tiba-tiba, menangis histeris, hingga tantrum yang tidak wajar. Itu bisa menjadi sinyal bahwa anak merasa tidak aman di lingkungannya,” papar Diana. Diana menambahkan, anak yang mendapatkan pengasuhan baik akan terlihat bahagia saat dijemput, tidak ada luka fisik, dan memiliki kualitas tidur yang tenang. Ia menyarankan agar orang tua rutin memberikan stimulasi agar anak mau bercerita tentang pengalamannya. “Mulailah dengan menceritakan keseharian orang tua terlebih dahulu. Pola komunikasi ini akan memancing anak untuk ikut bercerita tentang apa yang ia alami selama di daycare. Kejujuran anak adalah kunci utama deteksi dini kekerasan,” pungkasnya. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)

Mahasiswa Magister UMM Ciptakan Pahlawan PRIMA

MALANG POST – Siapa sangka, sebuah permainan papan (board game) bisa membawa harum nama bangsa sekaligus menanamkan kepedulian ekologis bagi generasi muda. Ini berkat inovasi board game edukasi lingkungan bertajuk “Pahlawan PRIMA”. Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Izza Amalia, sukses menyabet penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 di Singapura dan Malaysia, pada 20–23 April 2026. Capaian membanggakan tersebut berawal dari keresahan Izza melihat metode edukasi lingkungan yang kerap kali terasa kaku. Melalui inisiasi pribadinya, ia merancang Pahlawan PRIMA sebagai terobosan metode pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berdampak nyata. “Board game Pahlawan PRIMA ini saya inisiasi sebagai media edukasi yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong pemain untuk benar-benar memahami dan melakukan aksi nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Izza. Permainan ini membawa pemain masuk ke dalam narasi Pulau PRIMA, sebuah kawasan yang awalnya asri, seimbang, dan penuh kehidupan dengan air jernih serta pepohonan subur. Namun, kondisi itu perlahan rusak akibat tumpukan sampah, krisis air, dan bencana alam yang dipicu oleh minimnya kesadaran manusia. Di sinilah para pemain ditantang untuk mengambil peran sebagai “pahlawan” penyelamat pulau. Setiap keputusan yang diambil dalam permainan akan langsung berdampak pada nasib Pulau PRIMA. Sehingga merangsang nalar kritis sekaligus menuntut tindakan yang solutif. Secara mekanis, “Pahlawan PRIMA” dirancang dengan berbagai kartu interaktif yang saling melengkapi. Terdapat kartu aksi untuk memperagakan perilaku positif, kartu tantangan yang mendorong pemain melakukan aksi nyata secara langsung. Hingga kartu risiko yang memicu pemain untuk berdiskusi memecahkan masalah dalam kelompok. Kombinasi ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan aplikatif. Pendekatan ini menjadikan proses belajar tidak sekadar berhenti pada tataran teoritis, melainkan memberikan pengalaman langsung yang membekas. Izza menilai, metode pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan keterlibatan sekaligus kesadaran peserta secara jauh lebih efektif. “Saya melihat bahwa edukasi lingkungan sering kali terasa membosankan. Karena itu, saya ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian, sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih membekas dan mendorong perubahan perilaku,” tambahnya. Menariknya, di akhir kompetisi, inovasi ini tidak hanya mengantarkan Izza meraih penghargaan individu. Tim yang digawanginya juga berhasil dinobatkan sebagai Best Group. Prestasi ganda ini kian menegaskan bahwa inovasi yang diusung mahasiswa UMM memiliki nilai kolaboratif tinggi dan dampak kuat yang diakui di tingkat internasional.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Paradoks Gadget Menurut Pakar Psikologi Pendidikan: Antara Akselerasi Kecerdasan dan Ancaman Melemahnya Generasi Anak

JATIMTIMES – Gawai kini tak lagi sekadar alat bantu. Di tangan anak-anak, ia menjelma menjadi ruang hidup kedua yang secara halus namun konsisten membentuk pola pikir, emosi, hingga cara berinteraksi. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan. Teknologi yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya ketika digunakan tanpa kendali. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menyebut fenomena ini sebagai realitas global yang juga tengah terjadi di Indonesia. “Dampak teknologi itu terbagi menjadi dua. Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu, (29/4/2026). Dalam lanskap digital saat ini, anak-anak memang memiliki privilege akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif mampu menjadi medium akselerasi kognitif. Bahkan, menurut Arina, tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi dapat menjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak. Namun, di balik potensi itu, tersimpan sisi gelap yang kerap luput dari perhatian. Ketika penggunaan gadget tidak terkelola, anak-anak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai over-stimulation tanpa makna. Mereka aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif. Arina mencontohkan fenomena anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Situasi ini menunjukkan terjadinya disrupsi atensi, ketika fokus anak sepenuhnya tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya. Dampaknya tidak berhenti pada perilaku sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu degradasi kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujar Arina. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang tidak mendapatkan stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah membuat proses berpikir tidak terasah secara optimal. Arina bahkan menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya. Di sisi lain, muncul pula fenomena yang tak kalah menarik, yakni paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang memiliki kemampuan berpikir cepat justru berpotensi mengalami stagnasi sosial. Mereka merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan proses interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujar Arina. Kondisi ini membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial. Di tengah kompleksitas tersebut, Arina menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis sebagai “control tower” dalam ekosistem pengasuhan digital. Ia menekankan bahwa ibu bukan sekadar pengasuh, melainkan arsitek utama dalam pembentukan karakter anak. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada institusi formal. Dibutuhkan intervensi yang lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua. Gagasan ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku saku atau panduan praktis yang berisi strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan screen time, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun bonding emosional tanpa ketergantungan pada gadget. “Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang solid. Selain itu, Arina menyoroti pentingnya role model dari orang tua. Regulasi tanpa keteladanan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan sederhana di rumah, seperti pembatasan penggunaan gadget dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya. Momentum tanpa gadget ini menjadi ruang strategis untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar. Interaksi langsung, percakapan hangat, hingga aktivitas bersama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak yang utuh. Pada akhirnya, gawai memang menghadirkan paradoks yang tak terelakkan. Ia bisa menjadi akselerator kecerdasan, sekaligus pemicu degradasi potensi. Kuncinya terletak pada bagaimana teknologi itu dikelola. “Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” kata Arina. Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget. Yang lebih krusial adalah siapa yang memegang kendali. Dari situlah masa depan generasi berikutnya sedang ditentukan, perlahan namun pasti.

Paradoks Gadget Menurut Pakar Psikologi Pendidikan: Antara Akselerasi Kecerdasan dan Ancaman Melemahnya Generasi Anak

JATIMTIMES – Gawai kini tak lagi sekadar alat bantu. Di tangan anak-anak, ia menjelma menjadi ruang hidup kedua yang secara halus namun konsisten membentuk pola pikir, emosi, hingga cara berinteraksi. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan. Teknologi yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya ketika digunakan tanpa kendali. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menyebut fenomena ini sebagai realitas global yang juga tengah terjadi di Indonesia. “Dampak teknologi itu terbagi menjadi dua. Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu, (29/4/2026). Dalam lanskap digital saat ini, anak-anak memang memiliki privilege akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif mampu menjadi medium akselerasi kognitif. Bahkan, menurut Arina, tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi dapat menjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak. Namun, di balik potensi itu, tersimpan sisi gelap yang kerap luput dari perhatian. Ketika penggunaan gadget tidak terkelola, anak-anak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai over-stimulation tanpa makna. Mereka aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif. Arina mencontohkan fenomena anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Situasi ini menunjukkan terjadinya disrupsi atensi, ketika fokus anak sepenuhnya tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya. Dampaknya tidak berhenti pada perilaku sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu degradasi kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujar Arina. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang tidak mendapatkan stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah membuat proses berpikir tidak terasah secara optimal. Arina bahkan menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya. Di sisi lain, muncul pula fenomena yang tak kalah menarik, yakni paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang memiliki kemampuan berpikir cepat justru berpotensi mengalami stagnasi sosial. Mereka merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan proses interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujar Arina. Kondisi ini membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial. Di tengah kompleksitas tersebut, Arina menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis sebagai “control tower” dalam ekosistem pengasuhan digital. Ia menekankan bahwa ibu bukan sekadar pengasuh, melainkan arsitek utama dalam pembentukan karakter anak. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada institusi formal. Dibutuhkan intervensi yang lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua. Gagasan ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku saku atau panduan praktis yang berisi strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan screen time, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun bonding emosional tanpa ketergantungan pada gadget. “Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang solid. Selain itu, Arina menyoroti pentingnya role model dari orang tua. Regulasi tanpa keteladanan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan sederhana di rumah, seperti pembatasan penggunaan gadget dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya. Momentum tanpa gadget ini menjadi ruang strategis untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar. Interaksi langsung, percakapan hangat, hingga aktivitas bersama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak yang utuh. Pada akhirnya, gawai memang menghadirkan paradoks yang tak terelakkan. Ia bisa menjadi akselerator kecerdasan, sekaligus pemicu degradasi potensi. Kuncinya terletak pada bagaimana teknologi itu dikelola. “Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” kata Arina. Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget. Yang lebih krusial adalah siapa yang memegang kendali. Dari situlah masa depan generasi berikutnya sedang ditentukan, perlahan namun pasti.

Prestasi Global! UMM Resmi Sandang UNESCO Chair Ekosistem Air Berkelanjutan

Visinews.net – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan kiprah globalnya dengan resmi memperoleh mandat prestisius sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026, pengakuan internasional atas komitmen kampus dalam keberlanjutan sumber daya air. Capaian strategis ini mendapat apresiasi dari Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M., dalam Wisuda ke-121 UMM pada 28 April 2026, yang menilai langkah UMM sebagai kontribusi konkret terhadap agenda global. Retno Marsudi, yang juga pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI 2014–2024, menegaskan bahwa inisiatif UMM dalam pengelolaan ekosistem perairan tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis air yang berkelanjutan. Menurutnya, UMM membuktikan bahwa langkah-langkah kecil di tingkat lokal dapat menjadi bagian penting dari solusi global, dengan dorongan kuat pada inovasi ekosistem air yang berdampak langsung pada kesejahteraan publik. Ia juga memaparkan kondisi krisis air dunia yang kian mengkhawatirkan akibat perubahan iklim, di mana sekitar 80–90 persen bencana dalam satu dekade terakhir merupakan banjir, serta kerugian ekonomi global pada 2024 mencapai 550 miliar dolar AS. Selain itu, ancaman kekeringan diproyeksikan dapat memaksa hingga 700 juta penduduk dunia mengungsi pada tahun 2030, mempertegas urgensi aksi nyata. Krisis ini mengancam ketahanan pangan global, mengingat sekitar 70 persen konsumsi air tawar digunakan untuk sektor pertanian. Melalui penetapan UNESCO Chair ini, UMM diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi teknologi efisiensi air, sistem daur ulang, serta pengembangan teknologi pendingin hemat air yang aplikatif. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa capaian ini merupakan bentuk tanggung jawab moral perguruan tinggi kepada masyarakat luas. Melalui penguatan Center of Excellence CoE, UMM mengintegrasikan pengelolaan air sebagai solusi strategis, termasuk pemanfaatan energi mikrohidro untuk mendukung keberlanjutan.***