Keren! Mahasiswa UMM Sabet 3 Penghargaan Sekaligus di Forum Internasional

INDOZONE.ID – Mahendra Dwi Febrian, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan memborong tiga penghargaan dalam ajang Ahmad Dahlan International Youth Camp yang digelar pada 14 November 2026 di Khayangan Adventure Park, Yogyakarta. Dalam forum yang mempertemukan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dari berbagai daerah tersebut, Mahendra sukses meraih Juara 1 Best Critical Thinker, Harapan 2 Best Essay, serta Juara 2 Best Presentation. Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membuktikan daya saing mahasiswa UMM di level internasional. Ia dinilai mampu menunjukkan kombinasi kuat antara kemampuan berpikir kritis, ketajaman analisis isu, serta keterampilan komunikasi akademik yang matang saat mempresentasikan gagasannya di hadapan para juri dan peserta lain. Dalam kompetisi tersebut, peserta dituntut untuk tidak sekadar memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkan berbagai isu global dengan perspektif keilmuan masing-masing. Ia berhasil memanfaatkan latar belakang Ilmu Pemerintahan untuk membedah isu secara komprehensif, mulai dari perumusan masalah, analisis kebijakan, hingga penyampaian solusi yang aplikatif. Menurutnya, pengalaman mengikuti ajang ini memberikan banyak pelajaran berharga, baik dari sisi akademik maupun pengembangan diri. “Lingkungan kegiatan sangat mendukung untuk bertukar gagasan dan memperluas jejaring akademik. Kami bisa berdiskusi, saling belajar, dan membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai PTMA di Indonesia,” tuturnya. Ia juga menekankan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari peran lingkungan sekitar. Dukungan dari dosen, teman, serta keluarga menjadi faktor penting yang membangun kepercayaan dirinya selama mengikuti rangkaian kompetisi yang cukup kompetitif tersebut. Selain aspek akademik, pengalaman berada di Yogyakarta turut memberikan kesan tersendiri. Kota yang dikenal sebagai pusat budaya ini memiliki suasana yang kondusif sekaligus memberikan ruang refleksi bagi para peserta. Ajang Ahmad Dahlan International Youth Camp sendiri tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga dirancang sebagai wadah pengembangan kapasitas generasi muda melalui berbagai sesi diskusi, presentasi, dan kolaborasi. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengasah kemampuan akademik, memperluas wawasan, serta aktif berpartisipasi dalam forum ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.

Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 hingga Raih Wisudawan Terbaik

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kualitas riset berstandar global kembali ditunjukkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Melalui kolaborasi lintas negara dan inovasi teknologi energi terbarukan, mahasiswa Teknik Mesin, Abi Mufid Octavio, sukses menorehkan prestasi gemilang dengan publikasi ilmiah di jurnal terindeks Scopus Q3 sekaligus dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Pencapaian tersebut diraih lewat riset bertajuk Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine. Penelitian ini tidak sekadar menjadi tugas akhir, tetapi juga bagian dari kolaborasi strategis lintas disiplin dan lintas negara. Selain melibatkan dosen dari Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, riset ini juga menggandeng mahasiswa dari National Formosa University. Fokus utama penelitian Mufid adalah hilirisasi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang mampu beroperasi optimal pada kecepatan angin rendah, sehingga relevan digunakan di wilayah pedesaan yang kerap mengalami keterbatasan akses energi. Menariknya, teknologi ini dirancang menggunakan material lokal yang mudah ditemukan dan dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan serta bisa diperbaiki sendiri oleh masyarakat,” tegas Mufid. Prestasi akademik Mufid tidak berhenti pada publikasi internasional. Ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis serta penulis buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Berbagai inovasinya bahkan rutin mendapatkan pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Di tingkat kompetisi, kiprahnya juga tak kalah gemilang. Ia pernah meraih penghargaan pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, medali perak kompetisi sains tingkat ASEAN, hingga Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid mengakui, keberhasilannya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang mendukung penuh pengembangan potensi mahasiswa. Ia menilai kampus memberikan ruang luas bagi setiap mahasiswa untuk berprestasi dan berkembang. “Di UMM, semua mahasiswa punya kesempatan yang sama dan setiap prestasi pasti dihargai,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid berencana melanjutkan studi ke jenjang magister guna memperdalam riset dan memperluas kontribusinya di bidang teknologi energi terbarukan. Ia juga membagikan pesan inspiratif bagi generasi muda akademisi agar tetap tangguh menghadapi tantangan penelitian. “Kalau sedang mengalami kebuntuan, tidak apa-apa rehat sejenak. Tapi yang terpenting, penelitian yang baik bukan hanya berkualitas, melainkan juga harus selesai,” pungkasnya.

Kolaborasi Lintas Negara, Inovasi Turbin Angin Bawa Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 dan Lulusan Terbaik

pwmu.co – Kualitas riset dan iklim akademik bertaraf internasional kembali dibuktikan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi turbin angin ramah lingkungan dan kolaborasi riset lintas negara, Abi Mufid Octavio, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, sukses mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q3.Pencapaian akademik tingkat global ini sekaligus mengantarkannya meraih ekuivalensi bebas skripsi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Riset yang mengusung judul Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine ini bukan sekadar pemenuhan tugas akhir. Proyek ini merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis lintas disiplin dan lintas negara. Penelitian tersebut melibatkan kepakaran dosen Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, serta menggandeng mahasiswa dari National Formosa University, Taiwan. Fokus utama penelitian ini adalah hilirisasi teknologi. Mufid mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang dirancang khusus agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah, memberikan solusi konkret bagi krisis energi di kawasan pedesaan. Dengan memanfaatkan material lokal yang mudah dijangkau di pasaran, teknologi tepat guna ini dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memakan biaya besar. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Rekam jejak akademik Mufid menjadi representasi nyata dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan unggul yang kompetitif secara global. Portofolio risetnya sangat komprehensif; tidak hanya diakui lewat publikasi Scopus, ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Cipta (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan telah menerbitkan buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Inovasinya pun secara rutin mendapatkan pendanaan bergengsi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek.   Abi Mufid Octavio, dengan salah satu kreativitasnya (Foto: Ist/PWMU.CO) Di level kompetisi, daya saingnya tak perlu diragukan. Mufid pernah menyabet gelar Juara Kategori Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, meraih medali perak pada kompetisi sains tingkat ASEAN, serta membawa pulang gelar Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid menyadari bahwa seluruh pencapaian intelektualnya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang sangat progresif dalam mewadahi potensi mahasiswanya. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama. Semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid bersiap melanjutkan studi ke jenjang magister untuk terus mengembangkan kapasitas riset dan pengabdiannya. Sebagai peneliti muda yang telah teruji ketekunannya melalui berbagai fase simulasi dan kegagalan desain, ia menekankan pentingnya resiliensi dalam dunia akademik. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya membagikan pesan inspiratif bagi para akademisi muda lainnya. *) Penulis : Humas UMM

UMM Dinobatkan sebagai Kampus Inovatif di Bidang Kehumasan

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di bidang kehumasan. Kampus Putih ini berhasil meraih penghargaan Innovative Public Relation and Information berkat kinerja unggul serta kemampuan adaptasi teknologi dalam penyampaian informasi. Penghargaan tersebut diserahkan pada Sabtu (25/4/2026) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam rangka Milad Satu Dekade PWMU.CO. Capaian ini sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai kampus inovatif dalam praktik kehumasan di lingkungan perguruan tinggi. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menyampaikan rasa syukurnya atas apresiasi tersebut. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas komitmen tim dalam menghadirkan komunikasi yang relevan dan berdampak. “Penghargaan ini memiliki makna besar bagi UMM. Ini bukan sekadar trofi, tetapi pengakuan atas komitmen kami untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Ini juga hasil kerja keras kolektif seluruh tim dalam membangun jembatan komunikasi yang efektif antara kampus dan masyarakat,” ujarnya. Dia menjelaskan, keberhasilan UMM tidak lepas dari keberanian melakukan konvergensi media. UMM kini tidak hanya mengandalkan rilis berita konvensional, tetapi juga mengintegrasikan berbagai platform digital, mulai dari media sosial interaktif, produksi konten audiovisual, hingga penguatan sistem informasi yang ramah pengguna. Menurut Maharina, strategi tersebut memberikan dampak nyata. Civitas akademika dapat mengakses informasi lebih cepat, sementara masyarakat luas memperoleh gambaran transparan terkait capaian, riset, dan kontribusi UMM. “Keterbukaan ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap UMM terus meningkat,” tambahnya. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi di bidang kehumasan agar tetap adaptif terhadap disrupsi digital. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan, untuk membaca tren publik. “Kami ingin menciptakan inovasi informasi yang lebih interaktif. Harapannya, UMM dapat terus menjadi trendsetter dalam praktik public relations perguruan tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya. Penghargaan yang dianugerahkan oleh PWMU.CO ini semakin mengukuhkan UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam komunikasi publik. Dengan semangat inovasi yang berkelanjutan, UMM berkomitmen menghadirkan informasi yang profesional, relevan, dan tepercaya bagi masyarakat. (Faqih/AS)

Tembus Ketatnya Industri Otomotif Jepang, 10 Mahasiswa UMM Magang di Daihatsu Kyushu

  pwmu.co – Menembus ketatnya industri otomotif Jepang yang dikenal dengan disiplin tinggi dan standar kualitas ketat bukanlah hal mudah. Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Melalui program magang internasional di Daihatsu Kyushu, Jepang, kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih ini kembali menunjukkan kualitas mahasiswanya di level global. Salah satunya adalah Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022, yang menjadi bagian dari 10 mahasiswa terpilih dalam program tersebut. Program magang ini berlangsung selama satu tahun penuh, terhitung sejak 6 Agustus 2025. Kesempatan tersebut diperoleh melalui jalur resmi kampus yang diinformasikan langsung oleh program studi. Untuk bisa lolos, Nicholas dan sembilan rekannya harus melewati proses seleksi yang panjang dan menantang. Tahapan seleksi meliputi tes fisik, psikotes, evaluasi akademik, hingga pelatihan bahasa Jepang dasar sebagai bekal adaptasi di lingkungan kerja internasional. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga mencerminkan kesiapan mahasiswa UMM dalam menghadapi persaingan global. Industri Jepang dikenal dengan ritme kerja cepat, disiplin tinggi, dan tuntutan profesionalisme yang kuat. Dalam program tersebut, para mahasiswa ditempatkan di berbagai divisi penting, seperti welding (pengelasan), painting (pengecatan), hingga assembly (perakitan). Mereka terlibat langsung dalam proses produksi kendaraan, mulai dari penyambungan rangka hingga perakitan komponen menjadi mobil utuh. Pengalaman ini memberikan pembelajaran praktis yang tidak didapatkan di ruang kelas, sekaligus meningkatkan kompetensi teknis mahasiswa. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” ungkapnya. Nicholas mengaku sempat mengalami culture shock saat menghadapi ritme kerja di Jepang. Jam kerja yang panjang serta kewajiban lembur yang hampir setiap hari menjadi tantangan tersendiri. Namun demikian, sistem kerja di Jepang juga memberikan kompensasi yang jelas dan adil, terutama dalam hal upah lembur yang lebih tinggi dibandingkan jam kerja normal. Selain itu, kendala bahasa dan adaptasi budaya menjadi hambatan dalam komunikasi di lingkungan kerja. Meski demikian, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk ketangguhan mental. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” tuturnya. Capaian ini semakin memperkuat citra UMM sebagai perguruan tinggi yang mampu menjembatani kualitas akademik dengan kebutuhan industri global. Kisah Nicholas menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di kancah internasional dengan bekal kompetensi, keberanian, dan dukungan sistem pendidikan yang kuat. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Konflik Timur Tengah, UMKM Kita yang ‘Berdarah Oleh: Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh:  Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Konflik internasional tidak lagi hanya menjadi konsumsi layar berita atau ruang diplomasi yang kaku. Hari ini, ia telah merembes hingga ke ruang paling sederhana: dapur rakyat. Ketika harga plastik pembungkus gorengan atau kemasan produk UMKM di pasar tradisional mulai merangkak naik, banyak yang menganggapnya sebagai gejala inflasi biasa. Padahal, di balik kenaikan harga tersebut, terdapat persoalan struktural yang jauh lebih besar yaitu rapuhnya benteng pertahanan industri domestik kita di tengah pusaran gejolak dunia. Gangguan pasokan bahan baku plastik menjadi bukti paling nyata betapa “ringkih” kedaulatan ekonomi kita saat ini. Sebagai produk turunan minyak bumi, ketersediaan plastik sangat bergantung pada stabilitas distribusi energi global. Begitu jalur logistik di titik krusial seperti Laut Merah terdisrupsi, atau sanksi ekonomi dijatuhkan pada negara produsen energi di Timur Tengah, industri plastik dalam negeri langsung terseok. Ironisnya, dampak terbesar justru dihantamkan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini kita sebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Logika Efisiensi yang Menjebak Selama beberapa dekade, ketergantungan pada impor bahan baku sering dianggap sebagai pilihan rasional demi efisiensi. Logika Global Value Chain (GVC) menggiring kita pada pemikiran bahwa membeli bahan baku murah dari luar negeri adalah kunci untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing. Namun, rentetan krisis global beberapa tahun terakhir meruntuhkan logika tersebut. Efisiensi tanpa kemandirian ternyata hanyalah sebuah kerentanan yang terbungkus rapi. Indonesia masih mengandalkan pasokan biji plastik (polimer) dari luar negeri dalam jumlah yang sangat signifikan. Ketika jalur distribusi terganggu baik karena konflik bersenjata, hambatan logistik, maupun perang dagang industri hilir kita tidak memiliki cukup penyangga. Kita seolah-olah membangun rumah yang megah, namun fondasi tiangnya dipinjam dari luar negeri. Begitu pemilik tiang sedang berselisih, rumah kita terancam ambruk. Bagi pedagang kecil atau perajin jajanan pasar, plastik bukan sekadar komoditas industri; ia adalah kebutuhan harian yang menentukan hidup dan matinya usaha. Ketika harga kemasan melonjak, mereka dihadapkan pada dilema yang mustahil. Jika mereka menaikkan harga produk, risiko kehilangan pelanggan sangat besar karena daya beli masyarakat yang juga belum sepenuhnya pulih. Namun, jika mereka mempertahankan harga lama, keuntungan yang sudah setipis kertas akan hilang sama sekali. Dalam kondisi ini, globalisasi tidak lagi terasa seperti peluang pasar, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup rakyat kecil. Hilirisasi: Bukan Sekadar Slogan Kondisi ini seharusnya menjadi momentum refleksi sekaligus alarm keras bagi para pengambil kebijakan. Wacana penguatan industri petrokimia nasional dan hilirisasi migas sebenarnya sudah lama digaungkan. Namun, implementasinya kerap berjalan lambat, tidak konsisten, atau bahkan sering kali terhenti di tengah jalan karena benturan kepentingan jangka pendek. Akibatnya, setiap kali krisis global terjadi, respons pemerintah dan pelaku industri cenderung reaktif. Kita sering kali sibuk mencari pemasok alternatif atau sekadar merumuskan subsidi sementara, padahal persoalan utamanya belum tersentuh: bagaimana membangun sistem industri yang mandiri dan tahan terhadap guncangan eksternal. Hilirisasi tidak boleh hanya menjadi jargon politik di sektor pertambangan mineral. Hilirisasi petrokimia, yang menjadi basis bagi berbagai produk turunan termasuk plastik, adalah harga mati jika kita ingin memiliki kedaulatan ekonomi yang substansial. Selain itu, kita perlu melirik potensi ekonomi sirkular secara serius. Krisis bahan baku plastik “virgin” (asli) dari minyak bumi seharusnya menjadi pendorong untuk memperkuat ekosistem daur ulang nasional. Jika sistem pengelolaan sampah dan teknologi daur ulang kita mumpuni, plastik bekas bisa diubah menjadi bahan baku berkualitas yang mampu mensubsitusi ketergantungan kita pada impor. Dengan begitu, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menciptakan benteng pertahanan ekonomi dari dalam. Membangun Benteng Mandiri Ketahanan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari angka-angka pertumbuhan makro yang terpampang di tabel statistik. Ia juga harus dilihat dari seberapa kuat struktur industri dalam negeri mampu melindungi rakyatnya dari tekanan eksternal. Selama fondasi industri hulu kita masih rapuh dan bergantung pada belas kasihan distribusi global, maka setiap letupan senjata di belahan dunia lain akan selalu berujung pada beban yang harus ditanggung oleh rakyat di pinggir jalan. Dunia hari ini bergerak dalam ketidakpastian yang permanen. Tidak ada yang bisa menjamin kapan konflik global akan benar-benar mereda. Namun, satu hal yang pasti: dampaknya akan terus memukul kita selama kita belum mau berbenah secara fundamental. Ketergantungan yang dibiarkan terlalu lama hanya akan memperbesar risiko di masa depan. Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang harga seplastik gorengan. Ini adalah cermin dari bagaimana sebuah negara mengelola kedaulatan ekonominya. Apakah kita akan terus-menerus menjadi penonton yang reaktif dan mudah terombang-ambing oleh guncangan global, atau kita mulai berani membangun kemandirian yang nyata? Konflik global memang berada di luar kendali kita. Namun, memperkuat fondasi ekonomi di tanah air adalah pilihan yang sepenuhnya ada di tangan kita. Persoalannya, apakah kita benar-benar siap untuk berubah dan berinvestasi pada kemandirian jangka panjang, atau kita hanya akan kembali menunggu krisis berikutnya datang untuk kembali terkejut? Pilihan tersebut harus dijawab dengan langkah konkret sekarang juga, sebelum “dapur” rakyat benar-benar kehilangan apinya.

Kolaborasi Lintas Negara dan Inovasi Turbin Angin Bawa Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 Hingga Jadi Lulusan Terbaik

Kualitas riset dan iklim akademik bertaraf internasional kembali dibuktikan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi turbin angin ramah lingkungan dan kolaborasi riset lintas negara, Abi Mufid Octavio, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, sukses mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q3. Pencapaian akademik tingkat global ini sekaligus mengantarkannya meraih ekuivalensi bebas skripsi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Riset yang mengusung judul Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine ini bukan sekadar pemenuhan tugas akhir. Proyek ini merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis lintas disiplin dan lintas negara. Penelitian tersebut melibatkan kepakaran dosen Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, serta menggandeng mahasiswa dari National Formosa University, Taiwan. Fokus utama penelitian ini adalah hilirisasi teknologi. Mufid mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang dirancang khusus agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah, memberikan solusi konkret bagi krisis energi di kawasan pedesaan. Dengan memanfaatkan material lokal yang mudah dijangkau di pasaran, teknologi tepat guna ini dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memakan biaya besar. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Rekam jejak akademik Mufid menjadi representasi nyata dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan unggul yang kompetitif secara global. Portofolio risetnya sangat komprehensif; tidak hanya diakui lewat publikasi Scopus, ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Cipta (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan telah menerbitkan buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Inovasinya pun secara rutin mendapatkan pendanaan bergengsi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Di level kompetisi, daya saingnya tak perlu diragukan. Mufid pernah menyabet gelar Juara Kategori Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, meraih medali perak pada kompetisi sains tingkat ASEAN, serta membawa pulang gelar Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid menyadari bahwa seluruh pencapaian intelektualnya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang sangat progresif dalam mewadahi potensi mahasiswanya. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama. Semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid bersiap melanjutkan studi ke jenjang magister untuk terus mengembangkan kapasitas riset dan pengabdiannya. Sebagai peneliti muda yang telah teruji ketekunannya melalui berbagai fase simulasi dan kegagalan desain, ia menekankan pentingnya resiliensi dalam dunia akademik. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya membagikan pesan inspiratif bagi para akademisi muda lainnya.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Retno Marsudi di Wisuda UMM, Sebut Inovasi Air Kampus Putih Berdampak Besar bagi Dunia

Di tengah bayang-bayang krisis air yang mengancam dunia, Sejarah baru tercipta bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencetak tonggak pencapaian monumental. Kampus Putih resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Tak main-main, pengakuan prestisius level dunia ini diapresiasi langsung oleh Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Hal itu sekaligus menahbiskan UMM sebagai garda terdepan dari Indonesia dalam menjaga nadi kehidupan ekosistem perairan global. Momen bersejarah ini menjadi sorotan utama dalam prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4/2026). Hadir secara khusus untuk memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi sapaan akrabnya yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 juga memberikan apresiasi tinggi atas rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan UMM. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno disambut gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan dan orang tua yang memadati arena. Dalam orasinya, diplomat senior ini membongkar realitas mengerikan terkait kondisi air global yang makin terancam oleh perubahan iklim, termasuk lenyapnya 600 gigaton gletser dunia di tahun 2023. Secara garis besar, dunia kini dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Di tahun 2024 saja, bencana ini mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS. Ancaman kekeringan juga diproyeksikan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di tahun 2050. Serta tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit mematikan akibat sanitasi yang buruk. Krisis ini, lanjut Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan secara langsung untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, melalui mandat UNESCO Chair ini, ia menaruh harapan besar agar UMM terus menjadi penggerak inovasi dalam riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin (cooling system) hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa arah pengembangan kampus tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat. Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk melalui pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. “Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Terakhir, ia menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat, mengingat mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah amanah besar. Beliau mendorong para lulusan UMM untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban, serta mampu menjadi sumber kebaikan di mana pun mereka berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gelar Kejuaraan Karate Nasional, UMM Siapkan Hadiah Puluhan Juta dan Golden Ticket Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat eksistensinya di bidang olahraga dengan menggelar ajang bergengsi bertajuk UMM Open Karate Championship 2026. Turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Mei 2026 mendatang itu merupakan kejuaraan karate terbuka perdana yang diselenggarakan oleh Kampus Putih sebagai tuan rumah. Ketua Pelaksana Kejuaraan, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyatakan bahwa persiapan telah dilakukan secara maksimal guna menyambut ribuan karateka dari berbagai penjuru tanah air. Meski secara administratif merupakan kejuaraan tingkat regional, kualitas peserta yang berkomitmen hadir telah mencapai level nasional. Tercatat, atlet dari lima provinsi besar telah mengonfirmasi kehadiran mereka, yakni dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Bali, hingga Papua. “Kami menyiapkan yang terbaik untuk kegiatan ini. Ini adalah event open perdana di UMM, tidak hanya untuk cabang olahraga karate, tetapi juga menjadi pionir bagi cabang olahraga lainnya. Target kami jelas, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi bagi kontingen UMM sendiri, serta sukses penjaringan bibit atlet berprestasi,” ujarnya 27 April pada Tim Humas UMM. Kejuaraan ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 atlet yang akan berlaga di dua kategori utama, yaitu kategori Festival dan kategori Open. Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa UMM Open Karate Championship telah menjadi magnet baru bagi pegiat olahraga bela diri di Indonesia. Selain memperebutkan podium juara, panitia telah menyiapkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp24 juta. Namun, daya tarik yang paling dinantikan oleh para atlet pelajar adalah ketersediaan Golden Ticket untuk masuk menjadi mahasiswa UMM. Program ini secara khusus dirancang untuk menjaring atlet berbakat agar dapat menempuh pendidikan di Kampus Putih, terutama pada Program Studi Kepelatihan Olahraga maupun program studi lainnya melalui jalur prestasi. Ary menjelaskan bahwa sebelumnya kegiatan karate di UMM hanya terbatas pada lingkup internal, seperti Rektor Cup. Kejuaraan terbuka ini diharapkan menjadi pemantik bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya di lingkungan UMM untuk berani menyelenggarakan acara serupa dengan skala yang lebih luas. “Harapannya, turnamen ini memberikan awalan yang baik bagi kawan-kawan UKM untuk membuat event sekaliber ini. Setelah karate, kami sudah menyiapkan rangkaian kegiatan susulan untuk cabang bela diri lain seperti Tapak Suci dan Taekwondo,” pungkasnya. Melalui ajang ini, UMM membuktikan komitmennya dalam mendukung pengembangan bakat generasi muda sekaligus menciptakan ekosistem olahraga yang kompetitif dan profesional di lingkungan universitas.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Invasi Ikan Sapu-sapu Ancam Kelestarian Ekosistem Ikan Endemik

beritajejakfakta – Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang meledak di berbagai sungai di Indonesia dilaporkan mengancam keberadaan ikan lokal melalui kompetisi nutrisi dan perusakan habitat pada Jumat (24/4/2026). Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, menjelaskan bahwa spesies invasif ini menyebabkan kerusakan ekosistem melalui tiga mekanisme utama. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan kolapsnya rantai makanan di perairan tawar. Dilansir dari Hijau, mekanisme pertama melibatkan perebutan sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar. Hal ini membuat ikan lokal kehilangan pakan alami yang menjadi sumber pertumbuhan mereka. Dominasi biomassa menjadi faktor kedua, di mana ikan sapu-sapu mengambil alih ruang hidup secara masif. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mereka menggali lubang di tepian sungai yang memicu erosi dan merusak tempat pemijahan alami. Ikan sapu-sapu juga diketahui memiliki sifat omnivora oportunistik yang memangsa telur serta larva ikan endemik saat pakan menipis. Spesies lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada di ambang kepunahan lokal akibat aktivitas tersebut. Kemampuan bertahan hidup ikan ini tergolong ekstrem karena memiliki kulit keras berlapis pelat serta sirip berduri tajam yang sulit dimangsa predator. Selain itu, spesies ini mampu hidup dalam kondisi perairan dengan kadar oksigen yang sangat rendah. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” kata Rindya Fery Indrawan, Dosen Perikanan UMM. Laboratorium Perikanan UMM saat ini fokus melakukan riset dan pengembangan ikan wader untuk dilepaskan kembali ke alam. Upaya mitigasi lain yang diusulkan meliputi penangkapan massal untuk menekan jumlah biomassa ikan sapu-sapu di perairan. Ikan hasil tangkapan tersebut dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak. Namun, pengolahan untuk konsumsi manusia dilarang jika ikan berasal dari perairan yang telah tercemar logam berat. Fery menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk tidak melepasliarkan ikan predator peliharaan ke alam. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan publik sangat dibutuhkan guna menjaga ketahanan pangan dan identitas perikanan nasional.