Abdidaya Ormawa 2025 UMM, Dari Inovasi Pengusir Hama Hingga Pesta Kreativitas Mahasiswa Nasional

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pusat perhatian dunia pendidikan tinggi nasional. Kampus Putih ini didapuk menjadi tuan rumah ajang bergengsi Anugerah Abdidaya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) 2025 yang digelar bersamaan dengan Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 4 sampai 6 Desember 2025. Bukan sekadar seremonial, ajang inisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) ini menjadi etalase nyata bagaimana mahasiswa menjawab keresahan masyarakat. Salah satu sorotan utama datang dari tuan rumah sendiri, yang menghadirkan inovasi teknologi pertanian mutakhir untuk mengatasi musuh utama petani: hama. Di tengah kemeriahan acara, stan kolaborasi lintas disiplin UMM, yang menggabungkan Himpunan Mahasiswa Agribisnis, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika, sukses menyedot perhatian pengunjung pada hari kedua gelaran. Berangkat dari keresahan kelompok tani lokal, tim ini menciptakan alat Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT). Alat canggih ini bertenaga surya dan dirancang khusus untuk mengusir hama burung serta tikus menggunakan gelombang ultrasonik. Muhammad Firdaus, salah satu anggota tim inovator, menjelaskan bahwa teknologi ini lahir dari observasi lapangan yang mendalam. “Kami turun langsung ke lahan dan melihat sendiri bagaimana burung dan tikus merusak hasil panen. Dari situ kami sadar, harus ada teknologi yang bisa membantu tanpa membebani petani,” ungkap Firdaus. Keberhasilan menembus ajang nasional ini memiliki makna mendalam bagi tim UMM. Firdaus menyebut pencapaian ini sebagai sejarah baru bagi himpunannya. “Tahun sekarang ini kami pecah rekor! Ini pertama kalinya Himpunan Mahasiswa Agribisnis mencapai titik ini,” tuturnya penuh bangga. Ia menegaskan bahwa inovasi mahasiswa UMM bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan solusi taktis yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat akar rumput. Sejak pagi, kompleks kampus UMM dipenuhi energi positif. Aroma kopi dan kuliner dari bazar UMKM berpadu dengan semangat ratusan peserta yang memadati area Lokakarya dan Expo Poster. Galeri terbuka ini menampilkan luaran wajib dan produk tambahan dari ratusan tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Dewan juri tampak sibuk menilai karya-karya terbaik berdasarkan aspek informatif, kreativitas visual, hingga bobot inovasi. Persaingan dipastikan ketat mengingat ada banyak kategori yang diperebutkan dalam malam penganugerahan, meliputi: 13 Kategori Tim Pelaksana, 7 Kategori Ormawa, 3 Kategori Mitra Keberlanjutan, 5 Kategori Perguruan Tinggi. Euforia Abdidaya Ormawa 2025 dirasakan kuat oleh seluruh delegasi. Rizal, peserta asal Universitas Diponegoro (UNDIP), mengaku terkesan dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun di UMM. “Kesan dari teman-teman sih seru banget ya kemarin. Bahkan hampir gak mau pulang,” ujar Rizal. Ia menyoroti semangat gotong royong antar tim yang saling bahu-membahu, menghilangkan sekat kompetisi yang kaku. Menutup hari kedua, Rizal berharap ajang seperti Abdidaya terus digelar rutin. “Impact-nya bukan cuma ke individu, tapi benar-benar ke pemberdayaan masyarakat,” tutupnya. (dan/ian)

Hadiri Sarasehan Abdidaya Ormawa UMM, Wabup Lathifah Shohib Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Tanpa Ego dan Kolaborasi Kampus

MALANG, Zonamalang.com – Sinergi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi terus diperkuat demi mencetak generasi pemimpin masa depan yang berkualitas. Hal ini terlihat dari kehadiran Wakil Bupati Malang dalam forum strategis kemahasiswaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, hadir secara langsung dalam agenda “Sarasehan Dosen Pembimbing Abdidaya Ormawa 2025” yang digelar di Aula GKB III Lantai 6, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada Jumat (5/12) siang. Kehadiran orang nomor dua di Kabupaten Malang ini disambut hangat oleh civitas akademika kampus putih tersebut. Dalam forum yang mengusung tema besar “Abdidaya Ormawa Berdampak dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas” ini, sosok yang akrab disapa Bu Nyai Lathifah tersebut didapuk untuk memberikan arahan strategis. Ia berbicara di hadapan Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., serta ratusan dosen pembimbing dan perwakilan mahasiswa peserta program. Membuka paparannya, Wabup Malang menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif UMM dalam menyelenggarakan kegiatan Abdidaya Ormawa. Menurutnya, program ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah wadah krusial untuk mengasah ketajaman sosial mahasiswa. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya sangat berterima kasih dapat berpartisipasi di sini. Abdidaya Ormawa harus kita pandang sebagai instrumen strategis. Ini bukan hanya soal penguatan internal organisasi, tetapi bagaimana tantangan Ormawa dalam memberikan dampak riil kepada masyarakat lewat pemberdayaan,” tegas Lathifah. Lebih jauh, Bu Nyai Lathifah menyoroti tantangan zaman yang kian kompleks di era disrupsi saat ini. Ia menekankan bahwa transformasi adalah sebuah keniscayaan. Organisasi kemahasiswaan (Ormawa) sebagai laboratorium kepemimpinan, dituntut untuk tidak statis dan harus terus bergerak adaptif. Dalam konteks kepemimpinan, Wabup Malang mengutip pemikiran pakar manajemen terkemuka, Peter Senge. Ia merujuk pada konsep dalam buku The Fifth Discipline, yang mendefinisikan pemimpin sejati sebagai sosok pembelajar seumur hidup (lifelong learner). “Kunci kepemimpinan mahasiswa di era modern adalah dinamisasi. Seperti kata Peter Senge, pemimpin adalah mereka yang terus menerus belajar, membangun organisasi pembelajar, dan selalu berpikir secara sistemik. Tidak bisa lagi kita menggunakan pola pikir lama yang kaku,” ujarnya memberikan pencerahan. Lathifah juga memberikan penekanan khusus mengenai bahaya ego sektoral dalam kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin masa depan harus memiliki paradigma luas dan inklusif. Mentalitas “ingin menang sendiri” atau mengedepankan ego sentral harus dikubur dalam-dalam jika ingin mencapai kesuksesan organisasi. “Pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang jeli melihat peluang kolaborasi. Keberhasilan organisasi tidak dicapai sendirian, melainkan lewat jalinan kerjasama dengan berbagai pihak. Prinsip kolaboratif inilah yang akan membuat organisasi mahasiswa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” imbuhnya. Menutup arahannya, Wabup Lathifah menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Malang untuk terus membuka pintu kolaborasi dengan perguruan tinggi. Ia berharap, luaran dari kegiatan Abdidaya Ormawa 2025 ini tidak hanya berhenti di ruang diskusi, tetapi mewujud dalam karya nyata bagi masyarakat luas. “Peran kritis dan karya nyata mahasiswa sangat kami nantikan untuk pembangunan Kabupaten Malang. Semoga diskusi hari ini membuka cakrawala berpikir kita semua untuk memperkuat sinergi menuju harmonisasi pembangunan yang kita cita-citakan,” pungkasnya. Analisis Redaksi: Pesan yang disampaikan Wabup Malang sangat relevan dengan kondisi kekinian, di mana seringkali terjadi gap atau kesenjangan antara idealisme mahasiswa di kampus dengan realitas kebutuhan masyarakat di lapangan. Penekanan pada “Organisasi Pembelajar” dan penghapusan “Ego Sentral” adalah kritik halus namun membangun bagi gerakan mahasiswa yang terkadang terjebak dalam politik internal kampus. Sinergi “Pentahelix” yang melibatkan Pemerintah (Pemkab Malang) dan Akademisi (UMM) melalui program Abdidaya ini adalah model ideal pembangunan daerah. Jika mahasiswa mampu menerjemahkan arahan ini menjadi program pengabdian desa yang konkret, maka percepatan pembangunan di wilayah Kabupaten Malang akan sangat terbantu oleh inovasi kaum intelektual muda.

Wabup Malang Dorong Mahasiswa Aktif Berkontribusi Dalam Pembangunan Desa

Kabupaten Malang, blok-a.com – Wakil Bupati (Wabup) Malang, Hj Lathifah Shohib mengatakan pentingnya menyediakan ruang aktualisasi bagi mahasiswa agar potensi mereka tersalurkan ke kegiatan yang bermanfaat. Hal itu disampaikan saat menghadiri Sarasehan Abdidaya Ormawa di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (Umm) pada Jumat (5/12/2025). Menurutnya, mahasiswa perlu diberikan panggung untuk menunjukkan kemampuan sekaligus diarahkan melalui aktivitas positif yang berdampak langsung pada pembangunan desa. “Memang mahasiswa harus diberi ruang, diberi tempat untuk mengaktualisasikan kemampuannya supaya potensinya itu tersalur ke kegiatan-kegiatan yang positif,” ujar Lathifah. Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam proses hilirisasi hasil penelitian. Kegiatan Abdidaya, kata dia, harus menjadi sarana nyata bagi kampus untuk memastikan inovasi tidak berhenti di tataran konsep. “Saya sampaikan ke teman-teman dosen supaya hasil penelitian itu bermula dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Jadi penelitian tidak berupa konsep-konsep saja, tetapi diaplikasikan ke masyarakat,” tuturnya. Lathifah mencontohkan berbagai inovasi di sektor peternakan yang bisa diimplementasikan untuk mendukung kebutuhan bahan pangan Kabupaten Malang. “Misalnya ada inovasi untuk percepatan ternak, baik ayam petelur, ayam potong maupun sapi. Itu bisa diimplementasikan dengan pendampingan kepada masyarakat,” imbuhnya. Ia juga menyebut inovasi tersebut dapat bersinergi dengan program nasional, termasuk rencana pemerintah menyiapkan tiga juta sapi merah putih. “Kalau nanti bisa disalurkan dengan memberdayakan masyarakat sebagai peternak, peran perguruan tinggi dan mahasiswa sangat kita perlukan,” tegasnya. Selain meningkatkan kemampuan, aktivitas produktif juga dinilai mampu mencegah mahasiswa terjerumus dalam perilaku menyimpang, termasuk narkoba. “Kalau mahasiswa diberi kesibukan-kesibukan yang positif, Insya Allah tidak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelas Lathifah. Lathifah berharap mahasiswa semakin mengambil peran penting dalam pembangunan daerah. Kolaborasi antara kampus, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat, menurutnya, akan menghasilkan program yang lebih solutif. “Saya kira peran perguruan tinggi dan mahasiswa itu sangat kita perlukan. Kegiatan seperti ini terus dilakukan agar ilmu mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas, tapi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Malang,” pungkasnya. (yog/bob)

Ribuan Mahasiswa 93 Kampus Adu Cerdik Kontes Kapal di UMM

MALANG, MEMORANDUM.CO.ID – Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menampilkan karya terbaik dan berkompetisi dalam Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 4-6 Desember 2025. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yulianto mengapresiasi konsistensi dalam membangun ekosistem inovasi mahasiswa. “KKI adalah, arena inovasi maritim. Memperkuat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Abdidaya menunjukkan, bagaimana membaca kebutuhan masyarakat yang inovatif dan berkelanjutan. Tiga pesan penting, keberanian menghadapi masalah, kemampuan mencari solusi berbasis ilmu dan teknologi, serta komitmen pada keberlanjutan,” terangnya saat pembukaan di DOME UMM, Kamis malam 04 Desember 2025. Lomba ini, kata dia, sebuah investasi untuk melahirkan pemimpin masa depan. Tidak hanya mengejar juara, namun menghadirkan karya yang berdampak dan dapat direplikasi. Ia menegaskan, penyelenggaraan terpadu KKI dan Abdidaya merupakan momentum penting,  memperkuat budaya riset, teknologi, dan pengabdian masyarakat. Bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan investasi strategis mencetak generasi muda, berani menghadapi ketidakpastian. Sementara itu, Ketua Pelaksana, Amrul Faruq, M.Eng., Ph.D., menyebut, tahun ini momen bersejarah. Karena pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. “Ada 93 perguruan tinggi berpartisipasi, dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya.  Membuktikan peningkatan signifikan, tingginya antusiasme terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, desain kapal, sistem kontrol, dan pendekatan teknis mahasiswa semakin cerdas dan efisien. Abdidaya juga terus menjadi rujukan nasional dalam menilai program pengabdian masyarakat yang berorientasi keberlanjutan. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, MT menyebut, Keberanian tampil dan membawa nama almamater adalah nilai penting dalam proses pembentukan calon pemimpin bangsa. “Mereka bukan hanya peserta lomba, tetapi generasi masa depan yang sedang ditempa,” tegasnya.(edr)

Magister Pedagogi UMM Workshop Pemanfaatan AI untuk Riset Jurnal Internasional

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Program Studi Magister Pedagogi Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar workshop tematik Mencari Ide Jurnal Internasional Bereputasi dengan Bantuan AI, Jumat (5/12) 2025 secara online. Workshop tersebut dijelaskan Ketua Program Studi Magister Pedagogi, Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd. Meskipun dilaksanakan secara online, kata Erna workshop berlangsung interaktif dengan peserta mahasiswa, dosen, serta pemerhati pendidikan. Antusiasme tersebut sesuai dengan materi sambutannya, menegaskan pentingnya penguatan budaya riset di lingkungan akademik yang selaras dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Dalam pengamatan Erna, pemanfaatan AI saat ini menjadi salah satu strategi efektif untuk menggali ide penelitian yang relevan dan berpotensi dipublikasikan dalam jurnal bereputasi internasional. Itu sebabnya, nara sumber yang dihadirkan juga terkait dengan praktisi yang mumpuni teknologi. Yakni Sekretaris PSB PPG FKIP UMM sekaligus praktisi publikasi ilmiah, Ahmad Fauzi, M.Pd. Dijelaskan Erna, melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Pedagogi UMM berharap dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dan civitas akademika dalam menghasilkan karya ilmiah yang inovatif, berkontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan, sekaligus memperkuat reputasi publikasi di tingkat internasional. Selain itu, Magister Pedagogi UMM menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan terus mendorong lahirnya akademisi yang unggul dalam publikasi ilmiah. Di tempat berbeda, Sekretaris PSB PPG FKIP UMM sekaligus praktisi publikasi ilmiah, Ahmad Fauzi, M.Pd, saat memaparkan materi menjelaskan berbagai teknik dan platform AI yang dapat digunakan untuk eksplorasi topik, pemetaan tren penelitian global, hingga perumusan gap riset secara sistematis. Peserta juga diberikan kesempatan praktik langsung sehingga dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara real-time. Sekedar diketahui, workshop ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berjalan aktif dan produktif. Para peserta mengaku memperoleh wawasan baru serta merasa lebih percaya diri dalam merancang peneli

UMM dan UiTM Malaysia Hidupkan Permainan Tradisional Jawa untuk Audiens Global

MONITOR, Malang – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring internasional. Bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, UMM menggelar program kolaborasi bertajuk “Multimedia Cultural Chronicles: Unveiling the Joy of Javanese Traditional Games Collaboration Program” yang berlangsung selama sepekan sejak 23 November 2025. Melalui program ini, mahasiswa Indonesia dan Malaysia bersama-sama mendokumentasikan permainan tradisional Jawa untuk dipublikasikan ke audiens global. Program ini menghadirkan mahasiswa internasional dari UiTM untuk mempelajari, merasakan, dan merekam langsung permainan tradisional Jawa. Seluruh temuan lapangan akan diolah menjadi coffee table book dan konten multimedia yang menampilkan kekayaan permainan tradisional Indonesia dengan kemasan visual yang menarik. Tak sekadar pertukaran budaya, kolaborasi ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa kedua negara untuk memperluas jejaring akademik, mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya, dan memperkuat kompetensi di bidang multimedia. Pada sesi pembukaan, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa UiTM menjadi momentum penting bagi penguatan kerja sama kedua institusi. “UMM sangat senang dan bangga menerima mahasiswa dari luar negeri. Saya berharap adik-adik memperkuat kolaborasi dan komunikasi karena itu adalah social capital,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika, norma, serta perilaku selama mengikuti kegiatan yang berlangsung di berbagai titik budaya di Malang dan Batu. Belajar dari Lapangan: Museum Panji hingga Taman Dolan Selama program berlangsung, peserta mengunjungi beberapa lokasi yang memiliki kekayaan budaya, seperti Museum Panji, Desa Wisata Ngawonggo, dan Taman Dolan. Di setiap lokasi, mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga turut memainkan langsung permainan tradisional. Aktivitas diperkuat dengan pengamatan, wawancara, hingga proses kreatif untuk produksi video edukatif tentang cara memainkan permainan tradisional tersebut. Semua materi akan menjadi bagian dari publikasi multimedia yang siap disebarkan ke publik internasional. Salah satu mahasiswa UiTM, Tengku Syamimi Afiqah, mengaku mendapatkan pengalaman akademik dan budaya yang sangat berharga selama berada di UMM. Menurutnya, lingkungan UMM terasa ramah dan mendukung, serta memberikan wawasan lebih mendalam tentang budaya Indonesia, terutama terkait permainan tradisional yang mereka dokumentasikan. Program ini akan menghasilkan coffee table book berisi dokumentasi permainan tradisional Indonesia lengkap dengan foto, cerita budaya, dan perspektif para mahasiswa. Selain itu, peserta juga memproduksi berbagai video tentang cara memainkan permainan tradisional tersebut sehingga dapat menjadi bahan belajar bagi generasi muda dari berbagai negara. Kolaborasi UMM–UiTM ini menjadi langkah nyata dalam memperluas jejaring internasional sekaligus mempromosikan kebudayaan lokal ke panggung global melalui pendekatan multimedia yang kreatif dan modern.

Sarasehan Abdidaya Ormawa 2025 di UMM: Wawali Kota Malang Ajak Mahasiswa Jadi Agen Solusi Bangsa

  Generasi muda kini memikul tanggung jawab yang semakin kompleks, hal itu disampaikan langsung oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin di Gedung Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada acara Sarasehan Abdidaya Ormawa 2025, 05 Desember lalu. Dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguran tinggi se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang berupaya meningkatkan kualitas Ormawa dan membentuk karakter mahasiswa yang tangguh, Pancasilais, dan inovatif yang Pria yang juga merupakan alumnus UMM itu menyoroti potensi Bonus Demografi yang akan dihadapi Indonesia di tahun 2030, disebutnya bisa menjadi nikmat atau ancaman, tergantung pada kesiapan generasi. “Indonesia akan mengalami bonus demografi yang luar biasa di tahun 2030, mengingat bahwa ditahun tersebut, banyak generasi Z sudah memasuki usia produktif” ujar Ali sapaan akrabnya. Lebih lanjut, ali menegaskan, peran aktivis saat ini tidak hanya berkutat pada isu politik lokal, tetapi juga harus memahami isu geopolitik global, dampak kemajuan teknologi seperti AI, dan tantangan lingkungan. Ali mengingatkan bahwa kebijakan di Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika luar negeri. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri, tidak hanya fokus pada pengorbanan organisasi. “Kita semua harus menyiapkan dan menyadarkan diri kita semua, bahwa ke depannya negara ini baik tidaknya, meningkat tidaknya, tergantung pada generasi hari ini,” tegas Ali. Ia berpesan bahwa Ormawa harus menjadi agen solusi, termasuk dalam mengatasi masalah lokal seperti banjir, dengan menawarkan rekomendasi yang dapat dieksekusi oleh pemerintah. Disisi lain, Tim Pelaksana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Dr. Ir. Surfa Yondri, M.Kom. Akrab disapa Surfa, memaparkan pentingnya strategi implementasi program PPK Ormawa yang menekankan kolaborasi, dampak, dan keberlanjutan. Surfa, berbagi pengalaman tentang upaya evakuasi mahasiswa di daerahnya yang terdampak bencana. Menyampaikan bahwa mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mengingat bahwa PPK Ormawa adalah wadah yang diberikan kementerian untuk mahasiswa agar belajar berorganisasi dengan dampak nyata di masyarakat. “Mahasiswa akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat, mahasiswa belajar bagaimana melihat kontensi yang ada di masyarakat, mengingat bahwa kunci keberhasilan Ormawa terletak pada kolaborasi dan empati.” jelasnya Terakhir Surfa menegaskan bahwa mahasiswa adalah bagian dari solusi yang akan membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045. “Kami sangat yakin, mahasiswa akan selalu berserah terangi, mengeterangkan desa, dan berserah dengan pemerintahan desa maupun pemerintahan daerah,” harapnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Tegaskan Dominasi dalam Ekosistem Inovasi Nasional: KKI dan Abdidaya 2025

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan posisinya sebagai pusat inovasi mahasiswa tingkat nasional melalui peresmian Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025, Kamis (4/12/2025) malam. Gelaran akbar ini berlangsung meriah dan menandai kepercayaan nasional terhadap UMM, yang kembali dipercaya sebagai tuan rumah KKI untuk keempat kalinya. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yulianto, M.Eng., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi kepada UMM atas konsistensinya membangun ekosistem inovasi mahasiswa. “KKI adalah arena inovasi maritim yang memperkuat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Abdidaya menunjukkan bagaimana mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat melalui program yang inovatif dan berkelanjutan,” tegasnya. Tercatat 93 perguruan tinggi berpartisipasi dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya, menunjukkan peningkatan signifikan dalam antusiasme mahasiswa terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat. Ketua Pelaksana, Amrul Faruq, M.Eng., Ph.D., menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. “Kualitas karya tahun ini meningkat pesat. Desain kapal, sistem kontrol, dan pendekatan teknis mahasiswa semakin cerdas dan efisien. Abdidaya juga terus menjadi rujukan nasional dalam menilai program pengabdian masyarakat yang berorientasi keberlanjutan,” ujarnya. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, MT., menekankan bahwa ajang ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan mental kompetitif mahasiswa. “Keberanian tampil dan membawa nama almamater adalah nilai penting dalam proses pembentukan calon pemimpin bangsa. Mereka bukan hanya peserta lomba, tetapi generasi masa depan yang sedang ditempa,” tutupnya. (lil).

Wabup Malang Dorong Mahasiswa Berkontribusi pada Inovasi Peternakan, Dukung Program Sapi Merah Putih

JATIMTIMES – Wakil Bupati Malang Hj Lathifah Shohib  menghadiri serangkaian agenda Sarasehan Dosen Pembimbing Abdidaya Ormawa 2025. Agenda tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (5/12/2025). Pada kesempatan tersebut, Lathifah menekankan akan pentingnya menyediakan ruang aktualisasi bagi mahasiswa. Sehingga potensi mereka tersalurkan ke kegiatan yang bermanfaat, termasuk memimpin pembangunan maupun inovasi di sektor peternakan dalam mewujudkan ketahanan pangan. “Menurut Peter Senge dalam bukunya The Fifth Discipline, pemimpin adalah orang yang terus-menerus belajar, membangun organisasi pembelajar dan selalu berpikir tentang sistem,” ujar Lathifah. Merujuk pada penjelasan itulah, Lathifah menyebut perlunya para mahasiswa untuk diberikan ruang guna menunjukkan kemampuannya. Para mahasiswa juga perlu diarahkan melalui aktivitas positif dengan harapan dapat berdampak langsung pada pembangunan. “Mahasiswa harus diberi ruang, diberi tempat untuk mengaktualisasikan kemampuannya supaya potensinya dapat tersalurkan pada kegiatan yang positif,” ujarnya. Guna merealisasikan hal itu, diperlukan adanya peran dari perguruan tinggi. Termasuk peran strategis perguruan tinggi dalam proses hilirisasi hasil penelitian. “Kegiatan Abdidaya ini juga harus menjadi sarana nyata bagi kampus untuk memastikan inovasi tidak berhenti di tataran konsep,” imbuhnya. Pada kesempatan yang sama, Lathifah juga turut menyampaikan kepada para dosen agar hasil penelitian turut direalisasikan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. “Sehingga penelitian tidak berupa konsep-konsep saja, tetapi diaplikasikan langsung ke masyarakat,” imbuhnya. Sebagai contoh,  sektor peternakan juga bisa dikembangkan menjadi sebuah inovasi. Sedangkan hasilnya juga dapat diimplementasikan guna mendukung kebutuhan bahan pangan khususnya di Kabupaten Malang. “Misalnya inovasi untuk percepatan ternak seperti ayam petelur, ayam potong maupun sapi. Hal itu juga bisa diimplementasikan dengan pendampingan kepada masyarakat,” ujarnya. Lathifah menyebut, inovasi di sektor peternakan tersebut juga dapat disinergikan dengan program nasional. Termasuk mendukung rencana pemerintah menyiapkan tiga juta sapi merah putih. “Kalau nanti bisa disalurkan dengan memberdayakan masyarakat sebagai peternak, maka peran perguruan tinggi dan mahasiswa nantinya akan sangat diperlukan,” ungkap dia. Program Sapi Merah Putih merupakan program peningkatan genetik yang dirancang untuk memperkuat industri sapi perah Indonesia. Yakni dengan fokus pada sistem peternakan rakyat. Program ini ditujukan untuk mengembangkan sapi perah yang lebih produktif dan tangguh terhadap kondisi tropis. Yakni dengan turut memanfaatkan plasma nutfah lokal yang telah beradaptasi. “Diharapkan mahasiswa bisa semakin mengambil peran penting dalam pembangunan daerah. Kolaborasi antara kampus, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat akan menghasilkan program yang lebih konkret. Sehingga peran perguruan tinggi dan mahasiswa sangat diperlukan,” pungkas Lathifah.

Ketua IDI di UMM Sampaikan Mahasiswa Berpotensi Jadi Penggerak Utama Inovasi Kesehatan Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. dr. Slamet Budiarto, MH.Kes., menegaskan bahwa kreativitas mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan kesehatan masyarakat. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sarasehan yang digelar di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai bagian dari rangkaian Abdidaya Ormawa 2025, Jumat (5/12/2025). Dalam pemaparannya, Slamet menjelaskan bahwa organisasi kemahasiswaan (ormawa) memiliki posisi strategis dalam memperkuat ekosistem kesehatan publik. Ia menyebutkan bahwa ormawa dapat berkontribusi melalui pembangunan desa binaan sebagai desa sehat, memperluas sinergi dengan lembaga terkait, hingga mengampanyekan berbagai isu kesehatan seperti PHBS, gizi seimbang, sanitasi, kesehatan reproduksi, dan kesehatan mental. Selain kampanye, ormawa juga dinilai mampu mendorong literasi kesehatan yang lebih inklusif melalui seminar, diskusi publik, siaran IG Live, dan health talk berbasis data. Tidak hanya itu, mahasiswa juga bisa mengadvokasi kebijakan kampus seperti perluasan kawasan tanpa rokok dan inisiatif lingkungan sehat, serta menyelenggarakan aksi sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah. “Mahasiswa itu kreatif, dekat dengan masyarakat, dan punya cara komunikasi yang lebih segar serta mudah diterima,” ujar Slamet. Lebih jauh ia menilai konsep desa sehat berbasis ormawa sebagai pendekatan inovatif yang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Slamet menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar datang untuk kegiatan seremonial. “Mereka harus menjadi pendamping berkelanjutan berbasis data, edukasi, dan pemberdayaan yang nyata,” tegasnya. Menurutnya, kontribusi yang konsisten dari mahasiswa akan berdampak besar pada peningkatan kualitas kesehatan dan berpengaruh terhadap naiknya angka harapan hidup nasional. Dalam forum tersebut, Slamet juga memaparkan sejumlah tantangan serius dalam sektor kesehatan Indonesia. Ia menyoroti angka harapan hidup yang masih berada di 68,25 tahun, tingginya kasus tuberkulosis yang menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia, serta peringkat stunting yang berada di urutan kelima se-ASEAN. Kondisi ini, katanya, tidak bisa hanya ditangani oleh tenaga medis, tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Pendidikan tinggi, menurut Slamet, selama ini telah berperan aktif dalam program pengabdian masyarakat, baik di bidang kesehatan, lingkungan, maupun pemberdayaan desa. Hal tersebut menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat inovasi sosial yang menjadikan mahasiswa sebagai aktor utama perubahan. Kehadiran Ketua IDI dalam forum akademik di UMM ini sekaligus memperkuat posisi universitas sebagai ruang kolaboratif yang menghubungkan dunia pendidikan, profesi kesehatan, dan masyarakat. Menutup sesinya, Slamet menyampaikan optimisme besar terhadap generasi muda. “Saya yakin mahasiswa memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak inovasi kesehatan dan membawa perubahan nyata bagi terwujudnya Indonesia yang lebih sehat,” tutupnya. (Ans)