Mahasiswi Malang Inisiasi Platform Diskusi Digital Berjudul Bukan Surat Cinta

Sudut kota yang semakin menua. Photo: Dokumentasi Pribadi BERITAJEJAKFAKTA – Seorang mahasiswi bernama Kirana menginisiasi platform diskusi digital bertajuk “(Bukan) Surat-Surat Cinta” di kawasan Malang pada Selasa, 21 April 2026. Platform ini digunakan sebagai ruang pertukaran perspektif kritis mengenai fenomena sosial dan pertanyaan eksistensial. Dilansir dari Kumparan, Kirana yang kini menetap di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan transformasi pemikiran yang lebih progresif. Ia mengundang rekan diskusinya untuk merespons berbagai tulisan melalui situs web tersebut secara intensif. Perpindahan Kirana dari Bandung dan Subang ke Malang bertujuan untuk mengambil jarak serta mencari suasana baru dalam merawat idealisme. Ia kerap membagikan referensi karya sastra dari pujangga kenamaan seperti WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, hingga Widji Tukul. Salah satu topik utama yang diangkat dalam korespondensi digital tersebut adalah kegundahan terhadap ketidakadilan sosial. Kirana mempertanyakan korelasi antara eksistensi ketuhanan dengan fenomena pejabat korup yang dianggap jarang mendapatkan musibah dibandingkan kelompok termarjinalkan. “Jika Tuhan Ada, Kenapa para pejabat korup tidak pernah kena musibah sementara kelompok termarjinalkan terhempas bertubi-tubi?” tulis Kirana sebagaimana dikutip dari laporan Kumparan. Rekan korespondensinya memberikan tanggapan bahwa jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut bukan sekadar kata-kata retoris, melainkan hasil dari perjalanan hidup. Pencarian kebenaran dinilai memerlukan niat yang tulus serta proses yang otentik dari dalam diri masing-masing individu. Interaksi dalam laman tersebut sempat mengalami jeda panjang setelah pembahasan mengenai ontologi dan hakikat sesuatu. Kirana belum mengirimkan tulisan terbaru setelah mendapatkan refleksi mengenai pentingnya menghadapi masalah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

UMM Maknai Hari Kartini dengan Optimistis Wisuda ke-121 Lahirkan Perempuan Berdampak

Wisuda ke-121 UMM dalam momen Hari Kartini 2026 (21/4) dimaknai sebagai optimisme dapat melahirkan perempuan-perempuan yang berdampak kepada masyarakat dan bangsa./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kampus UMM turut memaknai Hari Kartini 2026 sebagai momen optimistis untuk melahirkan perempuan-perempuan yang berdampak kepada masyarakat dan bangsa. Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Selasa, 21 April ini menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. Momen ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus beriringan dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang Makin Sejahtera, menjadi topik penting yang disampaikan Ira Puspadewi, Ph.D dalam orasinya. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis. Ira juga menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang harus segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ungkap Ira Puspadewi. Perempuan yang pernah menjabat Direktur ASDP Periode 2017-2024 ini menegaskan, tantangan terbesar tidak hanya pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Pada momen yang sama, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Mukarromah menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” tuturnya. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Nazaruddin menjelaskan berbagai program pengembangan di UMM, termasuk Center of Excellence (CoE) yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan penyelesai masalah di masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” beber Nazaruddin. Di balik berlangsungnya prosesi wisuda yang khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat. Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. *** Editor: YAN

UMM Hadirkan Peneliti Austria Bedah Teknologi Bioreaktor

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang terus memperkuat kapasitas riset bertaraf global dengan menghadirkan ilmuwan internasional dalam forum akademik. Melalui kegiatan bertajuk “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” pada Senin (20/4/2026), kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini menggandeng dua peneliti muda asal Austria untuk mengulas teknologi bioreaktor mutakhir. Pada sesi pertama, Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, mengupas konsep biologi sel melalui pendekatan analogi yang mudah dipahami. Ia mengibaratkan sel mikroba sebagai sistem ekonomi yang mengelola sumber daya secara efisien demi mempertahankan pertumbuhan. “Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Menurutnya, pemahaman mengenai fase steady-state pada bakteri menjadi aspek penting, khususnya bagi peneliti di bidang farmasi dan biologi. Kondisi stabil ini memungkinkan analisis produksi metabolit aktif dilakukan secara lebih akurat. Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi bioreaktor sangat diperlukan guna meningkatkan presisi dan efisiensi eksperimen. Sesi berikutnya diisi oleh Catalin Rusnac, M.Sc., dari IMC Krems University yang menampilkan demonstrasi langsung perangkat bioreaktor. Ia memperkenalkan RepliFactory, sebuah purwarupa bioreaktor otomatis berbasis open-source. Dalam demonstrasinya, Catalin menunjukkan mekanisme aliran medium cair serta penggunaan sensor optical density (OD) untuk mengukur pertumbuhan sel melalui pancaran cahaya. Teknologi ini memungkinkan peneliti mengatur tingkat stres pada bakteri guna mengamati mutasi genetik adaptif secara real-time. “Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi selama berminggu-minggu secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah strategis UMM dalam memperkuat daya saing internasional. Wakil Rektor V UMM, Tri Sulistyaningsih, menilai forum ini sebagai jembatan penting untuk meningkatkan kualitas metodologi riset sekaligus kapasitas sumber daya manusia (SDM). “Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Tri. Ia juga menyoroti peluang kolaborasi riset yang lebih luas antara UMM dan perguruan tinggi di Eropa. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa penguatan riset eksakta akan menjadi ujung tombak publikasi ilmiah UMM ke depan. Para dosen didorong untuk memperluas wawasan global dan tidak hanya bergantung pada referensi lokal. “Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis. UMM makin serius menuju kampus kelas dunia! Peneliti Austria hadir membedah teknologi bioreaktor canggih untuk dorong riset internasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Wisuda UMM di Hari Kartini 2026, Lulusan Didorong Jadi Pemimpin Perempuan Indonesia

Wisudawan mahasiswa UMM mendapat tantangan berat sebagai leader sekaligus motivator. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT– Peringatan Hari Kartini 21 April 2026 memberi makna lebih dalam bagi pelaksanaan Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di tengah seremoni akademik, momentum ini menjadi pengingat bahwa gelar sarjana bukan sekadar capaian intelektual. Ini merupakan titik awal tanggung jawab sosial, terutama dalam mendorong lahirnya perempuan-perempuan pemimpin yang berdaya dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 UMM yang digelar di Hall Dome menghadirkan suasana berbeda. Bertepatan dengan peringatan Raden Ajeng Kartini, wisuda kali ini tidak hanya menandai kelulusan ribuan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka kian mengemuka. Kampus menegaskan, gelar akademik harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Pentingnya Peran Perempuan Hal tersebut mengemuka dalam orasi yang disampaikan Ira Puspadewi. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, tetapi sangat bergantung pada kualitas institusi dan sumber daya manusia di dalamnya. Menurut Ira, salah satu tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia adalah rendahnya keterlibatan perempuan dalam posisi kepemimpinan strategis. Padahal, berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan,” ujarnya. Ia juga menyoroti persoalan klasik yang kerap dihadapi perempuan, yakni keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Karena itu, perempuan didorong untuk lebih percaya diri, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin. Pintu Masuk Pengabdian Lebih jauh, Ira menegaskan pentingnya dukungan lingkungan—mulai dari keluarga hingga institusi pendidikan—dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil di ruang publik. Ia menyebut keseimbangan antara iman dan kebebasan sebagai fondasi penting untuk bertahan di tengah tekanan sosial dan profesional. Senada dengan itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Mukarromah, mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk menuju pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, serta nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Adaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, juga disebut sebagai kunci agar lulusan tidak tertinggal. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, memastikan komitmen kampus dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat. Peran Wisudawan sebagai Inovator Menurutnya, berbagai program pengembangan seperti Center of Excellence (CoE) dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus menjadi inovator dan problem solver di masyarakat. “Proses pendidikan kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat secara mental dan mampu menjadi solusi di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik prosesi wisuda, pesan tegasnya justru dimulai setelah toga dilepas. Para lulusan dihadapkan pada realitas sosial yang menuntut kemampuan, integritas, dan keberanian untuk mengambil peran. Momentum Wisuda UMM yang bertepatan dengan Hari Kartini ini pun menegaskan satu hal—bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi jalan lahirnya generasi, khususnya perempuan, yang siap memimpin dan membawa perubahan bagi Indonesia.

Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome, 21 April 2026, berlangsung khidmat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Wisuda Ke-121 UMM bertepatan Hari Kartini menegaskan pentingnya peran strategis perempuan, mendorong lulusan tampil sebagai pemimpin berdaya, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan. Tagar.co – Momentum Hari Kartini dimaknai secara reflektif dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 April 2026. Di tengah prosesi kelulusan yang berlangsung di Hall Dome UMM, muncul penegasan bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi harus berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat—terutama dalam mendorong peran strategis perempuan bagi kemajuan bangsa. Isu Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang makin Sejahtera menjadi sorotan utama dalam orasi Ira Puspadewi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, melainkan kualitas institusi dan sumber daya manusia. Dalam paparannya, Ira menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini, menurutnya, merupakan tantangan serius yang perlu segera direspons oleh kelompok terdidik. Baca Juga:  Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ira Puspadewi, Ph.D menyampaikan orasi pada Wisuda Ke-121 UMM, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan strategis dan pembangunan bangsa. Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 tersebut menekankan bahwa tantangan tidak hanya berasal dari struktur sosial, tetapi juga dari persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, baik keluarga maupun institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting agar individu mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi masa depan. Selain itu, ia juga menegaskan peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121, menegaskan komitmen kampus mencetak lulusan unggul, adaptif, dan berkarakter di tengah tantangan global. Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus melahirkan inovator dan problem solver di tengah masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik khidmatnya prosesi wisuda, tersirat pesan kuat bahwa capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Para lulusan kini dihadapkan pada realitas baru, di mana kemampuan, integritas, dan keberanian akan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, wisuda menjadi lebih dari sekadar penutup perjalanan pendidikan—ia adalah titik awal pembuktian peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni

Memaknai Hari Kartini, Wisuda UMM Optimis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

Wisuda ke-121 UMM Optimis Lahirkan Perempuan yang Berdampak pwmu.co –Peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga menjadi refleksi atas gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih luas. Dalam orasinya, Ira Puspadewi, Ph.D menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan sekadar faktor geografis. Ia juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar tidak hanya terletak pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan, keluarga, dan institusi pendidikan menjadi faktor penting dalam membangun keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Sementara itu, Mukarromah, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, menegaskan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan, sekaligus menegaskan peran perempuan dalam menjaga nilai keagamaan dan mendorong kemajuan bangsa. Pandangan serupa disampaikan oleh Rektor UMM, Nazaruddin Malik, yang menegaskan komitmen kampus dalam menghasilkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan seperti Center of Excellence (CoE) dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Di balik prosesi wisuda yang berlangsung khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah menyandang gelar. Wisuda menjadi titik awal untuk membuktikan kapasitas, integritas, dan keberanian dalam berkontribusi nyata bagi masyarakat. Sejalan dengan semangat Hari Kartini, lulusan perempuan diharapkan tidak hanya hadir sebagai bagian dari sistem, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang berdampak bagi bangsa. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Hadirkan Peneliti Austria Bedah Teknologi Bioreaktor

Mengubah ruang laboratorium menjadi pusat inovasi kelas dunia bukan lagi sekadar wacana bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Guna mendongkrak kapasitas riset dosen eksakta, “Kampus Putih” menggandeng dua ilmuwan muda asal Austria untuk membedah kecanggihan teknologi bioreaktor mutakhir. Gebrakan ini tersaji apik dalam forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” pada Senin (20/4/2026). Pada sesi pertama, Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, Austria, mengupas tuntas rahasia biologi sel lewat analogi yang segar. Ia mengibaratkan sel mikroba layaknya sebuah sistem ekonomi pabrik yang harus mengatur efisiensi sumber daya demi bertahan hidup. “Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Menurutnya, pemahaman tentang fase steady-state (kondisi stabil) pada bakteri sangat krusial, terutama bagi para peneliti di bidang farmasi dan biologi. Kondisi ini dibutuhkan untuk meneliti produksi metabolit aktif secara akurat. Edo menekankan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor mutlak diperlukan agar eksperimen berjalan presisi dan efisien, tanpa harus membuang banyak tenaga manual. Melengkapi paparan tersebut, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, Austria, tampil membawakan demonstrasi alat secara langsung. Ia memamerkan purwarupa RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis bersistem open-source. Catalin memperlihatkan cara kerja pergerakan cairan medium dan bagaimana sensor optical density (OD) menembakkan cahaya untuk mengukur pertumbuhan sel. Teknologi canggih ini memungkinkan peneliti mengatur tingkat stres pada bakteri guna memantau mutasi genetik adaptif. Tak pelak, demonstrasi ini memantik antusiasme luar biasa dari para dosen yang hadir. “Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi selama berminggu-minggu secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Kehadiran praktisi Eropa ini sejalan dengan peta jalan UMM yang bersiap memasuki fase daya saing internasional secara utuh. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa forum saintifik ini adalah jembatan strategis untuk memecahkan kendala teknis metodologi riset sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kampus. “Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Tri. Ia juga memproyeksikan lahirnya peluang kolaborasi penelitian yang erat dan berkesinambungan antara UMM dengan kampus-kampus di daratan Eropa. Komitmen serupa disuarakan oleh Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menyoroti bahwa fokus riset ilmu eksakta akan diproyeksikan menjadi ujung tombak publikasi UMM di masa depan. Pengajar didorong untuk tidak hanya mengandalkan literatur lokal, melainkan berani terpapar wawasan global. “Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Memaknai Hari Kartini, Wisuda Ke-121 UMM Optimistis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

KHIDMAT: Wisuda kr-121 UMM yang digelar di Hall Dome UMM. RADAR MALANG – Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 ini menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus beriringan dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang Makin Sejahtera, menjadi topik penting yang disampaikan Ira Puspadewi, Ph.D dalam orasinya. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis. Ia menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Advertisement KOMITMEN: Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik M.Si. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang harus segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Advertisement Lebih lanjut, wanita yang merupakam Direktur ASDP Periode 2017-2024 itu menegaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. DORONG PEMBERDAYAAN: Ira Puspadewi Ph.D saat menyampaikan orasi. Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Pandangan yang sejalan juga disampaikan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan problem solver di masyarakat. BERDAMPAK: Mahasiswi UMM saat mengikuti prosesi wisuda. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik berlangsungnya prosesi wisuda yang khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat. Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. Editor : A. Nugroho

Jaring Pemimpin Muda, UMM Buka Beasiswa Jalur OSIS Tanpa Tes Masuk

Perbesar Kampus UMM di Jl. Raya Tlogomas No.246, Kec. Lowokwaru, Kota Malang/Istimewa Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat) yang secara khusus menyasar para pemimpin muda di tingkat sekolah, yakni para pelajar yang memiliki rekam jejak aktif sebagai pengurus organisasi, mencakup OSIS, Majelis Perwakilan Kelas (MPK), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melalui jalur beasiswa prestasi dan tanpa harus melalui tahapan tes. Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan keuntungan yang ditawarkan melalui skema beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan awal. Para penerima beasiswa berhak mendapatkan benefit berupa potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan besaran mulai dari 50% hingga 75%. “Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026). Kesempatan ini, kata dia, diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat dari rentang kelulusan 2024 hingga 2026. Jalur prestasi ini, ujar dia, disediakan secara khusus bagi calon mahasiswa yang telah membuktikan dedikasinya sebagai pengurus organisasi di tingkat sekolah. UMM sangat menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang diasah melalui keaktifan di OSIS. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan,” jelasnya. Bagi pendaftar yang ingin mengikuti seleksi ini, syarat administratif yang ditetapkan cukup terukur. Calon mahasiswa wajib membuktikan keaktifannya dengan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi spesifik seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan adanya Surat Keterangan Dokter tidak buta warna. Beasiswa Jalur Prestasi ini dibuka pada 1 April hingga ditutup pada 25 Juni 2026. Calon mahasiswa dapat memantau hasil pengumuman kelulusan seleksi secara berkala melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah tim seleksi selesai melakukan proses validasi berkas. “ Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui Universitas Muhammadiyah Malang,” ucapnya. Penulis : Choirul Anam Editor : Restu Wahyuning Asih

UMM Buka Beasiswa Jalur Pemimpin Muda Tanpa Tes Bagi Pengurus OSIS

Kampus UMM di Jl. Raya Tlogomas No.246, Kec. Lowokwaru, Kota Malang/Istimewa BERITA JEJAK FAKTA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran beasiswa jalur prestasi non-akademik bagi para pemimpin muda di tingkat sekolah menengah atas pada Sabtu (18/4/2026). Program ini menyasar pelajar yang memiliki pengalaman aktif sebagai pengurus OSIS, MPK, maupun IPM untuk masuk perguruan tinggi tanpa melalui tahapan tes seleksi. Skema bantuan pendidikan ini menawarkan keringanan biaya awal yang signifikan bagi calon mahasiswa baru. Dilansir dari Bisnis.com melalui Surabaya, para penerima beasiswa berhak mendapatkan potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan rentang 50 persen hingga 75 persen. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa penentuan besaran persentase potongan biaya tersebut akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Kesempatan pendaftaran ini terbuka bagi lulusan SMA atau sederajat dari angkatan tahun 2024 hingga 2026. “Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa,” ujar Ahmad Juanda, Wakil Rektor II UMM pada Sabtu (18/4/2026). Pihak kampus menekankan bahwa jalur khusus ini disediakan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi pelajar dalam berorganisasi. UMM menilai kemampuan kolaborasi, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan yang diasah di sekolah merupakan modal penting bagi mahasiswa masa depan. Secara administratif, calon mahasiswa diwajibkan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah asal sebagai bukti keaktifan. Persyaratan tambahan berupa Surat Keterangan Dokter tidak buta warna juga diberlakukan khusus untuk pendaftar program studi Biologi, Matematika, dan PGSD.