Di Balik Layar yang Penuh Fitur, Kreativitas Kita Justru Membeku

Ilustrasi Di Balik Layar yang Penuh Fitur, Kreativitas Kita Justru Membeku (Al) Pelajar yang kreatif tidak lahir dari kelas yang serba digital, tapi dari kelas yang berani memberi ruang untuk gagal, mencoba ulang, dan akhirnya menemukan cara mereka sendiri. Oleh Larasati Apriliya Wicaksono, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Modern, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tagar.co – Pernahkah kamu merasa sudah mengerjakan tugas, tetapi tidak merasa lelah sama sekali? Bukan karena tugasnya mudah, melainkan karena semuanya telah dikerjakan oleh AI. Tautan dibagikan, laptop dibuka, pertanyaan diketik, jawaban disalin—selesai. Tidak ada ide yang diperdebatkan, tidak ada proses yang benar-benar dirasakan. Hasilnya memang terlihat baik, tetapi di balik itu ada kekosongan yang jarang kita sadari. Inilah sisi lain dari pembelajaran berbasis teknologi yang nyaris tidak pernah kita pertanyakan. Padahal, salah satu dimensi penting yang ingin dicapai pendidikan kita adalah melahirkan pelajar yang kreatif, sebagaimana tertuang dalam Profil Pelajar Pancasila. Seorang pelajar kreatif bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan yang orisinal, mengekspresikan diri secara autentik, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermakna. Baca Juga: Ketika Lagu ‘Stop Bullying’ Menggema dan Anak Desa Wiyurejo Belajar Saling Menjaga Pertanyaannya, apakah pembelajaran yang kita jalani saat ini benar-benar mengarah ke sana? Teknologi dalam pembelajaran memang menawarkan banyak kemungkinan. Presentasi dapat dibuat lebih menarik dengan Canva. Diskusi dapat berlangsung lintas ruang melalui platform digital. Materi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Secara teoretis, semua ini seharusnya memberi siswa lebih banyak ruang untuk berkreasi. Namun, yang terjadi di kelas sering kali berbeda dari teorinya. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara pembelajaran dirancang. Ketika tugas hanya meminta siswa mencari informasi lalu menyajikannya ulang, dengan atau tanpa teknologi, tidak ada kreativitas yang benar-benar diasah di sana. Terlalu banyak kemudahan justru membuat siswa tidak memiliki alasan untuk berpikir lebih jauh. Mereka terbiasa berhenti pada titik “selesai”, bukan pada titik “bermakna”. Ambil contoh sederhana yang sering terjadi: seorang siswa diberi tugas membuat presentasi tentang perubahan iklim. Ia membuka AI, mengetikkan topiknya, lalu menyalin hasilnya ke dalam slide Canva yang sudah tersedia templatnya. Dalam 20 menit, tugasnya selesai. Secara tampilan, presentasinya rapi dan informatif. Namun, ketika diminta menjelaskan lebih lanjut di depan kelas, ia kesulitan memaparkan isi materinya sendiri karena sejak awal tidak pernah benar-benar memprosesnya. Di sinilah letak masalah yang sesungguhnya: teknologi digunakan untuk menghasilkan, bukan untuk berpikir. Kondisi ini sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sistem pembelajaran yang tidak secara eksplisit mengajarkan cara berkreasi dengan teknologi turut berperan besar. Ada perbedaan mendasar antara menggunakan teknologi sebagai alat eksplorasi dan menggunakannya sebagai jalan pintas. Namun, perbedaan itu jarang sekali menjadi bahan diskusi di kelas. Guru yang sekadar memindahkan metode konvensional ke platform digital tanpa mengubah cara merancang pembelajaran sejatinya belum memanfaatkan teknologi secara bermakna. Yang dibutuhkan bukan sekadar integrasi teknologi, melainkan perancangan pembelajaran yang secara sadar memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, bereksperimen, dan menciptakan—bukan hanya mengonsumsi dan menyalin. Ketika seorang guru merancang tugas yang mendorong siswa menghasilkan solusi nyata atas masalah di lingkungan sekitar mereka, atau menyuarakan pendapat melalui media yang mereka pilih sendiri, proses itulah yang sesungguhnya menghidupkan dimensi kreatif dalam diri siswa. Lebih jauh lagi, jika kebiasaan ini dibiarkan tanpa koreksi, dampaknya tidak berhenti di ruang kelas. Siswa yang terbiasa bergantung pada teknologi untuk berpikir akan tumbuh menjadi individu yang kesulitan menghadapi situasi yang menuntut solusi baru. Di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan untuk menciptakan—bukan sekadar mengoperasikan—adalah yang paling dicari. Kreativitas bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Jika fondasi itu tidak dibangun sejak bangku sekolah, gelar dan nilai tinggi pun tidak akan cukup untuk mengisi kekosongan tersebut. Pelajar yang kreatif tidak lahir dari kelas yang serba digital, melainkan dari kelas yang berani memberi ruang untuk gagal, mencoba ulang, dan akhirnya menemukan cara mereka sendiri. Teknologi hanyalah medium; inti kreativitas tetap terletak pada bagaimana pembelajaran membentuk keberanian siswa untuk mencipta. Layar yang penuh fitur seharusnya menjadi kanvas, bukan sekadar alat untuk mempercepat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipikirkan. Dan tugas pembelajaran kitalah untuk memastikan siswa memahami perbedaannya. (#) Penyunting Ichwan Arif.
UMM Bangun Zona Kuliner Halal di Lingkungan Kampus

UMM mengembangkan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) sebagai upaya membangun ekosistem wisata kuliner halal di lingkungan kampus. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Ketenangan batin saat menyantap hidangan kini menjadi prioritas utama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia, Kampus Putih terus memperkuat identitasnya sebagai kampus Islami melalui inisiasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Langkah strategis ini bukan sekadar pemenuhan label, melainkan wujud nyata visi UMM dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan standar kesehatan internasional. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS-P3H) UMM Prof Anis Saati menegaskan bahwa Zona KHAS hadir untuk menjamin setiap suapan yang dikonsumsi civitas akademika dan tamu kampus telah memenuhi standar syariat sekaligus prosedur higienitas yang ketat. “Kami ingin memastikan ketenangan batin bagi siapa pun yang berkunjung. Melalui Zona KHAS, kualitas gizi dan keamanan pangan terjaga, sementara ekosistem wisata halal di lingkungan kampus semakin kuat,” ujarnya. Sebagai langkah konkret, UMM menggelar Focus Group Discussion (FGD) Zona KHAS pada Rabu (15/4) di Ruang Sidang Wakil Rektor V. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor yang menghadirkan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang sebagai mitra pendukung. Sementara itu, Prof Warkoyo saat membuka acara menyatakan bahwa rintisan ini merupakan komitmen jangka panjang. Persiapan telah dimulai sejak delapan bulan lalu melalui serangkaian workshop bagi pelaku UMKM kantin dan pendampingan sertifikasi halal untuk tiga dapur hotel milik UMM. Dekan Fakultas Pertanian Peternakan UMM itu menyebutkan bahwa untuk tahap awal, terdapat tiga titik prioritas yang akan menjadi pilot project, yakni Kantin Fakultas Teknik di GKB III, Kantin Asri, dan kantin Rumah Sakit UMM. Ke depannya, program ini akan diperluas hingga ke area GKB I dan kawasan wisata Sengkaling. Di sisi lain, Ketua Program Dr Asmah Hidayati menjelaskan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan pelatihan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi para pengelola kantin. Tak hanya itu, pengecekan kualitas air dan pengujian sampel makanan dari bahan tambahan berbahaya seperti boraks dan formalin juga akan dilakukan secara berkala. Targetnya, sekitar 25 tenant kuliner di area prioritas akan segera tersertifikasi. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, Zona KHAS UMM dijadwalkan akan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dalam kurun waktu 2 hingga 4 bulan ke depan. Melalui rintisan ini, UMM tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi pelaku usaha lokal, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai pionir kampus yang menyediakan ekosistem halal yang profesional dan penuh keberkahan. (Faqih/AS)
Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Mandiri

pwmu.co – Di saat banyak sarjana muda masih mencari pekerjaan, Giyang Van Permana justru memilih menciptakan peluangnya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang ini sukses mengelola tambak udang miliknya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Giyang menempa kemampuan melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang UMM yang memberikan pembelajaran berbasis praktik langsung di lapangan. Sejak awal kuliah, Giyang sudah menargetkan bidang perikanan dengan melihat potensi besar wilayah pesisir di kampung halamannya. Keputusan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang semakin memantapkan langkahnya di industri ini. Menurut Giyang, program CoE memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih komprehensif dibandingkan perkuliahan konvensional. Ia dibekali berbagai keahlian teknis, mulai dari pengelolaan kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik menghadapi tantangan nyata di tambak. Kemampuan tersebut kini menjadi modal utama dalam mengelola tambak secara mandiri, termasuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air yang berisiko tinggi. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Merintis usaha tambak tidaklah mudah. Giyang mengaku sempat merasa ragu saat harus mengelola usaha secara mandiri. Namun, dukungan keluarga dan jaringan alumni UMM menjadi faktor penting dalam proses adaptasinya. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Saat ini, operasional tambak milik Giyang di Demung Barat berjalan stabil. Ia juga menerapkan strategi pemasaran melalui sistem lelang panen kepada pengepul untuk mendapatkan harga terbaik secara tunai. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran praktis seperti CoE mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Giyang pun berpesan kepada mahasiswa agar berani mencoba dan memanfaatkan peluang yang ada. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya.
Kartini Bloom Ajak Generasi Muda ‘Mekar’ dan Berani Tampil

WADAH TALENTA: Memperingati Hari Kartini 2026, Rayz UMM Hotel Malang menggelar Kartini Bloom sebagai wadah talenta anak-anak mengekspresikan diri. (ist) Rayz Hotel UMM Malang Malang Posco Media, Malang – Rayz UMM Hotel Malang sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Kartini Bloom” di area amphiteater outdoor, Sabtu (18/4). Acara ini digelar sebagai wadah bagi talenta anak-anak untuk mengekspresikan diri dalam rangka memperingati Hari Kartini. Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel Malang, Gustam Duga Praseta menjelaskan konsep “Bloom” diambil sebagai simbol mekarnya potensi generasi muda. “Kartini Bloom menjadi simbol bagaimana anak-anak mulai ‘mekar’ menjadi sosok Kartini masa kini yang penuh semangat, percaya diri, serta berani mengekspresikan potensi mereka,” ungkapnya. Semangat tersebut terpancar jelas melalui berbagai penampilan, mulai dari menyanyi, tarian tradisional, hingga modern dance yang memukau para penonton. Selain itu, suasana semakin meriah dengan adanya lomba fashion show kebaya. Para peserta tampil anggun memadukan unsur tradisional dan modern, menunjukkan kreativitas yang luar biasa sejak usia dini. Untuk melengkapi pengalaman pengunjung, tim Food & Beverage Rayz UMM Hotel Malang turut menyajikan beragam pilihan hidangan spesial sepanjang acara. Kolaborasi bersama Key Entertainment ini pun sukses menarik perhatian banyak pengunjung yang antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Melalui Kartini Bloom, Rayz UMM Hotel Malang berharap dapat terus menjadi ruang inspiratif yang mendukung generasi muda untuk tumbuh, berkembang, dan menunjukkan jati diri mereka melalui kegiatan-kegiatan positif di masa depan. (sam/nda)
Mahasiswi UMM Ciptakan Gas Heated Air Circulation Dryer: Solusi Bagi UMKM Mie Kering

MALANG POST – Cuaca yang tak menentu dan tingginya biaya operasional oven listrik seringkali menjadi hambatan utama bagi produktivitas UMKM, khususnya produsen mie kering. Merespons kebutuhan mendesak masyarakat ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer. Ini adalah solusi mesin pengering canggih, ekonomis, dan praktis yang dirancang khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi UMKM secara masif. Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, memaparkan bahwa karya ini lahir dari empati dan observasi langsung. Bersama tim solidnya yakni Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila dan Frisca Shannon Alexandra. Mereka blusukan memantau pelaku UMKM mie kering. “Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa menyita waktu lebih dari tiga jam. Dari keresahan itulah, kami bertekad merancang jalan keluar yang lebih efisien,” papar Hanum. Berbeda dengan metode konvensional, alat ini cerdas memadukan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara mutakhir. Blower di dalamnya memastikan panas tidak hanya mengendap di bawah, tetapi menyebar merata ke seluruh sudut ruang pengering. Lebih canggih lagi, mesin ini dibekali sensor pintar penstabil suhu dan timer otomatis. “Kalau suhu melebihi batas, sistem akan otomatis menyesuaikan. Hasil pengeringan pun jauh lebih konsisten dan pelaku usaha tidak perlu lagi pusing memikirkan cuaca buruk,” tambahnya. Aspek ekonomi juga dipikirkan matang-matang. Tim menyimpulkan bahan bakar gas jauh lebih ramah kantong bagi UMKM ketimbang listrik atau panel surya yang menuntut modal awal fantastis. Prototipe yang menghabiskan dana produksi sekitar tiga juta rupiah ini terbukti ampuh memangkas biaya operasional, menjadikannya investasi yang sangat realistis bagi usaha kecil. Terobosan ini kembali menegaskan komitmen Kampus Putih UMM yang terus mendorong mahasiswanya untuk peka dan hadir memberikan solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Kuncinya hanya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar kita. Dari sanalah, inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas bisa lahir,” pungkas Hanum memberikan pesan inspiratif. Keberhasilan tim ini tentu tidak lepas dari tangan dingin sang dosen pembimbing, Adhi Nugraha S.T., M.BA. Ia mengaku sangat bangga melihat anak didiknya mampu menerjemahkan teori-teori keteknikan di ruang kelas menjadi sebuah mesin tepat guna yang langsung menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Menurutnya, analisis tajam yang dilakukan oleh tim membuktikan kematangan mahasiswa dalam melihat masalah, tidak hanya dari segi teknis mesin, tetapi juga dari kacamata keberlangsungan bisnis UMKM. “Saya sangat mengapresiasi kepekaan sosial dan kerja keras tim ini. Mereka tidak sekadar mengejar gengsi dalam berinovasi, tapi juga memikirkan aspek keekonomian agar alat ini benar-benar realistis, bisa dijangkau, dan langsung diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil. Inilah esensi sebenarnya dari pendidikan teknik kita, yakni hadir membawa solusi praktis yang mendorong ekonomi warga,” tegasnya. Pada akhirnya, lahirnya inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer ini menjadi bukti nyata kontribusi nyata civitas akademika UMM dalam mendukung kemandirian sektor UMKM. Harapannya, mesin pengering ramah kantong ini tidak hanya berhenti pada etalase pameran atau tahap prototipe, melainkan dapat segera diproduksi massal dan menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil di seluruh penjuru negeri untuk terus berkembang dan naik kelas.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mengembangkan Kepemimpinan Pemuda, AIESEC in UMM Gelar AFL 8.0 Bluetopia Summer Sprint

Mengembangkan Kepemimpinan Pemuda, AIESEC in UMM Gelar AFL 8.0 Bluetopia Summer Sprint goodnewsformindonesia – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan AIESEC Future Leaders (AFL) 8.0 dengan tema “Bluetopia Summer Sprint: Follow Judy to World Leads Central” pada periode April hingga Juni 2026 di Kota Malang, Jawa Timur. Program pengembangan kepemimpinan berbasis komunitas ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah potensi diri melalui pembinaan soft skill dan hard skill, sekaligus berfungsi sebagai entry point menuju program exchange AIESEC. Dengan mengusung semangat kolaborasi dan experiential learning, AFL 8.0 terinspirasi dari perjalanan Judy dalam kartun Zootopia. Peserta diajak mengeksplorasi kepemimpinan melalui pengalaman langsung, problem-solving, serta keberanian menghadapi tantangan. Program ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Quality Education) dan 8 (Decent Work & Economic Growth), dengan mengintegrasikan pembelajaran digital business dan digital marketing agar pemuda siap menghadapi era ekonomi digital serta menciptakan peluang karier dan usaha. Selama dua bulan pelaksanaan, program yang mayoritas offline (sekitar 6 sesi) ini menghadirkan rangkaian kegiatan: Induction, Capacity Building (4 sesi kelas dengan pemateri), Coaching Session, International Networking Space, National Networking Space, Activating Leadership Support (ALS), Special Track Activity, Final Project, hingga AFL Graduation. Melalui pendekatan project-based learning, coaching & mentoring, serta collaborative learning, peserta akan mengidentifikasi masalah di kota, merancang solusi digital, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta mengadaptasi strategi nyata. Keunikan AFL 8.0 tahun ini terletak pada storytelling theme berbasis Zootopia, integrasi digital business & branding, real case problem-solving, serta fokus pada leadership, digital capability, dan social impact. Jumlah sesi offline yang lebih banyak juga memungkinkan bonding yang lebih kuat antar peserta. Target peserta adalah sekitar 50 mahasiswa usia 18–21 tahun (tahun 1–3) dari berbagai jurusan yang memiliki minat pada leadership dan social impact. Melalui program ini, diharapkan peserta memperoleh insight maksimal, meningkatkan kesiapan dunia kerja, serta melanjutkan perjalanan mereka bersama AIESEC, khususnya melalui program Global Volunteer. Anisah Fitri, Team Leader of Program and Quality Development AIESEC in UMM menyampaikan “AIESEC Future Leaders hadir bukan hanya sebagai program pengembangan diri, tetapi sebagai ruang bagi pemuda untuk menemukan potensi terbaiknya, berani mengambil peran sebagai leader, serta menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.” Salwa, Team Leader of Customer Experience AIESEC in UMM menambahkan “AIESEC Future Leaders (AFL) 8.0 adalah program pengembangan kepemimpinan yang kami selenggarakan di AIESEC in UMM sebagai wadah bagi pemuda Malang untuk mengasah potensi diri. Program ini menjadi entry point bagi delegates agar dapat melanjutkan journey mereka ke program exchange AIESEC. Dengan tema Bluetopia Summer Sprint yang terinspirasi dari Zootopia, kami menghadirkan experiential learning melalui 4 sesi capacity building bersama pemateri, final project, serta sekitar 6 sesi offline yang memungkinkan bonding lebih kuat antar peserta. Kami berharap para delegates dapat mengambil sebanyak-banyaknya insight dan mengimplementasikannya di masa depan dalam perjalanan mereka bersama AIESEC, khususnya melalui Global Volunteer.”
Lulusan Berdaya Saing Global: Kolaborasi Smamusix, Madtsamuda, dan UMM Resmi Wisuda Siswa Kelas IT

Prosesi wisuda bagi siswa program unggulan Kelas Informatika (IT). (Jamal Wahyudi/PWMU.CO) pwmu.co – Dunia pendidikan di Karangasem kembali mencatatkan sejarah baru dalam upaya mencetak generasi melek teknologi. SMA Muhammadiyah 6 Karangasem (Smamusix) dan MTs Muhammadiyah 2 Karangasem (Madtsamuda) sukses menggelar prosesi wisuda bagi siswa program unggulan Kelas Informatika (IT). Menariknya, wisuda ini bukan sekadar seremoni sekolah biasa, melainkan dikukuhkan langsung oleh pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai mitra strategis pendamping kurikulum. Acara yang berlangsung khidmat ini menandai keberhasilan sinergi lintas jenjang antara sekolah menengah dengan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan era industri 4.0. Melalui program ini, para siswa tidak hanya mendapatkan ijazah formal, tetapi juga sertifikasi kompetensi yang diakui secara akademis dan industri. Sambutan Kepala Sekolah: Inovasi Tanpa Henti Dalam sambutannya, Kepala SMA Muhammadiyah 6 Karangasem, Siswati, M.Pd., tidak mampu menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian para wisudawan. Beliau menekankan bahwa program Kelas IT ini lahir dari kegelisahan terhadap pesatnya perkembangan teknologi yang menuntut adaptasi cepat dari dunia pendidikan. ”Hari ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang bagi siswa-siswi kami untuk menguasai teknologi masa depan. Melalui kolaborasi erat dengan UMM Malang, kami ingin memastikan bahwa lulusan Smamusix dan Madtsamuda memiliki ‘paspor’ keterampilan yang relevan dengan kebutuhan global,” ujar Ibu Siswati. Beliau juga menambahkan bahwa Kelas IT ini dirancang untuk membentuk karakter siswa yang tangguh, kreatif, dan solutif. “Kami tidak hanya mencetak operator komputer, tapi calon-calon inovator yang memiliki bekal iman, taqwa, dan keahlian digital yang mumpuni,” tegasnya di hadapan para wali murid dan tamu undangan. Standarisasi UMM Malang: Jaminan Kualitas Pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang hadir langsung dalam prosesi pengukuhan ini memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Smamusix dan Madtsamuda. Perwakilan dari UMM Malang menyampaikan bahwa kurikulum yang diterapkan di Kelas IT ini telah melalui proses supervisi yang ketat agar selaras dengan standar perguruan tinggi. “Para wisudawan yang berdiri di sini hari ini adalah bibit unggul yang telah teruji. Kolaborasi ini memastikan bahwa apa yang dipelajari di tingkat sekolah menengah adalah dasar yang kuat untuk jenjang profesional maupun akademik yang lebih tinggi. Kami dari UMM berkomitmen untuk terus mengawal kualitas pendidikan digital di Karangasem agar lulusannya benar-benar berdaya saing global,” ungkap perwakilan tim ahli dari UMM. Pihak UMM juga menekankan pentingnya penguasaan literasi digital di usia muda. Dengan adanya pengakuan langsung dari universitas, para siswa kini memiliki rasa percaya diri lebih untuk bersaing di kancah internasional, baik dalam melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja kreatif. Menatap Masa Depan Digital Prosesi wisuda ditandai dengan penyerahan sertifikat kompetensi IT yang menjadi bukti kepakaran siswa dalam bidang pemrograman, desain, hingga manajemen jaringan. Kehadiran program ini diharapkan menjadi role model bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Jawa Timur, khususnya di Karangasem, dalam mengintegrasikan kurikulum berbasis teknologi. Dengan dikukuhkannya angkatan ini, Smamusix dan Madtsamuda semakin memantapkan posisinya sebagai lembaga pendidikan Muhammadiyah yang progresif dan modern. Para lulusan kini siap melangkah dengan kepala tegak, membawa bekal keahlian IT yang telah tervalidasi oleh salah satu universitas terbaik di Indonesia.(*)
Dukung Women Empowerment, UMM Beri Ruang Setara pada Perempuan

Suasana dialog dalam webinar “Give to Gain” yang membahas penguatan akses dan partisipasi perempuan di masyarakat. (Tangkapan layar/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Momentum International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI). Sinergi ini dikemas dalam webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026). Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik MSi, webinar ini diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ Prof Ma’mun Murod MSi. Dia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang yang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya. Diskusi utama menyoroti pendidikan sebagai instrumen penting dalam pemberdayaan perempuan (women empowerment). Tim Dewan Pakar PSP2A UMM Dr Tutik Sulistyowati MSi menegaskan bahwa akses pendidikan merupakan langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” paparnya. Isu tersebut diperdalam oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah 3T Dr Rita Pranawati SS MA. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan hingga wilayah terpencil yang masih menghadapi banyak keterbatasan. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegasnya. Sesi diskusi berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog mengenai pengukuran kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk terkait dukungan anggaran pemerintah serta peran masyarakat sipil dalam pengawasan kebijakan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi tidak berhenti pada forum diskusi akademik, tetapi dapat bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi terwujudnya masyarakat yang inklusif, setara, dan berkeadilan. (Faqih/AS)
UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Kampus UMM UMM membuka jalur beasiswa bagi siswa aktif OSIS, MPK, dan IPM, dengan seleksi berbasis rekam jejak kepemimpinan di sekolah. Program ini menyasar calon mahasiswa yang teruji dalam organisasi serta memiliki kemampuan kolaborasi, tanggung jawab, dan inisiatif. Tagar.co — Ada pesan yang ingin ditegaskan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini: kepemimpinan bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah, melainkan modal utama masa depan. Melalui skema Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat), kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” itu membuka jalur masuk tanpa tes bagi para penggerak organisasi seperti OSIS, MPK, dan IPM. Langkah ini bukan sekadar strategi penerimaan mahasiswa baru. UMM sedang “menjemput bola” — memburu pelajar yang sejak dini telah teruji dalam dinamika organisasi: mengelola program, memimpin tim, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan. Mereka inilah yang dinilai memiliki fondasi kuat sebagai calon pemimpin bangsa. Baca Juga: Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menegaskan bahwa jalur ini dirancang khusus untuk mengapresiasi kerja nyata siswa di luar kelas. Menurutnya, pengalaman berorganisasi membentuk karakter yang tidak selalu bisa diukur lewat ujian tulis. “Kami ingin menjaring calon mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi,” ujarnya, Sabtu (18/4/ 2026). Potongan Biaya hingga 75 Persen Daya tarik utama program ini terletak pada kemudahan akses dan insentif finansial yang signifikan. Penerima beasiswa berhak memperoleh potongan Biaya Studi Semester (BSS) sebesar 50 hingga 75 persen pada semester pertama. Besaran potongan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026 — memberi ruang bagi lulusan baru maupun gap year yang tetap aktif dalam kegiatan organisasi selama sekolah. Syarat Terukur, Fokus pada Bukti Kepemimpinan Berbeda dari jalur akademik konvensional, seleksi ini lebih menekankan rekam jejak. Calon pendaftar diwajibkan melampirkan surat tugas atau bukti resmi keaktifan sebagai pengurus organisasi sekolah. Baca Juga: UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan Untuk beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD, terdapat tambahan syarat berupa surat keterangan tidak buta warna dari dokter—memastikan kesiapan mahasiswa mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Dibuka Hingga 25 Juni 2026 Pendaftaran telah dibuka sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 25 Juni 2026. Hasil seleksi dapat dipantau secara berkala melalui laman resmi UMM di online.umm.ac.id setelah proses verifikasi berkas selesai dilakukan. Lebih dari sekadar beasiswa, program ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia perguruan tinggi mulai memberi tempat lebih besar pada soft skills — khususnya kepemimpinan. Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, UMM tampaknya ingin memastikan satu hal: masa depan tidak hanya milik mereka yang pintar di atas kertas, tetapi juga bagi mereka yang terbiasa memimpin sejak muda. “Ini momentum bagi para aktivis sekolah untuk melangkah lebih jauh,” kata Juanda. (#) Penyunting Mohammad Nurfatoni
UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat, Tepis Slogan Women Empowerment Sekadar Tren

20 April 2026 | 17.09 WIB Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A Universitas Muhammadiyah Malang dalam webinar nasional IWD 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Salah satu pakar dari tim Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak Universitas Muhammadiyah Malang, Tutik Sulistyowati mengungkapkan bagaimana cara perempuan dapat berkontribusi nyata di lingkungan masyarakat. Pembuktian tersebut menjadi upaya untuk menepis tajuk pemberdayaan perempuan (women empowerment) hanya berhenti sebagai tren bukan implementasi nyata dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan Tutik dalam webinar nasional bertajuk ‘Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan’, pada Kamis, 12 Maret lalu. Webinar ini diselenggarakan dalam momentum International Women’s Day yang kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI) untuk menggelar webinar ini. Agenda ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., dan dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” ujar Ma’mun, yang dikutip dari rilis UMM (15/4). Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan. Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” beber Tutik. Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” ungkap Rita. Webinar nasional yang dihelat dalam momen International Women’s Day 2026./dok. UMM Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata. Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan. *** Editor: YAN