UMM Berhasil Sulap 92 Persen Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

Kampus UMM menyulap 92 persen sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfat bagi lingkungan. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat inovasi mandiri untuk memberi dampak terhadap ekosistem berkelanjutan. Salah satunya menyulap sampah sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijau kampus. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa, ‘sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’. “Peribahasa ini tak lepas dari upaya kampus memangkas sampah organik ke tempat pembuangan akhir, sekaligus memperkuat komitmen terhadap kelestarian lingkungan,” kata Sandi, sapaannya. Proses Sederhana, Manfaat Luar Biasa Ekonomi sirkular, atau tata kelola melingkar diawali dari limbah kantin. Seluruh sisa makanan diolah menjadi pupuk organik yang saat ini permintaannya terus meningkat. Di satu sisi, pihak kampsus berusaha memenuhi pupuk organik guna mendukung kelestarian lingkungan. Proses yang dilakukan cukup sederhana. Seluruh sampah sisa makanan yang meliputi sayur, buah, ikan, dan lainnya dari kantin dipilah kemudian dicacah berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini dimasukkan ke tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70 persen. Upaya Pangkas Sampah Organik “Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan dipindahkan ke unit modular,” jelasnya. Baca Juga  Keren! UMM Masuk Deretan Kampus Terbaik Asia Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik akan diurai dan dimakan cacing tanah jenis eisenia fetida. Selanjutnya menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Keberhasilan ini dibuktikan dengan memangkas volume sampah organik kampus. Pada 2025, produksi sampah organik mencapai 438 ton. Sebanyak 402,9 ton atau setara 92 persen sampah, diubah menjadi pupuk organik di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. Parameter Keberhasilan Program “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” lanjutnya. Tak berhenti pada kompos. Limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92 persen sampah organik ini menjadi bukti bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim.

Dari Sisa Makanan ke Taman Kampus: UMM Sulap 402 Ton Sampah Jadi Emas Hijau, Daur Ulang 92% Limbah Organik

sisa nasi, kulit buah, dan sayur dari piring mahasiswa berubah jadi pupuk Kompos.(Foto: ist) Malangpariwara.com – Bayangkan sisa nasi, kulit buah, dan sayur dari piring mahasiswa berubah jadi pupuk yang menyuburkan seluruh taman kampus. Itulah yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Malang. UMM resmi membuktikan diri sebagai pelopor kampus hijau dengan mendaur ulang 92% sampah organik sepanjang 2025. Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari.(Foto:ist) Dari total 438 ton limbah makanan, sayur, dan buah, sebanyak 402,9 ton berhasil “diselamatkan” dari TPA dan disulap jadi kompos kaya nutrisi lewat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kampus III. “Ini ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Urusan limbah kantin beres, kebutuhan pupuk taman kampus juga terpenuhi dari dalam kampus sendiri,” tegas Sandi Wahyudiono, M.T., Ketua Tim GreenMetric UMM. *Dapur Ekologis: Cacing Jadi ‘Karyawan’ Terbaik UMM* Rahasia di balik angka 92% itu bernama vermikompos. Jantung dari ekosistem sirkular UMM ini bekerja dengan ‘mempekerjakan’ ribuan cacing tanah Eisenia fetida. Siklusnya dimulai dari meja makan: sampah kantin dipilah, dicacah 2–3 cm, lalu difermentasi 7–14 hari bersama sekam padi di reaktor tertutup. Setelah matang, ‘hidangan’ itu masuk ke unit modular. Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari. Mesin cacah sisa makanan hasil karya mahasiswa UMM.(Foto:ist) Proses masif ini ditopang mesin buatan kampus: pencacah 200 kg/jam, saringan 100 kg/jam, hingga granulator. Semua dikelola staf profesional. Hasilnya? Kompos siap pakai untuk taman, kebun edukasi, sampai lahan pertanian mitra. *Tak Cuma Kompos, UMM Juga ‘Panen’ Eko-Enzim 5 Liter Sehari* UMM tak berhenti di kompos. Kulit sayur dan buah dari kantin diolah jadi eko-enzim lewat program edukatif harian di UMM Edupark. Produksinya tembus 5 liter per hari – cairan serbaguna untuk pembersih alami hingga pupuk cair. “UMM tidak hanya memangkas drastis sampah ke TPA, tapi memberi bukti nyata bahwa kampus besar bisa hidup harmonis dengan alam,” tambah Sandi. Capaian ini menempatkan Kampus Putih di garda depan aksi iklim. Lebih dari sekadar merawat lingkungan sendiri, UMM sedang menulis blueprint bagi kampus lain di Indonesia: bahwa kemandirian dan inovasi bisa mengubah limbah jadi berkah.(Djoko W)   Kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang

Inovasi aplikasi AI deteksi anemia lewat foto mata tanpa tusuk jarum

ANTARA – Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI yang mampu mendeteksi anemia hanya melalui foto konjungtiva mata menggunakan ponsel. Aplikasi dengan akurasi mencapai 86 persen ini diharapkan dapat mempermudah deteksi dini anemia tanpa prosedur tusuk jarum yang menimbulkan rasa sakit dan kecemasan pada pasien. (Achmad Saif Hajarani/Rayyan/Hilary Pasulu)

Kantongi Lisensi HKI, PPG UMM Resmi Lahirkan Empat Model Pembelajaran Inovatif

Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus dibuktikan melalui dedikasi para calon guru masa depan. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 berhasil menorehkan prestasi akademik dengan melahirkan empat karya inovatif berupa model pembelajaran. Keempat karya strategis yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini tersebut telah resmi mengantongi lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang ditetapkan secara serentak pada 15 April lalu. Dosen PPG UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa meskipun luaran visual dari karya-karya ini disajikan dalam bentuk desain poster, esensi utama dan bobot keilmuannya terletak pada rancangan model pendekatan pendidikan di baliknya. Terdapat empat model spesifik yang telah diakui oleh HKI. Pertama adalah Model Profiling Kunci Pembelajaran Adaptif dan Inklusif, yang disusun untuk merespons keragaman karakter dan kebutuhan siswa di dalam kelas. Kedua, Model Simfoni Kelas Harmoni melalui Deep Learning, sebuah metode yang bertujuan menyelaraskan iklim belajar secara komprehensif. Ketiga, Model Pendekatan Holistik Pembelajaran E-learning, yang dirancang agar sangat relevan dengan masifnya arus digitalisasi pendidikan saat ini. Terakhir, Model Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2024 dengan Memanusiakan dan Membangun Potensi Siswa, yang menjadi wujud kontribusi nyata terhadap visi besar pendidikan nasional. Lebih lanjut, Arina memaparkan bahwa pengembangan dan perolehan HKI atas keempat model ini dilatarbelakangi oleh visi yang kuat untuk mencetak pendidik profesional dengan kompetensi global. Tujuan utamanya adalah memastikan lulusan program profesi ini siap menghadapi dinamika kelas modern. “Tujuannya karena calon pendidik di program profesi guru itu harus bisa melahirkan kompetensi 4C, yaitu creative (kreatif), collaborative (kolaboratif), communication (komunikasi), dan critical thinking (berpikir kritis),” jelasnya merinci luaran kompetensi yang disasar. Dengan merancang model-model pembelajaran tersebut, para mahasiswa didorong agar tidak sekadar mampu mentransfer ilmu, tetapi juga sanggup menciptakan ekosistem belajar yang adaptif. Pencapaian dari angkatan 2025 ini menjadi bukti bahwa program PPG UMM secara konsisten berhasil menjadi inkubator bagi lahirnya inovator pendidikan yang siap mewujudkan pembelajaran yang memanusiakan siswa.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gandeng Google, UMM Bekali Puluhan Dosen dengan Sertifikasi Gemini AI

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini ditekankan oleh Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, dalam agenda Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026). Dalam paparannya, Rose sapaan akrabnya menegaskan bahwa AI hadir sebagai katalisator untuk memberdayakan pendidik, bukan untuk menggantikan peran mereka. Melalui pemanfaatan platform Google Workspace for Education, AI generatif berfungsi layaknya asisten kolaboratif tanpa lelah yang mampu mengakselerasi berbagai tugas administratif repetitif. “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian yang objektif kini dapat dilakukan dengan sangat presisi. Efisiensi ini memberikan ruang waktu berharga bagi pendidik untuk kembali fokus pada aspek esensial: interaksi langsung, bimbingan emosional, dan pengembangan karakter anak didiknya,” jelasnya. Sejalan dengan wawasan tersebut, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menyatakan bahwa dosen dituntut terus beradaptasi dengan teknologi. Agenda kolaborasi antara Indosat dan Google Education ini secara khusus diikuti oleh 30 dosen muda, sebagai langkah konkret UMM dalam merespons disrupsi digital. Lebih jauh, Suyatno sapaan akrabnya menyoroti fenomena mahasiswa masa kini yang semakin mahir teknologi namun cenderung pasif di ruang kelas. Menurutnya, sejak masifnya penggunaan AI, mahasiswa bisa menggali informasi dengan sangat cepat. “Kalau kita menulis judul di papan tulis, misalnya tentang animal breeding, mereka sudah mencari sendiri di internet. Jika dosen tidak meramu metode mengajar yang lebih cerdas, kita pasti akan tertinggal,” ungkapnya. Ia juga turut mengkritisi pemberian tugas berupa makalah ketik yang tingkat kesamaannya kini bisa mencapai 80 persen. Ia mengingatkan bahwa raga mahasiswa sering kali terlihat ada di kelas, tetapi jiwa dan pikiran mereka sepenuhnya tertuju pada layar gawai pintar masing-masing. “AI ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tuntutan nyata kebutuhan zaman. Sama seperti taksi konvensional yang dulu sempat menolak kehadiran transportasi online, jika kita terus bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps,” tegas Suyatno. Acara pelatihan intensif ini dilanjutkan dengan ujian sertifikasi pada sesi kedua. UMM sangat berharap, melalui sertifikasi Gemini AI ini, para dosen muda mampu menularkan virus positif literasi digital kepada rekan sejawat lainnya. Dengan langkah tersebut, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, serta senantiasa relevan dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan global.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa UMM Kalahkan Puluhan Ribu Pesaing dalam Program Google Stundent Ambassador

Keseruan Google Student Ambassador (GSA) 2026 yang diikuti Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM, Fahmi Daud Ibrahim. (Istimewa/PWMU.CO). pwmu.co –Di tengah derasnya arus perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa kini tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk manis sebagai penikmat teknologi. Mereka dituntut untuk bisa memahami, mengelola, sekaligus mengedukasi sekitarnya agar teknologi tidak hanya lewat sebagai tren sesaat. Tantangan besar inilah yang kini dipikul oleh Fahmi Daud Ibrahim, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prestasinya tak main-main: ia berhasil terpilih sebagai peserta fully funded inauguration Google Student Ambassador (GSA) 2026. Mengenal GSA Sebagai informasi, GSA adalah program bergengsi dari Google untuk mencari mahasiswa dengan jiwa kepemimpinan, kecakapan komunikasi, dan visi kuat di bidang teknologi digital. Tingkat persaingannya pun luar biasa ketat. Dari 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 2.000 peserta yang lolos seleksi awal. Hebatnya, Fahmi menembus daftar 150 mahasiswa elit yang mendapat undangan dibiayai penuh untuk pelantikan di Jakarta, dan menjadi satu-satunya perwakilan UMM. “Kami jadi jembatan antara Google dan kampus. Jadi bukan cuma belajar teknologi, tapi juga mengedukasi mahasiswa lain tentang ekosistem Google, khususnya Gemini” ujar Fahmi. Selama inagurasi di MGP Space Jakarta, ia tidak hanya mengikuti pelantikan. Tetapi juga berkesempatan melakukan office tour ke kantor Google Indonesia, berjejaring, hingga mengikuti talkshow eksklusif membahas masa depan AI. Di balik euforia pencapaiannya, Fahmi memiliki pandangan kritis terhadap tren AI di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti fenomena di mana AI kerap disalahgunakan sebatas “mesin penjawab instan”, yang memicu budaya copy-paste tanpa proses analitis. “AI seharusnya menjadi partner diskusi buat riset, brainstorming, atau ngembangin ide. Bukan menggantikan otak sepenuhnya” tegasnya. Jalan Panjang menuju GSA Jalan menuju kursi GSA tentu bukan proses instan. Fahmi harus menaklukkan serangkaian seleksi ketat. Mulai dari penilaian administrasi, portofolio, wawancara rekaman, hingga wawancara langsung yang membedah pemahamannya soal AI dan kepemimpinan. Sebagai penentu akhir, personal branding digitalnya diuji melalui screening media sosial dan LinkedIn. Untuk tahapan ini, Fahmi mengandalkan rekam jejak profesionalnya sebagai content creator dan tim Marketing Communication di Telkomsel. Bagi Google, rekam jejak digital sangat krusial karena tugas seorang GSA adalah mempengaruhi audiens melalui edukasi yang tepat sasaran. Kini, ia mengemban tanggung jawab besar untuk menyelesaikan misi mingguan seperti membuat konten edukasi tentang fitur mutakhir Google (Gemini Canvas dan Deep Research), serta menginisiasi berbagai acara teknologi di lingkungan kampus. Kunci menyeimbangkan tugas GSA, rutinitas kuliah, dan magang ada pada manajemen waktu. Fahmi rutin menyusun timeline mingguan yang sangat detail untuk memastikan tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Baginya, capaian ini adalah sebuah pembuktian diri. “Menang dari 81 ribu orang bikin aku sadar kalau nggak ada yang nggak mungkin. Aku pengen mahasiswa lain terutama dari daerah juga percaya kalau kesempatan itu selalu terbuka lebar, asalkan kita berani mulai dan mau belajar hal baru” pungkas Fahmi penuh inspirasi. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Danar Trivasya Fikri

Cerita Fahmi, Mahasiswa UMM Kalahkan Puluhan Ribu Pesaing Dalam Program Google Stundent Ambasador

Di tengah derasnya arus perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa kini tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk manis sebagai penikmat teknologi. Mereka dituntut untuk bisa memahami, mengelola, sekaligus mengedukasi sekitarnya agar teknologi tidak hanya lewat sebagai tren sesaat. Tantangan besar inilah yang kini dipikul oleh Fahmi Daud Ibrahim, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prestasinya tak main-main: ia berhasil terpilih sebagai peserta fully funded inauguration Google Student Ambassador (GSA) 2026. GSA adalah program bergengsi dari Google untuk mencari mahasiswa dengan jiwa kepemimpinan, kecakapan komunikasi, dan visi kuat di bidang teknologi digital. Tingkat persaingannya pun luar biasa ketat. Dari 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 2.000 peserta yang lolos seleksi awal. Hebatnya, Fahmi menembus daftar 150 mahasiswa elit yang mendapat undangan dibiayai penuh untuk pelantikan di Jakarta, dan menjadi satu-satunya perwakilan UMM. “Kami jadi jembatan antara Google dan kampus. Jadi bukan cuma belajar teknologi, tapi juga mengedukasi mahasiswa lain tentang ekosistem Google, khususnya Gemini,” ujar Fahmi. Selama inagurasi di MGP Space Jakarta, ia tidak hanya mengikuti pelantikan, tetapi juga berkesempatan melakukan office tour ke kantor Google Indonesia, berjejaring, hingga mengikuti talkshow eksklusif membahas masa depan AI. Di balik euforia pencapaiannya, Fahmi memiliki pandangan kritis terhadap tren AI di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti fenomena di mana AI kerap disalahgunakan sebatas “mesin penjawab instan”, yang memicu budaya copy-paste tanpa proses analitis. “AI seharusnya menjadi partner diskusi buat riset, brainstorming, atau ngembangin ide. Bukan menggantikan otak sepenuhnya,” tegasnya. Jalan menuju kursi GSA tentu bukan proses instan. Fahmi harus menaklukkan serangkaian seleksi ketat, mulai dari penilaian administrasi, portofolio, wawancara rekaman, hingga wawancara langsung yang membedah pemahamannya soal AI dan kepemimpinan. Sebagai penentu akhir, personal branding digitalnya diuji melalui screening media sosial dan LinkedIn. Untuk tahapan ini, Fahmi mengandalkan rekam jejak profesionalnya sebagai content creator dan tim Marketing Communication di Telkomsel. Bagi Google, rekam jejak digital sangat krusial karena tugas seorang GSA adalah mempengaruhi audiens melalui edukasi yang tepat sasaran. Kini, ia mengemban tanggung jawab besar untuk menyelesaikan misi mingguan seperti membuat konten edukasi tentang fitur mutakhir Google (Gemini Canvas dan Deep Research), serta menginisiasi berbagai acara teknologi di lingkungan kampus. Kunci menyeimbangkan tugas GSA, rutinitas kuliah, dan magang ada pada manajemen waktu. Fahmi rutin menyusun timeline mingguan yang sangat detail untuk memastikan tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Baginya, capaian ini adalah sebuah pembuktian diri. “Menang dari 81 ribu orang bikin aku sadar kalau nggak ada yang nggak mungkin. Aku pengen mahasiswa lain terutama dari daerah juga percaya kalau kesempatan itu selalu terbuka lebar, asalkan kita berani mulai dan mau belajar hal baru,” pungkas Fahmi penuh inspirasi.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sukses Daur Ulang 92% Sampah Organik, UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi. Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus itu sendiri. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada tahun 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Tak berhenti pada kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tak Semua Hewan Gemuk Layak Kurban, Ini Penjelasan Pakar UMM

Ilustrasi sapi kurban di Kota Malang pada 2026. (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo) MALANG, KOMPAS.com — Menjelang Idul Adha 2026, masyarakat diingatkan agar tidak memilih hewan kurban hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga mahal, tetapi juga memastikan kondisi kesehatannya. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Dr drh Lili Zalizar, mengatakan masih banyak masyarakat menilai kualitas hewan kurban hanya dari tampilan fisik. Padahal, menurut dia, ada sejumlah indikator penting yang harus diperhatikan sebelum membeli hewan kurban, termasuk faktor kesehatan. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Lili, Senin (11/5/2026). Lili menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban sesuai ketentuan syariat. Kasus Influenza Meningkat di Tengah Cuaca Panas, Berikut Penjelasan Ahli Artikel Kompas.id Selain itu, calon pembeli juga perlu memperhatikan kondisi mata hewan. Menurut dia, mata hewan yang sehat tampak jernih dan tidak memiliki selaput putih atau keruh yang menandakan adanya gangguan penglihatan. Baca juga: Waspada 78.000 Warga Banten Terjangkit Pneumonia, Dinkes Ingatkan Deteksi Dini Gejala Batuk Waspadai PMK dan Antraks Lili juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kulit hewan dan memastikan bebas dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. Ia meminta masyarakat waspada terhadap penyakit menular berbahaya pada ternak seperti Penyakit Mulut dan Kuku serta Antraks. Baca juga: Suhu Arab Saudi Tembus 40 Derajat, CJH Jember Diminta Bawa Ini Menurut dia, hewan yang terindikasi PMK biasanya mengeluarkan lendir berlebihan dari mulut, mengalami luka pada gusi dan lidah, serta luka kemerahan di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terkena antraks umumnya menunjukkan gejala kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. Baca juga: Sapi Jumbo 1 Ton Lebih Milik Peternak Sukoharjo Dibeli Prabowo untuk Kurban Perhatikan Usia dan Kondisi Hewan Selain kondisi fisik, masyarakat juga diminta memperhatikan nafsu makan dan kebugaran hewan. Lili mengatakan, hewan yang sehat umumnya aktif makan dan bergerak lincah. Menurut dia, hewan berbadan gemuk lebih disarankan karena menghasilkan daging lebih banyak sehingga manfaat kurban dapat dirasakan lebih luas. Baca juga: Cara Mencegah Hantavirus Menurut Epidemiolog, Bisa Dimulai dari Rumah Ia juga mengingatkan bahwa usia hewan harus memenuhi syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Di sisi lain, Lili menyoroti pentingnya masa istirahat bagi hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebelum disembelih. Menurut dia, hewan yang kelelahan rentan mengalami stres yang dapat menurunkan kualitas daging. “Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD atau dark, firm, dry. Kondisi ini membuat tekstur daging menjadi gelap, keras, dan kering,” pungkasnya.

Jangan Terkecoh Ukuran, Simak Tips Pakar Memilih Hewan Kurban

Ilustrasi Pexels metrotvnews – Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lili Zalizar, mengimbau masyarakat untuk lebih teliti. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Mengutip laman umm.ac.id, Lili membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. Amati postur hewan Lili menerangkan, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” terangnya. Cek keberasihan dan kesehatan Lili melanjutkan, kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau skabies. Pilih hewan kurban dengan kulitnya mulus. Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. “Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba,” tuturnya. Ilustrasi Pexels Pastikan masa istirahat hewan Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), sebuah kondisi. Kondisi tersebut membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.