Mahasiswa Magang UMM Berpartisipasi dalam Project MEKAR dan Project AMARA Yayasan Plan International

Oleh: Channisa Amalia Zahra, Aziza Tri Elvira, Adhwa Nabiila, Elsa, Muhammad Faiz Syahputra, Rosalinda Anissa Cahyani (Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, FISIP, UMM. Kelompok 3) memorandum – MAHASISWA Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan magang di Yayasan Plan International Indonesia turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan melalui Project MEKAR dan Project AMARA. Keterlibatan mahasiswa dalam kedua proyek tersebut menjadi sarana pembelajaran sekaligus penguatan pengalaman praktik di bidang pemberdayaan masyarakat. Dalam Project MEKAR (Mari Bersama Tingkatkan Edukasi Anak & Parenting). Program ini dilaksanakan di 11 RW yang berada di Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara. Sasaran program meliputi anak usia 0–6 tahun, orang tua, dan kader masyarakat. Program ini dirancang berlangsung selama dua tahun sehingga dampak yang diberikan dapat lebih berkelanjutan. Mahasiswa berkesempatan terlibat dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat. Berbagai kegiatan yang diikuti mahasiswa juga berpartisipasi dalam pelaksanaan kelas parenting BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif). Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh, kesehatan, gizi, serta stimulasi tumbuh kembang anak agar dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Sementara itu, melalui Project AMARA (Aksi Masyarakat dan Remaja untuk Antisipasi Kanker Serviks dan Payudara), Program AMARA dilaksanakan selama tiga tahun di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur dengan melibatkan remaja, perempuan dewasa, orang tua, tenaga kesehatan, serta fasilitas kesehatan. Mahasiswa turut mendukung pelaksanaan program yang berfokus pada kanker serviks dan kanker payudara. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah skrining IVA Test (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sebagai upaya deteksi dini kanker serviks. Sebelum pemeriksaan, peserta diberikan edukasi mengenai persyaratan IVA Test, yaitu sudah aktif secara seksual, tidak melakukan hubungan seksual selama tiga hari sebelum pemeriksaan, dan tidak sedang mengalami menstruasi, sehingga hasil pemeriksaan dapat lebih akurat. Selama menjalani magang, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman dalam mengelola program sosial berbasis komunitas, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, kerjasama tim, serta fasilitasi masyarakat. Keterlibatan dalam Project MEKAR dan Project AMARA memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai implementasi program pemberdayaan dan perlindungan masyarakat khususnya pada isu perlindungan hak anak dan perempuan secara langsung di lapangan.
Harga Minyak Dunia Anjlok Tapi BBM Belum Turun, Ini Penjelasan Pakar Ekonomi UMM

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Setyo Wahyu S., S.E., M.E., mengungkapkan bahwa penetapan harga energi di Indonesia memiliki mekanisme perhitungan yang kompleks. Masyarakat diimbau untuk memahami realitas di balik keputusan regulasi tersebut. Menurut Setyo, pemerintah secara konsisten menerapkan formulasi harga rata-rata dalam satu periode evaluasi tertentu. Pola ini menyebabkan adanya jeda waktu (time lag) sebelum harga di pompa bensin benar-benar disesuaikan dengan kondisi pasar global terbaru. “Kita menggunakan formulasi rata-rata, berarti melihat perjalanan harga dalam rentang waktu tertentu. Karena itu, saat ini kita belum melakukan penurunan harga BBM,” ujar Setyo saat diwawancarai, Rabu (15/7/2026). Selain faktor harga historis minyak mentah, dinamika nilai tukar rupiah juga memegang peranan vital. Setyo memaparkan, status Indonesia yang masih menjadi negara net importer atau pengimpor BBM siap pakai membuat beban keuangan negara sangat sensitif terhadap pergerakan dolar Amerika Serikat. Tantangan lainnya yang jarang disadari publik adalah mengenai patokan harga yang digunakan. Indonesia tidak berkaca langsung pada harga minyak mentah dunia, melainkan merujuk pada Mean of Platts Singapore (MOPS) sebagai standar harga produk minyak di kawasan regional Asia Tenggara. “Minyak siap pakai yang kita impor kan dibayar dengan dolar. Jadi, ketika rupiah melemah, selisih kurs itulah yang sangat dirasakan dampaknya terhadap harga BBM. Kita tidak memakai acuan minyak dunia secara langsung. Tapi, yang kita pakai adalah MOPS sebagai harga acuan internasional,” tegasnya. Sementara itu untuk kategori BBM non-subsidi, pergerakan harganya cenderung lebih kaku karena menerapkan skema cost plus pricing. Formula ini melibatkan akumulasi dari total biaya pengolahan, ongkos distribusi, margin badan usaha, hingga kewajiban pajak. Demi menjaga stabilitas makroekonomi, Setyo menilai langkah pemerintah yang berhati-hati dalam melakukan penyesuaian harga secara bertahap sudah tepat. Hal ini penting untuk meminimalisasi guncangan psikologis pasar dan menjaga daya beli masyarakat. “BBM non-subsidi itu banyak instrumen biayanya yang keluar. Selain harga baku, ada biaya angkut, pendistribusian, margin pemerintah, hingga pajak yang selanjutnya menjadi cost plus pricing yang dibebankan pada konsumen. Langkah bertahap ini krusial. Pemerintah harus sangat berhati-hati melakukan penyesuaian agar tidak memicu gejolak inflasi pada barang kebutuhan pokok yang sensitif terhadap perubahan biaya energi,” tambahnya. Sebagai penutup, pakar ekonomi UMM ini menyarankan agar pemerintah ke depan bisa lebih transparan dalam memaparkan formula penetapan harga energi demi menepis sentimen negatif publik. ”Ke depannya, fokus kita tidak boleh hanya berputar pada fluktuasi harga BBM saja. Pemerintah harus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas serta percepatan hilirisasi energi yang mandiri,” pungkasnya. (dan/but)
Pakar Ekonomi UMM Jelaskan Mengapa Harga BBM Belum Turun Meski Minyak Dunia Anjlok

pwmu.co – Penurunan harga minyak mentah dunia tidak serta-merta diikuti penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Menurut Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Setyo Wahyu S., S.E., M.E., terdapat sejumlah faktor yang menjadi dasar pemerintah dalam menetapkan harga BBM sehingga penyesuaiannya tidak bisa dilakukan secara langsung. Setyo menjelaskan, pemerintah menggunakan formulasi harga rata-rata dalam setiap periode evaluasi. Karena itu, perubahan harga minyak dunia tidak otomatis langsung memengaruhi harga BBM di dalam negeri. “Kita menggunakan formulasi rata-rata, berarti melihat perjalanan harga dalam rentang waktu tertentu. Karena itu, saat ini kita belum melakukan penurunan harga BBM,” ujarnya kepada Humas UMM pada 14 Juli 2026. Menurutnya, selain mempertimbangkan harga historis, pemerintah juga harus memperhitungkan pergerakan nilai tukar rupiah. Sebab, Indonesia masih mengimpor BBM siap pakai yang transaksinya menggunakan dolar Amerika Serikat. Setyo menambahkan, faktor lain yang tidak kalah penting adalah penggunaan Mean of Platts Singapore (MOPS) sebagai acuan harga regional. Karena itu, penurunan harga minyak mentah dunia belum tentu langsung berdampak pada harga BBM apabila harga acuan tersebut belum mengalami perubahan. “Minyak siap pakai yang kita impor kan dibayar dengan dolar. Jadi, ketika rupiah melemah, selisih kurs itulah yang sangat dirasakan dampaknya terhadap harga BBM. Kita tidak memakai acuan minyak dunia secara langsung. Tapi, yang kita pakai adalah MOPS sebagai harga acuan internasional,” tegasnya. Setyo menjelaskan, penetapan harga BBM non-subsidi juga dipengaruhi skema cost plus pricing. Dalam mekanisme tersebut, harga jual tidak hanya ditentukan oleh harga bahan baku, tetapi juga memperhitungkan biaya pengolahan, distribusi, margin, serta kewajiban pajak. Menurutnya, banyaknya komponen biaya tersebut membuat pergerakan harga BBM non-subsidi tidak selalu mengikuti perubahan harga minyak mentah dunia secara langsung. “BBM non-subsidi itu banyak instrumen biayanya yang keluar. Selain harga baku, ada biaya angkut, pendistribusian, margin pemerintah, hingga pajak yang selanjutnya menjadi cost plus pricing yang dibebankan pada konsumen. Langkah bertahap ini krusial. Pemerintah harus sangat berhati-hati melakukan penyesuaian agar tidak memicu gejolak inflasi pada barang kebutuhan pokok yang sensitif terhadap perubahan biaya energi,” jelasnya. Di akhir penjelasannya, Setyo berharap pemerintah terus meningkatkan transparansi dalam menyampaikan mekanisme penetapan harga BBM agar masyarakat memahami berbagai faktor yang menjadi dasar pengambilan kebijakan. Ia juga menilai perhatian pemerintah tidak hanya perlu tertuju pada fluktuasi harga BBM, tetapi juga pada penguatan fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas dan percepatan hilirisasi energi. “Ke depannya, fokus kita tidak boleh hanya berputar pada fluktuasi harga BBM saja. Pemerintah harus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas serta percepatan hilirisasi energi yang mandiri,” pesannya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Indonesia AIDS Coalition Perkuat Kapasitas Calon Pekerja Sosial Bersama Mahasiswa UMM

Oleh: Windi Intan N.A, Arzailuna Martha N.K, Viska Faradila P, Alya Amelia, Zulfa Anggraeni, Rahma Tri.O, Livia Ayang R, Fitria Sindy N, Hafiza Ishlahun Nisa (Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang) memorandum – Penguatan Kapasitas Calon Pekerja Sosial (Pre-Service): Penutup Rangkaian Magang Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Bersama Indonesia AIDS Coalition INDONESIA AIDS Coalition (IAC) menyelenggarakan kegiatan Penguatan Kapasitas Calon Pekerja Sosial (Pre-Service) sebagai penutup rangkaian program magang mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Binawan Jakarta. Kegiatan yang berlangsung pada 22–25 Juni 2026 di Hotel Fairfield by Marriott Bekasi ini menjadi pembekalan akhir bagi mahasiswa setelah menjalani praktik lapangan dalam program penanggulangan HIV dan pendampingan kelompok rentan. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa agar siap menjadi calon pekerja sosial yang profesional, beretika, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Selama empat hari, peserta memperoleh berbagai materi yang menghubungkan teori perkuliahan dengan pengalaman praktik di lapangan. Materi yang diberikan meliputi Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT) untuk membantu peserta merefleksikan nilai dan sikap pribadi sehingga mampu memberikan pelayanan tanpa stigma dan diskriminasi. Peserta juga memperoleh pembelajaran mengenai Prevention of Sexual Exploitation, Abuse, and Harassment (PSEAH) sebagai upaya mencegah eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan seksual dalam lingkungan kerja maupun pelayanan sosial. Selain itu, materi SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, and Sex Characteristics) memberikan pemahaman bahwa orientasi seksual maupun identitas gender bukanlah penyebab penularan HIV. Melalui sesi ini, peserta didorong untuk memberikan pelayanan yang adil, setara, dan menghormati keberagaman. Pada hari kedua, mahasiswa mengikuti pelatihan komunikasi efektif yang menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan secara aktif, membangun hubungan profesional, dan berkomunikasi secara empatik dengan penerima manfaat. Peserta juga mengikuti sesi Expert Patient Trainer, yaitu pembelajaran langsung bersama orang dengan HIV (ODHIV) melalui praktik asesmen kebutuhan, identifikasi permasalahan, serta penyusunan alternatif intervensi sesuai prinsip pekerjaan sosial. Kegiatan turut menghadirkan studi kasus “Kenapa Dina Meninggal”, yang mengajak peserta menganalisis berbagai faktor penyebab kegagalan sistem pelayanan sosial dan kesehatan. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa memahami bahwa kualitas layanan dipengaruhi oleh akses pelayanan, koordinasi lintas sektor, serta dukungan sosial yang memadai. Sebagai penutup, peserta memperoleh penguatan mengenai prinsip-prinsip dasar pekerjaan sosial, seperti penerimaan, tidak menghakimi, individualisasi, penentuan nasib sendiri, serta kerahasiaan. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif melalui diskusi, simulasi, studi kasus, dan refleksi pengalaman. Melalui kegiatan ini, Indonesia AIDS Coalition berharap mahasiswa memiliki kompetensi profesional, mampu memberikan pelayanan yang inklusif dan bebas stigma, serta siap mengaplikasikan nilai-nilai pekerjaan sosial dalam berbagai bidang pelayanan sosial maupun kesehatan setelah menyelesaikan masa magang.
Dosen UMM Ubah Susu Sisa Peternak Pujon Jadi Yogurt dan Butter, Sekaligus Bahan Ajar Bioteknologi

Mediapribumi.id, Malang — Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng peternak sapi perah dan guru IPA-Biologi di Kabupaten Malang untuk mengolah susu sisa menjadi produk pangan bernilai jual sekaligus media pembelajaran bioteknologi. Program ini menyasar wilayah Pujon, salah satu sentra susu sapi perah terbesar di Jawa Timur, tempat sebagian susu segar kerap tidak terserap koperasi karena volumenya belum mencapai batas minimal setor. Berawal dari Susu yang Nyaris Terbuang Ketua tim pengabdian, Prof. Yuni Pantiwati, menyampaikan bahwa susu yang selama ini terbuang percuma sesungguhnya masih bisa diselamatkan menjadi produk bernilai ekonomi. “Susu yang sebelumnya menjadi sisa dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Selain meningkatkan nilai ekonomi bagi peternak, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sumber belajar bioteknologi bagi siswa,” katanya, Rabu (15/07/2026). Program yang berjalan lewat skema Pemberdayaan Wilayah ini menurutnya lahir dari cara pandang berbeda: persoalan susu sisa bukan sekadar masalah produksi, melainkan peluang inovasi berbasis potensi lokal yang mempertemukan dunia peternakan dengan dunia pendidikan. Pengabdian dan Pemberdayaan Wilayah oleh Dosen UMM Malang. Praktik Mengolah Yogurt dan Butter Pendampingan berjalan dua jalur sekaligus, kepada kelompok peternak sapi perah dan kepada guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA dan Biologi Kabupaten Malang. Setelah dibekali materi bioteknologi pengolahan susu oleh dosen Teknologi Pangan UMM, Sri Winarsih, S.TP., M.P., peserta lalu praktik langsung membuat yogurt dan butter bersama tenaga pendamping dari Laboratorium Teknologi Pangan UMM mulai dari pemilihan bahan, proses olah, hingga pengemasan. Khusus di Pujon, peternak juga dibekali pemahaman soal kebersihan produksi, konsistensi rasa, kemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran produk olahan. Selain berlatih produksi, para guru diarahkan menganalisis kelayakan potensi lokal tersebut sebagai sumber belajar bioteknologi jenjang SMP dan SMA, melalui pendampingan daring via Zoom yang dilanjutkan koordinasi lewat WhatsApp. Proses ini didampingi Prof. Yuni bersama Dr. Erna Retno Rahajeng, M.M., dan Prof. Lud Waluyo, M.Kes. Prof. Yuni menegaskan potensi lokal tidak bisa langsung dipakai sebagai bahan ajar tanpa kajian lebih dulu. “Sebelum digunakan dalam pembelajaran, potensi lokal perlu dianalisis untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, ketersediaan sumber daya, kemudahan akses, serta keterkaitannya dengan indikator dan materi pembelajaran,” jelasnya. Lima Varian Yogurt Berbahan Alami Praktik lapangan menghasilkan yogurt dengan lima varian rasa alami: original, kelor (Moringa oleifera), anggur hitam (Vitis vinifera), buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), dan bunga telang (Clitoria ternatea), ditambah butter original yang dikemas layak jual.
Foskam SMP Jatim Gandeng Fakultas Psikologi UMM, Perkuat Kompetensi Guru Wujudkan Pendidikan Inklusif

pwmu.co – Forum Silaturahmi Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah (Foskam) SMP/MTs Jawa Timur menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memperkuat implementasi pendidikan inklusif di lingkungan sekolah Muhammadiyah.Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Dekan Fakultas Psikologi UMM, Selasa (14/7/2026). Ketua Foskam SMP/MTs Jawa Timur, Windra Rizkiyana, M.Pd., bersama jajaran pengurus diterima langsung oleh Dekan Fakultas Psikologi UMM, Dr. Dra. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M.Si., didampingi Wakil Dekan, Dr. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Pertemuan berlangsung hangat dan produktif. Kedua belah pihak menyepakati pentingnya sinergi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang ramah bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus. Sebagai tindak lanjut, Foskam SMP/MTs Jawa Timur bersama Fakultas Psikologi UMM akan menyelenggarakan workshop bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan pendampingan yang tepat sesuai kebutuhan setiap peserta didik. Ketua Foskam SMP/MTs Jawa Timur, Windra Rizkiyana, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat ditentukan oleh kesiapan tenaga pendidik. “Sekolah harus menjadi tempat yang ramah dan adaptif bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Melalui kolaborasi dengan Fakultas Psikologi UMM, kami ingin membekali Guru BK dan GPK dengan pendekatan psikologis, metodologi, serta keterampilan praktis dalam mendampingi siswa,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi UMM, Dr. Dra. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif Foskam SMP/MTs Jawa Timur. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata pengabdian perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. “Kami memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan pendidikan inklusif. Melalui kerja sama ini, keilmuan psikologi dapat diterapkan secara langsung untuk memperkuat kompetensi guru sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh sekolah maupun peserta didik,” ungkapnya. Workshop dijadwalkan berlangsung pada 8 Agustus 2026 di Fakultas Psikologi UMM. Materi yang disiapkan meliputi identifikasi potensi peserta didik, pendampingan psikologis bagi individu berkebutuhan khusus, hingga penyusunan pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan. Melalui sinergi ini, Foskam SMP/MTs Jawa Timur dan Fakultas Psikologi UMM berharap mampu membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang unggul secara akademik sekaligus menjunjung tinggi nilai empati, kesetaraan, dan penghargaan terhadap keberagaman.(*)
Dekatkan Budaya Lewat Cara Berbeda, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Gelar Pra-Event ‘Nggelar Batik’ di Kayutangan Heritage

siaranberita, MALANG – Kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar aksi pra-event kreatif bertajuk “Nggelar Batik” di kawasan wisata ikonik Kayutangan Heritage, Kota Malang. Aksi ini dirancang sebagai pengenalan awal (teaser) sekaligus ajakan interaktif sebelum menuju acara utama berupa workshop membatik berkonsep piknik yang menawarkan cara baru menikmati warisan budaya nusantara dengan atmosfer santai dan menyenangkan. Dalam kegiatan pra-event tersebut, para mahasiswa menghadirkan “Ruang Batik” di tengah hiruk-pikuk pedestrian Kayutangan Heritage. Melalui fasilitas terbuka ini, para pengunjung dan masyarakat yang melintas diajak untuk berhenti sejenak, mencoba memegang canting secara langsung, serta merasakan sensasi menorehkan lilin malam di atas kain putih yang disediakan oleh panitia. Ketua Pelaksana Event “Nggelar Batik”, Aisyah Humaira, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi di Kayutangan Heritage sangat tepat untuk menjangkau masyarakat luas dan generasi muda secara langsung. Pengalaman membatik secara instan ini diharapkan mampu memantik minat mereka terhadap proses pembuatan kain batik. “Kami ingin membuktikan bahwa membatik itu tidak selalu identik dengan suasana formal atau membosankan. Melalui ‘Ruang Batik’ di Kayutangan ini, masyarakat bisa mencoba membatik langsung dengan santai. Ini merupakan pemanasan kecil sebelum mereka nanti merasakan keseruan penuh di acara utama kami, yaitu belajar membatik dengan suasana piknik alam terbuka yang segar dan menyenangkan,” ujar Aisyah Humaira, Project Leader Event. Kehadiran “Ruang Batik” ini terbukti menarik perhatian masyarakat lokal hingga wisatawan domestik yang tengah menikmati sore di kawasan Kayutangan Heritage. Banyak dari mereka, khususnya kalangan anak muda, yang tertarik mencoba membatik untuk pertama kalinya. Selain mencoba membatik, para pengunjung juga mendapatkan informasi dan penawaran khusus untuk bergabung pada event utama “Workshop Membatik Berkonsep Piknik” yang akan digelar mendatang. Melalui inisiatif ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM berkomitmen untuk terus menghidupkan kecintaan terhadap warisan budaya nusantara dengan kemasan komunikasi kreatif yang relevan dengan tren masa kini.
Asrama Universitas Muhammadiyah Malang, Ini Fasilitas dan Cara Mendaftarnya

MALANG, RADAR MALANG – Selain mempersiapkan kebutuhan akademik, calon mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga perlu menentukan tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Salah satu pilihan yang tersedia adalah Asrama UMM yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru dengan berbagai fasilitas penunjang. Tak hanya sebagai tempat tinggal, asrama juga menjadi bagian dari pembinaan karakter dan pengembangan mahasiswa selama menjalani masa transisi di dunia perkuliahan. Dilengkapi Beragam Fasilitas Penunjang Mahasiswa Asrama UMM menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kebutuhan penghuni. Setiap kamar telah dilengkapi tempat tidur, lemari, meja belajar, serta kamar mandi yang nyaman. Selain itu, tersedia ruang belajar bersama, musala, area parkir, ruang tamu, dapur, akses internet, hingga petugas keamanan yang berjaga selama 24 jam. Lingkungan asrama juga berada di kawasan kampus sehingga memudahkan mahasiswa menuju ruang kuliah maupun mengikuti berbagai kegiatan akademik. Bukan Sekadar Tempat Tinggal UMM menempatkan asrama sebagai bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa. Selama tinggal di asrama, penghuni mengikuti berbagai kegiatan pembinaan, seperti penguatan nilai-nilai keislaman, kepemimpinan, kedisiplinan, hingga pengembangan soft skill. Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, maupun tokoh Muhammadiyah sebelumnya juga menegaskan bahwa asrama diharapkan mampu melahirkan kader Muhammadiyah yang memiliki karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Cara Mendaftar Asrama UMM Pendaftaran asrama dilakukan bersamaan dengan proses daftar ulang mahasiswa baru melalui jalur yang telah ditentukan oleh UMM. Calon penghuni akan memperoleh informasi mengenai jadwal, persyaratan administrasi, hingga penempatan kamar setelah dinyatakan sebagai mahasiswa baru. Informasi terbaru mengenai pendaftaran juga dapat diakses melalui laman resmi UMM maupun media sosial pengelola asrama.
Dosen UMM Sinergikan Peternak dan Guru, Sulap Sisa Susu Menjadi Produk Pangan dan Sumber Belajar Bioteknologi

cyberjatim, MALANG- Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong sinergi antara peternak sapi perah dan guru IPA serta Biologi di Kabupaten Malang melalui pendampingan pengolahan susu menjadi produk pangan bernilai ekonomi sekaligus sumber belajar bioteknologi yang kontekstual. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Skema Pemberdayaan Wilayah. Program ini berangkat dari besarnya potensi produksi susu sapi di Kabupaten Malang, khususnya di wilayah Pujon, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah di Jawa Timur. Sebagian besar peternak menyalurkan susu segar kepada koperasi unit desa untuk diteruskan ke industri pengolahan. Namun, dalam proses pengiriman, masih terdapat susu yang tidak dapat disetorkan karena belum memenuhi batas minimal volume dalam wadah penampungan. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, M.M., M.Pd., mengatakan bahwa susu yang sebelumnya tersisa dan berpotensi terbuang sebenarnya dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai jual. “Susu yang sebelumnya menjadi sisa dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Selain meningkatkan nilai ekonomi bagi peternak, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sumber belajar bioteknologi bagi siswa. Dengan demikian, manfaat ilmu dan praktiknya dapat dirasakan secara langsung di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” jelas Yuni. Menurutnya, persoalan sisa susu tidak hanya perlu dilihat sebagai masalah produksi, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan inovasi berbasis potensi lokal. Melalui pendekatan tersebut, sektor peternakan dapat dipertemukan dengan dunia pendidikan sehingga menghasilkan manfaat ekonomi dan akademik secara bersamaan. Peternak dan Guru Belajar Mengolah Yogurt dan Butter Pendampingan dilakukan secara paralel kepada kelompok peternak sapi perah serta guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA dan Biologi Kabupaten Malang. Pada tahap awal, peserta memperoleh penguatan materi mengenai bioteknologi dan pengolahan susu berbasis bioteknologi. Materi tersebut disampaikan oleh dosen Teknologi Pangan UMM, Sri Winarsih, S.TP., M.P. Setelah memperoleh pemahaman konseptual, para peserta mengikuti praktik pengolahan susu bersama tim pengabdian dan tenaga pendamping dari Laboratorium Teknologi Pangan UMM. Praktik tersebut difokuskan pada pembuatan yogurt dan butter, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga pengemasan produk. Pendampingan kepada peternak dilakukan secara intensif di wilayah Pujon, Kabupaten Malang. Para peternak tidak hanya diajarkan cara mengolah susu, tetapi juga diperkenalkan pada pentingnya kebersihan produksi, konsistensi rasa, daya tarik kemasan, serta potensi pemasaran produk. Tim pengabdian menjelaskan bahwa keterampilan pengolahan susu dapat menjadi alternatif bagi peternak untuk memanfaatkan hasil produksi yang belum terserap oleh koperasi maupun industri. Dengan demikian, susu yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat diubah menjadi produk yang lebih tahan lama dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Potensi Lokal Diintegrasikan ke Pembelajaran Selain berlatih membuat produk olahan susu, para guru mendapat pendampingan untuk menganalisis potensi lokal sebagai sumber belajar bioteknologi di tingkat SMP dan SMA. Pendampingan dilakukan secara daring melalui Zoom dan dilanjutkan dengan koordinasi melalui WhatsApp. Kegiatan tersebut didampingi oleh Prof. Dr. Yuni Pantiwati, M.M., M.Pd., Dr. Erna Retno Rahajeng, M.M., dan Prof. Lud Waluyo, M.Kes. Para guru diarahkan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara proses pengolahan susu dan materi bioteknologi, seperti fermentasi, aktivitas mikroorganisme, perubahan bahan pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta penerapan sains dalam kehidupan sehari-hari. Yuni menegaskan bahwa potensi lokal tidak dapat langsung digunakan sebagai sumber belajar tanpa melalui proses analisis kelayakan. “Sebelum digunakan dalam pembelajaran, potensi lokal perlu dianalisis untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, ketersediaan sumber daya, kemudahan akses, serta keterkaitannya dengan indikator dan materi pembelajaran,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa analisis tersebut diperlukan agar sumber belajar yang digunakan benar-benar efektif, relevan, dan dapat membantu siswa mencapai kompetensi yang diharapkan. Menurut tim pengabdian, pengolahan susu sangat sesuai digunakan sebagai sumber belajar karena siswa dapat mengamati secara langsung penerapan bioteknologi dalam kehidupan masyarakat. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada teori di dalam buku, tetapi terhubung dengan aktivitas ekonomi dan potensi lingkungan di sekitar siswa. Hadirkan Yogurt Beragam Rasa Berbahan Alami Dari kegiatan praktik tersebut, guru dan peternak berhasil menghasilkan yogurt dengan sejumlah variasi rasa berbahan alami. Produk yang dibuat meliputi yogurt original, kelor (Moringa oleifera), anggur hitam (Vitis vinifera), buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), dan bunga telang (Clitoria ternatea). Selain yogurt, peserta juga menghasilkan butter original yang kemudian dikemas agar lebih menarik dan layak dipasarkan. Foto produk dalam dokumen menunjukkan yogurt telah dikemas dalam botol dengan beberapa warna dan varian rasa, sedangkan butter dikemas dalam wadah praktis yang dilengkapi label produk. Tim pengabdian menyampaikan bahwa penggunaan bahan alami tidak hanya memberikan variasi warna dan rasa, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan sumber daya hayati lokal. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan produk yang memiliki ciri khas wilayah. Peternak Sambut Positif Program Pendampingan Para peternak sapi perah menyambut positif pelatihan tersebut. Mereka menilai keterampilan pengolahan susu dapat membantu mengurangi potensi kerugian akibat adanya susu yang tidak dapat disetorkan. Salah seorang perwakilan peternak mengungkapkan bahwa susu sisa sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Setelah mengikuti pendampingan, peternak memperoleh pengetahuan baru untuk mengolahnya menjadi yogurt dan butter. “Pelatihan ini sangat membantu karena susu yang sebelumnya tidak dapat disetorkan kini bisa kami olah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual,” tuturnya. Apresiasi serupa disampaikan oleh perwakilan guru MGMP IPA dan MGMP Biologi Kabupaten Malang. Para guru menilai proses pengolahan susu dapat dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran yang menarik karena dekat dengan kehidupan siswa. Perwakilan guru menjelaskan bahwa siswa di Kabupaten Malang perlu diperkenalkan pada potensi daerahnya sendiri. Melalui pembelajaran bioteknologi berbasis pengolahan susu, siswa tidak hanya memahami konsep fermentasi, tetapi juga dapat melihat hubungan antara ilmu pengetahuan, kewirausahaan, dan kesejahteraan masyarakat. “Pengolahan susu menjadi yogurt dan butter dapat menjadi sumber belajar yang kontekstual. Siswa bisa memahami bioteknologi melalui contoh yang benar-benar ada di lingkungan mereka,” ujar perwakilan guru. Perkuat Ekonomi dan Kualitas Pendidikan Melalui kegiatan ini, dosen UMM berupaya mengoptimalkan potensi daerah untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah. Program tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pelatihan sesaat, tetapi juga melalui proses pendampingan yang menghubungkan perguruan tinggi, peternak, guru, dan sekolah. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya produk olahan susu yang semakin beragam, meningkatkan keterampilan peternak, serta menghasilkan perangkat pembelajaran bioteknologi berbasis potensi lokal. Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penguatan kemitraan.
Pakar THT UMM Soroti Bahaya Sound Horeg Bagi Kesehatan Panca Indera

timesindonesia, MALANG – Pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr Indra Setiawan, SpTHT menyoroti fenomena sound horeg yang akrab dengan dentuman keras pengeras suara yang saat ini banyak berkembang di beberapa daerah di Jawa Timur. Menurutnya, fenomena tersebut memiliki risiko serius terhadap kesehatan panca indera manusia. “Dentuman suara sound horeg menyimpan ancaman serius terhadap kesehatan panca indra,” jelasnya. dr. Indra menjelaskan bahwa secara medis, standar keamanan paparan suara menurut WHO adalah maksimal 85 desibel selama delapan jam per hari. Larung Tumpeng hingga Karnaval Sound Horeg Meriahkan Distrikan Ranuklindungan 2026 Namun, tingkat kebisingan sound horeg bisa mencapai batas ambang ekstrem, yakni berkisar antara 120 hingga 135 desibel. Ia mengatakan bahwa setiap penambahan 3 desibel, batas waktu aman untuk mendengarkannya akan berkurang menjadi separuh. Artinya, jika seseorang terpapar suara sebesar 121 desibel, batas toleransi amannya hanyalah tujuh detik. Bahkan, jika mencapai kekuatan 130 desibel, telinga manusia hanya mampu bertahan selama 1,5 detik sebelum risiko kerusakan organ terjadi. Lanjutnya, risiko kerusakan paling parah terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea. Kartini Modern Banyuwangi, Desi Prakasiwi: Mengabdi untuk Ekonomi Rakyat dan Peradaban “Kerusakan paling parah terjadi di koklea, tepatnya di sel rambut koklea yang berfungsi merubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak, dan jika sel ini rusak parah maka sifatnya permanen serta tidak bisa diperbaiki,” imbuhnya. Tak hanya itu, desibel yang ekstrem juga memiliki risiko trauma tekanan pada organ telinga tengah. Potret Takbir Keliling Pesisir Pacitan, Antara Syahdu Obor dan Gelagar Sound Horeg Indra juga menyoroti beberapa kasus di kawasan Malang yang mendapati pasien mengeluhkan fungsi pendengaran mereka. Ironisnya, lanjut Indra, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami tuli hingga ia merasa kesulitan saat berinteraksi. “Tekanan udara dari suara yang jaraknya dekat dapat merusak tulang-tulang peredam pendengaran, bahkan berisiko gendang telinga mengalami robekan dan berpotensi dioperasi,” tegasnya. Indra pun memberikan saran untuk masyarakat dapat menggunakan alat pelindung telinga sederhana seperti penyumbat busa dinilai kurang efektif karena hanya mampu meredam sekitar 10 desibel. Namun, langkah paling logis bagi masyarakat adalah menjauhi lokasi acara, terutama bagi kelompok rentan. “Masyarakat bisa menggunakan alat pelindung telinga sederhana, tapi langkah paling logis tetap harus menjauhi lokasi sound horeg, terutama bagi kelompok rentan,” pungkasnya. (*)