Lonjakan Harga Plastik Jadi Beban Berat UMKM Makanan dan Minuman

Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026).(KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU) BATUAH NEWS – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan dan minuman, menghadapi tekanan berat menyusul lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga kemasan sekali pakai ini memicu dilema serius terkait biaya produksi dan keberlanjutan bisnis mereka, seperti dilansir dari Money. Kenaikan harga plastik tercatat mencapai puluhan hingga ratusan persen per April 2026. Situasi ini diperparah oleh gejolak global yang berdampak pada pasokan bahan baku serta harga energi. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Ia menjelaskan, lonjakan ini tidak terlepas dari konflik geopolitik global yang memengaruhi pasokan minyak dunia. “Kenaikan tersebut karena bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia bergantung pada impor sebesar 60 persen,” ujar Atik, dikutip dari laman resmi Unair pada Jumat (10/4/2026). Ketergantungan impor ini menyebabkan harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Ketika jalur distribusi terganggu dan harga minyak mentah meningkat, biaya bahan baku plastik ikut terdorong naik. Senada, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, menilai bahwa lonjakan harga plastik hingga 100 persen dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi. UMKM Kuliner Rasakan Pukulan Terberat Dampak kenaikan harga plastik paling terasa pada UMKM di sektor makanan dan minuman. Jenis usaha ini sangat bergantung pada kemasan plastik, seperti wadah makanan, gelas minuman, hingga kantong pembungkus, yang menjadi kebutuhan tak terhindarkan dalam operasional harian. Atik menjelaskan bahwa kondisi ini menambah beban UMKM yang seringkali memiliki keterbatasan modal dan sumber daya. “Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” katanya. Wahyudi menyebut, lonjakan harga ini berubah menjadi apa yang ia istilahkan sebagai “biaya siluman”. Biaya tambahan ini perlahan menggerus margin keuntungan dan berdampak signifikan pada struktur biaya usaha, meski seringkali tidak terlihat langsung oleh konsumen. Dilema Pelaku Usaha: Naikkan Harga atau Tahan Beban? Peningkatan biaya produksi akibat mahalnya plastik menempatkan pelaku UMKM pada posisi sulit. Mereka dihadapkan pada dua pilihan berisiko: menaikkan harga jual produk atau menahan beban biaya. Jika harga produk dinaikkan, ada risiko konsumen beralih ke alternatif lain, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas. Namun, jika harga tetap ditahan, margin keuntungan akan semakin menipis dan berpotensi mengancam kelangsungan usaha. Wahyudi menggambarkan situasi ini sebagai dilema serius, di mana UMKM harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnis mereka. Keterbatasan Struktural dan Solusi Inovatif Selain faktor eksternal, dampak kenaikan harga plastik diperparah oleh ketergantungan tinggi Indonesia terhadap impor bahan baku plastik, yakni sekitar 60 persen. Wahyudi juga menyoroti panjangnya rantai distribusi domestik yang turut memperbesar tekanan harga di tingkat pelaku usaha kecil. Para pakar menekankan pentingnya inovasi sebagai langkah bertahan bagi UMKM. Atik mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian, seperti mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga, diversifikasi pasar, atau mencari alternatif kemasan ramah lingkungan, misalnya berbahan pati jagung, tebu, atau serat nanas. Namun, penggunaan kemasan ramah lingkungan ini masih belum masif. Wahyudi juga menekankan perubahan perilaku konsumsi, mendorong UMKM mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ia menyarankan strategi diferensiasi harga, di mana konsumen yang membawa wadah sendiri dapat memperoleh harga lebih murah, yang tidak hanya menekan biaya produksi tetapi juga mendorong perilaku ramah lingkungan. Peran Pemerintah Crucial Meskipun inovasi di tingkat pelaku usaha penting, intervensi pemerintah tetap menjadi faktor kunci untuk meredam dampak kenaikan harga plastik. Wahyudi menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan UMKM menghadapi tekanan ini sendirian. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran,” tegas Wahyudi. Ia juga menyarankan pemerintah untuk mencari pemasok bahan baku alternatif dari negara yang tidak terdampak konflik guna menjaga stabilitas pasokan. Kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan pola produksi dan konsumsi menuju penggunaan kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan, namun transformasi ini memerlukan kolaborasi dari pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen.
Harga Plastik Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah, UMKM Tertekan

Salah satu pedagang plastik di Pasar Bauntung Banjarbaru, Kalsel mulai meneguhkan berkurangnya pembeli dikarenakan melonjaknya harga plastik hingga 100 persen, Rabu (8/4/2026).(KOMPAS.com/ANDI MUHAMMAD HASWAR) READERS.ID – Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Kenaikan harga ini disebut mencapai 30 hingga 80 persen pada April 2026, dan memicu tekanan signifikan pada biaya produksi. Peningkatan harga komoditas plastik ini bersumber dari gangguan rantai pasok global. Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama, yang berdampak langsung pada distribusi nafta, bahan baku esensial untuk produksi plastik berbasis petrokimia, seperti dilansir dari Money. Di tingkat pasar, pedagang turut merasakan dampak kenaikan harga ini. Reynaldi Sarijowan, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, mengungkapkan bahwa harga plastik telah naik secara bertahap selama beberapa pekan terakhir. “Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih Rp 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi, menggambarkan laju kenaikan yang signifikan. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasokan bahan baku plastik erat kaitannya dengan terganggunya rantai pasok global, terutama pada nafta. Menurutnya, konflik di Timur Tengah memicu koreksi suplai di sektor-sektor industri yang sangat bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama. “Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu,” ujarnya. Kondisi ini bahkan disebut berdampak signifikan terhadap pasokan global. Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas), menambahkan bahwa sekitar 70 persen suplai nafta sempat terhenti akibat konflik. Hal ini juga memengaruhi jalur distribusi penting seperti Selat Hormuz. Keterbatasan bahan baku tersebut mendorong industri untuk melakukan penyesuaian produksi. “Sudah mulai berani menggunakan campuran recycle material dengan virgin material atau bahan baku plastik murni,” kata Fajar. Ia menekankan pentingnya penggunaan plastik daur ulang untuk menjaga harga tetap terjangkau oleh konsumen. Dampak Kenaikan Biaya pada UMKM Dampak kenaikan harga plastik ini paling terasa di sektor hilir, khususnya bagi UMKM. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair), Atik Purmiyati, menegaskan bahwa pelaku usaha kecil menghadapi tekanan biaya yang signifikan. Kenaikan harga plastik akan menambah beban produksi dan dapat menggerus keuntungan usaha, dikutip dari laman resmi Unair pada Jumat (10/4/2026). Atik menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik yang masih tinggi. Selain itu, keterbatasan modal dan sumber daya manusia di kalangan UMKM semakin menyulitkan adaptasi terhadap kenaikan harga tiba-tiba. Sementara itu, M. Sri Wahyudi Suliswanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menilai situasi ini sebagai tekanan biaya struktural yang sulit dihindari. “Ketika rantai pasok internasional terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Ini menunjukkan kita belum mandiri,” ujarnya, dikutip dari laman resmi. Situasi ini menunjukkan kerentanan ekonomi domestik terhadap gejolak global. Strategi Industri dan Pemerintah Untuk menjaga produksi tetap stabil, industri plastik mulai mengadopsi berbagai strategi. Salah satunya adalah penggunaan bahan daur ulang sebagai substitusi sebagian bahan baku. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pemerintah mendorong peningkatan penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi untuk menjaga stabilitas stok di pasar. Selain itu, industri juga aktif menjajaki sumber pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan. Optimalisasi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku penyangga atau buffer dalam proses produksi juga dilakukan untuk menutupi celah kekurangan pasokan nafta. Fajar Budiono menambahkan, di tingkat pabrik, efisiensi juga dilakukan melalui penyesuaian spesifikasi produk, seperti mengurangi ketebalan plastik tanpa mengurangi fungsinya. “Contoh kalau plastik kerupuk yang tadinya menggunakan ketebalan 100 mikron bisa dikurangi menjadi 80 atau 70 mikron tanpa mengurangi fungsi dari si kemasan itu sendiri,” jelasnya. Adaptasi UMKM dan Alternatif Bahan Baku Pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui substitusi bahan baku berbasis minyak bumi dengan bahan nabati. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut rumput laut dan singkong sebagai alternatif potensial yang dapat dimanfaatkan dari sumber daya domestik. “Dari nafta yang kita impor dari luar ya kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak,” kata Maman. Namun, implementasi kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian. Pelaku UMKM juga melakukan berbagai penyesuaian, seperti mengatur volume produk, diversifikasi pasar, hingga mengganti jenis kemasan. Atik Purmiyati menyarankan substitusi plastik dengan bahan ramah lingkungan, seperti kemasan biodegradable dari pati jagung, tebu, singkong (cassava bag), dan serat nanas. Pembelian bahan baku dalam jumlah besar secara kolektif juga dapat membantu menekan biaya. Inovasi model bisnis, termasuk memberikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri, turut didorong. Edukasi kepada masyarakat juga penting untuk mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, guna memengaruhi permintaan pasar dan mengurangi tekanan pada industri. Jaminan Pasokan dan Stabilitas Industri Meskipun tekanan global meningkat, pemerintah memastikan pasokan plastik tetap tersedia di pasar. Agus Gumiwang menegaskan bahwa masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik karena produk plastik masih tersedia. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif. Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan subsektor industri kemasan masih mencatat kinerja tinggi pada Maret 2026. Meski demikian, pencarian sumber bahan baku baru menghadapi tantangan waktu distribusi yang lebih panjang. Fajar Budiono menyebut pengiriman dari sumber baru di luar Timur Tengah bisa mencapai 50 hari, jauh lebih lama dibandingkan jalur Timur Tengah yang berkisar 10 hingga 15 hari. Kementerian Perindustrian juga terus memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur untuk menjaga daya tahan sektor di tengah koreksi harga dan tekanan global ini.
UMM Siap Cetak Generasi Petani Modern dengan Teknologi

pwmu.co –Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang semakin mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang menggelar International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu (8/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, yakni Zhang Chao, Ph.D., dan Xiaoyun Wang, Ph.D. Dalam pemaparannya, Zhang Chao menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa dilepaskan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China telah mengembangkan sistem pertanian modern melalui integrasi Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), serta platform smart cloud. “Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi,” jelasnya. Menurutnya, teknologi ini menjadi solusi strategis dalam menghadapi krisis iklim sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sektor pertanian. Sementara itu, Xiaoyun Wang memaparkan keberhasilan China dalam mengembangkan teknologi pertanian, khususnya pada sektor hortikultura. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu: Memperpanjang masa tanam Menstabilkan produksi Meningkatkan kualitas hasil panen “Kami berharap teknologi ini dapat diadaptasi di Indonesia untuk mendorong produksi sekaligus pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Namun, ia juga menekankan pentingnya penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal Indonesia, seperti curah hujan tinggi dan karakteristik tanah tropis. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa mahasiswa harus siap menghadapi dunia tanpa batas. “The world is getting borderless. Batas geografis bukan lagi penghalang. Persiapkan diri untuk bersaing di tingkat internasional,” pesannya. Ia menambahkan bahwa sektor pangan, teknologi, dan energi akan menjadi kunci masa depan. Melalui forum internasional ini, UMM berupaya memperkuat kapasitas mahasiswa sekaligus memperluas jejaring global. Melalui integrasi teknologi modern dan penguatan sumber daya manusia, UMM optimistis kedaulatan pangan dapat diwujudkan secara nyata. Sinergi antara inovasi teknologi dan pendidikan tinggi diharapkan mampu mencetak generasi petani modern yang adaptif, produktif, dan berdaya saing global. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Dosen UMM Masuk Top 100 Akademisi Terbaik Dunia

Dr Sholahuddin Al Fatih MH (humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. Prinsip inilah yang mengantarkan Dr Sholahuddin Al Fatih MH, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menempati daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan deretan peneliti top dari kampus bergengsi mancanegara seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global secara objektif tanpa skema berbayar. Fatih menjelaskan, pemeringkatan ini menggunakan tiga indikator utama, yakni Research Gravitas, Olympic Mean, dan Interaction Credit yang dilacak dari profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi. Saya menempati peringkat 91,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Bukti nyata prinsip riset berdampak itu tercermin dari salah satu karyanya pada masa pandemi 2021 yang membahas ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Kajian tersebut menegaskan pentingnya kehadiran hukum secara praktis di tengah dinamika ruang digital. Sepanjang karier akademiknya, Fatih telah menelurkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, lima artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Ia konsisten mengangkat isu teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan, tidak hanya di ranah konsep,” ujarnya. Keberhasilan riset tersebut tidak lepas dari dukungan ekosistem Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Kampus Putih yang menyediakan akses jurnal, fasilitas riset, hingga insentif publikasi. Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di tingkat global sekaligus memotivasi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya. “Riset itu harus berdampak. Jadi mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya. (Faqih/AS)
UMM Siap Cetak Generasi Petani Modern dengan Teknologi Berkelanjutan

Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang kian mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan lonjakan kebutuhan dunia. Menjawab persoalan ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu, 8 April 2026. Acara ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, China. Dalam paparannya, Zhang Chao, Ph.D. menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa lagi dipisahkan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China sudah sukses mengembangkan sistem pertanian modern dengan mengintegrasikan Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan platform smart cloud. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan lahan pertanian yang presisi, berbasis data, dan adaptif terhadap dinamika lapangan. “Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kita bisa menggunakan telepon atau komputer untuk melakukan kontrol jarak jauh. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi yang minim ketergantungan pada tenaga manual,” jelas Zhang Chao. Ia menambahkan, teknologi ini adalah solusi strategis atas krisis iklim, menjadikan sektor pertanian lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Sementara itu, Xiaoyun Wang, Ph.D. memaparkan capaian teknologi pertanian China, khususnya pada industri sayuran. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu memperpanjang masa tanam, menstabilkan produksi, dan meningkatkan kualitas panen. Didukung inovasi pengelolaan tanah yang komprehensif, China sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu eksportir sayuran terbesar di dunia. “Fokus kita adalah bagaimana sistem teknologi China dapat diterapkan di Indonesia untuk mengembangkan industri sayur. Kami berharap inovasi ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kolaborasi lintas negara,” ungkap Wang. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi lokal, seperti tingginya curah hujan dan karakteristik khas tanah tropis, agar memberikan manfaat maksimal bagi sektor pertanian nasional. Disisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., turut menegaskan bahwa dinamika global menuntut kesiapan mahasiswa untuk bersaing di kancah internasional. “The world is getting borderless, yang menandakan bahwa batas geografis bukan lagi penghalang. So prepare yourself to compete in international level,” pesannya. Salis menekankan bahwa masa depan sangat bergantung pada sektor strategis seperti pangan, teknologi, dan energi. Melalui forum internasional ini, UMM tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkuat kapasitas mahasiswa. Dengan sinergi antara teknologi canggih dan sumber daya manusia yang unggul, kedaulatan pangan akan menjadi target yang sangat realistis untuk diwujudkan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kisah Adrian, Mahasiswa UMM Lolos Magang Internasional, Bikin Inovasi AI Hingga Dilirik Industri Global

Industri semikonduktor dunia menuntut presisi mutlak tanpa ruang untuk kesalahan. Di sinilah Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengambil peran krusial. Melalui Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, ia tidak sekadar belajar, melainkan meracik algoritma machine learning untuk memprediksi cacat produksi di salah satu sektor paling rahasia dan bernilai tinggi di dunia. Keterlibatan Adrian di NFU, kampus yang dikenal unggul dalam kecerdasan buatan dan industri cerdas membuktikan bahwa pengalaman internasional kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan esensial. Sejak Februari 2026, ia terjun langsung dalam aktivitas riset di Lean Management Laboratory, laboratorium yang berfokus pada efisiensi industri dan proses manufaktur berbasis data. Bagi Adrian, atmosfer akademik di Taiwan memberikan kejutan tersendiri karena sangat terintegrasi dengan isu global dan kebutuhan nyata industri. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu global seperti perang atau kebijakan ekonomi internasional juga dibahas dalam konteks industri,” ungkap Adrian 10 April lalu pada Tim Humas UMM. Yang membuat pengalaman ini semakin signifikan adalah fokus risetnya pada defect prediction (prediksi cacat produksi) guna mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang bernilai tinggi. Proyek ini terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan besar dengan tingkat kerahasiaan tinggi, menempatkan mahasiswa sebagai kontributor dalam ekosistem riset strategis. “Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan sebuah fokus riset yang lebih spesifik,” jelasnya. Namun, pencapaian ini tentu tidak instan. Adrian mengakui adanya tantangan besar berupa perbedaan standar akademik dan budaya riset. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan pola pikir ilmiah yang jauh lebih kuat. “Integrasi internasional di sini sangat terasa. Semua topik diarahkan ke level global, dan itu yang menurut saya masih jarang saya temui sebelumnya,” ujarnya. Di balik keberhasilannya menaklukkan tantangan tersebut, Adrian menegaskan besarnya peran kampus. Dukungan akademik dan administratif dari UMM, khususnya dari pihak program studi yang memberikan fleksibilitas konversi SKS, menjadi kunci kelancaran studinya. “UMM sangat suportif, terutama dalam administrasi dan konversi akademik. Itu yang membuat kami bisa fokus menjalani program ini,” katanya. Langkah berani ini kini membuka jalan yang lebih lebar bagi Adrian. Ia mendapatkan kesempatan fast track menuju jenjang magister di NFU dengan durasi studi yang lebih singkat, sekaligus mengantongi modal penting untuk bersaing di pasar kerja global. Menutup ceritanya, Adrian memberikan pesan tegas kepada sesama mahasiswa UMM agar tidak ragu mengambil peluang internasional. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program seperti ini sangat layak dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka banyak peluang,” pungkasnya. Keberhasilan Adrian menjadi refleksi nyata bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga siap terjun ke dalam ekosistem riset dan industri global. Di tengah ketatnya persaingan pendidikan tinggi, langkah ini mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang adaptif, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.(alg/faq) Penulis: Mushtafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Main-Main! Dosen UMM Masuk Top 100 Akademisi Dunia

pwmu.co –Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Indonesia. Sholahuddin Al Fatih, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, berhasil menembus daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE.Capaian ini bukan sekadar soal produktivitas publikasi, melainkan bukti kedalaman dan dampak nyata karya ilmiah. Dalam pemeringkatan tersebut, Fatih menempati posisi ke-91, sejajar dengan akademisi dari kampus-kampus ternama dunia seperti University of Oxford dan Deakin University. Berbeda dengan pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE berfokus pada rekam jejak individu akademisi secara objektif tanpa skema berbayar. Fatih menjelaskan, terdapat tiga indikator utama dalam penilaian, yakni: Research Gravitas (kedalaman intelektual) Olympic Mean (konsistensi kualitas karya) Interaction Credit (kolaborasi ilmiah) Seluruh indikator tersebut bersumber dari data akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. “Pengakuan ini memvalidasi upaya riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi,” ujarnya, 8 April, kepada Tim Humas UMM. Salah satu karya unggulan Fatih lahir pada masa pandemi 2021, yang mengkaji ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Penelitian ini menyoroti bagaimana aktivitas digital dapat memicu dampak nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Kajian tersebut mempertegas pentingnya kehadiran hukum yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Sepanjang kariernya, Fatih telah menghasilkan: ±60 artikel terindeks Scopus 5 artikel Web of Science Core Collection Ratusan karya ilmiah di Google Scholar Fokus kajiannya konsisten pada isu-isu strategis seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di era disrupsi. “Kami harus menjembatani hukum agar lebih aplikatif, tidak hanya berhenti di konsep, tetapi hadir nyata di masyarakat,” jelasnya. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan ekosistem akademik di UMM. Kampus tersebut menyediakan akses jurnal internasional, fasilitas internet memadai, serta insentif publikasi bagi dosen. Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengangkat reputasi UMM di tingkat global sekaligus memotivasi civitas akademika untuk terus berkarya. “Riset harus memberi dampak nyata. Mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Harga Plastik Naik 100 Persen, Pakar Ekonomi UMM Tawarkan Strategi Penyelamatan UMKM

Malang (beritajatim.com) – Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., memberikan tanggapan terkait lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai 100 persen. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM tersebut memperingatkan bahwa tanpa strategi yang tepat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner terancam gulung tikar. Wahyudi menegaskan bahwa kenaikan drastis ini merupakan dampak domino dari memanasnya konflik geopolitik global. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang berimbas langsung pada meroketnya harga bahan baku plastik di pasar domestik. “Situasi ini sudah masuk tahap darurat bagi pelaku usaha kecil. UMKM harus segera menjadikan momentum ini untuk mengubah model bisnis, sementara pemerintah wajib melakukan intervensi pasar secara paralel,” ujar Wahyudi saat memberikan analisis ekonomi di kampus UMM, Rabu (9/4/2026). Sebagai langkah konkret, Wahyudi memberikan jurus jitu bagi UMKM untuk menyiasati biaya operasional yang membengkak. Ia menyarankan pelaku usaha kuliner untuk menerapkan strategi diferensiasi harga guna memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai. Langkah ini dilakukan dengan cara memberikan diskon atau harga lebih murah kepada konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah. Menurut Wahyudi, strategi ini merupakan solusi dua arah: menyelamatkan margin keuntungan UMKM sekaligus mengedukasi masyarakat terhadap budaya ramah lingkungan. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik. Langkah taktis ini diyakini ampuh menjaga fondasi finansial UMKM di tengah daya beli masyarakat yang sedang lesu,” jelasnya. Lebih lanjut, Wahyudi memaparkan analisisnya mengenai penyebab utama kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak harga plastik. Ia menilai krisis ini membongkar fakta mengenai rapuhnya kemandirian industri dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika jalur distribusi internasional terganggu oleh gejolak geopolitik, harga di tingkat domestik langsung tercekik,” tegas pakar ekonomi tersebut. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang dinilai terlalu panjang, sehingga menciptakan biaya siluman yang semakin menggerus keuntungan para pedagang kecil di lapangan. Wahyudi juga menekankan bahwa beban inflasi ini tidak boleh hanya dipikul oleh pelaku usaha dan konsumen. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor mulai dari kuliner rumahan, manufaktur, hingga otomotif, ia mendesak negara untuk segera mengambil peran. Ia menyarankan agar pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara-negara non-konflik guna mengamankan stabilitas harga. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas untuk mengamankan stabilitas harga plastik karena daya rusaknya terhadap ekonomi kerakyatan sangat luas,” kata Wahyudi menutup. [dan/aje]
Pakar UMM Beri Jurus Jitu agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar saat Harga Plastik Meroket 100 Persen

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pakar UMM memberi jurus jitu agar UMKM kuliner tidak gulung tikar saat harga plastik meroket hingga 100 persen. Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia. Imbasnya, situasi ini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah. Menurutnya, UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, kemudian pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi ‘biaya siluman’ yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Penggunaan plastik saat berbelanja./dok. Istimewa Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” ungkap Wahyudi kepada Tim Humas UMM, yang diterima JSN Kamis (9/4). Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ucapnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Wahyudi juga menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik. ***
Akademisi UMM Ingatkan Jebakan Krisis Energi, Komunikasi Publik Pemerintah Jadi Sorotan

KLIKMU.CO — Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata berupa jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga harus dijaga agar tidak terbebani lonjakan subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fitri Rusdianasari SE MSi menyebut kondisi ini sebagai “jebakan krisis energi”, yakni situasi ketika setiap kebijakan publik yang diambil sama-sama memiliki risiko besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang sering kali saling bertolak belakang,” ujarnya, Selasa (7/4/2026). Fitri menjelaskan, krisis energi memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan berdampak langsung pada sektor produksi, mendorong kenaikan harga barang dan jasa (inflasi), yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. Untuk meredam gejolak, pemerintah biasanya menggelontorkan subsidi energi. Namun, kebijakan ini dinilai hanya bersifat jangka pendek jika tidak dikelola secara tepat. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala besar berpotensi menjadi beban fiskal dan memicu peningkatan utang negara,” jelasnya. Menurutnya, pencabutan subsidi secara drastis juga bukan solusi karena dapat memicu guncangan ekonomi di masyarakat. Jalan tengah yang paling rasional adalah menjaga keseimbangan, salah satunya dengan mengalihkan subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang lebih tepat sasaran. “Transformasi subsidi ini penting agar perlindungan sosial tetap berjalan tanpa membebani APBN secara berlebihan,” tambahnya. Lebih lanjut, Fitri menilai Indonesia sejatinya telah memasuki fase awal jebakan krisis energi. Meski demikian, saat ini kondisi fiskal masih ditopang oleh bantalan fiskal (fiscal buffer). “Kita memang masih memiliki buffer, tetapi itu ada batasnya. Tidak bisa diandalkan terus-menerus. Diperlukan langkah strategis, termasuk percepatan transisi menuju energi baru terbarukan agar tidak terus bergantung pada energi fosil,” ujarnya. Di akhir, Fitri menyoroti pentingnya komunikasi publik pemerintah dalam mengelola krisis. Ia menegaskan, kebijakan yang baik sekalipun bisa menimbulkan kepanikan jika tidak disampaikan dengan jelas. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat penting. Publik yang memahami arah kebijakan tidak akan mudah panik, sehingga potensi panic buying dan kelangkaan semu bisa dicegah,” pungkasnya. (*)