Harga Plastik Naik 100 Persen, Pakar UMM Beri Strategi Jitu UMKM

pwmu.co –Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat gejolak geopolitik global dan kenaikan harga minyak mentah kini menekan operasional pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner.Pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang, M. Sri Wahyudi Suliswanto, menilai kondisi ini sebagai krisis serius yang memerlukan solusi cepat dan strategis dari pelaku usaha maupun pemerintah. “UMKM harus menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sementara pemerintah perlu mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik,” ujarnya kepada Tim Humas UMM, (8/4). Di lapangan, kenaikan harga plastik telah berubah menjadi “biaya siluman” yang menggerus margin keuntungan pelaku usaha kecil. Sektor kuliner menjadi yang paling terdampak karena sangat bergantung pada kemasan seperti wadah makanan, gelas, dan kantong plastik. Kondisi ini menempatkan UMKM dalam dilema: Menaikkan harga → berisiko kehilangan pelanggan Menahan harga → terancam gulung tikar Di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas, pilihan tersebut sama-sama berat. Wahyudi menegaskan bahwa krisis ini mengungkap lemahnya kemandirian industri nasional, khususnya dalam bahan baku plastik. “Indonesia sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika jalur distribusi global terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri,” tegasnya. Situasi ini diperparah oleh rantai distribusi domestik yang panjang, sehingga harga semakin tinggi saat sampai ke pelaku usaha kecil. Di tengah tekanan ini, Wahyudi melihat peluang untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Ia menyarankan strategi sederhana namun efektif: Memberikan diskon bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai Langkah ini tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga berpotensi membangun budaya konsumsi yang lebih ramah lingkungan. Meski UMKM bisa beradaptasi, Wahyudi menegaskan bahwa peran pemerintah tetap menjadi kunci utama. “Pemerintah tidak boleh tutup mata. Harus ada intervensi untuk menjaga stabilitas harga plastik karena dampaknya sangat luas,” ujarnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk: Mencari pemasok bahan baku dari negara non-konflik Menjamin distribusi yang lebih efisien Menjaga stabilitas harga di pasar domestik Krisis ini diharapkan menjadi momentum perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi kunci untuk menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik. Jika dikelola dengan tepat, kondisi ini tidak hanya menyelamatkan UMKM dari krisis, tetapi juga menjadi titik balik menuju ekonomi yang lebih adaptif dan ramah lingkungan. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Inovasi Wood Pellet dari Sekam Padi, Dosen UMM Dorong Limbah Jadi Energi Bernilai Jual Tinggi

POJOKSATU.id – Inovasi pemanfaatan limbah berbasis keberlanjutan kembali dikembangkan oleh dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tyas Yuli Rosiani memimpin pengembangan wood pellet berbahan limbah sekam padi, sekaligus menitikberatkan pada desain kemasan produk sebagai strategi peningkatan nilai jual dan daya saing di pasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di PB Gemilang Temu Rejeki, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Unit penggilingan gabah tersebut memiliki potensi limbah sekam mencapai sekitar 400–500 kg per hari, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Tim pengabdian terdiri dari Tyas Yuli Rosiani sebagai ketua, bersama Dana Marsetiya Utama dan Rahmad Wisnu Wardhana. Mereka bekerja secara kolaboratif dalam mendukung pengembangan usaha berbasis limbah ini secara menyeluruh, dengan melibatkan dua mahasiswa Teknik Industri UMM dalam proses pendampingan di lapangan. Pendampingan Produksi dan Edukasi Circular Economy Dalam implementasinya, program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga peningkatan kapasitas mitra secara menyeluruh. Edukasi terkait konsep circular economy diberikan kepada pekerja dengan target peningkatan pemahaman lebih dari 80 persen. Selain itu, pelatihan teknis produksi wood pellet dilakukan secara komprehensif. Pendampingan ini memungkinkan mitra mampu menjalankan proses produksi secara mandiri dan berkelanjutan. Upaya pemanfaatan limbah sekam dilakukan secara bertahap melalui penguatan kualitas produk. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan. Strategi Pemasaran dan Peran Penting Kemasan Pada aspek pemasaran, strategi yang dikembangkan mencakup analisis pasar, branding, promosi digital, hingga perluasan distribusi melalui marketplace dan kerja sama industri. Langkah ini ditargetkan mampu meningkatkan margin keuntungan dibandingkan pola penjualan konvensional. Dalam keseluruhan proses tersebut, desain kemasan menjadi elemen kunci yang dikembangkan. Kemasan dirancang modern, informatif, dan menonjolkan identitas produk ramah lingkungan. “Kemasan adalah faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar terhadap produk berbasis limbah. Dengan kemasan yang tepat, produk menjadi lebih kompetitif dan mudah diterima masyarakat,” ungkap Tyas. Kegiatan pengabdian ini didanai melalui skema pendanaan internal Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bentuk dukungan terhadap inovasi dosen dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan solusi berkelanjutan. ***
Harga Plastik Meroket 100 Persen, Dosen UMM Beri Tips Agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar

MALANG POST – Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah. UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri. Sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi kepada Tim Humas UMM yang disampaikan ke Malang Post. Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Kembangkan Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Borong Tiga Penghargaan Internasional

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) acapkali diwarnai kendala di lapangan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan. Menjawab keresahan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, merancang inovasi NutriTrack MBG sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, serta mencatat data distribusi makanan secara real-time. Berkat invasi tersebut, ia bersama timnya sukses membawa tiga penghargaan sekaligus di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23-26 Februari lalu. Pemuda asal Banjarbaru tersebut bersama timnya tak tanggung-tanggung memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Daffa menjelaskan, kompetisi tingkat internasional ini menantang pesertanya untuk merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ide timnya murni lahir dari realita evaluasi program MBG di Indonesia. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelas Daffa. Berangkat dari masalah tersebut, Daffa dan timnya mempresentasikan NutriTrack MBG di hadapan dewan juri internasional. Aplikasi digital ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang berfokus pada keamanan pangan dan ketepatan sasaran. Agar pengawasan dan evaluasi program MBG berjalan transparan, aplikasi ini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Keunggulan utama dari aplikasi ini mencakup transparansi informasi gizi dan pelacakan distribusi secara real-time. Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein. Sementara itu, sistem pencatatan distribusi real-time dirancang untuk memastikan transparansi waktu, yang mencakup informasi detail mulai dari jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu pesanan tersebut harus sampai di tangan siswa. Gagasan inovatif dan kerja sama tim yang solid ini pada akhirnya berhasil memukau dewan juri. Bagi Daffa, pencapaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di kancah global. Pengalaman kompetisi ini juga memberinya perspektif baru yang mendalam. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Melalui keberhasilannya, Daffa menitipkan pesan bagi generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman. “Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Indonesia Masuk Jebakan Krisis Energi, Akademisi UMM Soroti Komunikasi Publik Pemerintah

MALANG POST – Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’ sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” tegas Fitri pada Selasa (7/4) kepada Tim Humas UMM. Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Hal ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Untuk meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” paparnya. Lantas, apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fitri menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis: manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” pungkas Fitri. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah MalangBisa Mengajar di Thailand

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Menjadi guru tidak lagi harus terkurung di ruang kelas lokal. FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini membuka pintu lebar ke kancah dunia. Kampus ini berkomitmen membawa mahasiswanya menembus pasar kerja global. Komitmen itu dibuktikan dalam Open House Internasional pada, Selasa (7/4). Acara ini dihadiri ratusan siswa SMA asal Malang. Menariknya, hadir pula siswa dari Attarkiah Islamiah Institute, Thailand. FKIP UMM tidak hanya menawarkan teori. Program unggulannya adalah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional. Lewat program ini, mahasiswa bisa praktik mengajar langsung di luar negeri. Dekan FKIP UMM Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., memberikan penegasan. Menurutnya, jejaring internasional kampus adalah investasi nyata bagi mahasiswa. “Jejaring ini bukan sekadar formalitas. Kami ingin dampak nyata. Mahasiswa kami sudah lama sukses mengajar di Thailand. Ini adalah bukti komitmen kami,” tegas Prof. Mahfud. Selain pengalaman mengajar, UMM juga menawarkan “karpet merah” beasiswa. Koordinator Mobilitas Internasional IRO UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd., menjelaskan berbagai skema menarik. Ada beasiswa KNB, TIAS, hingga NAM Scholarship. Namun, yang paling menggiurkan adalah beasiswa mandiri bernama UMM SUMMIT Scholarship. Beasiswa ini terbagi menjadi dua kategori utama. “Skema Kategori A sangat istimewa. Mahasiswa dibebaskan biaya kuliah penuh dan mendapat uang saku bulanan. Kami ingin memastikan akses pendidikan global menjadi lebih mudah,” kata Very. Suasana acara berlangsung sangat interaktif. Siswa lokal dan siswa asal Thailand tampak asyik berdiskusi. Mereka mengikuti sesi diskusi, presentasi prodi, hingga berkeliling melihat fasilitas kampus (campus tour). FKIP UMM sukses menciptakan simulasi dunia kerja internasional di dalam kampus. Melalui kegiatan ini, wawasan global para peserta diharapkan semakin terbuka. Langkah ini sekaligus memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara di masa depan.(imm/lim)
Donald Trump, antara TACO dan Strategi

kompas.com – KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump akhirnya bersedia untuk merundingkan 10 poin yang diajukan Iran. Padahal, sebelumnya, Trump sesumbar ingin menghabisi Iran. AS mengultimatum akan menghancurkan Iran jika tidak segera membuka Selat Hormuz dalam tenggat waktu 48 jam. Sekitar 90 menit sebelum deadline ultimatum berakhir, Trump membatalkan rencana serangan dan bersedia untuk gencatan senjata selama dua pekan ke depan. Sikap Trump semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, Trump memang selalu maju-mundur. Awalnya mengancam keras dengan retorika militer, menetapkan ultimatum dramatis, lalu melunak sebelum eskalasi. Banyak pengamat melihatnya sebagai inkonsistensi Trump. Bahkan muncul istilah satir, yakni TACO: “Trump Always Chickens Out” (Trump selalu pengecut). TACO sebagai Strategi Istilah TACO sudah muncul sejak Mei 2025, dalam perbincangan di media sosial masyarakat AS. Istilah ini dibakukan oleh kolumnis Financial Times, Robert Amstrong, untuk menggambarkan pola tingkah Trump yang suka melempar ancaman, tapi di hari berikutnya menciut. Dan, TACO itu berulang kali ditunjukkan Trump selama ketegangan dengan Iran meningkat sejak 28 Februari lalu. Bagi pengamat Hubungan Internasional, pola TACO tampak membingungkan. Sebab, diplomasi klasik harusnya menuntut konsistensi sinyal. Ancaman harus kredibel. Jika terlalu sering ditarik kembali, maka reputasi negara bisa melemah. Namun, Trump tampaknya tidak bermain dalam kerangka diplomasi klasik semacam itu. Trump justru tampak menikmati itu sebagai strategi, yakni ancam-mundur sebagai metode negosiasi atau kita bisa menyebutnya sebagai “TACO diplomacy”. Dalam studi hubungan internasional, pendekatan ini sejatinya memiliki akar intelektual. Konsep coercive diplomacy menjelaskan bahwa ancaman tidak selalu dimaksudkan untuk diwujudkan. Ancaman justru berfungsi sebagai alat menciptakan tekanan psikologis agar lawan memilih kompromi tanpa perang. Dan, perang adalah kegagalan terakhir, sebab keberhasilan sejati adalah ketika lawan mengalah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Trump sepertinya mentransformasikan logika ini ke dalam konteks berbeda. Trump tidak hanya menaikkan tekanan diplomatik, tetapi juga menjadikannya pertunjukan publik global. Ancaman disampaikan bukan dalam ruang negosiasi tertutup, melainkan melalui panggung media, konferensi pers, dan media sosial. Dunia tidak hanya menjadi saksi, tapi juga dunia dijadikan audiensnya. Trump menciptakan krisis, memperbesar ketidakpastian, lalu menawarkan jalan keluar yang tampak sebagai kemenangan tanpa perang. Ketika gencatan senjata diumumkan, Trump dapat mengklaim dua hal sekaligus: tetap terlihat kuat karena berani mengancam, sekaligus terlihat rasional karena menghindari konflik besar. Jika kita melihat lebih dalam, strategi Trump ini menunjukkan bahwa sasaran (audiens) sebenarnya bukan hanya Iran. Paling tidak ada dua audiens yang terus Trump kelola secara bersamaan. Pertama, lawan eksternal yang dipaksa merespons tekanan. Kedua, publik domestik AS yang diharapkan oleh Trump menilai kepemimpinan dirinya melalui persepsi kekuatan. Dalam politik domestik AS, presiden tidak hanya harus menang secara strategis, tetapi juga secara performatif. Ancaman militer memberikan citra kepemimpinan tegas. Gencatan senjata memberikan citra negarawan yang menghindari perang mahal. Bagi Trump, kombinasi keduanya menciptakan narasi kemenangan politik tanpa biaya konflik nyata. Ketidakpastian Global Namun, bagi tatanan global, strategi Trump bisa memiliki implikasi lebih luas. Jika diplomasi berubah menjadi siklus ancaman dan de-eskalasi yang berulang, dunia memasuki era ketidakpastian. Negara-negara lain menjadi sulit membedakan mana ancaman nyata dan mana sekadar taktik negosiasi. Paradoksnya, justru ketidakpastian itulah yang mungkin oleh Trump dijadikan sebagai sumber kekuatan. Masalahnya, dunia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Ketika ancaman menjadi rutinitas, respons terhadap ancaman justru bisa berubah ekstrem. Sikap TACO berpotensi merusak stabilitas jangka panjang. Sebab, diplomasi tradisional dibangun atas kepercayaan dan prediktabilitas. Sementara diplomasi populis, seperti yang dimainkan Trump, bertumpu pada kejutan dan dramatisasi. Kasus Iran memperlihatkan pergeseran ini. Akibat TACO, konflik tidak lagi bergerak secara linear, tapi bergerak dalam siklus spektakel: ancaman, ketegangan global, reaksi pasar, lalu de-eskalasi mendadak. Bisa jadi, pertanyaannya bukan apakah Trump benar-benar mundur. Namun, apakah “mundur” itu sejak awal memang bagian dari strategi? Bisa jadi, publik salah membaca. Bukan Trump gagal menjalankan ancaman, tapi mungkin ancaman itu tidak pernah benar-benar diniatkan untuk diwujudkan. Sebab, ancaman adalah instrumen, bukan tujuan. Jadi, perlu diakui bahwa “TACO diplomacy” membawa perubahan besar dalam praktik hubungan internasional saat ini, di mana kekuasaan dan kekuatan dijalankan melalui ketidakpastian yang disengaja. Dalam era populisme global, ancaman bukan selalu tanda perang akan datang. Kadang, ancaman justru adalah bahasa negosiasi itu sendiri. Dan, ini salah satu pelajaran paling penting dari episode ketegangan antara AS dan Iran. Bagaimana menurut Anda?
Lonjakan Harga Plastik Hantam UMKM, Akademisi Dorong Dua Intervensi

JATIMTIMES – Tekanan biaya produksi kini makin terasa di sektor kuliner skala kecil. Lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berada di posisi serba sulit. Kenaikan ini dipicu situasi global yang memanas, berdampak langsung pada mahalnya bahan baku plastik dan harga minyak mentah. Dampaknya tidak sederhana. Bagi UMKM kuliner, kemasan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam operasional harian. Ketergantungan tinggi terhadap plastik menjadikan kenaikan harga ini sebagai beban tambahan yang terus menggerus keuntungan. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Sri Wahyudi Suliswanto menilai kondisi ini sebagai sinyal lemahnya ketahanan industri nasional. Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada impor bahan baku menjadi akar persoalan yang membuat harga domestik mudah terguncang saat terjadi krisis global. “Ketika rantai pasok internasional terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Ini menunjukkan kita belum mandiri,” ujarnya, Kamis, (9/4/2026). Di sisi lain, pelaku UMKM kini dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berisiko. Menaikkan harga jual berpotensi menurunkan daya beli konsumen yang saat ini belum sepenuhnya pulih. Namun jika harga tetap dipertahankan, margin keuntungan akan terus tergerus hingga mengancam kelangsungan usaha. Wahyudi menyebut kondisi ini sebagai tekanan biaya tersembunyi yang perlahan namun pasti melemahkan fondasi bisnis kecil. Situasi tersebut juga diperparah oleh rantai distribusi dalam negeri yang panjang, sehingga harga di tingkat pelaku usaha menjadi semakin tinggi. Meski demikian, ia melihat peluang perubahan di tengah krisis. Momentum ini dinilai tepat untuk mendorong pergeseran perilaku konsumsi masyarakat agar tidak lagi bergantung pada plastik sekali pakai. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah skema harga berbeda. Konsumen yang membawa wadah sendiri dapat diberikan potongan harga sebagai insentif. Menurut dia, pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan secara bertahap. Namun, ia mengingatkan bahwa solusi tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pelaku usaha. Mengingat penggunaan plastik sangat luas, mulai dari sektor kuliner hingga industri besar, keterlibatan pemerintah menjadi kunci. “Harus ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga. Dampaknya tidak hanya dirasakan UMKM, tapi lintas sektor,” tegasnya. Ia pun mendorong pemerintah untuk segera membuka akses pasokan bahan baku dari negara yang tidak terdampak konflik global. Upaya ini dinilai sebagai langkah realistis untuk menekan harga dalam jangka pendek. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi penting dalam menghadapi situasi ini. Tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan UMKM, tetapi juga sebagai titik awal perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan minim ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Harga Plastik Meroket 100%, Akademisi Sebut Momentum Kurangi Penggunaan

Bisnis.com, MALANG—Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100% akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional UMKM, namun juga momentum menerapkan kebijakan melarang penggunaan plastik sekali pakai. Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, mengatakan kondisi tersebut perlu disikapi UMKM untuk segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. “UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek,” katanya, Kamis (9/4/2026). Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM menilai, biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegasnya. Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Namun, dia menilai, hal justru menjadi peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya. Dia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, dia mengingatkan, beban ini tidak bisa dipikul sendirian, mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” katanya. Dia menyarankan, langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastic.
10 PTS Terbaik Versi Uniranks 2026, Tebak Kampus Mana Nomor Satu?

detik.com, Jakarta – Ada banyak sekali perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia. Calon mahasiswa baru angkatan tahun ini memiliki banyak pilihannya yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satu cara untuk mempermudah dalam memilih PTS adalah melalui peringkat universitas, seperti ranking yang dirilis oleh Uniranks ini contohnya. Yuk, simak 10 PTS terbaik 2026! PTS Terbaik Versi Uniranks 2026 Dipaparkan dalam laman resmi Uniranks, ini kampus-kampus swasta terbaik di Indonesia dalam edisi pemeringkatan terbarunya: 1. Telkom University Peringkat Indonesia: 11 Peringkat Asia: 395 2. Binus University Peringkat Indonesia: 12 Peringkat Asia: 397 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat Indonesia: 19 Peringkat Asia: 622 4. Universitas Islam Indonesia Peringkat Indonesia: 23 Peringkat Asia: 752 5. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat Indonesia: 24 Peringkat Asia: 787 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat Indonesia: 32 Peringkat Asia: 1086 7. Universitas Dian Nuswantoro Peringkat Indonesia: 33 Peringkat Asia: 1089 8. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat Indonesia: 37 Peringkat Asia: 1120 9. Universitas Mercu Buana Peringkat Indonesia: 38 Peringkat Asia: 1136 10. Universitas Gunadarma Peringkat Indonesia: 41 Peringkat Asia: 1186. Metodologi Pemeringkatan Dalam pemeringkatan ini, tim Uniranks menerapkan metodologi berdasarkan sejumlah pilar penting termasuk kesejahteraan mahasiswa, keterserapan di dunia kerja, kualitas akademik, transformasi digital, reputasi global, dan inovasi. Tujuan dari pemeringkatan ini adalah membantu mahasiswa membuat keputusan dengan memberikan pandangan multidimensional tentang universitas di seluruh dunia. Uniranks memanfaatkan berbagai teknologi dalam penyusunan peringkatnya seperti penggunaan analitik berbasis AI dan ulasan ahli independen. Apabila dijabarkan, maka proses pengumpulan data peringkat Uniranks adalah berdasarkan lima metode utama yaitu: Pengumpulan data dan pengindeksan web dengan didukung AI Kemitraan data pihak ketiga Pengajuan profil secara mandiri oleh universitas Survei dan rating dari pemangku kepentingan Audit pakar oleh tim elite Uniranks. Itulah PTS terbaik di Indonesia yang bisa kalian lirik dalam seleksi mahasiswa baru tahun ini. Apa kampus yang ingin kalian tuju?