Kisah Ayca, Kreator Konten yang Sukses Meniti Karier dari Jalur Influencer UMM

Dinda Nur Aisyah alias Ayca membuktikan bahwa konsistensi membuat konten di media sosial dapat membuka peluang pendidikan dan karier. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Di era digital saat ini, profesi kreator konten tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kemampuan membangun engagement di media sosial kini diakui sebagai kompetensi berharga yang setara dengan prestasi akademik. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan komitmennya dalam merespons tren creator economy melalui Jalur Influencer. Dinda Nur Aisyah atau yang akrab disapa Ayca menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan program tersebut. Alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UMM itu tidak hanya berhasil masuk perguruan tinggi berkat konsistensinya membuat konten, tetapi juga mampu mengasah keahlian hingga langsung terserap di dunia kerja sesaat setelah wisuda. Pada awalnya, Ayca yang kerap membagikan konten keseharian dan ulasan produk kecantikan tidak menyangka aktivitas tersebut dapat menjadi jalan masuk ke perguruan tinggi. Ia bahkan sempat ragu untuk mendaftar karena kontennya tidak murni bernuansa edukasi. Namun, pihak kampus ternyata memiliki cara pandang yang lebih komprehensif dalam menilai kemampuan komunikasi digital calon mahasiswa. “Awalnya aku pesimis karena kontenku bukan konten edukasi. Tapi ternyata UMM tetap melihat potensi dari cara kita membangun audiens dan komunikasi di media sosial. Kampus juga melihat kemampuan kreator dalam membangun audiens dan komunikasi digital,” ungkapnya. Berbekal lebih dari 100 ribu pengikut, jauh melampaui syarat minimal 10 ribu pengikut, Ayca berhasil diterima di UMM dan memperoleh potongan biaya pendidikan sebesar 50 persen. Selama menempuh pendidikan, ia dituntut mampu mengatur waktu antara aktivitas akademik dan dunia digital yang digelutinya. Berbagai praktikum di Program Studi Ilmu Komunikasi serta keterlibatannya dalam digital team UMM menjadi wadah untuk melatih kedisiplinan sekaligus memahami strategi konten secara lebih mendalam. “Praktikum di komunikasi benar-benar melatih disiplin dan tanggung jawab. Itu yang paling kepakai sampai sekarang waktu kerja. Selain perkuliahan, keterlibatanku di digital team UMM menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan karier. Lingkungannya membuatku lebih memahami strategi konten, algoritma media sosial, hingga cara membangun audiens yang lebih luas,” jelas Ayca. Berkat tempaan kedisiplinan, relasi, dan ekosistem kampus yang suportif, Ayca langsung direkrut sebagai kreator konten di sebuah klinik kecantikan hanya satu minggu setelah kelulusannya. Kisah Ayca menjadi pesan penting bagi generasi muda bahwa media sosial, jika dikelola secara konsisten dan bertanggung jawab, bukan sekadar ruang berekspresi, melainkan juga jembatan menuju masa depan profesional yang menjanjikan. Perguruan tinggi kini tidak lagi hanya membekali mahasiswa dengan teori di ruang kelas, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang inkubasi yang mematangkan bakat digital agar siap bersaing di industri kreatif yang terus berkembang. (Faqih/AS)

Sukses Reboisasi Pujon Hill, UMM Hidupkan Kembali Mata Air hingga Aliri 4 Dusun

Di tengah ancaman krisis air bersih dan pemanasan global yang memicu kekeringan ekstrem di berbagai belahan dunia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir memberikan solusi ekologis yang nyata. Melalui program rehabilitasi dan reboisasi berkelanjutan di kawasan Pujon Hill yang diinisiasi sejak tahun 2019, Kampus Putih sukses mengembalikan fungsi resapan hutan dan meningkatkan debit air secara signifikan. Langkah pelestarian ini bahkan berhasil menghidupkan kembali sejumlah sumber mata air yang sebelumnya sempat mengering. Keberhasilan ini tidak lepas dari proses panjang inventarisasi sumber daya alam yang digarap serius oleh pihak kampus. Staf Ahli Pujon Hill, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa setelah memetakan potensi alam dan melakukan perbaikan ekosistem hutan secara masif, timnya mendapati volume air melonjak drastis yang ditandai dengan munculnya sumber-sumber air baru. “Kita rehab, kita perbaiki hutannya, nah akhirnya debitnya bertambah besar, dan muncul beberapa mata air baru. Mata air-mata air yang dulu mati itu sekarang udah mulai hidup lagi,” tegasnya. Langkah strategis yang diambil UMM dalam rehabilitasi ini adalah pemanfaatan bambu dan tanaman keras di area buffer zone (zona penyangga) yang dilakukan secara kolaboratif bersama pihak eksternal. Penanaman difokuskan pada lahan seluas 15 hektare dari total 80 hektare luasan hutan, di mana lereng dan pinggiran sungai menjadi area prioritas. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pemilihan bambu didasarkan pada kemampuan alami tanaman tersebut dalam mengikat dan menyimpan cadangan air tanah dengan sangat baik. “Jadi kita emang niat ya, kalau dengan bambu itu insyaallah potensial kita bisa menghadirkan air, karena bambu punya kemampuan untuk menyimpan air,” jelasnya. Kini, derasnya aliran air bersih dari Pujon Hill telah menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat yang sangat rentan terhadap krisis kelangkaan air. Saat ini, limpahan air bersih tersebut mengalir dan dimanfaatkan secara langsung oleh warga di empat wilayah dusun yang tersebar di dua desa. Keempat wilayah penerima manfaat tersebut mencakup Dusun Ngepreh dan Dusun Tretes yang berada di wilayah Desa Bendosari, serta Dusun Talesan dan Dusun Kedungrejo yang masuk ke dalam wilayah administratif Desa Sukomulyo. “Dan misalkan mereka nggak ada air, dapat air dari kita ya pastikan mereka akan kesusahan, kesulitan mencari air,” tambahnya. Sebagai tindak lanjut ke depan, tim UMM akan melakukan kalkulasi teknis untuk mengukur secara pasti total volume debit air yang berhasil diselamatkan dan dihasilkan. Kisah sukses konservasi di Pujon Hill ini menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak. Harapannya, dedikasi nyata Kampus Putih ini tidak hanya berhenti di satu titik, melainkan mampu memantik kesadaran kolektif dan menjadi model percontohan pelestarian ekosistem bagi institusi lain, agar kita terus konsisten merawat bumi demi menjaga kedaulatan air bersih bagi generasi mendatang.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dari Konten Harian ke Dunia Profesional: Kisah Ayca Menembus Kampus dan Karier Lewat Jalur Influencer UMM

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi UMM Dinda Nur Aisyah atau yang akrab disapa Ayca. ( Ist) Malangpariwara.com – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, profesi kreator konten kini tidak lagi sekadar aktivitas sampingan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang. Kemampuan membangun audiens, mengelola komunikasi digital, hingga menciptakan konten yang menarik telah menjelma menjadi kompetensi yang diperhitungkan di dunia pendidikan maupun industri kreatif. Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya berbagai inovasi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru, termasuk yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Jalur Influencer. Program ini membuka ruang bagi generasi muda yang memiliki rekam jejak kuat di media sosial untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan potensi kreatifnya. Salah satu sosok yang merasakan langsung manfaat program tersebut adalah Dinda Nur Aisyah atau yang akrab disapa Ayca. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi UMM itu berhasil mengubah konsistensinya membuat konten menjadi pintu masuk menuju pendidikan tinggi, bahkan mengantarkannya memperoleh pekerjaan hanya beberapa hari setelah menyelesaikan studi. Ayca mengawali perjalanannya sebagai kreator konten dengan membagikan aktivitas keseharian dan ulasan produk kecantikan melalui berbagai platform media sosial. Saat itu, ia tak pernah membayangkan bahwa aktivitas yang dijalani secara konsisten tersebut suatu saat dapat menjadi modal penting untuk melanjutkan pendidikan. Keraguan sempat menghampiri ketika ia mengetahui adanya Jalur Influencer UMM. Menurutnya, konten yang ia buat tidak berfokus pada edukasi sebagaimana yang banyak dilakukan kreator lain. Namun, pandangan tersebut berubah ketika mengetahui bahwa kampus tidak hanya menilai jenis konten yang diproduksi, melainkan juga kemampuan membangun komunikasi dengan audiens secara efektif. “Awalnya aku pesimis karena kontenku bukan konten edukasi. Tapi ternyata UMM tetap melihat potensi dari cara kita membangun audiens dan komunikasi di media sosial. Kampus juga melihat kemampuan kreator dalam membangun audiens dan komunikasi digital,” ujarnya. Dengan jumlah pengikut yang telah menembus lebih dari 100 ribu akun—sepuluh kali lipat dari syarat minimum yang ditetapkan kampus—Ayca berhasil lolos seleksi dan memperoleh potongan biaya pendidikan sebesar 50 persen. Namun, perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus kreator konten bukan tanpa tantangan. Di tengah tuntutan perkuliahan, praktikum, serta aktivitas produksi konten yang harus terus berjalan, Ayca dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Baginya, disiplin menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan antara dunia akademik dan aktivitas digital. Selama menempuh studi di Program Ilmu Komunikasi, berbagai kegiatan praktikum menjadi sarana untuk mengasah kemampuan profesional yang selama ini hanya dipelajari secara mandiri. Di sisi lain, keterlibatannya dalam tim digital UMM memperluas wawasan mengenai strategi komunikasi modern yang dibutuhkan industri saat ini. “Praktikum di komunikasi benar-benar melatih disiplin dan tanggung jawab. Itu yang paling kepakai sampai sekarang waktu kerja. Selain perkuliahan, keterlibatanku di digital team UMM menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan karier. Lingkungannya membuatku lebih memahami strategi konten, algoritma media sosial, hingga cara membangun audiens yang lebih luas,” jelasnya. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia kerja. Relasi yang terbangun selama kuliah, kemampuan teknis yang terus diasah, serta pemahaman mendalam mengenai tren digital membuat Ayca tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan. Hanya berselang satu minggu setelah wisuda, ia langsung direkrut sebagai content creator di sebuah klinik kecantikan. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang diperoleh melalui aktivitas kreatif di media sosial dapat memiliki nilai ekonomi dan profesional yang nyata ketika didukung pendidikan yang tepat. Kisah Ayca sekaligus mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia pendidikan tinggi. Kampus kini tidak lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga berperan sebagai inkubator talenta digital yang membantu mahasiswa mengembangkan potensi sesuai kebutuhan industri masa depan. Di tengah maraknya penggunaan media sosial oleh generasi muda, pengalaman Ayca menghadirkan pesan penting bahwa platform digital dapat menjadi sarana membangun masa depan yang menjanjikan. Dengan kreativitas, konsistensi, dan tanggung jawab, media sosial tidak sekadar menjadi ruang berbagi cerita, melainkan jembatan menuju pendidikan, karier, dan peluang profesional yang semakin luas. (Djoko W)

Pusdiklat UMM Kaji Ulang Sistem PPUT Demi Penguatan Kader Muhammadiyah

Pelaksanaan Lokakarya PPUT di Hall Kapal Garden Sengkaling UMM. (Humas Pusdiklat/PWMU.CO) pwmu.co – Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Lokakarya Uji Publik dan Validasi Panduan Pengelolaan Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) 2026 bertajuk “Visi Strategis Pengelolaan PPUT: Meneguhkan Epistemologi Tarjih, Mencetak Ulama Tafaqquh Fiddin yang Inovatif” pada Sabtu (30/5/2026). Kegiatan berlangsung di Hall Kapal Garden Sengkaling UMM dan diikuti jajaran pimpinan kampus, mulai dari dekan Fakultas Agama Islam (FAI), direktur pascasarjana, dosen FAI, hingga kepala bagian di lingkungan Wakil Rektor V. Kegiatan dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Quran oleh mahasiswa PPUT angkatan 2024, Abdullah Ashim Al Khotami. Sementara acara dipandu menggunakan Bahasa Arab oleh mahasiswa PPUT angkatan 2025, Fideis Al Islam Rabbani. Kepala Divisi PPUT UMM, Dr. Saiful Amin, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa PPUT pertama kali digagas pada 2003 saat Fakultas Agama Islam dipimpin Moh. Nurhakim. Menurutnya, lokakarya ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali arah pengembangan PPUT agar tetap relevan dengan kebutuhan kaderisasi ulama Muhammadiyah. “Tahun ini kami mencoba merefresh kembali bagaimana UMM bisa mencetak ulama-ulama. Draft konsep ini masih mentah, lahir dari refleksi dan keresahan bersama. Karena itu kami berharap seluruh peserta turut mengkritisi sekaligus memberikan gagasan untuk penyempurnaan panduan ini,” ujarnya. Ia menegaskan, lokakarya tersebut bertujuan menguji konsep sekaligus memastikan panduan yang dirumuskan dapat diimplementasikan secara nyata dalam tata kelola PPUT ke depan. Sementara itu, Kepala Pusdiklat UMM, Dr. Zen Amiruddin, S.Sos., M.Med.Kom., mengungkapkan bahwa PPUT membutuhkan tata kelola, kurikulum, dan sistem inkubasi kader yang lebih terstruktur dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Sejak 2003 hingga 2026 tentu PPUT mengalami banyak perubahan dan penyesuaian. Harapannya, setelah keluar dari ruangan ini, kita bisa menyepakati bersama panduan pengelolaan PPUT yang lebih baik,” katanya. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa PPUT UMM merupakan program pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang secara khusus berfokus pada pendidikan ulama tarjih. Ia menyebut keberlanjutan program ini penting untuk menjaga kesinambungan kader Muhammadiyah. Dalam sambutannya, ia mengutip pesan Syaiful Anwar dari Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) yang kerap mengingatkan pentingnya memahami Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, khususnya Pasal 4 tentang Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar makruf nahi mungkar dan gerakan tajdid. “Lulusan PPUT wajib memahami dan mengamalkan PHIWM, tarjih, AD/ART, dan seluruh kebijakan Muhammadiyah. Untuk mewujudkannya, diperlukan pengelolaan yang mumpuni,” tegasnya. Prof Tri juga menyampaikan tiga karakter utama ulama tarjih Muhammadiyah. Pertama, berilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum, karena seluruh ilmu pada hakikatnya merupakan bagian dari ilmu agama. Kedua, saleh, yakni mampu mengelola, merawat, dan memanfaatkan bumi sekaligus menjadi pemimpin masyarakat yang menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, bermanfaat bagi masyarakat sehingga lulusan PPUT mampu menjadi teladan di tengah kehidupan sosial. Selain itu, Prof Tri menegaskan bahwa arah kebijakan dan regulasi PPUT harus mendukung terciptanya lulusan yang mampu berkiprah di tingkat internasional. Hal itu sejalan dengan target UMM menuju kampus bereputasi global pada 2030. “Setelah diuji dan dilaksanakan, panduan ini juga perlu dimonitoring, dievaluasi, dikendalikan, dan terus ditingkatkan,” tambahnya. Lokakarya berlangsung dalam lima sesi utama. Sesi pertama berupa paparan draft panduan pengelolaan PPUT oleh Dr. Saiful Amin selaku Kepala Divisi PPUT. Sesi kedua membahas basis nilai, Visi Misi Tujuan Sasaran (VMTS), dan profil lulusan PPUT yang dipaparkan Direktur DPPS UMM Prof. Dr. Khozin, M.Si., bersama Asisten Rektor Bidang AIK Moh. Nurhakim, Ph.D. Sesi ketiga mengulas struktur kurikulum, model pembelajaran, pendidik, dan peserta didik PPUT bersama Wakil Rektor I UMM Prof. Ahsanul In’am, Ph.D. Selanjutnya sesi keempat membahas lingkungan pembelajaran, struktur organisasi, dan tata kelola PPUT oleh Wakil Rektor II Dr. Ahmad Juanda. Adapun sesi kelima mengkaji kebijakan, regulasi, dan evaluasi ekosistem PPUT bersama Wakil Rektor V Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dan Kepala Pusdiklat Dr. Zen Amiruddin, S.Sos., M.Med.Kom. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi, kritik, dan pemberian masukan dari seluruh peserta lokakarya sebagai bagian dari proses penyempurnaan panduan pengelolaan PPUT 2026.(*)

Kader Muhammadiyah Soroti Ceramah Mama Ghufron, Tekankan Dakwah Berbasis Ilmu dan Adab

Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ismail. (foto: for harianjatim) Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ismail, menyoroti model ceramah yang disampaikan Muhammad Abdul Ghufron atau yang dikenal sebagai Mama Ghufron. Menurut dia, sejumlah pernyataan yang disampaikan dalam berbagai ceramah figur tersebut telah memunculkan perdebatan di tengah masyarakat dan menjadi perhatian berbagai kalangan. Ismail menilai dakwah semestinya disampaikan dengan berlandaskan ilmu, adab, dan tanggung jawab moral kepada umat. Karena itu, materi ceramah perlu merujuk pada sumber-sumber keagamaan yang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam. “Sebagai umat Islam, dakwah semestinya menjadi sarana pencerahan yang disampaikan dengan ilmu dan tanggung jawab. Penyampaian ajaran agama perlu didasarkan pada dalil dan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ismail dalam keterangan tertulis, Senin, (1/6/2026). Menurut dia, berbagai klaim yang bersifat sensasional dan sulit diverifikasi berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap literatur dan kajian keislaman yang memadai. Ia menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus diiringi tanggung jawab sosial, terlebih ketika berbicara mengenai persoalan agama yang dapat memengaruhi cara pandang dan pemahaman umat. “Dakwah seharusnya menjadi ruang edukasi dan penguatan nilai-nilai keislaman, bukan sekadar menghadirkan kontroversi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di ruang publik,” ujarnya. Ismail juga mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber rujukan keagamaan. Menurut dia, umat perlu mengedepankan sikap tabayun dan kehati-hatian dalam menerima informasi yang berkaitan dengan ajaran agama. “Masyarakat perlu kritis dalam memilih guru, ustaz, atau penceramah. Jangan hanya melihat popularitas atau gaya penyampaian, tetapi juga memperhatikan dasar keilmuan, akhlak, dan kredibilitasnya,” katanya. Lebih lanjut, Ismail menilai pendekatan dakwah yang selama ini dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia dapat menjadi rujukan dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan menyejukkan. Ia menyebut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama secara konsisten mengedepankan dakwah yang berbasis ilmu, mengutamakan persatuan umat, serta menghormati keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Menurut Ismail, perbedaan pandangan dalam persoalan keagamaan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut perlu disampaikan secara ilmiah dan beretika, tanpa provokasi maupun pernyataan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial. Baca Juga :  Kapolres Sumenep dan BPS Perkuat Sinergi Data untuk Dukung Ketahanan Pangan “Dakwah yang baik adalah dakwah yang menghadirkan pencerahan, memperkuat akhlak, serta mempererat persaudaraan umat dan bangsa. Dengan cara itu, mimbar dakwah dapat menjadi sarana membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan menjunjung tinggi persatuan,” ujarnya. Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh tanggapan dari Muhammad Abdul Ghufron terkait pandangan yang disampaikan Ismail. Redaksi membuka ruang klarifikasi apabila yang bersangkutan ingin memberikan penjelasan atau tanggapan.

Ketika Dunia Berbicara tentang Papua

Najamuddin Khairur Rijal, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. (Dok. Pri) Oleh: Najamuddin Khairur Rijal* *) Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang Suara Papua – Kompleksitas persoalan tentang Papua telah menjadi perhatian banyak pihak, termasuk masyarakat internasional. Setiap kali masyarakat internasional berbicara tentang Papua, pemerintah Indonesia biasanya segera merespons dengan bahasa diplomatis dan narasi kedaulatan. Respons itu dapat dipahami, karena Papua adalah bagian dari Republik Indonesia dan karenanya setiap negara berhak menjaga integritas wilayahnya. Namun, dalam politik global hari ini, kedaulatan tidak lagi cukup dijelaskan hanya sebagai garis batas teritorial. Akan tetapi, kedaulatan juga diuji dari kemampuan negara melindungi manusia, mengakui masyarakat adat, menjaga lingkungan, dan membuka ruang bagi suara warganya. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa masyarakat dunia ikut berbicara tentang Papua, melainkan mengapa Papua terus-menerus menjadi isu yang sulit selesai dalam percakapan kebangsaan kita sendiri. Papua sebagai isu global Papua kini berada di persimpangan banyak isu global sekaligus. Papua bukan hanya dibaca sebagai isu politik dan keamanan, melainkan juga sebagai isu hak asasi manusia, masyarakat adat, keadilan ekologis, pembangunan, dan identitas Melanesia di kawasan Pasifik. Simpul persoalan inilah yang membuat Papua terus muncul dalam perhatian masyarakat internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, isu Papua semakin sering mengemuka melalui isu lingkungan dan masyarakat adat. Misalnya, pada November 2025, sejumlah ahli HAM PBB mendesak Indonesia mengakui masyarakat adat sebagai mitra pembangunan, perdamaian, dan keamanan. Mereka mencatat bahwa meskipun Indonesia mendukung deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, nyatanya pengakuan formal terhadap kelompok-kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai masyarakat adat masih menjadi persoalan (www.ohchr.org, 2025). Hal ini penting karena tanpa pengakuan itu, hak atas tanah, budaya, dan penentuan nasib komunitas adat mudah melemah di hadapan proyek pembangunan. Suarapapua.com adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik. Isu itu semakin menonjol dalam proyek pangan dan energi di beberapa wilayah di Papua. Sebagaimana yang terungkap dalam film dokumenter “Pesta Babi” yang belakangan ini menuai polemik, pembukaan hutan dalam skala besar untuk produksi bioetanol, beras, dan komoditas pangan lain memunculkan kekhawatiran terhadap keanekaragaman hayati dan masa depan masyarakat adat yang bergantung pada tanah tersebut. Karena itu, Papua tidak lagi bisa dibaca hanya dengan bahasa administrasi pembangunan. Hutan Papua bukan sekadar cadangan lahan. Tanah adat bukan sekadar ruang kosong di peta. Sungai, rawa, hutan sagu, dusun, dan tanah leluhur adalah bagian dari sistem hidup mereka. Maka ketika semua itu masuk ke dalam skema proyek atas nama pembangunan, yang berubah bukan hanya fungsi lahan, melainkan juga relasi sosial, kebudayaan, dan masa depan komunitas adat itu sendiri. Suara Papua Gayatri Chakravorty Spivak, salah satu pemikir poskolonial terkemuka, pernah mengajukan pertanyaan, Can the Subaltern Speak (1988)?. Dapatkah kelompok yang berada di pinggir struktur kekuasaan benar-benar berbicara?. Pertanyaan Spivak itu bukan sekadar apakah mereka memiliki suara atau tidak. Lebih rumit dari itu, masalahnya adalah apakah suara itu didengar sebagai pengetahuan yang sah, atau justru terus disaring oleh bahasa kekuasaan, pembangunan, keamanan, dan modernisasi?. Dalam konteks Papua, pertanyaan Spivak itu terasa relevan. Negara banyak berbicara tentang Papua sebagai wilayah pembangunan. Korporasi berbicara tentang Papua sebagai ruang investasi. Aktivis internasional berbicara tentang Papua sebagai isu HAM. Negara-negara Pasifik berbicara tentang Papua sebagai bagian dari solidaritas Melanesia. Media berbicara tentang Papua ketika terjadi konflik, kekerasan, atau kontroversi. Namun, di antara semua suara itu, suara orang Papua sendiri sering kali menjadi yang paling samar. Papua banyak dibicarakan, tetapi belum tentu suara mereka didengarkan. Baca Juga:  Upaya Stabilitas Lintas Selat Taiwan-Tiongkok Melalui Kebijakan 10 Langkah Inilah paradoks internasionalisasi Papua. Ketika masyarakat dunia berbicara, Indonesia kerap merasa disudutkan. Tetapi, ketika ruang domestik kurang memberi tempat bagi suara lokal, isu itu dengan mudah mencari panggung lain. Dalam studi Hubungan Internasional, Margaret Keck dan Kathryn Sikkink menyebut pola ini sebagai boomerang pattern. Pola bumerang, yakni ketika kelompok lokal kesulitan memengaruhi negara dari dalam negeri, maka mereka membangun jaringan dengan aktor internasional agar tekanan normatif kembali kepada negara. Papua dapat dibaca dalam logika ini. Isu lokal bergerak menjadi isu global karena tersedia, antara lain misalnya, jaringan gereja, organisasi non-pemerintah, kelompok masyarakat adat, media internasional, organisasi HAM, dan solidaritas Pasifik. Khusus untuk arena Pasifik, memperlihatkan dimensi lain. Bagi Indonesia, Papua adalah isu kedaulatan. Namun, bagi sebagian aktor di Pasifik Selatan, Papua juga dibaca melalui bahasa identitas, kedekatan Melanesia, dan solidaritas regional. Pacific Islands Forum pada 2025 bahkan dilaporkan tetap mencantumkan isu West Papua (Papua Barat) dalam komunike, sembari para pemimpin forum mengakui kedaulatan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi tentang Papua di Pasifik tidak bisa hanya dijalankan dengan pendekatan legal-formal, tetapi juga membutuhkan pendekatan kultural, empatik, dan berbasis kepercayaan. Tentu saja, tidak semua perhatian internasional atas masalah di Papua bebas dari kepentingan politik. Dalam dunia internasional, isu HAM, lingkungan, dan masyarakat adat sering berkelindan dengan diplomasi, tekanan geopolitik, bahkan kompetisi pengaruh. Negara mana pun perlu berhati-hati ketika isu domestiknya dibawa ke forum global. Namun, menafsirkan semua perhatian internasional sebagai gangguan eksternal juga terlalu menyederhanakan persoalan. Sebab, kadang suara dunia adalah gema dari suara lokal yang tidak cukup memperoleh ruang di dalam negeri. Langkah Mendesak Karena itu, diplomasi Indonesia tentang Papua perlu bergerak menuju diplomasi kepercayaan. Jika selama ini pemerintah banyak “membantah” untuk meluruskan informasi yang keliru dan menjaga prinsip kedaulatan, maka di tengah dunia yang semakin transparan, reputasi negara tidak hanya dibangun dari pernyataan resmi, tetapi juga dari bukti di lapangan. Untuk itu, ada beberapa langkah yang mendesak dilakukan. Pertama, pengakuan atas masyarakat adat perlu diperkuat, bukan hanya sebagai identitas budaya, tetapi sebagai subjek politik dan hukum dalam pembangunan. Artinya, mereka tidak boleh sekadar disebut sebagai penerima manfaat setelah proyek dirancang. Melainkan mereka harus dilibatkan sejak awal, termasuk dalam penentuan apakah sebuah proyek layak dilakukan di tanah mereka. Kedua, pembangunan di Papua perlu diletakkan dalam kerangka keadilan ekologis. Ketahanan pangan dan energi memang penting. Namun, ketahanan nasional yang merusak ruang hidup masyarakat lokal justru menciptakan kerentanan baru. Hutan Papua memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang tidak bisa diganti begitu saja oleh angka produksi dengan dalih swasembada. Ketiga, ruang informasi dan

Dukung Efisiensi Keuangan, BRI Malang dan UMM Jalin Kerja Sama Strategis

BRI Malang Soekarno-Hatta. (Istimewa) MALANGVOICE – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Malang Soekarno Hatta terus memperkuat posisinya sebagai mitra keuangan terpercaya bagi berbagai institusi dan pelaku usaha. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan layanan keuangan terintegrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlokasi di Jalan Raya Tlogomas Nomor 246, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Melalui kerja sama ini, sekitar 2.000 karyawan dan pegawai UMM akan memanfaatkan berbagai layanan perbankan BRI. Layanan tersebut meliputi payroll, BRImo, QRIS, Electronic Data Capture (EDC), Cash Management System (CMS), hingga berbagai fasilitas transaksi dan pembiayaan lainnya yang mendukung kebutuhan institusi. Pemimpin BRI Malang Soekarno Hatta, Johanes Alfred Simanjuntak, mengatakan BRI terus bertransformasi menjadi penyedia solusi keuangan yang mampu memberikan kemudahan sekaligus nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. “BRI tidak hanya menghadirkan layanan perbankan, tetapi juga solusi keuangan yang terintegrasi. Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat memberikan kemudahan bagi institusi dalam pengelolaan keuangan sekaligus mendukung kebutuhan transaksi para pegawai secara lebih praktis, aman, dan efisien,” ujar Johanes. Menurutnya, pemanfaatan BRImo sebagai super apps perbankan digital memungkinkan pegawai melakukan berbagai transaksi keuangan kapan saja dan di mana saja. Di sisi lain, penggunaan QRIS dan EDC BRI turut mendukung percepatan transaksi non-tunai yang kini semakin dibutuhkan di era digital. Tidak hanya bagi pegawai, kerja sama ini juga memberikan manfaat bagi institusi. Melalui layanan Cash Management System (CMS), pengelolaan keuangan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien, mulai dari monitoring transaksi, pembayaran tagihan, hingga pengelolaan arus kas secara real-time. “Melalui ekosistem layanan yang terintegrasi, kami ingin memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi institusi dan seluruh pegawai. Dengan dukungan teknologi dan jaringan layanan yang luas, BRI siap menjadi mitra strategis dalam mendukung produktivitas dan pertumbuhan organisasi,” tambahnya. BRI Malang Soekarno Hatta juga berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai instansi, baik pemerintah, lembaga pendidikan, rumah sakit, BUMD, maupun perusahaan swasta. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan sekaligus mendorong transformasi digital di berbagai sektor. “Ke depan, kami berharap sinergi yang terjalin dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi institusi, pegawai, serta masyarakat luas melalui pemanfaatan layanan keuangan yang modern, aman, dan terintegrasi,” tutup Johanes.(der)

BRI Malang Soekarno Hatta Gandeng UMM, Hadirkan Ekosistem Layanan Keuangan Digital Terintegrasi

pemimpin BRI Malang Soekarno Hatta, Johanes Alfred Simanjuntak Malang,mitratoday.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Malang Soekarno Hatta terus memperkuat perannya sebagai mitra keuangan terpercaya bagi berbagai institusi pendidikan, pemerintah, maupun dunia usaha melalui penyediaan layanan keuangan yang terintegrasi dan sesuai kebutuhan nasabah. Sebagai wujud komitmen tersebut, BRI Malang Soekarno Hatta menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlokasi di Jalan Raya Tlogomas No. 246, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kolaborasi ini dilakukan melalui pemanfaatan berbagai produk dan layanan perbankan BRI guna mendukung aktivitas operasional institusi serta kebutuhan finansial para pegawai. Melalui kerja sama tersebut, sekitar 2.000 karyawan dan pegawai UMM akan memanfaatkan berbagai layanan perbankan BRI, mulai dari payroll, aplikasi digital BRImo, QRIS, Electronic Data Capture (EDC), Cash Management System (CMS), hingga berbagai layanan transaksi dan pembiayaan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Pemimpin BRI Malang Soekarno Hatta, Johanes Alfred Simanjuntak, mengatakan bahwa BRI terus bertransformasi menjadi penyedia solusi keuangan yang mampu memberikan kemudahan, efisiensi, dan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. “BRI tidak hanya menghadirkan layanan perbankan, tetapi juga solusi keuangan yang terintegrasi. Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat memberikan kemudahan bagi institusi dalam pengelolaan keuangan sekaligus mendukung kebutuhan transaksi para pegawai secara lebih praktis, aman, dan efisien,” ujar Johanes Alfred Simanjuntak, Senin (1/6/2026). Sebagai super apps perbankan digital, BRImo memungkinkan pegawai melakukan berbagai transaksi keuangan kapan saja dan di mana saja. Selain itu, pemanfaatan QRIS dan EDC BRI turut mendukung percepatan transaksi non-tunai yang semakin dibutuhkan di era digital. Sementara itu, bagi institusi, layanan Cash Management System (CMS) BRI memberikan kemudahan dalam pengelolaan keuangan secara lebih efektif dan efisien. Fitur ini memungkinkan monitoring transaksi, pembayaran tagihan, hingga pengelolaan arus kas secara real-time. Johanes menambahkan, melalui ekosistem layanan yang terintegrasi, BRI ingin menghadirkan pengalaman layanan yang lebih optimal bagi institusi maupun seluruh pegawai. “Dengan dukungan teknologi digital dan jaringan layanan yang luas, BRI siap menjadi mitra strategis dalam mendukung produktivitas serta pertumbuhan organisasi,” tambahnya. Ke depan, BRI akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah, lembaga pendidikan, rumah sakit, BUMD, hingga perusahaan swasta sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan mendorong transformasi digital di berbagai sektor. “Kami berharap sinergi yang terjalin dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi institusi, pegawai, maupun masyarakat luas melalui pemanfaatan layanan keuangan yang modern, aman, dan terintegrasi,” tutup Johanes Alfred Simanjuntak. (Tri W)

Bangun Kesadaran Mental Gen Z, UMM Wadahi Potensi Siswa Lewat Kompetisi Nasional PsychoBoost

Kesadaran generasi Z akan pentingnya kesehatan mental dan pengembangan potensi diri di era disrupsi digital kian meningkat tajam. Menjawab tren positif dan tingginya antusiasme tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak sekadar berteori di ruang kelas, tetapi langsung memberikan wadah nyata. Melalui ajang kompetisi bergengsi tingkat nasional PsychoBoost! Vol. 4 yang digelar pada Sabtu (30/5), Kampus Putih bahkan membagikan Golden Ticket alias jalur bebas tes masuk Program Studi Psikologi bagi pemenang utamanya. Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi ini mengusung tema “Empowering Your Potential: Psychology as the Key to Innovation, Creativity, and Well-Being”. Ketua Pelaksana PsychoBoost! Vol. 4, Mar’atus Sholikhah, memaparkan bahwa ajang tahunan ini dirancang khusus untuk memantik daya berpikir kritis generasi muda melalui tiga kategori perlombaan, yakni esai nasional dan desain poster bagi mahasiswa, serta adu kecerdasan (Psywar) khusus untuk siswa SMA sederajat. “PsychoBoost! Vol. 4 hadir sebagai platform untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta mendorong ide-ide kreatif yang dituangkan dalam bentuk tulisan, sekaligus memberikan wadah kolaborasi interaktif guna memperkaya wawasan peserta,” ungkap Mar’atus. Daya tarik dari kompetisi ini sukses menyedot ratusan talenta unggul dari berbagai penjuru Nusantara. Kategori Psywar sendiri diikuti oleh 30 tim atau sekitar 90 siswa, dengan delegasi terjauh rela bertolak dari Jawa Barat menuju Malang. Sementara di tingkat mahasiswa, terdapat 30 tim esai dan 22 peserta desain poster yang beradu gagasan. Selain atmosfer perlombaan yang kompetitif, peserta SMA juga dimanjakan dengan Fapsi Tour guna mengeksplorasi fasilitas unggulan kampus. Rangkaian luring ini memberikan kesan mendalam bagi peserta. Askiya Sayyida, salah satu peserta Psywar dari SMAN 21 Surabaya, mengaku sangat takjub dengan kemegahan atmosfer akademik Kampus Putih dan merasa mendapat pengalaman yang menantang. “Seru banget campus tour-nya, terus ternyata di dalam ruangannya itu view-nya dapet banget jadinya aku suka, dan gedung kampusnya sendiri bener-bener gede banget,” ujar Askiya. Kesuksesan dan kebermanfaatan ajang yang telah konsisten bergulir sejak 2023 ini turut mendapat apresiasi penuh dari jajaran pimpinan fakultas. Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UMM, Dr. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menegaskan bahwa pihak universitas akan selalu proaktif dalam memfasilitasi program kemahasiswaan yang memberikan dampak nyata, terlebih sebagai sarana krusial untuk mengenalkan ilmu psikologi sejak dini kepada siswa SMA. “Kegiatan ini sangat penting dan positif untuk diikuti oleh anak SMA yang memang berminat di jurusan psikologi, dan harapannya para peserta tetap semangat menjaga kegiatan ini tetap terlaksana dengan baik ke depannya,” pungkas Zainul. Melalui semarak PsychoBoost! Vol. 4 ini, Fakultas Psikologi UMM kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang progresif. Kampus Putih tidak hanya berfokus mencetak akademisi yang ahli di atas kertas, tetapi juga proaktif mendampingi dan mempersiapkan generasi muda yang inovatif, berdaya saing global, serta siap menjadi motor penggerak kesejahteraan psikologis di tengah dinamika masyarakat luas.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kisah Ayca, Kreator Konten yang Sukses Maksimalkan Jalur Influencer UMM

Di era digital saat ini, profesi content creator tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kemampuan membangun engagement di media sosial kini diakui sebagai kompetensi berharga yang setara dengan prestasi akademik. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan komitmennya dalam merespons tren creator economy ini melalui Jalur Influencer. Dinda Nur Aisyah, atau yang akrab disapa Ayca, adalah salah satu bukti nyata kesuksesan adaptasi tersebut. Alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UMM ini tak hanya berhasil meraih kursi perguruan tinggi berkat konsistensi membuat konten, tetapi juga sukses mengasah keahliannya hingga langsung terserap di dunia kerja sesaat setelah wisuda. Pada awalnya, Ayca yang kerap membagikan konten daily life dan ulasan produk kecantikan tidak menyangka kebiasaannya tersebut bisa menjadi jalan masuk ke perguruan tinggi. Ia sempat merasa ragu untuk mendaftar karena konten yang dibuatnya di media sosial tidak murni bernuansa edukasi, namun pihak kampus ternyata memiliki pandangan komprehensif dalam menilai kemampuan komunikasi digital calon mahasiswa. “Awalnya aku pesimis karena kontenku bukan konten edukasi. Tapi ternyata UMM tetap melihat potensi dari cara kita membangun audiens dan komunikasi di media sosial. Kampus juga melihat kemampuan kreator dalam membangun audiens dan komunikasi digital,” ungkapnya. Berbekal lebih dari 100 ribu pengikut, jauh melampaui syarat minimal 10 ribu pengikut. Ayca berhasil diterima dan mendapatkan potongan Biaya sebesar 50 persen. Selama berkuliah, ia dituntut untuk mengembangkan manajemen waktu yang baik antara dunia akademik dan aktivitas digitalnya, di mana berbagai praktikum di Ilmu Komunikasi serta keterlibatannya di digital team UMM menjadi wadah utama untuk melatih kedisiplinan dan memahami strategi konten. “Praktikum di komunikasi benar-benar ngelatih disiplin dan tanggung jawab. Itu yang paling kepakai sampai sekarang waktu kerja. Selain perkuliahan, keterlibatanku di digital team UMM menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan karier. Lingkungannya membuatku lebih memahami strategi konten, algoritma media sosial, hingga cara membangun audiens yang lebih luas,” jelas Ayca. Berkat tempaan relasi, kedisiplinan, dan ekosistem kampus yang suportif, Ayca langsung direkrut sebagai content creator di sebuah klinik kecantikan hanya berselang satu minggu setelah kelulusannya. Kisah Ayca menjadi pesan penting bagi generasi muda bahwa media sosial, jika dikelola dengan konsisten dan bertanggung jawab, bukan hanya sekadar tempat berekspresi, melainkan jembatan menuju masa depan profesional yang menjanjikan. Perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar menjejali mahasiswa dengan teori di dalam kelas, namun telah bertransformasi menjadi ruang inkubasi yang mematangkan bakat digital agar siap bersaing di industri kreatif yang serba cepat.(vin/faq)     Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman