Idul Adha di UMM, Momen Syukur Nikmat dan Pengorbanan Diri

PERAYAAN Idhul Adha yang akan berlangsung pada 10 Dzulhijjah 1437 H atau bertepatan dengan 10 September 2016 merupakan momen bagi umat Islam untuk mensyukuri nikmat dan pengorbanan diri. Manusia diberi kelimpahan nikmat yang luar biasa oleh Allah, karena itu berkurban adalah momen pembersihan diri. Menurut Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Syamsul Arifin MSi, kata kurban ini berasal dari bahasa Arab, qurban, yang merupakan kata benda dari qarraba-yuqarribu-qurbanan, yang berarti kedekatan, kecintaan, kemesraan. “Maka, kurban tak sekadar pengorbanan biasa, namun sekaligus aktualisasi kedekatan, kecintaan, kemesraan manusia sebagai hamba pada Tuhannya,” jelas dosen Fakultas Agama Islam UMM ini. Bagi Syamsul, hanya manusia yang memiliki kepasrahan dan ketaqwaan yang luar biasa pada Allah yang rela mengorbankan apa yang dimiliki sekaligus dicintai. Itulah ibarat pada kisah Nabi Ibrahim ketika keturunan yang amat disayanginya harus dikorbankan. “Kecenderungan alamiah manusia yaitu mencintai apa yang ia inginkan. Kurban adalah pelajaran berharga tentang kesediaan kita mengorbankan apa yang kita cintai,” kata Syamsul. Dalam konteks lebih luas, Nabi Ibrahim juga memiliki kualitas kepemimpinan yang perlu diteladani bagi siapa pun yang dipercaya oleh publik sebagai pemimpin, baik di level organisasi kemasyarakatan, maupun di level yang lebih kompleks seperti pemerintahan. Hal itu, kata Syamsul, setidaknya terlihat pada kekokohan Ibrahim dalam memegang kebenaran sejati, sekalipun berhadapan dengan penguasa yang zalim. Sementara itu, terkait penyediaan hewan kurban di UMM, menurut ketua panitia Idul Adha Ihyaul Ulum, UMM telah menyiapkan 6 sapi dan 44 kambing. Tahun ini, lanjutnya, UMM akan mendistribusikan hewan kurban pada masyarakat yang mengajukan permohonan.  “UMM sendiri telah menerima tak kurang dari 100 surat pengajuan, namun hanya beberapa saja yang akan dipenuhi permintaannya. Kami benar-benar pilih daerah mana saja yang benar-benar membutuhkan,” terang Ulum. Adapun pelaksanaan Idul Adha di UMM, akan dilakukan di dua titik yaitu di kampus III Jl. Tlogomas No. 246 dan Kampus II Jl. Bendungan Sutami No. 188. Di kampus III, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof Drs HA Abdul Malik Fadjar MA dijadwalkan hadir dan bakal bertindak sebagai khatib di Lapangan Helipad, sedangkan di kampus II, yang bertindak sebagai khatib yakni Kepala Program Studi Bahasa Arab UMM Ahmad Fatoni Lc MAg. (can/han)

Mahasiswa Asing UMM Disiapkan Jadi Duta Nusantara

MENINGKATNYA jumlah mahasiswa asing dari tahun ke tahun menuntut UMM lebih concern dalam hal pembinaan. Tahun ini saja UMM menerima 188 mahasiswa asing, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.  Tahun lalu, UMM menerima 86 mahasiswa asing, lalu 78 orang di tahun 2014 dan 35 orang pada 2013. Sebagai kampus yang mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia, UMM sejak awal mewajibkan seluruh mahasiswa asing yang belajar di UMM menguasai bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari. Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, kampus ini terus berupaya agar mahasiswa asing melekat dengan budaya dan bahasa Indonesia. Bahkan, BIPA menyusun program agar mahasiswa asing nantinya dapat menjadi duta nusantara setelah mereka kembali ke negaranya masing-masing. “Di samping belajar bahasa, mahasiswa asing juga akan belajar budaya dan kehidupan sosial di UMM dan Indonesia. Tak hanya di ruang kelas, nantinya akan ada program belajar di luar kelas,” kata kepala BIPA UMM, Dr Arif Budi Wurianto MSi. Bagi Arif Budi, pembelajaran di luar kelas dipandang perlu agar mahasiswa asing lebih memahami budaya sekaligus belajar bersosialisasi. “Puncaknya, nanti akan ada jelajah nusantara. Kami ajak mereka untuk mengetahui secara langsung budaya Indonesia, bisa ke Bali, Toraja, atau tempat lain,” tambahnya. Bahkan ada program di mana para mahasiswa asing memerankan diri sebagai duta nusantara bagi salah satu daerah di Indonesia dan kemudian mempresentasikan budaya, wisata dan kearifan lokal daerah tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Sepuluh tahun ke depan, setelah mereka lulus UMM bisa saja mereka jadi duta besar ataupun konsulat jenderal bagi negaranya di Indonesia,” papar Arif. Karena itu, bagi mahasiswa asing yang memiliki keahlian khusus, seperti bernyanyi atau menari akan diarahkan agar mereka bisa menyanyikan lagu daerah atau menarikan tarian daerah. Mahasiswa UMM asal Bulgaria Georgi Panayotov misalnya, adalah seorang penari profesional yang pada akhirnya mendalami Topeng Malangan. Termasuk pada berbagai gelaran budaya UMM, semisal Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya), para mahasiswa asing diberi kesempatan untuk membawakan tarian khas salah satu daerah di Indonesia. Bahkan, pada momen formal seperti wisuda pun, UMM menghadirkan nuansa Bhineka Tunggal Ika di mana mahasiswa asing terlibat dengan mengenakan pakaian adat berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu bagi mahasiswa asing beragama Islam, khususnya peraih beasiswa Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mereka dididik agar siap mengembangkan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di negaranya masing-masing. “Pembinaan akan dilakukan sebulan sekali melalui pendalaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta diskusi lintas budaya,” jelas Yasin Kusumo, staf International Relations Office (IRO) UMM. (ich/han)

Antropolog Jepang Apresiasi Kampung Wisata Jodipan

GURU Besar Antropologi Budaya Universitas Chiba Jepang Prof Aoki Takenobu PhD mengapresiasi keberadaan Kampung Wisata Jodipan (KWJ), terlebih kampung warna-warni itu merupakan inisiasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Apresiasi tersebut disampaikan Prof Aoki saat berkunjung ke KWJ, Jumat (9/8). KWJ merupakan salah satu alasan Prof Aoki mengunjungi Malang, selain ia memang memiliki kekaguman khusus pada Indonesia. Aoki mengakui bahwa Jepang memiliki keunggulan di bidang teknologi, namun memiliki kendala dalam hal pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. “Saya tahu kampung ini dari media sosial. Ini hebat karena pelopornya adalah mahasiswa, apalagi ada unsur pemberdayaan masyarakat. Saya tertarik, ingin mengetahui lebih jelas bagaimana para mahasiswa ini bisa mengajak warga untuk mau merubah perilaku mereka,” tuturnya dalam bahasa Indonesia yang fasih. Aoki menambahkan, kemampuan mengelola masyarakat seperti ini perlu dipertahankan. Setelah pengecatan rumah berhasil, lanjut Aoki, tugas selanjutnya yaitu maintenance atau perawatan yang maksimal dari berbagai pihak. “Tidak bisa hanya satu pihak saja yang melanjutkan ini semua. Tapi perlu ada kerjasama antar lembaga formal ataupun lembaga non-formal,” jelasnya. Pakar Sosiologi Lingkungan UMM Rachmad K Dwi Susilo MA menyatakan, adanya KWJ ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian warga Jodipan. Namun tidak sesederhana itu, Rachmad melanjutkan bahwa perlu ada lembaga-lembaga turut membantu untuk keberlanjutan KWJ ini. “KWJ ini sudah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah maupun non-pemerintah harus mendukung penuh agar keberlanjutannya jelas,” jelas dosen Program Studi Sosiologi UMM ini. Di KWJ ini, kata Rachmad, juga ada fenomena yang menarik, yaitu letak Kelurahan Jodipan yang berada di bantaran sungai. Selanjutnya secara lingkungan, lanjutnya, keberadaan sampah di Kelurahan Jodipan awalnya sangat banyak namun dengan hadirnya kampung warna-warni ini dapat dengan mudah menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. “Ini merupakan hal yang sangat menarik sehingga masyarakat mau dengan sendirinya bergerak demi kelestarian lingkungan mereka sendiri,” pungkasnya. Menindaklanjuti adanya kampung tematik di Kota Malang, UMM saat ini tengah melakukan pengukuran tanah di KWJ untuk dibangun jembatan yang saling menghubungkan antara KWJ dan Kampung Tridi. Pengukuran tanah dilakukan untuk mengukur dan menentukan kedalaman tanah yang akan digali dan sisi persis akan dibangunnya jembatan penghubung itu. (jal/han)

Kapolri Tito Kagumi Karakter Kebangsaan UMM

KEPALA Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi  Drs HM Tito Karnavian MA PhD mengaku kagum dengan nuansa  kebangsaan yang ditunjukkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pertama kali datang ke UMM, Tito mengaku kaget dan surprise dengan tampilan kampus, budaya organisasi, dan spirit mahasiswa yang dinilainya sangat berkarakter. Pernyataan tersebut disampaikan Kapolri Tito saat berkesempatan menyampaikan kuliah umum sekaligus menutup secara resmi kegiatan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM di UMM Dome, Kamis (8/9). Pesmaba yang diikuti 6.812 mahasiswa baru ini berlangsung selama empat hari, yaitu sejak Senin lalu (5/9). “Saya merasa tersanjung diundang di acara prestisius ini. Saya lihat para mahasiswa mengenakan jas merah, kuliah di kampus putih. Nuansa merah putih kental sekali. Sudah pasti, kampus ini sangat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” kata peraih gelar doktor dari Nanyang Technological University Singapore ini. Tito bercerita, ia memiliki banyak pengalaman studi di luar negeri, mulai dari Strata I di Massey University New Zealand, lalu Strata II di University of Exeter United Kingdom, dan Strata III di Singapura. Namun, ia yakin UMM dapat bersaing dengan kampus-kampus yang ia sebutkan tersebut. “Setelah datang ke sini, saya merasa UMM tidak kalah dengan tempat saya belajar,” paparnya. Selepas bercerita, Kapolri Tito menjelaskan tentang peran mahasiswa dalam mendukung kerja kepolisian, yaitu menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, keamanan dan ketertiban merupakan faktor penting dalam menentukan kesejahteraan masyarakat. “Untuk itu, masyarakat dan pemerintah harus saling membantu agar kesejahteraan itu terwujud,” jelas Tito. Tito juga berpesan kepada seluruh mahasiswa baru UMM agar bisa berkiprah bagi kesejahteraan bangsa. Baginya, UMM sudah banyak melahirkan tokoh bangsa, terutama di bidang pendidikan, sehingga dapat menjadi inspirasi yang dapat melecut semangat mahasiswa. “Saya doakan, dari sekian adik-adik yang berada di ruangan ini, yang memakai jas merah, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun ke depan, muncul pemimpin bangsa. Selamat untuk Anda, belajarlah yang rajin agar dapat menggapai cita-cita,” pesan Tito pada ribuan mahasiswa yang disambut standing applause. Selepas kuliah tamu, Kapolri Tito lantas dikukuhkan sebagai Keluarga Kehormatan UMM oleh Rektor UMM Fauzan. Pengukuhan ditandai dengan penyematan jas almamater dan topi kebesaran UMM. Rektor mengaku, ikhtiarnya menghadirkan tokoh-tokoh besar di UMM adalah upayanya dalam memberikan inspirasi bagi seluruh mahasiswa. Sebelumnya pada pembukaan, UMM menghadirkan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Bupati Malang Rendra Kresna. “Kehadiran para tokoh itu agar mahasiswa bisa mengambil hikmah dari pengalaman mereka serta menjadikan tokoh tersebut sumber insipirasi,” jelas Fauzan. Ketua Badan Pembina Harian UMM Prof Drs HA Malik Fadjar MSc mengatakan, apa yang dilakukan UMM ini meneruskan spirit yang dibangun pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Kala itu, sebelum merdekanya negara ini, Dahlan telah menyerukan para santrinya agar menjadi generasi penerus bangsa yang dibekali dengan kedalaman ilmu serta kepekaan dalam membaca perubahan zaman. “Ini adalah hari yang berbahagia bagi Anda semua, cucu-cucu saya tercinta. Kuasai ilmu, baca tanda-tanda zaman, serta majukan masyarakat dan bangsa ini,” tutur Malik yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini. Pada seremoni penutupan Pesmaba ini, juga diputar film Pesmaba 2016 bertema “Love UMM Love Indonesia” yang mendapat sambutan meriah dari seluruh mahasiswa. UMM juga memberikan penghargaan kepada fakultas-fakultas terbaik dalam penyelenggara Pesmaba. Fakultas Psikologi menjadi yang terbaik, disusul Fakultas Kedokteran (FK) di peringkat kedua dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di posisi ketiga. (lil/han)

Pesmaba UMM Pro-Ekologis dan Bebas Sampah

KEGIATAN Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2016 yang berlangsung sejak Senin (5/9) hingga hari ini, Kamis (8/9) tak hanya mengenalkan mahasiswa baru pada budaya ilmiah-akademik. Mahasiswa juga dibiasakan dengan kepekaan terhadap pembentukan lingkungan kampus yang sehat dan bersih. Terkait hal ini, Wakil Rektor II Dr Nazarudin Malik MM menekankan, program “UMM Green and Clean” yang dicanangkan UMM sejak 2013 harus terejawantah dalam setiap kegiatan UMM. Untuk itu, Nazarudin tak hanya menargetkan Pesmaba kali ini bebas sampahatau zero waste, tapi yang lebih penting, agar kesadaran pro-ekologis benar-benar menancap dalam diri mahasiswa baru. Menurut Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM Husamah, tradisi membangun kampus yang ramah lingkungan telah mengakar kuat dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan pimpinan UMM. Beberapa kebijakan itu, disebut Husamah, di antaranya yaitu upaya memperbanyak dan menjaga tetumbuhan di kawasan kampus. “Tumbuhan, selain menyerap karbondioksida, juga berguna menghasilkan oksigen. Kampus juga makin rindang dan menyehatkan,” kata Husamah. Kebijakan pro-lingkungan, lanjut Husamah, juga tampak pada kebijakan tentang pengurangan penggunaan kendaraan bermotor di kawasan kampus, baik oleh dosen maupun mahasiswa, serta mendorong kebiasaan jalan kaki. “Harapannya, itu dapat mengurangi emisi gas karbondioksida dan karbonmonoksida yang dihasilkan kendaraan. Karena kedua gas tersebut merupakan penyumbang global warming dan perubahan iklim.” Semangat pro-lingkungan yang telah dibangun UMM ini, tak hanya tampak pada kegiatan Pesmaba di tingkat universitas, namun juga pada berbagai aktivitas Pesmaba di sejumlah fakultas. Misalnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang menggalakkan gerakan ambil sampah. Demikian pula Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang menjalankan program tanam pohon dan daur ulang barang bekas. Ketua Panitia Pesmaba UMM 2016 Shobrun Jamil berharap, dengan berbagai program tersebut diharapkan mahasiswa memiliki rasa peduli dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Shobrun menambahkan, rangkaian program tak akan berhenti pada Pesmaba saja. Di student day yang akan berlangsung setiap hari Sabtu pasca-Pesmaba, visi itu akan semakin diperkuat. “Nantinya, pada student day, akan lebih banyak lagi bervisi lingkungan. Seperti bersih-bersih sungai, bersih-bersih taman kota, bersih-bersih jalan. Kami juga terinspirasi kampung wisata Jodipan yang merupakan kreasi mahasiswa UMM,” jelas Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan UMM ini. (can/ich/han)

UMM Rumah Kedua Mahasiswa Thailand

DARI tahun ke tahun, perkembangan jumlah mahasiswa Thailand yang mengikuti Pesmaba UMM terus meningkat secara signifikan. Tahun ini, ada 34 mahasiswa Thailand yang resmi menjadi bagian dari Jas Merah Kampus Putih UMM angkatan 2016. Mereka akan bergabung dengan sekitar 370 warga Thailand lainnya yang sebelumnya telah menjadi mahasiswa UMM. Menurut staf unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, Mohamad Isnaini, pertama kali warga Thailand menjadi mahasiswa UMM yaitu pada angkatan 2010. Kala itu jumlahnya masih lima orang, yaitu Anwar Artawee, Pattama Sritiangtong, Worapong Srisaad, Wilawan Rattana dan Phokham Alounsavath. Saat ini kelimanya telah lulus dan berkerja di kampung halamannya di Thailand. Kemudian angkatan 2011 jumlah mahasiswa Thailand naik menjadi 13 orang. Jumlah itu, kata Isnaini, terus mengalami peningkatan di setiap tahunnya, hingga pada tiga tahun terakhir, untuk program reguler saja, jumlah mahasiwa Thailand yang masuk UMM konsisten di angka 30 hingga 40-an pada masing-masing angkatan. “Ada yang kuliah di sini karena beasiswa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, namun banyak juga yang melalui jalur mandiri,” jelas Isnaini. Peningkatan jumlah itu membuat Kedutaan Besar Thailand memberikan apresiasi khusus, di antaranya melalui pendirian Thailand Corner di UMM. Thailand Corner, menurut Kepala International Relation Office (IRO) UMM Dr Abdul Haris MA, sekaligus melengkapi corner-corner lainnya yang sebelumnya telah berdiri di UMM, yaitu China Corner, American Corner dan Saudi Arabian Corner. Lebih dari itu, agar memiliki pusat informasi di Thailand, UMM lantas menginisiasi berdirinya Indonesian Corner di Ayutthaya Technical College (ATC) Thailand, yang sekaligus merupakan Indonesian Corner pertama di Negeri Gajah Putih itu. Setelah pendirian itu, UMM berencana akan terus mendirikan Indonesian Corner dan UMM Corner di sejumlah kampus di Thailand. “Sudah banyak kampus yang interest. Tinggal nanti tindak lanjutnya saja,” kata Abdul Haris. Keterikatan mahasiswa Thailand dengan UMM semakin erat dengan kuatnya jejaring alumni yang sangat efektif dalam mengenalkan UMM di negara tersebut. Misalnya pada pertengahan bulan lalu (18/8), sejumlah alumni UMM asal Thailand, yaitu Samila Doloh, Tapanee Taweekayujan, Sufeenah Sidek, dan Anwar Artawee, turut serta mempromosikan UMM pada PSU Openweek 2016 yang diadakan di Prince of Songkla University (PSU), Thailand. Itu merupakan kali ketiga UMM menggelar pameran di Thailand. “Kami sangat mencintai UMM. Kampus ini seperti rumah kedua bagi kami. Banyak kesan bahagia yang kami alami selama belajar di UMM, sehingga kami tak segan-segan mempromosikan kampus tercinta ini di negeri kami. Semoga banyak anak Thailand yang dapat merasakan pendidikan seperti kami,” tutur Samila. (ich/han)

Filosofi di Balik Flashmob Jas Merah

FLASHMOB dan papermob kini menjadi tren di setiap pelaksanaan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) di berbagai kampus di Indonesia. Di UMM, tradisi membuat formasi bernuansa merah putih telah menjadi ciri khas pelaksanaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) sejak 2009. Tahun ini, UMM kembali membuat flashmob berciri merah putih, dengan formasi membentuk tulisan “Love UMM, Love Indonesia” dan “Jas Merah Kampus Putih”. Menariknya, UMM sama sekali tidak pernah menggunakan kertas, layaknya papermob, dalam membentuk formasi tersebut. Corak merah yang tampil melalui foto udara sepenuhnya merupakan view jas merah yang dikenakan mahasiswa, sementara warna putih merupakan tampilan jilbab mahasiswi. Paduan merah putih itulah yang pada gilirannya memperkuat filosofi kebangsaan flashmob UMM. “Kebanyakan kampus menggunakan papermob, yaitu paduan kertas warna-warni sehingga membentuk formasi. Kami lebih suka menggunakan warna pakaian, yaitu paduan jas almamater merah serta baju, celana dan jilbab yang serba putih, agar karakter UMM benar-benar terasa,” kata Jamroji, ketua bidang publikasi dan dokumentasi Pesmaba UMM 2016. Rektor UMM Fauzan mengatakan, slogan “Jas Merah Kampus Putih” tak hanya bermakna harfiah lantaran mahasiswa mengenakan jas berwarna merah dan kampus UMM dominan warna putih, tetapi juga mengingatkan akronim yang dikenalkan presiden pertama RI Soekarno tentang “Jas Merah” yang bermakna; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sedangkan kampus putih bisa bermakna kampus yang amanah, optimistik dan mencerahkan. Flashmobjas merah sekaligus membangkitkan rasa bangga mahasiswa pada UMM dan bangsa Indonesia. Menurut Fauzan, dengan corak merah putih dan kata-kata “Love UMM Love Indonesia” pada formasi flashmob, maka kebanggaan dan kecintaan pada kampus ini dan bangsa ini akan muncul dalam diri mahasiswa. Dengan rasa bangga pada UMM, diharapkan mahasiswa bisa betah selama belajar di kampus ini, dan dengan rasa cinta pada Indonesia, maka nasionalismenya akan semakin kuat. Hal itu, kata Fauzan, selaras dengan tagline UMM “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. (han)  

Sina-aline Schmidt, Mahasiswi Jerman yang Ingin Promosikan Wisata Indonesia

KECINTAANNYA pada Indonesia membuat Sina-aline Schmidt berlabuh di Kota Malang. Sina merupakan salah satu dari 188 mahasiswa asing yang saat ini tengah mengikuti prosesi Pesmaba di UMM. Mahasiswi asal Jerman ini bahkan berencana berkerja di Indonesia, khususnya di bidang turisme. Sebelumnya, Sina telah mempelajari tentang tourism di salah satu kampus di negaranya, yaitu di Goethe University Frankfurt. Studinya di bidang tourism inilah yang membuat Sina sangat tertarik dengan dunia kepariwisataan. Apalagi, Indonesia menurutnya sungguh eksotik dari sisi turisme. Maka berjodohlah ia dengan wisata Indonesia. Bagi Sina, Indonesia merupakan negara yang familiar lantaran tiga tahun lalu ia pernah mendatangi negara ini untuk tujuan wisata. “Saya juga pernah mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di Jerman. Setelah sampai di sini, saya makin bersemangat ingin fasih bicara bahasa Indonesia,” ujar Sina. Kesan pertama Sina saat menginjakkan kaki di UMM, menurutnya kampus ini sangat megah dengan nuansa putih yang sangat kental. “Tapi di kampus saya tidak banyak acara resmi. Di sini banyak acara resmi, di awal kami disambut opening ceremony khusus mahasiswa asing, lalu sekarang ada orientasi mahasiswa baru.” Semula Sina mempertimbangkan untuk kuliah di Bandung atau Yogyakarta, namun setelah akhirnya memilih UMM, ia mengaku nyaman dengan suasana di Malang. “Tinggal satu hal yang perlu saya biasakan, yaitu soal makanan. Di sini makanannya berbeda sekali dengan di Jerman, tapi saya enjoy kok,” pungkasnya. (nov/han)

Spirit Baru Jas Merah Kampus Putih

SEBANYAK 6.812 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai masa Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) dengan upacara pembukaan yang berlangsung Senin (5/9) di helipad UMM. Rangkaian Pesmaba akan berlangsung hingga penutupan pada Kamis (8/9). Di antara ribuan mahasiswa baru tersebut, terdapat 188 mahasiswa asing yang berasal dari 18  negara, yaitu Australia, Chile, China, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Polandia, Rumania, Sierra Leone, Singapura, Slovenia, Spanyol, Sudan, Thailand, Timor Leste, Uzbekistan, dan Vietnam. Nuansa kebanggaan pada UMM dan Indonesia memang terasa sangat kuat dalam prosesi Pesmaba tahun ini. Salah satunya terlihat pada flashmob bernuansa merah putih dengan tulisan “Love UMM, Love Indonesia” dan hiasan “Jas Merah Kampus Putih” di sekelilingnya. Flashmob dilakukan pada saat upacara di helipad. Menariknya, UMM tidak menggunakan kertas warna-warni, layaknya papermob, dalam membentuk formasi tersebut. Corak merah yang tampil melalui foto udara sepenuhnya merupakan view jas merah yang dikenakan mahasiswa, sementara warna putih merupakan tampilan jilbab mahasiswi. Paduan merah putih itulah yang pada gilirannya memperkuat filosofi kebangsaan flashmob UMM. Ketika acara berlanjut di UMM Dome, rasa bangga itu masih begitu terasa. Selain yel-yel “Love UMM, Love Indonesia” yang terus diteriakkan sepanjang perjalanan, sesi mengharukan juga terjadi saat mahasiswa baru bersama-sama menyanyikan lagu berjudul “Dia” yang dipopulerkan oleh Anji. Ketika bernyanyi, mereka mengganti sejumlah lirik, di antaranya “Semua itu karena dia” diganti menjadi “Semua itu karena UMM” dan “Hanya padanya, untuk dia” menjadi “Hanya padamu, UMM”. Mereka juga beramai-ramai menyalakan flashlight handphone sehingga suasana kebersamaan kian terasa. Mahasiswa baru juga meramaikan jagad media sosial sehingga kemarin tagar #WeLoveUMM sukses menjadi trending topic Indonesia sejak sekitar pukul delapan pagi hingga sekitar jam lima sore. Pada sesi kuliah tamu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyambut para mahasiswa baru itu dengan harapan mereka dapat menjadi pemimpin di masa depan dan menjadi aktor bagi peradaban baru. “Jadilah pembelajar yang haus ilmu, yang dapat mencerahkan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan universal,” kata Haedar. Sementara itu, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa menyebut UMM telah memiliki nasab untuk menjadi menteri. Baginya, nasab itu penting dan perlu dipertahankan karena mahasiswa dapat terinspirasi dengan diawali belajar di kampus ini. Senada dengan Haedar, Khofifah juga menyinggung peran mahasiswa sebagai pendorong perubahan. Khofifah ingin kaum muda Indonesia menjadi pelopor agar bangsa ini menjadi bangsa produsen, bukan konsumen. “Dengan jumlah masyarakat Indonesia 40 persen dari total masyarakat ASEAN tentu akan menjadi pasar yang potensial. Kalau kita hanya jadi konsumen, ya rugi besar,” papar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI 1999-2001 ini. Untuk itu, Rektor UMM Fauzan berpesan pada mahasiswa baru agar bangga dan percaya diri karena telah menjadi bagian dari UMM, kampus penuh prestasi. Fauzan menyebut beberapa di antaranya yaitu raihan Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Anugerah Kampus Unggulan (AKU) Kopertis VII Jawa Timur sembilan tahun beruntun, dan sertifikasi internasional sebagai Associate Member of ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN QA). “Silahkan beradaptasi dengan suasana di UMM, dan selamat Anda telah menjadi bagian dari keluarga besar Jas Merah Kampus Putih UMM. Jadilah generasi baru yang membanggakan bagi bangsa ini,” ujar Rektor. Bupati Rendra Kresna selaku inspektur upacara Pesmaba optimis kedisiplinan yang tampak pada kegiatan ini dan suasana merah putih yang mewarnainya dapat meningkatkan nasionalisme mahasiswa terhadap bangsa ini. Sebagai alumni UMM angkatan 1987, Rendra yakin mahasiswa UMM nantinya dapat benar-benar berkiprah bagi Indonesia. (can/lil/han)

Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Wali Maba

TRADISI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menjalin silaturrahim dengan orang tua mahasiswa baru (maba) kembali diadakan sebelum maba memulai kuliah pada 13 September mendatang. Ahad (4/9), sekitar 2000 wali maba hadir dalam Silaturrahim Orangtua Wali Maba di hall UMM Dome. Mereka adalah wali maba yang diterima melalui jalur reguler gelombang III. Pertemuan ini dihadiri oleh Rektor UMM, Fauzan, didampingi Wakil Rektor I, II, dan III serta dekan dari 10 fakultas. Dalam sambutannya, Fauzan mengucapkan selamat pada wali maba yang putra-putrinya resmi diterima menjadi mahasiswa UMM. Pasalnya, dari lebih 24 ribu pendaftar, hanya 6812 yang lolos serangkaian seleksi menjadi maba UMM. Fauzan menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara orangtua dengan mahasiswa agar segala informasi yang diterima orangtua adalah informasi yang seimbang dan tidak sepihak. Hal ini berdasar pada banyaknya kasus terkait laporan orangtua kepada dosen yang ternyata tidak valid dengan keadaan yang sebenarnya. “Ibu Bapak usahakan untuk selalu melakukan crosscheck terhadap aktivitas putra-putrinya. Bila perlu, ibu memiliki jadwal kuliah dan nomor kontak dekannya, sehingga komunikasi dapat terus terjalin,” beber Fauzan. Prof Dr Syamsul Arifin MSi dalam paparannya memberikan penjelasan terkait keunggulan Pesmaba dan Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) yang diwajibkan bagi maba UMM. “Pesmaba dan P2KK adalah 2 tonggak utama pendidikan karakter mahasiswa. Di sini, mahasiswa akan digembleng untuk menjadi mahasiswa yang berkepribadian, memiliki jiwa kepemimpinan, dan sisi religiusitas yang tinggi,” paparnya. Hal ini menjawab angan-angan orangtua tentang pentingnya keselarasan informasi yang diberikan pada orangtua dan mahasiswa. “Kalau kami (ortu) diberikan informasi dan pengarahan seperti ini oleh pihak rektorat dan dekanat, kami juga berharap putra-putri kami menerima bimbingan yang sama,” ungkap salah satu orangtua maba. Tak hanya itu, Wakil Rektor III, Dr Sidik Sunaryo SH MSi MHum yang membawahi bidang kemahasiswaan mengungkapkan siap mewadahi segala bentuk kegiatan mahasiswa. “Kegiatan di luar urusan akademik juga bisa menjadi media yang sangat bagus untuk pendalaman karakter mahasiswa. Bisa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau unit-unit di fakultas. Kami sediakan semua di UMM, silahkan mahasiswa berkreasi di sini, berprestasi di sini,” ujar Sidik. Bentuk nyata dari apresiasi terhadap prestasi mahasiswa ini diwujudkan dengan pemberian beasiswa oleh Bank Negara Indonesia (BNI) yang menjadi bank mitra UMM. Tak tanggung-tanggung, besaran beasiswa yang diberikan BNI pada UMM sebesar Rp 248.100.000,- Antusias orangtua maba pada silaturrahim ini diungkapkan beberapa wali pada sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan muncul terkait kiat-kiat memilih rumah indekos yang aman bagi putra-putrinya, juga kegiatan apa saja yang bisa diikuti untuk menunjang pendidikan karakter mereka. (ich/han)