Profesor UMM Masuk Jajaran Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia, Raih Predikat World Top 5% Scientist 2025 Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul “Profesor UMM Masuk Jajaran Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia, Raih Predikat World Top 5% Scientist 2025” Baca selengkapnya di: https://www.pojoksatu.id/edugov/1087409238/profesor-umm-masuk-jajaran-ilmuwan-paling-berpengaruh-dunia-raih-predikat-world-top-5-scientist-2025

POJOKSATU.id – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ilyas Masudin, berhasil masuk dalam jajaran ilmuwan paling berpengaruh di dunia setelah dinobatkan sebagai World Top 5% Scientist 2025 versi SciRank Global Registry. Pencapaian tersebut menempatkan Prof. Ilyas di kelompok elite peneliti dunia yang dinilai memiliki kontribusi ilmiah signifikan berdasarkan produktivitas riset dan dampak akademik yang dihasilkan. Pemeringkatan dilakukan terhadap lebih dari 10 juta peneliti aktif dari berbagai negara dan disiplin ilmu. Menurut Prof. Ilyas, proses penilaian menggunakan basis data OpenAlex dengan indikator utama Normalized Composite Score, yakni ukuran yang menilai keseimbangan antara jumlah publikasi ilmiah dan pengaruhnya melalui sitasi akademik. “Saya cukup kaget karena informasi ini justru saya ketahui dari kolega. Apalagi, lembaga tersebut melakukan penilaian terhadap lebih dari 10 juta peneliti di seluruh dunia secara objektif tanpa membedakan bidang keilmuan,” ujarnya, Selasa (2/6/2026). Bersaing dengan Lebih dari 10 Juta Peneliti Dunia Masuk ke dalam kelompok 5 persen ilmuwan paling berpengaruh dunia bukanlah pencapaian yang mudah. SciRank melakukan evaluasi terhadap jutaan akademisi dari berbagai bidang, mulai dari teknik, kesehatan, sains, pendidikan, ekonomi, hingga ilmu sosial. Keunggulan sistem penilaian ini terletak pada pendekatan yang tidak hanya menghitung jumlah publikasi, tetapi juga memperhatikan dampak penelitian melalui sitasi dan pengaruh ilmiah yang dihasilkan. Karena itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap kualitas, konsistensi, dan relevansi riset yang dilakukan seorang akademisi. Rekam Jejak Publikasi yang Kuat Sebagai akademisi yang menekuni bidang logistik, manajemen rantai pasok, dan optimisasi sistem, Prof. Ilyas memiliki portofolio penelitian yang sangat produktif. Hingga saat ini, ia tercatat telah menghasilkan: 126 publikasi terindeks Scopus. H-index Scopus sebesar 24.

FIKES UMM Perkuat Jejaring Global, Sambut Mahasiswa Exchange dari Mahidol University Thailand

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasionalnya dengan menerima kedatangan dua mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama tiga pekan, mulai 16 Mei hingga 7 Juni mendatang. Kedatangan mahasiswa asal Negeri Gajah Putih tersebut disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS.. Hidajah menjelaskan bahwa program pertukaran ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asing untuk melakukan studi komparatif terkait sistem pendidikan maupun tata laksana pelayanan kesehatan antarnegara. “Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” tutur Dekan FIKES UMM, Hidajah pada Kamis (4/6). Perlu diketahui, kemitraan strategis antara Prodi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah terjalin kuat selama tiga tahun terakhir. Kedatangan mahasiswa pada pertengahan tahun 2026 ini juga menandai batch kelima dari keberlanjutan kerja sama antarkedua institusi pendidikan tersebut. Dua mahasiswa exchange dari Mahidol University Thailand disambut hangat oleh FIKES UMM./dok.UMM Salah satu mahasiswa asal Mahidol University, Thailand, Siwat Matro  mengungkapkan bahwa belajar di kampus putih telah memberikannya perspektif baru, khususnya terkait pendekatan keilmuan fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menambahkan, kesempatan berpraktik langsung di Puskesmas membuatnya lebih memahami sistem penanganan kesehatan tingkat dasar dan pendekatan preventif di Indonesia. Menurutnya, hal ini menjadi pengalaman komparatif yang sangat berharga untuk dibawa kembali ke Mahidol University. Selain fokus pada esensi keilmuan, program mobilitas ini juga dirancang sebagai medium akulturasi dan pemahaman budaya. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan relasi internasional dan pemahaman kultural memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan pencapaian target akademik di dalam kelas. Ia juga berharap eskalasi program internasionalisasi semacam ini dapat terus ditingkatkan. Melalui sinergi lintas negara, diharapkan lahir tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya mahir secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kecakapan komunikasi lintas budaya, serta mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika kesehatan di tingkat global. *** Editor: YAN

CoE Sawit UMM Gandeng PT Bumitama Gunajaya Agro, Jawab Tantangan Kebutuhan SDM Unggul

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Indonesia merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, status ini memegang peranan vital dalam rantai pasok ekonomi dan energi global. Namun ironisnya, industri raksasa ini masih kerap dihadapkan pada tantangan pelik terkait ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar siap pakai dan adaptif terhadap kemajuan agribisnis modern. Merespons isu kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan riil industri tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Center of Excellence (CoE) Sawit resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Bumitama Gunajaya Agro pada Jumat (29/5) lalu di Aula BAU UMM. Selain penandatanganan kerja sama, langkah strategis ini juga dirangkaikan dengan agenda kuliah tamu bertajuk ‘Level Up Your Career: Peluang Kerja dan Masa Depan Industri Sawit’. Kerja sama ini secara khusus menyasar mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Teknik Industri UMM. Tujuannya adalah merancang program kolaboratif yang komprehensif, mulai dari fasilitasi magang, rekrutmen langsung, hingga penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi yang selaras dengan tantangan sektor perkebunan masa kini. Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sinergi lintas sektor ini merupakan langkah konkret universitas untuk memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara landasan teori, tetapi juga memiliki taktis dan kepekaan yang relevan dengan dinamika industri saat ini. “Kerja sama ini adalah bukti nyata komitmen Kampus Putih dalam mendekatkan mahasiswa dengan dunia profesional. Kami ingin lulusan UMM, khususnya jebolan dari CoE Sawit, tidak lagi canggung saat memasuki dunia kerja, melainkan langsung bisa diserap dan memberikan kontribusi riil bagi industri perkebunan nasional,” jelas Wakil Rektor IV Salis, Kamis (4/6). Kemudian, Agus Sutrisno, S.P., M.M. selaku HC & OSM Director PT Bumitama Gunajaya Agro menjelaskan bahwa industri kelapa sawit saat ini bergerak sangat cepat. Situasi ini membutuhkan tenaga kerja muda yang adaptif terhadap teknologi cerdas serta memiliki daya inovasi tinggi, bukan sekadar pekerja yang mengandalkan metode konvensional di lapangan. “Industri kelapa sawit masa depan sangat bergantung pada efisiensi manajerial dan pembaruan teknologi. Oleh karena itu, kami di dunia industri membutuhkan talenta-talenta unggul dari perguruan tinggi seperti UMM yang siap menghadapi tantangan global dan mampu memberikan solusi teknis yang akurat,” beber Agus Sutrisno. Inisiatif taktis melalui CoE Sawit ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi jembatan emas yang menghubungkan dunia akademis dan industri. Melalui pembekalan kompetensi dan pengalaman belajar berbasis praktik ini, mahasiswa UMM tidak hanya disiapkan sekadar untuk mencari kerja setelah lulus, tetapi didorong menjadi inovator penggerak yang akan meningkatkan daya saing sektor pertanian dan perkebunan Indonesia di kancah global. Editor: YAN

UMM Beri Ruang Berekspresi Mahasiswa, Rektor Cup UMM 2026 Siapkan Total Hadiah Ratusan Juta

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali hadir menjadi panggung pembuktian bagi kreativitas dan energi mahasiswa masa kini. Ajang ini bukan sekadar euforia kompetisi biasa di tengah dinamisnya gaya hidup Gen Z. Kampus Putih menjadikan ajang ini sebagai ruang bebas berekspresi sekaligus inkubator untuk mencetak bibit-bibit atlet dan seniman berprestasi. Ketua Panitia Rektor Cup UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa rangkaian kompetisi yang akan bergulir secara intensif sejak Mei hingga awal bulan Juli mendatang ini mempertandingkan 25 cabang olahraga (cabor) dan seni. Pihak kampus juga telah menyiapkan total hadiah yang fantastis sebagai bentuk dukungan finansial nyata bagi pengembangan prestasi para peserta. “Kami sediakan apresiasi berupa dana pembinaan. Total nominal keseluruhan hadiah yang kami siapkan mencapai ratusan juta rupiah demi mengapresiasi kerja keras dan keringat para mahasiswa,” ungkap Ary Bakhtiar pada rilis 3 Juni. Ary menjelaskan, upacara pembukaan tahun ini dikemas dengan konsep yang jauh lebih inovatif dan spektakuler dibandingkan edisi sebelumnya. Kemegahan seremoni tersebut sengaja dirancang untuk membangkitkan semangat sportivitas sejak hari pertama pelaksanaan. “Konsep pembukaan kali ini sangat berbeda dan jauh lebih meriah. Kami melibatkan sekitar 6.000 mahasiswa baru UMM, beserta jajaran dosen, karyawan, hingga alumni untuk ikut serta memeriahkan pada 7 Juni mendatang,” bebernya. Terkait kualifikasi peserta, ia menegaskan bahwa ajang bergengsi ini terbuka lebar bagi seluruh mahasiswa berstatus aktif. Ajang ini difungsikan secara khusus sebagai wadah penjaringan bakat untuk mewakili kampus di berbagai kejuaraan eksternal bergengsi pada kalender kompetisi mendatang. “Event ini terbuka untuk seluruh mahasiswa, tujuan utamanya adalah penjaringan bakat, di mana sebagian pemenang dari Rektor Cup ini nantinya akan kami kirim ke ajang luar kampus tahun depan, seperti Peksimida, kompetisi seni daerah, olahraga, hingga Pomprov,” lanjutnya. Rektor Cup UMM 2026 akan dibuka 7 Juni, dan terbuka untuk semua mahasiswa aktif Kampus Putih./dok.UMM Antusiasme yang membara turut dirasakan para mahasiswa yang siap berlaga, salah satunya adalah Anissa Fitriani Harsari. Mahasiswi yang berpartisipasi sebagai peserta di cabor bulu tangkis ini memberikan apresiasi penuh terhadap fasilitas dan wadah kompetisi luar biasa yang disediakan oleh pihak universitas. “Acara Rektor Cup tahun ini benar-benar disajikan dengan sangat menarik dan terkonsep dengan matang. Sebagai mahasiswa, saya merasa bangga dan sangat diapresiasi karena kampus tidak hanya menuntut kami fokus pada akademik, tapi juga mendukung penuh pengembangan minat bakat kami. Saya sendiri sudah berlatih keras untuk bisa merebut gelar juara dan membawa nama baik fakultas,” ujar Cece sapaan akrabnya. Rektor Cup UMM bukan sekadar ajang perebutan medali dan euforia semata, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi para mahasiswa untuk mengasah sportivitas, kreativitas, dan daya juang. Melalui iklim kompetisi yang sehat ini, Kampus Putih berharap dapat terus melahirkan generasi juara yang tak hanya unggul di tingkat lokal, tetapi juga mampu mengharumkan nama almamater di kancah yang lebih luas. *** Editor: YAN

Listrik Air hingga Halal Center di China: UMM Wujudkan Visi Berkelanjutan

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan dengan menjawab isu krusial nasional seperti tingginya angka stunting, kemiskinan ekstrem, hingga tantangan persaingan di era digital. Kampus Putih secara masif menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat lokal hingga kancah global. ​Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D menyatakan. Bahwa seluruh riset dan inovasi kampus putih difokuskan secara tajam. Agar bisa menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat dan industri. Bukan lagi sekadar mengisi kekosongan literatur akademis semata. ​”Kita sekarang mengarahkan agar persoalan yang diangkat itu berangkat dari persoalan riil masyarakat atau industri, bukan sekadar gap dari literatur saja,” tegasnya 30 Mei 2026 pada Humas UMM. ​Dampak nyata dari arahan ini terwujud dalam berbagai kolaborasi strategis. Di tingkat nasional, UMM menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pengelolaan tambang berkelanjutan serta merumuskan standar bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas. Di kancah global, ekspansi UMM menembus Tiongkok melalui pendirian Halal Center di Fuzhou University, yang dirancang untuk membuka peluang bagi alumni UMM dalam memimpin ekosistem sertifikasi halal internasional. ​Langkah solutif ini juga diimbangi dengan strategi pengabdian yang terukur. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., MPA., menjelaskan. Bahwa program pengabdian kampus selalu didahului dengan pemetaan kondisi krisis di lapangan agar intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Seperti inisiatif penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). ​”Program pengabdian kepada masyarakat itu tidak berangkat dari ide universitas, tetapi berangkat dari permasalahan masyarakat. Karena itu, sebelumnya kami melakukan mapping problem sosial,” jelasnya. ​Intervensi berkelanjutan UMM tidak berhenti di NTT. Kampus ini juga sukses menghidupkan perekonomian desa lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Sumber Maron, transformasi wisata Jodipan, hingga sistem green farming di lahan terasering Tabanan, Bali, yang berujung pada pengakuan resmi sebagai mitra UNESCO. Untuk memastikan keberlanjutan dampak ini, mahasiswa UMM diterjunkan langsung dan dibekali dengan penguasaan tiga bahasa utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa pemrograman (coding).

Pengecualian Batas Usia Masuk SD Minimal 5 Tahun 6 Bulan Soroti Kesiapan Belajar Anak

publika.id-Kemendikdasmen memberikan pengecualian batas usia calon murid SD menjadi minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Pengecualian ini ditujukan bagi anak yang memiliki kecerdasan/bakat istimewa dan dapat menyertakan rekomendasi kesiapan belajar dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan. Batas usia ini menjadi sorotan pakar pendidikan karena kesiapan belajar anak berbeda-beda. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menyoroti bahwa kompetensi guru menjadi sangat penting ketika aturan minimal 5,5 tahun masuk SD dijalankan. Arina menilai, guru tanpa kompetensi yang memadai justru berpotensi memaksakan standar belajar anak usia 7 tahun pada anak usia 5,5 tahun. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ucapnya, dikutip dari laman UMM, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, selama ini pendidikan guru (SD) cenderung lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk anak usia 7-12 tahun. Dalam hal ini, Kemendikdasmen dinilai perlu menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu menghadapi anak usia dini. Pembelajaran Harus Disesuaikan 1. Menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. 2. Asesmen awal dilakukan selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. 3. Membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak. Sebagai contoh, sekolah bisa menerapkan strategi pembelajaran sesuai daya tahan fokus belajar anak usia 5,5 tahun, sekitar 15 menit. Misalnya dengan pendekatan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” paparnya. Dr Arina mengatakan, aturan minimal 5,5 tahun bisa masuk SD sebaiknya tidak dipukul rata dan tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang ketat. Hal ini sebagaimana keterangan yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. Terkait minimal usia minimal 5,5 tahun, itu merupakan pengecualian. Poinnya bukan pada usia melainkan kesiapan. Dalam hal ini, anak tersebut harus memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta kesiapan psikis. Ini dibuktikan dengan surat keterangan dari ahli yang memiliki otoritas untuk melegitimasi, seperti psikolog. “Jadi harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya, psikolog yang terpercaya di daerah setempat, pasti tahu ya siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah. Jadi tidak harus usianya 7 tahun,” jelas Gogot. Berapa Usia Ideal Masuk SD Menurut Psikolog? Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, mengatakan bahwa usia kesiapan masuk sekolah setiap anak bisa berbeda-beda. Kematangan anak dalam belajar bisa dimulai sejak 6 tahun, bahkan ada yang 5 tahun. Sementara 7 tahun merupakan usia kematangan rata-rata. “Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS tersebut, seperti dikutip dari arsip detikEdu. Sementara itu, menurut pakar psikologi perkembangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Afia Fitriana, S Psi, M Psi, menjelaskan bahwa standar anak masuk sekolah didasarkan pada kesiapan belajar, bukan usia. Kesiapan itu antara lain dilihat dari perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional. “Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan,” jelasnya dalam laman resmi UNS.

Anak Umur 5,5 Tahun Bisa Masuk SD, Pakar Pendidikan Ungkap Risiko Psikis Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul Anak Umur 5,5 Tahun Bisa Masuk SD, Pakar Pendidikan Ungkap Risiko Psikis, https://pontianak.tribunnews.com/pendidikan/1174253/anak-umur-55-tahun-bisa-masuk-sd-pakar-pendidikan-ungkap-risiko-psikis.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID– Kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) kembali menjadi perhatian publik.  Aturan tersebut membuka peluang bagi anak berusia minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli untuk mengikuti pendidikan SD, khusus bagi mereka yang dinilai memiliki kecerdasan maupun bakat istimewa. Namun, kebijakan itu tidak berlaku secara otomatis untuk semua anak. Orang tua tetap diwajibkan melampirkan rekomendasi kesiapan belajar yang diterbitkan oleh psikolog profesional atau dewan guru dari sekolah tujuan sebagai dasar pertimbangan penerimaan siswa. Pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Arina Restian, menilai penerapan aturan tersebut harus dibarengi kesiapan tenaga pendidik di sekolah dasar. Menurutnya, kemampuan guru menjadi faktor utama agar proses belajar anak usia dini tidak menimbulkan tekanan psikologis. Ia menjelaskan, guru yang belum mendapatkan pelatihan khusus berisiko menerapkan standar pembelajaran anak usia tujuh tahun kepada murid yang baru berusia 5,5 tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak buruk terhadap perkembangan mental maupun minat belajar anak. “Jika guru belum memiliki peningkatan kompetensi melalui pelatihan yang sesuai, maka ada kemungkinan mereka memberikan tuntutan belajar yang belum sejalan dengan tahap perkembangan anak usia 5,5 tahun. Dampaknya bisa serius, mulai dari anak mengalami stres, kehilangan motivasi sekolah, hingga mendapat cap sebagai anak lambat belajar, padahal sebenarnya mereka masih berada dalam fase perkembangan yang wajar,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UMM, Jumat 29 Mei 2026. Arina juga menyoroti sistem pendidikan calon guru SD yang selama ini lebih banyak diarahkan untuk menangani peserta didik usia 7 hingga 12 tahun. Karena itu, ia mendorong Kemendikdasmen untuk segera menghadirkan pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu memahami karakteristik dan kebutuhan belajar anak usia dini. Menurutnya, pendekatan pembelajaran di kelas juga harus diubah apabila sekolah menerima murid dengan usia lebih muda. Ia menekankan bahwa lingkungan belajar tidak boleh terlalu akademis dan harus tetap memberi ruang bermain bagi anak. Beberapa langkah yang disarankan antara lain menghadirkan kelas transisi di tingkat awal SD dengan suasana yang lebih ramah anak, menyediakan area bermain edukatif di ruang kelas, hingga menerapkan asesmen awal selama masa orientasi sekolah untuk mengetahui kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. Selain itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua juga dinilai perlu diperkuat. Hal tersebut penting agar ekspektasi akademik terhadap anak tetap realistis dan sesuai dengan tahapan perkembangan usianya. Arina menambahkan, keberhasilan kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh aturan usia semata, tetapi juga kesiapan ekosistem pendidikan secara menyeluruh, mulai dari guru, metode belajar, hingga dukungan keluarga di rumah.

Tepatkah Usia 5,5 Tahun Sudah Masuk SD? Pakar Pendidikan Soroti Kompetensi Guru

Detik.com Jakarta -Kemendikdasmen memberikan pengecualian batas usia calon murid SD menjadi minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Pengecualian ini ditujukan bagi anak yang memiliki kecerdasan/bakat istimewa dan dapat menyertakan rekomendasi kesiapan belajar dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan. Batas usia ini menjadi sorotan pakar pendidikan karena kesiapan belajar anak berbeda-beda. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menyoroti bahwa kompetensi guru menjadi sangat penting ketika aturan minimal 5,5 tahun masuk SD dijalankan. Arina menilai, guru tanpa kompetensi yang memadai justru berpotensi memaksakan standar belajar anak usia 7 tahun pada anak usia 5,5 tahun. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ucapnya, dikutip dari laman UMM, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, selama ini pendidikan guru (SD) cenderung lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk anak usia 7-12 tahun. Dalam hal ini, Kemendikdasmen dinilai perlu menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu menghadapi anak usia dini. Pembelajaran Harus Disesuaikan Dr Arina menyebut, jika anak 5,5 tahun sudah masuk SD, maka manajemen pembelajaran harus disesuaikan, antara lain dengan: 1. Menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. 2. Asesmen awal dilakukan selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. 3. Membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak. Sebagai contoh, sekolah bisa menerapkan strategi pembelajaran sesuai daya tahan fokus belajar anak usia 5,5 tahun, sekitar 15 menit. Misalnya dengan pendekatan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” paparnya. Dr Arina mengatakan, aturan minimal 5,5 tahun bisa masuk SD sebaiknya tidak dipukul rata dan tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang ketat. Hal ini sebagaimana keterangan yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. Terkait minimal usia minimal 5,5 tahun, itu merupakan pengecualian. Poinnya bukan pada usia melainkan kesiapan. Dalam hal ini, anak tersebut harus memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta kesiapan psikis. Ini dibuktikan dengan surat keterangan dari ahli yang memiliki otoritas untuk melegitimasi, seperti psikolog. “Jadi harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya, psikolog yang terpercaya di daerah setempat, pasti tahu ya siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah. Jadi tidak harus usianya 7 tahun,” jelas Gogot. Berapa Usia Ideal Masuk SD Menurut Psikolog? Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, mengatakan bahwa usia kesiapan masuk sekolah setiap anak bisa berbeda-beda. Kematangan anak dalam belajar bisa dimulai sejak 6 tahun, bahkan ada yang 5 tahun. Sementara 7 tahun merupakan usia kematangan rata-rata. “Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS tersebut, seperti dikutip dari arsip detikEdu. Sementara itu, menurut pakar psikologi perkembangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Afia Fitriana, S Psi, M Psi, menjelaskan bahwa standar anak masuk sekolah didasarkan pada kesiapan belajar, bukan usia. Kesiapan itu antara lain dilihat dari perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional. “Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan,” jelasnya dalam laman resmi UNS.

Makan Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Naik, Simak Tipsnya

Esposin, MALANG — Satu hal yang menjadi kekhawatiran banyak orang ketika makan daging kurban Hari Raya Iduladha adalah naiknya kadar kolesterol dalam tubuh. Banyak yang berpandangan bahwa daging sapi maupun kambing/domba yang biasa disembelih untuk hewan kurban berpotensi menaikkan kadar kolesterol. Dilansir Bisnis.com dari Cleveland Clinic dan National Jewish Health, kolesterol tinggi merupakan kondisi ketika seseorang mempunyai banyak zat lemak dalam darah. Biasanya, penderita mengalami gejala nyeri dada, muncul benjolan pada mata, sering merasa ngantuk, dan kram pada malam hari. Kolesterol tinggi umumnya disebabkan karena mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh seperti mentega, biskuit, keju, santan, atau kuning telur. Adapun faktor lain yaitu kurang melakukan aktivitas fisik dan kebiasaan merokok. Kolesterol maupun asam urat bisa dicegah dengan tetap menikmati daging kurban. Kuncinya adalah menikmati daging tersebut dengan porsi yang wajar dan mengolahnya dengan benar. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ayu Diawi Ismayawati menegaskan sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, menakar porsi, dan menyimpannya. Daging sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan, apalagi jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental. Pengolahan daging seperti ini rawan memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” katanya seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (28/5/2026). Teknik Trimming Bagian yang paling perlu dibatasi, lanjut Ayu, adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi. Untuk itu, masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Pakar teknologi pangan ini juga merekomendasikan metode perebusan awal, di mana kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan, menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu. Terkait manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Sebagai langkah pencegahan, orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya. Kandungan Kolesterol Daging Kurban Mengenai kandungan kolesterol pada daging kurban, Kemenkes melalui laman resminya menginformasikan 100 gram daging kambing mengandung lemak total 9,2 gram dan kolesterol 70 miligram (mg). Sedangkan daging sapi, dalam 100 gramnya mengandung lemak 14 gram dan kolesterol 70 miligram. Kemudian melansir dari djkn.kemenkeu.go.id, dalam penelitian diketahui daging kambing memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah dibanding daging yang lain. Kandungan lemak rata-rata pada kambing adalah 20%, sedangkan pada sapi adalah 25%. Angka lemak pada domba justru paling tinggi, yaitu 30%. Sedangkan untuk kolesterol, daging kambing juga terbilang paling rendah yakni dengan kadar kolesterol hanya 5-39mg/100 gr, sedangkan sapi adalah 42-78 mg/100 gr. Berikut beberapa tips kesehatan untuk masyarakat agar terhindar dari beberapa penyakit setelah mengonsumsi daging kurban: Bagi yang mempunyai riwayat hipertensi atau penyakit pencernaan, sebaiknya memakan daging secukupnya. Pilih beberapa daging yang sudah diolah dengan baik. Misalnya sudah banyak makan satai, jangan tambah lagi makan gulai Cari bahan tambahan yang tidak menimbulkan masalah kesehatan seperti minyak, santan, rempah-rempah Untuk mengindari penyakit seperti hipertensi dan gangguan pencernaan, lebih baik adalah daging dengan olahan dalam bentuk sup dan menghindari makanan yang berlemak Jangan lupa untuk mengomsumsi buah dan sayuran. Misalnya mentimun, tomat dan wortel Jangan lupa berolahraga sehingga aliran darah tetap lancar dan bisa membuang kelebihan kalori.

Daging Kurban Bukan Penyebab Asam Urat dan Kolesterol? Ini Penjelasannya

Metrotvnews-Jakarta: Euforia Iduladha kerap dilalui dengan konsumsi daging kurban bersama keluarga dan teman di rumah. Tak jarang konsumsi daging saat Iduladha melebihi batas yang ditentukan. Di balik kemeriahan itu, penyakit kolesterol dan asam urat menjadi ancaman. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, menegaskan bahwa sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” ujar Ayu, mengutip laman UMM, Jumat, 29 Mei 2026. Ia menjelaskan, daging kurban baik sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan. Ayu menambahkan risiko bertambah jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental. Menurutnya, hal tersebut mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” jelasnya. Tips pengolahan Ayu menyarankan masyarakat menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging kurban segar sebelum dimasak. Langkah tersebut berguna mencegah risiko kesehatan. Pakar teknologi pangan itu juga merekomendasikan metode perebusan awal. Kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan. “Menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung,” tambahnya. Ayu menuturkan, jika membuat gulai atau tongseng, santan jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. “Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” tuturnya. Ilustrasi Pexels Teknik penyimpanan Ia menekankan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging kurban beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. “Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Ayu mengingatkan orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya.