Belasan Peserta TC Vokasi UMM Siap Terbang Bekerja di Jepang

Belasan peserta training center Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih sertifikat kompetensi dari Japan Formwrok Coontractors Association (JFCA) pada 6 November ini. Hal itu membuat mereka siap dan segera diberangkatkan ke Jepang untuk berkarya. Adapun sertifikat itu langsung diberikan oleh General Manager JFCA Yasushi Oshida di teaching factory Vokasi UMM. Oshida memberikan selamat pada 16 peserta dan turut berbangga. Ia berharap mereka bisa memaksimalkan potensi dan kesmepatan yang ada di Jepang nantinya. “Saya berharap kalian bisa berikan kemampuan yang terbaik di sana. Selalu ingat kepada kerabat, teman, dan tim instruktur yang telah membantu anda selama ini,” katanya berpesan. Pemberangkatan tenaga kerja ke Jepang oleh TC Vokasi UMM ini bukan pertama kalinya. Dalam batch ke-2 ini, 16 peserta dari berbagai daerah di Indonesia telah diterima di berbagai perusahaan di bidang konstruksi. Dengan sertifikasi ini, mereka telah menguasai dougu (alat) hingga katawaku (teknik Bekisting). Instruktur Teknis Form Work Japan Tsuneo Takaishi menjelaskan, para peserta telah melalui masa pelatihan selama sekitar sembilan bulan, baik itu pelatihan Bahasa Jepang maupun keahlian dasar bekerja di bidang konstruksi. Pihaknya juga membekali peserta dengan berbagai keahlian terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Di Jepang, peraturan soal K3 sangat ketat. Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi UMM, Prof Tulus Winarsunu mengaku kagum karena ke-16 peserta ini dapat lulus sertifikasi dalam waktu tak lebih dari setahun. Sebelumnya, TC Vokasi UMM juga telah memberangkatkan 19 peserta pada periode Mei-Juni 2024. “Alhamdulillah, ini sudah batch kedua. Hari ini mereka sudah mengantongi dua sertifikasi, dua keahlian sekaligus dan langsung diterima. Dalam waktu dekat, mereka sudah berangkat. Hanya tersisa masalah teknis saja,” kata Tulus. Sesuai kontrak, jelas Tulus, mereka akan bekerja di Jepang dengan durasi waktu 5 tahun. Setelah itu, mereka bisa pulang atau memutuskan untuk lanjut beekrja di Jepang lagi. Mereka juga bisa mencari kerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Adapun ini menjadi bagian dari komitmen Vokasi UMM dalam visi diaspora untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi berstandar internasional yang melahirkan melahirkan generasi unggul dan mandiri melalui skill and job center. Di sisi lain, salah satu peserta Habiburahman dari Padanh mengaku senang karena mimpinya bekerja di luar negeri dapat terwujud. Usai menempuh pelatihan di TC Vokasi UMM selama satu tahun, ia telah resmi bekerja di perusahaan konstruksi di Distrik Saitama dengan gaji mencapai Rp24 juta per bulan. (*/wil)

Mahasiswa UMM Perkenalkan Batik di Irlandia

Ghozi Khamaluddin Daffa, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menimba ilmu di University College Cork (UCC), Cork City, Irlandia. Pengalaman itu ia dapatkan berkat meraih beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Ghozi, sapaan akrabnya, akan belajar di sana hingga Desember nanti. Kehidupan akademis di UCC memberikan pengalaman baru yang tak terlupakan bagi Ghozi. Ia merasa suasana perkuliahan di Irlandia jauh berbeda dari yang biasa ia jalani di Indonesia. “Satu hal yang paling menarik menurutku adalah dinamika kelas, tidak bertele-tele tapi tetap ramah. Budaya tepat waktunya juga keren dan santai asalkan tujuan akhir dari modul udah tercapai. Ghozi juga kagum dengan fleksibilitas kehadiran di kelas. Para mahasiswa dituntut untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas tanpa harus selalu hadir,” ujarnya. Selain belajar, Ghozi juga merasakan pengalaman budaya yang berharga di acara Culturise yang mempertemukan mahasiswa internasional. Pada acara tersebut, Ghozi dan rekan-rekannya dari IISMA memperkenalkan batik kepada mahasiswa dari berbagai negara. Ia menjelaskan beberapa jenisnya, cara membuatnya, dan lain sebagainya. “Awalnya agak ribet tapi interaksinya asyik banget. Melihat antusias mereka terhadap budaya kita benar-benar berkesan. Apalagi batik kan salah satu budaya yang menarik dari Indonesia,” tuturnya. Selain kehidupan akademik Ghozi juga tertarik dengan infrastruktur transportasi di Cork yang mendukung pejalan kaki dan pesepeda. Di kota ini banyak orang lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda karena jalur bus yang memadai dan lingkungan yang nyaman. Kendaraan pribadi juga tidak banyak karena sistem transportasinya yang lebih memeadai. Adapun tempat favorit Ghozi di kampus UCC adalah Boole Library yaitu area ‘red zone’. Perpustakaan ini mewajibkan mahasiswa untuk menjaga suasana tenang sehingga pengunjung bisa fokus belajar dan mengerjakan tugas. “Nyaman banget buat belajar. Kalau di Indoensia, mungkin kita jarang menemui yang seperti ini,” katanya. Setelah kembali ke tanah air, Ghozi berharap dapat membantu teman-temannya di UMM yang ingin meraih beasiswa internasional seperti IISMA. “Aku bisa diterima IISMA berkat dukungan dan bantuan mentoring dari teman-teman, jadi aku ingin bantu yang lain juga. Makanya, aku akna bkin diskusi dan juga tips dan trik untuk bisa berkuliah di luar negeri. Kemudian juga tak lupa untuk memberikan inovasi untuk kebaikan masyarakat sekitar,” jelasnya. (vin/wil)

Mahasiswa UMM Bikin Embik Eco Green, Hasilkan Susu Kambing tanpa Bau hingga Pupuk

Kabar membanggakan kembali hadir Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini para sederet tim mahasiswa UMM yang lolos dalam ajang final KMI Expo 2024. Salah satu yang menarik adalah Embik Eco Green Farm ini yang sudah didirikan sejak 2018 lalu dan kini telah mempunyai 6 cabang di kota Malang. Adalah Lukman Hakim Arifin, mahasiswa Agribisnis juga selaku ketua tim yang sukses membawa bisnis ini menuju Kendari, Sulawesi Tengah untuk ikut KMI Expo pada akhir Oktober lalu. Ia tidak sendiri, Lukman ditemani Anastya Rifa Wardhani, Cobain Aprilliano, dan Denny Dwi Ariza. Adapun Embik Eco Green Farm memiliki tiga produk unggulan, di antaranta daging kambing, pupuk yang berasal dari limbah kotoran kambing yang juga tinggi akan kalium, dan produk susu kambing. Lukman menjelaskan, ia sudah mulai membangun bisnis ini sejak awal masuk bangku kuliah. Ia kemudian mengembangkan bisnisnya ke susu dan pupuk. Menariknya, keunggulan produk susu yang dihasilkan memiliki kandungan yang tinggi akan omega 3. Ini terbukti berdasarkan hasil Lab SIG yang terverifikasi dan produk susu ini tidak mengeluarkan aroma kambing sama sekali. Hal tersebut yang membuat banyaknya mitra hingga reseller bergabung dengan bisnis ini. “Susu ini tidak memiliki aroma kambing sehingga para pembeli dan penjual juga menyukainya. Banyak reseller yang bergabung dan semakin memperbesar usaha kami. Ini sedang proses menambah varian rasa agar semakin bervariasi,” katanya. Menurutnya, memanfatkan daging kambing menjadi makanan merupakan hal yang biasa. Namun dengan memanfaatkan kotoran kambing menjadi pupuk yang tinggi kalium baru hal yang tidak biasa. Ini bisa menjadi pupuk yang mempercepat pertumbuhan tumbuhan. Apalagi biasanya peternak lebih memilih untuk membuang ktoran kambing daripada memanfaatkannya. Kemudian Lukman juga mengungkapkan tantangannya dalam mengelola usaha ini. Ia mengatakan bahwasannya banyak masyarakat yang tidak menyukai bau kambing terutama pada produk susunya. Sehingga menurutnya hal tersebut yang terkadang membuat permintaan susu kambing menurun. Namun dengan adanya pendampingan dari Program Pengembangan Usaha Mahasiswa UMM (P2MW) dan kampus, tantangan itu bisa diselesaikan. Produk susu kambing ini kembali populer dikalangan masyarakat. “Semoga produk-produk dari Embik ini bisa dinikmati dengan baik oleh konsumen. Saat ini, kami juga sedang mengembangkan jejaring bisnis agar susu-susu ini bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia. begitupun dengan pupuk yang kami buat, semoga bisa membantu para petani,” katanya. (zaf/wil)

Viral Guru yang Dikriminalisasi, Begini Kata Dosen FH UMM

Belakangan ini, dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Guru yang harusnya menjadi sosok paling berjasa di lingkungan sekolah, kini justru mendapatkan perlakuan kriminal terhadap dirinya. Menurut Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ratri Novita Erdianti, SH., MH., hal ini  berangkat dari adanya upaya untuk menciptakan sekolah ramah anak. Dalam kasus ini, pihak sekolah dituntut untuk lebih mengutamakan kenyamanan siswanya. Selain itu, adanya UU perlindungan anak dan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak membuat guru jadi subjek yang rentan dianggap sebagai pelaku. “Program atau kebijakan sekolah ramah anak adalah suatu kebijakan yang sangat bagus untuk diterapkan di Indonesia. Akan tetapi, menurut saya, penting sekali bagi masyarakat untuk berpikir terbuka secara objektif. Tidak semua guru itu mendisiplinkan atau mendidik siswa dengan nuansa kekerasan,” sambungnya. Ia juga menyoroti kasus kriminalisasi yang dilakukan orang tua siswa terhadap guru. Ratri menegaskan pentingnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak, yakni orang tua dan guru. Maksudnya, orang tua harus mengamati dengan terbuka ketika guru mendisiplinkan atau mendidik siswa. Aa alasannya dan bagaimana cara yang dilakukan oleh guru. “Jangan semerta-merta menghakimi guru melakukan tindak kriminal begitu saja,” tegasnya. Di samping itu, Ratri menegaskan, pada dasarnya guru boleh saja mendisiplinkan siswa selama tidak bernuansa kekerasan fisik, kekerasan seksual, serta tidak mengandung unsur SARA. Bahkan menurutnya, hal tersebut harus dilakukan guru sebagai bentuk kepedulian terhadap suasana belajar dan lingkungan sekolah yang disipilin. Selain itu dapat menumbuhkan sikap disiplin dan rasa bertanggung jawab dalam diri siswanya. Dalam penjelasannya, Ratri juga mnejelaskan mengenai beberapa prinsip dalam undang-undang perlindungan anak yang berlaku saat ini. Menurutnya, mayoritas prinsip-prinsip dalam UU tersebut terkesan memprioritaskan kepentingan anak saja, sehingga keberadaan payung hukum yang melindungi guru menjadi lemah. Tak heran, tidak sedikit kasus tindak kriminalisasi yang dialami guru kerap terjadi di masyarakat. “Zaman silih berganti. Jika kita amati bersama, anak-anak di zaman ini berbeda dengan zaman dahulu, begitupun kebijakan peraturan yang berlaku. Sayangnya, hal ini menjadi faktor yang signifikan terhadap munculnya beberapa kasus kriminalisasi terhadap tenaga pendidik,” sambungnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa, guru juga dilindungi oleh Undang-Undang No. 14 Tahun 2005. Secara mendasar, menurut UU tersebut, dikatakan bahwa profesi guru sebagai tenaga pendidik memiliki jaminan perlindungan hukum dan dilindungi oleh negara dalam melaksanakan tugas serta tanggung jawab keprofesionalannya sebagai tenaga pendidik. Ditafsirkan juga bahwa seorang guru mempunyai kewajiban untuk mendidik atau mendisiplinkan siswa yang berbuat kenakalan atau kesalahan di lingkungan sekolah. Kemudian, UU No. 14 Tahun 2005 dalam pasal 39 dan 41 yang berbunyi ‘Guru itu berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, dan perlakuan diskrimintaif, intimidasi atau perlakuan tidak adil’. “Pasal tersebut sekaligus sebagai payung hukum. Guru itu tidak boleh dikriminalisasikan menjadi pelaku tindak pidana. Maka komunikasi antara guru, orang tua, dan siswa harus terus terjalin,” ungkapnya. Ia berpesan, para orang tua yang menitipkan dan mempercayai anak-anak kita kepada para guru harus membangun sinergisitas antara pihak sekolah dan bersikap lebih bijak. Bijak dalam memandang hukuman dalam rangka mendisiplinkan dari kacamata tiga batasan yaitu tidak bernuansa kekerasan fisik, kekerasan seksual, serta tidak mengandung unsur SARA. (Din/Wil)

Mahasiswa UMM Sabet Dua Penghargaan di Ajang Tourism dan Culture Jatim

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran Devy Putri Susilo yang berhasil mengukir prestasi dengan meraih nominasi Miss Terfavorit dan Best Intelegensia dalam ajang bergengsi Mister & Miss Tourism and Culture Jawa Timur 2024, Oktober lalu. Ia juga akna kembali berkompetisi di ajang Mister dan Miss Teen Tourism Indonesia 2025 di Yogyakarta nanti. Dalam ajang tersebut, Ivy, panggilan akrabnya, menjadi salah satu dari peserta terpilih yang berhasil lolos ke tahap grand final. Sebagai perwakilan PBI FKIP UMM, Ivy menampilkan kemampuan dan pengetahuannya yang mendalam mengenai kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur. Kecerdasan dan wawasan luas yang ditunjukkan Ivy berhasil membawanya meraih penghargaan Best Intelegensia, sebuah pengakuan bergengsi yang menegaskan keunggulannya dalam menjawab tantangan intelektual dan bersaing dengan para finalis lainnya. Nominasi Miss Terfavorit juga diraih oleh Ivy berkat dukungan banyak orang. Prestasi ini semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu finalis unggulan, sekaligus menjadi kebanggaan bagi PBI FKIP UMM atas keterlibatan mahasiswanya dalam ajang bergengsi di bidang pariwisata dan kebudayaan. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Pencapaian yang tidak pernah saya duga, karena bisa mendapatkan dua nominasi sekaligus. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, khusunya PBI FKIP UMM dan keluarga saya,” kata Ivy. Menurutnya, ajang tersebut merupakan pengalaman berharga, karena tidak hanya menambah pengetahuan tentang budaya dan pariwisata, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu dia juga berpesan pada para mahasiswa untuk tidak ragu mencoba hal-hal baru dan terus berkarya. “Prestasi bisa datang dari mana saja, asalkan kita berani mencoba, berusaha, dan melangkah untuk meraihnya,” tegasnya. Keberhasilan Ivy dalam ajang Mister & Miss Tourism and Culture Jawa Timur 2024 diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berprestasi, baik di dalam maupun di luar bidang akademik. Dukungan penuh dari PBI FKIP UMM, serta bakat dan usaha luar biasa yang ditunjukkan Ivy, membuktikan bahwa mahasiswa mampu bersaing di tingkat provinsi. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama Ivy, tetapi juga membawa nama baik kampus ke kancah yang lebih luas. (*/wil)

Menarik! Begini Situs Pencarian Kos Karya Mahasiswa UMM

Membangun bisnis bersama tim untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas merupakan hal yang luar biasa. Hal ini juga dilakukan oleh kelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan mereka sukses lolos ke babak final Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia Expo 2024. Adalah Muhammad Abdullah Gymnastiar mahasiswa informatika sekaligus ketua, Sigit Setyo Budi, Miftahul Jannah, Afifah Shamvique, dan Mohammad Ghifari Catur Mubaraq yang membuat inovasi menarik. Yakni sebuah website dan aplikasi pencarian kos, rumah dan apartemen. Adapun KMI Expo diadakan pada tanggal 23-25 Oktober lalu di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Gymnastiar menjelaskan bahwa platform yang dinamai KostNih ini telah dilaunching sejak tanggal 28 April lalu. Platform ini diperuntukkan bagi masyarakat yang mencari tempat tinggal dan para pemilik kos, termasuk para mahasiswa yang ingin mencari kos yang tepat. Kemudian ada berbagai fitur pelengkap yang hadir dalam platfrom ini. Misalnya seperti fitur pencarian kos, detail keranjang, tambahkan produk, hingga fitur chat yang kini sedang tahap pengembangan. Sementara itu, pemilik kos juga dapat menyewa influencer yang diinginkan untuk mereview kos, rumah ataupun apartemennya. Sehingga bisa dikatakan platform ini merupakan multiplatform yang dapat digunakan semua kalangan masyarakat. Saat ini, baru ada puluhan kos dan ratusan konsumen yang sudah bergabung dalam KostNih. “Harapannya, angka ini bisa bertambah di kemudian hari. Selain itu juga kami ingin mengembangkannnya menjadi aplikasi karena saat ini baru berbentuk situs website. Kalau aplikasi kan lebih mudah, masyarakat tinggal download saja dari Appstore atau Playstore,” katanya. Ia juga bersyukur karena UMM senantiasa mendukung ebrbagai potensi mahasiswanya, termasuk dirinya. Berbagai wadah diberikan, dana dukungan juga disiapkan, sehingga para mahasiswa bisa memaksimalkan bakat dan minatnya. “Semoga saya dan tim bisa memberikan hal yang terbaik dan mampu mengharumkan nama kampus. Dukungan dari kampus tentu sangat berarti untuk pengembangan platform website aplikasi KostNih ini. Kami juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menciptakan inovasi lainnya,” katanya mengakhiri. (zaf/wil)

Bahas Hubungan Fisik-Mental, Mahasiswa UMM Menangi Esai Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran dua mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM Juwita Rahmaningtyas dan Agung Cendekia Putra Nusantara. Keduanya sukses meraih penghargaan peringkat tiga di ajang lomba esai nasional Axonic pada Oktober lalu. Juwita, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ia dan tim mengangkat tema sinergisitas olahraga dengan kesehatan mental menuju Indonesia emas 2045. Tulisannya mengusung tentang bagaimana olahraga Taekwondo bisa memengaruhi atlet-atletnya, utamanya pada aspek psikologis dan mental. Mereka menulis tentang tema itu karena melihat hal menarik yakni catharsis. Sebuah fenomena pelepasan emosi seseorang saat melakukan aktivitas fisik. Khususnya kegiatan yang sangat intens seperti yang biasa dilakukan dalam olahraga taekwondo. “Ini merupakan hal menarik akrena ternyata fisik dan mental memiliki keterkaitan yang erat. Adapun kami memilih taekwondo karena kegiatan ini cukup menguras fisik serta banyak gerakannya. Jadi akan lebih terlihat bagaimana efeknya pada para atlet yang ada,” kata mahasiswa yang duduk di semester tiga itu. Juwita menambahkan, ketika seseorang melakukan olahraga taekwondo, ia sebenarnya mampu mengontrol emosinya dan menambah kekuatan fisiknya. Selain itu juga dapat melatih seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Apalagi di tengah dunia digital yang penuh dengan tekanan. Ia dan Agung berharap esainya ini bisa menggugah masyarakat, terutama anak muda untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup dna berolahraga. Tidak hanya menyehatkan badan dan tubuh, olahraga juga memberikan efek positif bagi mental dan psikis. Sebagaimana pepatah ‘dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat’. “Semoga bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya. Memberikan ide dan inovasi untuk kebaikan negeri. Prestasi ini juga diharapkan menjadi bahan bakar saya untuk bsia terus mengharumkan nama kampus UMM. Apalagi pihak kampus juga sangat mendukung berbagai potensi yang dimiliki mahasisnya,” tegasnya mengakhiri. (*/wil)

Afta, Mahasiswa UMM yang Menang Best Leader, Dangdut, dan Pensi di Ajang Internasional

Adalah Afta Gita Muhammad, seorang mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses membawa banyak kemenangan di Ahmad Dahlan International Youth Camp, Oktober lalu. Ia berhasil memenangkan tiga kategori yakni best leader, pentas seni, dan dangdut song dalam ajang yang dilaksanakan di Kulon Progo, Yogyakarta itu. Adapun kegiatan itu merupakan platform bagi para pemuda dari berbagai negara untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, menjalin kolaborasi internasional, dan memperluas wawasan tentang isu global. Tema tahun ini adalah “Exploring Skills of Youngsters for Addressing Global Challenges,” yang fokus pada pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Afta, sapaan akrabnya mengatakan, kemenangan ini tentu tak lepas dari dukungan Kampus Putih UMM serta dosen pembimbing Novi Puji Lestari, S.E,.M.M. Dalam sesi best leader, ia menampilkan kepemimpinan yang baik, komunikasi yang efektif, dan mampu memfasilitasi diskusi dengan apik. Sementara pada kategori pentas seni, ia menampilan kemampuan pencak silat di hadapan para peserta lain. Ini menjadi caranya menunjukkan keterampilan dalma seni bela diri sekaligus menampilkan budaya Indonesia. “Saya juga Alhamdulillah meraih juara dua di penampilandangdut bersama tim. Sama seperti pencak silat, dangdut juga menjadi kesenian yang juga identik dengan Indonesia. Sehingga, ini menjadi cara saya memperkenalkan Indonesia ke peserta dari negara-negara lain,” katanya melanjutkan. Ia menilai, ADIYC 2024 memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kreativitas, dan kerjasama tim. Selina itu juga dapat jadi wadah membangun relasi dengan peserta dari berbagai negara. Keberhasilan dalam berbagai kategori tersebut mencerminkan semangat dan kompetensinya dalam berbagai bidang, serta menjadikan pengalaman ini sangat berharga bagi pengembangan dirinya di masa depan. “Sederet penghargaan ini tidak hanya berarti bagi saya, tapi juga bagi anak muda lainnya. Saya ingin agar teman-teman pemuda bisa memberikan yang terbaik, memproduksi ide cemerlang, dan menyediakan solusi apik untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Kita punya energi dan kreativitas yang tentu akan membantu dalam mewujudkan hal tersebut,” tegasnya. (*/wil)

Bahas Lagu Anak, Alumnus UMM Menangi Ajang Penyiar se-Asia Pasifik

Salah satu alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Esty Sulistya sukses sabet juara 1 di ajang kompetisi bergengsi Asia Pacific Broadcast Union (ABU) Prizes 2024. Ia yang juga dosen praktisi di Prodi Pendidikan Bahasa Bahasa Indonesia UMM berhasil menyisihkan pesaingnya dengan apik. Esty berhasil melaju dan kalahkan para peserta lainnya dari 65 negara, lima benua, dan dengan 342 karya. Adapun ABU Prizes merupakan bagian dari rangkaian sidang umum ABU ke-61 yang dilaksanakan di Hotel Hilton Bosphorus, Istanbul, Turkiye pada 22 Oktober lalu. Esty merupakan seorang presenter di Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Ia berhasil meraih penghargaan peringkat pertama untuk kategori Radio On Air Personality. Ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari kemampuan bersiaran, menggali informasi, mengolah kata, menghadirkan harmoni, kenyamanan, kepribadian dalam siaran, hingga kemampuan meng-handle pendengar dan membuat narasumber merasa nyaman. “Ada juga lima  kriteria penilaian yang dijadikan acuan di kategori ini, yaitu kreativitas, kedalaman pengetahuan presenter, kemampuan terhubung dengan pendengar, kualitas suara, serta pemahaman editorial seorang presenter,” terang Esty yang memiliki nama asli Etik Sulistyaningsih. Adapun dalam ajang itu, ia menyoroti salah satu tema yang menarik, yakni krisis lagu anak di Indonesia dalam dua dekade terakhir, baik itu dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Ia merangkumnya dengan apik dalam materinya yang berjudul “Melodies for Indonesian Children”. Ia juga mengajak para musisi, industri musik, orang tua, dan pemerintah untuk bersama-sama memfasilitasi serta mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu yang membangun karakter kepribadian anak Indonesia. “Anak-anak adalah masa depan bangsa kita. Jadi, sudah selayaknya kita memiliki banyak lagu anak tentang cinta tanah air, persahabatan, cinta kasih, toleransi, dan empati,” pesannya. Keberhasilannya saat ini tidak serta merta ia dapat dengan instan. Ada proses panjang harus Ia lewati untuk dapat menjadi pemenang. Perempuan yang sudah 25 tahun menggeluti dunia profesi sebagai penyiar, presenter, dan reporter radio ini harus melalui tiga tahap seleksi penjurian di level nasional. Sebelum akhirnya dirinya terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi tersebut. Ia bersaing dengan perwakilan dari 69 RRI di Indonesia untuk kemudian dipilih menjadi lima terbaik hingga ditetapkan tiga terbaik. Di tahap ini, ketiga peserta didampingi untuk mendapatkan pembekalan, produksi baru, dan revisi hingga ditetapkan sebagai perwakilan Indonesia. Sementara itu di level internasional, sebanyak 342 karya diajukan para peserta dari 65 negara untuk diseleksi oleh 60 juri praseleksi. “Puncaknya penjurian akhir dilaksanakan di Kuala Lumpur 10-12 September lalu dengan 18 juri dan 60 buah karya peserta yang masuk finalis di semua kategori. Alhamdulillah saya menang di kategori Radio on Air Personalitiy ABU Prizes 2024 ini,” tuturnya. Adapun sejak sebelum kuliah, Esty memang sudah aktif menjadi MC, moderator dan kegiatan public speaking. Tak hanya di dunia profesi, Ia juga banyak torehkan prestasi di bangku perkuliahan sebagai mahasiswi Ilmu komunikasi UMM. Juara I mahasiswa berprestasi UMM 1998, Juara I lomba karya tulis ilmiah UMM, hingga menjadi wisudawati dengan lulusan terbaik I tingkat universitas UMM. Di tahun ini juga, Ia berkesempatan mewakili voice of Indonesia (VOI) saluran siaran luar negeri RRI. Terakhir, ia berharap radio menjadi media yang tetap bertahan di tengah kemajuan teknologi. Apalagi radio memang memiliki banyak penikmat di seluruh penjuru dunia. “Radio tidak akan mati karena mampu bermetamorfosa sesuai perkembangan zaman, menjadi media komunikasi bagi semua orang,” tutupnya. (zaf/wil)

Dosen Komunikasi UMM ini Jadi Pengajar Asia Pertama di Bydgoszcz Polandia

Beasiswa Erasmus Plus yang diraih dosen program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyisakan kesan mendalam. Bagaimana tidak, Widiya Yutanti, peraih beasiswa Program Erasmus+ Teaching Mobility itu disambut sangat hangat di Kazimierz Wielki University (Uniwersytet Kazimierza Wielkiego/ UKW). Ini karena Widiya adalah dosen asal Indonesia bahkan Asia pertama yang berhasil meraih kesempatan langka mengajar di kampus di kota Bydgoszcz, Polandia. Bagi Widiya, mengajar di UKW juga merupakan pengalaman pertama perjalanannya ke Eropa. Lulusan Master of Art Griffith University Australia ini begitu antusias karena biasanya yang memperoleh kesempatan beasiswa biasanya dari prodi-prodi di Fakultas Pertanian, Peternakan, Ilmu Kesehatan, Tehnik, Psikologi, Hubungan Internasional atau Ekonomi dan Bisnis. “Baru kali ini ada peluang untuk dosen Komunikasi, jadi saya coba apply. Alhamdulillah lolos,” tutur Widiya. Widiya yang juga Kepala Laboratorium Komunikasi UMM, mengajar selama seminggu di UKW semester lalu. Menariknya, ia masuk di kelas Journalism and Social Communication, Institute of Social Communication and Media. “Ini jurusan yang sangat sesuai dengan peminatan saya,” ungkapnya. Di kelas, Widiya menyampaikan topik menarik, yakni ‘An Overview on Mass Media and Journalism Practices in Indonesia’. Tak disangka, mahasiswa juga antusias ingin mendalami praktik media dan jurnalisme di Indonesia. Bagi mereka, Indonesia adalah negara dengan populasi besar yang tentunya memiliki karakteristik, dinamika dan keunikan yang berbeda dengan Polandia. “Itulah sebabnya, saya juga diminta untuk mengisi kelas Sosiologi dan kelas internasional yang diikuti belasan mahasiswa penerima beasiswa Erasmus dari berbagai negara di Eropa, Timur Tengah dan Asia. Tentunya dengan senang hati saya terima tawaran tersebut karena memang tujuan saya selain mengajar tentang komunikasi dan jurnalistik juga mengenalkan UMM dan Indonesia,” ungkap Widiya. Topik-topik berikutnya adalah ‘Media, Society and Pandemic in Indonesia’ dan ‘Journalism and Gender in Indonesia’. Dua topik ini diakuinya menjadi bahan diskusi menarik bagi mahasiswa dan dosen di sana. “Mereka tertarik untuk bisa terus melanjutkan Kerjasama ini ke level lebih lanjut, tidak hanya teaching mobility namun juga kolaborasi dalam bentu join research ataupun publikasi dalam bidang jurnalistik dan komunikasi.” Penanggung jawab kerjasama internasional di Institute of Social Communication and Media UKW, Joanna Janiszewska, PhD, mengungkapkan rasa senangnya dapat menerima Widiya. “Mahasiswa kami juga sangat antusias mengikuti kelas yang disampaikan oleh Widiya. Topik-topik yang disampaikan tentunya dapat memberikan insight dan perspektif baru pada mahasiswa kami terutama tentang praktik media di Indonesia. Saya berharap ke depan UMM terus bisa berkolaborasi dengan UKW,” ungkap Joanna. Widiya berterima kasih kepada UMM yang telah membuka kerjasamanya dengan Erasmus hingga memperoleh kesempatan mengajar ke Eropa. Kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mengajak akademisi di UKW agar bisa bekerja sama lebih lanjut. Selain join research, kemungkinan kemitraan lainnya adalah publikasi, guest lecturer dan dan program student exchange lainnya. Selama di Polandia, Widiya juga berkunjung ke Warsawa untuk bertemu dengan alumni Komunikasi UMM yang sedang studi di sana. Iwa Gandiwa, alumni Angkatan 2005 tersebut, sedang mengambil kuliah S2 pada bidang Social Media Management. “Bu Widiya dosen idola saya, senang sekali bisa bertemu di Eropa. Sejak lulus dan bekerja di Pemerintah Provinsi NTB, saya belum pernah bertemu beliau. Terima kasih bu Widiya,” ungkap Iwa. (*/wil)