UMM Tinggalkan Kresek, 2.500 Paket Kurban Dibagikan Pakai Besek Bambu

UMM Tinggalkan Kresek, 2.500 Paket Kurban Dibagikan Pakai Besek Bambu. (Foto: Ist/Javasatu.com) JAVASATU.COM– Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menerapkan konsep kurban ramah lingkungan atau go green pada Iduladha 1447 Hijriah. Kampus Putih itu mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan besek bambu beralas daun segar dan tali serabut kelapa untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.Program tersebut menjadi komitmen UMM selama enam tahun terakhir dalam menekan penggunaan kantong kresek saat pembagian daging kurban. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menegaskan pihaknya sengaja tidak menggunakan kantong plastik hitam karena dinilai berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ujar Yasin, Rabu (27/5/2026). Pada Iduladha tahun ini, jumlah hewan kurban di UMM meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu terdapat 18 ekor sapi, kini jumlahnya bertambah menjadi 20 sapi serta sejumlah kambing yang dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas cacat. Daging kurban tersebut didistribusikan untuk civitas akademika UMM, warga sekitar kampus, Lapas Perempuan dan Lapas Laki-laki Malang, hingga dikirim ke Sumbawa dalam bentuk enam ekor sapi hidup. Yasin menjelaskan, proses distribusi dilakukan dengan perhitungan detail berdasarkan bobot sapi untuk memastikan pembagian daging lebih merata dan tepat sasaran. “Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi,” katanya. Setiap paket daging yang dibagikan memiliki berat bervariasi mulai 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Menurut Yasin, keberhasilan distribusi ribuan paket kurban ramah lingkungan tersebut melibatkan 27 panitia inti, 70 tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Pendanaan kegiatan juga berasal dari partisipasi sukarela dosen dan karyawan UMM. “Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” ungkapnya. Melalui program kurban go green ini, UMM ingin menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah kurban dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Kampus berharap inovasi penggunaan besek bambu dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat Iduladha.

Ujian Promosi Doktor UMM: Arief Hidayatullah Ungkap Akar Sosial Radikalisme di Kota Bima

pwmu.co –Kota Bima kembali menjadi perhatian dalam perbincangan akademik mengenai radikalisme agama. Momen tersebut berlangsung dalam Ujian Promosi Doktor Sosiologi di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Pada Kamis (28/05/2026), Arief Hidayatullah mempresentasikan disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima. Promovendus asal Bima itu menyoroti bagaimana kelompok JAD dan JAS membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, hingga penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Lahir dari Keprihatinan Putra Bima Kajian tersebut tidak hanya memandang radikalisme sebagai persoalan keamanan. Namun juga fenomena sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal. Sebagai putra Bima, Arief mengaku penelitian tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap stigma yang selama ini melekat pada daerah kelahirannya. Menurutnya, Bima kerap dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama sehingga memunculkan pertanyaan mengenai akar berkembangnya radikalisme di wilayah tersebut. Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Mbojo Bima itu menjelaskan, radikalisme di Bima merupakan bagian dari jaringan nasional yang berkembang sejak dekade 1990-an. Ia bahkan menyebut sejumlah kelompok seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), JAS hingga JAD yang terafiliasi ISIS pernah memiliki keterhubungan dengan wilayah tersebut. “Radikalisme di Bima tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan perkembangan jaringan ekstremisme lintas wilayah” ungkapnya dalam sidang promosi doktor. Agar Tak Jadi Stigma Negatif Dalam disertasinya, Arief juga mengulas keterhubungan jaringan JAD Bima dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Relasi itu, menurutnya, dibangun melalui ikatan keluarga, mobilitas sosial, hingga jejaring pernikahan antardaerah. Untuk mengkaji fenomena tersebut, promovendus UMM itu menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Teori tersebut menitikberatkan pada konsep mind, self, dan society dalam membentuk identitas serta perilaku sosial individu maupun kelompok. “Ada perbedaan karakter antara JAD dan JAS. JAD  memiliki pola kesadaran yang lebih kaku dan tertutup dengan struktur interaksi sentralistik. Sebaliknya, JAS cenderung lebih fleksibel, partisipatif, dan terbuka dalam penggunaan simbol keagamaan“ kata alumni Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Lanjut Arief, hasil kajian soal radikalisme itu harapannya mampu memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu sosial. Khususnya terkait pemahaman radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Penelitian itu sekaligus menjadi pengingat bahwa memahami radikalisme harus dilakukan secara kontekstual dan ilmiah agar tidak berhenti pada stigma semata. Penulis : Nurudin

Pakar UMM Bagikan Cara Aman Konsumsi Daging Kurban agar Tak Picu Kolesterol

pwmu.co –Momentum Iduladha identik dengan melimpahnya stok daging kurban dan tradisi makan bersama keluarga. Namun di balik euforia tersebut, banyak masyarakat khawatir terhadap risiko kolesterol dan asam urat akibat konsumsi daging berlebihan.Menanggapi hal itu, Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang, Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa masalah kesehatan sebenarnya bukan berasal dari daging kurban itu sendiri, melainkan dari pola konsumsi dan cara pengolahannya yang kurang tepat. Menurut Ayu, daging sapi maupun kambing tetap memiliki kandungan protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh selama dikonsumsi dalam jumlah wajar. Permasalahan baru muncul ketika masyarakat mengonsumsi daging secara berlebihan, terutama jika disertai olahan tinggi santan dan jeroan yang kaya purin. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” jelasnya kepada Humas UMM pada 27 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa bagian jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak perlu dibatasi karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi dibanding daging biasa. Ayu menyarankan masyarakat menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Cara tersebut dinilai efektif membantu menekan kadar lemak jenuh. Selain itu, ia juga merekomendasikan metode perebusan awal dengan membuang kuah rebusan pertama untuk membantu mengurangi kadar purin pada daging. Menurutnya, pilihan masakan seperti sup bening lebih aman dibanding olahan bersantan pekat. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin,” lanjutnya. Ayu juga memperkenalkan teknik tumis air sebagai alternatif lebih sehat dibanding penggunaan minyak berlebihan saat memasak. Selain pengolahan, Ayu menyoroti kesalahan umum masyarakat dalam menyimpan daging kurban. Salah satunya adalah kebiasaan mencairkan daging beku lalu membekukannya kembali. Menurutnya, cara tersebut dapat mempercepat penurunan mutu daging dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Ia menyarankan daging langsung dibagi ke dalam beberapa kantong sesuai porsi sekali masak sebelum dimasukkan ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairan juga sebaiknya dilakukan di chiller, bukan pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba,” tegasnya. Sebagai langkah menjaga kesehatan selama Iduladha, orang dewasa sehat dianjurkan membatasi konsumsi daging matang sekitar 50 hingga 100 gram per hari. Konsumsi daging juga perlu diimbangi dengan sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih yang cukup agar metabolisme tubuh tetap seimbang. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” pungkasnya.  Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Film Pendek The Presentation Tayang Perdana di VIBE, Angkat Isu Lingkungan dan Kritik Sosial

pwmu.co – Komunitas Bab Satu Production bersama mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok Mindcraft Praktikum Audio Visual 3 akan menggelar acara Visual Better Earth (VIBE) pada Jumat (29/5/2026) di Pabrik Keramik Dinoyo, Kota Malang.Kegiatan tersebut akan menjadi ruang apresiasi karya audio visual sekaligus kampanye kesadaran lingkungan melalui media film. Saat ini, penyelenggara masih berada dalam tahap persiapan menuju pelaksanaan acara. Dalam VIBE nantinya akan diputar perdana film pendek berjudul The Presentation karya komunitas Bab Satu Production yang mengangkat isu lingkungan melalui pendekatan simbolik dan kritik sosial. Film tersebut menyoroti perilaku manusia terhadap lingkungan dengan menggunakan semiotika babi sebagai representasi sifat konsumtif dan keserakahan manusia terhadap alam. Melalui pendekatan visual metaforis, The Presentation berusaha menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta dampak perilaku manusia terhadap bumi. Koordinator acara VIBE, Muhammad Ridho Fakhruddin, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, mengatakan bahwa acara ini dihadirkan sebagai premiere film pendek yang mengangkat isu lingkungan sekaligus menjadi media kampanye sosial bagi generasi muda. “Latar belakang diadakannya VIBE sebagai premiere film pendek yang berjudul The Presentation karya dari komunitas Bab Satu Production yang mengangkat isu lingkungan,” ujarnya. Ridho menjelaskan bahwa film tersebut memiliki tujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, acara VIBE juga diharapkan dapat mendorong aksi nyata audiens dalam mengurangi penggunaan sampah plastik. “Film The Presentation memiliki tujuan membangun awareness kepada audiens dalam menjaga lingkungan. Pada event VIBE yang akan diadakan oleh tim Mindcraft membantu mendorong aksi secara langsung dalam menjaga lingkungan,” katanya. Selain pemutaran film, acara ini juga akan menghadirkan sesi diskusi dan sharing session yang membahas isu lingkungan, proses kreatif produksi film, hingga peran media audio visual sebagai sarana kampanye sosial yang relevan bagi generasi muda. Sebagai bagian dari praktik pembelajaran mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, VIBE menjadi bentuk kolaborasi kreatif antara komunitas dan mahasiswa dalam menghadirkan karya audio visual yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan sosial. Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap masyarakat, khususnya anak muda, dapat lebih peduli terhadap penggunaan plastik dan menjaga lingkungan sekitar. “Harapan kami pada audiens yang datang, jadi lebih aware dalam menggunakan plastik dan tentunya dalam menjaga lingkungan sekitar,” tutup Ridho. Informasi dan pembaruan terkait acara dapat diakses melalui media sosial penyelenggara dan komunitas terkait.  Penulis : Nurul Fazlurrahman Al Farisi Editor : Zahrah Khairani Karim

Dosen UMM Bagikan Tips Mengolah Daging Kurban Agar Bebas Kolesterol dan Asam Urat

Batuah news-Cara mengolah dan porsi konsumsi yang tepat menjadi kunci utama untuk menghindari ancaman asam urat serta kolesterol tinggi saat menikmati daging kurban. Dikutip dari Lifestyle, sumber penyakit sebenarnya bukan berasal dari daging sapi atau kambing itu sendiri, melainkan dari kesalahan masyarakat dalam memporsikan, memasak, dan menyimpannya. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ayu Diawi Ismayawati menjelaskan bahwa daging kurban mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang tetap memberikan manfaat kesehatan selama dikonsumsi dalam batas wajar. Lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat serta nyeri sendi akibat kristal asam urat biasanya dipicu oleh konsumsi berlebihan, terutama jika hidangan didominasi jeroan bersantan kental. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” katanya dikutip Kamis (28/5/2026). Masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau mengupas lapisan lemak putih pada daging segar sebelum mulai dimasak guna mengurangi risiko gangguan kesehatan. Metode perebusan awal juga sangat direkomendasikan oleh pakar teknologi pangan ini, di mana air rebusan pertama harus dibuang untuk menurunkan kadar purin secara signifikan sehingga hidangan seperti sup bening menjadi lebih aman bagi pencernaan. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu. Dalam hal manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering dijumpai pada skala rumah tangga adalah kebiasaan mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu memasukkan sisanya kembali ke dalam freezer. Daging segar sebaiknya langsung dipotong dan dibagi ke dalam wadah atau kantong kecil sesuai takaran sekali masak sebelum disimpan di dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pelelehan daging beku pun sebaiknya dilakukan dengan memindahkannya ke chiller, bukan membiarkannya cair di dalam suhu ruangan. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Orang dewasa yang sehat dianjurkan untuk membatasi konsumsi gizi dari daging matang pada kisaran 50 sampai 100 gram saja per hari. Keseimbangan sistem metabolisme tubuh harus tetap terjaga lewat pendampingan menu makanan berserat tinggi seperti sayur-sayuran, buah segar, serta konsumsi air putih yang cukup untuk menghambat penyerapan lemak jenuh. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya.

Rektor UMM: Iduladha Harus Menjadi Energi Sosial untuk Kesejahteraan Umat

MAKLUMAT — Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Nazaruddin Malik MSi, mengajak umat Islam untuk memaknai dan menjadikan momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah tidak hanya sebagai ritual dan penyembelihan hewan kurban yang dilakukan tahunan. Hal itu ia sampaikan saat bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi di Masjid Akbar Moed’har Arifin, Rabu (27/5/2026)., yang mengangkat tentang pentingnya menjadikan nilai tauhid sebagai fondasi pembangunan kesejahteraan umat secara menyeluruh. Menurutnya, di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih membayangi masyarakat, momentum Iduladha perlu dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Iduladha, kata dia, merupakan panggilan untuk meneguhkan tauhid sekaligus membangun kepedulian sosial guna menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat. Ia menjelaskan, keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail, lahir dari totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Allah Swt. Sebab itu, rasa syukur dan ketakwaan harus diwujudkan melalui kesalehan spiritual sekaligus pengorbanan sosial di tengah masyarakat. “Oleh sebab itu, Iduladha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” tegas Nazaruddin. Lebih lanjut, Nazaruddin menjelaskan nilai kurban melalui perspektif tauhid rahamutiyah. Pengesaan Allah, kata dia, tidak boleh berhenti pada aspek ritual ibadah semata, tetapi harus menjadi energi sosial yang menghadirkan kesejahteraan dan kedamaian di tengah kehidupan masyarakat. Baca Juga  Rektor UMM Raih Penghargaan Inovator Kemandirian Pendidikan Tinggi Ia menilai ukuran keberhasilan tauhid tidak hanya dilihat dari pemahaman akidah seseorang, melainkan sejauh mana nilai tauhid tersebut mampu menghadirkan rahmat sosial bagi sesama. “Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial. Apakah manusia hidup lebih sejahtera,” tandas Nazaruddin. Kurban: Perkuat Ekonomi Umat Tak cuma itu, menurut Nazaruddin, nilai sosial dari ibadah kurban juga tercermin dari pengelolaan dan distribusi daging kurban yang dilakukan secara profesional dan amanah. Jika dikelola dengan baik, syariat kurban dinilai mampu menjadi sarana pemerataan manfaat sekaligus memberdayakan peternak lokal. Ia juga mengingatkan agar distribusi daging kurban dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun tetap menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta. “Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan dengan adil,” kata pria yang juga menjabat Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu. Publikasi Keagamaan Islam Selain itu, ia juga menekankan bahwa semangat pengorbanan dan kepedulian sosial tidak boleh berhenti setelah bulan Zulhijah berakhir. Menurut Nazaruddin, ibadah kurban harus menjadi titik tolak untuk membiasakan sikap jujur, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, hingga pelayanan berkelanjutan kepada kaum duafa.

Takut Asam Urat dan Kolesterol? Pakar Teknologi Pangan UMM Bagikan Cara Cerdas Nikmati Daging Kurban

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kedatangan momen Idul Adha tentu disambut sukacita oleh umat Muslim. Apalagi hari raya ini identik dengan melimpahnya stok daging dan tradisi menyantap olahan kurban bersama keluarga. Namun, euforia ini kerap diikuti oleh kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman lonjakan kolesterol dan penyakit asam urat. Merespons kekhawatiran tersebut, Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya. Melalui rilis UMM Kamis (28/5), Ayu mengungkapkan bahwa daging sapi dan kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan, apalagi jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental, yang mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” ungkap Ayu. Agar dapat menekan tingginya risiko kesehatan, masyarakat disarankan untuk menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Pakar teknologi pangan ini juga merekomendasikan metode perebusan awal, di mana kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan, menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” imbuhnya. Terkait manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” imbaunya. Sebagai langkah pencegahan dampak negatif terkait takaran gizi, orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” tegas Ayu. Di Indonesia, perayaan Iduladha 2026 berlangsung mulai Rabu, 27 Mei (10 Zulhijah) berdasarkan hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah RI melalui Kementerian Agama. Menurut BAZNAS, perayaan Iduladha yang disertai penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan hingga 13 Zulhijah (tasyrik) dari pagi hingga sebelum magrib. Artinya, penyembelihan hewan kurban akan berlangsung hingga 30 Mei mendatang. Editor: YAN

Pakar UMM Tanggapi Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD, Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pakar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., turut menanggapi kebijakan yang baru saja digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yakni pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan dari UMM, Arina Restian. Menurutnya, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera diiringi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak. Arina menegaskan, pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ungkap Arina pada rilis UMM 25 Mei. Ia menyoroti pentingnya upaya mencegah kekacauan di lapangan dengan manajemen sekolah dasar dituntut dapat melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” jelasnya. Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD ini. Arina juga mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak. Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, menurut Arina, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia. Editor: YAN

Rektor UMM Jadikan Kurban Tonggak Gerakan Kesejahteraan Ekonomi, Lebih dari Sekadar Ibadah

GRESIK | JATIMSATUNEWS.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., memperhatikan tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih membayangi masyarakat saat ini di tengah momen memperingati Idul Adha 1447 Hijriah. Situasi ini membuat Iduladha 2026, menurut Rektor Nazaruddin, harus dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan tahunan. Momentum ini merupakan panggilan fundamental untuk meneguhkan tauhid sekaligus membangun kepedulian sosial yang nyata guna menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat secara komprehensif. Penegasan nilai esensial tersebut menjadi sorotan utama yang digaungkan oleh Rektor Nazar, merujuk pada keteladanan abadi dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Menurutnya, keteladanan abadi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lahir dari totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Sang Pencipta. Syukur dan ketakwaan, hanya bisa diwujudkan secara utuh melalui integrasi antara kesalehan spiritual dan pengorbanan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. “Oleh sebab itu, Idul Adha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” ungkap Nazar dalam rilis UMM Kamis (28/5). Lebih jauh, ia membedah nilai kurban melalui kacamata Tauhid Rahmatiyah, sebuah perspektif di mana pengesaan Allah tidak boleh berhenti di atas sajadah atau mimbar masjid semata, melainkan harus menjelma menjadi energi sosial. Ia menjelaskan, tauhid yang sejati harus memantulkan sifat kasih sayang Allah, sehingga mampu melahirkan kesejahteraan, menumbuhkan ekonomi peradaban, dan menebar kedamaian. “Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial. Apakah manusia hidup lebih sejahtera,” imbuhnya. Penguatan etika sosial ini secara praktis tercermin dari bagaimana daging kurban dikelola dan didistribusikan. Jika dikelola secara profesional dan amanah, syariat kurban akan menjadi sarana pemerataan manfaat yang efektif sekaligus memberdayakan para peternak lokal. Ia juga mengingatkan agar panitia proaktif memastikan distribusi menjangkau dua golongan. Yakni, mereka yang meminta maupun mereka yang kesulitan ekonomi namun menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. “Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan dengan adil,” sambungnya. Semangat kerelaan berkorban dan berbagi ini tidak boleh meredup seiring berlalunya bulan Zulhijah. Ibadah kurban sejatinya adalah titik fondasi yang mendidik umat Islam untuk membiasakan kejujuran, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, dan pelayanan terhadap kaum duafa secara berkelanjutan. Adapun pesan dan gagasan penggerak kesejahteraan tersebut disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., ketika menjadi Khatib dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, pada Rabu, 27 Mei 2026. Editor: YAN

Takut Kolesterol dan Asam Urat, Begini Cara Sehat Olah Daging Kurban

Malang (beritajatim.com) – Pakar Teknologi Pangan sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., memberikan cara sehat untuk mengolah daging kurban. Menurutnya, sumber masalah kesehatan bukanlah pada daging kurban. Ancaman penyakit justru bermula dari kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, mengatur porsi makan, hingga tata cara penyimpanan daging. Ayu menjelaskan, daging sapi maupun kambing pada dasarnya mengandung protein hewani, lemak, serta purin yang bermanfaat bagi tubuh apabila dikonsumsi dalam porsi wajar. Ayu menjelaskan, persoalan kesehatan baru akan muncul ketika konsumsi dilakukan secara berlebihan. Risiko ini kian melonjak apabila hidangan kurban didominasi oleh olahan jeroan bersantan kental, yang berpotensi besar memicu peningkatan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat, serta memicu nyeri persendian akibat penumpukan kristal asam urat. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” terang Ayu dalam keterangannya kepada Humas UMM pada Kamis (28/5/2026). Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bagian yang paling wajib dibatasi konsumsinya adalah organ dalam atau jeroan. Hati, paru, limpa, usus, hingga otak memiliki kandungan purin yang jauh melebihi bagian daging murni, sehingga sangat rawan bagi penderita asam urat. Guna menekan tingginya risiko tersebut, Ayu menyarankan masyarakat untuk menerapkan teknik trimming, yakni membuang lapisan lemak putih pada daging segar sebelum proses memasak dimulai. Metode perebusan awal juga sangat direkomendasikan. Kuah dari rebusan pertama sebaiknya langsung dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan. Langkah ini menjadikan olahan masakan, seperti sup bening, sebagai opsi yang jauh lebih aman bagi sistem pencernaan. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin,” papar Ayu. Ia juga menambahkan bahwa teknik tumis air bisa menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan menumis menggunakan banyak minyak goreng. Selain proses memasak, pakar pangan ini menyoroti kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga terkait manajemen penyimpanan. Banyak masyarakat yang mencairkan daging beku, memotong sebagian untuk dimasak, lalu mengembalikan sisanya ke dalam mesin pendingin. Menurut Ayu, daging segar seharusnya langsung dipotong dan dibagi ke dalam kantong kecil sesuai takaran sekali masak sebelum dimasukkan ke dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun membutuhkan perhatian khusus. Daging beku harus diletakkan di bagian chiller kulkas agar mencair perlahan, bukan dibiarkan terbuka pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya mengingatkan. Sebagai langkah pencegahan sekaligus menjaga gizi, orang dewasa dengan kondisi kesehatan normal dianjurkan untuk membatasi konsumsi daging matang maksimal pada kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme tubuh juga wajib dipertahankan dengan mendampingi sajian daging bersama sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih. “Serat dan cairan berfungsi penting untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di dalam saluran cerna. Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” pungkas Ayu.(dan/kun)